Setelah menikah, lalu apa? Kamu mungkin sudah berhasil menjawab pertanyaan Untuk Apa Menikah melalui buku sebelumnya dan kini tengah menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Selamat!
Bisa dibilang, kehidupan yang sedang kamu jalani ini akan jadi berbeda sama sekali dengan kehidupanmu saat masih single dulu, bahkan sekaligus kamu sudah mengenal pasanganmu bertahun-tahun lamanya.
Tapi, pernah tidak kamu bertanya-tanya? Setelah menikah, harus bagaimana, ya? Apa yang harus kita lakukan agar pernikahan yang dibentuk ini selalu harmonis hingga akhir hayat? Apa yang harus dilakukan bila ternyata kehidupan pernikahan tidak berjalan sesuai harapan? Apa yang harus dilakukan bila pasangan tidak lagi melangkah seirama?
'Untuk Apa Bertahan' adalah buku keempat ibu Rani Anggraeni Dewi, melanjutkan buku sebelumnya 'Untuk Apa Menikah'. Ibu Rani adalah seorang konselor pernikahan (tersertifikasi) yang konsisten mengadvokasi 'conscious marriage' atau pernikahan di mana kedua pasangan berkomitmen pada tujuan (purpose), dan memberikan ruang untuk bertumbuh bersama. Alih-alih mengejar kesempurnaan dalam pernikahan yang mungkin diartikan sebagai "pasutri yang nggak pernah berantem dan selalu mulus jalannya", conscious marriage mengizinkan konflik sebagai bentuk bertumbuh dan saling mengenali pasangan.
Kalau buku 'Untuk Apa Menikah' banyak membahas prinsip conscious marriage bagi mereka yang ingin (atau justru tidak ingin?) menikah atau baru memulai rumah tangga, makan buku 'Untuk Apa Bertahan' lebih diperuntukkan bagi mereka yang telah lama menikah, masuk di zona 'aman' atau bahkan yang sedang diterpa cobaan pernikahan hingga berdiri di persimpangan; "Bertahan atau berpisah?"
Buku ini merunut dari awal bagaimana hubungan pernikahan sering kali mencerminkan pengalaman masa kecil, dan ini kerap menjadi sumber konflik. Selain itu, komunikasi yang tidak berjalan baik bukan hanya membuat pernikahan terasa seperti 'empty nest' tapi juga dapat menjadi celah bagi pasangan mencari sosok lain yang dapat mengisinya alias... selingkuh. Jeng jeng~ Buku ini memberikan tips 'marriage check up' berupa daftar hal yang bisa membantu pasangan menyadari kesehatan pernikahan mereka. Pembahasan kemudian berlanjut tentang perselingkuhan; bagaimana biasanya itu terjadi dan apa dampaknya bagi semua pihak terkait. Bab-bab akhir buku ini membahas soal hal-hal yang perlu dipertimbangkan saat di persimpangan, hingga terapi memaafkan.
Walau bukunya tipis (140-an halaman), namun buku ini membahas cukup banyak hal yang perlu diingat kembali oleh pasangan, baik yang hubungannya baik-baik saja maupun sedang ada di 'persimpangan'. Tentu tidak bisa langsung memperbaiki hubungan, namun bisa jadi bahan refleksi dan awal untuk mengurai apa yang harus dilakukan ke depannya. Dan tentu saja, bagi mereka yang hubungannya baik-baik saja dengan pasangan, tidak ada salahnya membaca buku ini karena seperti banyak hal lain di dunia ini, merawat lebih mudah daripada memperbaiki, bukan?
Buku ini hadir di keluarga kami saat aku dan suami sedang dalam kondisi tidak baik-baik dan merasa butuh menemui konselor pernikahan. Jadi mungkin ekspektasiku agak tinggi, mengingat penulisnya, Ibu Rani Anggraeni cukup terkenal dan kerap direkomendasikan untuk konseling.
Begitupun, saat membaca buku ini, kebanyakan yang dibahas adalah tentang perselingkuhan. Dan masalah keluarga kami bukan itu 😅 (Baca buku ini jadi malah bertanya-tanya, apakah perselingkuhan dalam perkawinan begitu maraknya ya?)
Begitupun, buku ini membahas tentang concious marriage dan memberikan tips menjaga keintiman dalam keluarga. Meski banyak hal yang menurutku tidak terlalu baru, tapi lumayanlah, bisa jadi pembuka diskusi dalam keluarga kami.
Menjalani sebuah hubungan jangka panjang sering kali membawa setiap pasangan ke sebuah persimpangan dilematis, di mana pertanyaan tentang keberlanjutan cinta menjadi beban pikiran yang mendalam. Melalui narasi yang sangat empatik dan reflektif, buku ini memandu pembaca untuk menavigasi labirin emosi saat berada di titik jenuh atau krisis komitmen dalam pernikahan maupun hubungan serius lainnya. Rani Anggraeni Dewi, seorang konselor pernikahan dan praktisi pemulihan hubungan yang telah berpengalaman selama puluhan tahun, membedah berbagai alasan di balik keputusan untuk tetap tinggal atau melangkah pergi dengan kejernihan hati. Ia mengajak pembaca untuk mengenali kembali nilai-nilai diri, memahami dinamika konflik, hingga membedakan antara masa sulit yang bisa diperbaiki dengan hubungan yang memang sudah tidak sehat. Rani menekankan bahwa bertahan haruslah didasari oleh kesadaran dan pertumbuhan bersama, bukan sekadar rasa takut akan kesendirian atau tekanan norma sosial semata. Untuk Apa Bertahan menyajikan langkah-langkah evaluasi diri yang jujur untuk membantu seseorang menemukan jawaban yang paling autentik bagi masa depan mereka. Karya ini sangat relevan bagi para pasangan yang sedang mengalami keretakan, individu yang merasa kehilangan arah dalam hubungan, hingga mereka yang ingin memperkuat pondasi komitmen mereka. Dengan membaca buku ini, kita akan memperoleh perspektif baru yang membantu mengubah kebingungan menjadi ketegasan yang penuh kasih demi kesejahteraan mental dan emosional. https://blog.periplus.com/2026/03/03/...