“Aku ‘kan selalu ada untukmu, Sayang, aku nggak bisa hidup tanpamu...”
Gubraakkk...!!
Aku terjungkal. Sucikah bisikan itu? Jangan-jangan karena aku tajir, mapan, keren, pintar, atau populer? Apakah engkau masih akan selalu ada untukku andai aku hanya jalan kaki, dengan tubuh tanpa Bvlgari, dan dompet isi seribu?
Andai aku jalan kaki, di bawah terik matahari, bermandi keringat, menahan lapar, bertubuh dekil nan buluk, dengan dompet kempes yang tak bisa untuk beli sebuah air kemasan gelas, akankah kau, kau, kau, yang kini selalu tersenyum manis dan mendengarkanku, tetap mau menyapaku, tersenyum padaku, menyentuh lenganku, merangkulku, memelukku, menciumku, dan menganggapku manusia?
Bukan hanya soal ketulusan cinta dan pesona berlian, juga tentang rahasia pilihan hidup, makna komitmen, chemistry pasangan hidup, tajamnya mulut, hingga arti kematian, disuguhkan dalam kisah-kisah popcorn yang begitu renyah dan menyentuh hati, berbumbu jenaka tajam, satir, bentakan, dalam bentangan padang savana makna kebajikan yang tak bertepi. Mudah dibaca sekali duduk di mana saja, sebutlah busway, bahkan secara terpisah-pisah, serial popcorn ini menggasak ruhani terdalam setiap kita tentang siapa gerangan sesungguhnya aku, engkau, dan dia, dalam hiruk-pikuk kehidupan ini.
Buku ini seperti mencerminkan kehidupan saya. Semua permasalahan yang disajikan buku ini tepat mengenai hati saya, membuat saya kembali menegok satu tahun lalu. Disaat nenek saya juga harus pergi meninggalkan saya. Dan apa yang saya lakukan juga sama seperti yang ada dalam judul Saat Kucium Kening Beku Nenek… (In Memoriam Nenekku Jember) tapi kalau versi saya, saya belum sempat mencium kening nenek karena sudah terlanjur lemas duluan *hehe jadi curhat deh.
Ada dua cerita di dalam novel ini yang membuat bingung. Wonder Women dan Dengarkan Aku! Bukan karena alur ceritanya tetapi karena tokohya. Disebutkan dalam Wonder Women, tokoh perempuan bernama Samantha sangat mulia dan selalu patuh terhadap suaminya. Tapi dalam judul Dengarkan Aku! Hal. 167, tokoh mengatakan “Semoga yayangku, Samantha yang sms,” gumamku. Hah ? Ini maksudnya apa ? Mungkin sepela ya! Tapi para pembaca pasti juga akan bingung membacanya —termasuk saya dan teman saya yang juga membaca buku ini.
Apa memang Wonder Women dan Dengarkan Aku! Punya hubungan alias cerita sambungan begitu ? Entahlah. Akan lebih baik jika nama tokoh dalam setiap cerita itu berbeda, sehingga tidak akan membingungkan para pembaca.
Selain itu, secara keseluruhan cukup baik. Walaupun ada typo, tapi masih dalam taraf yang bisa saya toleransi lah. Bahasanya juga lebih baik dibandingkan CEO KOPLAK!!! Tahu sendiri kan kalau saya kurang suka bahasa “Lo, Gue.”
Beda dengan buku yang cetak pertama kali, covernya dibuat berbeda dari yang sebelumnya. Lebih cerah dan terkesan enak dipandang —bukan maksud saya cover sebelumnya nggak enak dipandang ya! Tapi saya lebih menyukai cover yang baru. Nah pasti pada bingung kenapa judulnya Andai aku jalan kaki, masihkah kau selalu ada untukku ? versi plus-plus ?
Karena dalam edisi ini disertai dengan beberapa tambahan note baru yang belum ada di edisi lama dan juga diberi bonus berupa #SilabusMenulisFiksi. Wihh.. banyak plus-plusnya ya! Siapa coba yang nggak suka ? hehe.
Dalam buku ini banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Tentang bagaimana kita harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk membahagikan mereka yang ada disekitar kita. Bagaimana bertindak dengan tidak mengandalkan ego, bagaimana mengambil pilihan jika hanya diberi dua pilihan. Bagaimana kita harus mensyukuri apapun yang diberikan Tuhan pada kita, dan tidak mengubahnya karena itu artinya kita tidak bersyukur dengan apa yang kita miliki. Dan bagaimana tidak menyia-nyiakan orang yang kita cintai, sebelum dia meninggalkan kita.
Awal pertama beli, saya kepincut judul bukunya yang nyentil di hati, pas baca . . . Whua . . Ini salah satu buku favorit saya. gaya bahasa nya santai, walau terkadang berlebihan. Tapi justru itu malah buatku ga merasa digurui saat berusaha menyerap isi bacaannya. Dari buku inilah aku mulai hunting karya karya Edi Mulyono lainnya.
Banyak review kurang baik tentang buku ini yang kubaca di internet, tapi seleraku mengatakan . . Nie buku TOP ABIS
Judulnya Satire yang memikat. Aku selalu bercita-cita anti kemapanan. Langsung terpikat pada pandangan pertama. Tapi sayang di Goodreads nggak ada covernya. Pengen segera bikin review lengkap di blog nih buat buku ini. Spesial!
secara konsep sih bagus. mengajukan kembali pertanyaan tentang kawan dan cinta sejati di tengah dunia yang saat ini semakin penuh kepalsuan. dan memang pada dasarnya sih ada beberapa bab yang bagus. tapi cuma bab-bab tertentu saja. ga semua. :(