Buku ini berisikan hasil riset kualitatif penulis/peneliti terhadap para subjek yang melepas jilbabnya. Buku ini lebih menyoroti fenomena perempuan yang melepas jilbabnya (setelah sebelumnya mengenakan jilbab) dari perspektif psikososial filosofis, dengan didukung oleh teori-teori psikologi kontemporer. Buku ini menghadirkan pergulatan atau dinamika kepercayaan eksistensial muslimah yang melepaskan jilbabnya pada sebelum, sedang, dan sesudah melakukan tindakan itu. Meskipun tidak berpretensi mewakili seluruh muslimah di Indonesia yang melepas jilbab, buku ini menggugah kearifan kita sebagai pribadi dan masyarakat ketika dihadapkan pada fenomena ini. Buku ini mengandung muatan psikologi perkembangan, psikologi perempuan, psikologi spiritual, dan psikologi sosial.
buat bisa make aja udah susah penuh perjuangan, kok malah dilepas?
Kata-kata ayu di Matraman Selasa sore kemarin sama persis dengan yang ada di pikiran saya saat Kak Lita mengusungkan judul buku ini untuk diskusi buku.
Well, sebetulnya hal itu juga yang terlintas saat bbrp teman melepas jilbabnya. Dan sejujurnya, saya tak bisa menghindari memberikan prasangka atas kejadian tersebut, meski hanya di dalam hati. Yang ada dalam pikiran saya adalah sama dengan yang ada dalam pikiran banyak orang pada umumnya. Yup, degradasi iman. Dan walaupun saya akhirnya mengetahui sedikit dari alasan-alasan teman-teman saya, prasangka itu masih tertanam ketika membaca buku ini, terutama di bagian-bagian awal.
Sekitar 120an halaman dihabiskan penulis untuk menuliskan teori-teori psikologi yang berkaitan dengan topik ini. Walau pada awalnya saya setia mengikuti satu persatu deskripsinya (karena masih euforia akan tema tulisannya, mungkin), tapi kemudian saya terserang rasa bosan. Gemas, bahkan. Karena teori yang dijabarkan benar-benar hanya mengambil teori yang kiblatnya ke 'barat'. Di sini saya langsung merasakan adanya tendency penulis untuk memihak kepada para pelaku. *maaf jika saya menggunakan kata pelaku di sini, masih belum menemukan kata yang tepat*
Hampir saya banting buku ini, mencak-mencak lah bawaannya. "Apa iya sedunia itu alasan orang memakai jilbab dan kemudian melepasnya? Emangnya idup itu isinya dunia doank? huh!!!"
Jadi daripada saya naik darah, halaman-halaman teori tersebut saya skimmed saja. Langsung ke kisah para perempuan yang melepas jilbabnya. Masuk sampai ke kisah kedua, saya makin merasa perlu mencak-mencak. "Ya ampun, orang-orang ini sombong sekali."
Mereka hanya memikirkan apa yang nyaman buat mereka hanya karena eksistensi mereka terancam. Dan laki-laki mengapa memegang peranan penting dalam proses mereka melepas jilbab? No, bukan mencegah, tapi mendukung proses tersebut. Hadeeeeh, seakan tidak ada keputusan di dunia ini yang ga bisa kita ambil tanpa ada hubungannya dengan kaum Adam ini. *tepok jidat*
Sempat saya diskusikan dengan bbrp teman di kantor, dan ada seseorang yang mengatakan seperti ini, "Apa ada alasan yang bukan alasan dunia dalam semua alasan pelepasan jilbab?" Sampai di kisah kedua ini, saya masih merasa pertanyaan -atau penyataan?- itu ada benarnya juga. Lalu kembali memori teman-teman saya kembali datang. Despite the prejudices, saya menghormati keputusan mereka. Salah satunya adalah karena mereka tidak menyerang balik ke kelompok yang memakai jilbab.
Saya lalu membalik halaman ke kisah pertama. She's a thinker, Cukup banyak membaca dan mengetahui tentang Al Qur'an dan kitab kuning. Tapi keyakinan dia mulai terganggu saat kualitasnya sebagai manusia -dalam hal ini anggota keputrian yang sedang dalam proses pemilihan kepengurusan- dipertanyakan hanya dari lebar atau tidaknya jilbabnya. Dan ini terus menerus mengganggunya. Lalu lingkungan yang memacu dia untuk berpikir dan mendorong rasa nyaman saat dia mulai bertahap melepas jilbabnya.
Kisah kedua Tumbuh dengan pengetahuan agama yang digambarkan hanya dengan dosa ini dan pahala itu, membuatnya menjalankan agama dibawah rasa takut. Dan adanya tantangan kognitif dari pacarnya saat itu, membawa ke dalam pemikiran untuk melepas jilbab. Lalu adanya balasan judgementnya kepada wanita-wanita yang -masih- memakai jilbab. Oh, well.. pada beberapa bagian wawancara, saya merasa orang ini yang paling sombong dari keempat subjek. Dia bahkan sungguh-sungguh percaya bahwa kesuksesan yang dia raih, seluruhnya karena hasil kerja kerasnya, tanpa ada campur tangan Tuhan. Hadeeeeh...
Menuju ke kisah ke tiga, saya mulai maklum dan sedikit melihat sisi lain dari dua kisah sebelumnya. Tapi di kisah ke4, saya kembali resah, rasanya ingin menggaruk-garuk tanah. "Kok gara-gara cowo lagi, cowo lagi, cowo lagi seeeeeeeeeeh?" Arrrrgh!!!
Penulis pun mengupas hasil wawancara tersebut dengan landasan-landasan teori yang diberikan di bab-bab awal. Saya lalu mulai melihat kenetralan penulis dalam topik ini. Dan menuju bab terakhir, saya baru bisa mengatakan bahwa penulis mengambil kesimpulan dengan cukup fair dalam topik ini.
Saya pun merenung lagi. Apa saya sebegitu dangkalnya dalam menilai orang-orang yang melepas jilbabnya? Mengapa saya sangat tersinggung saat subjek#2 mengatakan wanita yang memakai jilbab adalah wanita yang gagal untuk develop trust kepada orang lain? Mungkin di sini lah letak permasalahannya. Kita terlalu banyak memberikan judgement pada pihak lain yang berada di seberang kita.
Mungkin inilah alasan penulis melakukan penelitian ini. Dan saya pun mencoba menghilangkan prasangka-prasangka tersebut dan menelaah ulang keempat kisah tsb.
Hey, jilbab saya juga masih begini-begini saja. Padahal dalam An-Nur 31, yang harusnya ditutupi khan sampai ke daerah dada, dan saya rasa excuse yang saya punya dalam memakai gaya jilbab pun, lagi-lagi karena kenyamanan saya. Itu termasuk alasan yang duniawi, bukan yaa? Hehehehehe *Jadi garuk-garuk kepala yang ga gatel..*
Apalah saya ini sampai punya hak untuk memberikan judgement terhadap para pelaku sedangkan saya juga tidak pasti iman saya lebih hebat dari mereka.
Hanya tadi ada yang saya lupa sampaikan dalam forum diskusi di bangku nyaman yang dikelilingi tanaman sejuk. Ada bbrp opini, baik dari dalam buku, maupun dari peserta diskusi yang menggambarkan kekecewaan akan ekslusifitas jilbaber lebar nan besar. Saya juga pernah mengalaminya. Saya mengenal beberapa yang memang melakukan tersebut, dulu kala saya masih SMA dan kuliah. Kekecewaan yang sama juga membuat saya sedikit merasa jengah pada sebagian besar mereka.
Tapi semakin kini, saya juga banyak mengenal dekat jilbaber besar yang sungguh sangat patut dipuji akhlaknya. Bahkan decak kagum dalam hati sampai berharap saya bisa mencapai tahap tersebut suatu hari. Saya menyayangi mereka.
Jadi, saya lupa menyampaikan di forum tsb bahwa tidak semua jilbaber besar mengecewakan kita. Karena itu artinya, kita balas mengambil prasangka terhadap mereka khan?
Saya belajar untuk mengendalikan prasangka dari buku ini. Alasan dan rasa yang ditimbulkan oleh jilbab yang saya pakai seperti yang sempat saya dan beberapa orang cetuskan di sini pun tidak hilang. Saya masih merasakan hal-hal tersebut.
Saya pun semakin berharap saya bisa memperbaiki jilbab saya. Baik jilbab fisik ataupun akhlak saya. Semoga.. *aamiiin*
Dikarenakan bahasa dan teori-teori yang diusung dengan tujuan penelitan, saya rasa akan banyak yang mengalami kesulitan atau kebosanan dalam membaca buku ini. Setidaknya untuk pembaca yang jarang bisa menikmati buku non-fiksi seperti saya ^_^
PS: Mengharapkan saya akan menjabarkan teori-teori yang ada di buku ini? Kayaknya ga bakal deh. Buat saya, jilbab memiliki makna yang lebih besar dari teori-teori tersebut Jadi, kalau mau tau, baca aja bukunya yaaaaa Hehehehe
Sebuah buku dengan judul yang cukup provokatif dan unik. Jarang sekali ada buku yang membahas fenomena kenapa seorang perempuan memilih melepas jilbabnya.
Ini adalah sebuah kajian dari hasil penelitian ditinjau dari sisi ilmu psikologi. Ini bukanlah buku agama. Jadi, jangan heran kalau dalam pembahasannya sangat sedikit sekali membahas dari sisi agama.
Baru membaca seperlima bagian buku ini sudah membuat saya geregetan. Apalagi jilbab biasanya diidentikan dengan agama tertentu (baca : Islam). Umumnya masyarakat Indonesia menganggap jilbab sebagai suatu kewajiban dalam beragama. Jadi ketika dikatakan kalau jilbab adalah bagian dari fashion, style atau apapunlah itu akan sedikit “menyentil” komunitas dan orang tertentu. Ketika agama dan kepercayaan menjadi sesuatu yang “sensitif” untuk dibahas apalagi diperdebatkan, pastinya hal itu akan memancing banyak perdebatan dan kontroversi. Tapi terkadang, saya suka sesuatu yang kontroversial :D
Buku ini menceritakan tentang empat orang subyek, yaitu Tari, Intan, Wina dan Lanni yang pernah mengenakan jilbab namun akhirnya melepas jilbabnya.
1. Subyek Pertama (Tari) : Jilbab Sebagai Pilihan Busana
Tari pertama kali memakai jilbab saat duduk di bangku SMA. Di sekolahnya ia banyak bergaul dengan para anggota kerokhanian Islam (Rohis) yang sedikit banyak mempengaruhi pola pikir dan pandangannya akan agama dan Jilbab. Ia tidak pernah melepas jilbabnya, menghindari musik, televisi, dan sebagainya. Ia juga cukup aktif berdakwah. Saat menginjak bangku kuliah, Tari semakin mantap untuk berjilbab.
Ketika menginjak tahun kedua, Tari mulai berpacaran dengan seorang pria. Pergaulan dengan mahasiswa AINI dan pengaruh pacarnya membuat Tari memikirkan ulang tentang jilbabnya. Titik kritis terjadi saat pemilihan ketua divisi keputrian di kampusnya. Saat itu, issue yang beredar adalah ketua keputrian mushola haruslah yang jilbabnya besar. Hal ini memancing krtisi internal di dalam diri Tari, “Apakah perempuan hanya bisa dinilai dari seberapa lebar jilbab yang dipakainya? Bukan dari pikiran atau dirinya sendiri?”
Lulus kuliah dan bergabung di sebuah LSM keperempuanan (Afina Riskana) membuat Tari banyak bergelut dan berdiskusi tentang issue-issue keperempuanan, termasuk masalah jilbab. Hingga Tari sampai pada satu kesimpulan, kalau jilbab adalah busana, bagian dari budaya. Jilbab bukanlah sebuah ajaran agama dan bukanlah menjadi suatu kewajiban buat setiap perempuan muslim. Jilbab memang menjadi identitas muslimah, akan tetapi lebih kepada sebuah simbol.
Keputusannya melepas jilbab tidak serta merta membuatnya mengambil sikap bertolak belakang terhadap jilbab. Menurutnya, jilbab adalah bagian dari busana, fashion, simbol serta budaya. Ia masih mungkin memakai jilbab kembali dengan alasan dan tujuan tertentu yang sifatnya lebih politis dan bukan teologis.
2. Subyek Kedua (Intan) : Orang yang Berjilbab adalah Orang yang Gagal Trust Terhadap Orang Lain
Intan yang berasal dari keluarga pluralistik dan hanya menekankan Shalat sebagai satu-satunya kewajiban mulai “tertarik” memakai jilbab saat duduk di bangku SMP. Kala itu, guru agamanya banyak “menebarkan rasa takut” akan Tuhan dan agama. Ancaman kalau wanita yang tidak menutup auratnya dan tidak mengenakan jilbab di neraka nanti payudaranya akan digantung kemudian dibakar sampai bernanah. Ini menjadi titik balik buat Intan yang membuatnya berkeinginan memakai jilbab. Apalagi saat sepupu terdekat Intan memutuskan untuk memakai jilbab.
Intan memakai jilbab tertutup sekitar dua tahun sampai saat ia berpacaran dengan seorang aktivis politik. Walaupun sang pacar tidak secara langsung memintanya melepas jilbab, tetapi diskusi panjang di antara mereka membuat Intan mempertanyakan kembali jilbabnya. Bertahap, Intan mulai menanggalkan jilbabnya hingga akhirnya melepasnya. Pararel dengan itu, terjadi pergeseran pemahaman dan pemaknaan keagamaan dalam diri Intan. Ia mulai mempelajari ajaran agama lain serta mempertanyakan ibadah, dosa-pahala, takdir serta berbagai hal lainnya.
Intan kemudian dengan sang pacar yang secara tidak langsung mempengaruhi pola pikirnya. Sang mantan pacarnya tersebut malah menikah dengan wanita rohis berjilbab besar. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar dalam diri Intan. Perlahan, timbul sinisme dan sentimen negatif agama dalam dirinya. Secara ekstrem, bahkan Intan menganggap bahwa perempuan yang memakai jilbab adalah orang yang gagal trust terhadap orang lain.
3. Subyek Ketiga (Wina) : Melepas Jilbab untuk Berjilbab Kembali.
Winna memakai jilbab saat SMA setelah mengikuti basic training sebuah perkumpulan remaja islami. Namun baru memakai jilbab setealh bergabung di organisasi Mahasiswa Islam NMI. NMI adalah organisasi yang sangat berperan dalam pengembangan karakternya.
Sejak memakai jilbab, jilbab Wina tertutup rapat. Karena menurutnya menutup aurat tidak bisa setengah-setengah. Hingga suatu ketika Wina mengalami insiden kritis dalam bidang seksual dengan sang pacar. Wina akhirnya melepaskan jilbabnya karena ia merasa belum cukup pantas mengenakan jilbab dan tidak bisa mempertanggungjawabkan jilbabnya di lingkungan dan di mata Tuhannya.
Wina terus melakukan upaya pencarian diri, hingga beberapa tahun kemudian setelah mengalami “mimpi religius”, Wina memakai kembali jilbabnya yang ternyata hanya sementara. Beberapa waktu kemudian Wina kembali melepas jilbabnya karena ia masih banyak terlibat gossip, intrik dan “politik tertentu” yang kurang sehat. Lagi-lagi karena ia merasa kurang pantas untuk berjilbab. Saat ini, Wina terus melakukan upaya pencarian diri dan tetap berniat untuk kembali berjilbab.
4. Subyek Keempat (Lanni) : Jilbab Belum Sejatinya Mencerminkan Diriku.
Berbeda kisah antara Tari, Intan dan Wina. Begitupun dengan yang terjadi pada Lanni. Lanni memutuskan memakai jilbab pada usia 37 tahun. Setelah mengalami tekanan sosiopsikis dan hampir membuatnya putus asa, Lanni memilih lari ke jilbab dan agama dengan maksud untuk menenangkan hati.
“waktu gw akhirnya putuskan pakai jilbab, gue waktu itu ufah putus asa, tidak ada cowok yang mau ama gue. Mending ditutup aja segala keindahan gua.”
Lanni mengenakan jilbab atas anjuran seorang laki-laki yang ia cintai saat itu. Namun, di saat hubungannya dengan laki-laki itu menjadi tidak penting lagi, Lanni sudah mulai mencoba melepas jilbabnya. Diawali dengan kedatangan temannya dari Belanda di saat bulan puasa. Karena merasa tidak nyaman, suatu sore ia melepas jilbabnya. Lanni melepas jilbab karena ia merasa kalau jilbab tidak sesuai dengannya dan tidak mencerminkan dirinya.
Serentet Tanya Buat Penulis
Empat orang perempuan dengan empat latar belakang, empat alasan, empat pengalaman, empat pandangan, empat penjelasan, dengan satu keputusan: melepaskan jilbab yang telah mereka pakai.
Sebuah penelitian yang masih terbilang baru dan cukup berani. Karena setahu saya belum pernah ada penelitian mengenai fenomena perempuan yang melepas jilbabnya, apalagi dipandang dari sudut pandang ilmu psikologi.
Yang lantas menjadi pertanyaan saya adalah “Mengapa penulis memilih keempat orang subyek tersebut?” apakah yang menjadi dasar pertimbangannya. Karena kalau merujuk pada penjelasan awal penulis “Empat muslimah yang ditampilkan pengalaman fenomologisnya dalam buku ini dipilih oleh penulis (purposif) dengan kriteria tertentu, yaitu perempuan Indonesia yang telah mengenakan jilbab selama minimal dua tahun berturut-turut “ (Juneman, 2010:120). Kalau mengacu pada kalimat ini, satu-satunya yang mendasari pemilihan subyek hanyalah jangka waktu subyek memakai jilbab, yaitu minimal dua tahun. Menurut saya, penjelasan ini masih tidak memberikan gambaran secara jelas alasan pemilihan subyek. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomologis-subyektif. Dengan istilah “subyektif” yang dimaksud adalah bahwa pendekatan metodis ini mengungkap data dari perspektif subyek yang diteliti (Poerwandari dalam Juneman, 2010: 113). Dengan pendekatan subyektif ini, faktor pemilihan subyek akan sangat mempengaruhi hasil penelitian.
Yang tidak saya habis pikir adalah kenapa kok bisa ya, (secara kebetulan?) empat orang subyek memiliki skala orientasi religius menurut Allport (Briglass dalam Juneman, 2010) yang berbeda-beda. Mulai dari indiscriminately anti-religius type (pada Tari), indiscriminately pro-religius type (pada Intan), intrinsic type (pada Wina) dan extrinsic type (pada Lanni). Sebuah kebetulan yang disengaja? Yang jadi pertanyaan saya selanjutnya adalah bahwa penulis tidak menjelaskan lebih detail berapakah sampel yang diambil? Apakah dalam proses penelitiannya penulis mengambil banyak sampel/ subyek, lantas hanya menjabarkan empat kasus diantaranya untuk menggambarkan beragam variasi tipe skala orientasi religius terhadap keputusan subyek untuk melepas jilbabnya? ataukah memang penulis hanya mengambil empat subyek, dan (kebetulan) keempat subyek tersebut memiliki skala orientasi religius yang beragam, tidak ada yang sama satu dan lainnya. Kalau memang iya, sungguh suatu kebetulan yang luar biasa.
Ini memang buku psikologi dan bukan buku agama. Jadi, teori-teori yang menjadi dasar penelitian dan penulisan buku ini adalah teori-teori psikologi. Dan kalaupun ada teori atau referensi agama yang digunakan, lebih banyak menggunakan sudut pandang Islam moderat, bahkan (mendekati) Islam liberal yang memang cukup longgar dalam memaknai hukum pemakaian jilbab dalam agama Islam. Kenapa tidak mengambil referensi yang lebih beragam? Hal ini mengundang pertanyaan lebih lanjut buat saya. Apakah ada tendensi tertentu yang mempengaruhi dan mendasari penelitian dan penulisan buku ini? Padahal dalam metode penelitian fenomologis, peneliti harus bersikap netral, tidak berpihak ataupun berlawanan dengan fenomena yang ada. Kalau ternyata ada tendensi, itu akan merusak keseluruhan penelitian. Secara sekilas, kalau dilihat dari teori-teori yang dijadikan dasar dan referensi penelitian dan penulisan buku ini, menurut pendapat saya pribadi, saya melihat “sepertinya ada kecenderungan dan tendensi tertentu” untuk mendukung fenomena perempuan melepas jilbab.
Perempuan Berjilbab Juga Manusia
Terlepas dari beberapa hal tersebut di atas, membaca kisah empat orang perempuan dalam buku ini sedikit banyak memberikan gambaran tentang fenomena perempuan melepas jilbab di Indonesia.
Kalau ingin menelaah mengenai alasan perempuan melepas jilbab, sebaiknya kita telusuri dulu apakah yang menjadi alasan awal seseorang memakai jibab (sebelum melepasnya)? Melihat pada kasus empat orang subyek, dua diantaranya (Tari dan Intan) memakai jilbab awalnya karena faktor “ketakutan akan surga-neraka’ yang disebarkan oleh lingkungan sekitar, seorang karena faktor kesadaran pribadi (Wina) dan seorang lagi karena putus asa lantas menjadikan agama dan jilbab sebagai pelarian (Lanni). Dari sini terlihat bahwa sebagian besar alasan (tiga dari empat) lebih kepada faktor eksternal, dan bukan dari kesadaran pribadi subyek untuk memakai jilbab. Dan faktor ketakutan menjadi alasan dominan mereka.
Memang, saat ini masih banyak masyarakat kita yang menggunakan “ancaman” surga-neraka serta imbalan pahala-dosa untuk “mendorong” orang beribadah. Seakan-akan beribadah tak ubahnya sebuah niaga antara manusia dan Tuhan. Ibadah direndahkan menjadi hitung-hitungan timbangan antara amal dan maksiat manusia. Seakan-akan Tuhan bukanlah Maha pengasih, tetapi Tuhan yang Maha Kejam, penghukum dan pendendam. Tuhan digambarkan sebagai suatu entitas dengan cambuk dan sisi menyeramkan di satu sisi, dan dengan hadiah dan keindahan di sisi satunya lagi. Padahal sesungguhnya tidaklah begitu. Mungkin, pendekatan semacam ini bisa diterapkan pada anak-anak yang pehamannya masih simple tentang hidup. Tetapi hal ini tidak bisa diterapkan pada orang-orang dewasa yang sudah bisa berfikir secara logis. Karena ini akan menimbulkan konflik dan gamangnya “pondasi” seseorang. “Ketakutan” menjadi sebuah alasan yang tidak cukup kuat bagi seseorang untuk beribadah, termasuk juga dalam memakai jilbab. Karena hal itu akan dengan mudah digoyahkan oleh akal, naluri maupun logika dan ego manusia serta kondisi eksternal seseorang. Hal inilah yang menurut saya terjadi pada tiga orang subyek tersebut.
Mengenai alasan para subyek melepas jilbabnya, saya kembali “dikejutkan” pada fakta bahwa hampir semua subyek melepaskan jilbabnya karena ada pengaruh dan faktor laki-laki (baik secara langsung ataupun tidak). Tari yang terpengaruh pacarnya serta diskusi-diskusi kritis dengan pacarnya tersebut membuat Tari memikirkan ulang tentang jilbabnya. Begitupun yang terjadi dengan Intan. Dalam kasus Intan ditambah lagi dengan putusnya hubungan Intan dengan sang pacar yang malah memilih untuk menikahi wanita berjilbab besar. padahal selama ini sang pacarlah yang banyak mendorong Intan untuk melepas jilbabnya. Kondisi ini turut mempengaruhi sikap Intan terhadap jilbab selanjutnya yang cenderung sinis dan anti jilbab.
Pada kasus Wina, berbeda lagi. Insiden dalam bidang seksual dengan sang pacar membuatnya merasa kurang pantas untuk memakai jilbab dan lantas melepasnya. Pada kasus Lanni, sejak awal ia terdorong untuk memakai jilbab juga karena faktor laki-laki. Jadi ketika hubungannya dengan pria tersebut tidak lagi dianggap penting, Lanni tergoda untuk mulai melepas jilbabnya. Kenyataan yang terjadi pada empat orang subyek ini membuat saya bertanya lagi. “Kenapa lagi-lagi karena pria? Sedemikian besarnyakah dampak seorang pria terhadap keputusan seorang perempuan terkait masalah jilbabnya?” Haloo… kemanakah pendirianmu wahai para perempuan?? Geleng-geleng kepala saya dibuatnya. Lagi-lagi saya mempertanyakan alasan penulis dalam pemilihan subyek. Karena menurut saya masih banyak sekali alasan seorang perempuan dalam memutuskan untuk memakai dan atau melepaskan jilbabnya, dan itu tidak melulu terkait dengan pria seperti pengalaman saya pribadi dan orang-orang sekitar saya.
Yang cukup mengusik saya adalah subyek kedua (Intan) dan ketiga (Wina). Pada kasus Intan, pengalamannya, terutama pasca ditinggal menikah pacarnya (yang malah menikahi wanita Rohis berjilbab besar) membuat Intan jadi bersikap sinis dan anti jilbab. Padahal, saat berjilbab, ia termasuk aktif cenderung ekstrim dalam beragama. Seperti yang terjadi pada Tari, Intan juga bisa dengan mudahnya menilai orang dari penampilan luarnya saja. Bisa dengan mudah “mengkafirkan” oranghanya karena ia berjilbab atau tidak. Dan sebaliknya, saat Intan sudah tidak berjilbab, ia juga dengan ekstrim dan sinis menentang jilbab. Mengutip kalimat Intan“bahwa perempuan yang memakai jilbab adalah orang yang gagal trust terhadap orang lain”. Statement ini terus terang membuat saya “tersedak”. Saya merasa “disinggung”. Sampai saat ini, saya memakai jilbab, tetapi saya tidak merasa kalau saya mengalami gagal trust terhadap orang. “Haloo… jangan suka sembarangan ambil kesimpulan ya mbak. Mungkin mbak memang punya pengalaman sendiri, dan saya bisa maklumi, pun jua saya juga tidak menjudge atas keputusan siapapun yang memilih untuk memakai atau melepaskan jilbabnya” Karena buat saya, itu adalah hak setiap orang. Karena semua hal yang terkait masalah agama dan kepercayaan itu murni pilihan dan hak asasi setiap orang yang tidak dapat diganggu gugat ataupun dicampuri oleh orang lain. “Kalau mbak mau melepas jilbab terserah itu hak anda, tetapi jangan lantas bersikap sinis bahkan anti terhadap jilbab dan agama. Kalau anda tidak suka dijudge, maka jangan juga suka menjudge pihak lain”. Statement satu itu sungguh membuat saya geregetan. Seseorang yang tadinya ekstrim “membela” jilbab dan agama serta Tuhan, malah kemudian berbalik menjadi seseorang yang sinis dan anti terhadap jilbab dan agama – dengan sama ektrimnya. Ironis.
Di lain sisi, bisa jadi perubahan sikap yang sangat bertolak belakang yang terjadi pada diri Intan merupakan bentuk “pertahanan diri” dan sikap defensifnya terhadap pengalaman buruk serta respons orang-orang sekitar terhadap keputusannya melepas jilbab. Seperti tembok ada aksi dan reaksi.
Mengenai subyek ketiga (Wina), saya tertarik pada keputusannya yang bolak-balik antara memakai dan melepas jilbabnya. Wina yang memiliki latar belakang agama cukup baik serta alasan awal pemakaian jilbab yang tidak berasal dari luar (internal) beberapa kali memutuskan memakai terus melepas kembali jilbabnya. Yang menjadi dasar keputusannya untuk melepas jilbab adalah karena ia merasa belum pantas untuk memakai jilbab dan merasa belum dapat mempertanggungjawabkan jilbabnya di mata Tuhan dan lingkungan sekitar. Begitupun yang terjadi dengan Lanni yang merasa kalau jilbab bukalah sejatinya dirinya sendiri.
Satu hal menggeitik saya “ Kriteria apa yang digunakan untuk menilai pantas atau tidaknya seseorang untuk memakai jilbab?” Karena di Indonesia, jilbab dijadikan sebagai simbol perempuan muslim. Secara lebih khusus digambarkan bahwa perempuan berjilbab adalah orang yang baik hati, takwa, ramah tamah, tidak sombong, tidak suka menggosip, rajin menabung, tidak suka membuang sampah sembarangan. etc. Sempurna dan dasa darma pramuka gitu dech. “Apakah memang benar seperti itu dan harus seperti itu?”
Ketika suatu simbol dan budaya diidentikan dengan agama inilah yang terjadi. Apa yang terjadi dan dilakukan oleh simbol akan selau dikaitkan dengan agama.
Sebaiknya setiap manusia menjaga tingkah lakunya. Ini berlaku untuk semuanya tidak hanya perempuan, dan tidak hanya perempuan berjilbab. Menurut saya, jangan sampai image ‘kesempurnaan” seorang perempuan berjilbab membatasi seseorang untuk mengenakan jilbab. Karena faktor merasa tidak pantas. Siapa sih yang bisa menilai “kepantasan” itu? Karena yang berhak menilai iman dan nilai seorang manusia hanyalah Tuhan dan bukan manusia. Kalau kita menunggu “kepantasan” itu akan sampai kapan? Walaupun tidak juga seseorang bisa bebas bertingkah laku – dengan atau tanpa jilbab-. Dalam kondisi jilbab sebagai symbol, jilbab bisa menjadi “social control” dan “self control” buat seseorang untuk menjaga tingkah lakunya. Akan tetapi jangan sampai terjebak pada simbol semata. Karena nilai seseorang tidak bisa hanya dilihat dari apa yang terlihat di luar, termasuk juga pakaiannya – berjilbab atau tidak-. Yang menentukan nilai seseorang di mata Tuhan adalah “iman” dan “takwa”nya. Termasuk juga hubungannnya baik itu secara vertikal maupun horizontal terhadap sesama manusia). Hanya Tuhan yang berhak untuk menilai, manusia tidak. Jadi, jangan terjebak pada simbol ataupun stigma. Juga tidak lantas dengan serta merta bertindak “bebas nilai” karena aturan itu ada untuk mengatur hidup manusia agar lebih terarah.
Lagi-lagi pendapat pribadi saya, jilbab buat saya adalah sebuah kebutuhan, paling tidak buat saya hingga detik ini. Keputusan apakah seseorang akan memakai atau tidak atau bahkan memakai kemudian melepasnya itu adalah hak pribadi masing-masing. Kalau memang merasa butuh dan nyaman, pakailah, tetapi kalau tidak itu adalah hak anda sebagai manusia dewasa yang tahu mana yg baik atau buruk dan yang harus siap dengan segala konsekuensinya. Di lain sisi, janganlah menjudge seseorang hanya dari apa yang tampak di luarnya, jangan terjebak simbol ataupun stigma. Tidak berarti seseorang yang tidak berjilbab itu iman dan nilainya lebih rendah daripada yang berjilbab, begitupun sebaliknya. Perempuan berjilbab tidaklah berarti perempuan yang sempurna tanpa noda. Karena perempuan berjilbab juga manusia .
Suka atau tidak, saya memang memilih untuk memakai jilbab..
Begitupun semua subjek didalam buku ini, mereka semua memilih untuk melepas jilbabnya setelah memakainya dengan waktu minimal 2th. Melepas jilbab? Wah, ini tema yang menurut saya sangat menarik untuk dibaca, begitu yang terlintas dalam pikiran saya.
Dengan mengambil 4 subjek dengan alasan yang berbeda dalam melepaskan jilbab mereka. Semua perjalanan mereka lebih berupa proses. Entah saat mereka memutuskan untuk memakai jilbab, ataupun saat melepasnya. Bagi saya, dibutuhkan banyak keberanian sebelum akhirnya memakai jilbab. Berani mencoba, berani meninggalkan banyak kebiasaan yang tadinya sangat saya senangi, dan berani berkomitmen pada jilbab itu sendiri. Tidak mudah bagi saya membiasakan diri untuk tidak memakai celana pendek saat keluar rumah misalkan. Atau hal-hal lain yang nampak kecil dimata orang lain namun menjadi hal yang lumayan besar buat saya yang masih baru dalam memakai jilbab. Seiring berjalan waktu, saya semakin terbiasa dan semakin menyukai memakai jilbab. Belum pernah terlintas sama sekali dalam pikiran saya untuk melepaskan jilbab.
Hal ini juga yang membuat saya semakin tertarik untuk membaca buku ini. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari saya mempunyai beberapa teman yang pada akhirnya melepas jilbab, namun saya sengaja tidak pernah menanyakan alasan mengapa mereka melepas jilbab. Dari buku ini saya mendapatkan sedikit banyak tentang gambaran atas apa yang mereka rasakan sebelum akhirnya mereka memilih untuk melepaskan jilbab mereka. Dengan latar belakang alasan yang berbeda, namun yang saya tangkap adalah mereka pada awalnya menganggap memakai jilbab adalah sesuatu yang wajib, namun akhirnya mereka mengetahui bahwa jilbab hanyalah sebuah pilihan berpakaian saja.
Pada titik ini saya menghargai apapun yang mereka pilih, berusaha mengerti alasan mereka tanpa berpikir buruk dan jika pada akhirnya saya mengerti alasan mereka, tentunya bukan karena faktor-faktor pria yang mendominasi mereka ataupun lingkungan yang memaksa namun lebih kepada bagaimana mereka berusaha untuk tidak mengurangi kadar ibadah mereka saat sudah melepas jilbab dan bagaimana mereka menyikapi perubahan sikap lingkungan yang berubah karena proses pelepasan jilbab.
Saya menutup buku ini dengan tersenyum.
Hidup memang tentang pilihan. Dan ternyata saya puas dengan pilihan saya untuk memakai jilbab.. Alhamdulillah.. :)
Kuningan, 09.29.2010
**note: review yang lebih lengkap silakan menengok milik kak Erry dan Didit yaa.. :)
Darara Saya hanya akan membahas pendapat dan pengalaman saya membaca buku ini saja, bukan tentang berjilbab apalagi ngomongin agama. Kenapa saya tertarik membaca buku ini? karena ada kata "psychology of fashion", jadi ini pasti buku psikologi, bukan buku agama. dan ya, tentu saja karena buku ini membahas fenomena berjilbab -sesuatu yg cukup akrab bagi saya. Berjilbab dan melepas jilbab dipandang dari sisi psikologi fashion. hm, menarik. Tapi ketika menyisir daftar isi, kok nggak ada judul yg menyiratkan psikologi fashion? Tetep saya baca sih. Pembahasan teori kepercayaan eksistensial dsb saya baca juga. Jangan tanya seberapa yg saya pahami. hehe. Saya buta psikologi (tapi tertarik dgn bidang ini) sih. Ternyata psikologi fashion itu tampil di pembahasan kasus. Menurut saya, alur pembahasan di buku ini cukup enak. Saya belum pernah mengadakan penelitian kualitatif maupun kuantitatif, jadi saya nggak banyak cing cong dengan metode yang dipakai Juneman. Kalau membaca pertanyaan mbak erry tentang pemilihan 4 subjek yang... kok bisa hasil skala orientasi religiusnya beda semua? Wah kok pas, jadi serasa pemilihan subjeknya mewakili 4 skala orientasi religius itu ya :D tapi kalo saya melihat, 4 perempuan itu (mungkin) dipilih karena mewakili 2 grup latar belakang: yg dari latarbelakang agama yg 'keras' sehingga berjilbab karena takut dosa (Tari dan Intan), dan dari latarbelakang agama yg lebih lunak dan pilihan berjilbab bukan krn takut dosa (Winna dan Lanni). Sewaktu mengamati persamaan dan perbedaan latar belakang keempat subjek itu, saya kok malah kepikiran ini: kenapa nggak ada subjek yang bergelut di bidang seni atau olahraga tertentu? Menurut saya, aktivitas dan prestasi di dua bidang itu bisa memengaruhi keputusan seseorang untuk memakai / tidak memakai / mempertahankan / melepas jilbab. Seorang pesenam lantai yang prestasinya biasa-biasa saja, misalnya, pasti lebih gampang untuk mulai memakai jilbab. Beda dengan yang prestasinya bagus, jadi tumpuan harapan keluarga, sekolah, dsb, atau yang merasa (atau kuatir) bahwa nilai lebihnya hanya di bidang senam lantai. Tentu dia akan berpikir berkali-kali untuk mulai berjilbab. Atau seorang penari. Awalnya berjilbab, bisa saja lama-lama dia memutuskan untuk melepas jilbab ketika jilbab dirasakan mulai menghambat peluang karirnya. Saya rasa penulis sebaiknya mempertimbangkan untuk memilih subjek dari latar belakang seni dan olahraga. Perang batin antara kepentingan dunia dan akhirat –kalau boleh saya meminjam istilah itu, walau saya sendiri kurang suka- pasti lebih besar bagi perempuan-perempuan yang menggeluti bidang itu. Ada yang mengenal nama Miranda Risang Ayu? Beliau dulunya penari istana (pokoknya penari yg bagus banget lah), aktivis, dan sekarang berhijab, bahkan bercadar, kalo gak salah. Kalau saya perhatikan, kok yang menulis topik di sini perempuan semua ya? Apa nggak ada laki-laki yang membaca buku ini? Dan kenapa saya menyinggung soal laki-laki? Karena seperti yang diamati mbak-mbak yang menulis topik di sini, saya juga agak menyesalkan alasan 4 subjek (Tari, Intan, Lanni, Winna) itu melepas jilbab: selalu ada unsur laki-laki! Tapi suka atau tidak suka, akui aja deh: hal memakai jilbab itu memang karena laki-laki. Demi menjaga syahwat laki-laki, perempuan memakai jilbab. Perempuan terhormat ketika dia menjaga kehormatan laki-laki, dengan menyuruhnya (melalui berjilbab) menundukkan pandangan. Jadi saya nggak terlalu ‘menyalahkan’ ketika 4 subjek itu melepas jilbab karena (salah satu alasannya) laki-laki. Mungkin suatu saat, laki-laki akan memprotes, “perempuan, sampai kapan kau pakai aku untuk jadi alasan tindakan-tindakanmu?” Mungkin. Dan lewat paragraf terakhir itu, saya sudah mengingkari janji saya di depan :(
Well buku ini bagi sebagian orang pasti dipandang sangat kontroversial. Namun jika dilihat dari sisi pemakai dan sisi psikologis saat sebelum, dalam masa pemakaian dan setelah melepas tak lepas dari adanya sebuah alasan*
Buku ini lebih menyoroti fenomena perempuan yang melepas jilbabnya (setelah sebelumnya mengenakan jilbab) dari perspektif psikososial filosofis; bercorak psikologis dengan nuansa filosofis, dengan didukung oleh teori-teori psikologi kontemporer.
Judul : Psychology Of Fashion, Fenomena Perempuan (melepas) Jilbab
Penulis : Juneman
Buku yang tebalnya hampir 450 halaman ini ditulis berdasarkan penelitian yang mengungkap kenyataan bahwa 'keharusan agama' tidak dengan sendirinya menghalangi perempuan muslimah di Indonesia untuk melepaskan jilbabnya, kecuali jika ada perda yang melarangnya secara hukum.
Melalui buku ini kita akan mengetahui bagaimana pergulatan atau dinamika eksistensial muslimah yang melepaskan jilbabnya sebelum, saat dan sesudah muslimah melakukan tindakan tersebut. Sehingga usaha persuasif agar mereka mengenakan jilbab kembali tidak semata-mata difokuskan dari pertimbangan syariat, namun juga diperjuangkan dari sudut membangun kesadaran atau insight psikoreligius yang berangkat dari empati.
Membaca bagian awal pada buku ini anehnya justru membuatku ragu untuk melahapnya hingga habis. Bahkan aku membiarkan buku ini 2 hari terbengkalai, tak terjamah sedikitpun. Kenapa? karena walaupun sedari awal penulis memberi keterangan bahwa ini bukan buku agama melainkan buku psikologi, namun mendapati 'makna' jilbab antara penulis dan aku yang sangat bersebrangan, keyakinanku goyah juga.
Terlepas dari prinsip yang bersebrangan antara aku dan penulis, jujur saja ini buku bagus. Karena walaupun isi buku sedikit berat, penulis mampu menyederhanakan bahasanya hingga kita bisa membaca buku ini tanpa merasa bosan. Penulis juga mampu mengupas fenomena secara tuntas, dan mendalam. Serta berusaha untuk objektif dalam setiap analisisnya yaitu dengan menggunakan rujukan buku/penelitian yang tidak hanya mendukung argumennya tapi juga terkadang berseberangan, sehingga penulis seakan mengajak pembaca untuk ikut mengkritisi fenomena yang sedang terjadi pada subjek.