Jump to ratings and reviews
Rate this book

Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit

Rate this book
Kegelisahan mencuat di hati Hui Sing. Pelayaran pertamanya ke Jawa Dwipa dihadang peristiwa mengenaskan. Ratusan ping-se Kekaisaran Ming dibantai pasukan Majapahit. Saat itulah, kitab pusaka "Kutub Beku" milik gurunya, Laksamana Cheng Ho, raib. Celakanya, hanya dia, Juen Sui, dan Sien Feng yang dicurigai sebagai pencuri kitab ilmu tenaga dalam aliran Thifan Pokhan itu.

Demi kepentingan negara, Cheng Ho menunda penyelesaian kasus itu. Dia memimpin ribuan ping-se menuju Majapahit, menuju Prabu Wikramawardhana, menuntut pertangungjawaban Raja Majapahit itu.

Sampai di kota raja, Keraton Majapahit diguncang rajapati. Cheng Ho menduga, pembunuh yang berkeliaran di keraton berhubungan dengan pencuri Kitab Kutub Beku.

Benarkah demikian? Lalu, siapakah di antara ketiga murid Cheng Ho yang mencuri Kitab Kutub Beku, sekaligus mengkhianati perguruan? Ataukah, ada orang lain yang bertanggung jawab terhadap peristiwa menggemparkan itu?

Ketika Majapahit terpinggirkan ke bibir jurang sejarah, Hui Sing melahirkan dirinya menjadi sosok baru laksana bintang. Bersinar tanpa lelah. Samita, bintang berpijar di langit Majapahit.

488 pages, Paperback

First published January 1, 2004

9 people are currently reading
222 people want to read

About the author

Tasaro G.K.

33 books558 followers
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
63 (30%)
4 stars
77 (37%)
3 stars
51 (24%)
2 stars
11 (5%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for Femmy.
Author 34 books540 followers
August 26, 2010
Aku pertama tertarik membaca Samita karena tahu novel ini berkaitan dengan Cheng Ho. Soalnya, aku juga pernah ingin menulis soal dia sih. Sebagai penggemar cerita silat Mandarin, kupikir sepertinya asyik juga kalau bisa menulis dalam genre ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam di dalamnya, melalui tokoh Cheng Ho ini. Eh, tahunya keduluan, hehehe...

Tepatnya, novel ini berkisah tentang murid perempuan kesayangan Cheng Ho, bernama Hui Sing. Tokoh kita ini turut gurunya berlayar ke Majapahit dalam misi persahabatan. Tak disangka-sangka, kitab silat berharga milik Cheng Ho dicuri orang, lalu ternyata pencurian ini berkaitan dengan pembunuhan seorang pejabat Majapahit. Hui Sing memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa untuk membongkar kasus tersebut, sementara gurunya harus pergi ke Palembang untuk menumpas bajak laut di sana. Dalam petualangan di Jawa inilah Hui Sing bertemu cinta dan sahabat, juga musuh dan dendam, dibumbui pula dengan adegan laga di sana-sini.

Keuntungan membaca novel sejarah, tentu saja, kita dapat belajar tentang sejarah yang melatari novelnya, tanpa perlu berkerut kening menghafal tanggal seperti di sekolah. Dengan membaca Samita, kita melihat armada Cheng Ho mengajari rakyat desa pesisir Jawa bersawah, ataupun kisah penyebaran agama Islam oleh bangsa Gujarat, juga pergolakan di kerajaan Majapahit, termasuk pemberontakan yang dipimpin oleh putri Bhre Wirabumi dari Blambangan.

Ganjalan
Namun, aku menemui beberapa hal yang sedikit mengganjal, karena tidak bersesuaian dengan pengetahuanku tentang hal itu. Hal-hal ini kecil sih, tapi bagiku mengganggu kenikmatan membaca dan membuatku meragukan hal-hal yang lain.

Salah satunya adalah masalah penggunaan istilah bahasa Mandarin. Pertama-tama, transliterasinya tidak konsisten. Sebagian besar buku ini sepertinya memakai transliterasi Wade-Giles (nama Cheng Ho), tetapi ada beberapa yang transliterasi Pinyin (ada huruf q dan zh dalam nama), dan ada pula sedikit penggunaan dialek Hok-kian. Jadilah, misalnya, kata 中國 dituliskan sebagai Tiong-kok maupun Chung Kuo. Selain itu, penggunaan istilah "hwa-kiauw" terasa janggal (h. 234), karena setahuku hanya mencakup perantauan Tionghoa yang menetap di luar Tiongkok, jadi tidak termasuk orang-orang seperti Cheng Ho atau Hui Sing. Satu lagi, kenapa Cheng Ho disebut dengan Tuan Ho, bukan Tuan Cheng menggunakan nama marganya?

Hal lain yang mengganjal adalah masalah proses pembuatan batik (h. 101). Di sini disebutkan bahwa canting diisi dengan tinta, padahal setahuku canting itu diisi dengan lilin.

Dalam penggambaran permainan suling (h.179), disebut "saat jemari pemuda itu lincah berpindah-pindah dari satu lubang ke lubang lain pada seruling dari bambu panjang itu". Setahuku, jari pemain seruling tidak berpindah-pindah, tetapi setiap jari mengendalikan satu lubang, dengan membuka atau menutupnya.

Dan... kenapa tokoh Ciu Pek Tong bisa sampai muncul? Tokoh rekaan dari trilogi Jin Yong ini mungkin bisa menjadi inside joke buat penggemar cerita silat, tapi bagiku hal ini juga membuatku kesulitan menganggap serius cerita ini. Ilusi bahwa novel ini merupakan cerita yang "benar-benar" terjadi dalam sejarah menjadi rusak, mengubahnya menjadi sekadar novel fiksi biasa, yang bisa mempertemukan tokoh fiktifnya dengan tokoh fiktif dari novel lain.

Penasaran
Gara-gara ganjalan di atas, aku jadi bertanya-tanya dan penasaran tentang beberapa hal. Misalnya, seberapa luas penggunaan lontar pada masa itu? Seberapa banyak salinan yang ada untuk suatu kitab penting seperti Negarakertagama? Apakah cukup meluas dan banyak, sehingga orang seperti Anindita mudah saja memberi Hui Sing hadiah berupa kitab?

Lalu, yang bikin penasaran juga, seberapa mirip rumah makan yang ada pada zaman itu, dengan yang ada pada zaman sekarang? Selain piring dan cawan dari tanah liat? Sebenarnya sejak kapan rumah makan di Jawa menyediakan menu khusus untuk tamu? (Dari Om Wiki, restoran di Barat punya menu khusus baru abad ke-18, tapi di Tiongkok sudah sejak abad ke-12, di Jawa...?)

Bahasa
Bahasa di novel ini unik dengan ungkapan-ungkapan yang tak biasa. Sebagian kusuka, sebagian tidak.

Contoh yang kurang kusukai:
* ...angin tak sedang galak.
* Alis matanya tebal, namun tak terkesan garang karena mengapit sepasang mata yang jenaka (Nggak kebayang bagaimana caranya alis mengapit mata? Atas-bawah? Kiri-kanan? Paling juga menaungi).
* ...serumpun pohon nyiur. (Ngga kebayang bagaimana pohon nyiur bisa tumbuh serapat bambu?)

Contoh yang kusukai:
* Suara ombak seperti bunyi bulir beras yang sedang ditampi di atas tambah. (Jadi kebayang bunyinya kayak apa.)
* Ada lega yang terlepas. Seperti seorang pengembara yang berjalan jauh dengan berbagai barang di sekujur tubuhnya, lalu melepaskan segala beban itu begitu sampai di tempat yang ia inginkan. (Jadi kebayang, rasa leganya kayak apa.)

Adegan Favorit
Dari seluruh novel ini, adegan favoritku justru berkaitan dengan tokoh yang muncul sangat sebentar. Adegan halaman 309-313 yang menggambarkan percakapan antara Kusumawardhani dan Wikramawardhana, dilanjutkan dengan Kusumawardhani dan Suciatma. Menyentuh sekali melihat ketiga orang ini mengorbankan perasaan demi kepentingan negara. Satu adegan kesukaanku juga adalah adu otak antara Respati dan kakek aneh pada halaman 362-364.

Penutup
Secara keseluruhan, novel ini adalah upaya yang patut dipuji. Semoga ke depannya Tasaro dapat terus berkarya dengan novel sejenis, semoga dengan riset yang lebih mantap.
Profile Image for Ummi Maya.
68 reviews
December 8, 2015
LIDAH ORANG BERAKAL ADA DI BELAKANG HATINYA, HATI ORANG DUNGU ADA DI BELAKANG LIDAHNYA!!

Luar biasa, Selalu Luar biasa! Novel sejarah yang romantis ini, walaupun segi romantisnya tidak terlalu terlihat seperti di buku Kinanthi, tetap mampu menimbulkan roman yang luar biasa buat saya. Sejarah bila di sajikan dengan cerita seperti ini akan sangat menarik untuk terus membaca tanpa rasa jemu.

Penuturan tentang penyebaran agama Islam yang begitu runut dan indah. Sosok Hui sing atau Samita yang begitu percaya kepada Allah, menyerahkan setiap tindakan, maut dan nyawa kepada kekuasaan ALLAH. tanpa henti untuk berusaha menjaga Sad Respati, sosok Rakryan Rangga Majapahit yang sangat dia cinta.

jika suatu saat nanti saya di beri amanah seorang anak laki-laki ingin saya beri nama Respati Samita ^_^
Profile Image for Cicik.
1 review
May 8, 2022
Buku yang saya re-read berkali-kali.
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews11 followers
August 26, 2011
Ga suka ga suka ga sukaaaa. Kenapa akhirnya bikin penasaran? Sedih (karena Sad Respatinya meninggal dan Soma diculik sama Dewi Anindita) dan menggantung. Oia, Ramya juga belum jelas gimana nasibnya. Pokonya kaya belum udahan lah. Buku ini ada lanjutannya ga?
Dan ternyata, setelah saya baca tentang penulisnya, buku Sasmita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit ini adalah karya awal Tasaro. Wow.

Awalnya saya ga tertarik baca buku ini, karena kalo diliat dari cover, banyak buku lain yang lebih menarik. Baca resume ceritanya juga, ya udah sih biasa aja. Tapi berhubung penulisnya adalah Tasaro, saya memutuskan untuk baca. (Berhubung buku Nabi Muhammad Saw. tulisan beliau yang saya suka banget, saya percaya sama Tasaro. Haha apa deh) Haha dan keputusan yang tidak salah.

Intinya sih, buku ini bercerita tentang murid sekaligus anak angkat Laksamana Cheng Ho, seorang laksamana beragama i-se-lan (Islam) utusan Kerajaan Ming dari Cina yang dititah oleh Kaisar Kerajaan Ming untuk menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan sekitar. Disini, Laksamana Cheng Ho diutus ke Kerajaan Majapahit, dimana keadaannya sudah tidak sehebat dulu. Yah, lagi redup gitu lah, banyak pemberontakan, pejabat negaranya ga baleg (mentingin kepentingan pribadi doang), dan raja yang kurang berwibawa, itu beberapa alasannya. Dalam perjalanan ini, ikut tiga orang murid Laksamana Cheng Ho, salah satunya adalah Hui Sing, murid sekaligus anak angkatnya tadi. Hui Sing ini jago pisan thifan phokannya sampe-sampe terbersit saya juga pengen belajar (pengen doang haha), dia juga penganut agama i-se-lan (Islam) dan ngapalin Ku-lan-Ching (Al Quran) suka dites gitu sama Laksamana Cheng Ho. (Hwaaa)

Meski tujuan perjalanan ini "hanya" untuk mempererat persahabatan dengan Majapahit, banyak yang hal yang terjadi. Ternyata ada salah satu murid Laksamana Cheng Ho yang berkhianat, pun dari pihak Majapahit. Siapakah mereka? Baca aja sendiri yaaa. Dan siapa Sad Respati yang saya sebut-sebut diatas? Juga Ramya, Soma, Dewi Anindita? Siapa? Yah, baca aja deh. Ga rugi. Banyak juga hikmah-hikmah yang bisa diambil dari buku ini.

Quotes favorit: Wa! Wujud hana tan kena kinira! Ilmu manusia hanya terbatas, namun penerapannya tanpa batas!

Akhir kata, selamat membaca :)
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
July 25, 2011
jika dendam bisa memanggil nyawa yang terlanjur melayang, aku akan menyebar bibit na di ladang yang luas. jika kesumat mampu mengembalikan waktu yang tertinggal, akan kuperas seluruh darahku untuk membenci (hlm. 345)

awal penuh dendam, akhir bercucuran. namun dendam adalah suatu bentuk kepatuhan, apakah itu bisa dipersalahkan atau malah suatu pembenaran. ingin rasa na memberi cukup 2 bintang untuk kisah ini, namun melihat referensi yang memang ditampilkan di belakang na, oklah untuk menambahkan 1 bintang lagi.

roman yang dibumbui sejarah dan laga. kedekatan dengan tuhan dan kedekatan dengan budaya, ternyata itu tak menjadi penghalang jika ditambah dengan kesabaran akan suatu penantian. walaupun penantian ini belum tentu berbuah manis dengan ada na cobaan. samita dan respati.

dari judul na yang seakan mengangkat kisah samita di sini, memang kesabaran samitalah yang dipaparkan. namun entah mengapa di beberapa bagian malah respati yang mendominasi cerita. mungkin memang inilah yang nanti na akan membentuk cerita secara keseluruhan, bahwa dengan kesabaran na dalam penantian membuat samita bahkan tidak sampai terlihat oleh pencerita untuk dikisahkan. dia hanya melihat respati untuk sementara.

namun apa yang disembunyikan hati seseorang akan dibeberkan oleh wajah na sendiri (hlm. 393), terlepas dari jurus yang ada, kitap yang dipelajari dan sedikit sejarah yang membumbui sedap na cerita ini, tatap saja cinta yang menjadi benang utama na. saat kekuatan dan ilmu tenaga dalam tak mampu menyembunyikan apa yang ada di hati seseorang yang mereka pancarkan dari pandangan dan ekspresi wajah yang ada. karena...

cinta asmara adalah suatu kelelahan yang kebetulan bertemu dengan hati yang kosong. aku akan mengisi hati itu. pastilah nanti rasa lelah na akan sirna (hlm. 421)

tapi apakah cinta ini juga mampu mengusir dendam-dendam yang ada? cari tau aja lewat buku na :D

-55-
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
January 9, 2011
28th - 2011

Nemu buku ini di Rumah Goodreads, entah punya siapa. Terima kasih buat yang punya, jadi bisa numpang baca sambil nunggu acara MATA GRI dimulai. Apalagi ternyata acaranya molor dua jam dari jadwal semula, jadi cukuplah waktunya untuk menamatkan buku ini.

Begitu baca... eh, kok seperti baca cersil Kho Ping Hoo yang berseting di Jawa. Belum lagi nama jurus-jurus kungfunya yang terasa asing dan aneh. Membaca nama jurus panda memetik anggur, yang terbayang langsung deh si Po dari Kungfu Panda lagi metik anggur... wkwkwk

Anyway, terlepas dari pemakaian dialek yang tidak konsisten antara Hokkian dan Pinyin, atau kebenaran sejarah yang jadi latar belakangnya (namanya juga novel), buku ini cukup menarik untuk dibaca, meski tamatnya menggantung...

Tapi nggak begitu penasaran sih dengan nasib Hui Sing di masa depan. Nggak baca lanjutannya juga kayaknya nggak rugi sih.
Profile Image for Jervine.
6 reviews3 followers
May 31, 2008
Habis baca Kite Runner trus nemu buku ni. Ga sengaja aj liat di rak buku perpus kota Malang. Jujur kacang ijo, tertarik ama cover-nya. Ga taunya....,, sekali lagi q dibuat ga berhenti baca. Bahkan memotivasiq untuk cari lagi novel2 historical-fiction dgn lat-bel Majapahit. Selain tu, buku ni juga bikin q makin penasaran sama Laksamana Cheng Ho.

Pas buka goodreads...,, ternyata ada sekuelnya ya. Semoga menjawab rasa penasaranq ttg nasib Samita.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,458 reviews73 followers
April 28, 2023
Boekoe ini bikin akoe kena denda dari perpoes kota sebesar 33 riboe! Rekor! Tapi akhirnya oedah koeloenasi kok. Haha.

Akoe pingin batja boekoe ini lage. Kalaoe bisa pingin poenja sendiri boekoenja biar ga oesah didenda lagi XD Boekoe ini yang bikin akoe kenal sama Hasta Brata djoega filosofi dari hanatjaraka.

Kayake boekoe ini oedah ditjetak oelang dengan kover jang lebih bagoes. Tapi waktoe itoe beloem bisa beli *krik sakoe siswa SMA...
Profile Image for Ibrahim Fathan.
8 reviews
March 10, 2016
3,9/5 star

Mungkin saja, novel ini yang bagian inspirasi film Alif Lam Mim.
dengan komposisi lebih ke individu banding kondisi (politik).
Alurnya dimanis, kadang cepet..kadang lambat.
bahasa puitisnya kuat, bahkan semi-cerita tetap enak dilalui.

kurang suka ending-nya aja.

bagaimanapun begitu, buku pertama ini terlihat penulisnya
terlalu menyalurkan emosinya.

tapi akhirnya, Tasaro melahirkan buku-buku menarik.
yang diantaranya novel triologi "Muhammad" Saw
Profile Image for Hanifah Husnan.
4 reviews38 followers
November 20, 2013
Kalo tidak salah ingat (selesai membaca ketika masih SMP)

Buku yang membangkitkan semangat juang dan keberanian seorang wanita. Keberanian untuk menjaga kehormatan, semangat untuk mencapai cita-cita. Mengajak kita sebagai wanita untuk tidak cengeng atau hanya bergantung pada laki-laki, sebagai bukti bahwa wanita itu 'bisa'.
*setelah baca ini (dulu waktu SMP), jadi suka bela diri.
Profile Image for Speakercoret.
478 reviews2 followers
August 25, 2010
08-11-09 minjam ma mba roos
------------------------------

30-05-10 beli, dikira sambungan samita bintang berpijar di langit majapahit...
ternyata buku yg sama, republish, beda cover, beda judul, beda deskripsi, yang sama cuma cerita dan isbn.... hadeeeeeh......
untung belum punya :p
Profile Image for Han.
31 reviews
August 26, 2010
Tak bisa lagi deh diungkapkan dg kata2! Benar2 merasuk taste-nya! :D
Cerita menarik yg disajikan dg apik! Love it! Tp endingnya nggantung...
Saya menantikan buku lanjutannya loh! Gak asik ah kalau ngegantung gini ceritanya :(
Profile Image for Firqoh.
11 reviews1 follower
July 9, 2012
aku baca buku ini saat masih SMP.. dipinjamkan oleh guru sejarah, bu dwi yang cantik, karna aku berhasil mendapatkan nilai sempurna pada ujian sejarah..

saat membaca ini.. aku terhanyut pada setting indonesia tempo dulu.. mengaharukan!
2 reviews
January 24, 2008
serasa baca koping-ho yang dikemas secara islami bgt deh.. sarat dengan petuah2 bijak tentang kehidupan..
Profile Image for Titik Musyarofah.
87 reviews13 followers
December 10, 2009
buat yang kangen ma model ceritanya wiro sableng, mungkin dengan membaca buku ini terobati.... meksi tidak sama dengan lho
Profile Image for Thesunan.
54 reviews20 followers
Currently reading
October 23, 2010
pinjem dari kang nenang
Profile Image for Anisya Dian Ciptasari.
6 reviews1 follower
July 11, 2012
Pertama kali baca buku ini waktu SMP, dan sampai sekarang masih tetap menjadi salah satu buku favorit.. Sudah lebih dari lima kali dibaca ulang :D
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.