Banyak sudah buku perjalanan wisata ditulis orang, baik oleh pelan¬cong yang gemar menulis hingga oleh wartawan dan travel writer profesional. Namun, tak banyak yang menuliskan pengalaman me¬reka seserius sekaligus semenarik apa yang dilakukan penulis buku ini.
Setelah melawat ke beberapa negara Amerika Selatan, Rossie Indira mulai menggarap buku ini, yang ditulis seperti ia menulis surat kepada Adna dan Ilham, dua keponakannya. Tujuannya sederhana: berbagi cerita kepada dua bocah yang disayanginya itu. Namun, semangat berkisahnya bukan sekadar dilandasi keinginan berbagi kesenangan berjalan-jalan, tapi dilatari juga oleh keinginan menularkan berbagai pengetahuan yang mencerdaskan.
Karena itu, buku ini tak hanya bercerita tentang keindahan Buenos Aires, ibu kota Argentina yang menghadap ke Samudera Atlantik, atau Santiago, ibu kota Cile yang terletak di lembah Pegunungan Andes, dengan puncak-puncaknya yang berselimut salju abadi; tapi juga ada cerita tentang suku Inca, penduduk asli Peru yang memiliki sejarah yang panjang dan peradaban yang tinggi. Sebuah buku kisah perjalanan yang sungguh tidak biasa!
Kok bisa belum saya update di GR ya buku ini? Padahal suka banget. Meski awalnya agak "aneh" dengan gaya penulisan semacam epistolary untuk buku traveling.
Penulis membahasakan diri sebagai "bude" dan menujukan surat-surat yang berisi pengalamannya traveling ke negeri-negeri Amerika Latin, untuk dua keponakannya. Gaya penulisan yang awalnya aneh buat saya itu, setelah dibaca malah menumbuhkan kedekatan. Saya seperti "didongengi" oleh penulis.
Cile, Argentina, Peru, dan Uruguay adalah negeri-negeri Amerika Latin yang dikunjungi oleh penulis. Penulis tak sekadar menuturkan keindahan negeri-negeri tersebut. Aspek-aspek sosial, ekonomi, dan politik diselipkan dalam setiap surat-suratnya. Saya iri dengan kebijakan pemerintah Cile yang begitu pro rakyat. Dari angkutan publik yang sudah rapi, fasilitas publik (taman, perpustakaan, hingga museum) yang lengkap, pendidikan gratis, hingga kartu. Jadi setiap warga Cile memiliki sebuah kartu yang digunakan untuk berbagai macam keperluan, mulai kartu kependudukan, kartu jaminan sosial, kartu kesehatan, dan lain-lain. Kartu tersebut berisi data kesehatannya sehingga bila terjadi sesuatu dengan orang itu dan dibawa ke rumah sakit atau klinik, dokter tidak akan salah mendiagnosis.
Di halaman 75-76 Bude Ocie menulis: "Sekalinya kami lihat ada seorang anak laki-laki yang menawarkan untuk membersihkan kaca mobil kami, dan kami ceritakan kepada kawan Om Andre di sana, mereka langsung menghubungi polisi untuk mengecek hal itu. Rupanya untuk orang Cile, bila ada hal seperti ini terjadi di daerah mereka, dianggap sebagai tanggung jawab bersama untuk mengetahui apa yang terjadi dan mengembalikan anak laki-laki itu kepada keluarganya..."
Cile, negeri yang bila dilihat di peta seperti cacing--memanjang dengan lebar wilayah yang sempit, ternyata tak kalah menarik dengan negeri-negeri di Eropa.
Uruguay lain lagi, pantai-pantainya indah, dan sangat mengakomodir masyarakat untuk mengaksesnya dengan nyaman. Peru, negeri penuh misteri, dan Argentina, negeri yang masyarakatnya begitu mencintai adat dan budayanya, dan tentu saja; sepak bola!
Setelah membaca buku ini, negeri-negeri Amerika Selatan yang masih serasa jauh di mata saya, langsung membangkitkan semangat untuk mengunjunginya suatu hari nanti (penyakit habis baca buku traveling :p).
Buku ini memberikan gambaran mengenai keseharian masyarakat di negara Amerika Latin. Cerita mengenai Chile, Argentina, Peru, Uruguay dan Argentina dituturkan dengan gaya surat - surat yang dikirim kepada kedua keponakannya. Bagi penggemar seni, Bude Ocie memaparkan dengan gamblang keunikan arsitektur dan seni di tempat yang dikunjunginya..
Sangat menarik.. Meski bagi saya, backpacker kere, saat ini hanya bermimpi untuk bisa ke semua negara itu dengan gratis atau mendapat rejeki dari Allah untuk bisa kesana.. Amien. I believe in miracle
Dapet buku ini gak sengaja ketika ngubek-ngubek rak traveling di tobuk, eh ketemu buku ini nyempil sendirian. Plastiknya udah dibuka dan aku bisa liat isinya. Ternyata catatan perjalanan penulisnya ketika berkelana ke beberapa negara di Amerika Latin semacam Peru, Argentina, Chili dan Uruguay. Asoooy bukunya asyik, belom lagi dimanjakan dengan kumpulan foto-foto yang bejibun banyaknya. Dududu... jadi ingin ngerasain perjalanan serupa. Bude Ochieeee.... lain kali ajak aku yaaaaa :)
Buku perjalanan yg asyik karena begitu murah hati memasukkan banyak gambar lokasi yg dikunjungi dalam perjalanan ini. Apalagi buku ttg Amerika Selatan berbahasa Indonesia kan masih jarang.
Memang hanya ttg perjalanan di empat negara: Cili (Chile), Peru, Argentina, dan Uruguay. Tempat yg didatangi penulis pun sebatas lokasi wisata semata. Tapi buat saya, turis internasional wannabe yg tidak gaul ini, lumayanlah buat berandai2. :)
This book, give me both glance of South America and view of my our country, Indonesia. How South America have better education system and medical service system, how they have a lot of public area (garden and playground) and good-reliable mass public transport, how their people become 'addict' to art because their government facilitate it.
A good point of South America. Makes me wanna go there. But, sometimes the comparation with Indonesia is not objective. For the example, she compared a beach in South America and Jakarta. I think, beach in Jakarta (Ancol Beach) is not a good representative for all beaches in Indonesia. Maybe she must go to eastern beaches in Indonesia which, I think, is 100 times more beautiful than Jakarta's beach. Well, I think the writer must travel arround Indonesia more before she makes a comparation.
Catatan traveling yang berbeda dengan yang sudah-sudah, karena gaya bertuturnya dalam bentuk surat untuk keponakan dan lokasinya di Amerika Selatan. Sayang tidak ada negara Kolombia di sini.
*menunggu terbitnya buku catatan traveling Nazaruddin*