Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek

Rate this book

198 pages, Paperback

First published January 1, 1956

46 people are currently reading
865 people want to read

About the author

Mochtar Lubis

93 books204 followers
Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers, Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Hadiah Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975 bagi novelnya "Harimau! Harimau!", dan Hadiah sastra dari Yayasan Jaya Raya untuk buku terbaik tahun 1977-1978, tanggal 15 Desember 1979, untuk romannya "Maut dan Cinta".

Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: "Senja di Jakarta", "Jalan Tak Ada Ujung" (terbit dalam berbagai bahasa), dan "Etika Pegawai Negeri" (ed.bersama James Scott). Selain itu ada juga buku-buku tentang liputan dan pers, bacaan anak-anak, dan dua ceramah yang diterbitkan sebagai buku, yaitu "Manusia Indonesia" dan "Bangsa Indonesia". Semasa hidupnya beliau menjadi Anggota banyak lembaga penting, seperti Pimpinan Umum majalah Horison, Editor majalah Media (yang diterbitkan di Hongkong oleh Press Foundation of Asia); anggota Board of the International Association for Cultural Freedom, dan anggota Board of the International Press Institute (Zurich).

Beliau juga banyak mencurahkan perhatiannya pada masalah lingkungan hidup dan masalah-masalah ekologi. Mengalami tahanan penjara selama 9 tahun (1956-1965) dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno; dan pada tahun 1974 mengalami dua bulan tahanan setelah terjadinya peristiwa "Malari" bersamaan waktunya dengan pembreidelan Indonesia Raya. Beliau juga pernah menjadi Direktur Yayasaan Obor Indonesia.

Bibliography:
* Tidak Ada Esok (novel, 1951)
* Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (1950)
* Teknik Mengarang (1951)
* Teknik Menulis Skenario Film (1952)
* Harta Karun (cerita anak, 1964)
* Tanah Gersang (novel, 1966)
* Senja di Jakarta (novel, 1970)
* Judar Bersaudara (children story, 1971)
* Penyamun dalam Rimba (children story, 1972)
* Manusia Indonesia (1977)
* Berkelana dalam Rimba (children story, 1980)
* Kuli Kontrak (1982)
* Bromocorah (1983)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
119 (29%)
4 stars
194 (47%)
3 stars
81 (19%)
2 stars
12 (2%)
1 star
4 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 80 reviews
Profile Image for Fariza.
212 reviews54 followers
June 8, 2012
Tulisan Mochtar Lubis jelas menunjukkan pengalaman beliau yang luas sebagai wartawan jemputan PBB. Menariknya seolah semua kisah ini adalah benar.

Akan saya korek buku-buku tulisan beliau lagi..

Petikan paling best:

"Lubuk hati manusia itu dalamnya tiada terduga-duga. Kita sangka sudah tiba pada dasarnya, akan tetapi masih lebih dalam lagi."
-Mochtar Lubis-
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews84 followers
January 6, 2018
SUARA DARI MASA LALU

SAYA pertama kali membaca tulisan Mochtar Lubis—seorang jurnalis kenamaan Indonesia yang pada tahun 1966, tahun ia dari penjara rezim Soekarno selama 9 tahun, mendapat hadiah Magsaysay—dalam buku kumpulan esai Manusia Indonesia. Menarik, tapi sesungguhnya saya tidak fokus benar. Tidak begitu asyik membacanya.

Mochtar Lubis baru menarik perhatian saya (perlu saya beri penekanan pada kata “hati”) ketika pada suatu kali, tanpa ada rencana sebelumnya, saya membeli buku kumpulan cerpen Perempuan terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Saat itulah saya bertemu kembali dengan tulisan Mochar Lubis. Dalam halaman-halaman awalnya disebut, kumpulan itu pertama terbit 1956 oleh penerbit Timun Mas.

Cerpen-cerpen Mochtar Lubis, sebagaimana yang banyak dikatakan para sastrawan, adalah cerpen-cerpen sederhana, singkat, segar, dan apa adanya, tapi kena. Dalam kata lain, gamblang—tidak ada yang kurang, tidak ada yang lebih, tidak penuh dramatisir, tidak kompleks, tidak ada maksud tersirat, tidak ada kode-kode. Tapi tetap membuat kita berpikir, tetap bisa merasa. Perasaan itu pun begitu jelas, sedih ya sedih, bahagia ya ketawa, miris ya miris. Membaca Si Jamal: “Kawan Saya”, kita akan simpati tapi ketawa membaca kesudahan orang yang suka berlagak. Membaca Tabrakan, kita akan sama-sama sedih dan merenung: bagaimana seorang kusir tua yang miskin nan pesakitan dari desa yang dibakar gerombolan bisa mengganti kerusakan sebuah mobil Packard merah tua milik seorang kaya raya (yang dalam struktur ekonomi politik yang lebih besar mungkin ikut andil membuat miskin sang kusir tua). Membaca Si Djamal Anak Merdeka, kita tahu itu cerita tentang pemimpi dan pembual. Membaca La Badinda, kita akan paham gengsi dan keangkuhan antara dua orang yang saling cinta bisa nyata. Membaca cerita Mochtar Lubis, kita bisa mendeskripsikan dengan jelas apa yang kita rasakan dan kita maknai, tanpa perlu kening yang berkerut-kerut.

●●●
Dari keseluruhan itu, barangkali cerita yang agak rumit adalah tentang Perempuan—yang menjadi judul kumpulan cerita pendek ini. Dalam cerpen itu, kita, dan agaknya Mochtar Lubis sendiri, menghadapi apa yang tak pernah kita tahu: perempuan dan kemauannya. Seseorang pernah melucu: perempuan sendiri tak persis tahu apa keinginannya.

Memulai dari tengah cerita, “aku” diminta membersamai Maeda, keturunan Jepang-Jawa yang lebih dekat dengan orang-orang Indonesia dan Belanda ketimbang orang Jepang karena darah campurannya, untuk melamar gadis Indonesia yang tinggal di Tanah Abang. Pernikahan beda suku dan negara itu akhirnya terjadi. Tapi karena Jepang kalah perang, meskipun Maeda “telah sedia sarung plekat dan peci” untuk menyamarkan diri dan “mau jadi orang Indonesia saja”, Maeda dipaksa pulang ke Jepang, bersama tentara Jepang yang lain, bersama istrinya Aisah yang tengah mengandung. Dalam perjalanan di kapal itu bayi Aisah meninggal, dan sejak saat itu Aisah tak pernah bahagia lagi bersama Maeda.

Maka ketika “aku” kebetulan ketemu Maeda di Tokyo, Maeda meminta tolong “aku” agar menasehati Aisah agar tetap tinggal di Jepang. Mungkin sama-sama Indonesia bisa berpengaruh, menurut Maeda. Sebab, dalam waktu dekat, belum memungkinkan bagi Maeda untuk masuk Indonesia.

“Aku” tahu pendirian Aisah sudah bulat: antara dia dan Maeda “tak ada lagi yang dapat diperbaiki”. Bayi yang mati sewaktu di kapal menuju Jepang telah membuat Aisah benci dan jijik kepada semua orang Jepang. Aisah yang dulu “mengorbankan perasaan” karena dikira “piaraan Jepang” telah kecewa dan kesepian di Tokyo. Dia kini suka main dengan lelaki lain, tak peduli rumah, tak peduli Maeda—tak peduli apa kata “aku”.

Tapi Aisah, yang mengerti bahwa Maeda meminta bantuan kawannya itu untuk membujuk Aisah, akhirnya memutuskan untuk mengubah sikapnya: ia tetap benci, namun bermanis-manis pada Maeda. Di telepon Maeda berterima kasih kepada “aku”, dan tiap kali mengirim surat ke Indonesia tak pernah lupa mengucapkan terima kasih lagi.

“Aku” telah jadi nabi bagi Maeda, seperti kata Aisah. Yang Maeda tidak tahu: manis-manis Aisah itu rupanya hanya sandiwara, pura-pura saja. Tiap tahun baru sebuah surat datang dari Maeda di Jepang ke Indonesia, dan di bawahnya Aisah menulis: “sungguh-sungguh berbahagia orang yang tidak tahu”. Itulah, sebagaimana ditulis Mochtar Lubis, “semacam pembalasan yang halus dan hanya dapat dipikirkan oleh perempuan”.

●●●
Saya kira pengalaman itu ada pada diri Mochtar Lubis, meskipun bentuknya mungkin lain. Tidak hanya soal perempuan, Mochtar Lubis sering sekali mengambil pretelan-pretelan biografi hidupnya sebagai materi cerpen. Kita bisa cek bahwa karya-karya Mochtar Lubis merujuk pada pengalaman pribadi pengarangnya, baik sebagai anak demang di Sumatera maupun sebagai jurnalis yang sering ke luar negeri dan berkomunikasi dengan orang berbagai bangsa.

Tema pretelan yang pertama, misalnya bisa kita lihat dalam Lotre Haji Zakaria. Mochtar Lubis bercerita tentang “kampung kami di Sumatera”, “kebun karet ayah di Kerinci”, dan “ketika ayahku dulu menjabat demang di Kerinci”. Tema pretelan yang kedua lebih kaya, tersebar di sela-sela cerita. Dia menyinggung “wartawan-wartawan yang baru datang dari segenap penjuru dunia, New York, San Fransisco, dari Abilene kota kecil entah di negara bagian mana di Amerika Serikat, dari London, Paris, Istambul” (dalam Perempuan) atau “kami datang sebagai anggota delegasi konferensi serikat dagang-dagang (Untuk Peri Kemanusiaan). Saya kira ia juga pernah ke Time Square dan Manhattan, New York (Angin Musim Gugur), jalan-jalan di Mexico City (La Badinda), naik kapal Star Queen (Semuanya Bisa Dibeli), bermalam di hotel Adelphi di pinggir laut Singapura dan menghadiri konferensi Inter-Asia di New Delhi 1947 (keduanya dalam Ceritera dari Singapura), nongkrong-nongkrong di bar Sea Inn di pelabuhan Hongkong (Cemburu), atau ke Manila pada Mei 1950 dan duduk-duduk di tempat dansa aristokrat di Dewey Boulevard (Sepucuk Surat).

Bagi saya, yang kadang menulis cerita pendek kecil-kecilan dan tak pernah dikirim ke koran atau majalah, pengangkatan sebagian pengalaman hidup dalam cerita adalah hal termudah yang bisa ditiru dari wartawan besar ini. Tentu saja kita tak mesti jadi jurnalis kenamaan yang biasanya memang pergi ke mana-mana seperti Mochtar Lubis. Pengalaman diri sendiri lebih dari cukup untuk dituliskan. Atau pengalaman orang lain. Dari situ kita bisa yakin kita bisa mengembangkan sebuah cerita yang bagus. Sebuah karangan adalah sebuah tulisan dengan kemungkinan-kemungkinan cerita yang berkembang tidak terbatas, dengan bahasa-bahasa yang terus diasah.

●●●
Apa yang khas lainnya—sesuatu yang lama dan berharga—dari tulisan Mochtar Lubis dalam kumpulan Perempuan adalah perasaan umumnya orang Indonesia pada masa pendudukan Jepang dan situasi sosial-politik tahun 1950-an. Misalnya, Mochtar Lubis mengecam “Asia Raya”, konsep-konsep seputar kata itu, dan jengkel kenapa kata-kata orang Jepang kalau orang Indonesia bodoh itu benar adanya. Atau, perasaan lain di masa yang susah itu adalah bagaimana makan enak susah benar di masa pendudukan Jepang sehingga ajakan makan-makan berat untuk ditolak (dalam Perempuan). Atau mengenai orang-orang Indonesia yang memilih di luar negeri demi kepastian ekonomi karena di negeri sendiri masih tak jelas (Angin Musim Gugur) dan pergumulan tokoh masyarakat dalam pusara politik pasca-kemerdekaan (Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri). Seperti meramal, Mochtar Lubis juga sempat mencatat bagaimana kalau “aku ceritakan semua kritikan dan makian yang dilemparkan kepada Bung Karno dan pemimpin-pemimpin lain, maka aku akan ditangkap esok-lusa oleh PM, dituduh merusakkan ketentraman umum, mencoba menghilangkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah, melanggar kesaktian pemimpin atau presiden, dan entah apa lagi” (Si Djamal Anak Merdeka). Kita tahu, beberapa tahun setelah itu ia benar-benar dipenjara rezim Soekarno. Barangkali sudah diincar sejak lama.

Tapi itu dulu. Pertanyaannya, apakah tulisan Mochtar Lubis, pendiri majalah sastra Horizon yang alhamdulillah masih terbit sampai hari ini, perlu ditengok kembali dengan tekun, padahal ia suara dari masa lalu? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Kalau ya, sebab paling sederhana adalah, meminjam Riris K. Toha-Sarumpaet dalam pengantarnya atas buku itu, “cerita ditulis untuk dibaca”.
Profile Image for Arif Syahertian.
76 reviews4 followers
June 18, 2022
Superb! Sangat suka dengan buku ini! Berisi 19 cerpen dengan beragam tema yang sederhana tapi padat. Jelas tak berbelit-belit. Menghibur dan lucu dengan gaya penulisan menarik.

1. Perempuan. (Menceritakan lika-liku kehidupan orang jepang, Maeda, yang pernah tinggal di Indonesia, lalu menikah pula dengan orang Indonesia bernama Aisah.)

2. Kebun Pohon Kastanye. (Pemilik kebun bernama Doc Sung yang pelit. Amat perhitungan. Kebun itu dijaga oleh para penjaga yang kasar hingga warga tak boleh mengambil buah kastanye. Doc Sung punya banyak rencana rakus yang selalu ia ceritakan pada istrinya, yang selalu mengiyakan apa saja perkataannya. Hingga suatu ketika malapetaka menabrak dan melumat dan menghancurkan kebun milik orang yang pelit itu.)

3. Angin Musim Gugur. (Mengisahkan pemuda idealis yang penuh teka-teki bernama Hutabarat yang tertembak mati di Amerika.)

4. La Badinda (La Bandida dan Andre Valdes: dua manusia yang menunjukkan kebesaran cinta sekaligus kebesaran ego. Tidak jadi menikah karena angkuh, tapi saling mencintai. Dikisahkan La Bandida membuka rumah bordil, tapi ia hanya melayani Andre Valdes.)

5. Semuanya Bisa Dibeli! (Nyonya Sheila Higgins yang kaya raya, membuktikan bahwa ia bisa membeli semuanya. Bahkan cinta.)

6. Sinyo Brandi. (Sinyo adalah anak anjing kecil yang cantik, yang selanjutnya dapat membuat ceria lagi kehidupan seorang babu tua bernama Inah. Sinyo Brandi, komhir! Kom lipe yong!)

7. Ceritera dari Singapura. (Menceritakan pergumulan batin Dr. Banerjee dalam mengobati pemuda Melayu yang sakit keras--dikisahkan di bawah tempat pemuda itu berbaring terdapat peti-peti senjata.)

8. Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri. (Kisah Haji dari kampung yang patuh pemerintah. Tapi mudah dipengaruhi orang lain. Hingga akhirnya ia bingung dan bunuh diri.)

9. Si Jamal: "Kawan Saya". (Si Jamal yang selalu mengandalkan kata kawan saya. Misalnya ketika si tokoh aku hendak bikin celana, lekas Jamal berkata, "mari engkau saya bawa pada tukang jahit kawan saya. Dapat harga istimewa". Dan memang harganya istimewa: 25 ribu rupiah lebih mahal dari tukang jahit lainnya! Hehehe. Begitulah seterusnya. Istimewa! Si Jamal, kau meresahkan!)

10. Orang Gila. (Seorang perempuan yang jadi orang gila di pinggir jalan. Ia pura-pura gila untuk menutupi kenistaan yang menimpa dirinya.)

11. Cemburu. (Cerita tentang bahayanya cemburu. Cemburu buta. Kisah tentang Harold dan Dr. Ashley yang sama-sama mencintai Judith. Harold berhasil menikah dengan Judith. Tapi Ashley tetap mencoba mendekati wanita itu. Dan akhirnya terjadi pembunuhan.. dan yang perempuan meninggal.)

12. Tabrakan. (Mobil Packard merah tua milik orang kaya diparkir di antara trotoar dan pinggir jalan. Lalu mobil itu tak sengaja ditabrak oleh sebuah delman. Dan jadilah keributan antara pria kaya yang marah dan kusir tua yang miskin, yang lebih baik "dibikin mati daripada membayar kerugian.".)

13. Sepucuk Surat.
14. "Suami Bunuh Istri yang Cantik".
15. Untuk Perikemanusiaan.
16. Si Djamal Anak Merdeka.
17. Pak Siman dan Bini-Bininya.
18. Sepotong Rokok Kretek.
19. Lotre Haji Zakaria.

Tabik!
-ARIF SYAHERTIAN
Profile Image for hans.
1,167 reviews152 followers
February 6, 2023
Barangkali buku kumpulan cerpen terbaik pernah saya baca setakat ini.

Baca pun perlahan-lahan sebab khuatir cepat habis. Jarang sungguh berperasaan begini pada sebuah buku.

Saya baca buku ini mula dari cerpen paling belakang. Lepas habis baca "Pak Siman dan Bini-Bininya" dalam hati saya terus saja berteriak-- 5 bintang!

Fancy much.
Profile Image for Aldythtryingtoread.
29 reviews
March 25, 2024
Sampai akhir masih mikir kenapa ni kumcer judulnya PEREMPUAN?! akwdopkawdopkawdokp. Tiap cerpen tokoh-tokoh perempuan cuma dijadiin sidekick... Mochtar.....

Tapi yaa menarik gambaran awal masa kemerdekaan. Cocok juga sama gaya penulisannya jadi masih enak buat dibaca meskipun sambil menerka-nerka kenapa ni kumcer judulnya perempuan
Profile Image for Kevin R.
54 reviews1 follower
November 1, 2021
Perempuan (1956) karya Mochtar Lubis mempersembahkan kumpulan cerita pendek yang dikarangnya berdasarkan tema yang konsisten, direpresentasikan melalui judulnya sendiri, jelas tampangnya bahwa cerita pendek yang dipilihkan dalam kumpulan cerpen ini, ciri khasnya melibatkan peran ataupun sosok karakter dari kaum perempuan, dari segala sisi pandang dan/atau latar cerita yang tidak hanya semena-mena bertumpu pada topik seputar perempuan, tetapi tajuk masalah sosial, sehingga menyajikan cerita dengan tema yang tetap konsisten. Cerita yang ditarik dari hiruk pikuknya jiwa Indonesia di era tahun 1950-an, dan gejolak perperangan yang masih terjadi di dunia, dituang ke cerita-cerita pendeknya yang humanis, timeless dan relevan hingga di abad ke-21 ini.

Beberapa kumpulan cerita ini menyorot tajuk yang sangat humanis dan relevan terlepas dari zaman ataupun era, menggambarkan emosi manusia, dari kesombongan, kecemburuan, kerinduan, keraguan, dan lain-lain, dicurahkan sesederhana mungkin, namun tidak gegabah, dengan latar suasana yang sangat santai, terlepas dari beratnya topik dan tajuk yang diangkat, diceritakan seolah-olah sedang mengobrol dengan kerabat sekian lama tak bertemu, di emperan warung kopi selagi bincang asal. Pembawaannya yang santai, membuat cerita-cerita yang hidup seperti asalnya kita kenal langsung atau ikut andil dalam ceritanya, dan sekiranya dengan tema yang konsisten dituangkan dalam kumpulan cerpen yang mengandung kombinasi mulai dari humor ringan, satire, hingga roman, cocok dikonsumsi pada zaman di era 1950an ataupun sekarang.

"Kalau cinta bisa dibeli dengan uang maka semua orang yang punya uang bisa berbahagia terus dalam cinta, dan orang yang tidak punya uang bisa berduka tiada punya cinta." -Semua Bisa Dibeli!-

Topik-topik yang diangkat mulai dari perihal cinta yang unik dan seringkali aneh, dan segala tindakannya atas nama cinta, dapat menghasilkan kebahagiaan tersendiri bagi kaum tersebut, namun juga dapat menjerumuskan mereka kepada bermacam nasib. Dalam kumpulan cerita pendek ini, banyak sekali gambarannya, seperti salah satunya cerita perihal janda kaya yang "membeli" cinta seorang pegawai tampan yang sedang merantau (Semuanya Bisa Dibeli!), ataupun cerita para lelaki yang ditipu karena rasa belas kasihan yang dimanfaatkan wanita cantik jelita (Untuk Peri Kemanusiaan), ataupun juga kisah romansa seorang opas dan perkawinannya dengan istri kedua, ketiga, hingga keempat beserta rezekinya (Pak Siman dan Bini-bininya), diantara kisah-kisah lainnya yang menyorot tema terkait cinta.

"Cemburu menjauhkan engkau dari orang yang engkau cinta, menimbulkan benci dan dendam pada orang yang engkau cintai. Cemburu dengan nikmatnya membuat engkau bermimpi yang indah-indah, menarik engkau bertambah dekat padanya. Ah, cemburu adalah siksaan yang nikmat, menimbulkan cinta dan birahi."

Kecemburuan, ego dan emosi yang tidak akan pernah ditelan waktu ceritanya, merupakan sorotan utama dari kumpulan cerita pendek yang tersirat disini. Kecemburuan yang diceritakan berulang-ulang, terlepas dari paham betulnya kita selaku manusia yang hidup berdampingan dengan emosi ini. Adapun tajuk dan pesannya pekat terasa di beberapa kisah pendeknya "La Badinda", "Cemburu", "Sepucuk Surat", dan beberapa lainnya. Cerita yang tidak menua teriris zaman.

"..timbul ingatan dalam hatiku, bahwa mungkin Hutabarat adalah korban dari pusaka yang diterimanya dari manusia generasinya- kebingungan, kekacauan, ketakutan, kegagalan, kepalsuan yang hendak dibuat menjadi kebenaran. Di New York atau di Indonesia, anak manusia yang telah diikat dan dibebani pusaka manusia ini akan menemui nasib yang sama." - Angin Musim Gugur

Adapun beberapa dari kumpulan cerita pendek yang dipilih untuk buku ini mengandung topik-topik yang diantarkan melalui cerita yang sederhana dan mengandung satire, bertajuk pada era abad 20 saat Indonesia berjalan menuju kemerdekaannya, dan kondisi stagnannya pasca era tersebut. Kritik terhadap transisi dari masa perang di Indonesia yang sebelumnya menjadi tanah jajahan sampai ke kemerdekaannya, mengalami tidak juga transisi selaku kedaulatan negaranya, namun juga paradigma dari kehidupan masyarakatnya. Pergejolakan politik, kondisi sosio-ekonomi sangat kental terasa dan dibungkus dalam cerita yang dapat kita dengar bahkan dari warung-warung emperan. "Angin Musim Gugur", "Perempuan", "Si Djamal: Anak Merdeka" memberikan nada humor yang menyengat dari topik yang diceritakan di masing-masing kisah. Nasib dari seorang individu, ataupun sekelompok masyarakat, dapat dipetik maknanya dari beberapa kisah seperti "Si Djamal: Kawan Saya", "Lotre Haji Zakaria", hingga "Tabrakan".

Masing-masing dari setiap cerita seolah-olah jauh berbeda namun dapat diantarkan secara mulus dan sesederhana mungkin, melewati buku kumpulan cerita pendek ini, dipersembahkan untuk dibacakan oleh generasi manapun.



Profile Image for farah.
60 reviews3 followers
January 11, 2024
✨ — 3.8/5

buku ini berisi kumpulan-kumpulan cerita pendek yang di setiap ceritanya tidak hanya mengandung hiburan namun juga peringatan akan kehidupan manusia, yang tidak jarang memang sering kita jumpai pada setiap harinya.

meskipun aku sempat berpikir bahwa buku ini sepenuhnya membahas soal perempuan, namun aku rasa pesan-pesan yang disampaikan oleh Mochtar Lubis dapat dengan sukses membuat pembacanya berpikir sejenak soal kehidupan ini.
Profile Image for Yoga Pradipta.
30 reviews4 followers
October 11, 2013
Mochtar Lubis seorang humanis. Itu yang dapat saya tangkap dari karya-karyanya di kumpulan cerpen ini. Dia tidak banyak menjait kata-katanya, manis-manis. Dia menulis apa adanya, kebanyakan tentang kondisi/cerita yang mungkin atau bahkan pernah terjadi dalam keseharian kita dengan detail suasana yang membuat saya seakan dapat merasakan tempat kejadian dari cerita-cerita tersebut.

Membaca kumcer ini, saya menjadi bingung dan penasaran. Apakah cerita-cerita ini banyak yang merupakan pengalaman pribadi dan hasil observasi, atau bagaimana? Pengetahuannya yang luas tentu juga karena ia seorang wartawan. Cerita-ceritanya yang seringkali menggunakan sudut pandang orang pertama, tanpa detail mengenai siapa yang bercerita, membuat saya yakin kalau yang bercerita adalah Mochtar Lubis sendiri. Bukan penokohan lain.

Dalam buku kumcer ini, isu yang paling banyak diangkat ialah isu perempuan, sesuai nama kumcer ini. Bagaimana ia menggambarkan perempuan sebagai mahluk cerdik, penuh akal tapi tak sekalipun ia merendahkan perempuan, menjadikan perempuan mahluk tak berdaya dan tak dapat berbuat apa-apa di seluruh cerpen dalam buku ini.

Kondisi yang diceritakan dalam kumcer ini kurang lebih dalam masa revolusi, sebelum dan sesudah kemerdekaan dengan seting tempat (sepertinya) Indonesia dan beberapa negara (Amerika, Jepang, Filipina). Sehingga ada sedikit gap dalam tata bahasa.

Cerpen yang saya suka: 'Perempuan', 'Cerita Dari Singapura' dan 'Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri'. Dalam dua cerpen terakhir, pergulatan batin dan dramaturginya benar-benar membuat saya termenung.
Profile Image for Dhea.
15 reviews
December 27, 2021
Cerita yang disuguhkan tidak neko-neko ataupun dramatis,
mash sangat relatable dengan kehidupan sehari-hari
walaupun kumpulan cerpen ini diterbitkan awal mula pada
tahun 1956 silam. Banyak pesan moral yang terkandung di
setiap ceritanya, dan tata bahasa serta penuturannya juga
sangat sopan dan tidak melebih-lebihkan, sangat apa
adanya. Isu-isu yang diangkat juga berhubungan dengan
keseharian kita, seperti yang terlihat pada cerita
"Semuanya Bisa Dibeli!' yang menggambarkan seseorang
dengan hartanya yang melimpah rah sangat yakin bahwa
segalanya bisa ia beli termasuk cinta. Juga dalam 'La
Bandinda' mengenai dua hati insan manusia yang begitu
dalam dan rahasia sehingga tak ada yang dapat menebak
satupun apa yang mereka rasakan, yang dengan
angkuhnya dan ego yang sama besarnya menolak untuk
bersama akan tetapi memiliki rahasia lain yang tak terduga.
Begitupun dalam 'Lotre Haji Zakaria' mengenai penyesalan
dan kebingungan sesosok lelaki yang telah berbicara
sambil lalu tapa berpikir panjang kepada seorang sahabat
keluarga, yang ternyata dampaknya luar biasa. Juga dalam
"Ceritera dari Singapura' yang dengan keberanian dan
keteguhan hati, memberanikan dir untuk menceritakan
kegelisahan hatinya yang selama ini a kubur dalam-dalam
di relung hatinya dan akhirnya terbebaskan dari rasa
bersalahnya walau tak sepenuhnya.

Saya tersenyum, tertawa, menggeleng-gelengkan kepala,
terdiam, menitikan air mata, serta terbegong-bengong
setelah membaca kumpulan cerita ini. Dari cerita yang
ringan hingga yang tragis semua dikemas secara
sederhana dan langsung ke inti. Tidak perlu berfikir keras,
sehingga buku ini cocok untuk semua kalangan.
Profile Image for Ratna Ayu Budhiarti.
57 reviews3 followers
November 23, 2022
"Ah, cemburu. Itulah sebuah siksaan yang nikmat, yang menghidupkan jiwamu, memanaskan darah dalam tubuhmu, membuat engkau tak bisa tidur, tak bisa makan, ingin menarik matahari supaya turun dari langit, dan alam menjadi gelap. Akan tetapi jika gelap tiba, dan cemburu lebih hebat menyiksa, engkau ingin membuang bulan, dan membawa siang kembali. Cemburu menyiksa engkau setiap saat, menyuruh engkau berbuat yang berani-berani dan gagah perkasa, dan memasukkan pikiran jahat ke kepalamu, mencuri, memaksa, memperkosa, membunuh. Cemburu menjauhkan engkau dari orang yang engkau cinta, menimbulkan benci dan dendam pada orang yang engkau cintai. Cemburu dengan nikmatnya membuat engkau bermimpi yang indah-indah, menarik engkau bertambah dekat padanya. Ah, cemburu adalah siksaan yang nikmat, menimbulkan cinta dan birahi."

~hal. 117, cerpen "Cemburu" dalam buku kumpulan cerpen "Perempuan" karya Mochtar Lubis.

Dalam buku kumpulan cerpen ini, cara bercerita Mochtar Lubis tidak pelik atau terlalu fantastis. Sesederhana ia memiliki pengalaman dan mentranformasikannya ke dalam cerita. Beberapa cerita seolah penulisnya sedang mendongeng (secara lisan), bersifat percakapan sehingga terasa akrab sekaligus menimbulkan rasa ingin tahu. Kumcer ini seperti "bilang" bahwa cerpen bagus tidak perlu direka serba dramatis atau bumbu metafora berlebihan. Cukup mengalir, hangat, atau spontan saja sudah cukup memikat.

#MochtarLubis #Perempuan #reviewbuku #bacabuku
Profile Image for Eisya.
15 reviews2 followers
August 15, 2024
Agaknya banyak yang tertipu dengan judul "Perempuan" karena kebanyakan tokoh perempuan hanya dijadikan pelengkap di cerita. Tidak ada cerita yang diangkat dari sudut pandang perempuan sebagai tokoh utama. Pun perempuan dijadikan fokus cerita, selalu diposisikan nelangsa (misal dibunuh, dimadu, kesulitan ekonomi) atau diobjektifikasi (membangunkan birahi, tua tapi masih cantik, dsb.) Ada beberapa cerita yang perempuannya cukup berdaya tapi kebanyakan adalah perempuan asing, bukan perempuan Indonesia.

Alih-alih mengangkat cerita perempuan, buku ini lebih tepat menggambarkan bagaimana laki-laki (dalam hal ini mungkin spesifik kepada Mochtar Lubis) dalam melihat perempuan: si cantik yang sering tak berdaya dan perlu diselamatkan laki-laki, tapi kadang oportunis dan bisa jahat juga.

Dengan gaya penulisan yang jujur, sangat deskriptif, ringan dan kadang nakal, penulis mengajak kita ikut masuk dalam cerita seperti sedang mendengarkan kisah dari kawan sendiri.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nursifa Aghnia.
82 reviews2 followers
June 5, 2016
Baru-baru ini aja mulai baca buku lagi dan dipinjemin buku ini sama Om Arif. Jenis cerita-ceritanya belum pernah dibaca sebelumnya, membuka mata aja jadi seneng bacanya.
3 reviews
January 21, 2026
I borrowed this book from my local library, not thinking much of it. I never read Mochtar Lubis works before, so it is my experience reading his work. Upon reading few stories here, I admire his way to use words. He doesn't like using difficult or prose-y words, sometimes using 'harsher words' that makes me giggle a bit. When I finished the book, I feel content and has a lot of insights for myself.

Perempuan shared stories (mostly about women) about ordinary people in the revolution era. I read historical books before which mainly covers significant acts or changes up to important decision for a nation, so reading this book feels like a new air: when all those decisions are made, how it affects the people? Lubis wrote the stories as like we are reading a report, or invited, to peek a fragment of life, a mere observer. With this approach, the stories are like what you may overheard from people talking in public, it never really concludes, but that just end. They give a sense of reality, raw, and sometimes shocking.

The first stories are a quite long, so I find them a bit dull, then the length starts to vary and the themes are expanding. Some of them are funny, weird, dystopian, and all of them are entertaining. My main takeaways for this book are:
- Women are mystery. They can be anything you could ever imagine, and they have their own way to do that in this story, never fully understands
- In revolution era, changing government means nothing if there is no initiative towards the people. Ensuring to erase poverty, make peace on the past enemies, are something we should look to, because decision can impact others' wellbeing
- In the darkest era, people can still see life. People can always adapt, and finding laugh, odd situation in crisis that makes the irony, acknowledging it, and claiming it, sort of a therapy, a pitstop, for us to not only finding and reaching dreams, but to see and appreciate all the small things. Because the small things is the one build our life
Profile Image for Arra Aksara.
16 reviews
October 13, 2025
Terkadang hal sangat serius melarutkan kita dalam ketegangan. Menikmati sastra membantu mengendorkan urat-urat otak dan hati yang menegang.

Sastrawan kelahiran Padang melalui buku ini menyajikan secuil persoalan manusia dengan pendekatan hermeneutik. Satu tema utama yang ia usung mengenai Perempuan namun dalan setiap cerita seringkali Perempuan bukanlah poin utama dari inti cerita.

Seperti pada pada penggalan "Sepotong Rokok Kretek"

Tokoh Saimun seorang pekerja kasar yang hampir setiap hari mengalami kelaparan dan utang. Utangnya memang tak seberapa, barang seporsi dua porsi makan plus beberapa batang kretek di warung Ibu Jom. Karena hampir setiap hari utang jadi langgganan setor gaji. Esok hari Saminun gajian. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah warung Ibu Jom. Walaupun Ibu Jom hampir setiap hari ngomel ngingetin utang, tapi Ibu Jom adalah perempuan terbaik bagi Saimun. Sekalipun jadi pelanggan ngutang, Ibu Jom tetap memberi utangan walau diembeli senyum kecut.

Setelah menyisihkan uang untuk bayar utang, ia sedikit menyisakan uang untuk menyambut gaji selanjutnya dan tak lupa kebutuhan pokoknya akan kretek. la rela tak sarapan pagi itu dan lebih memilih mengambil beberapa batang kretek ketengan. Terkadang ia merasa sangat royal terhadap dirinya, pasalnya ia tak tahan oleh wangi cengkeh dalam rokoknya.

la hisap rokok dalam-dalam, ia merasa damai dan tentram dalam kepulan rokoknya. Terkadang ia teringat oleh sosok perempuan yang ia lewati ketika sedang bekerja tempo hari. Sosok perempuan itu memenuhi benaknya bersama asap-asap yang mengepul. Tetapi pikiriannya tak mengganggu ketenangan batinnya. Sambil mengepulkan lagi asap-asap itu, ia memijit lembut gulungan uang dalam saku bajunya.

Sederhana Mochtar Lubis menyajikan persoalan manusiawi yang tak lepas dari utang. la bawakan dengan sangat mimetis. Manusia tak lepas dari kebutuhan dan keinginan. Namun keadaan sangat mempengaruhi manusia untuk mengambil pilihan berdasarkan kebutuhan atau keinginan.
Profile Image for Librari Books.
38 reviews1 follower
August 1, 2023
https://www.tokopedia.com/librari/buk...

📚🌸 "Buku Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek" adalah karya dari Mochtar Lubis, seorang penulis terkenal. 🖊️💫 Melalui cerita-cerita pendeknya, Mochtar Lubis menghadirkan kedekatan, kepedulian yang tinggi, dan kesan yang langsung terasa.

Judul-judul ceritanya yang lugas, seperti "Perempuan Semuanya Bisa Dibeli", "Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri Untuk Perikemanusiaan", "Pak Siman dan Bini-bininya", atau "Lotre Haji Zakaria", langsung memfokuskan pembaca pada inti cerita. 🎯💬 Inti cerita ini juga mencerminkan pengalaman hidup pengarang, seperti yang terlihat dalam cerita-cerita seperti "Kampung Kami di Sumatera", "Kebun Karet Ayah di Kerinci", dan "Ketika dahulu ayahku menjabat demang di Kerinci".

Dalam "Buku Perempuan", Mochtar Lubis berhasil menyampaikan pesan-pesan yang menggugah dan memikat hati pembaca dengan kepekaan serta keahlian sastranya.📖🌺 Jelajahi kumpulan cerita pendek ini dan nikmati pesona keindahan kata-kata yang membawa kita dalam kisah-kisah hidup yang mendalam. 📚💕 #BukuPerempuan #MochtarLubis #KumpulanCeritaPendek #KaryaSastrawan #SastraIndonesia #BukuKlasik #KisahHidup #PesonaKataKata #Inspirasi #LibrariBooks #BukuTerkenal #KumpulanCerita #BukuSastra #BukuFiksi
Profile Image for Yaffa.
59 reviews2 followers
March 29, 2025
".. Bahwa mungkin Hutabarat adalah korban dari pusaka yang diterimanya dari manusia generasinya - kebingungan, kekacauan, ketakutan, kegagalan, dan kepalsuan yang hendak dibuat menjadi kebenaran. Di New York atau di Indonesia, anak manusia yang telah diikat dan dibebani pusaka manusia ini akan menemui nasib yang sama."

Kumpulan cerpen ini penuh dengan kritik sosial masyarakat Indonesia yang baru merasakan Kemerdekaan beberapa tahun saja, ketika arah negara ini masih belum terpetakan dengan baik sehingga kebingungan dan ketidakpastian menjadi tema berulang yang ditemui. Dan masalah hidup orang-orang ini anehnya sangat tidak berbeda dengan yang kita temui hari ini.

Pemerintah Zalim, Hutang Piutang, Kecemburuan Sosial, Kesenjangan, dan bahkan dinamika masyarakat sipil dengan partai politik. Hal-hal yang dengan mudahnya kita lihat menjadi trending di sosial media sekarang.

Aku takjub dengan gaya bahasa Mochtar Lubis yang sangat lugas, singkat, dan membumi (layaknya jurnalis, karena memang itu profesi beliau), namun dengan amat baik menggambarkan kompleksnya emosi atau sentimen yang termuat dalam kalimat-kalimat yang ia tulis untuk setiap karakter-karakternya. Lebih takjub lagi dengan caranya menggulung ekspektasi pembaca untuk menyajikan pelintir alur yang segar dan dramatis pada akhir tiap cerita.

Aku akan baca lebih banyak Mochtar Lubis.
Profile Image for Erika.
14 reviews1 follower
February 18, 2025
Wah, saya benar-benar menikmati penyampaian cerita ML yang begitu lugas dan tak ubahnya wartawan pada masa itu.
Dari sepersekian ceritanya kesimpulan saya yang paling saya ingat adalah "orang Indonesia ini tidak berubah ya dari dulu, semua lagaknya sama dengan manusia masa kini". Karena benar-benar laku katanya dengan ceritera jama 1950-an masih sama, apa yang berubah dari kita?
Selain itu, karena penyampaiannya yang begitu lugas dan sangat biasa saya temui dalam kehidupan agaknya ini bisa membuat saya terbahak alias benar-benar lucu dan "relate" dengan masyarakat kita.
Ceritera favorit saya adalah "Cerita Sebenarnya mengapa Haji Jala Menggantung Diri", tapi saya juga suka yang berjudul "Cemburu". Saya tidak bisa mendeskripsikan mengapa saya menjadikan Cerita Sebenarnya mengapa Haji Jala Menggantung Diri adalah favorit saya. Namun, untuk cemburu saya rasa saya cukup bersedih atas kemalangan dr. Ashley, kisah cinta dia dan rasa sayangnya cukup menarik bagi saya.
Jujur, dulu sekitar tahun 2020 saya pernah mencoba membaca cerita pendek ini, tapi tidak pernah selesai (karena malas dan merasa kurang menarik). Ternyata saya justru terhibur sekali, ini benar-benar lucu bagi saya, sudah! 🖐🏻
Profile Image for Wenona S.
6 reviews
January 13, 2026
Tidak disangka, buku ini menjadi salah satu buku yang nyaman dibaca. Termasuk dalam "comfort read" walaupun yang dibahas ga seharusnya bikin kamu ngerasa nyaman, sih. Bahasanya dan bahasannya cukup menjadi petunjuk pada era apa buku ini ditulis.

Karena merupakan kumpulan cerita pendek, kupikir buku ini tidak akan banyak-banyak menghabiskan energimu ketika membacanya. Justru, ketika proses membaca, saya banyak disuguhkan dengan macam-macam tingkah manusia yang entah kenapa sepertinya tidak pernah berubah. Selama membaca, saya banyak menertawakan kisah-kisah yang disajikan, namun dalam-dalam saaya memahami terdapat rasa "miris" saat membaca. Jangan salah, walaupun judulnya "Perempuan" namun isinya beragam. ada perempuan itu sendiri, laki-laki, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak muda.

(-) Beberapa kata harus dicari terlebih dulu artinya, demi pemahaman yang lebih baik (bukan masalah besar, sekali cari di mesin pencarian saja sudah dapat ditemukan penjelasannya) dan sayangnya beberapa bahasan terasa seperti mengobjektifikasi perempuan :(

Namun, akan saya coba baca lebih banyak lagi karya Mochtar Lubis:)
"Sungguh-sungguh berbahagia orang yang tidak tahu!" - Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek, Mochtar Lubis (1956)
Profile Image for Mardyana Ulva.
75 reviews3 followers
January 1, 2019
Membaca kumpulan cerita pendek Mochtar Lubis ini rasanya seperti mendengar kisah dari seorang kerabat yang mampir ke rumah setelah bepergian ke negeri-negeri yang jauh. Ada cerita tentang cinta yang aneh-aneh seperti nyonya Sheila Higgins dan David Farrar (Semua Bisa Dibeli!), juga antara La Bandida dengan Andre Valdes (La Bandinda), dan antara Aisah dengan Maeda (Perempuan).

Tidak melulu cerita tentang cinta-cintaan, Mochtar Lubis juga punya kisah tentang kemiskinan dan bahan tertawaan. Ada kisah tentang perempuan yang pura-pura gila karena malu hidup melarat (Orang Gila), juga tentang kusir apes yang menabrak mobil mewah (Tabrakan). Di halaman lainnya ada juga cerita empat laki-laki yang dengan mudahnya terpedaya paras cantik perempuan yang baru mereka temui (Demi Kemanusiaan), atau tentang opas tukang kawin yang bekerja di sebuah kantor yang punya karyawan kebanyakan (Pak Siman dan bini-bininya).

Semua cerita ditulis dengan gaya orang berbicara sehingga terbaca bagai mendengar rekaman suara si penceritanya sendiri. Membuat cerita-cerita yang dituturkannya ini terasa dekat, humanis, dan nostalgis.
Profile Image for ❦.
203 reviews6 followers
November 13, 2024
« dan untuk kesekian kalinya harus mengaku pada diriku sendiri, bahwa lubuk hati manusia itu dalamnya tiada terduga-duga. Kita sangka kita sudah tiba pada dasarnya, akan tetapi masih lebih dalam lagi. »
p. 57, La Bandinda

🌟 [3,5/5]
Membaca kumpulan cerita pendek dalam buku ini rasanya seperti mengintip kisah-kisah perjalanan penulis sebagai wartawan yang kerap kali bertemu dengan banyak orang berkarakter unik dari berbagai negara. Di tiap cerita, karakter-karakter unik tersebut mungkin dapat kita temui juga di sekeliling kita, diantaranya, karakter seperti Jamal di cerita pendek berjudul Si Jamal: "Kawan Saya", karakter Doc Sung di cerita pendek berjudul Kebun Pohon Kastanye, dan di beberapa cerita-cerita pendek lainnya.

Cerita-cerita dalam buku ini sangat kental dengan unsur sejarah, sosial, kultural, dan politik pada masa itu, yaitu pada tahun 1950-an. Oleh karena itu, saat membaca kumpulan ceritanya, aku merasa seperti terseret ke masa tersebut. Cerita pendek yang paling membuatku terkesan adalah Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri dan Lotre Haji Zakaria.
Profile Image for Giltri Songia.
6 reviews
December 3, 2025
1. Keterkaitan tema dengan perempuan tidak konsisten.
Meskipun buku ini berjudul Perempuan, tidak semua cerpen di dalamnya benar-benar berkaitan dengan isu atau pengalaman perempuan. Beberapa cerita hanya menampilkan perempuan sebagai latar atau pemicu konflik, bukan sebagai pusat gagasan.


2. Representasi perempuan cenderung objektif, bukan subjektif.
Perempuan dalam beberapa cerpen lebih sering diperlakukan sebagai objek pandangan tokoh atau situasi, bukan sebagai subjek dengan suara, perasaan, dan perspektif yang diolah mendalam. Akibatnya, pengalaman batin atau sudut pandang perempuan kurang tergarap.


3. Terdapat dilema moral yang mengingatkan pada gaya cerita tertentu.
Sejumlah cerpen menampilkan dilema tindakan tokoh yang nuansanya mirip dengan konflik moral dalam “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Ada benturan antara nilai, keputusan, dan konsekuensi yang terasa mengulang pola serupa.


4. Keseluruhan kesan.
Buku ini memberi gambaran menarik tentang dinamika manusia, tetapi jika pembaca mencari eksplorasi mendalam tentang perempuan sebagai subjek, buku ini mungkin terasa kurang menggali sisi itu.
Profile Image for Aksara Raia.
48 reviews13 followers
July 27, 2023
Sebuah buku kumpulan cerita pendek yang enggak pernah terbayang sebelumnya di aku tentang isi dari tiap-tiap ceritanya. Diambil judul Perempuan, aku pikir seluruh cerpennya akan berpusat pada sosok perempuan tapi ternyata tidak, meski kebanyakan memang ada pengaruh besar dari sosok perempuan di tiap judulnya.

Ada sembilan belas cerita pendek di dalam buku kecil nan tipis ini, tetapi ceritanya begitu padat dan cukup berat. Latar waktu diambil di masa-masa revolusi dengan tempat tidak hanya ada di Indonesia.

Mochtar Lubis selalu berhasil membawa aku sebagai pembaca untuk dapat merasakan apa yang terjadi di tahun-tahun 1950an selepas Indonesia merdeka. Namun, ada satu kisah yang tokohnya bukan merupakan orang Indonesia melainkan seorang berkewarganegaraan Korea saat itu di masa Perang Korea.

Secara keseluruhan aku cukup menikmati cerita pendek di dalamnya. Narasi yang tak begitu umum ditemukan pada novel-novel zaman sekarang, mungkin akan membuat pembaca yang baru pertama kali membaca karya Mochtar Lubis akan sedikit kesulitan.
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
April 10, 2020
"Jika seorang pegawai negeri kecil yang tidak punya uang jatuh cinta dengan sekaligus pada seorang wanita kaya raya, dan dia melihat wanita juga jatuh cinta padanya, maka dia harus berhati-hati. Tidak boleh dia mengambil pimpinan, sebab si wanita bisa menyangka nanti, si lelaki mengintip hartanya. Jika si wanita tunggu cinta padanya, maka pasti si wanita yang akan mengambil inisiatif." hlm. 68 Semuanya Bisa Dibeli!

Menggelikan sekali.
Selanjutnya,

"Apa beda wiski dengan perempuan," dia akan bertanya memeluk gelas wiski dengan jari-jarinya, penuh kasih sayang.
"Tidak tahu," kataku.
"Kalau engkau mabuk wiski, tubuhmu bisa rusak, mungkin jiwamu ikut rusak. Akan tetapi kalau engkau mabuk perempuan ...
AAAAH silakan baca sendiri karena buku ini terkadang amat lucu, sarkas, dan getir apa adanya dengan narasi yang sederhana.
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews2 followers
July 20, 2020
Pertama kali mendengar nama Mocthar Lubis ketika saya sedang menonton film Gie dan di film itu saya jadi penasaran untuk membaca karya-karya beliau, mulai dari Senja di Jakarta kemudian ke buku ini.

Dalam buku ini berisikan kumpulan cerpen kurang lebih sebanyak 19 cerpen, membacanya pun terbilang mudah karena gaya penulisannya tegas, lugas dan to the point jadi tidak terlalu mendayu-dayu. Walaupun ini buku terbitan lama dan tentu latarnya di masa-masa 50an tetapi tema cerpen yang disuguhkan masih relevan dengan saat ini. Uniknya kalau kalian sudah membaca "Senja di Jakarta" pasti tidak asing dengan hadirnya 2 cerpen di buku ini.

Dari keseluruhan cerpen yang jadi favoritku di buku ini ada 5, yaitu :
- Sinyo brandi
- Cerita sebenarnya mengapa haji jala menggantung diri
- Untuk perikemanusiaan
- Pak siman & bini-bininya
- Lotre Haji Zakaria
Profile Image for Wafa.
13 reviews3 followers
September 14, 2020
Membaca buku dg ukuran mini berupa kumpulan cerita Mochtar Lubus ini seperti berjalan di lorong waktu, sebentar-sebentar kita akan dibawa ke Tokyo pascakemerdekaan Indonesia untuk melihat sekelumit hidup Laksamana Maeda dan istri Indonesianya Aisyah setelah pindah ke Jepang, lalu dibawa ke sebuah kebun Kastanye milik orang Korea saat perang masih berkecamuk, lalu kita diajak melihat kehidupan seorang Haji Jala di salah satu desa di Sumatera Timur pada masa PKI sedang berjaya, dan beberapa tempat di dunia dengan masanya masing-masing.

Cerita disajikan dengan sangat manusiawi, pengarang mengajak pembaca untuk melihat cerita lebih dekat agar bisa lebih mengerti sehingga mampu memahami makna yang ingin disampaikan pengarang.

Bagian favorit saya adalah Perempuan, Angin Musim Gugur, Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri, dan Orang Gila.
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
May 30, 2020
Bisa dibilang saya 'tertipu' dengan judul Perempuan di cover buku ini. Saya kira bukunya akan berisi cerita pendek beberapa tokoh perempuan, nyatanya saya salah. Ngga tahu deh, ya, kenapa kok judul cover buku ini perempuan.

Tapi di balik rasa tertipu itu, ternyata saya menikmati isi buku ini. Cerita-cerita pendeknya seru untuk dibaca. Cerita banyak mengangkat tema slice of life, cerita yang bisa saja terjadi pada siapapun, baik secara implisit maupun eksplisit. Cerita sederhana tapi sanggup mengajak pembacanya untuk berpikir sebentar.
Walaupun untuk beberapa cerita saya gagal menangkap maksudnya.
Profile Image for Hëb.
172 reviews7 followers
November 10, 2020
Karya pertama dari Mochtar Lubis yang saya baca, dan ternyata sarat dengan suasana Indonesia di masa-masa 1940-an sampai 1950-an (berdasarkan analisis saya). Beberapa cerita menggambarkan konflik sosial yang saya suka. Beberapa lagi juga menampilkan kehidupan orang Indonesia di luar negeri waktu Indonesia belum lama merdeka.
Buat saya, kekurangannya bukan pada gaya bahasa, tapi lebih ke alur cerita. Beberapa cerita endingnya 'gantung', hanya diakhiri dengan monolog tokoh 'Aku'. Selain itu, banyak kata-kata dalam bahasa Belanda/melayu yang akan lebih baik kalau diberi penjelasan di footnote.
Profile Image for Saji.
100 reviews5 followers
Read
April 21, 2021
Sejak membaca novel Tak Ada Jalan Ujung beberapa tahun lalu, saya tahu saya menyukai gaya penceritaan Mochtar Lubis. Alur sederhana dengan lukisan latar yang terasa begitu nyata. Penokohannya pun cukup realis menampakkan sifat-sifat manusia.

Meski tak semua cerpen dalam buku ini bertema perempuan, tetapi sebagian besar menceritakan betapa perempuan tetap makhluk misterius dengan segenap jalan pikirnya yang tidak mudah ditebak.

Cerpen favorit: Perempuan, pohon kastanye, dan La Bandida
Profile Image for Fadia Raihani Aprilia.
14 reviews
January 6, 2026
BAGUS. BANGET.
Pemilihan kata oleh Mochtar Lubis sangat pas. Sesuai dengan khas beliau yaitu merupakan sastrawan yang terus terang dalam penyampaiannya. Permainan kata yang sangat indah. Beliau terkadang menggunakan bahasa Belanda yang kadang kita dibuat untuk berpikir. Indah sekali kumpulan cerita pendek inii. Akan membeli buku Mochtar Lubis lain!

Favorit aku yaitu Sepucuk Surat dan lanjutan dari cerita tsb yaitu “Suami Bunuh Istri yang Cantik”
Profile Image for Afitasari Mulyafi.
8 reviews1 follower
January 2, 2019
AKU membaca kumcer ini berkat seorang teman yang dengan senang hati menawarkannya. "Aku pengen bisa nulis deskripsi yang enak dibaca," katanya yang kemudian disusul dengan cerita mengenai buku ini. Dengan ukurannya yang menggemaskan, kecil nan mungil, buku ini bisa dikatakan sangat berhasil menarik hatiku untuk jatuh. Tuturnya sederhana, tapi bernilai makna.
Displaying 1 - 30 of 80 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.