Dibalik gemerlap negara-kota Singapura, berserak relung-relung ironi sampai tragedi negeri maju Asia yang jarang diketahui oleh dunia. Buku ini menyingkap ironi dan tragedi itu dari kacamata seorang mahasiswi Indonesia selama menimba ilmu di NTU (Nanyang Technological University).
Mulai ranjang berkutu, korban pingsan dalam MRT yang diabaikan, keterasingan di tengah hiruk-pikuk, bunuh-diri yang menyusul kegagalan, cowok-cowok yang kurang macho, sampai pergulatan batin untuk memutuskan tinggal terus atau pulang ke Indonesia.
"Gue hidup selama 4 tahun di Singapur, gue gak pernah bisa punya temen deket. Semuanya terlalu sibuk dengan kerjanya masing-masing, bahkan untuk senyum. Semua punya rencana sendiri di mana guw ga pernah jadi bagian rencana mereka. Gue selalu sendiri. Dan gue ga inget, kapan selama 4 tahun itu gue ngerasa seneng. Dan, gue pikir, gue ga bisa hidup kaya gini lagi, even for another 3 years...."
Margareta Astaman selalu punya mimpi gila: Dia ingin hidup sebagai tukang cerita. Sebuah pekerjaan idealis yang bahkan tidak bisa didefinisikan dalam KTP.
Bocah yang akrab dipanggil Margie ini sudah tergila-gila pada mengarang, bahkan sebelum dia bisa membaca. Bungsu dari tiga perempuan bersaudara kelahiran Jakarta, 14 Desember 1985 ini suka berjalan bolak balik bicara sendiri tentang cerita yang dia karang, usai mendapat inspirasi dari buku yang dibacakan ayahnya. Belajar menulis adalah satu hal yang dia sangat syukuri sebagai bocah karena dengan semangat ambil untung yang tinggi, dia bisa menjual coretannya pada nenek dan tante.
Menjelang remaja, Margie sempat setuju bahwa insinyur adalah profesi yang lebih penuh kepastian sehingga mengambil jurusan IPA di SMU Santa Ursula, dan bahkan sempat ikut pelatihan Olimpiade Biologi. Namun saat Margie mendapat pelatihan jurnalistik pertamanya, dia kembali teringat akan mimpi gilanya: menjadi seperti ‘tukang cerita’ Lima Sekawan, Enid Blyton.
Gadis yang menguasai bahasa Inggris, Perancis , Mandarin (dan tentunya Indonesia ) ini kemudian mulai aktif mempublikasikan tulisannya di majalah dan publikasi lain. Setelah lulus dengan predikat ‘teladan’, Margie memutuskan untuk semakin menggilai mimpinya dengan melanjutkan studi ke fakultas Jurnalisme Nanyang Technological University, Singapura.
Di sana, Margie menjadi penulis sekaligus project manager bagi majalah sekolahnya serta membuat dan mendesain portal jurnalisme bernama Journalism Wiki (www.world-journalism.org).
Kegilaan Margie bercerita semakin menjadi ketika dia mengenal alat story-telling yang luar biasa ampuh: kamera. Dunia fotografi telah membantunya memuaskan hobi lain, yaitu jalan-jalan gratis. Dengan modal kamera pinjaman, Margie telah melanglang berbagai negara, menjadi kontributor untuk kantor berita kawat Reuters, Majalah hidup dan mengadakan pameran di Asian Civilizations Museum, Singapura.
Margie bahkan yakin dia bisa gila betulan jika tak bisa lagi bercerita. Maka ketika ia kehilangan pendengar setianya, Margie terpaksa memulai blog http://margarittta.multiply.com, alat bercerita dunia maya yang juga telah membuahkan sebuah buku kumpulan blog berjudul ‘Have a Sip of Margarita.’
Margie kini memuaskan obsesinya bercerita lewat pekerjaannya sebagai Country Editor untuk MSN Indonesia dan Lifestyle Editor untuk MSN Singapura. Dia juga adalah blogger tamu untuk Kompasiana dan blogging mentor bagi pemegang beasiswa dari program Beswan Djarum, memacu setiap orang untuk mengingat apa yang selalu jadi perhatiannya, dan menggilainya bersama.
1. Jangan Punya Keinginan Untuk Membanding-bandingkan Nilai Dengan Mahasiswa Lain. Hanya lakukan hal ini bila kamu punya lima puluh macam koleksi nilai A+ dari tugas-tugas selama tiga semester, dan juga, sertakan bukti pelengkap berupa Piala Lelaki Telanjang dari Academy Award, Piagam Pulitzer, dan Foto Saat-Saat Penganugrahan Nobel Perdamaian dari Sri Paus di Vatikan.
2. "Hati Manusia" Adalah Untuk Orang Berpotensi Gagal. Maka ajari Hati-mu untuk diam. Sumpal mulutnya, mutilasi lehernya, dan cabut pharynx-nya. Jangan biarkan dia berbicara sepatah katapun, jangan biarkan dia memberi komentar apapun, pada hal apapun yang kamu lihat, dengar, dan rasa. Tidur dan mati-surikan dia, sampai tiba waktunya kamu lulus dan memakai toga nanti. Tapi ini bukan tanpa resiko; karena aku tidak pernah mendengar hati yang mati suri bisa hidup kembali semudah kamu memasukkan baterai baru ke dalam longsongan senter yang kosong.
3. 99,9% Penduduk Singapura Adalah Orang-Orang Berlidah Tajam, dengan Kemampuan Berpikir Berlipat-lipat Super-Computer, Efisien dan Menabukan Kata "Kesalahan" dan "Terlambat", dan Punya Tingkat Toleransi Serapuh Kaca Mikroskop. Tapi jangan biarkan hal ini membuat kamu menjerit-jerit putus asa tanpa suara (karena berbuat keributan bisa dikenai denda sekian dolar singapura). Setahu saya, seluruh penduduk negeri sana belum menyuntik mati "hati" mereka. Anggap mereka semua punya sifat kambing besi; shio yang ciri khas utamanya adalah "KERAS DI LUAR, LEMBUT DI DALAM." Kalau sudah tahu ini, jadi lebih mudah, bukan, untuk mengerti diri mereka sebenarnya?
4. Jangan Ssering-Sering Berada Di Atap Gedung Sepuluh Tingkat Atau pun Tepi Jalan Raya Atau pun Tepi Rel Kereta Atau pun Di Dalam Kamar Mandi Dengan Pecahan Kaca Di Tangan, Seorang Diri. Tingginya tingkat bunuh diri di Singapura membuat saya yakin akan banyaknya roh-roh penasaran yang siap menggiring orang-orang berhati lemah ke jalan yang sebelumnya mereka tuju. Dan mengingat Singapura tidak punya catatan mitologi yang variatif, besar kemungkinan wujud roh-roh penasaran ini lebih menyerupai manusia daripada hantu-hantu pucat bergigi kuning. Dan mereka cerdas, (mengingat kebanyakan pelaku bunuh dirinya adalah orang-orang dengan usia produktif), sehingga cara-cara penghantuan yang mereka lakukan jauh lebih kreatif daripada arwah-arwah penasaran kelas "biasa". Mereka sabar, dan berbisik, alih-alih menjerit-jerit tanpa tujuan. Yang mereka cari adalah HASIL, bukan PROSES. Maka jangan memperhatikan suara-suara dalam hati. Fokuskan segalanya pada tugas, essay, an email-email dari dosen kamu. Jangan biarkan
5. Kau Kira Apa Gunanya Gedung-Gedung Indah, Taman-Taman Bersin, Dan Jalanan Mulus Yang Tidak Pernah Ternoda Ludah? Saat kosong, pergilah jalan-jalan. Bawa temanmu (asumsikan kamu dapat teman yang sebatin), atau sendirian saja. Nikmati pemandangan, nikmati makan, nikmati daun-daun dan kebersihan jalan yang membuatmu ingin telentang tidur di atasnya sambil memandangi langit di atas sana. Jangan terlalu malu untuk melakukannya. Siapa tahu kamu bisa menciptakan tren denda baru: Dilarang Tiduran Di Tengah Jalan!
6. Biarkan Orang Yang Tiba-Tiba Pingsan Di Tengah Jalan. Urusan kamu lebih ribet dan penting dan perlu mendapat perhatian lebih banyak. Telepon saja rumah sakit, minta ambulans datang. Mereka selalu tiba tepat waktu, dan pertolongan mereka akan jauh lebih akurat daripada pertolongan pertama yang hanya kamu pelajari teorinya tanpa pernah praktekkan langsung ke tubuh hidup. Lagipula, kalau ternyata dia mati di tanganmu, siapa yang tanggung jawab? Dan kalau pun ternyata dia tidak selamat, toh ada petugas bersih-bersih yang akan datang pada jam empat untuk membersihkan seluruh jalan dari sampah, benul?
7. Minat Adalah Dosa. Kamu bukan sekadar kuliah. Kamu bertahan hidup. Jangan lupa itu. Kalau ada satu ekstrakurikuler yang ingin kamu lakukan, tapi punya poin tinggal yang rendah, jangan lakukan. Lebih baik ambil kegiatan tambahan berpoin tinggi yang dapat memberi jaminan kamar asrama kamu di dalam kampus, walau kegiatan tambahan tersebut tidak berguna bagi perkembangan otak kanan kamu sama sekali.
8. Luangkan Waktu Sepuluh Menit, Tiap Pagi, Tiap Hari, Untuk Menanamkan Fungsi Pribahasa-Pribahasa Berikut Ke Dalam Otak Kamu: Garbage In Gargabe Out, Survival Is For the Strongest, No Pain No Gain, Mens Are Wolves For Other Mens, Kill or be Killed, and MAKE. MY. DAY.
9. Di Negara Itu, Kata "Teman" Sama Matinya Dengan Kata "Hati". Tapi, sebisa mungkin, carilah TEMAN. Walau itu akan terdengar sebagai hal yang mustahil setelah kamu hidup selama empat bulan di tempat tersebut. Tapi ini penting. Tidak usah banyak-banyak, di bawah lima saja sudah SANGAT bagus, dan secepatnya, karena tanpa teman, tampaknya tidak perlu waktu lama sampai anda berubah jadi makhluk-mesin, atau (bagi yang ekstrovert) mengalami depresi dan bunuh diri, atau (bagi yang introvert) menutup diri dan menjadi gila sedikit-demi-sedikit, yang berujung dengan bunuh diri juga, pada akhirnya.
10. Jangan Lupa Untuk Bersyukur Pada Sang Pencipta (sesuai keyakinanmu sendiri) Setiap Kali Kamu Berhasil Mempertahankan Nafas Pada Sore Hari, Hari Berikutnya (waktu pribadi yang menurut saya lebih menyenangkan daripada pagi hari; iya deh, ngaku, saya kalong). Kamu bukan murid, kamu bukan mahasiswa. Kamu adalah tentara, prajurit perang, yang tiap hari mempertaruhkan nyawa di medan peperangan yang berdarah-darah (secara metafora) bernama universitas. Nyawa kamu bisa hilang bila kamu salah mengambil langkah, dan anugrah bagi kamu adalah hari baru tanpa assignment yang menanti. Maka, bertahanlah, dan tunggulah ketika semua ini berakhir, dan kamu akhirnya berhasil meraihlah kegelimangan sukses setelah akhirnya keluar dari neraka tersebut, empat tahun (atau delapan tahun) kemudian. Tunggulah. Suatu hari nanti, kamu akan berterima kasih pada universitas tersebut, dan kamu akan menulis buku tentangnya. Mungkin. Nanti. Suatu hari nanti. Dari balkon salah satu apartemen tertinggi di kawasan elit tempat kamu tinggal dan berkeluarga dan menghabiskan hidup kamu nantinya.
Suatu saat nanti.
-end-
poin penting:
penulis review ini tidak pernah kuliah di Nanyang University dan tidak pernah ke Singapura; isi tulisan ini adalah murni tanggapan pribadi saya setelah membaca buku ini. Saya setuju, buku ini menarik, dan karena itulah, saya tidak tahan untuk tidak menanggapinya dengan humor-penuh-gagasan-ngaco-dan-bernada-sarkasme ini, mengingat para didikan di negeri tersebut sudah cukup stress tanpa perlu diberitahu lagi bahwa mereka adalah manusia-manusia "mahal" yang harus sukses, atau lebih baik mati di tempat, daripada harus hidup sebagai benalu di kemudian hari nanti.
antara tertawa sinis, dan menyeringai setuju. Itu tanggapan saya. Terima kasih untuk bacaan yang menarik ini, walau jujur saja, gaya bahasa anda masih termasuk biasa saja. Teruslah menulis, dan selamat, karena anda sudah bertahan hidup melewati -dalam satu PoV- salah satu perwujudan neraka dunia ini! XD
Sudah jelas buku ini berhasil mencuri perhatian saya ketimbang buku Stalking Indonesia . Hahhaa saya dibuat terpukau dengan bahasa Mbak Margareta dalam buku ini yang tanpa tedeng aling-aling :P
Review lengkap menyusul. Mau sekalian curhat tentang Jepang dan juga kehidupan di Jakarta
buku ini simply mengukuhkan lagi pendapat bahwa tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. to err is a human. justru sisi manusiawi menjadi nyata dalam kekurangan. ironisnya di sini, superioritas telah menjadi sebuah "kekurangan". ternyata, manusia-manusia yang katanya paling kaya, paling pintar, paling "ter" dalam segalanya menyisakan lubang kekosongan yang teramat dalam.
maka, menjadi valid lah pertanyaan yang suatu kali pernah gua ajukan kepada tung dusem waringin, si motivator dahsyat, dalam sebuah kesempatan wawancara: "when enough is enough?" kapan harus berhenti dalam kerakusan akan kesuksesan, kekayaan, keberhasilan?
akhirnya, seorang tung desem pun akan kembali pada sikap paling sederhana tapi sarat makna: bersyukur.
kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan atau apa pun namanya itu, tidaklah karena berapa banyak yang kita miliki, berapa besar pencapaian kita dan lain sebagainya. memang, gue hanya bohong belaka jika mengatakan bahwa tidak perlu menjadi kaya dan sukses. namun, menjadikan kaya (nominal harta) dan sukses sebagai segala-galanya hanya akan berakhir dalam kehampaan yang sangat kosong. justru, kemampuan untuk mensyukuri apa yang di depan mata, menikmati apa yang dimiliki, adalah "ketrampilan" lain yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan untuk mencapai kekayaan dan kesuksesan. tung desem sendiri mengatakan hal itu.
singapura tidaklah seindah yang terlihat. sebelum silau dengan kilau aneka ragam kemewahan dan pencapaian manusia, sadarlah bahwa di balik itu ada jiwa-jiwa yang kesakitan, merintih dalam sepi, bahkan terhilang dalam kehampaan.
margy mampu menunjukkan dan menjelaskan berbagai hal yang tidak terlihat dan hanya merupakan the tip of the iceberg. mungkin bukan sesuatu yang genuine dan luar biasa. tapi, bukankah seperti kata dan brown dalam berbagai kesempatan di novel-novel thrillernya, bahwa sering kali fakta itu terungkap dari hal-hal yang depan mata--begitu telanjang dan sederhana. sesederhana bagaimana margy dengan polos menceritakan apa yang dialaminya.
kalau pun ada yang sedikit mengganjalku, untuk seorang lulusan NTU yang bisa masuk dalam lima persen tertinggi di kelasnya dan bahkan terpilih menjadi salah satu editor di MSN, kok penyajiannya terbilang standar. ada bagian-bagian yang tersaji dengan pilihan kata yang cerdas dan mengalir, tapi tidak kurang juga dengan penggambaran yang kabur dan tidak menarik.
yang sedikit menyedihkan, ada banyak kekeliruan tata bahasa yang terlewatkan. aku tahu, buku ini memang tidak diposisikan sebagai laporan formal dengan gaya bahasa baku. tapi, dalam ketidakbakuan pun mestinya ada hal-hal yang "harus benar", seperti kata depan "di" yang harusnya ditulis terpisah. kalau mau, sekalian aja kayak dee lestari yang secara sengaja menabrak tata bahasa baku. atau gaya bahasa danarto dalam godlob, yang dijamin bikin capek pembaca.
aku tidak tahu, barangkali empat tahun di kampung orang bisa membuat margy lupa tata bahasa baku indonesia. atau keteledoran editor di penerbit buku kompas yang membiarkan hal ini.
just my two cents. selebihnya, buku ini sangat menyegarkan untuk dibaca--terutama untuk orang yang belum sempat mampir ke negara jiran itu. kalau yang sudah biasa, barangkali seperti salah satu reviewer, langsung melemparkan buku ini ke tumpukan terbawah dalam koleksi buku-buku sampahnya. entahlah...
Baca buku ini di toko buku Gramedia. Hee hee, nggak beli. Gara-gara ada seorang teman yang mention aku di twitter tentang buku ini.
Well, jujur aku lupa-lupa ingat gimana kisah buku ini, namun ada garis besar yang masih melekat dibenakku, buku After Orchard mengambarkan sisi Singapura yang lain. Sisi yang mengejutkan dari sebagian besar kita, hanya berkunjung ke Singapore sebagai turis, namun penulis menggambarkan buku ini dari sudut pandangnya yang pernah hidup di Singapore selama 4 tahun. Pahit manisnya.
Celotehan penulis lebih ke realita Singapura yang kurang manusiawi. Sedikit pengalaman positif yang diutarakan.
Aku tinggal di Singapore hampir 6 tahun, dari kuliah dan kerja, kalau aku pikir-pikir,- hidup di Singapore memang keras, individual, namun tidak senegatif yang ditulis disini. Ya, pengalaman tiap orang beda-beda.
Seingatku, tinggal di Singapura malah banyak mengubah diriku, menurutku, mengubahku menjadi lebih baik. Antara lain;
1. Sebelum hidup di SG, aku nggak begitu peduli dengan orang buang sampah sembarangan, menurutku itu bukan urusanku, aku bukan polisi atau dinas kebersihan, namun setelah hidup lama di SG, aku bisa marah-marah melihat orang buang sampah sembarangan, begitu juga bagi yang merokok dalam ruangan, nyerobot antrian.
2. Ketika aku kembali ke Indonesia dalam waktu beberapa minggu, dan menguping pembicaraan cewek-cewek di mall, mereka saling gosip, mengurusi dan nyela-nyela gaya orang lain. Tiba-tiba aku rindu Singapore. Teramat sangat. Singapore, negara dimana kamu bebas berekpresi selama tidak menganggu kepentingan umum. Mau bergaya aneh, orang-orang nggak peduli. Beda dengan Indonesia, kita selalu menjaga gengsi, dan peduli dengan "APA KATA ORANG"
3. Di pekerjaan memang mengalami work-pressure, tapi tidak ada peer-pressure. Di Indonesia, ketemu teman nyokap, ah, belum kawin juga, padahalkan sudah pantas. Aku rindu kehidupan SIngapore yang tidak mengenal basa basi bullshit ini.
4. Aku dulu sering ngaret, dan kalau tidak ngaret rasanya salah.. dan kalaupun aku nggak ngaret, orang akan menganggap aku sok rajin, sok serius.... ketika hidup di Singapura, aku berubah menjadi orang yang sangat menghargai waktu dan tidak bisa mentolerir keterlambatan. Dan ketika aku kembali ke Indonesia, teman-teman Indo ku yang dulunya suka ngaret, tapi masih tetap ngaret, semakin tidak mengenalku, menganggap aku sok serius dan nggak asik. Aku merasa, memang seharunya begitukan. Ngaret itu tanda kita nggak bisa menghargai orang lain, hal ini yang nggak pernah terpikirkan bagiku dulu, ketika aku hidup di budaya kita yang serba tidak pasti.
5. Ketika sampai di Indonesia, aku bosan dengar cewek-cewek manja. Di Singapore, cewek-cewek pada tough. Memang, mereka pada emotionless, aku rasa itu better daripada shitnetron. Mungkin, Singapore juga mengubahku menjadi cewek yang sangat tough.
6. Ketika lagi jalan-jalan sendiri di hutan, macritchie reservoir, aku kehujanan... tiba-tiba, anak SD berumur 10 tahunan, menyuruh aku berpayung sama keluarganya, dan keluarganya minjemin aku jas hujan plastik yang pada akhirnya, jas hujan itu dikasih secara cuma-cuma ke aku.
7. Aku pernah hampir overstay karena sesuatu hal, teman SIngapore aku yang memberikan sponsorship ke aku selama seminggu.
8. Waktu kecil, aku termasuk anak kutubuku. Dan aku pindah ke Jakarta, aku lebih banyak jalan, ngemall, nongkrong ngabisin waktu. Mungkin, selama di jakarta,- aku nggak begitu banyak baca buku, hanya 2 atau 3 buku dalam setahun.
Ketika di Singapore, ketemu toko buku besar, aku kembali seperti yang dulu. Terlebih dengan adanya national library yang raksasa, dan juga banyak library terserak dimana2, bahkan di mal.. surga bagi pecinta buku. Rasanya, aku ingin mengulang masa-masa di Jakarta yang aku habiskan dengan sia-sia, hanya untuk nongkrong di mall nggak jelas, dan mengubahnya lebih berkualitas.
Di pekerjaan dan sekolah, hidup di SG memang sangat individual, susah menemukan budaya kerja kayak di Indonesia. Dimana sesama kolega bisa saling bersahabat, curhat. Persaingan sangat tinggi, mereka membedakan mana yang teman dan mana yang kolega.
Salah satu faktor kenapa tingkat korupsi sangat rendah, (selain gaji pejabat sangat tinggi), di Singapura, mereka dididik untuk punya sifat 'kiasu', mereka selalu ingin menjadi lebih dari yang lain. Di Indonesia, kita sering nyontek berjamaah, aku akui.. bahkan, guru-guru pun nganjurin nyontek berjamaah di UAN. Selama, sebagian besar muridnya lulus. Dan tidak menodai nama baik sekolah.
Hal ini yang gak ada di karakter anak-anak Singapura. Mereka lebih suka sendiri-sendiri. Aku punya pengalaman, waktu aku sekolah di SG, aku punya project bikin Game menggunakan Lingo Script. Syarat kelulusan kita, Game ini harus punya Score, dan Scorenya jalan ketika dimainkan. Game aku scorenya hanya diam, padahal gamenya jalan. Aku nggak bisa ngatasin error ini.
Aku tanya ke teman Singaporeku,- yang tampangnya nerd. Dia mau ngajarin, sampai Game ku sukses. Tapi, setelah itu... dengan tanpa bersalah, dia hapus hasil kerjaannya. Dan bilang, yang penting kamu udah ngertikan, and do it by yourself now.
Hal ini akan aneh, dan kalau terjadi di Indo, kita akan bilang .. ah lo pelit, gak asik... hal ini biasa di SG. Saking seriusnya mereka. Beda dengan Indonesia yang 'semangat gotong royongnya tinggi', mungkin hal ini yang bikin para pejabat dengan cueknya korupsi berjamaah.
Pengalaman tiap orang beda-beda. Singapore, memang bukan seperti Indonesia yang banyak manja-manja dan kehebohan nggak penting, rileks..... that's life. Enjoy saja lagi. ngomel-ngomel dgn menceritakan hal-hal yang negatif hanya akan membuat kita kelihatan kurang profesional... terlebih, ke Negara yang sudah 'mendidik', memberi ijazah yang lebih baik, pengalaman yang lebih Internasional, serta teman-teman Internasional.
Ketika aku kembali ke Jakarta, aku bosan dengan segala kehemogenan. Aku rindu Singapore, negara dimana aku bisa menemukan berbagai macam bangsa dan jenis makanan. Juga mendengar berbagai macam bahasa.
After Orchard secara umum menceritakan plus-minus negara tetangga kita yang mungil tapi makmur itu. Dari sudut pandang penulis yang pernah berkuliah di universitas bergengsi di Singapura selama empat tahun pembaca disodori berbagai fakta unik mengenai Singapura, warganya, dan sistemnya. Terbagi atas empat bab; 1. Kampusku Sayang, Kampusku... membahas tentang masa-masa kuliah penulisnya yang.. satu kata: keras. Saya langsung suka tokoh Oknum R yang digambarkan sebagai pengeluh nomor satu sedunia sekaligus orang paling update pergosipan seantero Singapura. Punya teman seperti oknum R nampaknya blessing in disguise deh :D 2. Bisik-Bisik Singapura membahas fakta-fakta unik soal Singapur. Ada sembilan kisah di dalamnya. Cerita yang paling menarik saya tentu tentang penulis yang terjebak sistem pengobatan "tradisional" ala Singapura, berupa sebaris SOP yang mesti dipatuhi tanpa melenceng jalur. Gaya teratur memang sudah mendarah daging dalam segenap sendi kehidupan warganya termasuk para dokter. Padahal ya, ilmu kesehatan setau saya juga punya seni tersendiri. Dan seni, rasanya bukan teman baik keteraturan yang berlebihan. Tentu keteraturan dan disiplin punya banyak kelebihan. Salah dua cerita yang membuat saya mendecak iri ada di cerita "For Immediate Response" dan "PNS Oportunis". Dan cerita berjudul "Gancheong" membuat saya bergidik ngeri. Kenapa? Baca sendiri dong ah :P 3. Romancing Singapore. 4. Lebih Singapur Dari Singapur, tentang orang bukan warga Singapur yang ketika berada di sana malah lebih Singapur, lebih kiasu, sangat "cocok" jadi warga sana.
Buku renyah yang enak dicerna. Setelah membaca buku ini sedikit banyak saya bersyukur jadi warga Indonesia, walaupun iri juga sih dengan kemajuan negara tsb. Tentu ada harga yang mesti dibayar untuk kemajuan, dan mereka yang mampu mengimbangi persyaratan ketat negara akan diganjar penghargaan. Di sana semua punya kesempatan sama dan mereka yang berhasil berusaha keras memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya yang "bertahan hidup". Yang gagal, silahkan jadi warga kelas dua. Itu juga yang membuat saya iri. Di sini, di negara yang "berlandasakan kekeluargaan", tidak semua punya kesempatan sama. Tetap saja, bukan negara yang tepat untuk orang seperti saya :D
Membaca buku Margie tentang pengalamannya bersekolah di Singapura, mengingatkan saya tentang pengalaman anak saya yang saat ini bersekolah disana. Bedanya dia mendapatkan beasiswa hanya 50% dari uang kuliah setahun yang diberikan oleh pemerintah Singapura. Budaya yang berbeda dengan budaya indonesia mengakibatkan dia sempat merasa tidak memiliki teman. Sekarang walaupun dia sepeti Margie tetap cinta Indonesia, caranya bertindak mirip dengan orang Singapura, semua serba dihitung, jalan serba cepat - saya pun pernah dikritiknya karena kurang cepat jalannya . Bahkan antar sesama teman yang berasal dari indonesia pun, semua serba dihitung. Buku ini patut dibaca oleh mereka yang ingin bersekolah di Singapura. Setidaknya mereka tidak mengalami gegar budaya. Belum lagi dengan tingkat persaingan yang tinggi. Dosen yang mengkritisi tanpa ampun cenderung sinis. Hal-hal seperti ini tidak ada dalam buku pengantar universitas. Sepintas memang seolah-olah Margie seperti tidak berterimakasih tetapi apa yang ditulisnya adalah bentuk kepedulian terhadap mereka yanf merasa bersekolah di Singapura tidak jauh dari saat berjalan-jalan menikmati Orchard.
Well...well, saya tertipu dengan penampilan cover yang menawan, sangat menawan! Dan ternyata isinya...bisa dibilang standar.
I thought that Margarita or Margareta or whoever her name is will tell us the story about her life at Singapore, the bright story and how amazing it is to be happen living in Singapore for 4 years, just like others self-travelling shorta story. It isn't? Nope, it's not. Yang bisa aku tangkap selama aku membaca lembar demi lembar (and fyi, i didn't finish it to the end because i get bored to death after i read for couples pages, and i close it and throw it into my deepest drawer, no offense) hanyalah betapa buruk -sangat buruk- sistem pendidikan dan kulturisasi NanYang university pada khususnya, dan Singapore pada umumnya.
Seakan-akan, tidak ada sisi positif atau sisi baiknya selama 4 tahun dia menempuh pendidikannya di NTU itu. Well hey, that university gives you those certificate that passed you easily to get a great job, young lady.
Malesss lah nerusin ngebaca ampe habis, sayang waktu. Mending baca novel aja deh :P
A reflective reading for those who have or are currently studying in NTU. Might be a bit overwhelming to those who had not experienced studying in Singapore. A light and refreshing reading for leisure time, but I would not vouch to really take in the points brought forward in this book. People live differently and undergo different experiences. I familiarize myself with a few points brought forward, but would readily provide arguments for other experiences.
Good job done by Margie. NTU surely had an impact on you.
Ini karya kedua Mbak Margie yang saya baca setelah Excuse Moi dan tetap suka sama gaya bahasanya. Tapi buat saya, After Orchard lebih 'ngena' karena mungkin cerita agak mirip ya sama pengalaman peribadi, ketika tinggal di negara asing yang gak terlalu asing juga sih, juga memberi pengaruh (sangat) besar buat pemikiran dan tingkah laku sendiri, secara sadar maupun tidak. Hmmm...haruskah saya menulis yang versi kehidupan di Malaysia?!:D
Saat melihat buku ini di grup jual beli, saya pikir ini buku traveling yang penulisnya sekadar mengeksplor Singapura. Belum apa-apa saya udah ngerasak bosen dan juga mungkin buku jenis ini sudah basi. Tapi, untungnya saya sempat cek dulu di goodreads dan jadi tertarik beli saat tahu ini buku yang bercerita tentang kehidupan mahasiswa di Nanyang Techological University (NTU) yang tersohor itu!
Masih ingat David? mahasiswa Indonesia yang ditemukan bunuh diri melompat dari lantai atas NTU? sampai sekarang kematian David masih jadi misteri. Ada kemungkinan dia dibunuh karena penemuan/penelitiannya menarik perhatian profesornya.
Namun, ya banyak yang mengatakan bahwa David tak kuasa menanggung beban berat perkuliahan. Dan, di buku ini pun, sejak halaman awal kisah David ini langsung jadi pembahasan. Di Singapura, angka kematian akibat bunuh diri rupanya sangat tinggi. Ironisnya, anak-anak pintar yang seyogyanya memiliki masa depan super cerah itu pula yang banyak melakukannya.
Ada banyak fakta mencengangkan yang saya dapatkan dari buku ini. Misalnya saja, Margareta, sebagai mahasiswa peraih beasiswa pun tak sekali dua kali menghadapi situasi yang sedemikian sulit. Dari soal asrama misalnya.
Dengan jumlah yang terbatas, rupanya asrama mahasiswa ini jadi rebutan banyak siswa. Untuk mendapatkannya, mereka semua harus mengumpulkan poin dari berbagai macam aktifitas. Jika ikut klub barongsai misalnya, itu nilainya paling tinggi.
Kalau nilai nggak cukup, ya terpaksa angkat kaki. Harus nyari apartemen di luar kampus yang biayanya mahal dan juga jaraknya jauh. Mau numpang di kamar teman di asrama, harus kucing-kucingan dengan petugas kebersihan yang cerewetnya minta ampun. Kalau ketahuan? dendanya malah lebih besar.
Ya, Singapura kan kota penuh denda. Keteraturan ini di satu sisi baik. Namun di sisi lain kadang menjadikan manusia bak sebuah robot (well, saya pribadi sih masih lebih ke pro ketatnya peraturan ya, cuma mbok ya kehidupan antar manusianya juga jangan terlalu kaku dan dingin juga).
Misalnya saat kamar mahasiswa diserang kutu kasur. Mau melakukan steam sendiri nggak boleh karena ada aturannya. Minta ke kampus, belum jadwalnya. Minta dijadwalkan khusus, harus ada pembuktiannya.
"Gimana caranya ngebuktiin kutu di ranjang! kutu kan mikroskopis!" Petugas bergeming. Setidaknya jika kutunya tidak kelihatan, harus ada bolong-bolong di ranjang karena digigit kutu. Hal.27.
Badan bentol-bentol rupanya belum bisa dijadikan bukti bagi petugas di sana. Soal denda pun dibahas oleh Margareta di kasus lain. Saat seorang sopir didenda karena meludah saat ada lalat masuk ke mulutnya.
"Hal ini tidak bisa dikompromi. Jika si sopir truk tidak didenda, akan ada celah bagi peludah lainnya untuk berkilah sedang menelan lalat, nyamuk atau kecoa. Mereka akan menunut perlakukan yang sama untuk dibebaskan, sehingga semakin banyak orang yang berani meludah sembarangan. Bayangkan Singapura yang bersih dan hijau ini bisa jadi jorok!" hal.28.
Selain kehidupan kampus, Margareta juga banyak membahas tentang manusia-manusia di Singapuranya itu sendiri. Dari buku ini, saya juga dapat gambaran soal PNS di sana. Yang mana, hanya siswa paling pintar yang boleh bekerja dan mereka dibayar dengan sangat tinggi. Sebagai gantinya urusan birokrasi sangat dipermudah dan jelas. Nggak ada ceritanya ngurusin dokumen A harus berhari-hari dan pake uang rokok segala.
Terdiri dari 4 bab besar dan total 191 halaman, saya sangat menikmati buku After Orchard ini. Walaupun ada beberapa judul yang kayaknya lumayan melenceng dari tema besarnya, namun secara keseluruhan ini buku yang patut dibaca untuk siapapun yang berencana berkuliah atau bahkan kerja di Singapura.
Jika kamu pikir sekolah di Singapura itu enak, menurut penulis, well, not really!
Buku ini menceritakan "sisi lain" Singapura, ditulis dari sudut pandang seorang pelajar yang "tinggal" dan "berjuang" di sana. Saya tahu maksud penulis bukan untuk menakut-nakuti orang-orang yang ingin sekolah di sana, tapi dari tulisannya, saya jadi sadar nggak ada perjuangan yang enak. Nggak semuanya mulus. Di manapun itu, bahkan jika dekat dengan rumah sekalipun, yang namanya perjuangan tetap perjuangan. Ada pahitnya, ada manisnya.
Di buku ini juga diceritakan sisi Singapura yang lain. Bagaimana "tough" nya hidup di sana sampai-sampai Singapura memiliki angka bunuh diri yang tinggi. Bagaimana sulitnya menyuarakan pendapat, atau jika tidak sulit, karena budaya "self-censorship" yang dimiliki orang-orang sana.
Overall buku ini membuka impresi dan pengetahuan baru.
Ringan. Namun cukup membuka mata tentang another side story of Singapore. Tidak tertutup kemungkinan kondisinya sekarang berbeda sih, mengingat buku ini ditulis hampir 15 tahun yang lalu.
After Orchard berisikan curhatan hati seorang Margareta Astaman di Singapura selama 4 tahun menjadi mahasiswa Nanyang Technological University. Betapa berbedanya surga belanja yang nyaman dan tertib di mata saya dengan mata Margareta. Siapa sangka di balik keteraturan dan kemegahan mall, Margareta harus berhadapan dengan teror tugas yang tak habis-habisnya, hilangnya sosialisasi yang seakan-akan membuang waktu sampai kutukan kutu tempat tidur!
Bab Membasmi Kutu Sesuai Prosedur menegaskan betapa Singapura adalah kota yang penuh dan taat aturan, sa’nglotok-nglotoknya kalau kata orang Jawa. Semua hal diatur dengan jelas dan tidak fleksibel, termasuk dalam pembasmian kutu. R, salah satu teman Margareta yang tempat tidurnya jelas-jelas berkutu tidak bisa disteam dengan alasan steam hanya dilakukan setahun sekali pada saat penerimaan mahasiswa baru, jelas saja permintaan R untuk steam ditolak. R yang sudah tak tahan rela membayar berapa saja agar ranjangnya di-steam, namun sistem kebal suap yang mengakar langsung mematahkan indikasi sogokan R, dengan alasan jika setiap anak kampus minta ranjangnya dibersihkan setiap saat tentu akan menggangu kinerja tenaga kerja asrama. R tidak hilang akal, borok-borok yang ditimbulkan tidak menjadi bukti yang kuat karena bisa saja karena R jorok dan kemproh, padahal membuktikan kutu yang mikroskopik juga bukan hal yang mudah.
Setiap prosedur harus dilaksanakan tanpa kompromi, tanpa revisi, padahal urusan birokrasi terkadang berbenturan dengan faktor tak terduga wong manusia bukan robot, ada yang namanya human error dan kutu, tentu saja.
Menjadi mahasiswa di sebuah universitas terkemuka menjadi beban tersendiri ternyata, setiap orang dilihat bukan berdasar kepribadiannya melainkan nilai. Bahkan cenderung nilai adalah segalanya. Seram! Hal itulah yang memicu terjadinya bunuh diri di Singapura. Setiap individu sibuk berkompetisi dan yang tidak mampu bersaing dianggap gagal. Hampir setiap minggu margareta mendengar praktik percobaan bunuh diri. Kisah percobaan bunuh diri hampir tidak pernah diangkat ke publik, kebijakan pers melarang kasus bunuh diri untuk diberitakan alasannya bisa memicu orang untuk meniru.
Kejadian lain yang lucu terjadi ketika Margareta merasa mual, muntah selama beberapa hari sehingga ia memutuskan untuk berkonsultasi di klinik bersubsidi kampus. Ia malah disangka hamil, setelah menjalani serangkaian tes kehamilan, Margareta pulang dengan berbekal obat maag padahal ia sudah mewanti-wanti dokter bisa jadi ia terkena hepatitis. Seminggu tak sembuh ia mengunjungi rumah sakt umum Singapura dan kembali lagi didiagnosa hamil. Sesuai dengan prosedur pemeriksaan ia kembali diwajibkan untuk tes kehamilan. Menolak mati di negeri orang , Margareta pulang ke Jakarta dan berobat di sana, memang benar ia terkena hepatitis A. Jiah!
Menarik, menggelitik, ringan dan menggigit. After Orchard menyikap sisi lain Singapura yang bisa jadi tidak terselami bagi saya yang hanya menginjakkan kaki seputaran Kinokuniya dan Orchard Road saja Memang bukan rahasia lagi kalau Singapura adalah kota yang keras, banyak teman saya yang tinggal di sana juga berbicara hal yang serupa. Tapi bukan berarti buku ini hanya mengupas keburukan Singapura, toh Singapura tetap menjadi kota yang penuh pesona buat saya. Yah anggap saja buku ini bisa menjadi guide tidak resmi bagi yang ingin mengambil pendidikan di sana. Cheers!
Membaca buku After Orchard impresi yang saya dapatkan bagi seorang pembaca adalah seperti seorang teman dekat yang sedang mengobrol di sebuah kedai kopi atau sebuah kafe dalam suasana sore yang santai ditengah hiruk pikuk kaum urban yang bergegas untuk bisa kembali kerumah setelah melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan selama seharian.
Dengan gaya bercerita dan bertutur kata layaknya sedang mengobrol kepada seorang teman dekat, Margareta banyak sekali mengelurkan segala unek-unek, pengalaman, harapan sekaligus perbandingan atau sebuah optimisme hidup yang membuat hidupnya berwarna selama tinggal di negeri orang dengan segala pahit getir cerita.
Secara keseluruhan buku ini terbagi menjadi empat bab yang memiliki latar belakang cerita berbeda yang kesemuanya berpangkal pada satu sumber, yaitu Singapura dengan segala aspek kehidupannya.
Pada bab 1, penulis menceritakan suka duka selama empat tahun menjadi mahasiswa di sebuah kampus ternama di Singapura, tapi dengan tidak harus mengumbar segala penat dan berat selama menjadi mahasiswa namun bisa mengambil sudut pandang tertentu atau solusi ketika menyikapi banyak kejadian ketika menjadi mahasiswa.
Dalam bab 2, sang penulis lebih menceritakan bagaimana dirinya melihat sebuah Singapura dengan segala macam aturan yang dibuat negara itu, bagaimana memandang cara masyarakatnya bersosialisasi dan keseragaman pola pikir yang telah ditanamkan pada setiap warga negara untuk tunduk dan patuh pada sebuah sistem dalam segala hal, maupun segala bentuk kekaguman dalam segala bidang yang bisa diperbuat negara itu.
Bab 3 Margareta menggeneralkan bab tersebut dengan kata “romancing Singapore”, yang isinya bagaimana dirinya mengalami sebuah pertemanan dengan teman dekat-dekatnya yang berubah menjadi lebih dari sekedar teman, baik sesaat, atau terus menjadi teman intim, atau mengalami shock culture akut dengan semua orang-orang yang ditemui yang mana semua orang sangat individualistis, atau memandang dirinya sendiri dalam masa depan dengan hasil kerja keras melalui mata orang lain yang hidup bergelimpang harta namun sangat terasing tidak hanya dengan orang lain bahkan terhadap keluarga sekalipun.
Dan yang menjadi bab penutup ialah menggambarkan nilai Singapura lebih dari Singapura itu sendiri, yang dalam suatu bagian bercerita dimana dalam suatu kasus banyak sekali disadari atau tidak bahwa setiap orang, bahkan dirinya atau orang Indonesia lain yang kesana, cepat atau lambat akan menjadi sebuah individu yang berbeda, untuk mengimbangi kecepatan ritme yang dibutuhkan untuk menjadi sukses dalam takaran masyarakat disana, yang dinamakan “kiasu” yang artinya takut kalah sehingga selalu merasuki setiap sendi kehidupan bahkan dalam permainan iseng sekalipun.
Atau pada bagian lain dimana dirinya mengeluhkan kondisi masyarakatnya yang terkesan “rapi’ dan tidak bergairah untuk sebuah kegiatan yang seharusnya bisa menjadi lepas dan menyenangkan, namun itulah Singapura dengan segala plus minusnya dalam sudut pandang seorang wanita yang menjadi bagian dan bercengkerama selama empat tahun.
After all, dengan bahasa yang ringan dan tidak njelimet, namun sarat makna dan beberapa filosofis hidup yang coba diceritakan pada pembacanya, meskipun dengan gaya tulisan yang lebih bisa dikatakan sebagai sebuah diary dalam sebuah blog pribadi, tidak berlebihan apabila buku ini pantas dikatakan sangat inspiratif untuk memberi pandangan dalam kehidupan.
Sebenernya naksir buku ini setelah baca review dari Harun. Langsung deh tuh ga babibu lagi beli buku ini. Dan, bener kan saya sukaaaa....
After Orchard ini bukanlah novel sodara-sodara, bukan juga cerita cinta di negeri Singapura itu, tapi ini hanyalah sebuah cerita dari Margareta (Margie) tentang Singapura, tentang negara kecil itu, tentang kampusnya NTU, tentang orang-orangnya dan semua opininya.
Saya hanya tau Singapura adalah negara tetangga, tempatnya surga belanja bagi banyak orang Indonesia, negara kecil namun terlihat lebih maju dari Indonesia. Itu saja. Saya blom pernah kesana. Entah kenapa saya ga terlalu heboh pengen kesana, karna saya merasa masih banyak kota-kota di Indonesia yang lebih indah yang belom saya singgahi.
Margie yang akhirnya mengenyam pendidikan 4 tahun di NTU menceritakan banyak hal dibuku ini. Mulai dari kampusnya yang ternyata lebih killer dari yang saya bayangkan. Beberapa temen saya 1 SMA dulu berhasil masuk NTU karena saya tau mereka bener-bener pinter, jadi saya yakin benar, NTU adalah universitas tempat dimana semua orang-orang pintar berkumpul. Dan ternyata setelah saya membaca penuturan Margie, saya merasa yang masuk NTU ga cukup punya modal pinter doang, tapi juga harus bermental baja, rajin dan tekun untuk bisa menyelesaikan semua tugas dari awal perkuliahan sampe tugas akhir. Saya ga sanggup membayangkan yang pada kuliah disana cuma bisa berteman dengan laptop dan buku saking banyaknya tugas yang harus mereka selesaikan.
Ga cuma ngomongin soal NTU dan para profesornya, tapi juga tentang Singapur sendiri. Membahas soal bunuh diri yang banyak terjadi, soal PNS yang punya gaji gede karena memang orang-orang terpilih, soal semua orang yang taat sekali terhadap aturan disana, soal anak-anak yang tepat waktu malah datang sejam lebih awal ke sekolah. Wow, saya merasa Singapura benar-benar negara hebat akan aturan, itu semua ga lepas dari penduduknya yang juga taat akan semua peraturan yang ada. Birokrasi jadi ga ribet, jadi lebih gampang. Beda banget sama Indonesia kan? :D
Tapi, dibalik semua itu, Margie juga menuturkan banyak hal yang dia sadari minus dari Singapura. Dia merasa NTU sepertinya menjadikan mahasiswanya seperti robot yang harus melakukan sesuatunya dengan benar dan cepat tanpa ada kesalahan. Orang-orangnya yang jauh dari kata ramah dan juga sistem pengobatan tradisional ala Singapura yang bikin saya angguk-angguk kepala.
Margie benar-benar membuat cerita dalam buku ini menarik. Saya berasa baca blog pribadi Margie loh dengan semua opini yang sedikit nyinyir, lucu dan jujur ini. Covernya yang keren dan desain kertas cover kayak undangan kawinan, pake wangi gitu pula, menambah cantik buku ini.
Saya tidak melihat Margie membanding-bandingkan Indonesia dengan Singapura. Lihatlah bagian positifnya agar bisa dipelajari dan diimplementasikan untuk negara kita.
Akhir kata, saya harus bilang : Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung :)
Hm. pertama-tama makasih buat Sifa atas pinjamannya disaat aku lagi mati kebosanan dan craving for books hehehe
Yah. Buku ini nyeritain dengan jujur kehidupan seorang mahasiswi asal Indonesia yang kuliah di Singapura. Singapura? Singapura itu rasanya negara yang paling 'deket' sama Indonesia. Mau liburan? kebanyakan orang pasti kesana, ke Orchad Road. Orchad Road yang gemerlap dan begitu menjanjikan kebahagiaan. Tapi Singapura bukan hanya sebatas Orchad Road saja, dan baiknya buku ini adalah mengajak kita berkeliling Singapura, diluar batas Orchad Road.
Awalnya buku ini hanya berpusat pada kesengsaraannya di masa perkuliahan di Singapura:) mulai dari peraturan yang sangat saklek, biaya hidup yang mahal, petugas yang tidak ramah, dan orang-orang individualis. melalui buku ini aku mengerti, tentang berita yang pernah aku baca jika angka kelahiran penduduk asli Singapura menurun, yah itu karena masyarakatnya terlalu individualis, tidak menyempatkan diri berinteraksi dengan orang lain bahkan untuk meminta bantuan.
Budaya masyarakat juga dibahas disini. Yang aku suka dari Singapura adalah betapa mereka cepat dan tanggap dalam menyikapi sesuatu. Ya, Singapura adalah negara yang begitu tertib dan begitu teratur. sampai-sampai kelewat teratur, dan didalam setiap diri orang-orangnya tidak ada hasrat untuk tampil berbeda. padahal, perbadaan itu bisa jadi baik, kan? Aku juga suka bagaimana orang-orang di Singapura berkompetisi secara adil, karena memang mereka mempunyai ambisi besar, tidak mau kalah. Bagaimana dengan Indonesia? alon-alon asal kelakon, begitulah kata pepatah. Aku jadi ngebayangin kalo Indonesia sama Singapura balap-balapan ngebangun gedung.. pastilah Singapura menang.
Ternyata nggak ada negara yang sempurna. Singapura yang dulu aku puja-puja karena segala ketertiban dan keteraturannya, punya juga kekurangan. Indonesia tempat aku tinggal ini juga, walaupun banyak kekurangannya tapi aku sadar bahwa Indonesia adalah negara yang embebaskan kita berkreasi, membebaskan kita mengeluarkan pendapat (tapi mungkin agak kelewatan ya?)
Kekurangan buku ini terletak pada gaya bahasa yang menurutku lebih seperti ber-orasi dari pada mendongengkan. Awalnya aku merasa terganggu, tapi lama kelamaan aku mulai bisa menikmati buku ini. Penulisnya pasti orangnya lucu, menyenangkan dan juga pintar. terbukti dari dia bisa dapet beasiswa dan bisa masuk NTU!! hehe
Buku ini pada dasarnya berisi curhatan Margie tentang masa-masa perkuliahannya dulu dan secuplik pengaruh setelah periode itu selesai. Buku ini bukan novel, lebih mirip uneg-uneg bercampur ungkapan syukur; jadi jangan tertipu, apalagi kalau berharap akan beroleh format isi serupa novel.
Well, selain pernah berkunjung ke te-ka-pe, saya juga mengenal sejumlah orang (teman ataupun bukan) yang menetap di Singapura (termasuk eks-teman-teman sekolah yang ujug-ujug-nya kecemplung juga ke NTU). Mereka punya banyak cerita mengenai kehidupan di negeri singa itu. Tentang A. Tentang B. Atau tentang C. Saya dengar semuanya. Kalau saya hitung statistik-nya, 95% berbicara mengenai hal yang sama dengan curhatan Margie, bahkan termasuk pendapat dari kenalan yang bukan warga Indonesia. Jadi ya, buku ini memang relevan. Kompilasi rahasia umum. Dan jujur, menyenangkan sekali menemukan segala bisik-bisik soal negeri tetangga itu dalam satu format publikasi yang berwujud cetak. Kesannya, sekarang semua pendapat itu jadi official.
After Orchard ini bagus. Perlu dibaca semua orang yang berencana melanjutkan studi ke Singapura, bekerja, ataupun sekaligus mendapatkan permanent residency. Bahkan mungkin bisa jadi bahan kajian buat pemerintah kita. Karena ya... setidaknya buku ini bisa memberikan gambaran tentang plus-minus-nya tinggal di negeri singa.
Apakah buku ini menjelek-jelekkan negeri singa? Enggak. Toh saya tetap tertarik kok berwisata (lagi) ke sana. ;)
Maka kesimpulannya, mengingat rumput halaman tetangga selalu kelihatan lebih hijau daripada milik sendiri... mungkin sudah waktunya halaman ini di-semen saja. #eh xD
*toast margarita ke Margie*
Psst...! Cover dan ilustrasi isinya dahsyat! *jempol buat Adeirra*
Bagiku, apa yang ditampilkan Margie di sini apa adanya. Di satu sisi, ia terkadang terkesan mengagung-agungkan NTU (Nanyang Technological University) di mana ia mengambil jurusan Komunikasi. Tapi, di sisi lain ia juga banyak mengungkap sisi minus dari NTU serta Singapore secara umum.
Bahasanya yang santai, tapi tidak dengan isinya. Rada-rada sarkas, tapi mengajak untuk berpikir. Tepatnya sih, menyentil. Bagaimana orang-orang kita diperbandingkan dengan orang-orang Singapura dalam hal kedisiplinan, keuletan, kerja keras, dan sebagainya. Kita memang kalah, tapi mereka yang dijerat oleh budaya 'kiasu' - alias tidak mau kalah - juga secara interpersonal di bawah kita. Hubungan pertemanan lebih pada hubungan bisnis. Semuanya dihitung dengan uang. Tak heran, misalnya, anak-anak NTU berkompetisinya benar-benar ketat. Masalah nilai, ujian, skor tambahan agar bisa mendapatkan kamar asrama, juga benar-benar menjadi sesuatu yang prestise. Persaingan ketatnya membuat siapapun yang tidak bisa bertahan, harus minggir!
Anyway, buku ini lebih pada curhat yang bermutu. Setidaknya, menurut saya, Margie adalah orang cerdas yang berusaha melihat hal-hal remeh dari kacamatanya sebagai lulusan NTU. Ia seperti berusaha berada di tengah alias wilayah abu-abu. Terkadang, di akhir tulisannya, ia membuyarkan logika pembaca dengan mengetengahkan satu kalimat yang menyentakkan dan menunjukkan... everything is relative!
Great works, Margie! I want to read your other books!
Covernya bagus. Kualitas kertasnya top markotop. Ceritanya, walaupun pada awalnya aku kurang begitu suka, tapi lama-lama jadi suka. Hmm.. beberapa penggal kisah Margie, terutama mengenai kehidupan belajarnya, mengingatkanku pada suasana jaman sekolahan dulu ;)
Cerita di buku ini berasa kayak curhatannya si ibu penulis ini selama menuntut ilmu dan bekerja di negeri Surga Belanja ini. Di awal cerita aku ngerasa penulisnya koq kayak "ngejelekin" indo banget. Dari mulai sistem antrian kita yang ga jelas, pegawai pemerintahan yang "lelet", sampe gaya menyeberang orang indo yang oportunis (baca: ga bisa liat mobil lengang dikit, ga peduli tu lampu warna apa juga, nyang penting nyampe di seberang), dll diperbandingkan dengan sistem nya negeri Singapura itu. Tapi, lama kelamaan cerita2 itu pelan2 merubah kernyitan di dahiku berubah jadi senyum simpul dan perlahan senyum simpul itu mengembang laksana membaca sebuah cerita lucu. Haiyaah.... ternyata dari jauh lubuk nasionalisme hatiku ini, daku pun sebenarnya mentertawakan "kebodohan2" negeri tercintaku ini. Haissh....... -_-
Eniwei, seperti judulnya, Singapura tak hanya tentang sekelumit kawasan Orchard Road saja. Direkomendasikan khususnya bagi mereka2 yang punya anak/sodara/keluarga/teman/kerabat/kenalan lain nya yang ingin menuntut ilmu atau mencari sejumput dolar di negeri Singa itu.
Berniat melanjutkan ke cerita Margie selanjutnya~ :)
Barangkali memang berjodoh saya dengan buku-buku Margie -begitu ia biasa dipanggil- . Naksir dengan covernya, saya mencari tahu lewat review-review pembaca lain, tak dinyana ada promo buku Kompas di situs bukabuku.com langganan... Walhasil, meluncurlah dua buku Margie, After Orchard dan Fresh Graduate Boss, ke cart belanja saya. Karena sebelumnya sudah membaca sekilas tulisannya di Have a Sip of Margarita, saya tahu apa yang akan saya dapatkan, hingga tulisan Margie terasa lebih akrab bagi saya. Buku yang khusus menceritakan tentang pengalaman Margie selama mengais ilmu di NTU dan mengeruk pundi harta disana, terasa betapa harus tangguhnya seseorang untuk hidup dinegeri singa tersebut. Saya acung jempol untuk Margie, ia berhasil, baik dalam menyelesaikan studinya ditengah tekanan yang demikian stressfulnya, hingga mengukir prestasi yang berbuah manis pada kariernya (wish I can told u the same thing, hikz-hikz). Bagi saya pribadi, tulisan Margie enak dibaca, provokatif kadang, tapi juga jujur menulis apa adanya si negeri singa. Di satu sisi didamba, di sisi lain ia mengutuknya. Walau tentu tak penuh menggambarkan seperti apa negara diujung Sumatra kita itu, bolehlah buku ini sebagai info awalan wajah lain Singapura yang takkan kita temui jika hanya berlibur sesaat disana. Berapa banyak ‘ooo...’ yang terucap tak dapat saya hitung lagi, hanya kesiap pelan yang membangunkan saya untuk segera meraih mimpi. Good job, Margie!
Bermodal pengalaman 4 tahun belajar di Nanyang Technological University Singapore, Margie berceloteh dengan gaya tulisannya yang santai, menggelitik, dan juga sarkastik terhadap sisi lain Kota Singapur yang tak pernah tampak oleh turis penikmat wisata 3 hari 2 malamnya Singapur.
Dari luar, Negeri itu tampak sangat menganggumkan; surga belanja, tiada kemacetan, dan nomor satu kebersihannya. Namun jika kita masuki kehidupan negeri itu lebih dalam, ada sebuah ironi yang menggelantung di sana. Lihat saja bagaimana sejak SD mereka sudah dibeda-bedakan kelasnya menurut nilai. Di saat saya dan teman-teman sebaya saya masih asik main gundu atau main tazos, anak-anak di negeri Singapur sudah memiliki ambisi untuk memasuki jenjang terbaik di jenjang selanjutnya. Sebab komunitas Singapur tidak akan mentolerir kegagalan, sekali mereka gagal, maka akan gagal untuk selanjutnya.
Budaya 'kiasu' (tidak mau kalah) membuat masyarakat Singapur selalu berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Mereka terus bekerja dan bekerja seperti robot karena kehidupan di sana hanya dipandang dengan nilai-nilai, materi, maupun prestasi. Sampa-sampai itu membuat mereka lupa cara untuk menikmati hidup. Setidaknya begitulah pandangan dari kaca mata Margie yang saya tangkap.
ttg Margie yg memilih utk mengikuti kata hatinya, menjalani kebahagiaan-nya..
membaca dua buku ringan---buku ini dan the naked traveler 2---yang "ajaib" menyadarkan saya, membuat saya melihat Indonesia dr perspektif yg berbeda. jd makin cinta Ina. Ina utk lebih dikenal, dicintai, digali.
dibanding s'pore dlm kisah Margie ini.. hmm, aku hidup di negeri yg sedang berkembang. negeri yg penuh dinamika. negeri yg sebagian rakyatnya masih sedang mencari identitas n jati diri. bangsa yg masih, sedang, dan akan masih terus mencari identitas dan jatidiri menuju kedewasaannya sbg sbuah bangsa. beruntung hidup di sini. tempat bertemu sgala yg teratur n tdk teratur, yg bersih dan kotor, yg baik n buruk. yg manusiawi n juga yg tdk manusiawi, robotic? or..?
banyak yg harus disyukuri, selain (masih sangat) banyak juga yg harus diperbaiki n dipelajari dr bangsa2 lain.
yg ingin tahu ttg negara kecil tetangga kita yg sangat maju ini, buku ini jg ttg singapore inside, lengkap tersaji secara tdk langsung dr cerita2 Margie. ttg program pemerintah, visi misinya, penerapammya, disiplinnya, mgp mereka sgt maju.. apa lg ya...
Kalau mba Margy adalah orang yang ngerasain Singapura after Orchard,, aku adalah orang yang tersihir pesona 3 hari 2 malam-nya Orchard Road..hehehe,,, jadi kalau mba Margy gak menceritakan kisahnya di Singapura, mungkin selamanya aku ada dalam pengaruh sihir 3 hari 2 malam Orchard Road... ^^
Hmm, cerita mba Margy tentang kampusnya bikin aku flash back ke masa kuliah. Soalnya, kampusku pun menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan kampusnya mba Margy. Baik kampusku maupun kampus mba Margy sama-sama menerapkan sistem drop out di setiap semester. Suatu hal yang membuat seluruh mahasiswa selalu stress kala menanti pengumuman kelulusan.
Setelah membaca buku ini, entah kenapa aku jadi lebih besyukur dan mencintai kampusku. Walaupun disiplin ketat yang diterapkan kampus bisa membuat lelah raga dan jiwa, masih ada penyeimbang yang mampu menguatkan para mahasiswa, sehingga sampai saat ini, sestress apapun mahasiswa, gak ada yang nekad bunuh diri gara-gara beban kuliah.
woow gile abis baca buku ini jadi serasa seneng dulu ga kuliah d ntu sono , walo kemungkinan d terima d sono mah cuma 0.5% hahahahahaha buku ny sih yentang cerita gmana hidup d negeri tetangga situ yah kalo d pikir2 bener sih kalo mikir tentang negeri tetangga situ pasti mikir yg enak2 aja tapi rupanya sudut pandang orang yg pernah tinggal d sana beda jauh smaa yg ad d pikiran sini, kata orang beda ladang beda rumput ny tapi ga pernah kebayang kalo perbedaan ny sampe sejauh gitu ckckckckcckkcck sampe punya temen aja susah katanya d sono ckckckcck woooooww d sini orang malah banyak yg sok kenal sok temen deket hahahahahah tapi ya emang budaya sono emang gitu kali ya semua serba teratur menurut ane sih ini yg seharus ny bisa d contoh sama orang2 negeri sini
Salah seorang teman saya yang melewati masa SMP dan SMA-nya di Singapura pernah bilang begini : "Jangan pernah loe berpikir untuk menetap di Singapura. Gak enak!" Ternyata, setelah saya membaca "After Orchard", saya mendapatkan gambaran bahwa seperti itulah sosok Singapura yang sesungguhnya. Singapura tidak hanya sebatas Orchard Road.
Margareta Astaman bisa membandingkan kondisi Indonesia dan Singapura secara fair. Itu yang saya suka.
Satu hal lagi, kocak juga membaca tentang hal-hal aneh yang biasa terjadi di kampus NTU.
is there any such thing called a perfect society? Or something perfect just belong to a machine?
Buku Margareta (Margie) yang ini jauh lebih bagus daripada Excuse Moi, buku Margie yang saya baca lebih dulu.
Menceritakan liku-liku empat tahun Margie kuliah di NTU Singapura, buku ini menyibak fakta suram yang tersembunyi di balik Orchard dan Pulau Sentosa, yang tak pernah terlihat oleh turis week-end yang cuma tahu bahwa Singapura itu bersih, canggih, teratur, dan ramah.
Singapura itu keras, men. Saking ketat aturan dan persaingan di sana, penduduknya jadi absurd, membatu, dan stres tanpa sadar.
Dengan penuturan yang nyantai, ditingkahi humor, dan sinisme, buku ini cukup menghibur sekaligus menggelitik kesadaran. Mari jadi manusia.
buku ini memberikan pengetahuan baru dan pandangan baru tentang perbandingan budaya singapura dan indonesia dalam dunia pendidikan, budaya sehari-hari dan visi dan misinya.
dan yang lebih ngagetin adalah Margareta Astaman itu, lahirnya tahun 1985, sebaya adikku yg paling kecil! Salut deh bisa mengenal pribadi (dari bukunya) wanita yang begitu tangguh ini. Buku ini cocok banget buat yang lagi nyari kampus, yang lagi mencari visi dan misi. dan buat membuka perspektif orang-orang yang berfikir bahwa Singapura hanya berada di jalan Orchard.
After Orchard membuka mata saya akan bagian lain dari Singapura yang tak tampak dari slogan-slogan turismenya yang menarik hati dan dari gemerlap Marina Bay dan Orchard Road yang memukau. Membaca buku ini serasa menyeruput cereal oatmeal di pagi hari. Ringan namun bergizi. Terutama bagi yang tertarik untuk melanjutkan studi atau menjadi pekerja kerah putih di Singapura. After Orchard layaknya guidebook yang jujur dan apa adanya, yang akan memberikan orientasi berharga untuk memulai hidup sebagai bagian dari masyarakat Singapura.
Pengalaman Margareta jadi mahasiswa di Singapura komplit dengan kehidupan sehari-harinya selama di sana. saya baca buku ini lebih dari sekali. Kadang-kadang buku ini jadi motivator saya ketika malas belajar (saya mahasiswa juga).Membaca betapa keras dan susahnya menimba ilmu di negeri orang, membuat saya bersyukur dan menyadari bahwa kuliah memang gak mudah, dan semua orang juga sama-sama berjuang. Pesan-pesan moral yang terselip di After Orchad menjadi nilai plus tersendiri.
Saya jadi bercita-cita jadi PNS yang bener setelah baca After Orchad =9