Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hebron Journal: Stories of Nonviolent Peacemaking

Rate this book
Art Gish records a moving story of the turmoil and suffering of the Palestinian people, the agony experienced by Israelis, and a vision of hope and new possibilities of reconciliation between Jews, Muslims, and Christians. From 1995 to 2001, Art Gish experiences living with Muslim families, engaging in nonviolent actions with Israelis and Palestinians, and struggling to find creative responses to injustice. Selected excerpts from his journal tell of the Christian Peacemaker Teams work and give us a vision of how small peacemaking groups make a difference in violent conflicts.

304 pages, Paperback

First published October 1, 2001

1 person is currently reading
36 people want to read

About the author

Arthur G. Gish

6 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (34%)
4 stars
18 (41%)
3 stars
8 (18%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Indra.
4 reviews2 followers
August 20, 2008
It's very very amazing to find person who dedicate his life for humanity. that is Arthur Gish, who stay in Palestine to prevent violence done by Israel soldiers to Palestinian people. berikut ini petikan tulisannya,

"Seluruh Hebron hari ini (30 Jan 2003) berada di bawah kendali total militer Israel. Aku bisa merasakan ada masalah. Saat menyusuri jalan, aku segera menyadari ada keributan di Al Manara. Aku ngeri melihat apa yang terjadi disana. Dua tank dan dua buldoser meratakan pasar sepanjang 2 blok. Bahan=bahan makanan berserakan dan lumat dimana-mana, disini, di kota yang banyak penduduknya kelaparan. Para pemilik kios dengan panik mencoba menyelamatkan berkotak-kotak tomat, jeruk, pisang dan banyak lagi jenis makanan.

Reaksi pertamaku hanyalah terpatung disana, menangis dan tersedu. Pemandangan itu sangat mengerikan, sangat menjijikkan, sangat tak bermoral. Aku tak sanggup menahan emosiku. Aku merasa sungguh tak berdaya.

Pasar itu digelar di Al Manara karena militer Israel menutup pasar lama, sebagai respon terhadap pembantaian muslim di Masjid Ibrahim pada 1994. Pada setiap perjanjian damai yang dibuat sejak itu, Israel selalu berjanji untuk membuka kembali pasar itu. Tetapi, janji itu tidak pernah ditepati. Bangunan itu kini dihuni para pemukim Israel.

Rasa tak berdaya terus menguasaiku, tetapi aku juga sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku mulai memindahkan kotak-kotak makanan dari sasaran buldoser. Mungkin ada 12 kotak yang berhasil kuselamatkan.

Aku mulai menghadapi tentara-tentara itu. Aku berterikan kepada mereka, bertanya apakah mereka bangga atas apa yang mereka lakukan, apakah ini namanya perdamaian, apakah ini Israel yang mereka cita-citakan. Aku berteriak, “Baruch hashem Adonai!” (terpujilah Tuhan!).

Tentara-tentara itu berusaha keras tak memedulikanku, tetapi aku yakin mereka mendengarku. Aku mengabaikan perintah mereka agar aku pergi. Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya dan mempersilakannya meludahiku. Dia menolak tawaranku.

Tiga tentara mengacungkan senapan mereka dan menghampiri sekelompok orang Palestina yang menonton. Aku menduga mereka akan menembak orang-orang itu. Aku segera menghambur ke hadapan tentara-tentara itu, mengangkat kedua tanganku dan berteriak, “Tembak aku, tembak aku, ayo tembak aku!”. Tentara-tentara itu langsung menyingkir.

Sebuah tank datang menderu ke hadapanku, moncong raksasa mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku di udara, berdoa dan berteriak, “Tembak, tembak! Baruch hashem Adonai!”. Tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku.

Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa dengan tangan terangkat di udara. Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya. Aku hanya bisa menjerit pada Tuhan.

Sore harinya, aku kembali keAl Manara dan melihat para pemilik kios mengais-ngais puing-puing, berusaha mencari apa yang masih bisa diselamatkan.

Aku tak bisa berkata-kata.

Militer Israel memberlakukan pengawasan militer total di Hebron hari ini; kata mereka untuk mencari teroris. Aku bertanya-tanya, apa ada teroris bersembunyi di antara apel dan jeruk. Ataukah para tentara itu telah melakukan aksi terorisme terhadap para penduduk Hebron?
Aku cemas akan apa yang bakal terjadi"

Hebron Journal berisi tentang pengalaman seorang sukarelawan penjaga perdamaian di Palestina. Pada 1995 hingga 2001, Arthur Gish -seorang Kristiani yang berkomitmen- hidup bersama keluarga-keluarga muslim dan melakukan aksi-aksi anti-kekerasan menentang kekejaman Zionis Israel.

Petikan di atas hanya akan dijumpai pada awal Anda membuka buku ini. Cukup mengecewakan karena saya tidak menemukan bagian yang menegangkan itu di memoarnya ini, karena Gish hanya menceritakan pengalamannya sampai tahun 2001.

Gish, meski ia merupakan seorang Kristiani yang memegang teguh ajaran Yesus yang mengedepankan cinta kasih, sangat menghargai ajaran agama lainnya. Ia bahkan tak habis pikir dengan seorang pendeta dari Kedutaan Kristen Internasional yang mengatakan bahwa kita (umat Kristen) harus memberikan dukungan kepada Yahudi agar datang ke Israel. Sesuatu yang menurutnya membingungkan jika harus mendukung Israel mengusir dan menindas lebih banyak orang (hlm. 101).

Gish juga menuliskan, "Zionisme Kristen adalah penyelewengan dari keyakinan terhadap Alkitab. Tuhan bukanlah makelar tanah. Pemahaman apapun yang menyangkut tanah yang mengklaim hak eksklusif dan membenarkan pengusiran penduduk dari rumah mereka, berarti mengingkari bahwa pada dasarnya tanah tersebut milik Tuhan dan berarti mempersekutukan Tuhan. Dengan memberikan dukungan tanpa syarat tehadap negara bangsa Israel, berarti mereka menyangkal tradisi kenabian dalam Alkitab, yang tidak takut untuk menyatakan hukuman Tuhan atas ketidakadilan yang dilakukan oleh Israel (hlm. 102).

Tentu akan lebih mengasyikkan membaca sendiri buku setebal 542 hlm ini. Larut dalam situasi dan kondisi dimana sang penulis hidup sehari-harinya bersama penduduk Palestina yang tak pernah tenang karena khawatir rumahnya dihancurkan kapanpun juga, akan menimbulkan empati yang mendalam.

Tak hanya itu, sejujurnya saya tercengang ketika membaca fragmen-fragmen dimana sejumlah orang Islam, Kristiani dan Yahudi di Palestina dapat duduk bersama dalam banyak momentum untuk memprotes ketidakadilan tentara Israel itu. Atas nama keadilan dan kemanusiaan, perbedaan bisa saja melebur di atas nurani yang penuh kejernihan.

Gish, Arthur G. 2001.Hebron Journal, Catatan Seorang Aktivis Perdamaian dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Palestina dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan. Bandung : PT. Mizan Pustaka

(thanks to fadil yg udah minjemin buku ini. kynya emang harus punya :D)
Profile Image for Putri Azhari.
28 reviews1 follower
July 23, 2023
Thank you, Mr. Arthur, you taught me how to be more sensitive towards other, you taught me that hate is growing because we planted it, and we aren't born with hate. Your journal makes me wanna be a better human, a better Muslim :)
Profile Image for Abah.
12 reviews11 followers
Want to read
July 30, 2008
Hebron Journal, salah satu dari 14 judul buku yang telah ditulis oleh Arthur, mengisahkan tentang perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan kaum Zionis Israel. Arthur yang berada langsung di lokasi pertikaian, merasakan sendiri kentalnya kekerasan setelah dia mengalami sendiri ditodong oleh pucuk meriam dari satu tank Israel. Sampai dia mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan tank tersebut. Photo peristiwa itu didapat Art dari temannya seorang photographer perang APF. Dan hal ini telah menimbulkan gelombang protes dan menimbulkan kekisruhan diplomatik. Betapa seorang Amerika ditodong oleh tank Israel.

Sebagai penganut Christiany, bermukim didaerah bergejolak itu Art juga ikut mendalami kehidupan beragama setempat. Dia juga shalat 5 kali sehari dan ikut Jumatan.
Indiarto Priadi bertanya, "kenapa kau lakukan itu Art? Bukannya kau seorang Kristen."
Art menjawab, "bagiku tak masalah apakah aku penganut Kristen atau Muslim. Karena bagiku kedua agama itu sama saja. Sama2 agama yang diturunkan oleh Musa. Secara begini aku bisa diterima oleh masyarakat kedua belah pihak dengan baik. Aku coba melawan kekerasan kaum Israel dengan cinta.
"Kenapa Art?" Tanya Indy Rahmawati.
"Aku sudah banyak melihat akibatnya klo sekelompok tentara diterjunkan ke daerah konflik. Apalagi klo tentara itu ditugaskan bukan cuma buat mempertahankan sejenghal tanah, tapi untuk menguasai sejumlah tanah. Akibatnya banyak sekali rakyat biasa yang menjadi korban."

Ketika Indy menanyakan kepada Putut, seberapa jauh Putut mengenal Art? Putut mejawab.
"Saya kenal Art dengan sangat baik ketika saya masih belajar di Amerika. Kecintaan Art kepada kaum Muslimin sangat besar (cmiiw). Saya ingat sekali dan bahkan suka merasa malu, ketika apabila ada perayaan kaum Muslim, ditengah pertemuan itu Art selalu membawa bawa satu ember kecil."
"Lho, buat apa?" tanya Indy terperangah.
"Art selalu mengumpulkan sisa2 makanan di meja buat dijadikan kompos alam. Sementara Art selalu menghabiskan makanan yang dipilihnya. Bahkan piringnya sampai dijilatinya agar tak ada makanann yang tersisa.
"Lho, kenapa begitu Art?" Tanya Indiarto dengan heran.
"Bagiku setiap, butir nasi itu anugerah cinta kasih Allah. Jadi kenapa harus disiasiakan."
"Kalau saya membaca buku ini, kira2 apa yang diharapkan oleh Art, pak Putut? Timbul gerakan yang membela kaum Palestina didaerah pendudukan Israel?" Tanya Indy.
"Gerakan seperti itu sudah terjadi dimana mana. Tapi yang ingin Art tekankan, pergerakan itu hendaknya dilakukan dengan cinta kasih. Bukannya dengan kekerasan yang ternyata sama sekali tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Melainkan kehancuran berkepanjangan."
625 reviews2 followers
August 10, 2016
Art Gish records his experiences of traveling annually to Palestine as part of the Christian Peacemaker Teams from 1995 to 2001. Gish, long a part of Anabaptist peace circles, here discusses the complex tensions between Israelis and Palestinians in Hebron. He provides thoughtful reflection on the consequences of his active nonviolent intervention in various situations and wrestles with the consequences of his actions on a variety of different parties involved. For anyone who has heard of the Christian Peacemaker Teams and wondered what they are about, this book provides an inside look at some of their activities and the way that they try to balance their actions among a variety of parties. This book provides a personal look at the conflict that has often been missing in American news stories.
Profile Image for Doug.
140 reviews
March 10, 2010
Gish has long been active in peace circles, and this text is a wonderful introduction to the Israeli/Palestinian situation from a Christian angle. Gish writes of his actual experiences within Hebron. Eye opening.
Profile Image for Stephanie Corbett.
51 reviews8 followers
April 3, 2012
The lowest of the lows are those who go out of their way, (this group's slogan is actually "getting in the way"), to cause harm to others all in the name of sanctimonious pacifism. Do not read after eating it you want to keep your meal down.
10 reviews
September 8, 2009
Waw... sebenarnya dah lama baca buku ini tapi baru sempet di review di sini, keren abis deh bukunya salut buat Arthur G. Gish, atas keberanian dan keyakinannya....
Profile Image for Sarah.
113 reviews5 followers
February 6, 2012
Very interesting and gives a different perspective on situation. We generally hear only one side of this sad story.
Profile Image for Ajengpuspita.
49 reviews1 follower
July 26, 2017
you know what? art gish teach us how we must have sense of humanity in ourself, he teach how we create peace, he teach us many things in this book...
Profile Image for Damar.
9 reviews1 follower
October 13, 2008
Baruch hashem Adonai! thank's God for Arthur G. Gish
Profile Image for Kang Uni.
13 reviews2 followers
Read
September 25, 2018
Buku ini mengungkap kekejaman dan kebusukan israel terhadap warga Palestina, terutama di Hebron
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.