Kisah utamanya tentang misteri pembunuhan berantai di sebuah SMP, dengan tokoh utama berupa seorang gadis pindahan yang tinggal bersama paman dan bibinya. Narasinya khas shoujo misteri lawas, dengan bumbu romansa dan humor yang tidak sampai merusak atmosfer misterinya. Gaya alih bahasanya juga lawas, dengan nama-nama tokoh seperti "Ayumi Dirja" (tokoh utama), "Pak Dicky", "Megan", "Tiara", dsb....yah, kita anggap saja bahwa di ceritanya sedang ada program pertukaran pelajar Jepang, Indonesia, dan Amerika.
Misteri pembunuhan di sini sebenarnya lebih menjurus slasher ketimbang misteri ruang tertutup atau fair play mystery. Dalam artian, tidak begitu banyak unsur pemecahan kasus yang ditampilkan. Tokoh heroine-nya lebih sering pasang tampang ketakutan dan dikejar-kejar oleh pelakunya, ketimbang mengumpulkan petunjuk dalam rangka mencari siapa pelakunya. Identitas pelakunya juga sangat gampang ditebak, antara lain karena penulisnya tidak begitu berupaya untuk menutupinya (*wong di adegan pembunuhan pertama, siluet setengah badannya sudah diperlihatkan).
Di sisi lain, Missing Time cukup solid dari segi pacing, penokohan, dan kemampuan membangun nuansa mencekam. Adegan pengungkapan semua teka-teki di akhir pun cukup kreatif. Biarpun…. sekali lagi, rasanya tokoh utamanya nyaris tidak melakukan apa-apa dalam pemecahan kasusnya. Kadar romansanya juga agak terlalu banyak (*buat saya, hahaha).
Ada kisah tambahan di volume kedua berjudul Hutan Terlarang, sebuah misteri menjurus supernatural tentang kematian misterius seorang gadis cantik di hutan. Awalnya terkesan biasa saja, tapi ternyata berkembang jadi kisah yang tak terduga dan suram. Saya lumayan menikmati cerita pendek ini, yang rasanya lebih menunjukkan kepiawaian Matsumoto-sensei dalam menggarap twist ketimbang kisah utamanya.
2,5 ☆ untuk Missing Time, 3,5 ☆ untuk Hutan Terlarang.
Saya suka komik misteri karangan Yoko Matsumoto. Baru jilid pertama aja Missing Time sudah menyajikan sesuatu yang mengesankan. Tegangnya dapet, romance-nya ada, misterinya nggak tanggung-tanggung plus sometimes kocak pula.