Miniseri pembunuhan memukau dari Yoko Matsumoto, sang ratu shoujo misteri di era 1990-an.
Sebelumnya, ada sesuatu dari komik terbitan lawas ini yang akan membuat geli saat dibaca di masa kini.... yaitu kebijakan alih bahasa yang agak, ehm, ketinggalan zaman. Seperti banyak komik Matsumoto-sensei lainnya, Missing Face terbit di kala Elex berpegang teguh dengan prinsip 'pokoknya nama-nama tokohnya harus dipermak supaya familiar di kuping pembaca Indonesia!' Jadilah muncul nama-nama seperti 'Miki Darmawan', 'Mita Pranata', 'Anggi', 'Yulia', dll., seolah ceritanya berlangsung di Tanah Airku Indonesia. Plus, kata 'bunuh' disensor dengan titik-titik ("Jadi kau yang mem..... dia!?"), sehingga sejumlah dialog akan terlihat aneh.
Tapi kalau Anda penikmat cerita thriller, jangan keder karena hal itu! Sama dengan judul 'kembaran'nya Missing Time, Missing Face juga mengangkat tema pembunuhan berantai—tetapi judul yang ini menurut saya lebih rapi dan menarik. Dimulai dengan tokoh utama bernama Miki yang menerima telepon misterius dari kakaknya, Mita, tirai pembunuhan misterius pun dibuka.... (*suara narator Kindaichi). Ada tema intrik keluarga, persaingan geng-gengan ala remaja cewek sekolahan, dan sub-plot asmara dengan tokoh cowok begajulan yang siap turut berjuang bersama si tokoh utama.
Alurnya tidak berjalan ala komik detektif murni, karena sifatnya lebih menjurus thriller/slasher. Bagian investigasi proseduralnya tidak banyak, dan pembaca juga tidak terlalu banyak diberi petunjuk mengenai identitas pembunuhnya. Walau begitu, ceritanya tetap penuh lika-liku dan seru untuk diikuti. Pengarangnya pintar membuat semua tokoh terlihat mencurigakan, sekaligus menyembunyikan makna penting di adegan/momen yang awalnya terlihat sepele. Penyelesaian kasusnya pun ditutup dengan keahlian khas Yoko Matsumoto:
Tiga setengah bintang dibulatkan ke atas, karena ada cerita tambahan di volume ke-2 yang juga bagus:
Malam Nemesis: Dewi Pembalasan
Satu lagi kisah thriller pembunuhan tentang remaja sekolahan, kali ini berlatar di sebuah pulau tak berpenghuni tempat mereka berlibur (*tujuan liburan yang hanya akan didatangi tokoh-tokoh fiktif di cerita semacam ini; saya sih sulit membayangkan orang-orang waras di dunia nyata mau 'liburan dengan santai dan menyenangkan' di tempat yang sama sekali tidak ada orang lain dan terputus total dari dunia luar).
Walau relatif pendek dengan panjang sekitar setengah volume, kisah ini dituturkan dengan amat baik dan mengangkat tema Nemesis: sang Dewi Pembalasan dari mitologi Yunani. Seperti kisah utama (Missing Face), . Nemesis di sini dipakai secara simbolik dan tidak benar-benar muncul, tetapi imejnya benar-benar ditampilkan secara efektif dan meninggalkan kesan mendalam sejak saya pertama kali baca bertahun-tahun lalu....
Seperti biasa, ending cerita karya Yoko Matsumoto tak bisa tertebak. Setelah Missing Face yang menyajikan kejutan, cerita bonus kedua yang berjudul Pembalasan Nemesis juga bener-bener bagus.