Venice (Venesia) adalah kota di sebelah utara Italia yang terkenal dengan wisata kanalnya. Nama Venesia berasal dari suku bangsa Veneti yang menghuni wilayah tersebut di masa kekaisaran Romawi. Venesia juga mendapatkan sebutan "La Dominante", "Serenissima", "Queen of the Adriatic", "City of Water", "City of Masks", "City of Bridges", "The Floating City", dan "City of Canals". Kota yang menjadi latar penulisan buku ini oleh Christi Phillips, seorang pengarang yang menggemari buku-buku klasik dan sejarah. Novelnya yang selanjutnya pun mengambil sejarah di abad pertengahan sebagai sumber kisahnya.
Kisah dalam Surat Rosetti (Rosetti Letter) ini adalah murni fiksi, dengan tokoh-tokoh sejarah yang nyata adanya, antara lain Alessandra Rosetti, Marquis Bedmar, dan Antonio P (nama-nama tokoh nyata tercantum di halaman awal sebelum kisah dimulai). Kisah ini mengingatkanku pada novel Sashenka yang mengambil latar belakang sejarah dan menggambarkan tokoh-tokoh nyata dalam imaji baru sehingga terbayang kisah kehidupan kala itu.
Pada masa perebutan wilayah itu, dengan ketegangan politik yang tinggi, kisah ini bergulir. Dari Alessandra yang ditinggal mati ayah dan kakaknya, kemudian harus bertahan hidup di tengah kondisi yang sulit. Ada dua pilihan kala itu bagi seorang wanita selain menikah, untuk menjadi biarawati atau pelacur (bahasanya kayaknya nggak enak, tapi disebut wanita tuna susila juga nggak pas...karena sebenarnya yang tuna susila bukan hanya wanita yang menyediakan diri, namun juga laki-lakinya). Alessandra Rosetti tak punya cukup mas kawin (dari pihak wanita) untuk menikah, sehingga inilah pilihannya untuk menyambung hidup.
Alessandra menjadi pelacur karena ingin memiliki kebebasan dan tidak terkurung dalam tembok-tembok, karena memang bukan panggilannya menjadi biarawati, dan dia tidak ingin menjadi biarawati hanya karena menyelamatkan harga diri. Dia direkrut oleh La Celestia dan diberi nama panggilan La Sirena. Dibekali dengan bermacam keterampilan, dikenalkan dengan cara yang fantastis pada orang-orang penting kala itu, membuat La Sirena dengan cepat melejit dan menjadi kekasih Bedmar, seorang duta besar yang berpengaruh. Bedmar ini yang berniat untuk melaksanakan Konspirasi Spanyol untuk menjadikan Venesia bagian dari Spanyol. Intrik demi intrik terjalin, hingga akhirnya melibatkan La Sirena sebagai seorang warga Venesia yang ingin mempertahankan keberadaan Venesia, dan dilandasi rasa simpatinya pada La Celestia, ia menjalankan tugas khusus. La Sirena sebenarnya tidak menjadi mata-mata menurutku, dia hanya melakukan suatu hal yaitu mengambil sebuah buku dan menyerahkannya pada La Celestia tanpa mengerti untuk apa buku itu. Seorang mata-mata tentunya punya tugas yang jauh lebih banyak dan lebih intens, bukan hanya sekali dua kali melaksanakan tugas dengan dasar ingin membantu.
Kisah cinta La Sirena dengan Antonio terpapar sedikit menjelang akhir buku, setelah perasaan Antonio terungkap, sedang sebelumnya hanya perasaan La Sirena yang digambarkan. Akhir kisahnya pedih bagi La Sirena namun ada secercah sinar yang meneranginya untuk melanjutkan hidup.
Tak banyak kisah mengenai Konspirasi Spanyol, yang dalam novel ini dikisahkan menjadi Konspirasi Venesia (juga), yang berhasil kudapat melalui internet. Bisa jadi karena memang sumber-sumbernya sedikit atau jejak yang ada sudah dihapus. Berdasarkan surat Rosetti inilah tokoh utama dalam novel ini menggali disertasinya, kemudian menjelajahi Italia bersama seorang remaja putrid yang dipercayakan untuk diasuhnya. Claire, digambarkan sebagai seorang wanita yang mandiri, tak lagi muda namun memiliki semangat yang tinggi. Walau harus mengalami pahitnya perceraian karena suaminya memilih wanita lain, ia bangkit dan membuktikan bisa berjuang dan berhasil kembali. Jalinan kisah antara Claire dengan Guincarlo dan Andrew cukup menggemaskan, dengan akhir yang mungkin tak selalu manis bagi yang mengharapkan romansa yang berakhir bahagia, namun bagiku kisah penutupnya cukup baik dan mendekati realita. Akhir kisah seperti yang dialami Claire dalam buku ini bisa saja terjadi, dan toh itu tak harus membuatnya hancur ke sekian kalinya. Claire mengambil langkah dewasa dan pilihan yang tepat untuk melanjutkan hidupnya.
Aku menyukai alur penceritaan kisah ini yang beralih-alih setting waktu dari tahun 1617-1618 ke tahun 2000an. Bukan hanya menuntut ingatan dalam menjalin kisah, juga bisa menghilangkan kebosanan dibandingkan sebuah buku yang berjalan lurus ke depan, tanpa belokan. Penceritaannya berjalan maju, namun beralih sudut pandang, sehingga bervariasi. Lama-kelamaan kusadari, sepertinya buku dengan gaya penceritaan seperti ini yang kusuka, mengingat sebagian besar karya Tracy Chevalier yang kusuka pun beralih-alih sudut pandang tokoh. Suspensenya tidak terlalu tinggi, tidak seperti kisah thriller, dan kerumitan teka-teki sejarahnya juga belum terlalu banyak namun cukup membumbui.
Aku menyukai bagaimana Christi menggambarkan kota Venesia di abad pertengahan dengan di tahun 2000an ini. Dari tempat yang dulunya angker karena sebagai tempat penggantungan pengkhianat, penenggelaman warga, sampai penjara dan istana; yang pada masa kini adalah kanal-kanal tenang dan tempat-tempat romantis bernuansa masa lalu. Jadi membayangkan situs-situs di Indonesia yang kini merupakan bangunan kuno apik, tentunya punya sejarah yang panjang dengan beragam kisah. Mungkin pernah ada darah terciprat di tembok tersebut, bubuk mesiu di lapangan, goresan para tahanan kala itu di bekas-bekas tembok penjara, dan lain sebagainya. Walaupun membawa kesan menyeramkan, alangkah baiknya jika situs yang memiliki bekas peristiwa bersejarah itu tidak dihancurkan atau dihapus, namun ada bagiannya yang dipertahankan untuk generasi mendatang. Dengan melihat guratan, bekas-bekas, dan bentuk aslinya, generasi mendatang akan bisa melihat pertinggalnya dan mengambil pembelajaran dari tempat itu. Jadi sedih teringat pada bangunan Yayasan Mardi Wuto di Yogyakarta yang kini sudah dipugar hanya untuk dijadikan areal pertokoan. Sayang sekali…dulu sempat disengketakan, dipertahankan oleh pihak-pihak yang menghargai sejarah, namun tetap saja uang dan kekuasaan yang menang di sini.
Buku ini menarik untuk dibaca, dan menambah pengetahuanku bahwa kala itu di Venesia sempat terjadi sebuah peristiwa yang nyaris mengalihkan Venesia ke wilayah Spanyol..
namun gagal sehingga kini Venesia adalah bagian dari Italia..
Bahwa di balik tempat atau kota bersejarah yang indah dan romantis, bisa jadi ada sejarah kelam yang menyelimutinya..
-nat-
31012011