Sangat sulit untuk mengubah asumsi bahwa ras elf adalah sosok yang anggun, hidup abadi, menguasai ilmu sihir, serta tidak mempunyai pekerjaan kecuali berperang, menyanyi, serta melakukan hal-hal mistis lainnya.
Namun ICYLANDAR mengubah semua asumsi itu. Para elf remaja pun setiap harinya harus berlatih ilmu pedang, memanah, ilmu pengobatan, dan menunggang pegasus. Di luar jam latihan mereka juga senang bermain di danau. Jika tidak ingin kelaparan, mereka harus bercocok tanam. Mantel harus mereka buat sendiri dari bulu-bulu angsa. Bagi ras elf, hidup tidaklah semudah seperti yang selama ini dibayangkan oleh para manusia.
Di samping itu ada pertikaian di antara para elf sendiri. Tujuh ratus tahun yang lalu, hanya ada satu tahta kerajaan elf. Namun kemudian tahta itu pecah menjadi enam kerajaan, Icylandar salah satunya. Dan kini keenam kerajaan itu harus disatukan kembali atau seluruh ras elf akan musnah. Ironisnya, setiap kerajaan ingin menjadi sang pemimpin tahta.
Novel Icylandar akan mengajak siapa saja mengetahui bagaimana kehidupan para elf yang sebenarnya yang penuh dengan pertikaian, kedengkian, iri hati, namun juga ada cinta dan persahabatan.
Tadinya saya mau kasih 3 bintang, tapi berhubung ratingnya udah tinggi, saya kasih 2 bintang juga gak ngaruh-ngaruh amat kan? Hehehe.
Saya agak bingung sama pelafalan judulnya. Aisilandar, aisilender, icilandar, or what? Sebenernya gak penting, tapi agak ganggu juga kalo pas saya mau ceritain ke temen-temen saya yang lain.
Ada beberapa hal yang saya suka dari buku ini... tapi banyak hal yang justru saya gak suka. Saya tidak mau bahas kemiripannya (yang disinyalir niru-niru) dengan H**** P***** dan L**R karena sudah dibahas panjang di fikfanindo.blogspot.com
Pertama, saya rasa pengarangnya harus belajar Bahasa Indonesia lagi. Penggunaan kalimatnya kurang padu dan cenderung banyak kata-kata mubazir. Narasinya bertele-tele, deskripsi bendanya sangat tidak perlu. Gaya bahasanya kurang indah dan terlalu eksplisit.
Editornya pun kurang cermat. Ada beberapa typo dan 3 kata yang salah eja di buku ini, yaitu: 1. Jaman, seharusnya 'zaman' 2. Tehnik, seharusnya 'teknik' 3. Dirubah, seharusnya 'diubah' karena kata dasarnya adalah 'ubah' dan Bahasa Indonesia tidak memiliki imbuhan 'dir-' Hanya itu yang saya ingat. Sisanya... mungkin masih ada, tapi saya tidak perhatikan, saya skip, atau saya lupa.
Alurnya biasa aja. Tidak ada yang spesial. Cenderung membosankan malah, karena saya sampai skip beberapa paragraf panjang bahkan ada 2 bab yang saya tidak baca sama sekali. Ternyata, melewatkan 2 bab pun tidak masalah karena plot utama sendiri masih tetep bisa nyambung ke otak saya. Novel setebal ini harusnya bisa lebih dipadatkan lagi. Bisa sampai setengahnya, malahan.
Lalu, tokoh-tokohnya. Satu pun tidak ada tokoh yang mengena di hati saya. Tokoh yang sepertinya dibuat untuk 'melenakan' pembaca perempuan seumuran saya (Antolin, Rafael) malah membuat saya jijik. Saya juga kurang suka penyertaan gelar 'Jendral' setiap kali mereka disebut. Menurut saya itu sama sekali gak perlu. Toh gelar itu juga gak terlalu penting karena di setiap deskripsi sudah banyak kalimat yang mengagung-agungkan kehebatan mereka. Muda, hebat, masa lalu suram, tampan, de el el de el el... Tokoh seperti itu rasanya pasaran sekali, apalagi kepribadian mereka juga tidak memorable. Malah ada empat Pangeran Kematian yang punya julukan 'Empat Penebar Pesona Maut.' Seriously, what the he**? Kok saya jadi berasa BBF dan Meteor Garden sih? Apa gak bisa tokoh-tokoh semacam ini (terutama julukannya yang bikin saya mengernyitkan alis sambil mengumpat dalam hati dan memandang halaman 640 buku itu beberapa detik lebih lama) dihilangkan saja?
Namun, ada satu hal yang membuat saya memberi 2 bintang, dan bukannya 1 bintang (terlepas dari rasa prihatin saya kepada pengarang yang sampai membuat penerbit sendiri), yaitu adegan di halaman 643-645 (kisah tentang Taliana dan Deyreudolf). Saya menyukai adegan di sana lebih dari semua adegan digabung menjadi satu. Entah kenapa, sangat alami, dan saya merasakannya sampai senyum-senyum. Bahkan saya baca halaman itu berulang-ulang saking indahnya. Sayang sekali kisah cinta itu kandas karena tuntutan alur...
Demikian review saya. Semoga buku kedua Icylandar (yang akan saya baca nanti malam atau besok pagi) lebih baik dari ini... walaupun feeling saya bilang buku kedua ini akan sama bertele-tele karena tebalnya hampir 4/3 buku 1.
Really a nice book. Ga sengaja dapet waktu jalan di gramedia. Ceritanya indah.
Jujur waktu pertama kali dapat buku ini, aq ga nyangka ini buatan org indo. Sumpah kupikir ini punya org luar. Dan wew ini salah satu buku terbaik yg pernah kubaca. Bangga akhirnya org indo bisa bikin buku sebagus ini.
Kenapa aq suka nih buku? Jujur menurutku Icylandar adalah novel ajaib. Waktu baca untuk kedua kalinya, aku hanya bisa bilang "kok bisa sih punya ide seperti ini?". Hampir semua kisah di Icylandar aku suka. Mungkin yg paling keren cerita perjalanan Louie dengan Jendral Antolin. Bukan berarti cerita yg lain ga keren.
Satu lagi yg kukagumi adalah karakter tokoh-tokohnya yg kuat. Aku jadi ngerasa kenal dekat semua tokohnya.
Novel ini jg bisa bikin aku ketawa. Apalagi cerita Kay ngajarin Cleo utk jd pria dewasa. wkwkwkw...
Sebenarnya saya punya harapan cukup tinggi untuk Icylandar. Kover yang menarik mata, bab pertama yang cukup membuat saya merasa ingin mengikuti petualangan tokoh utama. Juga berbagai review positif yang bertebaran di ranah maya. Jadi kenapa saya akhirnya terpaksa memberikannya satu bintang?
Jawaban singkatnya adalah, buku ini tidak memiliki cerita. Jawaban yang lebih panjang, silakan membaca sampai akhir.
Seperti yang sudah saya katakan, Icylandar memulai ceritanya dengan baik. Dua orang kekasih yang mencoba menyelamartkan bayi mereka dari kejaran pasukan kerajaan. Adegan di bab pertama tidak banyak yang saya permasalahkan, malah semakin membuat saya merasa penasaran dengan bab selanjutnya. Narasinya pun terasa enak dibaca dan tidak membuat saya tersandung-sandung mengikuti penurutan penulis.
Tapi mulai dari bab berikutnya, saya mulai menemukan satu hal yang juga dikeluhkan beberapa teman yang membaca buku ini: Banyaknya bagian dari novel ini yang mencontek dari novel lain.
Saya hanya akan mengambil dua contoh saja: Yang pertama adegan ketika sang ratu membawa bayi kecil (yang dijaga ketat oleh kedua kekasih di atas) kepada salah seorang panglimanya untuk diangkat anak. Sang Ratu membawa bayi itu dalam kereta terbang yang ditarik pegasus, melayang turun dari langit sambil membawa bayi dan menyerahkannya kepada sang panglima.
Terdengar sangat mirip dengan Hagrid yang membawa Harry bayi turun dari udara naik motor terbangnya, lalu menitipkannya pada keluarga Dursley.
Yang kedua adalah kemiripan cerita ini dengan Eragon. Bukan, bukan soal burung gagak yang bisa bicara, melainkan soal berbagai kebutuhan hidup para elf Icylandar ini dibuat dari bulu angsa. Dan cara mendapatkannya adalah dengan menunggu bulu-bulu itu rontok secara alami dari angsa-angsa yang terbang di Icylandar.
Ini jelas-jelas meniru gaun Ratu elf di Eragon (buku Eldest) yang terbuat dari, you guessed it, bulu angsa yang mati secara alami. Hanya saja, di Eragon penggunaannya terasa lebih realistis; khusus untuk Ratu elf saja. Di Icylandar, bulu-bulu angsa ini dipergunakan untuk berbagai perabotan. Mulai dari selimut, isi bantal, pena, bahkan sampai tirai jendela. Saya jadi tidak bisa membayangkan berapa banyak angsa yang botak setiap tahunnya.
Masuk ke bab berikutnya, dan saya mulai menemukan satu dari dua hal yang membuat saya akhirnya menutup buku ini dengan paksa: Gary Stu.
Entah apakah penulis menyadarinya atau tidak, tapi kadar Gary Stu dalam buku ini melebihi apa yang bisa saya terima. Tanda-tanda Gary Stu ini saya dapatkan sejak saya melihat pertama kali Padris melawan Louie dalam permainan perang2an ala Icylandar. Jelas sekali bahwa sang penulis melebihkan kemampuan Padris dan merendahkan kemampuan Loie agar Padris terlihat lebih hebat/keren/memesona dibandingkan saudaranya. Padris menang mudah dan Louie begitu bodohnya ia tidak bisa belajar untuk mengimbangi saudaranya padahal mereka sudah sering bermain seperti itu.
Tanda kedua adalah, sewaktu mereka akan meninggalkan ibu mereka di gazebo pinggir danau. Naya, the said mother who knew that Padris wasn't her biological child, meminta Padris untuk tersenyum karena menurutnya senyum Padris sangat indah.
Pada poin ini saya berseru DAFUQ?! Dia menganggap senyum anak orang lain sebagai senyum terindah bahkan lebih dari anak kandungnya sendiri??
Mungkin penulisnya harus tahu bahwa bagi setiap ibu, anaknya pasti nomor satu dalam segala hal. Tidak peduli walau ada anak lain yang lebih pintar/tingggi/cakep/Gary Stu dari anaknya sendiri, ia akan tetap menganggap anaknya sebagai yang terbaik. Dan karena itu saya sama sekali tidak bisa menerima adegan dimana Naya meminta Padris tersenyum tapi membiarkan anaknya sendiri pergi tanpa senyum sama sekali.
Kadar Gary Stu ini bertambah seiring dengan berjalannya cerita. Walau ada teman Padris yang lebih pandai dalam satu hal, Padris tidak pernah terlihat inferior dibandingkan temannya itu. Penulis selalu menemukan cara untuk membuat Padris terlihat sedikit lebih hebat atau setidaknya setara dibandingkan temannya itu. Ini terlihat terutama dalam latihan pedang dengan Reiden, dimana Padris tidak pernah ragu/salah dalam menentukan mana monster baik. Ia bisa mengatasi semua monster dengan mudah, dan tentu saja berhasil lebih baik dari temannya yang katanya lebih baik darinya.
Terlebih lagi, Padris tidak memiliki kelemahan sama sekali. Bahkan Harry Potter, yang ditiru pengarang, pun memiliki kelemahan fatal dalam salah satu pelajaran. And it got worse karena gurunya sama sekali tidak menyukainya, jadi peluangnya untuk bisa lebih baik dalam pelajaran itu sangat minim. Padris? Nah. Mana mungkin anak emasnya pengarang punya kelemahan.
Berikutnya adalah mengenai kelemahan besar kedua dari buku ini.... yang saya tunda dulu karena ada beberapa hal lain yang juga membuat saya memutuskan berhenti membaca buku ini secara prematur.
Yang juga cukup mengganjal saya adalah sistem sekolah/pelajaran dari para jendral Icylandar ini. Sistem sekolah di sini benar-benar tidak jelas. Siapa yang menyelenggarakan, siapa yang bertanggungjawab, siapa yang pantas masuk dalam sekolah, bagaimana seleksinya, berapa lama mereka belajar, untuk apa mereka belajar, dll. Saya katakan sangat tidak jelas karena tidak mungkin ada seseorang mau masuk sekolah semata karena iseng/tidak punya pekerjaan lain.
Di dunia nyata, tujuan sekolah sangat jelas. Untuk menentukan pekerjaan/masa depan kita akan seperti apa. Karenanya, kita tidak akan menolak bersekolah dengan resiko tidak mendapatkan pekerjaan dan masa depan yang layak nantinya.
Jika tidak ada tujuan jelas dari didirikannya sistem sekolah ini, maka juga tidak akan ada sanksi ketika seseorang tidak mengikuti sekolah. Seperti misalnya, Padris bisa menolak hukuman dari Ruben dan memilih untuk tidak mengikuti kelasnya lagi karena memang tidak ada sanksi jika tidak datang, karena tidak ada tujuan jelas kenapa sekolah ini didirikan. Tidak ada keterangan pasti bahwa Padris tidak akan mendapatkan pekerjaan jika ia tidak mengikuti kelas memanah Ruben.
Banyak hal dari sekolah di Icylandar ini yang sangat tidak jelas. Sampai berapa lama seseorang bersekolah, misalnya. Karena Naya yang sudah punya anak dan menjadi istri panglima pun masih diharuskan sekolah. Bagaimana tingkatan antar kelas? Apakah ada tingkat memanah lebih lanjut yang memungkinkan anak-anak ini memiliki kakak kelas? Apa persyaratan seseorang menjadi guru? Kenapa pula harus para jenderal yang melatih anak-anak ini seakan mereka tidak memiliki tugas bagi kerajaan? Dan sistem guru ini pun juga tidak jelas hingga rasanya tiap guru bisa diganti kapan saja.
Kemudian, para karakter. Selain Padris (Gary Stu) dan Louie (korban menjadi orang lemah agar tokoh utama bisa terlihat Gary Stu), saya tidak menemukan ciri khas dari karakter2 lain. Saya tidak menemukan karakter yang benar2 pintar atau memiliki kelebihan khusus lain yang membuat mereka terasa berbeda. Rasanya mereka adalah karakter yang sama dengan berganti nama.
Dan karena buku ini sepertinya menggunakan setting sekolah sebagai setting utama tempat tokoh utama, maka karaktet yang akan kita temui pun semuanya berada di sekitar sekolah (tidak jelas) ini. Dan ini berita buruk bagi saya karena dari 13 murid teman sekelas Padri dan Louie, SEMUANYA LAKI-LAKI. Gila, 13 murid laki-laki semua?? KERING, men, KERING! Ga ada tokoh cewek yang berkesan atau membuat saya memiliki alasan membaca lebih lanjut.
Satu-satunya karakter perempuan yang menarik perhatian saya (As a woman, not a character) adalah Naya, sang MILF yang menjadi ibu angkat Padris. Tapi dia pun hanya muncul sesaat dan sangat jarang. Kalau saja dia muncul sedikit lebih sering (jadi salah satu gurunya mungkin? I'd love to be "taught" by her), saya bisa lebih menikmati buku ini dalam plotnya yang lambat.
Ya, plot dalam buku ini sangat, sangat, sangat, sangat, lambat. Saking lambatnya sampai para karakter punya waktu untuk piknik di awal buku sebelum segala kekisruhan tentang sekolah dimulai. Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan penulis, tapi buku dengan plot lambat sama sekali tidak menarik untuk dibaca. Apalagi kalau tidak ada jawaban jelas untuk pertanyaan "Kenapa saya harus meneruskan membaca? Kenapa ga nutup buku selamanya dan nonton Avengers aja?".
Setiap penulis harus tahu bahwa pembaca punya hak untuk berhenti membaca pada poin mana pun di dalam cerita. Salah satu tugas penulis adalah memastikan bahwa pembaca memiliki alasan untuk membaca sampai akhir, dan alasan ini sebaiknya bukan elf bishounen atau vampir bling-bling. Di dalam buku ini, sayangnya, sama sekali tidak ada alasan kenapa saya harus membaca sampai akhir.
Cara yang paling mudah untuk memberi alasan kepada pembaca untuk membaca sampai akhir adalah dengan memperkenalkan tokoh antagonis dalam cerita. Satu tokoh yang cukup kuat untuk mengoyak kedamaian dan keteraturan dalam hidup sehari=hari tokoh utama. Sehingga ketika pembaca melihat tokoh ini mulai beraksi, mereka akan sedikit merasa ketakutan akan masa depan protagonis sekaligus berharap bahwa protagonis pun akan cukup kuat untuk menghadapinya.
Bagaimana kalau cerita tidak memiliki tokoh antagonis? Ya beri alasan lain kenapa pembaca harus terus membaca.
Sebenarnya ada satu poin dalam cerita ini yang cocok digunakan sebagai ancaman untuk merusak kedamaian dalam Icylandar; para Deyreudolf. Tapi sampai seperempat bagian cerita, saya hanya melihat nama mereka disebut satu kali. Dan itu pun dalam dongeng! WTF, DONGENG!! KENAPA SESUATU SEPENTING INI HARUS DICERITAKAN DALAM BENTUK DONGENG NENEK2?!
Padahal ancaman Deyrudolf itu bisa jadi alasan kenapa sekolah Icylandar bisa dibentuk. Bahwa para anak2 harus berlatih menghadapi ancaman di masa mendatang, dan yang dewasa pun harus terus berlatih sebagai cadangan pasukan nantinya. Dan kisah ini bagusnya diceritakan dalam pelajaran SEJARAH. Gila, pelajaran sepenting dan ancaman sebesar itu kenapa ga dimasukin dalam mata pelajaran sejarah. Dan kenapa ga ada mata pelajaran sejarah di buku ini padahal Harry Potter aja punya, dan sempet ngasih info cukup banyak soal Chamber of Secrets di buku kedua.
Jika ancaman tentang Deyreudolf ini disampaikan dalam pelajaran sejarah, maka rasa patriotisme elf2 muda ini pun akan tumbuh. Dan hukuman buat mereka bukan lagi hukuman ala anak SD yang harus nulis satu kata sampai seribu kali, tapi bisa diingatkan bahwa kelemahan mereka bisa menjadi penyebab kalahnya kerajaan di masa depan. Why not the author use this as the plot driver?
Hal yang sangat mengganggu lainnya adalah flashback. God, how I hate flashbacks. Aku benci flashback karena mereka 1) menghambat laju cerita dan membuatku harus mencari alasan kenapa aku mau peduli sama sejarah masa lalu karakter (padahal sama plot utama aja belum tentu peduli), dan 2) ini menjadi bukti bahwa sang penulis tidak bisa menyebarkan clue-nya tentang plot cerita tanpa menggunakan flashback.
Flashback ini pun bukan hanya terjadi satu-dua kali, tapi berkali-kali. Dan seringkali tidak penting atau tidak masuk akal. Seperti sewaktu Pastel menceritakan kematian orang tuanya tanpa rasa sedih sama sekali, seakan dia tidak keberatan orang tuanya harus meninggal. Juga waktu nenek Taliana menceritakan flashback tentang jendral Rodrigo sementara aku sama sekali ga kenal dan ga peduli Rodrigo itu siapa dan kenapa.
Tapi dari semua yang menggangguku sepanjang novel, yang paling mengganggu adalah bahwa novel ini sama sekali tidak punya cerita utama. Pembaca sampai seperempat bagian buku hanya diajak melihat ke-Gary Stu-an Padris dan betapa menyedihkannya Loue, bagaimana mereka bersekolah, bertemu guru2, dan berbagai adegan membosankan lain yang saya tidak mengerti kenapa harus ada dalam cerita. Seriously, if I want to read a story about fantasy school and its students, I'll read Harry Potter.
Penulis pernah mengatakan dalam blognya bahwa cerita ini bukan Harry Potter, juga bukan Eragon. I never saw the proof of her words.
Tidak ada antagonis utama. Tidak ada sesuatu yang mencelakakan keselamatan tokoh utama atau dunia yang dikenalnya. Sama sekali tidak ada alasan untuk terus melanjutkan membaca selain melihat para jendral elf bishounen naik pegasus, padahal mereka jenderal dan harusnya punya tugas dari negara. Oh, wait, they're too busy teaching students about something they don't need later in life.
So, women may like this novel. Men? Stay away. Too much bishounen in the area.
Sebelum saya menulis review ini, sebelumnya saya telah membaca beberapa review lain tentang Buku Icylandar karya Dionvy. Saya ingin mengetahui pendapat beberapa orang yang juga telah membaca buku ini. Ternyata sebagian besar orang memuji dan bangga akan kisah fiksi fantasi karya anak bangsa.
Saya membaca buku ini sesaat setelah saya membaca buku Nibiru dan Kestaria Atlantis karya Tasaro GK. Tidak langsung berturut-turut, tapi berjarak 4 buku. Dan karena sama-sama fikisi fantasi karya lokal, jadi mau tidak mau saya jadi membandingkan. Dan memang ada banyak kesamaan antara keduanya yang membuat saya kurang begitu bersemangat membaca Icylandar pada awalnya. Kesamaan-kesamaan tersebut antara lain pada kedua tokoh utama (Padris pada Icylandar, dan Dhaca pada Nibiru dan Kesatria Atlantis) yang sama-sama telah diramalkan untuk menyelamatkan keselamatan negerinya dan keduanya sama-sama memiliki unsur jahat dalam dirinya yang mampu mereka tutupi karena kelembutan hati mereka. Dan masih ada beberapa lagi kesamaan lainnya.
Namun saya tetap melanjutkan membaca karena tidak mungkin saya tidak mungkin tidak menyelesaikan buku yang tengah saya baca. Dan benar saja, lama-lama kelamaan yang merasa bahagia dan masuk ke dalam fantasi dunia elf yang mengagumkan dalam novel ini. Saya jatuh cinta pada tokoh-tokohnya. Terutama Louie. Meskipun Louie manja dan suka mengganggu Padris, namun hatinya sangat lembut dan penyanyang. Tingkah lakunya yang jahil, apalagi saat menggangu Pastel atau Antolina sangat lucu dan selalu membuat saya tertawa terbahak-bahak. Yang paling membuat saya terharu adalah saat Louie mengungkapan kesedihannya pada Jendral Antolin tentang betapa payahnya dia padahal dia berasal dari keturunan yang hebat. Ayahnya adalah seorang Panglima dan Ibunya adalah murid Jendral Rafael. Saat diberitahu oleh Jendral Antolin bahwa sebenernya bakat diturunkan orang tua Louie kepada Louie dialihkan semua kepada Padris demi melindungi Padris dan kerajaan Elf, Louie tidak merasa kecewa. Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya jika itu untuk melindungi Padris, saudara yang sangat dicintainya. Tokoh-tokoh ketiga Jendral yang tegas dan berwibawa pun bisa menjadi sangat konyol ketika mereka sedang jengkel menghadapi murid-muridnya. Terutama perseteruan Jenderal Antolin dengan Reiden yang selalu menjahili Antolina, pegasus kesayangan Jenderal Antolin.
Mungkin karena ini baru buku pertama dan masih ada sekuel-sekuelnya, jadi masih relatif ringan untuk dibaca. Tidak sabar menunggu buku keduanya terbit. Saya harap lebih seru dan menegangkan, namun tetap diselingi kelucuan-kelucuan Louie, Pastel, Reiden dan Antolina.
Salah satu buku terbaik yg pernah gw baca. Ceritanya amazing banget. Tokoh-tokohnya keren abis, terutama Jendral Antolin. Luv... Luv...
Gw paling suka kisah Perjalanan Louie. Soalnya Jendral Antolin muncul terus hehehehe... Trus Festival Qinlandar nya juga keren. Waktu upacara pembukaan lalu melepas ribuan merpati... wooww... mbayanginnya indah banget. Louie sama Reiden juga lucu. Ini novel fantasi yg bikin gw ketawa ngakak-ngakak soalnya lucu abis. Tapi waktu Naya berusaha mencegah Padris diambil, gw sampai nangis :(( Sedih banget.
Duh ga sabar nunggu buku yg kedua. Ce Dionvy, cepetan ditulis donk. Kan janjinya 2011 bakal terbit. Ntar kutagih lho hehehehe....
buku bagus karya penulis lokal..sisi lain dari kisah fantasi yang ringan dibaca,gak langsung konflik besar dengan villain seperti seri pertama kisah2 fantasi biasanya. Lucu banget baca polah louie n reiden..wkwkwkwk...
Liburan di Negeri Elf, Icylandar Resensi oleh: Andry Chang
Setelah beberapa kali mengunjungi dunia-dunia antah-berantah, menulis catatan perjalanannya dan membagikan beberapa di antara catatan-catatan itu pada dunia nyata, Sang Musafir sekali lagi melangkahkan angannya.
Kali ini beliau mengunjungi Kerajaan Elf, Icylandar. Tentang elf, kaum “pendatang dari dunia nyata” mungkin akan bertanya-tanya saat melihat judulnya – Makhluk macam apakah elf itu? Dan mengapa judulnya “The Elf’s Kingdom”, bukan “The Elf Kingdom” atau “Kingdom of the Elves”?
Bila kita memperhatikan gambar sampulnya, lukisan cat air yang indah karya Mario Diaz dan Christian Chandra, barulah kita mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang elf yang benar-benar menggugah Sang Musafir untuk membeli novel ekstra tebal ini saat pertamakali melihatnya di tumpukan di toko buku – meskipun agak tergelitik oleh grammar pada judulnya dan memang sudah tahu kalau buku ini bukan terjemahan dari penulis luar negeri dari forum terkait.
Dalam kisah Icylandar Buku Pertama ini, Sang Musafir ikut berpetualang bersama Padris, Louie dan kawan-kawan – atau lebih tepatnya – berwisata. Lho, bukankah cerita fantasi seharusnya penuh dengan bahaya, misteri dan ketegangan di setiap babnya? Jawabannya, tak semuanya harus demikian.
Untuk menjelaskannya, mari kita urai satu-persatu. Saat Sang Musafir tiba di Icylandar, satu dari enam pecahan Kerajaan Elf Rowland, beliau tak hentinya terngaga. Bukan hanya pada pegasus-pegasus yang berkeliaran di hutan atau memenuhi udara, baik yang bebas atau menjadi tunggangan, namun juga para elf sendiri.
Sesuai deskripsi di Kata Pembuka dan sepanjang alur cerita, ciri-ciri, kemampuan dan daur hidup elf tak jauh berbeda dengan versi umum, bahkan di karya-karya lain yang menerapkan pakem Tolkienisme. Perbedaannya yang mencolok hanya satu: Telinga elf di cerita Icylandar 1 ini TIDAK LANCIP ujungnya, dan ini ditunjukkan lewat ilustrasi dalam cerita hasil sapuan tangan dingin Mario Diaz.
Walau merasa agak aneh, Sang Musafir telah mengklarifikasi bahwa inilah pernyataan Sang Dewi Pencipta, Dionvy yang lugas tentang elf di dunianya, bukan kesalahan dan memang bukan masalah.
Selanjutnya, Sang Musafir menyimak kehidupan Padris, Louie dan tokoh-tokoh lainnya di Icylandar yang setengahnya adalah suatu PROSES pembentukan, pelatihan pahlawan. Harus diakui, proses ini dan segala peristiwa yang melibatkan tokoh-tokoh dengan karakter yang cukup bervariasi ini adalah bagai wisata yang menyenangkan, diselipi dengan petualangan, ketegangan dan pengungkapan konflik utama secara bertahap seperti menyusun bagian-bagian puzzle untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang cukup mengundang rasa penasaran Sang Musafir.
Tetap saja, beliau tak merasa terburu-buru mengungkap misteri untuk mencocokkannya dengan tebakannya. Sang Musafir malah memilih santai, meresapi kata demi kata, dan kadang tertawa-tawa sendiri menyimak tingkah laku Raiden dan Louie, para comic relief, sedikit terusik oeh Vinze, Farrel dan Ruben yang menyebalkan dan terkagum oleh keelokan Naya, ketenangan Keysuu, keperkasaan Rodrigo dan Antolin, kelembutan dan kebaikan hati Rafael dan Padris serta kemisteriusan Ratu Naftili dan kebijaksanaan Taliana.
Pada akhirnya, sesuai sinopsis di cover belakang, semuanya bermuara pada konflik besar antara keenam klan elf yang ingin jadi pemimpin takhta dan adanya tokoh kunci yang telah diramalkan sebelumnya dan usaha melindungi dan mempersiapkan tokoh kunci itu seiring situasi yang bertambah genting. Perkiraan Sang Musafir, bila inti cerita buku pertama Icylandar ini adalah PROSES, maka mungkin inti buku kedua adalah PERJALANAN dan PENENTUAN sebagai inti cerita buku ketiga.
Walaupun secara umum Sang Musafir memahami fungsi ramalan sebagai penentu awal tujuan suatu cerita, namun beliau agak berharap Dewi Dionvy menyisipkan beberapa twist yang menyatakan “tak semua harapan dan ramalan jadi kenyataan” dan “musuh terbesar bukanlah musuh yang telah ditentukan sejak awal” di jilid-jilid Icylandar selanjutnya.
Nah, setelah menutup lembaran terakhir novel ini dengan rasa segar di angan, Sang Musafir mendapat kesan bahwa karya Dionvy ini adalah salah satu tonggak perkembangan fiksi fantasi di tanah air – dengan beberapa catatan:
Sebagian tokohnya menggunakan nama-nama manusia, bahkan nama yang cukup “umum” seperti misalnya: Louie, Rodrigo, Antolin, Ruben, Cleo dsb. Juga nama dewa: Neptune, di samping ada juga nama-nama “khas elf” seperti Padris, Naya, Naftili, Taliana, Keysuu, Zeolin dsb. Mungkin pemilihan nama oleh Dewi Dionvy ini dimaksud agar pembaca lebih mudah mengingatnya dengan mengorbankan konsistensi menurut pakem elf-isme yang baku, tapi tak apa selama ceritanya mendukung.
Ada baiknya Dionvy menyertakan Glossarium (Daftar Istilah) di cetakan-cetakan dan jilid-jilid Icylandar selanjutnya. Beberapa istilah seperti Joicii (sihir elemen alam), Jaroz (joicii istimewa yang langka), Glaudio-elmes (lambang pegasus emas), Glaudio-cesaa (meterai berkat) dan monster-monster dan makhluk-makhluk unik seperti kapoy, okluf dan sebagainya. Deskripsi dalam cerita sudah cukup jelas, namun kadang melelahkan bagi sebagian orang kalau harus bolak-balik mencari keterangan lagi kalau mereka lupa ciri-ciri istilah untuk dibayangkan dalam benak mereka itu.
Ada baiknya juga menambahkan peta Icylandar dan daerah-daerah lain yang terkait dalam cerita. Walaupun deskripsi tentang lokasi sudah cukup detail, penambahan peta akan lebih mempermudah pembaca untuk menyelami seluruh perjalanan cerita.
Suasana dan kehidupan di negeri elf yang terpapar detail dalam Icylandar mau tak mau mengingatkan Sang Musafir pada kunjungannya di Ellesmera (Eldest – Christopher Paolini). Walaupun secara detilnya berbeda, namun kedua negeri elf itu memberikan kesan “cuci mata” yang sama, dan sisipan-sisipan petualangan dan puzzle pada kedua cerita itu memberikan kesan keasyikan yang sejenis, tapi beda. Ternyata Jendral Antolin itu jago senam Rimgar, lho... Berbeda pula dengan satu dunia lain (yang Sang Musafir tak ingin menyebutnya) yang hanya menyajikan sensasi wisata tanpa sisipan “sense of urgency”, konflik, misteri atau semacamnya sehingga kalah berkesan dari Icylandar dan Eldest.
Tentu saja ada beberapa hal lain yang juga sedikit mengusik logika Sang Musafir, seperti pangkat “Jendral” yang lebih tinggi daripada “Panglima” (mungkin berasal dari perbandingan “General” dan “Commander”) dan minimnya karakter elf wanita seusia Padris – yang memang dikondisikan apa adanya sesuai peraturan pendidikan di Icylandar.
Nah, semoga sedikit catatan ini bisa membantu bagi Dewi Dionvy dan para musafir lain yang belum tahu tentang “paket wisata fantasi yang mengasyikkan” ini, dan sebagai “tour guide”, Sang Musafir sangat merekomendasikan Icylandar – The Elf’s Kingdom Jilid 1 untuk memuaskan dahaga para penikmat dunia angan akan karya anak bangsa yang berkualitas sekaligus menantikan jilid-jilid selanjutnya yang diperkirakan akan lebih seru dan intense kadar misteri dan petualangannya.
Akhir kata, terima kasih atas pengalaman klasik ini, Dionvy. Sampai bertemu lagi di Icylandar, dan juga di dunia-dunia fantasi lainnya. Sang Musafir undur diri dulu, kembali ke dunia nyata dan kembali meracik peristiwa di dunia karyanya sendiri.
Awalnya saya terkesan dengan narasinya yang ringan, santai dan mengalir. Terutama bagian-bagian awal cerita dimana plot masih sekitar kehidupan sehari-hari dan belum masuk benar dalam plot utama. Membacanya seperti membaca Old Man and The Sea, tidak bisa berhenti bila tidak sadar berapa halaman sudah dibalikkan.
Namun semakin ke belakang saya merasa semakin kecewa karena beberapa hal. Sekalipun begitu, saya tidak akan menyampahkan karya ini, karena saya yakin setiap karya diciptakan dengan cinta oleh penciptanya, dan sudah selayaknya dihargai, seburuk apapun kesan yang didapat saat menikmati karya itu.
---------------------------- Harap diingat bahwa review ini adalah pandangan pribadi saya berdasarkan insting dan intuisi saya selama berusaha menghargai novel fantasi yang saya bilang cukup laris ini. ----------------------------
menurut hemat saya, alangkah baiknya si penulis menulis cerpen2 pendek yang sederhana berdasarkan kehidupan karakter2 Icylandar dalam bentuk dongeng anak2 sebelum tidur. Kalau penulis tidak mau, maka ia harus mulai memberanikan diri untuk memberikan nasib tragis yang sejati pada karakter2nya dan mengurangi judgement berupa simpati untuk menggantinya dengan judgement berupa ratio (beralasan).
Saya yakin kalau cerita ini dijadikan dongeng untuk anak2, maka 15 tahun kemudian, anak2 yang waktu kecil didongengi Icylandar bakal terkesan terus hingga dewasa dan cerita ini bisa menjadi cerita klasik Indonesia pada masanya.
Tapi bila penulis ingin menargetkan untuk pembaca yang lebih tua lagi, maka sekali lagi, ia harus bisa tega menulis plot "tega", belajar puisi (untuk membuat narasi yang lebih puitis dan indah), lebih banyak memahami ratio.
---------------------------- kelebihan cerita ini adalah : 1. narasi, andai Dionvy mau memperindah kalimat2nya, buku ini akan saya bintangi empat tanpa tawar lagi 2. mini game sederhana yang fun 3. kejadian2 sehari2 yang sederhana dan menyenangkan 4. konsep Jaroz
kekurangan cerita ini adalah : 1. Riset yang miskin 2. Irrasional; tokoh2nya selalu menggunakan insting, perasaan dan keyakinan dalam menilai orang lain. karakter2nya cenderung kritis, namun tidak ada yang saya lihat cukup rasional. (saya duga, karakter2 ini sengaja dibuat bertanya kritis untuk menampol pertanyaan2 para kritikus fantasi indo yang akan mempertanyakan hal2 ybs) 3. karakteristik yang monoton 4. penciptaan games2 yang butuh berpikir dan rumit 5. plot tragis 6. kedalaman background karakter 7. Romance Idealisme (Knight's Honor) 8. Lady Tatiana
yang tidak akan saya komentari atau permasalahkan adalah : 1. nama2 karakter dan kota 2. joici
yang membuat saya memberikan rating 2 adalah : karena novel ini telah mengajarkan saya bagaimana cara menulis narasi yang mengalir. padahal sesungguhnya ingin saya beri nilai 1 karena sindrom "semua makhluk dalam cerita ini adalah wanita" semakin mendekati halaman akhir, semakin mengganggu saya, bahkan membuat saya menggeleng2kan kepala.
*review ini jujur dari saya, bila ada yang keberatan, feel free to protest. as they always said; ga ada review yang objektif, semua cenderung subjektif. ==================
sekian review saya, maaf bila ada kata2 yang terkesan sotoy, saya terima kalau dilempari tomat atau telur busuk, yang pasti saya tidak munafik dengan review ini.
Pertama kali saya bertemu buku ini (saya lupa tahun berapa yang jelas sudah lama sekali), buku ini merupakan oleh-oleh dari ibu saya yang saat itu bepergian ke luar daerah. Well, I've been reading it eversince, and that was amazing. Saya tertarik pada sekelumit latar belakang mengenai sejarah kerajaan elf yang menuju pada kisah utama di buku ini. Awalnya saya bahkan nggak percaya ini ditulis oleh orang Indonesia. Overall, meskipun ada beberapa kekurangan dari segi bahasa, tapi menurut saya kisah-kisah yang terdapat di buku ini sebenarnya nggak kalah kok dari novel fiksi buatan luar. Kesimpulan: Sebagai penikmat novel, this novel is really enjoyable and totally worth to read. 5 bintang dari saya.
satu penyakitku yang susah di basmi salah satunya, kalo aku baru basa suatu cerita, pasti setelah itu aku langsung ngerasa jadi seperti tokoh utama itu. jadi setelah aku baca buku ini aku jadi ngerasa aku tuh Padris (si tokoh utama) si pangeran... haha,, aneh...
aku jadi nerasa aku punya jaroz emas di dalam tubuhku... aku jadi ngerasa bakal bisa ngalahin Deyreudolf si musuh abadi... aku jadi ngerasa bisa mendirikan tahta rowland kembali... dan aku jadi ngerasa...
ah,,, mending baca sendiri aja deh... seru pokoknya...
Pertama kali baca buku ini gara-gara salah satu temen SMPku. Iya udah seribu tahun yang lalu dan aku udah baca buku ini jutaan kali. Aku inget banget waktu pertama aku baca buku ini aku cintaaaaaaa banget sama buku ini dan semua tokoh di dalamnya. Sampai-sampai aku sering nggak terima kalo ada review jelek soal buku ini.
Tapi setelah tiga tahun nggak nyentuh buku ini (sejak aku kuliah), akhirnya aku memutuskan buat reread Icylandar. Daaaaan ternyata, aku malah setuju dengan sebagian review jelesk soal buku ini. Sebagian aja, karena mau gimana pun juga aku udah terlanjur jatuh cinta dengan buku ini.
Hal pertama yang membuat aku berpaling dari "cinta mati" jadi "cinta aja" adalah plot dari kisah ini. Jujur aku udah ribuan kali baca buku ini, dan selama ini aku nggak pernah skip satu kalimat pun. Tapi kali ini, harus ku akui ada banyak paragraf bahkan bab yang aku skip. Bayangkan, beberapa bab sekaligus aku skip! Dan aku masih paham dengan alur ceritanya, bukan karena aku masih ingat tapi karena bab yang aku skip memang tidak berpengaruh terhadap keseluruhan plot cerita.
Dengan sangat berat hari harus ku katakan kalau novel ini memang sangat bertele-tele. Alurnya bisa sangat lambat, tanpa ada kejadian yang memang penting. Belum lagi ada begitu banyak flashback dalam cerita ini. Jika flashbacknya memang penting, mendukung plot atau setidaknya menguatkan karakter aku masih bisa menerimanya. Sayang, kebanyakan flashback hanyalah kisah pengalaman tokoh yang menurutku tidak masalah bila tidak diceritakan.
Selain itu aku pun setuju dengan review yang mengatakan bahwa penulis terlalu banyak membuang-buang kata dalam buku ini. Sering aku merasa buku ini bisa disingkat dan dipadatkan jika saja penulis mau membuang kalimat yang bertele-tele. Aku serius, dan menurutku hasilnya akan jauh lebih bagus.
Meskipun begitu, aku tidak setuju dengan mereka yang mengatakan bahwa karakter dalam cerita ini begitu dangkal. Harus ku akui beberapa karakter memang memiliki kombinasi yang serupa tapi tak sama. Namun mereka tidak sedangkal itu. Setidaknya, aku bisa memahami mengapa mereka bisa memiliki karakter seperti itu. Dan aku merasa karakter-karakter ini cukup manusiawi. Semua orang bebas menggunakan topeng saat berada di antara banyak dan menjadi dirinya sendiri saat berada dengan orang-orang terdekatnya.
Buku ini juga masih bisa membuatku tertawa terpingkal-pingkal (di beberapa bagian) meskipun aku sudah membacanya berulang kali. Dan ya, aku masih menyukai buku ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan tokoh-tokohnya. Aku hanya bisa berharap Dionvy mau melanjutkna kisah ini dan tidak berhenti di buku 3. Karena serius, itu akan menghancurkan hatiku menjadi serpihan atom.
I love icylandar so much.. aku emang ga pintar untuk menilai secara kritis, tapi icylandar ini memberikan warna tersendiri, walaupun dikata plagiat,bertele-tele, terlalu tebel dan boros kata tapi aku merasa icylandar ini ttp otentik dan unik. Aku sangat² menikmati dan jg tidak bosan membaca berulang kali
Satu-satunya yang menarik dari buku ini hanyalah cover depannya. Butuh perjuangan sangat besar untuk menyelesaikan buku ini. bukan hanya karena penulisan yang ala kadarnya dan tidak memiliki jalan cerita, tapi juga karena penokohan yang menyebalkan.
Waktu itu saya kelas 2 SMA. Guru Bahasa Indonesia saya tahu-tahu menyuruh saya menjemput "seorang ibu dokter" yang sudah menunggu di ruang guru plus mengantarnya ke kelas saya. Saya pun menuju ke ruang guru dengan patuh, dan shock waktu menemukan si ibu dokter yang alih-alih pakai jas putih dan baju formal, justru lebih terlihat seperti mahasiswi yang manis. Seolah itu belum cukup bikin shock, sesampainya di kelas saya, si ibu dokter (yang ternyata sudah jadi calon mahasiswi spesialis) ini bukannya memberi penyuluhan kesehatan, tapi mempromosikan novelnya!
Wow.
Jadi penulis, jujur aja seperti mimpi yang setengah-terlihat-setengah-nggak bagi saya. Mengetahui seorang dokter nyambi jadi penulis dan berjuang keras menerbitkan karyanya sampai bela-belain bikin publisher sendiri jujur saja membuat saya terinspirasi. Mimpi saya sekarang jadi (sedikit) lebih jelas. Hahaha.
Sesudah si ibu dokter (baca: Kak Dionvy) meninggalkan sekolah saya, saya langsung nyamperin perpustakaan sekolah dan meminjam satu novel Icylandar karangannya. Terus terang pada pandangan pertama, tebal novel ini teramat intimidating. Namun karena saya sudah niat pengen baca, saya kalahkan perasaan terintimidasi itu.
Overall, keputusan membaca Icylandar adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam dunia literary.
Jujur aja saya bukan a big fan of fantasy genre, dan seandainya Kak Dionvy nggak mempromosikan bukunya, nggak mungkin banget saya bakal baca buku ini. Yang pasti saya bersyukur buku ini bisa saya ketahui dan saya dapatkan dengan mudah. (Ngomong-ngomong, sesudah kelar membaca buku Icylandar 1 dari perpustakaan, saya langsung beli bukunya di Gramedia.)
Senorita Luz Balthasaar dari fikfanindo.com mengkategorikan Icylandar 1 sebagai "Buku Sayang" karena dia sudah baca Harry Potter. Saya lebih beruntung darinya; saya nggak pernah (dan anehnya nggak tertarik) untuk baca Harry Potter, jadi Icylandar terasa lebih otentik untuk saya. Memang kritikan paling umum untuk Icylandar adalah banyaknya plot dari novel-novel fantasi lain yang terkesan diplagiat, namun saya tetap merasa Icylandar adalah karya original dengan rohnya sendiri yang unik. Okelah Ruben itu Snape KW sekian, tapi mau gimana-gimana juga saya nggak bisa melihat Ruben sebagai Snape. Keysuu itu katanya KW-nya Riki di Kungfu Boy, tapi saya merasa Keysuu JAUH dari Riki. Dan Reiden? Cosplayer Tsunade yang jago pedang? I'd rather accept him as he is.
Banyak yang mengeluhkan plotnya Icylandar lambat dan gaya penceritaannya bertele-tele. Menurut saya, "bertele-tele" ala Icylandar 1 justru adalah sisi cantiknya. Gaya deskripsi di novel ini benar-benar mirip novel terjemahan, sangat jarang ditemui di novel Indonesia yang rata-rata lebih menekankan narasi. Saya angkat topi pada imajinasi Kak Dionvy yang tergambar sangat kuat di buku ini. Nama-nama karakter Icylandar yang cukup "pasaran" dan elf Icylandar yang tidak berkuping lancip buat saya menambah daya tarik sendiri. Mungkin ini advantage buat saya yang memang bukan penikmat fantasi dan bukan fans fanatik elf pada umumnya. Sekali lagi, itu semua membuat elf di dunia Icylandar menjadi lebih otentik dan unik daripada yang pernah ada.
Buat saya, yang paling berkesan dari buku ini adalah penggambaran karakternya. Kak Dionvy berhasil membangun karakterisasi yang menunjukkan bahwa semua tokoh layak dicintai dengan proporsinya masing-masing. Flashback para tokoh buat saya malah membuat karakterisasi tokoh itu semakin kuat. Jujur aja saya suka nyaris semua karakter Icylandar, terutama Louie. Nggak tahu kenapa saya sayang sama bocah satu ini. Saya juga suka karakter lain, kayak Rafael (siapa sih yang nggak suka Rafael? LOL), Nenek Tatiana (nenek kita semuaaa~~), Reiden (sungguh, saya suka karakter absurd macam ini), and the list goes on. Karakter Noe di buku 3 juga saya suka sih. Jarang ada penulis yang mau bikin karakter disabled.
Memang saya akui konflik Icyandar cenderung lambat dan kayaknya belum ada progress berarti dari keseluruhan cerita. But it's still a superb job.
Kalo boleh diandaikan dengan makanan, buku ini adalah chiffon cake yg dijual di supermarket. Betul sekali. Chiffon cake yg bisa dibilang kalo dimasukin plastik dan udaranya disedot keluar semua dia bisa jd semungil rhumball tapi super padat. :))
Icylandar ini oke, overall oke, tapi terasa kurang dipadatkan. Kalau saya boleh mengira-ngira, mungkin sekitar 300an halaman bisa dipadatkan dan cerita Icylandar yg basisnya sudah bagus ini tetap bisa dinikmati. Arah ceritanya jelas, deskripsi tempatnya mengena, logika2nya rata2 bisa diterima (oleh otak saya yg jrg dipake mikir logika cerita terlalu keras), ilustrasinya di tiap awal bab dibuat dgn niat.
Selain mengenai kekurangpadatan cerita, saya paling tega memotong bintang penilaian buku ini karena karakteristik para tokoh2nya. :| Kalau ada yg mengikuti update saya selama membaca buku ini, pasti lsg ingat yg namanya Jenderal Antolin yg saya sebut scr bervariasi mulai dr sifatnya yg njengkelin tp kok efeknya membuat dia sgt teringat oleh saya, jenderal ababil, sampai tuduhan ngawur saya bahwa Icylandar ini disisipi fanservice yaoi/boy's love tingkat tinggi.
Sang jenderal menjengkelkan, saya cukup membahas sampai sana. Dia tidak seberapa berperan memangkas rating soalnya. Yg plg berperan besar memotong rating di sini adalah karakter lainnya--yg tidak akan saya sebut krn ntar jadinya spoiler. Umur mereka ratusan tahun (elf di sini panjang umur, yep, tapi tidak abadi) tapi tingkahnya seringkali lebih konyol dari anak SD ... padahal ada yg sudah berkeluarga dan pny anak. Ini ... membuat saya merasa terganggu hampir sepanjang cerita ...
Hal yg mnrt saya layak dicermati (tdk saya kategorikan sbg hal buruk maupun baik, netral saja) adalah deskripsi elf di Icylandar. Ada sebuah deskripsi yg sgt menarik perhatian saya bahwa para elf di sini tidak memiliki telinga runcing. Ini bisa disamakan dgn vampir yg alasannya malas keluar siang bolong adalah krn kulitnya sepertinya mengandung butiran swarozsky yg memantulkan cahaya scr sempurna. :)) Ada yg setuju ada yg tidak. Sama seperti kalau suatu kali saya menyatakan bahwa pocong cara jalannya ngesot dan suster ngesot cara jalannya nggelinding di koridor RS. Pasti ada yg setuju ada jg yg tidak. Utk Icylandar ini, saya tidak seberapa melihatnya sbg suatu masalah meskipun citarasa elf-nya jd sdkt berkurang. :D
well, Elf merupakan salah satu karakter fantasi yang aku suka. apalagi setelah nonton lotr membuat cintaku terhadap elf semakin menjadi-jadi. pertama kali tahu tentang novel ini, aku langsung excited, secara yang nulis pengarang indonesia (terlalu sedikit pengarang yang mau berlayar di dunia fantasi di indonesia, mereka lebih suka brkecimpung dengan keromantisan yang bikin pembacanya dapat meleleh seperti mentega, but i respect that, b'cuz i respect freedom of delivering .....) cerita berawal dari dua orang kekasih yang mencoba untuk menyelamatkan diri mereka dan anak mereka yang baru lahir. diskripsi yang dituangkan dionvy dalam buku debutnya ini lumayan bagus, wlau di beberapa part aku skip karena terlalu detail dan membuat ku agak mengantuk. karaktr-karakter dibukunya pun agak terlalu mudah untuk berubah(artinya, karakter-karakternya tidak mempunyai karakter yang tetap dan agak sedikit not- make- sense)contoh: tokoh naya yang sudah bersuami tapi masih agak childish, padahal dia sudah punya suami dan anak. tokoh padris dan louie yang kadang-kadang terlalu cepat dewasa. selain itu, ada beberapa bagian yang seharusnya tidak usah dirajut kedalam buntelan buku yang covernya sangat indah ini. banyak kisah kehidupan sehari-hari yang kurang greget. namun, buku ini mengingatkan saya kepda harry potter yang setiap di depan bab dikasih ilustrasi-ilustrasi indah. diluar dari itu, aku salut sama kak dionvy, even no publisher ingin menerbitkan novelnya, dia memutuskan untuk membikin publisher sendiri. this book is one of best indonesian fantasy book. very recommended
Okee, gue bahkan gak selesaiin baca ini buku. Baru sampe halaman 46 dan serius gue langsung bete banget sama ini buku. Ngebosenin, terlalu bertele-tele dan font tulisannya astaga kecil-kecil banget. Dan author Dionvy ini trying so hard buat kita bisa ngebayangin ceritanya dengan ngejelasin di kanan kiri depan belakang si karakter ini ada apaan aja. Duh, hello, gak perlu dijelasin juga kali, malah bikin alur cerita jadi lambat.
Terus yah awal ceritanya gue ketawa ya, apa deh si author pengen banget bikin pembaca jatuh cinta sama Jendral Rafael dan jujur aja pas gue baca deskripsi tentang si Rafael ini gue bener2 pengen banget ketawa depan muka si karakter. Gue malah ngebayangin Rafael ini lemah gemulai dan sakit2an hadehhh.
Terus karpet, baju, kasur, semua terbuat dari bulu angsa yang jatoh pas kawanan angsa lewat. Kebayang gak berapa banyak angsa yang lewat? Duh, logika kaliiii. Kalo kemoceng mah iya masih bisa masuk logika hahahaha.
Dan pas sodara Padris jatoh di danau dan gak nyampe2 ke daratan sampe dicariin orang2, lah emang dia gak bisa berenang? Terus katanya badannya udah biru, lah udah mati dong?
Gue gak ngerti lagi ya, this is not the type of book that I'd give a high rate. Bye.
I'm being generous with my rating here. Tapi ada alasannya.
Aku nggak akan bilang aku sangat suka buku ini.
Penyebab utama yang mengikis rasa sukaku adalah karena buku ini penuh Harrypotterism dan LotRism. Argh.
Normalnya buku yang banyak nyeplak kayak gini aku kasih bintang dua.
Namun, aku juga punya prinsip bahwa aku nggak akan pernah memberi bintang dua ke buku fantasi yang lebih dari setengah unsurnya kunikmati, dan/atau ada lebih dari empat karakternya yang kusukai, sementara tak ada satupun karakternya yang kubenci setengah mati.
Dan novel ini memenuhi syarat itu. Dengan pas-pasan, ya, tapi kalau memenuhi ya tetap memenuhi. Jadilah bintang tiga kukeluarkan.
Hebat juga ada penulis indonesia yang tangguh dengan menulis cerita fiksi fantasi seperti ini. Ditambah banyak tokoh juga di dalamnya. namun kalau menurut saya sih logika yang digunakan saat memunculkan masalah terkesan dipaksa, kadang malah mengada-ada. Adegan-adegan yang dimunculkan juga kurang saling mendukung. Tapi bagaimanapun juga salut buat Dionvy. Untuk buku ke duanya saya mau lihat dulu review dari pembaca lain dl deh, tebel banget soalnya.
buku yang sangat enak dibaca.. sangat suka detail cerita dan imajinasi penulis.. pertama kaget waktu tahu ternyata karya anak bangsa :) tapi setelah itu makin kagum,, dan membuat saya terus menunggu kapan buku kedua terbit..
what an amazing story!! love this book so much!! can't wait to read the second and third book.. keep writing and make an amazing adventure ^^ i love Padris, Rafael, and Antolin so much <33