Gerimis semakin rapat. Malam terasa sepi dan dingin di sepanjang jalan. "Awas licin, Win!" teriak Roy, menunjuk ke jalan yang penuh tanah merah kiriman mobil proyek. Iwin sebetulnya cukup lihai mengendarai mobil. Tapi ketika sebuah truk menyambar, dia panik dan membanting setir ke kiri. Semuanya terjadi begitu cepat dan tidak terduga. Carry itu jungkir balik dan terbenam di parit. Iwin mengerang dan kepalanya terjepit di pecahan kaca jendela mobil. Kening Roy berdarah. Dia memukul kaca jendela depan. Menjejak dan keluar dari sana. Dia mencoba menarik Iwin yang mengerang kesakitan. Iwin kini tergeletak tidak berdaya di brankar. Kuping sebelah kirinya putus kena sayatan pecahan kaca yang runcing. Rahang bawahnya patah. Dagu dan keningnya robek. Duh, Iwin! batin si Roy pilu.
di buku ini atau di buku 1 yah? cerita temannya roy yang kecelakaan dan kakinya di amputasi. Namun kawan yang dirawat di RSCM setelah kecelakaan sewaktu pulang naik motor di jalan raya Jakarta-Serang itu hanya menimpali ringan, "ah anggap saja hanya kehilangan sekian kilo daging dari tubuhmu!" Aih ringannya dia menerima cobaan itu!
Yang jelas di buku ini adalah buku tentang "kesialan" yang dialami Roy ketika pulang dari petualangannya yang pertama.
.perjalanan Roy ke Baduy .Novi yang mulai mendekati Roy .Weekend ke pantai dan Roy digoda sama Tante Rosa .Iwin dan Roy kecelakaan Mobil, telinga Iwin putus sebelah .Roy menyalahkan diri karena takdir begitu kejam kepadanya .Roy Nongkrong di Diskotek dan curhat sama Hersya .Roy kerja part-time
Entah baru baca buku keempatnya dan tetap isi cerita masih sama seperti buku-buku sebelumnya dan mulai membuat saya bosan 2,4 dari 5 bintang cukup rasanya untuk buku ini!