Bagi mereka yang lahir dan dibesarkan di zaman Orde Baru, kata-kata ”tokoh komunis”, ”anggota Lekra” serta merta membangkitkan berbagai konotasi negatif, sama halnya dengan istilah-istilah ”Gerombolan Pengacau Keamanan” atau ”kelompok subversif”.
Yang muncul bukan sosok-sosok manusia melainkan simbol kejahatan yang boleh dimusnahkan atau ”dibasmi” seperti hama. Bagaimana kalau Anda atau saya, suatu hari tiba-tiba mendapatkan diri diberi label semacam itu, lalu tanpa perlindungan hukum diculik, diseret bagai binatang ke tahanan, disiksa dan dipaksa mengakui hal-hal yang tidak pernah Anda lakukan atau pahami?
Di sana Anda atau saya tak tahu apa yang terjadi esok hari, akan dibunuh, disiksa lagi atau dibiarkan hidup dengan perut lapar, dengan rongrongan berbagai penyakit menular tanpa obat, tanpa perhatian, tanpa harga diri sebagai manusia.
Novel Putu Oka Sukanta ini merupakan hasil perenungan dan pengendapan selama dua puluh tahun, dan tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup sang penulis yang sempat menjadi tapol selama 10 tahun.
Bacaan yang cukup berat. Jika biasanya aku bisa melahap satu buku dalam rentang waktu 1-2 minggu sampai 1 bulan, buku ini kurang lebih memakan sekitar 5 bulan! A lot to process, a lot to be angry about, a lot to grief over, and a lot to reflect on.
Sedikit berbeda dengan novel-novel lain yang membahas tentang politisida di Indonesia pada tahun 1965, novel “Merajut Harkat” mengambil keberpihakan yang amat sangat jelas dengan menyuguhkan perspektif dan cerita-cerita dari Mawa dan beberapa teman lainnya selama di tahanan. Sebuah keberpihakan yang menggarisbawahi fakta bahwasanya korban politisida 1965 — yang salah tangkap, yang (bisa jadi secara keliru) terafiliasi dengan aliran/kelompok politik tertentu, dan (ini yang jarang dicamkan di novel-novel lain, bahkan biasanya di-kambinghitam-kan) yang merupakan anggota aktif aliran/kelompok politik tsb — semuanya adalah korban dari pemerintahan dan rezim yang zalim. Ya, semuanya, tanpa adanya hierarki tertentu yang melanggengkan adanya kategori the perfect victim. Kalau kata Toga, “Kita kan tahanan terhormat. Tidak sembarangan orang bisa jadi tahanan politik. Kita bukan maling, bukan koruptor, mengapa malu mengatakan itu.”
Sebuah novel yang sangat penting untuk dibaca. Terima kasih, Bu S, sudah mau meminjamkan buku ini!
Kenapa mereka ditahan? Kenapa mereka disiksa? Kenapa mereka dibuat kelaparan? Kenapa mereka dibunuh?
Berikut jawab salah satu karakter:
Penggambaran dunia tahanan politik pada awal pemerintahan orde baru. Bercerita tentang hal-hal yang terjadi ketika survival instinct manusia berhadapan dengan tekanan, kecemasan, ketakutan, dan kelaparan. Apakah manusia tetap manusia bila mengikuti instingnya? atau tidak? Apakah itu wajar? ataukah....... Ngeri. Semoga rajutan harkat yang telah dirajut oleh Mawa dapat memanusiakan manusia yang mendengar kisahnya.
Jika kita masih suka berdebat tentang 65, tidak ada salahnya membaca ini sebagai bahan bacaan, seperti novel amba karya Lasmi atau pulang leila, memberika perspektif berbeda dari yang kita pahami selama ini