Anand Krishna (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 September 1956; umur 57 tahun) adalah seorang spiritualis lintas agama, nasionalis, humanis, budayawan dan penulis yang tinggal di Jakarta, Indonesia. Walaupun berdarah keturunan India, tapi semangat kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangatlah tinggi. Kepeduliannya itu dituangkan dalam membentuk organisasi-organisasi yang peduli dalam berupaya membangun jiwa-jiwa manusia Indonesia lewat upaya-upaya pemberdayaan diri. Salah satunya adalah National Integration Movement atau Perkumpulan Gerakan Integrasi Nasional, 11 April 2005, yang sangat peduli dengan kondisi persatuan dan kesatuan NKRI.
Kepeduliannya terhadap kondisi jiwa spiritual masyarakat tidak hanya berhenti pada masyarakat Indonesia, tapi juga pada masyarakat dunia yang dituangkan dituangkan dengan pendirian Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa – Department of Public Information sejak 15 Desember 2006) sebagai Centre for Holistic Health and Meditation sejak tahun 1991.
Love is the Only Solution adalah satu-satunya cara yang digunakan Anand Krishna dalam menyikapi hidup di dunia ini untuk mewujudkan masyarakat yang tercerahkan melalui Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony dalam Satu Bumi, Satu Langit dan Satu Umat Manusia (One Earth One Sky, One Humankind)
“Nalikane Alengka diobong, diobong, diobong” (Saat itu Alengka dibakar, dibakar, dibakar). Lagu rakyat Hanoman Obong gubahan (alm) Ki Narto Sabdo ini begitu populer di kalangan masyarakat pedarakan (perdesaan).
Ibunda Hanoman bernama Anjani, seorang bidadari cantik dari khayangan. Ayahnya ialah Dewa Angin sehingga ia acap kali disebut Putra Bayu. Konon, saat masih bayi, ia pernah menelan matahari karena mirip gulali (permen) kegemarannya. Dengan sekali loncatan, Hanoman mampu terbang melintasi samudera. Sosok ini pula yang seorang diri membumihanguskan Kota Alengka.
Sesampainya di Alengka, Hanoman langsung menuju Taman Argasoka. Ia menemui Dewi Sinta dengan membawa cincin pemberian Rama. Dalam pertemuan itu, Sinta menyerahkan tusuk kondenya sebagai simbol bahwa Sinta tetap setia pada suami tercinta.
Setelah merampungkan misinya, Hanoman sengaja membuat dirinya ditangkap pasukan Dasamuka. Insiden penyusupan itu membuat Rahwana berang. Ia memerintahkan Hanoman dibakar hidup-hidup. Tapi setelah bulunya terbakar, putra Sang Bayu justru kabur dan berlompatan ke sana-ke mari. Ia membakar seisi istana Alengka. Setelah menimbulkan banyak kerusakan, baru Hanoman pulang menghadap Rama.
Dalam buku The Hanuman Factor ini, Anand memaparkan delapan kemampuan Sang Duta, antara lain Hanoman dapat anima (mengecil menjadi seringan partikel atom), mahima (membesar menjadi seukuran alam semesta), laghima (menyala terang-benderang), prapti (berada di banyak tempat pada saat yang bersamaan), prakamya (mewujudkan segala kemauan), dan vasittva (mengendalikan segala situasi) (halaman 140-141).
Dari sudut pandang psikologi mutakhir, kemampuan lebih Hanoman dapat dimaknai secara ilmiah. Anima merupakan keterampilan melepaskan beban stres dan depresi. Praksisnya berupa terapi katarsis (pembersihan jiwa). Akibatnya, badan terasa seringan kapas dan perasaan begitu damai.
Selain itu, prapti bisa dianalogikan dengan membaca buku sebagai kemampuan memahami perkembangan zaman terkini. Dalam bahasa Inggris, book merupakan singkatan dari broad ocean of knowledge (lautan pengetahuan yang luas).
Buku ini juga menyajikan diagram unik. Isinya mengkritik sesat pikir manusia dewasa ini. Pertama ialah kama atau keinginan kuat. Kedua ialah arta, bukan semata harta duniawi, melainkan makna hakiki kehidupan. Ketiga darma alias kebajikan membela kebenaran. Keempat ialah moksa atau kebebasan sejati (halaman 26-27).
Ironisnya, manusia cenderung mengawinkan kama dengan arta. Padahal keduanya linear. Akibatnya, keinginan tunggal melulu mengumpulkan harta menjadi berhala. Begitu pula dengan pasangan darma dan moksa. Kenapa berbuat baik hanya untuk meraih kapling di surga dan menghindari siksa api neraka? Hubungan dengan Tuhan bercorak transaksional. Ibarat keledai, baru berjalan kalau diiming-imingi wortel (carrot) dan diancam pecutan cambuk (stick).
Hanoman menawarkan solusi alternatif. Seyogianya, garis pertemuan diagonal menyilang berkeinginan tunggal meraih kebebasan sejati. Lantas, mengumpulkan harta untuk berbagi dengan kaum hina, dina, dan lemah. Hidup terasa indah tatkala kita mau berbagi dengan tetangga sebelah.
Buku ini merupakan sarana penyadaran akan eksistensi sumber kebijaksanaan hidup. Layaknya Hanoman, ia dapat memotivasi diri sendiri dalam menunaikan tugas. Walaupun sulit, tak seinci pun mundur dari tantangan di depan mata. Sumber yang sama ada dalam diri Anda dan kita semua.
Peresensi adalah T Nugroho Angkasa SPd, Guru Bahasa Inggris SMA Budya Wacana Yogyakarta