I was hurt and I healed myself. I made room to stay, but you prefer to force the pull away. I persevered even though you often tried to tear down the fortifications I built. Until I finally realized, I was sincere to the wrong person. I loved it all the time. I've never really been worth it to you.
Tulus untuk Orang Yang Salah is my second encounter with Boy Candra, and like a haunting love song on the radio, it transports me back to a time and place I thought I had left behind, weeks, months, or even years ago. With its familiar melancholic beauty, this book unravels buried memories and stirs up a whirlwind of emotions, catching me off guard and making me realize that some wounds are not as healed as I thought, leaving me vulnerable to the raw ache of heartbreak once again.
With each word that dances through the pages, I am taken on a rollercoaster of emotions that come with love and heartbreak. Boy Chandra has a way of doing that, transporting me to the depths of my own memories and experiences. His poetic expressions delve deep into the raw, vulnerable emotions of unrequited love, capturing its essence with heart-wrenching precision. His words create an atmosphere that oscillates between fleeting hope and soul-crushing despair, leaving one shattered by the agony of heartbreak.
In short, this book is a masterpiece of emotional expression. Each page is a testament to the beauty and complexity of the human heart and a reminder that no matter how broken we may feel, we are capable of healing and finding love once again. I can't recommend this book enough!
Buku ini berisi kumpulan sajak–sepertinya lebih cocok dibilang senandika (benar tidak, ya?)–yang menceritakan soal perpisahan, kegagalan (belum berhasil, atau bahkan enggan) beralih, atau upaya melanjutkan hari. Ha-ha-ha, aku malah menemukan sindiran yang terlewat realistik ....
Hu-hu-hu, membaca dua buku sajak dengan tema serupa ini berturut-turut membuatku lelah, sungguh menguras energi 😏 Ya, penulis berhasil menyeretku ke dalam tulisan-tulisannya yang cenderung suram. Di sisi lain, aku takjub karena penulis bisa menuliskan satu tema lewat berbagai cara. Terkadang panjang hingga lebih satu halaman. Namun, ada juga yang hanya cukup satu paragraf singkat. Kalau ditanya judul mana yang aku suka, aku bisa bilang Kamu adalah Doa yang Tak Terkabulkan, Kita Jahat, Terjal Perjalanan, Delapan Miliar Manusia, dan Tangga Hidup.
Omong-omong, aku suka ilustrasi hitam putihnya! Ah, sungguh tipe ilustrasi yang sesuai seleraku: tidak perlu banyak warna untuk berhasil menghidupkan pesannya 💕 Ini adalah salah satu buku yang tidak hanya cantik desain sampulnya, tetapi juga menarik ilustrasi di dalamnya.
Nah, kalau kamu sedang ingin merayakan kepedihan patah hati atau putus cinta, atau menikmati ilustrasi sederhana, bolehlah baca buku ini.
Tulus untuk Orang yang Salah • Boy Chandra • Grasindo • 2022 • 148 hlm. • iPusnas
--
Aku lebih suka bertaruh untuk luka baru, daripada membenamkan diri dalam luka dengan kisah yang pernah ada di masa lalu. Hari ini adalah perjalanan yang berisi kemungkinan, kemarin adalah cerita-cerita yang–jika perlu–hanya untuk dikisahkan saja. Bertaruh dalam Luka, hlm. 15
Sejatinya, kamu sedang berbohong. Kamu bohong saat mengatakan aku yang terbaik. Kamu bohong saat memberi harapan kalau jodoh pasti bertemu lagi. Kamu tak pernah menaruhku di posisi terbaik itu. Bagaimana mungkin seorang yang terbaik dilepaskan dengan sengaja? Bukan yang Terbaik, hlm. 16
Barangkali kesakitan yang dirawat yang membuat diri terbenam sesak. Barangkali sedih yang tidak direlakan yang membuat kita terus terjebak pahit ingatan. Mengapa tidak belajar menerima jikalau kalah dan gagal itu hal biasa? Mengapa tidak coba mengerti bahwa diri tidak harus sempurna setiap hari? Ingatan Lebih Sering Mengabadikan Hal Buruk, hlm. 96
"Akhirnya, di dunia ini semuanya biasa saja. Kita akan kehilangan kawan, kekasih, bahkan nyawa kita sendiri. Tak ada yang bisa dipertahankan begitu keras jika memang sudah saatnya terlepas."
Judul: Tulus untuk Orang yang Salah Panduan Usia: 15+ Genre: Romansa Penulis: Boy Candra Penerbit: Grasindo Tebal: 137 halaman Rating: 3.5/5 ⭐️
***
Aku terluka dan kusembuhkan sendiri. Aku memberi ruang untuk tinggal, tetapi kamu lebih memilih memaksa menepi pergi. Aku bertahan meski kamu sering mencoba merobohkan benteng yang kubangun. Hingga akhirnya aku sadar, aku tulus pada orang yang salah. Aku mencintai sepanjang rasa kalah. Aku tidak pernah benar-benar berharga untukmu.
***
Mungkin karena aku membacanya dalam kondisi hidup dan hubungan yang baik-baik saja, kata-katanya kurang begitu mengena. Bisa jadi, orang-orang yang sedang patah hati akan menangis ketika membaca buku ini, karena kata-katanya beresonansi dalam hati.
Namun, harus kuakui bahwa beberapa puisi mengingatkanku pada orang-orang dan masa-masa tertentu yang pernah hadir dalam hidupku. Hal inilah yang membuatku mengambil waktu lebih lama untuk bertahan dalam halaman yang sama, meskipun kata-kata yang ditorehkan di halaman tersebut hanya beberapa kata saja. Tidak begitu panjang.
Aku baru beberapa kali membaca buku puisi dan membaca buku ini cukup membuatku salut kepada Boy Candra. Tidak diperlukan kata-kata elok yang berima. Yang dibutuhkan sebuah puisi hanya kata-kata sederhana yang mudah dimengerti. Bahkan, meskipun kata-kata itu awam, aku tetap saja butuh cukup banyak waktu untuk meresapinya.
Ilustrasi sederhana yang diselipkan di dalam buku ini membuat setiap puisi terasa hidup. Komposisi tulisan dan ilustrasi cukup seimbang, membuat setiap puisi di dalamnya lebih menyenangkan untuk diselami.
Dengan bahasa dan pilihan kata yang lebih membumi, banyak orang dari berbagai latar belakang jadi bisa menikmatinya. Karena bagiku, dan mungkin juga bagi sang penulis, puisi ini harus bisa dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.
Nama Boy Candra mungkin gak asing di telinga para penikmat buku di Indonesia. Aku sendiri udah dengar namanya sejak lama, namun Tulus untuk Orang yang Salah ini adalah buku Boy Candra pertama yang aku baca dan ternyata ini kumpulan puisi.
Aku nggak tahu buku-buku lainnya -yang jumlahnya udah puluhan itu, apakah kumpulan puisi semua atau ada novel juga, yang jelas untuk pengenalan perdana, buku ini asyik juga. Bahasa yang digunakan sangat sederhana, gak bikin jidat mengkerut kayak kebanyakan buku-buku puisi pemenang sayembara.
Di lebih dari 50-an puisi yang termuat di buku ini, tema besarnya yakni cinta.
Mungkin lebih tepatnya cinta-penuh-luka yang dirasakan oleh orang-orang yang hubungan ia dan kekasihnya tak berjalan mulus. Secara umum aku suka ya bukunya, tapi ya memang gak banyak puisinya yang terasa memorable, mungkin juga karena kesamaan isi dari satu puisi ke puisi yang lain.
Untuk menutup celotehan singkat, aku mau mengutip sedikit puisinya yang ini.
* * *
BADUT
Pernah jadi badut untuk seseorang yang kini tertawa bersama yang lain. Kamu datang hanya di waktu senggang. Kamu bersama hanya untuk sementara. Kamu hilang begitu saja setelah memberi bekas perih di dada.
Di suatu masa, pernah berada di titik; setiap bangun pagi rasanya hampa. Berharap bisa tidur lebih panjang. Hari-hari diisi dengan hal-hal yang membuat waktu cepat berlalu. Setiap hari berpikir kapan kematian datang. Sungguh, berada di masa itu adalah hari-hari yang buruk.
Di suatu masa, pernah berusaha terlihat baik-baik saja. Sekeras hati membungkam mulut sendiri. Berusaha melepas tawa di depan banyak orang, lalu sepi sendirian saat malam. Hari-hari berlalu terasa panjang. Pikiran melayang di atap kamar.
Ternyata, tak ada yang perlu dipikir berlebihan di dunia ini. Segala sesuatu yang kuburu hari ini, tak kubawa semua suatu saat nanti. Hidup tak perlu menuruti ukuran orang lain. Tak berguna di mata mereka, tak apa-apa.
Hidup sajalah.
Fokus melakukan pekerjaan yang disenangi. Semoga nanti kebaikan-kebaikan itu datang sebagai bayaran atas kesungguhan hati.
Novel Tulus Untuk Orang yang Salah punya cerita yang simple, tapi maknanya cukup dalam. Bahasanya ringan dan mudah dipahami. Setelah membaca, I think ceritanya cukup relate dengan realita yang mungkin sering terjadi di sekitar kita. Ada beberapa part yang lumayan ngena dan touching karena berhasil menggambarkan perasaan yang kadang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Novel ini bukan hanya tentang cinta atau patah hati, tetapi juga mengingatkan bahwa sebuah hubungan yang sehat itu diperjuangkan dan dibangun oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Terkadang kita terlalu lama bertahan karena merasa perasaan yang kita miliki sudah terlalu besar untuk dilepaskan. Padahal, tidak semua hal harus dipertahankan. Ada saatnya menerima bahwa seseorang memang bukan untuk kita.
Meskipun tidak mudah, namun itu juga bagian dari proses belajar menghargai diri sendiri, karena pada akhirnya hidup tetap berjalan.
Apakah kamu pernah berjuang untuk dia yang mudah menebas hatimu? Apakah saat ini kamu sedang menukar lembutnya hatimu dengan kemilau semu belati darinya?
Jika ya, maka kamu mendapatkan tempat spesial di samping Boy Candra. Buku ini bukan buku yang berat atau "berbobot" karena risalah hati tidak mampu ditimbang menggunakan neraca. Namun, buku ini hadir untuk menepuk bahumu, menguras emosi yang tertahan karena kamu sok kuat dan juga menyisihkan sedikit harapan agar kamu bisa berjalan ke depan.
Karena saya sedang galau maka buku ini saya beri bintang 5. Namun, di saat saya menulis review ini saya sedang waras dan anti galau, jadi bintang 2.
Bacaan sekali duduk. Kategori novelnya sih fiksi tapi menurutku ini lebih ke puisi. Ada beberapa part yang emang nyentuh banget, karena mungkin aku lagi ga berada ditahap patah hati atau sedang merasa disia siakan.
Kalau lagi merasa patah hati, friend zone, dekat doang tapi ga jadian aka hts, di php in, atau segala macam kegalauan lain, mungkin akan merasa isi buku ini bagus karena bisa mendeskripsikan sedikit tentang perasaan kalian dan kemungkinan besar kalian bakal end up sakit hati dan -mungkin- menitikkan air mata
Memaknai karya ini seperti membaca lima tahap penerimaan yang dimungkin dimulai dengan rasa marah lalu melalui lika-liku untuk bisa menyembuhkan rasa luka, pada akhirnya kita mulai dapat menerima bahwa dunia berjalan tidak seperti yang kita inginkan. Puisi ini tak melulu dimaknai sebagai kisah cinta dan patah hati, tapi juga bisa berelasi dengan perasaan dan perjuangan kita pada hidup. Entah kenapa tulisan ini dapat merefleksikan getir yang beberapa hari belakangan kurasakan.
Suka sekali dengan gaya bahasa yang Boy Chandra dalam buku ini. Kita dibawa seperti bercerita dengan diary atau teman kepercayaan. Setiap dari yang disampikan lalu disetujui dalam pikiran, kemudian kembali terjawab di halaman-halaman selanjutnya.
Ga sampai bener-bener selesai sampai halaman terakhir sebenarnya. Karena isinya sangat padat, sesak, seakan menghimpit, akan lebih baik dibaca ketika mood sedang netral. Hehehe.