Buku ini berisi kumpulan sajak–sepertinya lebih cocok dibilang senandika (benar tidak, ya?)–yang menceritakan soal perpisahan, kegagalan (belum berhasil, atau bahkan enggan) beralih, atau upaya melanjutkan hari. Ha-ha-ha, aku malah menemukan sindiran yang terlewat realistik ....
Hu-hu-hu, membaca dua buku sajak dengan tema serupa ini berturut-turut membuatku lelah, sungguh menguras energi 😏 Ya, penulis berhasil menyeretku ke dalam tulisan-tulisannya yang cenderung suram. Di sisi lain, aku takjub karena penulis bisa menuliskan satu tema lewat berbagai cara. Terkadang panjang hingga lebih satu halaman. Namun, ada juga yang hanya cukup satu paragraf singkat. Kalau ditanya judul mana yang aku suka, aku bisa bilang Kamu adalah Doa yang Tak Terkabulkan, Kita Jahat, Terjal Perjalanan, Delapan Miliar Manusia, dan Tangga Hidup.
Omong-omong, aku suka ilustrasi hitam putihnya! Ah, sungguh tipe ilustrasi yang sesuai seleraku: tidak perlu banyak warna untuk berhasil menghidupkan pesannya 💕 Ini adalah salah satu buku yang tidak hanya cantik desain sampulnya, tetapi juga menarik ilustrasi di dalamnya.
Nah, kalau kamu sedang ingin merayakan kepedihan patah hati atau putus cinta, atau menikmati ilustrasi sederhana, bolehlah baca buku ini.
Tulus untuk Orang yang Salah • Boy Chandra • Grasindo • 2022 • 148 hlm. • iPusnas
--
Aku lebih suka bertaruh untuk luka baru, daripada membenamkan diri dalam luka dengan kisah yang pernah ada di masa lalu. Hari ini adalah perjalanan yang berisi kemungkinan, kemarin adalah cerita-cerita yang–jika perlu–hanya untuk dikisahkan saja.
Bertaruh dalam Luka, hlm. 15
Sejatinya, kamu sedang berbohong. Kamu bohong saat mengatakan aku yang terbaik. Kamu bohong saat memberi harapan kalau jodoh pasti bertemu lagi. Kamu tak pernah menaruhku di posisi terbaik itu. Bagaimana mungkin seorang yang terbaik dilepaskan dengan sengaja?
Bukan yang Terbaik, hlm. 16
Barangkali kesakitan yang dirawat yang membuat diri terbenam sesak. Barangkali sedih yang tidak direlakan yang membuat kita terus terjebak pahit ingatan. Mengapa tidak belajar menerima jikalau kalah dan gagal itu hal biasa? Mengapa tidak coba mengerti bahwa diri tidak harus sempurna setiap hari?
Ingatan Lebih Sering Mengabadikan Hal Buruk, hlm. 96