Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perburuan

Rate this book
Novel pendek PAT – ditulis semasa ia di dalam penjara – memaksa kita mengingat-ngingat terus bahwa kebebasan tidak bisa dianggap gampang saja datang dengan sendirinya. Perburuan memiliki segala kewenangan yang sah dari seorang yang mampu bertahan, dan mengandung sebanyak-banyak kebenaran semampu kita menulisnya

Lawrence Thornton , penulis ”Imagining Argentina”

173 pages, Paperback

First published January 1, 1950

78 people are currently reading
1418 people want to read

About the author

Pramoedya Ananta Toer

84 books3,106 followers
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.

Bibliography:
* Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
* Perburuan (The Fugitive) (1950)
* Keluarga Gerilya (1950)
* Bukan Pasarmalam (1951)
* Cerita dari Blora (1952)
* Gulat di Jakarta (1953)
* Korupsi (Corruption) (1954)
* Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954)
* Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)
* Hoakiau di Indonesia (1960)
* Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962)
* The Buru Quartet
o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980)
o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)
o Jejak Langkah (Footsteps) (1985)
o Rumah Kaca (House of Glass) (1988)
* Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)
* Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995)
* Arus Balik (1995)
* Arok Dedes (1999)
* Mangir (1999)
* Larasati (2000)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
260 (27%)
4 stars
341 (36%)
3 stars
254 (27%)
2 stars
59 (6%)
1 star
16 (1%)
Displaying 1 - 30 of 106 reviews
Profile Image for Jim Fonseca.
1,163 reviews8,510 followers
April 15, 2018
A short novel by the classic Indonesian author. Like most of his other work, it focuses on the wars of his country fighting first for independence from the Dutch colonial occupiers, then from the Japanese after their invasion in WW II and then the Dutch again after WW II. (Even today that Dutch connection persists: if you've cruised on Holland America, the ship is staffed by Indonesians; the Netherlands houses 400,000 Indonesian immigrants.)

description

The book is set during the Japanese occupation. Our hero in the book revolted against the Japanese and is now a hunted fugitive disguised as a beggar. So far, he has survived several manhunts but just before the defeat of the Japanese he is captured while visiting his home area. His father and fiancée were being held as hostages pending his capture.

We are told in the introduction that the book is structured as a Javanese shadow-box puppet play. It has a repetitive “negative theme” to each of its four chapters: “No, I will not go home. No, I am not your son, he lies to his elderly father. No, I am not sentimental in still having faith in my childhood friend who betrayed my trust. And no, his fiancée says, I don’t know where the fugitive is.” It takes a bit of patience to stick with this, but it is a short book.

description

Like the author’s other work, including All That is Gone, which I have reviewed, the main theme is the human toll of warfare.

Map from dirkdeklein.net
Photo of the author from smh.com.au
Profile Image for Najibah Bakar.
Author 9 books348 followers
July 15, 2017
Fiksyen berbaur sejarah selalu membuat rasa jadi cair. Apatah lagi kalau yang menulisnya adalah Pramoedya Ananta Toer. Saya selalu tewas oleh fiksyen2nya.

Melihat buku ini sebagai suatu keratan dari zaman Jepun, yang sejarahnya sama2 dikongsi Malaysia dan Indonesia, tetapi dari mata orang Indonesia, memperbaharui ingatan terhadap Sungai Mengalir Lesu.

Yang menarik adalah latar dan watak yang terpilih. Kalau dalam novel Pak Samad (A. Samad Said), ia lebih merupakan gambaran hidup masyarakat di kampung yang dicekam kekejaman Jepun, Pramoedya mengangkat sari kehidupan seorang pejuang militer, yang muda, idealistik, setia, sentimental.

Itu masih ternampak dalam setiap segi kehidupan bangsa, membuat saya terkenang sajak-sajak berapi Rendra (terutama yang dia laungkan dari atas koridor tingkat 1 di Universiti Indonesia: http://www.youtube.com/watch?v=DdwQFo... dan di sebelahnya gaya para penyajak besar Malaysia. Ia membuat saya terkenang reaksi Indonesia mengenai isu curi budaya dan membakar bendera; dan reaksi tanah air kita ini dalam isu-isu serantau tak kira dalam hubungan dengan Indonesia ataupun Singapura.

Betapa sastera itu seperti tangan ghaib yang boleh mengkondisikan sikap bangsa sesebuah negara, saya rasa buku inilah buktinya, apabila dibandingkan dengan Sungai Mengalir Lesu. Pada masa yang sama, sastera juga dikondisikan oleh nurani bangsa.

Dan seperti biasa, buku2 Pramoedya membuat saya mencatat. Alun jiwanya yang terzahir melalui kata-kata, membuat saya mahu mengingat.

"Bapak, manusia tak selamanya menang. Manusia hidup untuk menang dan kemudian manusia hidup untuk kalah atau sebaliknya."

Cara ia menuturkan itu membuat hati jadi basah.

"Orang yang bekerja dalam pemerintahan penindasan termasuk penindas juga. Dalam hal apa pun jua sama saja."

Dan kerana itu Den Hardo itu sanggup minum sahaja air kali, dan makan dari apa yang dianugerah alam secara langsung.

Membaca buku ini terasa mahu jadi muda dan revolusioner sekali lagi, mahu hanyut dalam arus idealisme hingga jadi pertapa.

Walaupun buku ini nipis sekali, banyak untuk dipelajari.
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
December 25, 2023
I'm ashamed to say that the first time I read this book, I gave it only one star. The reason is, that I read the English translation "The Fugitive" first. Somehow in English, this story felt slow and repetitive. I was always annoyed with myself. Why didn’t I like this early work by Pramoedya Ananta Toer? This was his early breakthrough novel which garnered a lot of attention. Why didn't I like it?

Five years later... This year, I decided to read the original Indonesian version and it is so much better. In Indonesian, it doesn't feel slow or redundant at all. The pacing is quite intense and I liked how the story only focused on four different scenes, thus there were only four chapters. I could totally imagine this short novel on stage. It has the right amount of drama and characters to be turned into a play.

This story is set right before the Japanese declare that they have lost the War and just when Sukarno and Hatta declare Indonesia's independence. The protagonist of this story is Hardo. He used to work for the local government, but was dismayed by the Japanese and ran away. He is the fugitive and the Japanese are looking for him. To get away from them, Hardo pretends to be a beggar. It has been six months since he last saw his fiancee Ningsih. At the beginning of the novel, Hardo stumbles upon his would-be father-in-law. Ningsih's father is disgusted that Hardo is walking around like a beggar and wants to trick and capture Hardo in order to get some prize money from the Japanese and also have Ningsih marry someone better. But this plan goes wrong! That's where the drama begins.

Overall, I'm still perplexed by how much of a difference a translation can make. This year, I'm challenging myself to read more books in German and Indonesian and compare it to the English originals/translations. So far, I'm very flabbergasted by what has happened to my reading experience.
48 reviews
May 18, 2013
"Siapa yang bisa menyalahkan? Orang memang sudah biasa dengan keadaannya sendiri. Dan akupun tak bisa menjalankan. Mungkin juga dia benar dan jikalau tak benar untuk umum, pastilah benar untuk dirinya sendiri. Kebiasaan memang sudah jadi nafasnya sendiri, nafas semua manusia juga." (Hal. 93)

"Sentimen atau tidak, itu urusanmu sendiri. Tapi harus kau akui juga, bahwa percintaan mengambil bagian peting dalam hidup manusia." (Hal. 106)

"Manusia hidup untuk menang, kemudian hidup untuk kalah." (Hal. 135)

"...Nasihat memang murah dimana-mana. Tapi yang paling susah adalah menasehati diri sendiri. Dan nasehat pada diri sendiri itulah yang paling manjur." (Hal. 136)

"Barangkali engkau tak pernah berpikir bahwa akibat kejahatan itu lebih cepat dirasai orang yang menerimanya daripada orang yang memberikannya." (Hal. 139)

"Alangkah mahalnya kepercayaan itu. Alangkah susah mendapat kepercayaan dari engkau." (Hal. 149)


*


Menceritakan 'perburuan' Hardo--seorang tentara Indonesia di zaman ketika Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Di sini, 'perburuan' dianalogikan sebagai tujuan kebebasan yang terus dicari mengingat latar novel berlangsung tahun 1945.

Siapa Hardo? Hardo adalah seorang prajurit Indonesia yang berhasil lolos dari tawanan Jepang yang mana saat ini keberadaannya masih diburu pihak Nippon. Bukan tanpa alasan, Jepang masih saja memburunya. Sejauh yang saya tangkap, Hardo ini prajurit cerdik yang selalu bisa lolos dalam cengkraman Jepang. Dari dialog-dialognya bersama tokoh lain, open-minded-nya Hardo juga nampak. Saya masih teringat juga kalau sempat terjingkat saat sadar kalau Den Hardo ini hanya berpakaian cawat yang menutupi kemaluannya. Intinya, Den Hardo sebagai tokoh utama menjiwai 'perburuan'nya sekali-lah.

Cerita dibuka dengan penampakan Hardo sebagai pengemis yang tiba-tiba muncul di rumah keluarganya saat adiknya sunatan. Kemudian, Hardo langsung pergi menuju tempat yang dicarinya--Rumah Ningsih, tunangan terkasihnya dahulu. Nah, dalam perjalanannya inilah Hardo bertemu orang-orang yang dulu dekat dan ada dalam kesehariannya. Membawanya kembali pada Jepang karena ancaman akan meninggalnya Ningsih jika ia tak segera menyerahkan diri.

Ending novel ini 'agak' bikin kaget. Atau sayanya saja yang nangkepnya lambat, yak? Karena ada tragedi klimaks terjadi yang masih bikin saya terheran-heran. Apakah itu? Baca sendiri saja :D


*


Overall, novel ini bercerita pendek dan beralur lambat. Halaman tengah--jujur membuat saya ngantuk. Dialog-dialog yang pak Pram ciptakan tergolong rumit hingga mampu membuat cerita yang berlangsung dua hari ini terasa lama. Atau memang sastra klasik kayak gini, yak?

Meskipun begitu, banyak unsur yang saya suka di sini. Dibanding Max Havelaar yang baru saja saya baca beberapa waktu lalu, kata-kata di buku ini lebih mudah dipahami. Cara Pak Pram bertutur juga menginspirasi. Banyak kosa kata baru yang saya catat. Dari novel ini juga saya akhirnya tahu bagaimana wujud kebengisan Jepang saat menjajah Indonesia.

Ugh. Part itu bener-bener bikin naik pitam! Dan berasa sayang saja karena bagian siksa-penyiksaan-nya mungkin cuma seperdelapan dari buku ini. Sedikit sekali. Yah, mungkin Pak Pram memang ingin menonjolkan sisi pemikiran Hardo dalam perburuannya di sini.

Pertama kali tuntas membaca literatur fiksi Indonesia--setelah beberapa waktu lalu males banget ngelarin Max Havelaar. Pertama kali juga membaca karya penulis tersohor Indonesia yang karyanya tak lekang dimakan usia--Pak Pramoedya Ananta Toer. Yah, intinya saya puas baca buku ini. Tidak mengecewakan :)
Profile Image for Panji.
64 reviews33 followers
April 18, 2019
Pada dasarnya buku ini terbagi dua bagian, seratus halaman pertama kita bagai membaca cerita filsafat ala novel-novel berlatar revolusi Perancis (tapi berlatar Indonesia zaman Jepang). Bagian kedua seputar seputar perburuan itu sendiri ketika sudah masuk perwira Jepang orang-orang yang berkhianat, dan sebagainya.

Buku yang penting, karena mengangkat -sebagaimana buku-buku Pramoedya dikenal- penjajahan, inferioritas, dan bagaimana hal tersebut dapat selalu ditengok kembali karena telah membentuk sebuah bangsa seperti sekarang.
Profile Image for Claire Binkley.
2,268 reviews17 followers
March 25, 2020
I have been fighting with myself for two years over whether I liked this book enough to finish it or not.

I decided today. It is perfectly acceptable literature, even when you identify as a Far East scholar. In fact, it's important when you do such a thing to know about the Indonesian occupation part of history. Japan took over Indonesia for a long time, but you can look it up on Wikipedia yourself, I won't insult you.

This book is basically Encyclopedia Britannica in a more-easily digestible format.

So, honestly, I didn't like it at first, since I didn't understand what was going on, but when I looked into the history a bit more, I understood a bit better and got with the program a little bit more. Maybe you might too.
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
July 30, 2019
Selalu suka dengan cerita sejarah yang dikemas dengan fiksi supaya lebih mudah diterima dan dicerna oleh generasi-generasi baru. Tapi tapi tapi kenapa akhirnya ceritanya mesti seperti itu ya? Kenapa harus Ningsih yang jatuh? Kenapa yang paling setia yang malah menjadi korban? 😭
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for A. Moses Levitt.
193 reviews16 followers
January 12, 2012
Mas Pram menceritakan situasi di zaman Jepang dengan kebijakan2 Jepang membentuk kesatuan2 tentara demi melawan Eropa yang ingin berkuasa lagi di Nusantara. Dengan propagandanya, Jepang berhasil menipu orang Indonesia.

Selain itu, Jepang mendatangkan sejumlah penderitaan pada orang Indonesia. Misalnya Jepang main potong kepala jika orang Indonesia melawan dan tidak patuh--bahkan pada adat nenek moyang Jepang yang bukan adat nenek moyang Indonesia.

Beberapa pemuda Indonesia yang masuk kesatuan tentara, Keibodan dan Shodanco, memberontak dan melakuka serangan, menghasut, dan dengan caranya sendiri mempercepat kekalahan jepang oleh Sekutu. Mereka yang harusnya disebut pahlawan kemerdekaan adalah Hardo, Karmin, Ningsih, Dipo, dan Kartiman.

Akhirnya, menunggu selama 3,5 tahun, Jepang menyerah pada Sekutu. Para pemberontah, Lurah Kaliwangan dan Ningsih yang hendak dipancung oleh Kempeitai, lolos dari maut Jepang. Bendera Hinomaru diturunkan dengan marah dan MerahPutih dikibarkan. Kartiman menebas kepala Sidoku Dono dan Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI.

Membaca Perburuan, sungguh membangkitkan penghormatan pada nenek moyang yang hidup pada masa Jepang. Bagaimana mereka menderita dan bahkan dipancung sia-sia hanya karena Jepang jengkel, sedangkan perempuan2 dijadikan pelacur.

Membaca Perburuan, membuat saya terngiang kembali akan usaha beberapa mantan gadis yang dipaksa Jepang menjadi wanita penghibur. Sudah seharusnya tiap 17 Agustus, Jepang menyatakan secara live permohonan maaf pada RI dan gadis2 yang dijadikan pelacur itu. Mereka juga harus dipulihkan nama baiknya, diganti rugi dan dikenang dalam sejarah Jepang sebagai pahlawan.

Membaca Perburuan membuat saya berjanji tidak akan belajar bahasa Jepang, tidak beli product jepang dan tidak mengagungkan kemajuan Jepang. Mereka sama saja seperti Belanda dan lainnya, membangun negeri di atas tulang belulang orang Indonesia.
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
428 reviews
June 4, 2012
Diburu! Lari! Dikepung! Berpendam diri dalam gua! Hidup sebagai kere/pengemis. Raden Hardo, anak seorang wedana, keturunan Bangsawan, anggota PETA yang desertir bersama Shodanco Dipo, dan beberapa Shodanco lainnya, Shodanco Hardo adalah pejuang yang sangat cinta Indonesia, tekadnya satu: merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Ia rela meninggalkan orang tua, tunangannya; Ningsih, harta dan jabatannya. Karena ia dianggap berkhianat dari PETA, ia menjadi seorang pelarian, hebatnya lagi betapapun giatnya pasukan Seinendan, dan Keibodan mencari dan mengepungnya hingga ke hutan dan pelosok pedalaman tak mampu untuk menemukan dan menangkapnya.

Kisah dengan rentang waktu pada masa penjajahan Jepang hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia, 1945. Berlatar perjuangan dalam merebut kemerdekaan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Shodanco Karmin, Karmin ikut memburu Hardo karena simpatinya yang ia tunjukkan pada Jepang, hal ini tentu menjadikanya sebagai seorang pengkhianat bukan hanya terhadap temannya sendiri; Hardo dan Dipo juga pengkhianat terhadap bangsanya sendiri. Diakhir kisah ada hal yang mengejutkan tentang Ningsih.. dan tentang sikap memaafkan dari dalam diri seorang Hardo.

Perburuan: novel pendek Pramoedya Ananta Toer yang ia tulis ketika didalam penjara, tertera didalam buku: Penjara Bukit Duri, 1949. Istilah Shodanco mengingatkan kita pada Shodanco Supriyadi dan Shodanco Singgih dikehidupan nyata.
25 reviews1 follower
November 6, 2019
Cerita ini dimulai dengan tokoh utama yang bernama Midun, seorang pemuda yang disegani dan disukai oleh orang-orang di kampungnya. Ia merupakan anak sulung seorang petani biasa. Hal itu karena didikan ayahnya yang menjgajarkan hal kebaikan kepada Midun. Sehingga Midun dapat belajar mengaji, sekaligus ilmu silat kepada guru mengajinya, Haji Abbas dan Pendekar Sulatan. Kepandaiannya dalam ilmu bela diri itu tidak menjadikannya sombong dan menang sendiri, sebaliknya ia tetap ramah dan berakhlak baik.
Di salah satu desa di Padang, tempat midun tinggal terdapat kepala desa yang bernama Tuanku Laras, yang mempunyai seorang keponakan bernama Kacak. Merasa mamaknya sebagai kepala desa yang disegani serta tergolong keluarga kaya, Kacak mempunyai sikap yang berkebalikan dengan sikap Midun. Sikapnya yang angkuh dan sombong sungguh tak di sukai orang-orang di kampung itu.
Kacak tak menyukai orang-orang di kampungnya yang menyukai dan memuji tabiat pemuda miskin itu yaitu Midun. Lalu, dicari-carinya kesalahan Midun. Lebih dari itu, Kacak juga mengajaknya berkelahi. Namun dengan sabar Midun berusaha menghindari keributan. Ia meras lebih baik mengalah daripada ribut atau berkelahi yang tidak bermanfaat itu. Namun, kacak yabg mengaggap Midun sebagai musuhnya, justru menyerangnya secara membabi-buta. Berkat ilmu silat yang dimiliki pemuda penyabar itu, serangan-serangan Kacak selalu dapat dihindarinya. Terlalu mudah baginya mematahkan setiap serangan orang yang sudah dirasuk amarah itu.
Penderitaan selama Midun bertemu dengan Kacak terus menerus bertambah. Karena dengkinya Kacak kepada Midun, ia sampai memfitnah midun dan menjebloskannya ke dalam penjara. Kacak senang akhirnya musuhnya di penjara dan dia dapat bebas berbuat semaunya di kampungnya.
Kemudian setelah bebas ia juga mendapat ujian dan penderitaan. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah ia tetap berikhtiar dan bertawakal. Ia juga mencintai gadis yang bernama Halimah dan menikahinya. Sementara itu, karena Midun memperlihatkan prestasi yang baik dalam pekerjaanya, ia diangkat sebagai menteri polisi Tanjuk Priok. Suatu hari, Midun di tugasi untuk menumpas penyelundupan di Medan. Ketika sedang menjalani tugasnya, secara kebetulan, ia bertemu dengan Manjau, adiknya. Midun mendengarkan adiknya bercerita panjang lebar tentang kampung dan keluarganya.
Sekembalinya dari Medan, ia mengajukan permohonan kepada Hoofdcommissaris agar tugasnya di pindahkan ke kampung halamannya dan permohonan itu dikabulkan. Bahkan di tempat tugasnya yang baru, Midun diberi jabatan sebagai Asisten Demang. Kacak yang sekarng menjadi penghulu kampung, menjadi ketakutan dan serba salah ketika mengetahui Midun kembali ke kampungnya dan membawa jabatan sebagai Asisten Demang. Tidak lama setelah itu, Kacak dijebloskan ke penjara di Padang karena telah menggelapkan uang negara. Akhir dari cerita ini yaitu penderitaan Midun berakhir dan Midun hidup bahagia bersama keluarganya.
Tulis Sutan Sati adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka. Beliau lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi dan meninggal zaman Jepang pada tahun 1942. Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair. Tulis Sutan Sati pernah menjadi guru. Kemampuan mengarangnya kian terasah ketika ia menjadi salah satu redaktur di penerbitan, yang pada masa itu milik Belanda. Nama penerbitan tersebut adalah Balai Pustaka. Sutan Sati merasakan masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang sehingga ada karya-karyanya tentang penderitaan dan susahnya hidup seperti novel ini.
Karya-karyanya yang asli berbentuk roman adalah Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tidak Tahu Membalas Guna (1932), Tak Disangka (1932), dan Memutuskan Pertalian (1932), sedangkan karya-karya sadurannya dalam bentuk syair adalah Siti Marhumah Yang Saleh (saduran dari cerita Hasanah yang saleh), Syair Rosina (saduran tentang hal yang sebenarnya terjadi di Betawi pada abad lampau), Sabai nan Aluih (saduran dari sebuah kaba Minangkabau dalam bentuk prosa beriman).
Walaupun merupakan sastra lama, cerita yang tersaji begitu memikat para pecinta sastra sehingga tak mengherankan jika novel ini mengalami cetak ulang yang kedua puluh pada tahun 2010. Novel ini adalah salah satu karya sastra yang memperkaya horison sastra Indonesia pada zamannya.
Novel ini penggambaran cerita dengan suasana adat yang membuka mata pembaca untuk melihat kehidupan Minangkabau. Seperti pada angkatan Balai Pustaka yang sastrawannya banyak menceritakan adat Minangkabau, karena berasal dari Sumatera. Gambaran pengembaraan yang diceritakan cukup realistis serta tidak terpaku di wilayah Sumatra saja namun juga sampai ke pulau Jawa. Novel ini merupakan sastra melayu dengan bahasa kuno sehingga sulit dipahami. Kalimat terlalu dilebih-lebihkan seperti majas dalam puisi. Banyak kalimat yang tak sesuai EYD dan kata-kata tak lazim digunakan. Sepasi antar paragraf pun terlalu kecil membuat sedikit pusing apabila dibaca. Alurnya biasa namun konsisten dengan cerita kehidupan sehari-hari sehinga mudah ditebak oleh pembaca.
Tema yang terdapat dalam novel tersebut sudah tergambar pada judulnya “Sengsara Membawa Nikmat” yaitu tentang perjuangan pemuda yang baik (Midun) yang berasal dari keluarga sederhana di kampung Minangkabau untuk merubah nasibnya yang penuh dengan kesengsaraan dalam menjalani hidupnya, hingga akhirnya sebuah kenikmatan dan kebahagiaan dicapainya.
Alur dalam novel ini menggunakan alur maju atau progresif. Hal yang dapat diteladani setelah membaca novel Sengsara Membawa Nikmat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah sabar menghadapi ujian, karena setiap orang tak terlepas dari cobaan dan musibah yang telah Allah SWT. berikan kepada manusia untuk menjadikannya bersyukur dan ikhlas menerima apa yang telah diberikan-Nya serta untuk lebih mendekatkan kepada-Nya. Kita sudah seharusnya seperti tokoh Midun, ketika diberi ujian tidak langsung menyerah dan berhenti mencoba, mencoba mencari pekerjaan, mencoba berbuat kebaikan dan mencoba untuk memulai. Dan sebagai manusia kita harus yakin bahwa di setiap ujian yang menimpa pada diri kita pasti akan ada pelajaran yang dapat dituai serta akan ada kebahagiaan setelahnya. Sebagai manusia kita tak boleh seperti Kacak yang sombong, angkuh, tamak, ingin menang sendiri dan lainnya agar kita disukai dan disegani orang lain.
Profile Image for Rhys.
Author 326 books320 followers
September 23, 2024
A remarkable novel by a writer I only discovered a couple of months ago. This is the first Indonesian work of literature that I have read. I found it to be fascinating and compelling. The novel was Toer's first and is set at the end of the Japanese occupation of Indonesia. There are four long chapters that resemble acts in a play. There is a small cast of characters who interact, who ponder and present dilemmas of conscience and determination. The story is about loyalty, betrayal, redemption, liberation and tragedy. I am definitely planning to read more of Toer's work.
Profile Image for Tom.
121 reviews8 followers
March 31, 2020
I bought this book a few years ago when it was on sale (3 books for $6). Only recently I decided to read it and I could not put it down. Ananta Toer’s pace and drama had me riveted. As I read the book Ingot the sense that this could be a play, and I think another reviewer mentioned that this was the author’s intent. The author’s imagery involving the moon really engaged me and I felt the solitary and desolate despair of Hardo and ultimately the Indonesian people.

My own lack of knowledge of this part of history hampered my truly appreciating this work.But I am glad I read it.
Profile Image for Imam Hidayah.
Author 2 books1 follower
July 20, 2007
"Tetapi, orang tak bisa berkhianat selamanya dan dalam segala hal. Bisakah engkau jahat dalam segala hal?"

Hardo, dalam Perburuan - Pram.
Profile Image for SueEllen.
44 reviews5 followers
August 19, 2007
this book got me started on the Javanese writer Toer and since then there's been no turning back. an amazing story that weaves colonial politics and romance very beautifully. read it.
Profile Image for S.
13 reviews3 followers
February 26, 2020
Beautifully heartbreaking. Reminded me of Zahir Raihan. This book will make me think for many, many days to come.
Profile Image for Riska Widia.
18 reviews1 follower
November 10, 2019
Mengisahkan seorang anak wedana yang bernama Hardo, yang hidup pada masa pemerintahan Jepang. Dulu, ia adalah seorang tentara Seinendan, namun ia menjadi buronan Jepang sebab pemberontakan yang ia lakukan terhadap Jepang. Cacat fisik pada tubuhnya yang bercirikan panjang tangan kanan melebihi tangan kiri menjadikan ciri khas dalam proses pencariannya. Selama diburu oleh Jepang ia menjadi seorang kere, yaitu gelandangan yang selalu berjalan menyusuri Jakarta untuk menghilangkan jejak dari Jepang. Semenjak ia menjadi buronan Jepang ayahnya yang menjabat sebagai wedana Karangjati dipecat bahkan kedua orang tuanya disuruh untuk mencari dan mengepung anaknya sendiri untuk dibantai. Informasi tersebut ia dapat ketika tanpa sengaja Hardo bertemu dengan ayahnya di sebuah gubuk di tengah sawah. Pada saat itu Hardo sedang beristirahat dan ayahnya lari dari gropyokan judi. Pada saat itu pula ayahnya bercerita bahwa ia telah dipecat dan ibunya telah meninggal dalam perjalanan mencarinya sebab tidak kuat menahan sakit dan beban yang dipikulnya. Ayahnya merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan Hardo dan ia sangat yakin bahwa kere yang ia ajak bicara itu memang benar Hardo. Akan tetapi Hardo tidak mau mengatakan dirinya yang sebenarnya dan ia mengatakan kepada ayahnya bahwa ia bukanlah Hardo melainkan kawan anaknya, bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak akan menceritakan dimana Hardo berada. Ternyata pertemuan Hardo dengan ayahnya tercium oleh Jepang sehingga penggeropyokan kembali terjadi di gubuk tersebut saat ayah Hardo sedang membakar jagung untuknya, untung Hardo sudah lari menyelamatkan diri terlebih dahulu ketika sirene tanda penggeropyokan itu berbunyi. Jepang mendapat informasi keberadaan Hardo dari lurah Karangjati, ayah dari tunangannya yang bernama Ningsih. Sebelum ia bertemu dengan ayahnya, ia bertemu dengan ayah Ningsih dan merayunya agar kembali pulang, namun Hardo tidak mau dan mengatakan akan kembali apabila Jepang menyerah. Ia merasa bahwa lurah tersebut akan berkhianat kepadanya dan memberikan informasi tentang keberadaannya.

Semenjak pengropyokkan di gubuk tengah sawah, ayahnya diintrogasi dan ditangkap oleh Jepang. Akan tetapi ia tidak terbukti bersalah, sehingga Jepang meminta pertanggungjawaban atas informasi yang diberikan oleh si lurah dan membuatnya ikut terseret dalam kasus perburuan Hardo. Ia pun babak belur dihajar oleh tentara Jepang atas kesalahan informasi dan terus dimintai keterangan tentang keberadaan Hardo. Tanpa berpikir panjang ia turut menyebutkan anak semata wayangnya yang bernama Ningsih sebagai kekasih Raden Hardo. Jepangpun memberikan mandat kepada scodanco Karmin untuk menangkap dan mengintograsi Ningsih. Karmin adalah sahabat Hardo yang lolos dari perburuan dan telah berkhianat kepada kawan-kawannya yaitu Hardo, Dipo, dan Kartiman. Ia juga yang menyebabkan kawan-kawannya menjadi buronan meski ia tidak pernah mengatakan dimana kawan-kawannya itu berada.

Setelah diintrograsi Ningsih pun dibawa oleh Jepang dan hendak ditahan bersama ayahnya sebelum Hardo menyerahkan diri. Kabar kekalahan Jepang terhadap sekutu menggemparkan keadaan dan membuat panik tentara Jepang. Terlebih lagi Hardo, Dipo, dan Kartiman datang sehingga Ningsih beserta ayahnya terselamatkan. Namun sayang dada Ningsih tertembak oleh tentara Jepang ketika Hardo hendak menemuinya.
Pramoedya Ananta Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925. Beliau merupakan seorang putera Jawa yang pertama berhasil baik pada bidang prosa dalam kesusasteraan Indonesia moden selepas peperangan dunia yang kedua. Beliau juga ialah seorang daripada Angkatan ’45. Beliau juga merupakan tokoh yang kuat dari Angkatan ’45.
Pada tahun 1949, Novel Perburuan menceritakan tentang zaman penjajahan Jepang. Manusia adalah kata kunci dalam karya-karya Pramoedya. HB. Jasin (1985:108) berpendapat bahwa Sejak awal minat kepengarangannya, Pramoedya selalu tidak kehilangan kepercayaan kepada manusia. Manusia adalah sumber kejahatan, tapi sumber kebaikan. Inilah latar belakang jiwanya dalam menghadapi keganasan, ketidak adilan dan ketololan manusia. Pendapat yang sama dilontarkan oleh Kurniawan (2002: 12) baha dengan latar belakang sejarah Indonesia yang diwarnai feodalisme Jawa, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, maupun kemerdekaan dalam karya-karyanya, Pramoedya seringkali mengkonfrontasikan prinsip kerakyatan dan kemanusiaannya dengan sikap kesewenang-wenangan dan penindasan.



Profile Image for Puspa.
168 reviews2 followers
August 11, 2020
Kehadiran tentara Jepang mengusir para penjajah Belanda itu sebelumnya disambut gembira oleh seluruh nusantara. Ramalan Joyoboyo terbukti. Nusantara diselamatkan para kulit kuning yang kemudian akan akan tinggal seumur jagung. Namun hingga tiga bulan para tentara Jepang itu tak menunjukkan gelagat akan pergi dan memberikan janji kemerdekaan. Bahkan, kekejamannya melebihi kependudukan Belanda. Hal inilah yang membuat PETA, pasukan yang terdiri dari warga pribumi yang dibentuk oleh Jepang memberontak. Sayangnya, pemberontakan itu gagal karena adanya pengkhianat. Hardo, salah satu pemimpin pergerakan tersebut pun diburu dan menjadi penjahat nomor satu. Namun, hingga enam bulan ia tak kunjung berhasil ditangkap.

Ramli yang telah dikhitan tidak ingin minta hadiah apa-apa ke kedua orang tuanya. Ayahnya yang seorang Lurah Kaliwangan mengadakan pesta dengan menggelar pertunjukan wayang pada malam harinya dan ibunya menawarkan berbagai hadiah kepadanya. Ramli tidak minta apa-apa. Ia hanya ingin Den Hardo kembali, pulang dengan selamat. Orang tuanya, terutama ayahnya kebingungan dan juga sewot. Calon menantunya itu telah membuat kegemparan di desanya. Dan permintaan putranya aneh-aneh saja. Jika Hardo pulang ke rumahnya, maka Nipon akan menyerang rumahnya dan menuduhnya berkomplot dengan pengkhianat. Bisa-bisa ia dan keluarganya mati di ujung samurai atau bayolnet.

Saat itu ada beberapa pengemis atau kere (kaum miskin) yang berkerubung di depan rumah berharap sedekah atau makanan. Di antara para kere tersebut, ada satu kere yang berbeda. Penampilannya sama memprihatinkannya dengan kere lainnya,hanya menggunakan cawat dan tulang yang terbungkus kulit saja. Namun, ia tidak meminta-minta, hanya diam. Dan sorotan matanya membuat Ramli bertanya-tanya. Apakah kere itu mas Hardo?

Ia merengek-rengek ke orang tuanya untuk mencari kere yang mirip Den Hardo tersebut. Kere itu telah pergi ketika ayahnya menghampirinya. Dan akhirnya ayahnya berhasil menemukannya.

Tidak mudah membujuk kere tersebut untuk tinggal di rumahnya untuk menemui anaknya. Bujuk rayu pakaian dan uang tidak berhasil membuat kere itu tertarik untuk mengikutinya ke rumah. Ia hanya tertarik dengan info Ningsih, puteri Lurah tersebut yang tinggal di kota dan bekerja sebagai guru. Gadis itu adalah tunangannya dan sampai saat ini ia masih mencintainya.

Kere menolak tawaran Pak Lurah dan hanya berkata ia akan kembali jika Jepang kalah. Ketika Pak Lurah mendesak akan kemana dirinya, ia hanya menjawab menuju bintang.

Berita kehadiran kere itu kemudian tersebar luas. Nipon sangat bernafsu menangkapnya sehingga menangkap dan mengancam orang-orang yang diduga terkait dengan Hardo. Hingga ancaman itu kemudian mendekati Ningsih, gadis yang paling dicintai Hardo.

Ritme perburuan ini di awal-awal buku sangatlah lambat. Penulis agak pelit membocorkan karakter kere cerdas di bagian awal. Tapi setelah melalui sepertiga buku, konflik di buku ini mulai menaik dengan munculnya karakter pengkhianat yang tak terduga yang kemudian mengancam keselamatan Hardo dan para orang yang dikasihinya.

Tokoh kere di sini digambarkan amat tangkas. Saat awal perburuan setelah aksi pemberontakannya gagal, ia berhasil lolos setelah dikepung sekitar 4 ribu tentara Jepang plus penduduk. Ia berlari menghindari tangkapan dengan bersembunyi di alang-alang atau di sebuah gua yang angker dan mengandalkan makanan hanya yang didapatnya dari alam.

Sedangkan tokoh Nipon di kisah ini digambarkan sangat kejam. Mereka membunuh seluruh pemberontak yang tertangkap dengan sadis. Dan mereka sangat senang mengancam para rakyat yang lemah. Ayah ibu Hardo dipaksa untuk ikut di aksi pengepungan putranya. Dan ibu Hardo yang sedang sakit dan sangat sedih melihat nasib anaknya, tak lama kemudian dikebumikan. Ayahnya dipecat dari jabatannya sebagai wedana dan kemudian menjadi penjudi karena merasa kehilangan pegangan setelah kematian istri dan kehilangan putranya.

Tidak ada penjajahan di bumi nusantara yang menyejahterakan penduduk. Dijajah Belanda, kemudian disiksa Jepang sangat menyakitkan. Namun yang paling menyedihkan ketika seseorang yang kita kenal menusuk kita dari belakang, dengan alasan harta atau kedudukan.

Ulasan juga tayang di: https://dewipuspasari.net/2014/07/03/...
Profile Image for Elvin.
20 reviews3 followers
December 3, 2019
Cerpen ini mengisahkan keadaan keluarga pada zaman penajajahan dulu,
seorang anak wedana yang bernama Hardo, yang hidup pada masa pemerintahan Jepang. Dulu, ia adalah seorang tentara Seinendan, namun ia menjadi buronan Jepang sebab pemberontakan yang ia lakukan terhadap Jepang. Cacat  fisik pada tubuhnya yang bercirikan panjang tangan kanan melebihi tangan kiri menjadikan ciri khas dalam proses pencariannya. Selama diburu oleh Jepang ia menjadi seorang kere, yaitu gelandangan yang selalu berjalan menyusuri Jakarta untuk menghilangkan jejak dari Jepang. Semenjak ia menjadi buronan Jepang ayahnya yang menjabat sebagai wedana Karangjati dipecat bahkan kedua orang tuanya disuruh untuk mencari dan mengepung anaknya sendiri untuk dibantai. Informasi tersebut ia dapat ketika tanpa sengaja Hardo bertemu dengan ayahnya di sebuah gubuk di tengah sawah. Pada saat itu Hardo sedang beristirahat dan ayahnya lari dari gropyokan judi. Pada saat itu pula ayahnya bercerita bahwa ia telah dipecat dan ibunya telah meninggal dalam perjalanan mencarinya sebab tidak kuat menahan sakit dan beban yang dipikulnya. Ayahnya merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan Hardo dan ia sangat yakin bahwa kere yang ia ajak bicara itu memang benar Hardo. Akan tetapi Hardo tidak mau mengatakan dirinya yang sebenarnya dan ia mengatakan kepada ayahnya bahwa ia bukanlah Hardo melainkan kawan anaknya, bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak akan menceritakan dimana Hardo berada. Ternyata pertemuan Hardo dengan ayahnya tercium oleh Jepang sehingga penggeropyokan kembali terjadi di gubuk tersebut saat ayah Hardo sedang membakar jagung untuknya, untung Hardo sudah lari menyelamatkan diri terlebih dahulu ketika sirene tanda penggeropyokan itu berbunyi. Jepang mendapat informasi keberadaan Hardo dari lurah Karangjati, ayah dari tunangannya yang bernama Ningsih. Sebelum ia bertemu dengan ayahnya, ia bertemu dengan ayah Ningsih dan merayunya agar kembali pulang, namun Hardo tidak mau dan mengatakan akan kembali apabila Jepang menyerah. Ia merasa bahwa lurah tersebut akan berkhianat kepadanya dan memberikan informasi tentang keberadaannya.


Semenjak pengropyokkan di gubuk tengah sawah, ayahnya diintrogasi dan ditangkap oleh Jepang. Akan tetapi ia tidak terbukti bersalah, sehingga Jepang meminta pertanggungjawaban atas informasi yang diberikan oleh si lurah dan membuatnya ikut terseret dalam kasus perburuan Hardo. Ia pun babak belur dihajar oleh tentara Jepang atas kesalahan informasi dan terus dimintai keterangan tentang keberadaan Hardo. Tanpa berpikir panjang ia turut menyebutkan anak semata wayangnya yang bernama Ningsih sebagai kekasih Raden Hardo. Jepangpun memberikan mandat kepada scodanco Karmin  untuk menangkap dan mengintograsi Ningsih. Karmin adalah sahabat Hardo yang lolos dari perburuan dan telah berkhianat kepada kawan-kawannya yaitu Hardo, Dipo, dan Kartiman. Ia juga yang menyebabkan kawan-kawannya menjadi buronan meski ia tidak pernah mengatakan dimana kawan-kawannya itu berada.


Setelah diintrograsi Ningsih pun dibawa  oleh Jepang dan hendak ditahan bersama ayahnya sebelum Hardo menyerahkan diri. Kabar kekalahan Jepang terhadap sekutu menggemparkan keadaan dan membuat panik tentara Jepang. Terlebih lagi Hardo, Dipo, dan Kartiman datang sehingga Ningsih beserta ayahnya terselamatkan. Namun sayang dada Ningsih tertembak oleh tentara Jepang ketika Hardo hendak menemuinya.
Profile Image for Eko Ramadhan.
20 reviews1 follower
November 26, 2019
Hardo mempunyai kekasih bernama Ningsih, dan seorang teman baik seorang Karmin. Karmin masih di ketentaraan Jepang dan di mata masyarakat dia adalah seorang penghianat bangsa. Ia menghianati teman-temannya yang menjadi pelarian dan menyamar menjadi para gelandangan (Kere). Sekalipun Hardo menjadi seorang fugitive atau pelarian tapi ia dicintai oleh rakyat, seluruh rakyat mengagumi Hardo, seorang anak bangsawan yang mau menderita dan lari dari kemewahannya untuk berjuang demi sebuah idealisme.Sementara Karmin, yang juga mencintai Ningsih, ternyata tidak mampu berbuat seperti Hardo. Ia bahkan membujuk Ningsih, untuk menyerahkan Hardo.Dai Nipon menekan calon mertua Hardo untuk menyerahkan Hardo, sehingga sang ayah, yang sangat tertekan dan juga seorang penjilat, mau susah payah mencari Hardo yang telah menjadi seorang ‘kere’ (gelandangan) dan membujuknya untuk kembali, menyerahkan diri.Ningsih, setia kepada Hardo, meskipun juga dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang nasib Hardo. Dia sangat marah pada Karmin karena mencoba membujuknya untuk meninggalkan Hardo, dan sangat terkejut karena ayahnya ternyata juga menjadi antek-antek Nipon.Di akhir cerita, keadaan masyarakat yang miskin akibat penjajahan Belanda sangat menderita. Dimana-mana terjadi busung lapar, ketelanjangan, kemelaratan, penggambaran kemiskinan sangat jelas terlihat. Seorang Hardo terpaksa harus bersembunyi dari kebun ke kebun, lari di pematang2 sawah dan perkebunan tebu…dari kejaran tentara Dai Nipon yang bengis. Terpaksa meninggalkan keluarga dan kekasih yang disayanginya. Sementara, penguasa, Dai Nipon, tidak pernah mampu menangkap Hardo dan sangat kesal akan hal itu akhirnya mereka menekan bapaknya Ningsih, tipikal orang penakut dan penjilat. Akhirnya, pada saat Indonesia merdeka, di saat sadar bahwa Indonesia merdeka, keadaan berbalik bagi Karmin dan Dai Nipon. Rakyat yang ingin mengadili mereka, dan ingin membunuh mereka, kemudian dihalang-halangi oleh Hardo. Namun tragis, di saat perjuangan sudah mencapai titik kemenangan, ia harus kehilangan kekasihnya di depan mata karena tembakan peluru serdadu Dai Nipon… Alur cerita yang dinamis, ditambah dengan bumbu-bumbu romantisme (revolusioner-romantisme) menjadikan novel ini menarik untuk dibaca. Seorang Hardo, dengan idealismenya untuk kemerdekaan bangsa, melawan tentara Dai Nipon yang berkuasa, lari dari keluarganya, mengorbankan ayahnya, mengorbankan kekasihnya, mengorbankan kehidupan mapannya, untuk sebuah cita-cita….meskipun cita-cita yang akhirnya didapatkannya harus berakhir juga dengan memakan korban orang yang ia cintai.
.
hubungan antara judul denga isi adalah sangat sesuai. karena dalam isi novel tersebut menjelaskan semua hal yang terkandung dalam judul.
.
pendekatan yang digunakan dalam menganalisis novel ini adalah ekspresif. karena peristiwa yang dialami oleh tokoh dalam cerita tersebut benar-benar dialami oleh si penulis. namun, terjadi beberapa perubahan sehingga tidak sama persis dengan kenyataannya.
23 reviews
November 6, 2019
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925. Ia adalah salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Novel Perburuan ini adalah novel pertama yang dikarang oleh Pramoedya. Di Angkatan 45 terbagi menjadi dua sastrawan yaitu yang pro dan kontra mengenai penamaan angkatan, Pramoedya termasuk sastrawan yang pro.
Bahasa yang digunakan sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari, namun masih ada beberapa kosa kata asing Jepang yang digunakan dan mungkin karena pengaruh tema yang diangkat Pramoedya, tidak memperhatikan aturan-aturan dalam bahasa, kalimat-kalimatnya pekat, padat penuh isi. Sedangkan pada angkatan Balai Pustaka banyak menggunakan bahasa Melayu disertai dengan kata-kata roman.
Tema yang diangkat Pramoedya dalam novel Perburuan ini adalah perjuangan dan roman, sudah berbeda dengan angkatan sebelum-sebelumnya, tidak berfokus pada romannya saja, ada romannya, tapi tidak terus-terusan dibahas, novel ini lebih menceritakan perjuangan Hardo yang ingin melawan Jepang, dan kecerdikannya dalam berbicara, kalau pada angkatan Balai Pustaka, contohnya pada novel Siti Nurbaya, hanya fokus pada cinta-cintaannya, dan konflik adat yang membelenggu.
Novel ini juga khas dari novel-novel angkatan sebelumnya, selain tema dan bahasa yang sudah berbeda, alur yang disajikan Pramoedya juga terkesan lambat, menjelaskan sangat banyak namun hanya satu intinya, seperti pada saat calon ayah mertua Hardo yang membujuk Hardo agar mau pulang namun siasatnya untuk menangkapnya, mulai dari merayu tentang adiknya yang sedang disunat, tentang ayahnya, tunangannya, sawahnya, namun tetap saja jawaban Hardo tidak. Hal ini dapat kita ketahui bahwa calon ayah mertua Hardo pantang menyerah untuk merayu Hardo, dan Hardo sendiri yang cerdik dalam mengelabuinya, sekaligus teguh pendirian, tidak termakan rayuannya.
Isi cerita dalam novel Perburuan juga sudah bersifat realistis, karena menggambarkan tokoh Hardo yang diburu Jepang, memang kejadiannya benar-benar terjadi, bukan fiksi. Selain itu juga bersifat naturalis, kritis, terkadang sinis dan berjiwa revolusioner, sifat-sifat ini tercermin pada tokoh-tokoh yang ada pada novel Perburuan, khususnya tokoh utamanya.
Gaya Pramoedya dalam menciptakan karya sastra, seperti novel Perburuan ini, lebih bebas dan berani dalam mengungkapkan ide dan gagasannya, tercermin pada tokoh Hardo yang cerdik dalam berpendapat, mengelabui lawannya yang hendak menipunya.
19 reviews1 follower
Read
November 19, 2019
Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer ini lahir pada Angkatan `45. Sastra ini berbentuk novel dengan karakteristik sesuai dengan karakteristik Angkatan ’45.umumnya, karya sastra yang muncul pada angkatan ini berbentuk novel, puisi, cerpen dan sajak. Seperti halnya Perburuan yang berbentuk novel.
Karakteristik kedua karya sastra angkatan `45 adalah bergaya realistis, naturalis, dan aliran realistis-romanis. Pada Novel Perburuan ini juga bergaya realistis, seperti yang terjadi pada kehidupan kala itu. Pada saat itu Indonesia memang baru saja dijajah oleh Jepang dan rakyat pribumi harus tunduk kepada Jepang serta rakyat Indonesia juga banyak yang menjadi anggota organisasi bentukan Jepang. Diceritakan pada novel tersebut bahwa Hardo merupakan bekas seinendan. Seinendan merupakan organisasi pemuda bentukan tentara Jepang. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang menyebutkan jika karya sastra bergaya realistis sesuai dengan kenyataan pada masa itu.
Karakteristik selanjutnya adalah bahasa yang digunakan dalam novel Perburuan adalah bahasa Indonesia sederhana, maksudnya bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari dimana dalam menggunakan bahasa tidak memperhatikan aturan-aturan dalam bahasa bahkan bentuk bahasa harus tunduk pada isi, kalimat-kalimatnya pekat, padat, dan penuh isi. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik periodisasi 1945 atau angkatan ’45 bahwa karya pada saat itu menggunakan bahasa yang sederhana. Contohnya seperti kutipan berikut “Penjudi itu menggeleng-gelengkan kepala, dan lutut serta seluruh badannya turut bergoyang-goyang...” (halaman 45). Dari kutipan tersebut bisa dilihat jika bahasa yang digunakan memang sederhana dan mudah dipahami sesuai dengan yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Tema yang dipakai dalam novel Angkatan’45 adalah tentang perjuangan. Dalam novel ini, menceritakan seorang pemuda bernama Hardo yang menjadi buronan Jepang karena dianggap berkhainat. Namun Hardo enggan menyerahkan diri sebelum Jepang kalah. Hal ini menunjukkan semangat kebangsaan oleh tokoh yang digambarkan pengarang dan sesuai dengan karakteristik yang telah disebutkan diatas.
Dalam novel ini juga terdapat hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik oleh pembaca. pelajaran yang bisa diambil dalam novel tersebut adalah sebagai kaum muda sudah sepantasnya untuk memiliki semangat dan rasa nasionalisme yang tinggi akan negara Indonesia. Hal ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran golongan muda saat ini yang mana semangat nasionalisme dan patriotisme sudah mulai luntur.
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
September 9, 2021
Novel pendek ini bercerita tentang Hardo, seorang mantan anggota PETA yang ingin melakukan pemberontakkan tetapi gagal dan malah diburu oleh tentara jepang sebab ada rekannya berkhianat, berlatar pada masa kolonial Jepang tepatnya sebelum proklamasi kemerdekaan membuat pembaca merasa bagaimana tegang dan takutnya ketika diburu dan dicari-cari oleh tentara jepang.

Novel ini bisa dibilang lebih menggambarkan suasana kekejaman dan penindasan yang dilakukan oleh jepang, hal ini tergambar dari bentuk struktur penindasan yang dibuat oleh pram dan terbagi menjadi 3, yaitu penindas (jepang itu sendiri), pejabat lokal yang mendukung atau tunduk kepada jepang (priyayi) dan terakhir sosok tertindas yakni orang-orang pribumi. Alhasil dari penggambaran ini pembaca bisa merasa betapa kejamnya tertindas, sakitnya dikhianati dan pentingnya memperjuangkan suatu kemerdekaan.

Membaca karya pram di masa-masa awal memang tidaklah mudah, sebab dari gaya penulisan cenderung piawai dalam menggunakan kata-kata, meskipun terbilang puitis atau sastrawi tapi agaknya sulit untuk dimengerti apalagi ketika membaca di bab pertama, namun seterusnya kiranya akan terbiasa. Dalam mendeskripsikan setting adegan pun sangat detail yang membuat narasinya begitu panjang tapi tidak masalah karena dibumbui dengan berbagai macam metafora jadi terkesan indah dan keren.

Yang saya suka dari novel ini selain dari gaya penulisan yang indah adalah pada bab ketika hardo bertemu seorang penjudi di sebuah gubuk kecil dekat ladang jagung dan terjadilah percakapan panjang diikuti dengan saling mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban yang diberikan pun begitu filosofis.

Kalau hal yang tidak disukai menurut saya mungkin tidak diberikannya tanda petik saat dialog antar tokoh sangatlah menggangu diawal jadinya bingung sendiri, namun lama kelamaan terbiasa juga.

Akhir kata buku ini kiranya patut dibaca bagi siapa saja yang menyukai karya-karya pram dan genre fiksi sejarah. Walau realitanya sangat susah mencari buku ini karena tidak diproduksi kembali. Saya pribadi mendapatkan buku ini di toko buku bekas secara daring dengan harga yang cukup menguras isi dompet tapi sepadanlah karena bisa dapat buku langka ini. Dan sialnya pada saat membaca ada bagian kertas yang terlepas dikarenakan lem yang sudah tiada begitu rekat dan mungkin juga faktor usia, sungguh menyebalkan.
30 reviews1 follower
November 5, 2019
Novel ini merupakan novel yang terbit pada tahun 50-an dimana pada masa tersebut memiliki kondisi sastra yang sangat buruk. Karena terlepas dari angkatan 45-an yang merupakan angkatan kemerdekaan yang memperjuangkan perkembangan sastra dengan mengorbankan banyak hal. Lalu pada masa ini ditandai dengan kesimpangsiuran perkembangan sastra, serta adanya krisis sastra yang terbagi dengan 2 kelompok, yaitu kelompok pro dengan adanya impasse dan kelompok yang kontra dengan impasse.
Karakteristik yang dapat dilihat dari angkatan ini adalah tema yang diangkat adalah tema dengan kehidupan sehari-hari seperti masalah kebudayaan juga. Maka dari itu, hampir memiliki karakteristik yang sama dengan angkatan 45-an, karena pada dasarnya angkatan ini merupakan lanjutan dari angkatan 45-an dengan konflik yang luar biasa membuat perkembangan sastra menjadi terganggu. Para sastrawan umumnya tidak berguru pada pengarang asing melainkan berguru pada pengarang asli Indonesia, hal ini juga menjadi ciri dari angkatan 50 an karena pada periode sebelumnya beberapa sastrawan menggunakan pedoman pada sastrawan dari luar negeri sebagai tolah ukur dari kemampuan mereka. Terkadang juga menerjemahkan hasil karya orang lain untuk dijadikan sebagai salah satu karya hasil dari dirinya.
Novel ini sesuai dengan periode 50 an dengan menampilkan latar belakang penjajahan dari jepang, karena pada masa itu memang terjadi penjajahan dari bangsa Jepang. Lalu menampilkan keadaan sosial yang mencerminkan kondisi pada masa penjajahan.
Bahasa yang digunakan masih merupakan bahasa ejaan lama yang apabila dibaca dan disesuaikan dengan Bahasa Indonesia yang saat ini membuat para pembaca kesulitan memahami. Meskipun lugas kalimatnya namun ejaan yang dipakai membatasi pembaca dalam mengerti maksud dari kalimat tersebut. Pada angkatan ini tidak terlalu banyak novel ataupun karya sastra yang diterbitkan akibat dari konflik sastra yang membuat tersekatnya karya yang ingin diterbitkan.


Profile Image for Ben.
752 reviews
December 2, 2018
Set in Indonesia towards the end of World War II, The Fugitive (1950; not translated into English until 1990) tells the story of Hardo, an Indonesian fugitive in disguise as a beggar, hunted down by the Japanese. Reflecting Indonesia as a whole, Hardo initially allies himself with the Japanese, in an attempt to throw off the yoke of European imperialism. However, realising that the Japanese don’t intend to set the country free after all, and that life under their rule is even worse than under the Dutch, he rebels, and becomes a fugitive.

The narrative, commencing six months after Hardo goes on the run, is slight, and simple, consisting of just four scenes, or conversations, a structure which may have its inspiration in the Indonesian puppet theatre which opens the novel. Working within this tight structure, Toer displays great control over his material. In these four conversations, the Indonesian experience of the war, at least in terms of human emotion, is teased out and explored in great depth.

Perhaps my one criticism is that the character of Ningsih, Hardo’s fiancé, the only female character in the novel, is too sketchily drawn (she’s a teacher and she remains loyal, and that’s it, really) for her death at the end to feel like the tragedy it should.

Toer wrote The Fugitive whilst imprisoned for his own uprisings (the Dutch incarcerated him from 1947 to 1949, the Suharto regime from 1965 to 1979, and he remained under house arrest in Jakarta until 1992), an experience from which the novel may draw some of its considerable power.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
August 21, 2018
Siapakah gerangan mereka yang disebut pengkhianat?

Dia, kamu, aku, goodreads, atau pihak ketiga yang tak tampak?
.
.
Pagi ini, baru saja saya membaca curahan hati kak Harun Harahap, seorang pembaca yang saya kenal lewat goodreads sejak 8-9 tahun silam. Tak berbilang sudah berapa banyak buku yang kami baca atau kami bahas (atau cela) bersama, baik secara daring maupun luring. Entah berapa banyak juga pertemuan dan perjalanan kami adakan bersama teman2 lain, hingga ke berbagai tempat di Nusantara. Belum lagi menghitung semua acara makan2 besar saat kondangan, cemil2 heboh tak berkesudahan, atau apel klub mengunyah yang selalu ingin diulang...

Enggak. Saya bukan mau menye2 tentang Harun. Pokok cerita adalah hilangnya akun goodreads beliau. Sudah diselidiki, ditanyai ke admin goodreads di Amerika sana, namun diagnosisnya baru: akun itu terhapus dan sementara ini belum bisa dipulihkan.

Nah, saya pun kini tak sesering dulu membuka situs goodreads. Makanya saya langsung lari ke sini dan pindah curhat. Sambil was-was, adakah hal sama terjadi pada akun saya. Alhamdulillah, tidak. Dan semoga tidak akan.

Goodreads bukan hal terpenting dalam hidup saya. Namun sebagai pembaca buku, selama sepuluh tahun ini saya sangat terbantu oleh kebaikan situs ini membantu menata ingatan kami atas buku2 yang pernah kami baca dan bagaimana kami memberi tanggapan atas buku2 itu.

Semoga akun Harun segera dipulihkan, dan goodreads jaya selalu.
Profile Image for Widodo Aji.
21 reviews2 followers
November 29, 2019
Novel Perburuan ini menceritakan tentang zaman penjajahan dan kependudukan Jepang di Indonesia. Menurut HB. Jasin (1985:108) berpendapat bahwa Sejak awal minat kepengarangannya, Pramoedya selalu tidak kehilangan kepercayaan kepada manusia. Manusia adalah sumber kejahatan, tapi sumber kebaikan. Inilah latar belakang jiwanya dalam menghadapi keganasan, ketidak adilan dan ketololan manusia. Pendapat yang sama dilontarkan oleh Kurniawan (2002: 12) baha dengan latar belakang sejarah Indonesia yang diwarnai feodalisme Jawa, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, maupun kemerdekaan dalam karya-karyanya, Pramoedya seringkali mengkonfrontasikan prinsip kerakyatan dan kemanusiaannya dengan sikap kesewenang-wenangan dan penindasan.
Dalam novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer ini menjelaskan mengenai kehidupan bangsa Indonesia disaat masa kependudukan dan penjajahan Jepang. Dalam novel tersebut tergambar secara jelas bagaimana adanya penindasan dan penyengsaraan terhadap bangsa Indonesia, saat kependudukan Jepang. Contohnya saja, ayah dari Hardo ditindas oleh pihak Jepang untuk mencari anaknya yang melarikan diri. Selain itu juga dijelaskan bagaimana kekasaran dan kenekadan tentara-tentara Jepang dalam membasmi seorang musuh, sehingga mereka melukai pihak-pihak yang tidak bersalah. Contohnya saja, dalam novel tersebut saat Ningsih disandera karena Hardo tidak kunjung menampakkan diri, dan akhirnya Ningsih yang tidak salah apa-apa tertembak oleh tentara Jepang.
Profile Image for Kurt Fox.
1,275 reviews21 followers
July 25, 2025
Pre-WWII, the Indonesians tried to forced out the Dutch, so a trio of youths joined the Japanese and became platoon leaders. They then saw the Japanese oppress the Indonesians, and thus led their platoons into revolt. However, one of the trio turned traitor and the revolt failed. This is the story of the leader Hardo (a local hero), who becomes an unrecognizable anorexic beggar, six months after the failed revolt. It is told in four parts: 1) the first visiting his fiancé's house at a family gathering (circumcision of his fiancé's younger brother), and speaking with the (future) father-in-law; 2) the second is speaking with his father; 3) the third is speaking to his friends Dipo and Kartiman 4) the fourth is his friend Karmin speaking with his fiancé Ningsih, and later all characters together. Actually, with the different parts, each with their own setting and distinct characters, it almost reads like a play.

Did you like?
Not really

Did you like it?
Not really

Would you recommend it?
Mmmmmm...

Are you sure you didn't like it?
Not really

Would you read it again?
When the butterfly passes

Did you like it?
Not really

The book is like that. There is a LOT of repetition, especially in the first part. It seems like 10-15 pages could be cut from the repetition. Maybe it's the translation?

I'd give it 2.5/5 stars.
453 reviews
October 11, 2021
This short work by Indonesia’s most famous novelist has a one-page “note to the reader” providing a bit of context and mentioning, in one sentence, that the novel’s structure follows that of traditional Javanese shadow puppetry plays. I think most readers in English would benefit from at least 5-10 pages of introduction to the historical and cultural context, and definitely a lot more detail on the point about theater. I eventually figured out (googling “structure of shadow puppet play” before I started was not helpful) that the story takes place in four acts, and that it in fact might as well be a play written for the stage. Once I stopped seeing a novel and started reading a script, in my mind anyway — and also once the action and explanation pick up in the third and final acts — this really turned into something simple and brilliant. It seems to capture a lot of the mindsets you would expect to see during the Japanese occupation of Indonesia during WWII — those who collaborated and why, those who resisted, those who were hunted, those just trying to get by, those affected by the persecution of their family members… and so on. Those many who were impoverished, those who were beggars.
1 review
December 13, 2017
THERE IS A SPOILER IN MY REVIEW.

Finished the book in 5 days, its quite a short book and can probably be adapted into a play.
The story is more about trust, betrayal and friendships/relationships rather than about WW2.

Hardo character is hard to understand in both chapter 1 and 2 as he does not explain why the reasons why he does not trust his father in law or his own father.

Maybe its because the English translation which made it awkward but I felt the ending was a bit unnecessary as the author could have just finished the book after the part where Hardo forgives Karmin (near the end).
But randomly out of nowhere, the very last paragraph mentions how "the person" died but it doesn't even mention how/when the bullet hit the person?

The ending could have been improved on.

PS I read this book, as earlier on I had read the Buru quartet also by P.A Toer, those books helped me learn a lot about the Dutch East Indies and made me read more into Indonesia 19th and 20th century history.

14 reviews
January 10, 2023
Berlatar Indonesia di masa awal kemerdekaan, kisah "Perburuan" dari Pramoedya ini menuturkan narasi yang luar biasa tentang sejarah. Menceritakan Raden Hardo yang menjadi buronan tentara Jepang, sehingga ia mesti hidup menjadi seorang 'kere' atau pengemis dan hidup berkelana menghindari buruan tentara.
Buku ini cukup seru, santapan yang menarik bagi yang penasaran dengan kondisi Indonesia di masa awal-awal kemerdekaan. Kita bisa lihat di beberapa daerah, informasi mengenai kemerdekaan belum sepenuhnya sampai, tentara-tentara Jepang masih berkuasa, dll. Di buku ini juga diceritakan bagaimana seorang dari Indonesia pun rela mengkhianati negaranya demi selamat dan hidup tenang dengan 'nippon'.
Secara keseluruhan buku ini bagus, gaya kepenulisan khas dari zamannya sangat melekat, tempo cerita yang lambat, dan penuh dengan dialog-dialog yang mendalam. Kita bisa melihat bagaimana penggambaran kesetiaan dan pengkhianatan yang hadir dalam buku ini sangat dilematis.

"Tetapi, orang tak bisa berkhianat selamanya dan dalam segala hal. Bisakah engkau jahat dalam segala hal?"
- Den Hardo
Displaying 1 - 30 of 106 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.