Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis

Rate this book
"Realisme sosialis itu sendiri bukan hanya penamaan satu metode di bidang sastra, tapi lebih tepat dikatakan satu hubungan filsafat, metode penggarapan dengan apresiasi estetiknya sendiri. Penamaan satu politik estetik di bidang sastra yang sekaligus juga mencakup kesadaran adanya front, adanya perjuangan, adanya kawan-kawan sebarisan dan lawan-lawan di seberang garis, adanya militansi, adanya orang-orang yang mencoba menghindari diri dari front ini untuk memenangkan ketakacuhan."
(Pramoedya Ananta Toer)

212 pages, Paperback

First published January 1, 1999

28 people are currently reading
471 people want to read

About the author

Eka Kurniawan

25 books1,657 followers
Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya in 1975 and completed his studies in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University. He has been described as the “brightest meteorite” in Indonesia’s new literary firmament, the author of two remarkable novels which have brought comparisons to Salman Rushdie, Gabriel García Márquez and Mark Twain; the English translations of these novels were both published in 2015—Man Tiger by Verso Books, and Beauty is a Wound by New Directions in North America and Text Publishing in Australia. Kurniawan has also written movie scripts, a graphic novel, essays on literature and two collections of short stories. He currently resides in Jakarta.

Eka Kurniawan, seorang penulis sekaligus desainer grafis. Menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karyanya yang sudah terbit adalah empat novel: Cantik itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), dan O (2016); empat kumpulan cerita pendek: Corat-coret di Toilet (2000), Gelak Sedih (2005), Cinta Tak Ada Mati (2005), dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015); serta satu karya non fiksi: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
93 (30%)
4 stars
107 (35%)
3 stars
77 (25%)
2 stars
19 (6%)
1 star
8 (2%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
June 19, 2015
Membaca buku ini membuat saya (kembali) mengagumi sosok Pramoedya Ananta Toer, Meskipun dulu, ketika liburan panjang pasca UN dan saya memutuskan untuk membaca buku-buku Pramoedya, saya hanya membaca satu buku saja yaitu Bumi Manusia, dilanjutkan membaca Midah si Manis Bergigi Emas ketika saya duduk di semester pertama masa kuliah. Dulu, saya pikir tulisan-tulisan Pram ‘biasa saja’. Malah saya menilainya tidak realistis. Karena mungkin ‘rakyat’ yang digambarkan Pramoedya pada kedua buku itu tidak seperti ‘rakyat’ yang saya kenal sekarang. Namun setelah membaca buku Eka Kurniawan ini, saya pikir, kesan ‘biasa saja’ yang saya rasa pada saat membaca kedua buku Pramoedya tadi—iya, baru dua buku, jelas sangat kurang untuk menilai seorang Pramoedya—justru menjadi khasnya Pramoedya. Kesan ‘biasa saja’ yang saya maksud mungkin lebih ke kesan sederhana. Saya mengagumi kesederhanaan Pramoedya, juga bagaimana ia memegang prinsipnya dengan teguh. Berada terus dijalannya untuk melawan, progresif, berpihak pada kerakyatan dengan memperjuangkan keadilan dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Jalan perlawanan yang ia pilih jelas menimbulkan resiko, buktinya ia sampai tiga kali dipenjara pada tiga pemerintahan yang berbeda. Tetapi ia tidak berhenti, tetap memegang teguh prinsipnya sambil berusaha terus memperdalamnya. Mungkin inilah yang mendasari salah satu pernyataannya yang tertuang sebagai narasi dalam novel Midah si Manis Bergigi Emas, yaitu bahwa semakin kuat kamu memegang prinsipmu, akan semakin banyak kamu mendatangkan penentang. Saya setuju.

Saya juga kagum dengan cara Pramoedya memandang sejarah. Pemikiran Pramoedya mengenai sejarah ini terinspirasi dari Maxim Gorky, yang membuat pernyataan “people must know their history”. Karena pemikiran realisme sosialis berakar juga dari dialektika Hegel, dimana ada tesis, anti-tesis, dan sintesis. Ketiga hal ini cukup panjang apabila diuraikan keterkaitannya dengan sejarah. Tetapi kesimpulannya, adalah penting mengetahui sejarah untuk mengambil ancang-ancang apa yang sebaiknya dilakukan ke depan, setelah melihat dampak dari (sejarah) masa lalu terhadap masa sekarang. Dalam buku ini juga disebutkan pemikiran Pramoedya mengenai pengajaran sejarah di sekolah-sekolah yang ia anggap tidak cukup untuk menumbuhkan perasaan cinta terhadap sejarah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Tanpa perasaan cinta terhadap sejarah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan, semua ucapan tentang patriotisme, kecintaan terhadap tanah air dan bangsa, baik itu melalui pembicaraan, pidato, nyanyian ataupun deklamasi hanya akan tinggal slogan tanpa isi, tidak edukatif dan juga tidak jujur, begitu menurut Pram. Dari pemikiran ini juga dapat dilihat betapa Pramoedya cinta terhadap bangsa dan negaranya. Secara umum, yang dilawan Pramoedya adalah kezaliman. Kolonialisme, misalnya. Juga sikap-sikap borjuis pada masanya yang ia tidak suka. Meskipun cinta terhadap bangsa dan negara Indonesia, Pramoedya tidak main tebas begitu saja terhadap orang-orang yang berbeda kebangsaan dan kenegaraan dengannya. Maksudnya seperti orang-orang China yang justru ia bela ketika mereka diperlakukan sewenang-wenang oleh penguasa. Jadi, dapat pula ditangkap bahwa yang dilawan Pramoedya adalah penguasa yang sewenang-wenang—penguasa yang tidak menjunjung tinggi kemanusiaan—penguasa yang zalim. Tiga prinsip dari humanisme-proletar yang coba Pram manifestasikan dalam karya-karyanya adalah kebenaran, keadilan, dan keindahan.

(Review ini belum selesai sebenarnya, tapi filenya sudah terlalu mengendap dalam dokumen laptop saya. Sepertinya beginisaja reviewnya. Buku ini saya jadikan rujuakan untuk tugas esai sejarah sastra Indonesia saya yang membahas mengenai aliran sastra realisme sosialis dalam sejarah sastra Indonesia. Isinya sangat lengkap saya kira. Eka Kurniawan sangat telaten dan sabar mengumpulkan data-data. Buku ini adalah buku pertama Eka Kurniawan, yang dari karya-karya selanjutnya sangat jelas bahwa ia pendukung sastra bertendens.)
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
December 10, 2018
Terlalu akademis dan pengkajiannya agak normatif, karena emang dari skripsi. Kalau saja Eka menulis ulang pembacaannya soal Pram, dengan gaya seperti di jurnal blognya pasti bakal menarik.
Profile Image for Fuad Syazwan Ramli.
52 reviews5 followers
May 18, 2015
"Kontradiksi tidak dimaknai sebagai penghambat pemahaman, melainkan justru menjadi jalan penting yang mutlak untuk menghasilkan gerak maju. Tanpa kontradiksi, tidak akan ada dialektika, dan dengan demikian tidak ada pula gerak maju. Akhirnya, kebenaran tidak akan pernah dicapai. "Sintesis" tidak akan pernah ditemukan tanpa adanya "anti-tesis" yang mengingkari "tesis". Kemudian "sintesis" pun akan mati jika tidak ada pengingkaran baru atasnya."

Eka Kurniawan (Pramoedya Ananta Toer dan Sastera Realisme Sosialis, m/s 61-62)
Profile Image for Upik.
13 reviews3 followers
Read
January 28, 2009
its great book...with high spirit for us
indonesian people
Profile Image for Nebulas.
18 reviews3 followers
April 16, 2019
Dalam buku itu Eka Kurniawan menyelidiki peran realisme sosialis dalam karya sastra Pramoedya Anantha Toer. Eka adalah penulis yang saya kenal dari bukunya Lelaki Harimau.

Dalam bab-bab pertama, Eka Kurniawan menyajikan informasi tentang kehidupan Anantha Toer, penulis Indonesia yang terkenal. Dia juga sangat terkenal di negara saya sendiri, Belanda, di mana profesor A. Teeuw di Universitas Leiden menerbitkan banyak publikasi tentang Toer di masa lalu.

Kehidupan dan karya Toer dibagi oleh Eka Kurniawan menjadi tiga periode. Periode pertama adalah periode sebelum keterlibatan Anantha Toer di Lembaga Budaya Rakyat (LEKRA). Masa itu sampai sekitar tahun 1955.

Periode kedua adalah fase di mana ia terlibat dengan LEKRA, sekitar tahun 1955-1965. Periode ketiga adalah periode setelah LEKRA dibubarkan dan dihilangkan. Ini adalah periode 1965 -1985. Di periode ini, Anantha Toer diasingkan selama bertahun-tahun ke pulau Buru.

Selanjutnya, Eka Kurniawan membahas asal dan makna realisme sosialis. Dia menjelaskan bagaimana sejarah (dunia) dapat dianalisis dengan berbagai cara. Misalnya, bagaimana Marx dan Lenin memandang sejarah (dunia) sebagai perkembangan yang terdiri dari pergulatan berkelanjutan antara partai-partai. Dia juga memperkenalkan model filosofis "tesis, antitesis dan sintesis" sebagai mekanisme untuk memahami perkembangan sejarah.

Peran dan elemen realisme sosialis dalam karya Toer kemudian dibahas oleh Eka Kurniawan. Dia merujuk periode penulisan Toer pertama sebagai periode "tesis", periode penulisan Toer kedua, periode LEKRA, adalah periode "antitesis". Periode ketiga adalah periode "sintesis". Pada periode sintesis Pramoedya Anantha Toer menulis karya besarnya; tetralogi Buru.

Dalam bab penutup, Eka Kurniawan merumuskan kesimpulan poin demi poin tentang peran realisme sosialis.

Gaya penulisan dan cara penyajian Eka dalam buku ini cukup menarik. Pembaca didorong untuk terus membaca dan juga untuk mencari informasi di sumber-sumber sastra lainnya.

Buku ini menarik, hanya ada satu kekurangan: pengarang menyajikan terlalu sedikit informasi tentang isi karya Toer.

Eka Kurniawan memberikan informasi tentang kehidupan Toer dan karyanya yang diterbitkan. Akan tetapi, saya suka informasi lebih banyak tentang isi karya Toer. Untuk lebih mengerti peran realisme sosialis dalam karyanya.

Kedua bab tentang realisme sosialis, asalnya dan perkembangannya, menarik. Ini memberikan gambar yang bagus dan informatif. Tulisan ini umumnya mudah dibaca, walaupun isinya tentu saja agak abstrak sehubungan dengan dasar filosofis dari apa yang disebut realisme sosialis.

Singkatnya, menurut saya buku ini sangat menarik. Buku ini berisi informasi yang cukup baik tentang realisme sosialis untuk mengerti kesimpulan-kesimpulan Eka.
Profile Image for Kimi.
404 reviews30 followers
August 16, 2022
Asal-usul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis adalah sebuah skripsi sebagai syarat Eka Kurniawan untuk lulus dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Kali pertama buku ini diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia di tahun 1999. Lalu, di tahun 2002 diterbitkan untuk kedua kalinya oleh Penerbit Jendela. Terakhir, Gramedia Pustaka Utama memutuskan untuk menerbitkan buku ini di tahun 2006. Buku yang saya pegang saat ini merupakan cetakan kedua dari terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Buku ini terdiri dari enam bab, di mana isinya ada pendahuluan, sejarah hidup Pramoedya, penjelasan dasar filsafat dan sejarah realisme sosial, perkembangan realisme sosial di Indonesia, estetika sastra Pramoedya, dan penutup.

Di bab pendahuluan, kita diajak Eka untuk melihat bagaimana awalnya Pram tertarik dengan realisme sosial. Jika mengamati dengan seksama karya-karya Pramoedya, maka sangat kental terasa sejarah dan ideologi politiknya. Salah satu contohnya kita bisa melihat dalam karya besarnya, yaitu Tetralogi Buru, yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Tetralogi Buru ditulis Pram saat dia sedang dalam masa menjadi tahanan politik di Pulau Buru.

Resensi lengkap ada di sini.
Profile Image for Rei.
366 reviews41 followers
February 14, 2022
"Sastra realisme sosialis bisa dianggap sebagai sastranya rakyat jembel, sastra kaum pekerja, yang hadir untuk ikut berjuang melawan segala sesuatu yang menindas, terutama sistem kapitalisme yang secara nyata bersifat jahat terhadap kalangan pekerja. Dalam hal ini, realisme sosialis mengemban tugas penyadaran bagi rakyat pekerja tersebut, guna meniupkan spirit revolusioner dan progresif mereka, ke arah yang membebaskan."

Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis sebetulnya merupakan skripsi yang ditulis oleh Eka Kurniawan untuk meraih gelar sarjana di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Di sini, Eka menelaah tentang aliran sastra/seni bernama realisme sosialis yang pada hakekatnya 'sungguh-sungguh menempatkan seni sebagai wahana penyadaran masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan' (hal. 8). Di Indonesia sendiri, aliran realisme sosialis dalam bentuk seni dan sastra terutama ditonjolkan oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu sastrawan yang sangat produktif menciptakan karya-karya tulis beraliran realisme sosialis.

Buku ini memuat latar belakang dan sejarah realisme sosialis, termasuk kemunculannya di Rusia, Cina, dan akhirnya Indonesia, juga membahas tentang Lekra dalam hubungannya dengan perkembangan aliran realisme sosialis di Indonesia, dan tentu saja, membahas karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Karyanya yang disebut dalam buku ini di antaranya Tetralogi Buru, Gadis Pantai, Perburuan, dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan yang kurang lebih bertema sama: kisah penderitaan golongan masyarakat yang ditindas oleh kolonialisme dan feodalisme. Lebih jauhnya, Eka memaparkan bagaimana karya-karya Pram selain membangkitkan semangat kaum tertindas, juga membangun kesadaran sejarah.

"Sejarah tidak bersifat mandiri atau berada di luar jangkauan manusia. Dalam arah pemikiran seperti itulah realisme sosialis lahir untuk menempatkan kaum lemah sebagai manusia-manusia penggerak dan penentu arah sejarah." -hal. 12.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,091 reviews17 followers
August 20, 2023
Eka Kurniawan menjelaskan tentang sosok Pramoedya Ananta Toer dengan cukup bagus di buku ini. Selain itu, dijelaskan juga tentang perkembangan sastra realisme sosialis yang muncul pertama kali di Uni Soviet, lantas berkembang ke belahan dunia lain, salah satunya di Indonesia.

Pram yang sudah dikenal sebagai pengarang di usia muda, memang suka menulis cerita fiksinya dengan gaya realisme sosialis. Sebab, ia merasa bahwa seniman seharusnya membuat karya berdasarkan kenyataan yang dirasakan oleh rakyat kebanyakan dan tertindas oleh penjajah Belanda/Jepang dan kaum kapitalis secara umum, yakni kaum petani dan buruh.

Pemahaman ideologis Pram mulai muncul di tahun 1950-an ketika Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dibentuk. Ia sangat keras menentang para seniman yang tidak sejalan dengan prinsip Lekra, yaitu mereka yang bergabung di Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Jika Lekra berprinsip bahwa karya seni harus berpihak kepada kaum lemah yang tertindas, maka Manikebu berprinsip bahwa seni untuk seni yang mana adalah tentang humanisme universal.
Profile Image for Aldythtryingtoread.
29 reviews
January 8, 2024
Buku ini menjawab segala pertanyaan dariku tentang inspirasi Pramoedya dalam menulis mahakarya-mahakaryanya. Eka Kurniawan membagi karya Pramoedya dalam tiga babak;

1. Pra-Lekra: ketika dirinya masih moralis
2. Lekra: ketika Pramoedya menggabungkan dirinya dengan ideologi yang menurutnya cocok--realisme sosialis--yang menjadi haluan sastra dari Lekra. Pergeseran ini ditandai dengan karya-karya Pramoedya yang jauh lebih politis--perlawanan lewat penggerakan massa--dan sloganisme yang banyak ditemui karyanya
3. Pasca Lekra: Pramoedya menggabungkan kedua masa sebelumnya. Tulisannya mengandung keduanya; moral dan politik. Hal tersebut dapat dilihat dari Tetralogi Buru yang menurut Eka mengandung keduanya dan jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan karya-karya Pramoedya sebelumnya

*Bab 3 buku ini saya lewati karena lebih berfokus pada realisme sosialis. Harus saya baca ulang secara lengkap karena sebenarnya menarik juga untuk mengikuti perkembangan sastra di masa penjajahan dan di awal masa kemerdekaan.
Profile Image for Dinda Tahier.
52 reviews
October 7, 2025
Buku buat orang dengan kapasitas otak yang besar. Untuk otak biasa-biasa aja kek aku, agak susah dimengerti ya bahasanya. I didn't get 85% of the book. Mungkin karna buku ini dulunya adalah skripsinya Bang Eka pas kuliah filosofi di UGM.

The only thing I got was that this book is about Pramoedya Ananta Toer and his political beliefs and his books - how most of the stories are based on his personal experience, how they're so realistic despite being fiction. The bridging towards social realism was the hardest part for me.

Bang Eka juga mention tokoh-tokoh seperti Maxim Gorky, Georg Lukacs, Max, dan masih banyak lagi. Pokoknya pala ini muter deh pas baca.

But I gave 3 stars anyway. I know it took a lot of effort to create the book.
Profile Image for Sigma Sang Reader.
28 reviews
January 30, 2025
Buku ini merupakan bukti lain mengenai skripsi Eka Kurniawan, membawa sosok Pramoedya Ananta Toer.

Buku ini bagus untuk dibaca sebelum akhirnya menyelami karya-karya Pram. Dengan membaca kisah hidupnya terlebih dahulu, harusnya kita dapat memahami gaya penulisannya pada buku-bukunya. Namun ternyata, sebagian besar karyanya toh ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri wkwkwk

Penjelasan dalam buku ini juga menjawab pertanyaan yang sering muncul setiap kali nama Pramoedya disebut—tentang “dosa”nya, buku-bukunya, serta label yang melekat padanya. Semua itu dijawab di sini

Baca aja👍
Profile Image for Toni.
30 reviews4 followers
January 4, 2022
cukup informatif. menjelaskan sastra realisme sosialis a la Pram. Dimulai dari sebelum Lekra, lalu saat Lekra dan terakhir sesudah dibubarkannya Lekra. sangat disayangkan buku-bukunya tidak diterbitkan ulang.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 11, 2017
Seni, pada akhirnya, memang harus berpihak seperti titah Camus dan Gorky. Dan pada realisme sosialis, keperpihakan pada kaum proletar adalah bentuk perlawanan terhadap hegemoni para kapitalis.
Profile Image for Andy Wijaya.
74 reviews7 followers
July 4, 2023
Cerita perjalanan hidup Pak Pram, dan hubungan dengan perjalanan progresi karya-karyanya.
Profile Image for Danang.
43 reviews
January 13, 2024
Serasa membaca semua buku Pramoedya hanya dengan membaca buku ini.
Profile Image for Anggita.
13 reviews
December 29, 2025
Banyak belajar tentang sastra realisme sosialis dari buku ini. Eka Kurniawan bisa menulis non-fiksi dengan sangat enak.
Profile Image for Zomi.
56 reviews14 followers
January 7, 2026
makin suka sama Pram dan makin suka sama genre fiksi sejarah
Profile Image for yesha.
26 reviews1 follower
September 25, 2024
a solid 5. nggak ada tulisan eka kurniawan yang nggak enak dibaca. sebuah esai rapi dan skripsi filsafat yang memang layak dibukukan serta disebarluaskan. pemikiran pram, riwayat hidup, karakter, sifat, semuanya tersampaikan dengan cerdas dan menarik. buku yang cocok dibaca untuk mahasiswa baru filsafat atau semua golongan yang hendak memperdalam pemahaman mengenai realisme sosialis dan pandangan untuk hidup berdampingan dengan sastra dan politik. menarik. betulan. banyak take notes dan mendapat pemantik ide yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu luang. ah, pokonya banyak bersenang-senang dengan buku ini. gokil.
Profile Image for Minie Kholik.
33 reviews9 followers
December 17, 2007
buku ini sangat menarik berisikan perjuangan
Pramoedya ananta toer dengan melalui dunia Sastra... realisasi sastra dan sosial...
penulis juga bercerita tentang perjuangan paham kapitalis, dan Marxisme pokoknya banyak lagi...
1 review
Read
January 20, 2011
buku yang berasal dari skripsi di Fakultas Filsafat UGM ini sangat layak untuk dijadikan sebagai pengantar untuk memahamai serta mendalami pemikiran serta gaya penulisan Mbah Pram dalam karya-karya beliau.
Profile Image for Iyut.
231 reviews26 followers
Want to read
June 5, 2011
dpt dari bookwar pas kopdar di homerian.. Bukan edisi yg ini sih, tp yg diterbitkan Jendela. Ntar kalo dah buka laptop br diupload edisi yg itu..
Profile Image for Azhar Rijal Fadlillah.
35 reviews23 followers
May 5, 2014
Skripsi Eka Kurniawan yang Diterbitkan menjadi buku.. layak dibaca siapapun yang sedang dan atau akan mendalami Realisme Sosialis.
Profile Image for lakinyaminami.
94 reviews2 followers
March 5, 2025
Tulisan skripsinya Eka Kurniawan se enak membaca karya tulisnya yang lain
Displaying 1 - 28 of 28 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.