Wahab dihukum mati Belanda, tanpa membocorkan rahasia kawannya. Novel ini penuh imajinasi, meskipun beberapa bagian merupakan fakta nyata, terutama pengalaman revolusi pengarangnya yang dijadikan acuan pokok untuk memberikan makna kepada gejala zamannya.
Novel ini dapat memberi makna tentang semangat cinta tanah air dan bangsa melebihi cintanya kepada keluarga dan diri sendiri. Novel ini berisi kisah yang berlangsung tiga hari tiga malam di Jakarta pada zaman revolusi sekitar tahun 1947. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa novel ini berkata jujur tentang keadaan revolusi, tanpa melebihlebihkan atau menyembunyikan.
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.
Bibliography: * Kranji-Bekasi Jatuh (1947) * Perburuan (The Fugitive) (1950) * Keluarga Gerilya (1950) * Bukan Pasarmalam (1951) * Cerita dari Blora (1952) * Gulat di Jakarta (1953) * Korupsi (Corruption) (1954) * Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954) * Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957) * Hoakiau di Indonesia (1960) * Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) * The Buru Quartet o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980) o Jejak Langkah (Footsteps) (1985) o Rumah Kaca (House of Glass) (1988) * Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982) * Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995) * Arus Balik (1995) * Arok Dedes (1999) * Mangir (1999) * Larasati (2000)
gila! kalau mau merasakan bagaimana kata-kata itu sungguh-sungguh berdaya, bacalah buku ini. dalam novel ini kata-kata dipilih tidak untuk menghias-rias realita tapi sungguh-sungguh kristalisasi realita. kata-katanya biasa. tapi gemetar membacanya. pengen muntah dan mencekam!
Entah kenapa, saya merasakan persamaan 'vibes' atau jalur cerita antara novel ini dengan Ranjau Sepanjang Jalan. Mungkin juga tahun-tahun awal pascamerdeka bagi Indonesia dan Malaysia, novelnya kelihatan 'sengsara' - mahu menunjukkan kesan peperangan, era penjajahan yang masih menggulung masyarakat dalam situasi trauma dan kebencian kepada pergolakan manusia.
Keluarga Gerilya menampilkan watak Amilah, seorang tua yang menderita, dementia dan sengsara akibat kehilangan orang-orang tersayang terutama anaknya, Sa'aman. Keluarga ini juga membawa cerita anak-anak yang terbiar, dewasa oleh sengsara dan digilis takdir yang perit. Salamah, Fatimah, Salami, Hasan ...
Perjuangan menatijahkan korban. Korban jiwa, korban nyawa.
Keperitan ini diulang-ulang dalam novel ini, namun banyak pelajaran yang diperoleh tentang jiwa besar manusia yang inginkan kebebasan.
Buku ini menjabarkan semangat perjuangan di tengah realita yang selalu tidak berpihak. Menceritakan kisah satu keluarga yang sarat dengan perjuangan membela kemerdekaan Indonesia. Mereka acapkali dihadapkan pada pilihan antara moral atau merdeka. Buku ini secara implisit mengajarkan bahwa akan selalu ada konsekuensi untuk berbagai pilihan, sekalipun mulianya pilihan tersebut.
Nuansa nestapa dalam buku ini menggambarkan pikiran tergelap Pram yang tidak berkesudahan dan sulit diterima. Namun, gaya penulisan Pram yang acapkali berhasil menggenggam perhatian dan rasa telah mampu membawa saya untuk memahami relung pikiran tergelapnya yang tertuang dalam cerita ini.
Satu lagi antrian karya Pram yang ku baca. Cerita di era perjuangan kemerdekaan. Settingnya perang kemerdekaan namun perang yang dikisahkan sesungguhnya adalah perang batin yang berkecamuk pada tiap tokoh-tokohnya.
Penceritaannya unik, karakter para tokohnya kuat. Seperti menonton film yang cukup menegangkan. Opa Pram memang maestro..
(Bukan cover yang ini. Nanti jika berkesempatan akan tambah cover untuk edisi terkini di Malaysia) Catatan: Rata-rata rakyat Malaysia yang membaca mula mengenali Pram melalui Keluarga Gerilya.
"Aku diusir dari tanahairku sendiri." "Kami tjuma mendjalankan kewadjiban," kata komendan peloton itu minta maaf. "Kewadjiban jang membuat manusia djadi binatang itu?" "Ja."
Buku ini berkisah tentang sebuah kehidupan keluarga sederhana di Jakarta yang terombang-ambing oleh revolusi kemerdekaan dengan setting tahun 1949 pada saat aksi polisionil pemerintah colonial Belanda.
Alkisah tinggallah Amilah seorang janda tua dengan anak-anaknya Saaman (Aman), Salamah (Amah), Fatimah (Imah), Salami (Mimi) dan Hasan. Amilah menikah dengan Paidjans seorang kopral tentara Hindia Belanda. Dia selama ini hidup di tangsi, namun perilakunya gemar berselingkuh sehingga dia sering dijuluki Bunga Tangsi Selendang Mayang. Amilah sangat menyayangi Aman yang berusia 24 tahun karena dia merupakan anak dari Benny mantan kekasih sejatinya. Aman sendiri orangnya sangat penyabar, pintar mendidik adik2nya, sangat menghormati dan berbakti pada ibudanya. Amah berusia 19 tahun, berpenampilan cantic dengan hidung mancung. Sejatinya Amah merupakan anak hasil perselingkuhannya dengan Letnan Gedergeder seorang tentara Belanda. Fatimah, merupakan anak perempuan berusia 16 tahun yang cakap dan cerdas. Sedangkan Mimi, merupakan anak perempuan yang agak kurang cerdas. Hasan, anak terkecilnya merupakan anak yang cerdas dan sigap dalam banyak hal. Selain mereka terdapat pula Mimin dan Maman yang sebenarnya anak Amilah pula. Maman yang berambut keriting dan berkulit gelap merupakan anak hasil perselingkuhan Amilah dengan tentara dari Ambon.
Ketika aksi polisionil Hindia Belanda, Kopral Paijan yang semula keluar dari ketentaraan di jaman Jepang, mendaftar kembali menjadi tentara Hindia Belanda (KNIL). Sikap Paidjan yang tidak nasionalis, sombong dan suka mabuk-mabukan mendapat perlawanan dari anak-anaknya yang sudah menjadi pemuda nasionalis. Aman, Tjanimin (Mimin) dan Kartiman (Maman) kemudian membunuh Paidjan di sebuah sungai. Untuk membuang jejak dari tentara KNIL, Mimin dan Maman kemudian ikut bergerilya dengan Divisi Siliwangi dan ikut menumpas pemberontakan komunis di Madiun. Kondisi Amilah yang menjanda dan tidak bisa menerima perubahan di lingkungan hidupnya, membuat Amilah depresi.
Aman sebagai kepala keluarga kemudian bekerja sebagai tukang becak untuk menafkahi keluarganya. Sampai suatu saat Aman ditangkap oleh Polisi Militer karena Aman diketahui menjadi pimpinan gerilyawan yang sudah membunuh puluhan orang antek Belanda. Selama Aman anak kesayangannya ditahan, kondisi depresi Amilah makin menjadi. Apalagi tidak ada lagi anaknya yang mencari nafkah. Untunglah Darsono tunangan Amah memberikan sebagian gajinya yang kecil untuk menyokong kehidupan keluarga Amilah. Mimin dan Maman yang menjadi gerilyawan, akhirnya terbunuh dalam sebuah peperangan di kantong gerilya.
Di penjara, Aman dijatuhi hukuman mati. Aman tidak takut menghadapi hukuman itu karena dia meyakini apa yang dia lakukan adalah benar. Kesabaran dan kesetiaan Aman kepada negara, telah membangkitkan kesadaran bagi teman-teman di penjara. Bahkan Direktur Penjara tempatnya ditahan pun secara ksatria mengakui dan menghormati keteguhan hati Aman. Direktur tersebut menawarkan grasi kepada Aman, namun Aman menolaknya dan hanya meminta pena dan kertas untuk menuangkan pesan-pesan terakhir buat keluarganya. Sebagai bentuk penghormatan kepada Aman, Direktur itu mengantar surat Aman ke keluarganya. Saat itu dia hanya menjumpai Darsono, Imah, Mimi dan Hasan. Direktur itu jug menawarkan uang untuk membantu biaya pemakaman Aman kelak, namun hal itu ditolak oleh Imah. Tawaran dari Direktur untuk bantuan biaya sekolah bagi Imah dan adik-adiknya juga ditolak mentah-mentah oleh Imah yang tidak sudi menerima uang dari penjajah.
Salamah yang menjadi tunangan Darsono, demi membebaskan Aman bersedia diajak oleh sersan Kasdam untuk menengok Aman di penjara. Namun Sersan Kasdam yang hidung belang, tidak membawa Amah ke penjara dimana Aman ditahan. Amah malah dibawa ke Bogor untuk dinodai ketika Aman sedang dijatuhi hukuman mati.
Tekanan hidup yang berat, membuat Amilah makin depresi. Dia membakar rumahnya sendiri dan menjalar menjadi kebakaran besar di kampungnya. Amilah akhirnya menemukan penjara tempat Aman ditahan. Namun dia hanya menemukan jazad Aman yang ternyata sudah dieksekusi hukuman mati. Rasa sedih yang begitu mendalam ditinggal anak kesayangannya membuat Amilah tidak mampu menahan diri dan menghembuskan nafas di pusara anak yang baru dikuburkannya.
Akhir cerita, Amah kembali dari Bogor dan Darsono pun tetap menerimanya walau dia sudah tidak perawan lagi. Darsono sadar bahwa apa yang dilakukan Amah adalah demi kebebasan Aman kakak kesayanganya. Mereka kemudian bersama-sama adik-adiknya kemudian melakukan ziarah kubur ke makam Amilah dan Aman untuk mendoakan kebahagiaan bagi mereka yang telah meninggalkannya.
Seperti buku Pram yang lain, buku ini sarat dengan nilai-nilai nasionalisme. Penderitaan hidup yang pahit, tidak melunturkan semangat nasionalisme bahkan menjadi bahan bakar untuk tumbuh menyalanya api nasionalisme itu sendiri. Alur cerita buku ini sebenarnya sederhana. Namun di tangan Pram sang pujangga, cerita ini menjadi Indah dan menarik untuk dibaca.
Novel ini menceritakan tentang keluarga gerilya yaitu Amilah, seorang janda dan anak-anaknya yang hidup di zaman revolusi. Saaman, adalah seorang tukang becak yang menjadi tulang punggung keluarganya namun dulunya Saaman adalah seorang pegawai Kementerian Kemakmuran. Saaman mempunyai enam saudara, dua di antaranya, Tjanimin dan Kartimin adalah prajurit gerilya. Ibu Saaman dikenal sebagai perempuan simpanan di tangsi KNIL lalu ia kehilangan akalnya saat Saaman tiba-tiba ditangkap oleh militer Belanda. Setiap hari dia marah-marah, mencaci, histeris juga melamun, mencari-cari anaknya. Karena pada saat itu tidak hanya Saaman yang diharapkan untuk memenukhi kebutuhan keluarganya yang miskin. Amilah semakin terpuruk dengan keadaan tatkala anaknya yang bernama Tjanimin dan Kartimin gugur dalam medan perang revolusi, Saaman sendiri pada akhirnya gugur di depan regu tembak. Adik perempuannya, Salamah, diperdaya dan diperkosa oleh seorang sersan. Tragedi keluarga Amilah terus berlanjut. Rumah mereka kebakaran karena dibakar oleh Amilah dan Amilah sendiri kemudian menjadi gila lalu meninggal. Cerita ini berakhir dengan penyesalan Salamah di pekuburan kakaknya dengan bersama Darsono yang seorang tunangannya. Darsono tetap mencintai Salamah meskipun ia sudah tidak perawan lagi. Darsono juga meyakinkan Salamah untuk kembali dan pulang dari pekuburan kakaknya, Saman. Setelah Salamah mau dibujuk oleh tunangannya, mereka berjalan pulang. Pramoedya lahir di Blora pada 6 Februari 1925 dan meninggal pada 30 April 2006. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Pada sejarah hidupnya ia banyak menghabiskannya di penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun pemerintahan Soeharto. Pramoedya telah menikmati berbagai pengalaman seperti perampasan hak dan kebebasan. Sehingga hal ini mempengaruhi terhadap novel dan cerpen yang ia hasilkan. Pramoedya menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun, Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya tidak manusiawi. Ibunya juga memberikan pengaruh kuat, karena semua yang tertulis dalam bukunya teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun’. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun. Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis. Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945 ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949). Pada tahun yang sama ia menikah dengan wanita yang sering datang ke penjara ketika ia berada di penjara, yang masih keluarga dekat, Husni Thamrin. Lalu setelah itu ia menghasilkan beberapa karya dan salah satu antaranya yaitu novel Keluarga Gerilya. Novel ini ditulis saat Pram berada di penjara Bukit Duri pada tahun 1949. Keluarga Gerilya terbit pada 1950, sesaat setelah Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) dibebaskan dari penjara Belanda. Konflik batin para tokohnya, terutama yang dialami oleh Saaman digambarkan dengan baik oleh Pram. Cerita yang digambarkan dalam tiga hari tiga malam ini membuat novel ini begitu padat dalam setiap fragmennya. Karakteristik novel ini kaitannya dengan angkatan 45’ yaitu bahwa bahasa yang digunakan sederhana (menggunakan bahasa sehari-hari), tidak memperhatikan aturan-aturan dalam bahasa bahkan bentuk bahasa harus tunduk pada isi, kalimat-kalimatnya pekat, padat dan penuh isi. Namun pada novel Keluarga Gerilya ini sulit dicermati karena bahasa yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia lama, seperti saat ini kita biasa menulis kata “kadang” nah di novel tersebut, pengarang menuliskannya “kadjang” dan hampir seluruh kata menggunakan penulisan yang jika dibaca pada saat ini akan menjadi hal yang membingungkan. Meskipun begitu, novel ini menarik unuk dibaca karena pembaca dapat mengerti bagaimana keadaan zaman revolusi pada saat dahulu. Tema dalam novel ini yaitu roman dan pengorbanan keluarga yang ditinggal dalam perang, baik secara lahir maupun batin. Dalam novel Keluarga Gerilya ini, Pramoedya memberikan penuh pelajaran tentang hidup melalui tulisannya yaitu tentang perjuangan anak bangsa, nasionalisme, kehidupan rakyat kecil dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh meskipun dalam kondisi sangat sulit dan terpuruk. Sehingga dalam meneladani hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari novel ini yaitu kita sebagai bangsa Indonesia harus membela dan cinta pada tanah air kita, jangan mudah tertipu daya oleh ajakan orang asing, dan selalu optimis dan semangat dalam menegakkan keadilan.
Novel Keluarga Gerilya ini merupakan sebuah kisah tragis tentang perjuangan sebuah keluarga dan masyarakat di Jakarta dalam menuntut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Novel ini juga banyak mengisahkan tentang pengorbanan seperti korban nyawa, korban harta, korban diri, korban masa depan dan juga korban keluarga. Terdapat sebuah keluarga dalam novel ini yang mempaparkan kehidupan pada zaman sebelum merdeka. Sa’aman merupakan seorang lelaki yang menjadi tunjang dalam keluarganya dan beliau merupakan salah seorang pejuang yang turut menuntut kemerdekaan dari pihak Belanda. Pada suatu hari, Sa’aman ditangkap pihak polis militer Belanda. Kerana beliau telah membunuh ayah tirinya yang merupakan tali barut kepada pihak Belanda. Keputusan untuk membunuh ayah tirinya kerana ingin memberhentikan kekejaman yang berlaku pada masyarakat. Dua lagi adik beradiknya juga terlibat dengan pembunuhan ayah tirinya yaitu Canimin dan Katiman. Canimin dan Katiman merupakan adik lelaki bagi Sa’aman. Mereka terlibat sebagai pejuang di barisan hadapan dalam Gerilya. Salamah, adik perempuan Sa’aman yang keempat. Beliau terpaksa menjaga adiknya yang lain kerana Sa’aman telah ditangkap. Ibunya Amilah pula telah hilang akal dengan ketiadaan Sa’aman. Hal ini kerana Sa’aman merupakan tunjang dalam keluarganya. Penderitaan keluarga ini berterusan apabila Sa’aman dihukum mati oleh pihak Belanda. Namun begitu Sa’aman berasa tenang kerana beliau telah melaksanakan tanggungjawab beliau sebagai seorang pejuang dengan betul. Manakala adik Sa’aman Yaitu Canimin dan Katiman telah mati di medan pertempuran. Ibunya Amilah menjadi kurang waras dengan situasi yang telah dihadapi oleh keluarga ini. . hubungan antara judul dengan isi adalah masih berhubungan. karena, penggunaan nama keluarga pada judul tersebut menceritakan tetntang keluarga yang sedang ikut bergerilya (perang) melawan penjajah Belanda. dan dari awal hingga akhir cerita memang menceritakan keluarga tersebut tentang perlawanan melawan penjajah Belanda. . pendekatan yang digunakan dalam menganalisis nivel ini adalah sosiologi yaitu memandang kehidupan sekitar penulis dengan memperhatika faktor masyarakat. . Pengkarya serba sedikit telah bermain dengan emosi para pembaca dengan menghasilkan novel seperti ini. Jalan ceritanya yang cukup menarik dapat menarik minat pembaca untuk membaca novel seperti ini.
Pramoedya Ananta Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925. Beliau merupakan seorang putera Jawa yang pertama berhasil baik pada bidang prosa dalam kesusasteraan Indonesia moden selepas peperangan dunia yang kedua. Beliau juga ialah seorang daripada Angkatan ’45. Beliau juga merupakan tokoh yang kuat dari Angkatan ’45. Pada tahun 1970, novel Keluarga Gerilya: kisah keluarga manusia dalam tiga hari tiga malam telah diterbitkan oleh PT Pembangunan Jakarta pada tahun 1955. Keluarga Gerilya terdiri daripada 13 bab dan menceritakan kejadian di sekitar revolusi nasional yang terserak-serak. Kehancuran keluarga dan pengorbanan akibat revolusi nasional ini. Cerita ini bermula dari Sa’aman diculik hingga kematian Sa’aman (watak utama). Pramoedya Ananta Toer telah menggunakan 3 hari 3 malam untuk merangkai cerita ini. Novel ini dikarang oleh beliau semasa beliau berada di penjara di Bukit Duri pada tahun 1949. Keluarga Gerilya telah mengajarkan nilai kehidupan melalui sastera. Dalam novel ini penuh dengan nilai moral, prinsip, pengorbanan, dan pembelajaran yang berharga. Hasil penulisan novel ini berkisarkan kisah hidup dan pengalaman sebenar pengarang. Oleh sebab itu, hasil penulisan beliau lebih bersifat nyata, hidup dan berkesan kepada para pembaca. Tulisan yang dihasilkan oleh pengarang banyak menyentuh jiwa dan perasaan bukan sahaja kepada pengarang, malah kepada pembaca itu sendiri. Hal ini demikian kerana mungkin disebabkan oleh pengalaman pengarang sendiri yang sudah berkali-kali dipenjarakan. Hasil penulisan yang dihasilkan juga lebih banyak menceritakan tentang sesuatu perkara yang benar-benar terjadi pada zaman pengarang. Penceritaan yang dihasilkan ini akan memberikan keindahan kepada jalan cerita ini. Misalnya, digambarkan oleh pengarang kehidupan di bawah penguasaan penjajah dan pada zaman peperangan. Patriotisme atau semangat cinta akan tanah air merupakan pemikiran utama yang terdapat dalam karya Keluarga Gerilya karangan Pramoedya Ananta Toer ini. Karya ini memperlihatkan masyarakat pada zaman tersebut yang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mempertahankan tanah airnya. Mereka sanggup diseksa, malah berkorban nyawa demi memastikan negara berada dalam keadaan yang aman dan damai.
Novel Keluarga Gerilya ini, merupakan sebuah kisah keluarga manusia dalam tiga hari tiga malam telah diterbitkan oleh PT Pembangunan Jakarta pada tahun 1955. Keluarga Gerilya terdiri daripada 13 bab dan menceritakan kejadian di sekitar revolusi nasional yang terserak-serak. Kehancuran keluarga dan pengorbanan akibat revolusi nasional ini. Pramoedya Ananta Toer telah menggunakan 3 hari 3 malam untuk merangkai cerita ini. Novel ini dikarang oleh beliau semasa beliau berada di penjara di Bukit Duri pada tahun 1949. Keluarga Gerilya telah mengajarkan nilai kehidupan melalui sastera. Dalam novel ini penuh dengan nilai moral, prinsip, pengorbanan, dan pembelajaran yang berharga. Novel ini dituliskan berdasarkan kisah hidup pengarang. Sehingga, hasilnya bersifat nyata, hidup dan berkesan kepada para pembaca. Tulisan yang dihasilkan oleh pengarang banyak menyentuh jiwa dan perasaan bukan sahaja kepada pengarang, malah kepada pembaca itu sendiri. Hal ini demikian kerana mungkin disebabkan oleh pengalaman pengarang sendiri yang sudah berkali-kali dipenjarakan. Hasil penulisan yang dihasilkan juga lebih banyak menceritakan tentang sesuatu perkara yang benar-benar terjadi pada zaman pengarang. Penceritaan yang dihasilkan ini akan memberikan keindahan kepada jalan cerita ini. Misalnya, digambarkan oleh pengarang kehidupan di bawah penguasaan penjajah dan pada zaman peperangan. Dalam novel ini, terdapat nilai Patriotisme atau jiwa kepahlawanan yang merupakan pemikiran utama yang terdapat dalam karya Keluarga Gerilya karangan Pramoedya Ananta Toer ini. Hal tersebut dibuktikan dengan tokoh Saaman, yang secara diam-diam membasmi tentara Belanda satu persatu, lalu menyamar sebagai seorang tukang becak sehingga tidak dicurigai walaupun pada akhirnya ketahuan. Kemudian, dalam novel ini juga memperlihatkan masyarakat pada zaman tersebut yang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mempertahankan tanah airnya. Mereka sanggup diseksa, malah berkorban nyawa demi memastikan negara berada dalam keadaan yang aman dan damai. Rela berkorban ditunjukkan oleh tokoh Amilah, yang rela menjadi simpanan para tentara KNIL untuk mendapat penghidupan yang layak. Dalam novel Keluarga Gerilya ini juga menceritakan akan kekejaman dan kesewenangannya pihak-pihak colonial zaman dahulu.
Pram punya latar pengalaman yang sangat berharga untuk dikongsi. Seorang pejuang. Seorang pemimpin revolusi. Hidup dalam buangan. Terpenjara di Pulau Buru selama puluhan tahun. Tidak kalah dengan ketajaman bayonet dan kepantasan peluru meluncur dari tangannya, Pram juga sangat tajam pemikiran dan mata penanya. Naskah karya Pram lahir dari pengalaman beliau sendiri dan pengalaman manusia dan watak yang berlegar disekitar. Daya pengataman Pram sangat tinggi dan teliti. Yang menjadikan Pram besar bukan semata perjalana hidupnya yang berputar dan berliku, namun lebih dari itu Pram mampu menitipkan semula semua itu dalam susunan perkataan yang indah dan terperinci. Biarpun tanpa kertas dan pena (ketika merakamkan Tetralogi Pulau Buru). Pram manusia ajaib yang pernah lahir dalam alam melayu. Keluarga Gerilya punya sedikit unsur-unsur ‘tricky’. Di awal bab pertama Amilah tidak dikesan langsung sebagai seorang yang hilang waras. Tentang baju kebaya Salmah dan beberapa bahagian lain. Namun ketidak warasan Amilah berjaya disembunyikan. Ini mengingatkan saya kepada novel kecil Pram yang berjudul Perburuan. Sungguh-sunguh pembaca akan terpedaya dengan helah dan tipu daya di awal babak pertama. Keupayaan begini jarang-jarang dimiliki oleh penulis-penulis lain. Keluarga Gerilya mengangkat tema kemanusiaan dan manusia itu sendiri. Tentang perjuangan menentang penjajahan Belanda (yang menjadi tema kegemaran Pram). Ternyata lahirnya novel-novel Pram itu sendiri sebahagian dari perjuangan. Untuk catatan, karya-karua Pram yang sudah diterjemah ke dalam puluhan bahasa dunia, hanya dibenarrkan terbit dalam negaranya sendiri selepas tahun 2000. KG mamaparkan pergolakan keluarga Sa’aman yang kehilangan tonggak. Si ayah mati ditembak anak sendiri yang berbeza ideologi. Si ibu menjadi tidak waras setelah anak lelaki Sa’aman ditahan pemerintah atas alasan menyertai pergerakan bawah tanah. 2 anak lelakinya yang lain hilang tanpa khabar setelah menyertai gerilya. Amat rugi jika tidak menelaah isi dan kandungan Keluagra Gerilya.
“Keluarga Gerilya” adalah karya fiksi Pram, sebuah novel, yang berkisah tentang keluarga Amilah, seorang janda dan anak-anaknya yang hidup di zaman revolusi. Tokoh utamanya, Saaman, adalah seorang tukang becak yang menjadi tulang punggung keluarganya. Dulunya Saaman adalah seorang pegawai Kementerian Kemakmuran. Saaman mempunyai enam saudara, dua di antaranya, Tjanimin dan Kartimin adalah prajurit gerilya.
Amilah sendiri dikenal sebagai perempuan simpanan di tangsi KNIL. Dia mulai kehilangan akalnya saat Saaman tiba-tiba ditangkap oleh militer Belanda. Setiap hari dia marah-marah, mencaci, histeris juga melamun, mencari-cari anaknya. Masa revolusi yang sulit digambarkan jelas lewat kehidupan yang dijalani oleh keluarga Amilah. Bagaimana mereka harus berjuang untuk hidup di tengah kemiskinan dan kondisi keamanan yang tidak menentu.
Novel “Keluarga Gerilya” ditulis saat Pram berada di penjara Bukit Duri pada tahun 1949. Konflik batin para tokohnya, terutama yang dialami oleh Saaman digambarkan dengan baik oleh Pram. Cerita yang digambarkan dalam tiga hari tiga malam ini membuat novel ini begitu padat dalam setiap fragmennya.
Kehidupan sulit keluarga Amilah semakin menjadi. Tjanimin dan Kartimin gugur di medan perang revolusi, Saaman sendiri pada akhirnya gugur di depan regu tembak. Adik perempuannya, Salamah, diperdaya dan diperkosa oleh seorang sersan. Tragedi keluarga Amilah terus berlanjut. Rumah mereka kebakaran karena dibakar oleh Amilah dan Amilah sendiri kemudian menjadi gila.
Seperti juga tulisan Pram lain, “Keluarga Gerilya” penuh dengan pelajaran tentang hidup. Gambaran perjuangan anak bangsa, nasionalisme, kehidupan rakyat kecil dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh meskipun dalam kondisi sangat sulit menjadi pesan yang bisa diambil dari kisah di novel ini.
Karya awal pak Pram (atau kurang lebih begitu saya menyebutnya), di mana saya melihat bagaimana suram dan kelamnya kehidupan semasa tahun-tahun Belanda kembali dengan jalan agresi dan ibukota yang berpindah ke Yogyakarta. Buku ini mengisahkan satu keluarga dengan tiga kakak laki-lakinya yang berjuang sebagai gerilyawan, yang satu melakukannya dengan diam-diam yang dua ikut dalam ketentaraan. Berjuang agar Indonesia bisa benar-benar merdeka dan menyudahi masa-masa daruratnya.
Satu-satunya hal yang tak saya tahan di sini ada pada pengulangan kata untuk memperlihatkan emosi karakter apalagi dengan penggunaan tanda strip untuk memberi jeda sebentar sebelum menyambung apa yang dikatakannya dan entah kenapa juga karakter Amilah membuat saya jengkel sejengkel-jengkelnya dan mendongkol dengan bagaimana ia terlalu menomorsatukan anaknya yang jadi tukang becak (dia yang bergerilya secara diam-diam) dan seolah anak-anaknya yang lain tidak ada apa-apanya (padahal dia sendiri jauh lebih hina karena pernah menjalin cinta dengan orang lain sebelum dengan suaminya yang hilang, yang malahan membuatnya hamil)
Ini masih buku yang menarik, hanya saja tidak sekuat Perburuan dengan suspense-nya.
Dan sayangnya, saya membaca versi bajakan, saya tidak tahu apakah cetakan aslinya jauh berbeda atau tidak apalagi saya tidak tahu apakah cetakan aslinya masih ada atau tidak--amat disayangkan tindakan saya. Cetakannya mungkin bukan kertas abu-abu tapi kuning gading yang sayangnya banyak hasilnya yang buram seperti difotokopi. Saya heran kenapa hanya beberapa saja karya beliau yang dicetak ulang.
Karya Pramoedya Ananta Toer ini merupakan sebuah novel yang menceritakan sebuah keluraga dalam memperjuangkan hidupnya. Novel ini terbit pada tahun 1955 dan termasuk Periode 1950-an. Dalam periode ini, terdapat beberapa kritik yang membuat karya-karyanya khas Periode 1950-an. Karakteristik yang pertama adalah karya sastra yang muncul berupa cerpen, sajak, dan sedikit novel. Meskipun terdaat sedikit novel, namun masih ada novel yang terbit pada periode ini. Contohnya sperti Novel Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer, Daerah Tak bertuan karya Daerah Tak Bertuan karya Toha Mochtar, Kejatuhan Dua Hati karya S. Rukiah, dan lain-lain. Tema yang diangkat adalah tentang kehidupan masyarakat sehari-hari bahkan tentang kedaerahan. Dalam novel ini, diceritakan pada masa beberapa tahun setelah kemerdekaan, adanya NICA sebagai bukti bahwa saat itu Indonesia masih berada di tangan Belanda meskipun sudah memproklamirkan kemerdekaannya. Hal ini sebagai bukti jika novel ini berlatar belakangkan saat setelah kemerdekaan. Selain itu, novel ini juga menceritakan jika perjuangan revolusioner penjajah masih sangat kental. Karakteristik selanjutnya adalah para sastrawan umumnya tdiak berguru pada pengarang asing melainkan berguru pada pengarang Indonesia. Karakteristik ini juga tampak pada Novel Keluarga Gerilya dimana ceritanya sangat kental akan sejarah Indonesia di masa sesaat setalah kemerdekaan. Meskipun melawan penjajah sudah tidak terlalu nampak, namun masih ada semangat revolusionernya.
Novel Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer bertemakan perjuangan masyarakat dalam menuntut kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Pada novel ini terdapat keluarga yang mempaparkan kehidupan pada zaman sebelum merdeka. Sa’aman merupakan watak utama dalam novel ini. Beliau merupakan seorang lelaki yang menjadi tunjang dalam keluarganya dan beliau juga merupakan salah seorang pejuang yang turut menuntut kemerdekaan daripada pihak Belanda. Namun suatu hari Sa’aman telah ditangkap oleh pihak polisi militer Belanda. Hal ini kerana beliau telah membunuh ayah tirinya. Ayah tiri Sa’aman ini merupakan tali barut kepada pihak Belanda. Semua ini dilakukan kerana ingin memberhentikan kekejaman yang berlaku pada masyarakat. Pramoedya Ananta Toer membuat novel ini karena ia ingin memperjuangkan kemerdekaan untuk membebaskan masyarakat dari penjajah Belanda. Dalam novel ini perjuangan mereka (Sa’aman) kakak dari Canimin dan Katiman. Manakala, adik perempuan Sa’aman yang keempat (Salamah). Beliau terpaksa menjaga adik beradiknya yang lain kerana Sa’aman telah ditangkap. Ibunya Amilah pula telah hilang akal dengan ketiadaan Sa’aman. Hal ini kerana Sa’aman merupakan tunjang dalam keluarganya. Karya sastra yang muncul pada zaman Balai Pustaka ini juga masih terpengaruh oleh keadaan sekitar penulis.
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925. Ia adalah salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Novel Perburuan ini adalah novel pertama yang dikarang oleh Pramoedya. Di Angkatan 45 terbagi menjadi dua sastrawan yaitu yang pro dan kontra mengenai penamaan angkatan, Pramoedya termasuk sastrawan yang pro. Tema yang diangkat Pramoedya dalam novel Keluarga Gerilya ini adalah perjuangan, sudah berbeda dengan angkatan sebelum-sebelumnya, novel ini lebih menceritakan perjuangan satu keluarga yang menuntut kemerdekaan dari jajahan Belanda yang berahkir tragis. Bahasa yang digunakan sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari, namun masih ada beberapa kosa kata asing Belanda yang digunakan dan mungkin karena pengaruh tema yang diangkat Pramoedya, tidak memperhatikan aturan-aturan dalam bahasa, kalimat-kalimatnya pekat, padat penuh isi. Sedangkan pada angkatan Balai Pustaka banyak menggunakan bahasa Melayu. Sudah menggunakan bahasa Indonesia yang akrab di masyarakat.
Ned titel: de guerillafamilie. Zeer goed geschreven verhaal over Indonesische familie in de tijd dat ze zich wilden bevrijden van de Nederlandse overheersing. Het gezin bestaat uit 1 moeder en 7 kinderen (niet allemaal van zelfde vader). De drie oudsten (jonge mannen) zijn in het verzet. Twee dienen in het guerillaleger en nr 3 (Aman) is Betjakrijder. Moeder is met 4 kinderen thuis, maar ze is niet (meer) goed bij haar hoofd en wacht alleen maar op Aman - haar lievelingszoon. De twee oudste dochters willen werken om in ieder geval eten te kunnen kopen, maar moeder doet niets anders dan schelden en alles verbieden. Per hoofdstuk krijg je steeds iets meer te zien van de situatie bv de gevaren in het leger, de onbetrouwbaarheid van (veel van) de Nederlandse overheersers. De armoede thuis, de toenemende gekte en richting het eind van het boek de moed en onverzettelijkheid van de vrijheidsstrijders en hun familie.
Dit boek beschrijft de lotgevallen van een Indonesische familie gedurende drie dagen tijdens de zogenaamde politionele acties van Nederland tegen het Indonesische verzet. Moeder Amilah, begin veertig, ooit een aantrekkelijke vrouw is kromgetrokken als een 'vraagteken zonder punt' en gek geworden. Ze scheldt op alles en iedereen en treurt om de arrestatie van haar oudste zoon Aman. Twee andere zonen zijn in het verzet gegaan en strijden dus tegen de Nederlanders. Thuis wonen nog drie dochters en een jongere zoon. De familie is arm, maar de kinderen proberen er nog wat van te maken, terwijl er steeds meer ontij over hen heen wordt gestort. Het is een spannende roman, deels op ware gebeurtenissen gebaseerd, die goed beschrijft hoe de familieleden aankijken tegen de Nederlanders en hoe hun trots hen weerhoudt om diensten van goedwillende Nederlanders te accepteren. Als aanklacht tegen oorlog is het boek actueler dan ooit.
Novel ini bertemakan perjuangan masyarakat dalam menuntut kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Pada novel ini terdapat keluarga yang mempaparkan kehidupan pada zaman sebelum merdeka. Sa’aman merupakan watak utama dalam novel ini. Pramoedya Ananta Toer membuat novel ini karena ia ingin memperjuangkan kemerdekaan untuk membebaskan masyarakat dari penjajah Belanda. Dalam novel ini perjuangan mereka (Sa’aman) kakak dari Canimin dan Katiman. Manakala, adik perempuan Sa’aman yang keempat (Salamah). Beliau terpaksa menjaga adik beradiknya yang lain kerana Sa’aman telah ditangkap. Ibunya Amilah pula telah hilang akal dengan ketiadaan Sa’aman. Hal ini kerana Sa’aman merupakan tunjang dalam keluarganya. Karya sastra yang muncul pada zaman Balai Pustaka ini masih terpengaruh oleh keadaan sekitar penulis.
Wahab dihukum mati Belanda, tanpa membocorkan rahasia kawannya. Novel ini penuh imajinasi, meskipun beberapa bagian merupakan fakta nyata, terutama pengalaman revolusi pengarangnya yang dijadikan acuan pokok untuk memberikan makna kepada gejala zamannya.
Novel ini dapat memberi makna tentang semangat cinta tanah air dan bangsa melebihi cintanya kepada keluarga dan diri sendiri. Novel ini berisi kisah yang berlangsung tiga hari tiga malam di Jakarta pada zaman revolusi sekitar tahun 1947. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa novel ini berkata jujur tentang keadaan revolusi, tanpa melebihlebihkan atau menyembunyikan.
Buku ini sangat menggambarkan sebuah perjuangan di tengah realita yang mau tak mau harus dihadapi. Gaya penulisannya membuat orang-orang seolah tenggelam pada novel yang tengah dibacanya ini dan membuat kita mengerti apa arti perjuangan tersebut. Selain itu diceritakan pula bagaimana perjuangan satu keluarga demi membela kemerdekaan Indonesia. Novel ini mengajarkan ada sebuah konsekuensi di balik suatu tindakan walau tindakan itu sangat mulia sekalipun. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa novel ini jujur tentang keadaan revolusi tanpa melebih-lebihkan meski sebenarnya novel ini imajinasi, namun beberapa bagian merupakan fakta nyata.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sure the historical settings are fascinating and the daily life issues are magical. I know it’s utterly uncool to not be a Pramoedya fan. I just find the extensive conversations and super hero character building through these conversations tedious and unbelievable. Gender roles too are way too conventional for a time when women had to be stronger than that to survive through the brutality of the Bersiap.
Novel ini termasuk novel yang bagus karena mudah dipahami, alur cerita yang disajikan penulis juga membuat pembaca ingin tahu apa kelanjutan dari ceritanya. Apa yang terjadi di dalam novel merupakansebuah gambaran apa yang terjadi pada masa itu. Pengarang mampu menyampaikan apa yang ada dipikirannya dan dapat ditangkap dengan baik oleh para pembaca. Pembaca jadi ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut.
Karya PAT pertama yang saya baca kisaran tahun 2004. Waktu itu orang baca PAT masih ngumpet-ngumpet biarpun sudah era reformasi. Masih ngeri-ngeri sedap dibilang PKI. Tapi novel ini jadi pembuka jalan saya membaca sebagian besar karya-karya PAT dari novel, esai, dll.