Semua cerita-cerita dibuku ini aku suka.Terutama Oscar, Buster dan Olly dan Ginny. Membaca buku ini mengingatkanku pada kucing-kucing disekitar keluarga kami,keluarga ibu ku tepatnya. Untuk cerita bukunya, silakan dibaca dan anda akan jatuh cinta dengan James Heriot seperti saya....semoga.
Dirumah dulu, saat masih sekolah sampai SMA,kami punya kucing-kucing dengan bermacam kenangan. Nama-nama kucing dirumah si Tua, Uneng ,Senor, si Putih, Tala dan lain-lain.
Si Tua adalah cikal bakal kucing di rumah, Tua kucing betina dengan anak Uneng, Tala, Senor dan Putih, dengan urutan umur yang kami karang sendiri karena mereka sebenarnya 4 anak si Tua pada satu kelahiran. Uneng kucing jantan galak berkharisma , jangan coba-coba membelai kalau tidak ingin terkena cakarnya .Uneng cukup disapa dan dia akan menjawab dengan mengeong. Kalau lagi iseng ingin menggoda Uneng, siap-siap untuk lari karena dia tidak segan-segan untuk mengejar. Kadang aku juga usil menggoda Uneng, sambil siap-siap lari sambil teriak-teriak ke kamar. Uneng cuma takut dengan abangku Harris, sebagai penguasa utama kucing di rumah kami. Bang Ais yang memberikan nama untuk semua kucing kecuali Tala.
Tala kucing betina yang diakui dimiliki kak Anita, sepupu kami yang tinggal dirumah sejak kami kecil. Kak Anita seorang difabel akibat serangan panas tinggi saat kecil sehingga tidak bisa berjalan karena kakinya mengecil. Kak Ita bertugas mengurus rumah termasuk mengawasi kami berlima adik beradik, selama omak -ibu ku- bekerja. Heran?....ya kak Anita, pengurus rumah tangga kami seorang difabel tapi berwibawa, masakannya luar biasa, semua dikerjakan dengan mengesot tapi hasilnya tidak mengecewakan. Kalau kami nakal, karena beliau tidak bisa mengejar kami yang lari setelah memberantaki rumah atau kenakalan lainnya. Dia cukup memanggil dan kami yang akhirnya mendekat untuk menerima cubitannya..hehe..Sebagai difabel, kak Anita punya perasaan inferior, tertutup dan keras. Jika ada tamu, atau orang diluar keluarga dekat yang datang ke rumah dia langsung buru-buru sembunyi, mungkin karena malu dan yang jelas tidak ingin jadi perhatian karena keadaannya. Lucunya, Tala sebagai kucing kak Anita,punya sikap-sikap mirip dengan tuannya. Tala cuma mau dengan kak Ita, kuper, dan memandang kami dengan cuek. Hanya satu yang berbeda diantara mereka , yaitu kehidupan asmara Tala yang bergelora. Jadi Tala yang kuper di rumah, diluar mungkin playgirl yang heboh. Kak Ita kadang harus menyeret-nyeret Tala di sore hari ke dalam kamar bahkan mengikatnya disana supaya tidak berkeliaran dikehidupan malam.Anehnya Tala tidak kelihatan marah, kelihatan takut dan pasrah malah. Tala akan duduk atau tiduran setelah diikat disebelah kak Anita. Hanya jika ada kesempatan, sebelum diseret kekamar Tala langsung kabur, lintang pukang menghindari mama nya yang galak.
Kemudian Senor, pelesetan panggilan ala Mexico, kucing coklat dengan ekor tergelung pendek, kucing jantan yang lembut hati. Kalau berjalan Senor seperti lelaki model, lenggang lenggok tapi tetap kesannya laki-laki....haha. Senor selalu jadi korban akibat kelakuan Tala, saudara betina nya yang genit dan tukang kawin. Akibat perbuatan Tala yang menganut pergaulan bebas segila-gilanya, Senor selalu jadi baby sitter untuk anak-anak kucing hasil pergaulan Tala. Keponakan-keponakannya tersebut lebih sering diasuh Senor, tidur dengan Senor saat Tala melakukan petualangannya di malam hari. Bahkan keponakannya pernah mencoba mengisap susu Senor yang tentu saja ngga ada susunya dan bikin kami serumah terbahak-bahak.
Favoritku sendiri si Putih,dengan bulu putih bersih, bentuk tubuhnya mirip harimau dan manja. Jika sudah pulang sekolah, si Putih selalu menemuiku dikamar dengan masuk melalui jendela. Jika kebetulan sedang tidur siang, si Putih akan mengeong-ngeong dengan gaduh sampai aku terbangun kesal dan menyapanya. Sebelum aku terbangun, putih akan terus mengeong, mungkin maksudnya menyapa setelah dari pagi tidak berjumpa atau minta ijin untuk ikut tidur siang dengan ku. Setelah disapa selanjutnya putih akan berbaring disebelahku untuk bersama-sama tidur siang. Tapi kadang kala, saat tidur kok rasanya tidak bisa bernafas dan dada rasanya berat...bangun-bangun ternyata si Putih sudah tidur diatas dadaku. Putiiiiih.....banguuun.
Latihan favoritku adalah bagaimana membuat si putih tiduran tanpa bergerak bahkan ekornya jg tidak boleh bergerak sama sekali. Aba-abanya putiiiih....tiduraaan. Leher Putih pada tahap ini masih mendongak dengan ekor yang bergerak-gerak sambil mengeong-ngeong. Aba-aba selanjutnya diaaamm...jangan geraaak. Putih akan menjatuhkan lehernya, tiduran dengan mata terbuka dan ekor masih bergerak. Tutuuup mataaa...mata langsung tertutup. Diaaam sambil menyentuh ekor...ekor langsung diam. Setelah semua tidak bergerak, walaupun kelihatan kalau Putih berusaha mengintip, aku memanggil dengan lirih...putiihh...ekornya bergerak sekali, volume suara dinaikkan sedikit..putiihhh..ekornya langsung gerak-gerak....dinaikkan lagi volume nya..putiiiih...Lehernya langsung tegak dan mengeong dengan girang. Diaaaam.....jangan geraaak....Putih langsung freez...berulang-ulang, dalam keadaan diam tak bergerak nampak sekali Putih berusaha mengintip apakah latihan sudah selesai...hahaha.
Kucing bisa paham bahasa manusia dari nada suaranya mungkin ya, karena mereka sepertinya mengerti kalau kita marah, senang atau lagi sedih.
Sejak kuliah, kami tidak punya kucing lagi.Selain karena kesibukan, kehilangan kucing karena kematian juga cukup membuat aku kapok untuk memelihara kucing.