Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sebuah Rumah Buat Hari Tua

Rate this book
Ten short stories by Ajip Rosidi.
Sepuluh cerpen karya Ajip Rosidi.

125 pages, Mass Market Paperback

First published January 1, 1957

Loading...
Loading...

About the author

Ajip Rosidi

137 books55 followers
Ajip Rosidi (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Taman Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.

Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).

Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.

Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Sejak 1981 diangkat menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehi-dupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanahair dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (35%)
4 stars
4 (23%)
3 stars
5 (29%)
2 stars
2 (11%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for ukuklele.
470 reviews22 followers
January 23, 2025
Buku ini tersedia di Ipusnas. Konon versi cetaknya sudah langka. Gambar kover Ipusnas kurang lebih seperti di Goodreads, cuma warna latarnya kuning cerah. Menurut KDT, buku ini pertama kali dicetak pada 1955, lalu 1968, 2008, Edisi Elektronik 2019 (ISBN PDF 978-623-221-524-5). Namun, menurut autobiografi pengarangnya ( Hidup tanpa Ijazah /HtI, juga tersedia di Ipusnas), buku ini mula terbit pada 1957, didahului oleh Tahun-tahun Kematian (1955) dan Di Tengah Keluarga (1956). Lebih lanjut, di halaman 132-133 HtI dinyatakan bahwa Tahun-tahun Kematian adalah buku Ajip Rosidi yang pertama terbit, di penghujung 1955, yang juga tahun pernikahan beliau. Honor penerbitan buku tersebut diambil di muka untuk membiayai pernikahan. Cerpen-cerpen dalam buku ini sendiri bertitimangsa 1955 - 1961.

Ada 10 cerpen dalam buku ini:
1. Krisis Kesusasteraan di Negeri Antah Berantah
2. Sebuah Rumah Buat Hari Tua
3. Sehabis Mimpi
4. Buah Apel
5. Rumah
6. Pada Suatu Sore
7. Mimpi Masa Silam
8. Matahari
9. Antara Kawan
10. Sebuah Lukisan Telah Terjual Sudah

"Krisis Kesusasteraan di Negeri Antah Berantah" saya rasa memang tepat dijadikan sebagai pembuka. Cerpen ini menampilkan Mr. Gajah, Menteri Kesusasteraan Negara di Republik Antah Berantah sebagai tokoh utama. Kementerian ini memiliki beberapa jawatan yang dinamai berdasarkan pada genre-genre sastra: Sajak, Cerpen, Roman, dan seterusnya yang terbagi lagi menjadi seksi-seksi menurut cabang dari tiap-tiap genre. Konflik dalam cerpen ini tersulut setelah kementerian mendapat kritik di media massa dari Bung Jatman yang notabene anggota partai oposisi. Artinya, ada maksud untuk mengusik kedudukan Mr. Gajah. Kritik itu menyatakan adanya krisis kesusasteraan di Republik Antah Berantah. Sangkalan Mr. Gajah dimuatkan wartawan di media, mendapat tanggapan dari pengarang muda yang mengungkap soal lain mengenai penerbitan karya sastra. Melalui polemik ini, tertangkap adanya sejumlah masalah kesusasteraan, di antaranya adalah soal tema. Satu hal yang dikritik oleh Bung Jatman adalah kecenderungan pengarang muda untuk menggarap psikologi perseorangan yang sentimental ketimbang tema yang lebih besar, yang bernapaskan perjuangan. Nah, melihat cerpen-cerpen berikutnya di buku ini, tampak Pak Ajip mencoba menghadirkan keragaman tema, yang bukan saja menyertakan "psikologi perseorangan"--malah ada juga psikologi pengantin baru--melainkan juga menyenggol isu yang lebih besar yaitu revolusi.

Tampak cerpen-cerpen dalam buku ini telah diurutkan berdasarkan pada tema-tema: kesusasteraan dan politik (cerpen 1 dan 2), romantika kehidupan pasangan suami istri baru (cerpen 3, 4, 5), revolusi (cerpen 6, 7, 9), dan selebihnya mungkin boleh digolongkan ke "psikologi perseorangan (cerpen 8, 10). Selain itu, ada unsur yang berkali-kali muncul, bukan hanya dalam beberapa cerpen di sini (cerpen 2, 5, 9, 10) melainkan juga dalam buku lainnya dari Pak Ajip, persisnya autobiografinya, yaitu rumah.

Kesusasteraan dan politik

Cerpen 1 telah diringkaskan di muka. Cerpen 2 masih menyangkut kesusasteraan dan peranan pejabat, yaitu "Sebuah Rumah Buat Hari Tua" yang menjadi judul buku kumpulan ini. Pengarang muda, Hamid, hendak menerbitkan buku pemberantasan buta huruf. Maksudnya adalah menciptakan pasar pembaca, agar kelak buku karyanya banyak dibaca. Dengan penghasilan sebagai pengarang laris, ia bermimpi dapat membeli rumah idaman. Namun, saat Hamid mengajukan naskah tersebut, pejabat yang berwenang menginginkan agar namanya yang dipasang sebagai pengarangnya. Hamid tetap dapat honor penuh, tetapi statusnya hanya sebagai ghostwriter (begitu mungkin kalau istilah sekarang mah). Hamid sebetulnya tidak rela, tapi apa boleh buat. Akan tetapi, pada kesempatan-kesempatan berikutnya, tatkala Hamid hendak mengecek kelanjutan naskahnya, ia kecele. Selain tuan pejabat tak bisa ditemui, naskahnya itu telah berganti nama pengarang lain dan isinya diutak-atik pula.

Cerpen 2 bertitimangsa 1955, Indonesia baru 10 tahun merdeka, masa Orde Lama. Di cerpen "Orde Lama" AA Navis yang termuat dalam Laut Biru Langit Biru (penyusun: Ajip Rosidi), juga diutarakan masalah pemberantasan huruf serta keterlibatan masyarakat dan pejabat. Setengah abad lebih telah berlalu, pastinya masyarakat Indonesia sudah lebih banyak yang melek huruf, tapi menurut buku-buku kritik Pak Ajip yang terbit belakangan, minat bacanya tetap saja rendah. Dan, sebagaimana yang tersirat dalam cerpen 1 dan cerpen 2 ini, masalahnya bukan hanya pada masyarakat yang setelah melek huruf tetap enggan membaca karya-karya panjang, melainkan juga pada permainan pejabat. Seandainya masih hidup, Pak Ajip mestinya bisa sedikit happy karena sekarang pemerintah sudah sedemikian mendukung minat baca masyarakat dengan mengeluarkan Ipusnas (walaupun setelah diperbarui, aplikasinya jadi rada-rada telmi).

Romantika kehidupan pasangan suami istri baru

Pak Ajip menikah pada 6 Agustus 1955, dan dalam tahun itu juga cerpen-cerpen dalam tema ini lahir. Ketika itu usia beliau belum genap 18 tahun, bisa dibilang masih remaja walau di sisi lain sudah dewasa. Bisa dimaklumi bahwa cerpen-cerpen ini kerap memunculkan affection display. Cerpen 3 tentang suami yang baru setelah beberapa lama menikah menyadari bahwa istrinya cacat, itu pun setelah diberi tahu oleh temannya. Cerpen 4, si suami pergi ke pasar pada tengah malam demi membeli buah apel, sebab mengira istrinya lagi mengidam--mengandung bakal anak pertama--padahal cuma kabita sama belanjaan tetangga. Cerpen 5 berdasarkan pada pengalaman Pak Ajip saat baru hendak mandiri bersama istrinya, menyewa rumah sendiri yang rupanya bikin tidak kerasan.

Revolusi

Cerpen 7 seperti transisi dari tema satu ke tema lain, sebab cerpen ini masih menampilkan sepasang suami istri tetapi perannya hanya sebagai pendukung, sedang tokoh utamanya punya peran dalam revolusi. Dalam cerpen 8, revolusi berperan sebagai latar yang memicu titik balik dalam kehidupan si tokoh yang berkisah. Cerpen 9 masih menghadirkan kaitan dengan revolusi, melalui tokoh sampingan yang punya peran dalam masa itu. Kesamaan antara cerpen 7 dan 9 yaitu adanya tokoh yang punya posisi tinggi di masyarakat (wedana dan haji) menjadi korban dari kekacauan revolusi, dengan dikubur hidup-hidup.

Semasa revolusi (1945-1949) berarti usia Pak Ajip baru sekitar 7 - 11 tahun; dalam autobiografinya pun, seingat saya, tak ada cerita mengenai keterlibatan beliau. Saya menduga revolusi adalah tema yang lagi "seksi" pada waktu cerpen-cerpen ini ditulis, masih hangat-hangatnya karena belum lama berlalu. Lagi pula, Pak Ajip banyak bergaul dengan tokoh-tokoh yang lebih tua sehingga mungkin mendengar cerita-cerita terkait.

Psikologi perseorangan(? mungkin)

Cerpen 8 mengenai seseorang yang berkunjung ke kamar pelacuran. Ia menyajikan pengamatan terhadap kondisi kamar itu, berikut pelacurnya. Sepertinya ia tidak terkesan. Ia menyerahkan uang tanpa mengapa-apakan si pelacur. Cerpen ini bergaya deskriptif saja, menonjolkan keberjarakan antara si pengamat dan sekitar yang diamatinya. Lain dengan cerpen 9, menyajikan sudut pandang pertama seorang pelukis yang sedang mengalami kemarau kreativitas. Cerpen ini mengingatkan pada bagian dari karya lainnya Pak Ajip, yaitu novel Anak Tanah Air /ATA, yang banyak menguraikan kehidupan pelukis. Malah jangan-jangan bagian dalam ATA itu adalah pengembangan dari cerpen ini??? Dalam ATA juga ada beberapa bagian yang lacur, tapi porsinya sedikit saja. Dengan membandingkan karya-karya ini, timbul kesan bahwa pengarang tidak bersimpati terhadap aksi jalang, tetapi sebaliknya dengan pelukis dan dunianya justru seperti mengidentifikasikan diri.

Rumah

Dalam cerpen 2, rumah menjadi aspirasi. Dalam cerpen 5, rumah menjadi masalah. Dalam cerpen 9, rumah menjadi tempat kumpul aneka ragam kawan. Dalam cerpen 10, rumah menjadi inspirasi. Dalam autobiografi Pak Ajip sendiri, rumah menjadi dasar dari bab-bab tulisannya. Tampak bahwa rumah merupakan hal penting bagi Pak Ajip, bukan hanya untuk dinikmati bersama keluarga sendiri, melainkan juga untuk menjamu banyak orang, sebagaimana yang sempat ditunjukkan dalam cerpen 7. Malah saya sempat mengira bahwa cerpen 9 pun berdasarkan pada pengalaman Pak Ajip sendiri. Namun, dalam bab "Kramatpulo Gundul" di HtI, diterangkan bahwa rupanya Pak Ajip hanyalah salah satu penumpang di rumah dinas Dodong Djiwapradja, yang ketika itu menjabat sebagai redaktur majalah AURI, Angkasa, dengan pangkat letnan. Akibat kamar kecil yang tidak layak pakai saat kebanjiran di rumah sewaan di Kramatpulo Gundul itu (pengalaman ini yang mendasari cerpen 5), Pak Ajip menumpang ke rumah Dodong. Ditegaskan di halaman 140 bahwa cerpen 9 memang terilhami oleh keadaan di rumah Dodong yang menjadi basecamp para tokoh sastrawan dan seniman.

Simpulan

Dari masalah-masalah kesusasteraan yang dikemukakan dalam cerpen 1 dan 2, tampak bahwa Pak Ajip sebagai pengarang muda berbakat ketika itu sudah terbuka akan tantangan-tantangan di hadapannya. Jika beliau hanya menulis sajak dan cerpen terus, akankah tercapai sebuah rumah buat hari tua yang dicita-citakannya? Mungkin, seandainya beliau memiliki bakat sehebat dan mengalami derita seberat Pramoedya Ananta Toer. Namun, Pak Ajip tidak hanya suka menulis, tetapi juga berkepribadian kuat lagi sangat sosial. Jalur rezekinya dari mana-mana: menerbitkan banyak bacaan, mengangkat para penulis lain, mengelola organisasi seniman, mengoleksi lukisan, sampai akhirnya mengajarkan bahasa Indonesia di Jepang. Demikian caranya sehingga tercapai untuk membangun rumah, bahkan sampai di beberapa tempat. Tidak mesti hanya dengan mengarang sampai sebanyak-banyaknya buku. Toh di ujung autobiografinya beliau merasa pahit juga karena tidak ada yang best seller.

+ : Tapi kau telah menulis lebih dari seratus judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda!

- : Memang. Tapi aku kira tidak ada yang baca, atau sedikit sekali yang baca. Jadi, tidak ada pengaruhnya dalam masyarakat. Yang baca bukuku adalah orang-orang yang tidak punya wewenang dalam menentukan kebijaksanaan pemerintah. Buku-bukuku tidak laku di pasaran. Tidak ada yang menjadi best seller. Maka meskipun aku menerbitkan lebih dari seratus judul buku, aku tidak bisa hidup dari honorarium buku-buku itu. Di Indonesia orang mungkin hidup dari menulis kolom di surat kabar atau majalah, tetapi tidak mungkin hidup dari honorarium buku. Kecuali satu-dua orang penulis pop. (halaman 1211, Hidup tanpa Ijazah)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews