Dongeng-dongeng enteng-entengan ini dapat dipakai sebagai bahan cekakak-cekikik, melepas lelah sambil tiduran, teman di atas kendaraan, hadiah ulang tahun, disandiwarakan untuk anak-anak, dipilih yang lucu-lucu lalu dibaca waktu hajatan, atau sekedar membuang beban.
Akan tetapi, bagi yang ingin sedikit repot, harap diketahui bahwa pengarang -sama seperti politisi, pedagang, atau guru- juga mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakatnya. Untuk itulah ia menulis fabel-fabel ini sebagai pelajaran moral, yaitu moral dalam berpolitik. Cerita pertama, "Gajah Jadi Raja di Negeri Kambing," berkisah tentang arogansi kekuasaan. Demikian pula cerita terakhir, "Kiai Sapu Jagat Marah, Kiai Sapu Jagat Kesepian," berkusah tentang keangkuhan kekuasaan: kekuasaan politik, militer, ekonomi, sosial dan budaya. Cerita "Mengusir Matahari," yang menjadi tema buku ini, berkisah tentang berakhirnya mimpi buruk kita, kekuasaan Orde Baru yang perkasa, otoritarian dan represif.
Fabel-fabel yang ditulis dalam rentang waktu dua tahun ini mencoba menyoroti perjalanan politik bangsa menjelang Pemilu 1997, Gerakan Reformasi, lengsernya Presiden ke-2 dan pertentangan politik pada awal pemerintahan Presiden ke-3. Sesungguhnyalah fabel-fabel ini dengan caranya sendiri adalah jejak, saksi dan komentar atas perjalanan kolektif kita.
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Bacaan ringan, santai tapi sarat dengan mesej yang tajam, pedas. Hanya yang punya "isi" yang padat seperti Kuntowijoyo yang mampu menulis fabel politik begini. Fabel sentiasa punya keunikan yang tersendiri, terutama keupayaannya untuk menarik pembaca dari pelbagai lapisan umur dan latar pengajian. Kerana fabel menggunakan binatang-binatang, dongeng, cerita penglipur lara sebagai medan persembahan mesejnya.
Tradisi penulisan fabel sudah sangat tua ada dalam kebudayaan India dan Yunani kuno. Saya suka fabel ini kerana mesejnya berisi kebijakan dan sindiran politik. Agak berbeza dengan fabel yang secara umumnya selalu berisi kebijakan moral dan etik. Politik itu yang kadang-kadang memang perlu ditegur, diperli dengan fabel, dengan gaya sarkastik. Apatah lagi fabel dalam buku ini digabungkan antara fiksyen dan non-fiksyen.
Tajuknya dipilih "Mengusir Matahari" merujuk kepada usaha menumbangkan kekuasaan Order Baru yang sudah membakar hutan lebih 32 tahun. Fabel-fabel di dalamnya juga berkisar tentang ini.
Ada masa saya ketawa berdekah-dekah membaca fabel-fabel dalam buku ini kerana sindirannya sangat lawak dan tajam. Ada masanya saya termenung fikir apa yang nak disampaikan, ada masanya saya langsung tak faham apa yang nak disampaikan ditambah dengan perkataan-perkataan pekat Indonesia lama saya kira. Memang banyak juga perkataan secara harfiahnya saya tidak faham.
Seronok dibaca untuk santai-santai bagi orang yang suka berfikir. Fabel kesukaan saya di bawah tajuk "Pengadilan Para Predator".
"Kita hanya punya predator natural, tapi khabarnya di dunia manusia ada predator struktural", kata Raja.
Menggelitik, menyindir tabiat manusia yang "kadang" lebih rendah dariapada hewan. Dan memang betul apa yang tertulis dalam Al-Qur'an, bahwa kita bisa lebih taqwa daripada malaikat, namun bisa lebih hina daripada hewan.
Buku ini ibarat rekaman kejadian perpolitikan di Indonesia selama kurun 1997-1999, direkam dengan fabel: dengan tokoh-tokoh binatang yang sekaligus dapat mewakili watak suatu orang.