Ibu Wirianingsih dan Pak Tamim adalah pasangan menikah yang kesehariannya jarang sekali di rumah mendampingi anak-anaknya yang jumlahnya sepuluh. Yang satu adalah pemimpin tertinggi salah satu organisasi Muslimah yang cabangnya meliputi 150 kota di Indonesia, sementara yang satu adalah anggota DPR-RI. Kesibukan keduanya ditambah lagi oleh kegiatan-kegiatan dakwah yang lain karena mereka berdua sama-sama aktivis dakwah. Namun demikian, di tengah kesibukan kesehariannya, mereka berdua mampu melahirkan anak-anak yang bak bintang-bintang cemerlang. Sebagian besar dari kesepuluh anaknya hafal Al-Qur'an. Lebih dari itu, anak-anak tersebut berprestasi luar biasa di dunia akademiknya.
10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an bertutur secara inspiratif kepada kita, di tengah kesibukan seperti apa pun. kita masih berkesempatan untuk menjadi anak-anak kita sebagai bintang. Buku ini berbagi kisah, bagaimana menularkan semangat dan mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak kita dan apa saja ikhtiar yang bisa ditempuh untuk mengantarkan putra dan putri kita menjadi hafiz Al-Qur'an, terutama ditengah budaya tontonan yang begitu gencar dan sangat vulgar.
Inilah sebuah kisah inspiratif dan luar biasa tentang sebuah keluarga supersibuk yang kesepuluh anaknya tumbuh menjadi bintang.
Izzatul Jannah adalah nama pena dari Setiawati Intan Savitri.
Karya pertamanya dimuat di majalah Ananda ketika duduk di kelas V SD. Mulai menulis cerita Islami pada tahun 1992, sejak berinteraksi intens dengan kajian dan dakwah Islam. Telah menulis sekitar 50 cerpen lebih yang dimuat di Annida, Ummi, Ishlash, dan belasan artikel lepas tentang keislaman. Pernah menjadi juara III LMCPI I Annida, juara harapan LMCPI IV Annida, serta termasuk nominator cerpenis favorit versi Annida.
Anak merupakan anugerah istimewa yang Allah berikan kepada umat manusia.
Dan ketahuilah harta benda kamu dan anak-anak kamu itu hanyalah ujian dan sesungguhnya disisi Allah jugalah pahala yang besar." (Surah al-Anfal ayat 28)
Semakin banyak membaca semakin banyak yang ingin dibaca. Sungguhpun bahan bacaan perihal keibubapaan semakin banyak di pasaran namun kisah setiap satu pasangan itu berbeza antara satu sama lain. Besarnya rahmat Allah yang memberi ilmu dan ilham kepada penulis-penulis ini.
Ya, kali ini saya membaca mengenai sepasang suami isteri yang berjaya mendidik kesemua anaknya menjadi penghafal Al-Quran. Anaknya bukan seorang, dua orang atau empat orang tetapi sepuluh orang. Masya Allah! Luar biasa sekali.
Namun jelas sekali, pasangan Mas Tamim dan Ibu Wiwi ini telah sepakat mempunyai visi dan misi yang sama. Maka mereka bergerak memajukan perancangan mereka sehingga lahirnya permata-permata Hafiz dan Hafizah Quran dalam rumah mereka.
Bagaimana ia bermula?
Ia bermula semenjak mereka belum berkahwin lagi. Kedua pasangan ini datang dari keluarga yang utuh kepada pegangan agama.
Ada lima tanggungjawab kita terhadap al-Quran : 1. Membaca 2. Mempelajari maknanya 3. Menghafal 4. Mengamalkannya 5. Mendakwahkannya
Sejarah generasi awal tertulis ramai ulama yang telah khatam dan menghafaz al-Quran sejak kecil lagi. Sedangkan Rasulullah Sollallahu Alaihi Wasallam turut mengutamakan para sahabat yang menghafal al-Quran.
Allah sudah memberi jaminan kemudahan : "Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mahu mengambil pelajaran?." (Surah Al-Qamar ayat 17).
Secara ringkasnya Al-Quran mengandungi :
◇ 114 surah ◇ 6236 atau 6666 ayat (perbezaan pendapat sama ada bismillah di awal surah dikira atau tidak) ◇ Dua jenis ayat ; makkiyah dan madaniyah ◇ Surah terpanjang : Al- Baqarah ◇ Surah terpendek ; Al-Asr, An-Nashr dan Al-Kautsar
Antara usaha pasangan ini dalam melahirkan anak-anak penghafal Al-Quran ialah menetapkan beberapa peraturan utama iaitu : 1. Tiada televisyen di rumah 2. Tiada gambar syubhah yang menyebabkan malaikat tidak masuk ke rumah 3. Tiada lagu yang lagha 4. Ucapkan kata-kata yang baik sahaja
Tatatertib urusan di rumah dari sekecil-kecil hal sehingga sebesar-besar hal turut diajar kepada semua ahli keluarga termasuklah prinsip asas, makan minum, adab menerima tetamu, ketentuan tanggungjawab, pakaian, peraturan menggunakan elektrik dan sebagainya.
Agak menarik perhatian apabila Mas Tamim mengaplikasikan cara ini dalam mendidik anak.
6 tahun pertama (0-6) : Memberi motivasi kepada anak-anak untuk menghafal.
6 tahun kedua (7-12) : Teknik disiplin dan mewujudkan keadaan yang kondusif untuk anak menghafal.
6 tahun berikutnya (13-18) : Mengikut perkembangan kecenderungan ilmu anak-anak.
Bagi Ibu Wiwi pula beliau sentiasa membaca al-Quran dekat dengan anaknya, dan menyediakan bekalan anak ke sekolah. Seawal jam 3 pagi sudah bangun untuk solat malam dan seterusnya menyediakan makanan untuk ahli keluarga seramai 12 orang. Masya Allah.
Turut dilampirkan biodata kesemua anak mereka meliputi umur boleh membaca al-Quran dan mula menghafalnya. Kesemuanya boleh membaca al-Quran ketika usia 5 tahun dan kebanyakannya mula menghafal al-Quran sejak usia 5 dan 6 tahun. Paling mengagumkan putera kelapan telah selesai menghafal semasa di sekolah dasar (saya kira mungkin sekolah rendah jika di Malaysia).
Masya Allah tabarakallah. Moga mereka membesar menjadi penolong agama Allah.
buku dari seberang (Indonesia) ini sudah ada dalam tangan. Menambah koleksi buku yang sedia ada.
Buku yang berkongsi pengalaman, berbagi kisah nyata pasangan ibu Wiwi (Wirianingsih) dan Pak Tamim (Mutamimul 'Ula) yang bukan saja berhasil membesarkan anak mereka menjadi penghafal Al-Qur'an bahkan tumbuh cemerlang dalam akademik.
Dua sosok manusia yang buat aku kagum.
Kadang aku terfikir "Harus macam mana nanti mahu mendidik, mengasuh, menjaga, membesar anak-anak sendiri nanti?"
Dan buku tulisan Izzatul Jannah ini terusan menjadi inspirasi. Masakan tidak. Satu atau dua putra hafal dan faham Al-Qur'an mungkin biasa bagi aku, tapi sepuluh putra-putri seluruhnya? Luar biasa aku kira. Nyata buku ini aku fikir bacaan penting dan mesti ada dalam koleksi peribadi!
Dalam kesibukkan seperti apa pun, tidak sekali di jadikan alasan bu Wiwi dan Pak Tamim untuk culas dan bermalasan dalam mendidik dan membina generasi yang menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan hidup seharian.
Ini aku mahu kongsi sikit sebahagian kata Wirianingsih dan Mutamimul 'Ula. Harapnya kalian yang baca mampu rasa termotivasi untuk turut jadi sebahagian manusia yang mampu menghafal Al-Qur'an satu hari nanti. Tidak mahukah terpilih menjadi sebahagian keluarga Al-Qur'an?
Mahu tahu lebih jelas dan lanjut. Beli terus bukunya. =)
#1 Bermula dengan visi yang terarah jelas dan utuh, Pasangan ini mahu kesemua putra-putri mereka tumbuh sebagai penghafal Al-Qur'an. Nyata bagi aku, itu satu impian yang mengunung dan cita-cita penuh tinggi!
"Putra-putri Bu Wiwi & Pak Tamim yang berjumlah sebelas (seorang telah meninggal masa kecil) : 7 lelaki dan 4 perempuan seluruhnya di awali masa kanak-kanak mereka dengan berinteraksi bersama Al-Qur'an Pasangan ini secara sistematis telah merancang kurikulum berbasis Al-Qur'an bagi putra-putrinya." pg: 21
"Sang ayah haruslah seseorang yang memiliki visi besar tentang pendidikan dan ibunyalah yang akan menjalankan misinya, mengisi kerangkanya." pg: 30
#2 Prinsip pembiasaan & konsistensi menjadi pegangan pasangan ini.
"Tanamlah kebiasaan (habit) maka engkau akan menuai takdir. Berinteraksi dengan Al-Qur'an berhasil di tanamkan sebagai kebiasaan putra-putri mereka sehingga takdir menjadi para penghafal Al-Qur'an menjadi hak mereka." pg: 43
Usaha yang penuh sabar ternyata membuah hasil. Itu janji Tuhan pada hambanya.
Sabar bukanlah kata pasif yang berarti pasrah dan menyerah, tetapi sabar adalah kata aktif yang bermakna usaha yang terus-menerus sepanjang hayat masih di kurniakan. pg: 64
Bukankah itu adalah kesabaran? Kegigihan menahan beban karena keyakinan akan tujuan yang mulia. pg:64
Sosok bu Wiwi yang bukan saja supersibuk dengan urusan di luar rumah, malah tak pernah lekang dari tanggunjawab mendidik anak-anaknya.
"Pada saat usia anak masih batita, Wiwi senantiasa membaca Al-Qur'an dekat mereka. Ketika usia mereka balita (bawah 5 tahun), Wiwi sendiri yang mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur'an kepada mereka dengan metode belajar sambil bermain, satu hari satu huruf Al-Qur'an." pg: 53
"Setiap hari ada program duduk satu jam bersama Al-Qur'an." pg: 61
"Anak-anak harus belajar Al-Qur'an pertama kali dari saya" - Bu Wiwi pg: 66
"Awalnya kalau saya tilawah, saya ambil posisi dekat dengan anak-anak." pg: 67
"Saat mulai usia 4 tahun, saya ajari mereka a ba ta tsa. Sambil mereka bermain dan berlari-lari, saya ajarkan satu hari satu huruf Al-Qur'an." pg: 68
Saya tidak melewatkan masa-masa penting usia emas perkembangan anak. Saya selalu berdoa setiap hari, setiap saat, dari anak kesatu hingga samapai anak kesepuluh, agar mereka menjadi generasi unggul. - Bu Wiwi
Kesabaran {Sabar bukanlah kata pasif yang berarti pasrah dan menyerah. Sabar adalah kata aktif yang bermakna usaha yang terus-menerus sepanjang hayat. Kesabaran adalah kecerdasan dalam menahan beban. Menghafal al-Quran bukanlah persoalan yang ringan. Jika tersalah strategi, boleh jadi ia akan membencinya kerana merasa dipaksa.} -- ms 64
Madrasah Awal -- Ummi {Komitmen Wiwi untuk menjadikan mereka generasi al-Quran diwujudkan dalam upayanya menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya. Wiwi berkata, "Anak-anak harus belajar al-Quran pertama kali dari saya." Maka berdasarkan ilmu dan tekadnya yang kuat itu, Wiwi rela melantunkan Al-Quran saat menyusui batitanya, menyuapi anak-anak saat masih balita sambil mengenalkan huruf-huruf al-Quran.} -- ms 66
Kedisiplinan {Kedisiplinan juga menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan keluarga Tamim mendidik putra-putrinya hafal al-Quran. Salah satu program yang secara disiplin dan kontinu diterapkan adalah program satu jam duduk bersama al-Quran. Metode hadiah dan hukuman diterapkan di sini. Hukuman yang dipilih bukan hukuman fisik. "Kalau hari ini malas baca al-Quran, besok harus dirapel bacaannya."} -- ms 70
Contoh Tauladan {Sebagai pemimpin yang efektif, pasangan Mutamimul 'Ula dan Wirianingsih benar-benar memahami bahawa karakter mereka berdua akan menjadi barometer bagi putra-putrinya. Mereka tidak meminta putra-putrinya untuk konsisten sebelum mereka berdua menunjukkan konsistensi. Mereka tidak meminta putra-putrinya untuk tekun beribadah kecuali mereka telah memperkuat ibadah mereka sendiri.} -- ms 95
-----
Apa kita rasa kalau kita jumpa atau kenal dengan orang yang hafaz sepenuhnya Al-Quran? Kagum bukan? Bayangkan kalau kita punya zuriat yang kesemuanya menghafaz al-Quran, subhanaAllah. Jazakillah puan penulis, anda berjaya buat saya banyak kali rasa terpukul ketika membaca buku ini.
selain "berbagi pengalaman" mengenai bagaimana membangun keluarga dan menciptakan generasi qur'ani ternyata pemaparan tentang metode yang diberikan pada keluarga ustad Tamim dan ustadzah Wiwi juga disesuaikan dengan tambahan ilmu psikologi perkembangan..jadi belajar psikologi juga nih sedikit-sedikit. very recomended!! dan pada akhirnyatak henti-henti memohon semoga terlahir generasi qur'ani pembuka pintu Roma dari rahim ini dan rahim para muslimah kelak. allahumma aamiin.. :)
Bebagai keutamaan didapatkan oleh para penghafal dan menjaga hafalan (hafizh) Al-Qur'an. Tentunya keutamaan ini diberikan karena menghafal dan menjaga hafalan bukanlah sesuatu yang mudah. Oleh karena itu, kisah 10 bersaudara hafidz quran ini sangat menginspirasi. Kisah di buku ini dapat dijadikan masukan bagaimana membentuk keluarga Qur'ani.
Subhanallah, iri rasanya ketika membaca perjalanan keluarga ini, ada sebuah kecemburuan dan azzam yang kuat untuk bisa membangun keluarga islami dan hafidzh al-qur'an...
Inspiratif!!! Saya rekomendasikan ini untuk seluruh umat muslim ^_____^
Subhanallah,, mencetak generasi qur'ani sepertinya itu adalah harapan setiap orang tua, Semoga kita bisa mewujudnkannya, Dimulai dari orang tua, Eh,,di mulai dari Alif....^^ Iqro"
Teringat untuk mencari buku langka ini kembali setelah sedikit di bahas di @rahmahstudyclub. Alhamdulillah rezeki, masih ada 1 prelovednya di toko hijau :")
Buku ini berisi gambaran mengenai bagaimana cara mendidik (alm) Pak Tamim dan Bu Wiwi hingga mampu menjadikan ke 10 anaknya sebagai penghafal Qur'an yang berprestasi, ditengah kesibukan mereka. Pak Tamim adalah seorang pegiat dakwah dan anggota dewan. Sedangkan Bu Wiwi, bukanlah ibu rumah tangga biasa, beliau juga adalah seorang da'iyah yang aktif di berbagai organisasi skala nasional. Masya Allah.
Dari sini saya belajar banyak. Diawali dengan prasangka baik terhadap takdir Allah dan keyakinan bahwa Al-Quran adalah yang pertama dan utama.
"Keyakinan bahwa saat seorang anak yang memiliki bacaan, hafalan, dan intensitas dalam berinteraksi dengan Al-Qurannya bagus, semuanya bagus. Artinya, prestasi duniawi pun akan bergerak mengikuti prestasi ukhrawi. .. Al-Quran adalah ilmu dasar bagi segala ilmu." - (h. 41)
Selain didasari niat ikhlas, juga ada visi besar serta pembagian peran yang apik antara kedua orang tua. Ayah sebagai peletak dasar pertama dan pemberi arah dalam pendidikan anak dan keluarga, sedangkan ibu adalah pelaksananya. Sebagai seorang aktivis dakwah, Pak Tamim memiliki visi besar yang beliau tuangkan dalam rencana strategis dalam membina keluarganya hingga menjadi keluarga ahlul qur'an.
"Visi yang kuatlah jawabannya. Visi menjadi fondasi bagi sebuah cita-cita besar dalam proses pembibingan putra-putri Mas Tamim dan Wiwi." - (h. 39)
Visi dan harapan yang beliau miliki, dikomunikasikan dengan baik kepada istri dan anak-anaknya. Sehingga, visi itu pun menjadi ruh penggerak keluarga.
"Ibarat seorang yang melakukan perjalanan, mereka telah diberikan peta yang jelas sehingga mengurangi efek ketidakpastian." - (h. 56)
Selain itu, yang tak kalah penting adalah keteladanan yang ditampilkan oleh Pak Tamim dan Bu Wiwi serta konsistensi yang mereka jaga dengan baik.
"Secara teoritis, mereka mendorong putra-putrinya untuk menghafal Al-Quran. Secara praktis, mereka meneladanlan bagaimana caranya agar Al-Quran membumi dalam kehidupan, yakni dengan mendakwahkan dan mengajarkannya." - (h. 62)
Kesemua itu diiringi doa yang tak pernah putus. Masya Allah ♥️♥️♥️
Gimana ya rasanya punya anak yg hafiz qur’an?? pastinya bahagia pisan atuh lah.
“Siapa yg membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yg tdk pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “mengapa kami dipakaikan jubah ini?” dijawab, “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian utk mempelajari al-Qur’an” (HR al-Hakim)
Buku ini menuturkan kisah nyata dari pasangan Alm. Ustadz Mutamimul ‘Ula (Alm Ust. Tamim) dan Ibu @wiwirianingsih (Ibu Wiwi) yg berhasil membesarkan ke 10 anak-anaknya mnjd penghafal al-Quran yang tidak hanya cerdas secara ukhrawi, tapi juga cerdas scra duniawi.
Alasan mereka pun sederhana, krna keyakinan yg kuat dan kecintaan utk kembali kpd kalamullah (Al Quran). Keyakinan bahwa Al Quran sbg pedoman hidup dilekatkan dalam hati dan jiwa putra-putrinya.
Keduanya meyakini bahwa visi utama utk anak2 mereka adlh menanamkan alquran pada anak-anak mereka. Enam tahun pertama diisi dg memberikan bekal dan motivasi kepada anak-anaknya utk menghafal. Enam tahun kedua anak2 diberikan lingkungan yg kondusif utk menghafal (pesantren/sekolah yg ada program tahfidz qurannya) dan membangun kedisplinan. Enam tahun berikutnya diarahkan sesuai kecenderungan ilmu anak2nya.
Buku ini dibagi mnjd lima bagian. Bagia pertama menjelaskan gmn mereka berkomitmen menjadi ‘penjaga’ Alquran. Kedua menjelaskan bgmn keseluruhan dari keluarga ini berikhtiar membina keluarga qurani. Ketiga menjelaskan bgmn seluruh keluarga ini menghadapi tantangan dan menemukan hikmah dalam menghafal Alquran. Keempat menjelaskan profil kesepuluh bersaudara bintang hafalan Alquran. Dan bagian akhir (kelima) dari buku ini ditutup oleh penjelasan dari sudut pandang psikologis, mengapa mnjd penghafal Alquran itu menjadi sangat penting.
Bagiku, buku ini sgt memotivasi karena betapa orangtua menjadi teladan utama bagi anak-anaknya, sehingga dituntut konsistensi yg luar biasa dari orangtua.
“Konsistensi itu tumbuh dari ilmu dan kesadaran penuh.”
Maa syaa Allaah.. banyak ibrah dan faedah yang bisa didapatkan setelah membaca buku ini. Ada beberapa hal yang menegasikan bahwa terbentuknya keluarga yang Qur'ani merupakan manifestasi dari segala ikhtiar, doa, dan terlebih kedekatan seseorang/pasangan suami-istri dengan Al-Quran yang tak putus-putus. Jika segala perencanaan pun upaya dalam mewujudkan senarai peradaban keluarga Qur'ani telah dilakukan, poin pokok lainnya yang tak boleh ketinggalan adalah niat yang senantiasa Lillaah, agar seluruh yang dilakukan menjadi amal jariyah dan Dia liputi dengan barakah. Recommended!
gimana ya rasanya punya anak yang hafiz qur'an?? pastinya bahagia tiada tara.. lihatlah hadist dibawah ini..
"Siapa yang membaca Al Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, "mengapa kami dipakaikan jubah ini?" dijawab, "karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Qur'an" (HR al-Hakim)
ustadz tamim dan ustadzah wiwi, istrinya, sangatlah patut berbangga dengan prestasi ke 10 anaknya yang hafiz quran. 4 dari 10 anak beliau sudah hafiz 30 juz.
bagaimana beliau berdua yang super sibuk dalam dakwah dapat mendidik anaknya sedemikian rupa?
kuncinya ada dalam kesamaan visi dan misi kedua orangtua dalam mendidik anak, keteladanan, kedisplinan, kesabaran, dan keistiqomahan dalam menjalankan program pendidikan yang telah mereka buat.
keduanya meyakini bahwa visi utama untuk anak-anak mereka adalah menanamkan alquran pada anak-anak mereka
enam tahun pertama diisi dengan memberikan bekal dan motivasi kepada anak-anaknya untuk menghafal enam tahun kedua anak-anak diberikan lingkungan yang kondusif untuk menghafal (pesantren atau sekolah yang ada program tahfidz qurannya) dan membangun kedisplinan eam tahun berikutnya diarahkan sesuai kecenderungan ilmu anak-anaknya. ada yang kuliah di ITB, LIPIA, al Azhar Kairo, ada juga yang kuliah di UI.
hal-hal menarik dari program keluarga ini adalah program duduk satu jam bersama al-quran selepas maghrib hingga isya. yang lebih menarik lagi, ustadzah juga mengundang anak-anak tetangganya untuk belajar quran bersama. ia sadar betul bahwa saudara terdekat ini akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak-anaknya, maka ia ikut mentarbiyah lingkungan tempat tinggalnya. anak-anaknya juga menjadi lebih terpacu karena ada teman-teman sebaya mereka yang ikut belajar.
waktu interaksi dengan alquran yang wajib selain ba'da ,maghrib adalah ba'da subuh. anak-anak dibangunkan saat subuh, diwudhukan, lalu sholat bersama di masjid.
konsep reward dan punishment juga berlaku di keluarga ini. rewardnya berupa kesukaan masing-masing anak dan punishmentnya adalah tambahan waktu interaksi dengan al-quran keesokan harinya bila hari ini malas.
ustadzah bercerita bahwa kadangkala ia melantunkan ayat-ayat yang harus dihafal putra-putrinya saat menyuapi atau saat menemani mereka bermain. ia juga melantunkan al-quran saat menyusui batitanya. ia juga memperdengarkan quran melalui pita kaset. ia juga menciptakan lingkungan disekeliling putra-putrinya untuk mencintai al-quran. ia mencari posisi yang dekat dengan anak-anak batitanya saat tilawah quran
"saat mulai usia 4 tahun, saya ajari mereka a ba ta tsa. Sambil bermain dan berlari-lari, saya ajarkan satu hari satu huruf Al-quran." di biografi anak-anaknya yang ada dalam buku ini, semua anak-anaknya bisa membaca al-quran pada usia 5 tahun, dan mulai menghafal antara usia 5-6 tahun.
panulis buku ini, menambahkan beberapa metode yang bisa diajarkan kepada anak balita, misalnya melalui stimulus gambar dan kartu. stimulus gambar bisa diletakkan di kamar anak . sesekali gambar digunakan untuk berdialog atau untuk didendangkan.
untuk stimulus kartu, sang ibu bisa memperlihatkan satu kartu huruf hijaiyah dan sang anak diminta untuk mencari kartu dengan bentuk yang sama. bisa juga dengan sterofoam atau tikar puzzle yang ada huruf hijaiyahnya...
demikian resume singkat buku inspiratif 10 bersaudara bintang al-quran.. yang disusun oleh mbak izzatul jannah dan irfan hidayatullah...ada satu buku lagi yang harus dibaca yaitu "doktor cilik, paham dan hafal alquran"
ayo semangat mendidik putra-putri kita... tapi jangan lupa.. kata aa gym, agar hilirnya baik .. hulunya harus diperbaiki juga..
bukankan pendidikan utama dari orangtua ke anaknya adalah keteladanan??
belum kelar masih setengah tapi udah excited pengen ngabisin, andai aja lonceng malam ga berdentang dua belas kali...
buku ini isinya tips dan trik gimana ustadzah wirianingsing dan utadz mutaminul ula mendidik anaknya. kuncinya doa dan komitmen. Di dalam rumahnya ada program rutin 1 jam bersama Al-Quran. Satu yang jadi sorotan dan membuat saya berniat dan berusaha melatih diri untuk bisa adalah tekad ibu wiwi untuk mewujudkannya "Banyak dan Berkualitas". Seperti kita ketahui bu wiwi melahirkan dan mendidik semua anaknya berjumlah 12 orang (satu meninggal). Dan semuanya adalah para penghafal Al-Quran, tidak seperti keyakinan orang pada umumnya yaitu "Sedikit dan Berkualitas" bu Wiwi justru memilih melahirkan dan mendidik anak dalam jumlah yang cukup fantastis namun juga dipertanggungjawabkan. Tentunya itu semua butuh kesungguhan dan pengorbanan, apalagi interval usia anak yang kecil. Namun itu tetap tidak menyurutkan tekad beliau untuk menghasilkan keturunan "Banyak dan Berkualitas"
Subhanalllah, semoga dapat meneledani semangat dan kegigihan beliau dalam menciptakan peradaban yang baru.
Its really-really inspiring! ...to those who want to have a quranic family in vision. 10 Bersaudara Bintang Al-Quran; the character building, marriage guidance, parenting skills, self-help and motivational all in one.