What do you think?
Rate this book


353 pages, Paperback
First published April 20, 2011
“Apakah Ia datang?”
“Sayangnya tidak. Ia telah mengecewakanku. Sangat menyakitkan bagiku; karena ia adalah orang yang penting dalam hidupku.” Ia mengangkat tangannya “Ah, setidaknya kau disini kan?”
Cemoohan yang hebat.
Kenyamanan yang terjalin antara kami “sangatlah alami.”. Kami tak perlu berpura-pura lagi. Kami memang cocok, bagaikan sepasang harmoni. Karena segala sesuatunya berjalan lancar, kami hanya butuh beberapa bulan untuk membicarakan kemungkinan untuk melanjutkan hubungan kami ke tahap yang lebih “serius” – mungkin hingga taraf yang tak lekang oleh waktu.
“Seberapa jauh jarak yang akan kau tempuh untuk mengejarku?”
“Yah tergantung”
Ia menepuk lututku. “Maaf, Bergantung apa, ya?”
“Tergantung sejauh mana kau berada.”
Apa yang ingin kukatakan adalah semua cobaan ini memang terasa berat untukku, tapi belakangan ini aku mulai berpikir bahwa ini pun berat untukmu. Mungkin jauh lebih berat.
Momen traumatis dapat melukaimu, Ethan, jika kau tidak melakukan hal yang tepat. Itulah yang kupelajari sepanjang hidupku yang selalu dipenuhi luka hati. Aku juga menyadari bahwa sesuatu akan terlihat sangat buruk pada suatu saat, tapi itu kan hanya salah satu momen dalam hidup kita. ‘Badai pasti berlalu’, kata pepatah. Hal yang menimpaku memang sangat mengerikan, tapi aku masih bisa bertahan.
Jika kau memelihara sebuah kemarahan, buanglah itu. Sembuhkan dirimu dari amarah. Jika seseorang telah melakukan sesuatu yang salah kepadamu, biarkan saja mereka sendiri yang menuai balasannya. Dan lupakan saja kemarahanmu. Jangan kau sia-siakan waktumu demi sebuah amarah, meski hanya sedetik dalam hidupmu. Itu hanya perbuatan sia-sia. Itu tak akan bermanfaat untukmu. Itu tak akan bermanfaat bagi siapapun yang kaubenci.
Janji kepada Grandpa Bright
Aku akan selalu memperlakukan Ana bagaikan barang berharga. Sebab dimanapun barang berhargamu disimpan, disitu jualah hatimu berada.”
Saat kurebahkan tubuhku di kursi pesawat, terbesit rasa puas aneh yang meliputiku, seolah-olah segala sesuatu di alam semesta ini terasa sempurna.
Pada suatu waktu semuanya tampak sempurna, dan pada hari selanjutnya segenap fantasinya hilang tanpa sebab dan peringatan.
Sayang, kita jangan terlalu banyak berpikir. Berhentilah berpikir dan bersenang-senang. Jutaan orang sudah melakukannya, jadi ini tidak rumit saat kita melakukannya.
Kami berhati-hati tidak terlalu menampakkan kebahagiaan. Kami sudah belajar dari pengalaman, bahwa semakin kau berharap, rasa sakitmu akan semakin besar
Aku pusing. Tentu saja aku bahagia untuk kesuksesan mereka, tapi di saat yang sama aku tiba-tiba merasa tidak berkecukupan. Mimpi-mimpiku sendiri selalu melibatkan ketenaran dan kekayaan, dan saat ini Stuart Burke, seorang maniak komputer yang secara sosial terbelakang, tiba-tiba saja memiliki banyak uang dan tak punya masalah di dunia ini. Apakah aku iri? Tentu saja. Diam-diam aku bersumpah, bagaimanapun caranya aku harus sukses juga.
Aku takkan mengatakan bahwa kesedihan akibat kehilangan Faith dapat menguap begitu cepat, tetapi di luar perkiraanku, rasa sakit itu menghilang lebih cepat dari yang aku dan Anna perkirakan. Bukan berarti kami tidak sedih ketika kami memikirkan dia, hanya saja kami sangat sibuk mengurus Hope, sehingga kami tidak punya banyak waktu mengenang perasaan kehilangan itu. Kami menangis, hidup tenang dan melakukan yang terbaik demi mencurahkan seluruh cinta dan segenap perhatin kami pada sesuatu yang masih kami miliki.
Aku sering berpikir hidup ini sangat tidak adil. Lalu setelah kurenungkan kembali, bukankah akan lebih buruk jika hidup itu adil, dan apakah semua hal buruk yang menimpa kita itu datang karena kita pantas menerimanya? Jadi, sekarang aku akan mengambil keuntungan dari segala macam kejahatan dan ketidakadilan di alam semesta.
Karena aku sudah lelah mengenang masa lalu. Semua hal yang pernah kuiingat selama perang−hal-hal yang pernah kuiingat, hal-hal yang pernah kulakukan−semua itu tidak hilang begitu saja saat aku pulang ke rumah. Semuanya selalu menghantui pikiranku... Selalu tersimpan di hatiku. Beberapa kali semua itu membuatku sangat marah. Terkadang aku juga merasa sangat bersalah, akibat tindakanku yang telah menghancurkan keluarga yang tak bersalah itu, juga atas apa yang terjadi pada Karl. Akhirnya kuputuskan bahwa aku tak ingin mengingat lagi semua perasaan itu.
Ketika ia meninggal, aku pun kehilangan sebagian diriku. Dan meski begitu, kita masih punya Hope. Mungkin itulah cara Tuhan memberi penghiburan saat kita berduka, dengan membuat kita yakin kita masih punya sedikit harapan untuk bergantung.
Hari itu aku menyerah, dan aku pun bisa segera paham mengapa ayahku bisa terpuruk dalam kesedihan mendalam saat aku masih kecil.
Karena diliputi badai emosional, aku berhenti melakukan aktivitas apapun yang membuatku memikirkan hal itu. Aku menjadi sangat malas mandi dan bercukur. Siapa lagi yang akan kubuat terkesan jika aku berdandan?
Itu tak mudah tentu saja. Tapi setelah mengalami dua kejadian saat kau harus memaafkan dan dimaafkan, aku mampu mengatakan kepadamu bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan dirimu adalah dengan memaafkan.
Hati kita sebenarnya dapat memulihkan diri dari sebuah luka akibat kehilangan seseorang, bahkan orang yang paling kau cintai sekalipun.
Bukan kesedihan yang membuatku terpuruk, Ethan. Kemarahankulah yang membuatku terpuruk. Aku marah kepada Tuhan, kepada dokter, dan kepada siapapun yang bisa aku kambinghitamkan. Namun, luka hatiku ternyata tak mampu kusembuhkan dengannya. Luka itu semakin bernanah, seperti penyakit yang membunuh ibumu.