Nawang itu paduan sempurna atas apa yang tidak Luna miliki. Tidak hanya pintar dan baik hati, tetapi juga berprestasi dan punya banyak teman. Sementara Luna tak pernah berhasil meskipun setengah mati ingin bisa bergaul dan punya sahabat. Dia justru dirundung dan dijauhi orang-orang yang dia kira akan menjadi temannya. Mendengarkan Nawang tertawa-tawa bersama teman-temannya di sebelah rumah hanya mengingatkan Luna pada kesendirian. Luna merasa planetnya akan selalu kosong dan hampa. Dia akan selalu tersisih dari pergaulan dan kesepian sampai tua.
Sementara Luna ibarat enigma. Nawang hanya tahu kalau tetangganya itu tertutup dan pemalu. Gadis itu pernah mengalami perundungan cukup parah yang membuatnya pindah kota saat kecil. Nawang tidak sadar bahwa eksistensinya sebagai anak berprestasi dan punya banyak temanlah yang membuat Luna tak pernah mau didekati.
Kendati begitu, Nawang tidak menyerah. Baginya, sosok penyendiri seperti Luna harus ditemani dan dimengerti, bukan dijauhi, apalagi dikerjai. Namun kenyataannya, mendekati Luna tak segampang yang pernah Nawang bayangkan.
Perasaanku terhadap buku ini ambigu. Di satu sisi, isi buku ini bagus banget, penulisannya mengalir, dan aku suka konsep setiap orang punya planetnya masing-masing seperti yang Luna pikirkan. Namun di sisi lain, aku juga gak bakal baca buku ini dua kali karena terlalu melelahkan. Bukannya plotnya jelek, rumit, atau gimana, tapi karena mengikuti cerita dan pikiran Luna itu sungguh menyiksa. Penulis benar-benar bisa menggambarkan isi pikiran seorang yang punya trauma dalam hubungan sosial dan depresi.
Perasaanku selama baca buku ini udah digambarkan dengan tepat oleh Luna sendiri: Luna capek menjadi Luna, dan menurutku dia membuat orang-orang di sekitarnya capek juga. Termasuk aku 😭
Luna ini bikin aku merasa bersalah dan jahat banget karena sering kesal dan merasa capek dengan semua tindakan dan pikirannya, padahal aku tahu kalau orang-orang seperti Luna memang wajar bersikap kayak gitu. Nggak mudah mengatasi trauma dan ketakutan yang ada dalam pikiran kita sendiri. Bahkan aku sempat bertanya-tanya, kok bisa Nawang sesabar itu ngadepin Luna. Maafkan aku, Lun 😭
Tapi aku rada heran kok orangtuanya Luna baru tahu "ada yang salah" sama Luna setelah masalah Sheila. Maksudnya, mereka tahu Luna jadi korban bully pas kecil, mereka juga tahu gimana sikap Luna sehari-hari (salah satunya gimana Luna sering banget nangis sambat ke kakaknya, dan bahkan sering juga kena serangan panik), dan sepertinya orangtua Luna juga cukup terpapar informasi menilik dari profesinya. Jadi aku kayak, ke mana aja kok baru sadar kalau anaknya butuh bantuan psikologis? Sejak awal aku sempat bertanya-tanya, ini Luna bisa separah itu apa karena dia nggak ke psikolog atau gimana, ternyata benar. Tapi untungnya dibahas di akhir gimana ibu Luna tahu kalau cara dia ngadepin anaknya yang trauma juga keliru.
Yang aku suka lagi dari buku ini adalah "keremajaannya". Sikap karakter-karakternya banyak membuatku kesal. Misalnya, Nawang yang terkesan pdkt sama dua orang sekaligus (karena dia sendiri bingung sama apa yang dia rasakan), atau Nawang yang minta maaf ke Sheila demi Luna (padahal harusnya dia minta maaf ya karena dia memang salah), dan masih banyak lagi. Sikap-sikap semacam ini bikin jiwa orang dewasaku geregetan dan meronta-ronta, which is menurutku bagus dan make sense aja karena mereka masih remaja. Mereka berpikir seperti usianya.
Oh ya, penceritaan buku ini cukup ngalir dan mudah diikuti. Tapi menurutku, prolog-nya gagal. Terlalu banyak informasi dan diceritakan secara "telling", jadinya terasa hambar. Aku baca prolog lalu berhenti cukup lama karenà kurang antusias lanjut baca bab 1. Tapi, begitu aku coba lanjut baca, jadi asyik dan seru. Lalu bagian penjelasan tentang masalah Nawang dan Sheila itu menurutku lebih menarik kalau dijelaskan oleh Nawang sendiri, bukan narator.
Intinya, buku ini membuat perasaanku campur aduk. Luna nunjukkin betapa bisa fatalnya ketika trauma dan depresi nggak mendapatkan penanganan yang tepat. Aku bersyukur karena Luna dikelilingi oleh orang-orang yang sabar dan peduli sama dia, meskipun aku agak-agak gimana gitu waktu disebut alasan Nawang suka sama Luna karena dorongan untuk melindungi gadis itu. Yaah, lagi-lagi jiwa orang dewasaku meronta-ronta. Wkwk
Terakhir, font buku ini kecil banget! 😭 sebuah penyiksaan untuk mataku yang emang blawur ini T_T Plus, banyak kosa kata nggak sesuai kbbi (misal: menjahili yang harusnya menjaili) dan juga teknis penulisan yang menurutku nggak tepat dipakai dalam buku (misal: mau yang ditulis "mo" meski dalam dialog. Kecuali kalo chat/sms sih gpp).
Apa lagi, ya. Banyak banget sebenernya uneg-uneg yang muncul selama aku baca buku ini. Nggak mungkin kuungkapkan semua hahahah
Semoga orang-orang di luar sana yang seperti Luna, juga bertemu dengan orang-orang baik, mendapat penanganan yang tepat, dan segera memahami betapa dia dan kita semua itu berharga.
Aku mengikuti cerita ini sekitar— tahun 2018 (??) sedikit lupa, yah, intinya ketika aku berada di kelas 7.
Lalu seterusnya aku mulai mengikuti aktivitas Kak Ray di Instagram sampai akhir tahun lalu di Instagram stories-nya, bahwa Planet Luna akan diterbitkan. Tentu ekspetasiku terhadap buku ini cukup tinggi, namun saat membaca buku ini aku merasa agak sedih karena beberapa hal : 1. Di versi wattpad, terdapat perbincangan antara Nawang dan sang Ayah mengenai alasan Nawang memilih jurusan IPS. Tetapi di versi bukunya dihilangkan, padahal dialog tersebut benar-benar memotivasiku di kelas 10 ini untuk yakin memilih jurusan IPS. Bagaimana Nawang yang lelah menjadi anak prestasi, alasan mengapa dia tertarik berkecimpung di jurusan IPS padahal ia mampu masuk di jurusan IPA, dan perbincangan lainnya. Sangat disayangkan interaksi ayah-anak itu dihapus, padahal itu bisa menjadi motivasi remaja yang ragu memilih jurusan (seperti saya) di SMA.
2. Adegan Luna yang 'mau' untuk berpacaran dengan Nawang ternyata dibuat lebih sederhana dibandingkan versi Wattpad. Aku masih ingat, Luna berlari di terpaan hujan untuk menyusul Nawang yang hatinya remuk karena jawaban 'menolak' tidak langsung dari Luna. Luna memeluk Nawang, berkata mau, dan Nawang yang terheran-heran lalu tersadar maksud 'mau' dari Luna, benar-benar adegan yang membuatku jungkir balik di kasur. Tetapi seperti yang aku ketik di awal tadi, adegan itu dibuat lebih sederhana dan kesan manis mereka sedikit memudar.
Namun, selebihnya buku ini sangat-sangat aku rekomendasikan untuk remaja SMP dan SMA. Genre teenlit yang indah dan tidak lebay ialah poin penting dari kisah Luna dan Nawang.
Jadi, rate ku untuk buku ini 4,5/5 💌
This entire review has been hidden because of spoilers.
di bagian awal membaca buku ini, aku sebenernya enjoy bacanya, tapi semakin ke belakang, aku merasa, ah cerita ini berakhir seperti cerita cerita anak SMA lainnya.
cerita diawali dengan luna yang kehilangan neneknya. luna sangat dekat dengan sang nenek semasa dia SMP di solo. saat duduk di bangku sekolah dasar, luna sering mendapat perundungan yang membuatnya harus pindah sekolah.
saat SMA, luna terpaksa pindah ke jakarta, kota di mana dia mengalami perindungan saat SD. hal itu membuat luna kembali teringat perlakuan buruk teman temannya dulu.
luna berusaha untuk menjalani hari pertamanya masuk SMA dengan semangat, namun kepalanya terlalu bising. apalagi saat teman teman sekelasnya tahu bahwa ayah luna pernah menjadi guru di sana.
praktis saja teman temannya menuduh luna bisa masuk di semester yang sudah berjalan karena andil ayahnya. ditambah dengan teman sekelasnya yang terlihat seperti perisak, luna menjadi semakin sulit berteman dengan teman sekelasnya.
di sisi lain, kita akan bertemu dengan nawang, laki2 seumuran luna yang punya segudang prestasi juga punya banyak teman. nawang sangat ingin berteman dengan luna, tapi luna selalu menjaga jarak.
rumah mereka berdua di jakarta bersebelahan, tak jarang luna mendengar keseruan nawang saat teman temannya berkunjung ke rumahnya. hal itu makin membuat luna iri. nawang sendiri ingin dekat dengan luna karena dia merasa luna perlu dilindungi.
seiring berjalannya waktu, luna akhirnya punya teman meski beda kelas. nama temannya adalah sheila, beserta thalia dan tia. luna senang punya teman dan diundang ke grup chat. mereka berempat pun sering terlihat jalan berbarengan.
perlahan, nawang bisa mendekati luna. namun ada kejadian antara nawang dan sheila yang belum luna ketahui. ketika mengetahuinya, luna bertekad ingin "meminta izin" pada sheila agar luna bisa dekat dengan nawang, sekaligus berteman baik dengan sheila.
menurut luna, sheila adalah teman spesial baginya. karena sheila adalah teman pertamanya di masa SMA. luna rela melakukan apapun untuk bisa terus berteman dengan sheila, termasuk menjauhi nawang.
nawang minta maaf ke sheila atas perbuatannya di masa lalu. tapi, nawang melakukan itu demi luna, bukan karena dia merasa bersalah. mungkin ini juga yang mengingatkan kita sebagai pembaca, oh ya, mereka masih remaja. tentu aja pemikirannya beda sama orang dewasa.
aku suka gimana buku ini mengangkat tema kesehatan mental. jujur aku sendiri merasa capek sama luna, yang mana luna sendiri juga merasa begitu. iya sih, aku gak ngerti karena aku gak ada di posisi dia. mungkin memang apa yang dialami luna membuatnya bersikap seperti itu.
di awal awal cerita, aku tuh sempet bingung, karena nama kakaknya luna dan nama mamanya nawang mirip mirip. yang satu rina, yang satu lagi riana. buat masukan aja sih, emang hal minor tapi mungkin kalo bisa namanya jangan mirip mirip biar pembaca gak bingung.
kalo buat narasinya sendiri aku suka, nyaman dibaca meski beberapa kali ada penggunaan kata kata tidak baku. aku juga ikut senang akhirnya luna mendapat penanganan yang tepat dengan pergi ke psikolog.
Another Elex's Lit yang bikin banyak merenung. Permasalahan Luna nggak bisa dibilang sepele. Justru masalah ini kompleks dan harus banget dibahas. Perundungan, apa pun bentuknya, akan meninggalkan bekas berupa luka dan nggak akan sembuh dalam jangka waktu yang pendek. Stop school Bullying!
Luna mengalami perundungan ketika SD sebelum akhirnya dipindahkan ke Solo dan tinggal bersama neneknya. Bertahun-tahun hidupnya damai, lalu neneknya meninggal dan hal itu jelas memengaruhi kehidupan Luna setelahnya.
Trauma masa lalu masih belum sepenuhnya membaik, ditambah kondisi sekolah barunya yang sama saja seperti dulu. Luna jelas nggak betah. Itu sebelum bertemu dengan Sheila dan dua temannya lalu mereka menjadi sahabat. Lalu Nawang, tetangga sekaligus teman satu sekolah, yang ingin berteman dengan Luna, datang dan semua mimpi buruk dimulai.
Kayaknya aku pernah bilang di suatu tempat jika topik dalam YA bisa sangat depresif. I told about another' publisher, but this one kind of. Topiknya sangat tidak mudah diterima begitu saja sekaligus harus banget dibaca. Perundungan nggak pernah jadi topik yang mudah, kan, mengingat dampak buruknya.
Isi kepala Luna sangat berisik. Beneran berisik sampai-sampai pembacanya ikut terseret dan mau nggak mau harus memikirkannya juga. Well, nggak bisa menyalahkan Luna. Yang dia alami jelas bukan hal sepele apalagi mudah. Kalau sepanjang baca ini kamu merasa "lelah", maka kamu ikut merasakan beratnya posisi Luna.
Ketika akhirnya dapat teman yang berakhir jadi sahabat, Luna mengulang bagian apa yang belum pernah dia rasakan. Yah, kelihatannya kekanakan, terlalu norak, ke mana-mana bareng seolah nggak mau lepas, dan kelewat senang. Yep, siapa juga yang nggak kepengin punya sahabat, apalagi lingkungan kelasnya nggak kondusif. Lama-lama paham kenapa Luna merasa cemburu waktu sahabatnya pilih fokus ke kelompok belajar ketimbang menghabiskan waktu sama dia. Sekali lagi, Luna baru merasakan itu di tahun pertamanya di SMA.
Bagian yang aku suka di buku ini adalah meskipun mengalami masa-masa sulit, mereka nggak ragu buat mengambil langkah, meskipun menyakitkan. Dan yang paling penting; mengusahakan untuk sembuh.
Realistic fiction yang ini harus banget dibaca, berapa pun umur kalian. Perundungan bukan topik yang nyaman, tapi korban lebih merasa tidak nyaman seumur hidupnya.
Dulu baca ini pertama kali di Wattpad, cuma emang udah lama dan lupa ceritanya. Sekarang baca versi bukunya. Permasalahan yang diambil cukup sederhana sebetulnya, mengenai pertemanan di sekolah. Tapi melalui buku ini tuh aku dapat penggambaran bahwa, apa yang menurutku sederhana, ternyata bagi orang lain nggak sesederhana itu. Aku suka dengan cara penyelesaian masalahnya yang nggak muluk-muluk, nggak yang semuanya akhirnya berteman, lebih realistis aja. Aku juga suka penggambaran mengenai keluarganya Luna yang walaupun sibuk, tapi masih peduli sama Luna, juga keluarganya Nawang yang akrab banget sama keluarga Luna. Dan hubungan Luna-Dayan sama Luna-Tirta ini juga lucu banget sih wkwk.
The story orbits around a high school girl called Luna. As a shy, closed person, she doesn’t have much (any) friends before, and even getting bullied or isolated by her schoolmates. She eventually moved on to new school in the new city. However, she struggled to overcome her barriers to start a new life. In the other side of the coin, there’s Nawang. He’s not just a boy, he’s the perfect boy. At least that’s what Luna perceived him. Luna always admired (or envy) Nawang. Nawang has everything, and the most important is the one that Luna didn’t have, friend(s). Will Luna get what she wanted the most?
Okay, first of all, I have to disclose this one crucial information. THE FONT IS TOO SMALL, it actually hurts my eyes. Seriously, you’ve been warned.
Nawang has many friends, and a circle like group that consisted of 7 members including himself called Fantastic Five (F5). Every night, their group would gather in Nawang’s house, which is located just next door from Luna’s. Luna always heard their happiness laughter and wonder will she experience something like that. In school, Luna received bad treatment from her classmates, Eventually, she met someone named Sheila from different class, and begin their friendship. And then Sheila’s friends eventually became Luna friends as well.
After a while, Luna then begin discovering herself. She joined modern dance club, and then met Nawang in school for the first time. Turns out Nawang has always curious and cares about Luna (surprise). And then begin the dynamic of their relationship.
I really do enjoy the novel. The author did a good job describing everything, from small detail to big conflict. It’s not easy, especially with many characters and relationships between each one. And overall I really enjoy the story
It’s a good story, and my complain doesn’t hinder the fact that it’s still beautiful writing by the author and deserved to get more recognition.
reading this book know nothing and end up loving it. suka banget ceritanya yg ringan, lucu dan innocent, di saat yang bersamaan juga menawarkan topik yg sangat dekat dengan kehidupan anak muda terutama anak-anak SMA.
Bullying yang diterima Luna sejak kecil menjadikan dia pribadi yang tertutup dan takut berinteraksi dengan orang lain. Luna pun menciptakan ide planet-planetnya di mana setiap orang punya planetnya masing-masing yg bisa penuh dengan badai, atau sejuk. Di lain rumah, ada Nawang yang ingin sekali berteman dengan Luna dan mengenal gadis itu lebih dekat.
Buku ini sukses bikin aku senyum-senyum, nangis (banyak) dan nggak berhenti baca. Suka banget waktu Luna dan karakter di buku ini sering ganti nama org yg mereka benci, also i love how mature certain characters, membuat mereka bisa membantu Luna mengenal dirinya lebih lagi.
Suka juga dengan terapi yg di include di buku ini, yang bukan hanya melibatkan si korban tapi juga keluarga mereka.
Pokoknya buku ini seru, penting, wajib di baca. Bikin kepikiran berhari-hari. I LOVE THE WRITING STYLE TOO
Aku nemuin cerita ini di Wattpad pada fase depresiku waktu kelas 7 di pandemi. Semua yang Luna rasakan, itu aku rasakan juga. Aku bangun dari pagi sampai malam cuma buat menyelesaikan buku ini dan jejak air mata masih ada waktu itu.
Sekarang, aku kembali baca kisah Luna saat sudah SMA, di kelas 10-3, sama kayak Luna. Tapi aku baca ini dengan perasaan berbeda. Beberapa intrusive thoughts yang Luna punya sebenernya masih aku rasakan sampai sekarang, tapi aku juga sekarang kayak Luna, aku udah berani berteman dan punya temen-temen baik, kayak Nawang dan F5.
Semua karakter disini punya kekurangan. Nawang punya, Sheila punya, Luna punya, Dayan pun juga. Aku selalu suka gimana Kak Sach mendeskripsikan karakter, seakan mereka hidup. Semua karakternya stand out dan punya keunikan masing-masing tanpa ditulis secara gamblang. Aku suka Cecilia, dan aku pengin banget bisa seperti dia (beauty and brain).
Cuma ternyata lumayan banyak yang beda dari versi Wattpad ya? Aku inget waktu itu ada scene dimana Nawang shalat buru-buru, rambut basah karena mau nyambut Luna. Terus pas Luna hilang, dan sebagainya.
Terimakasih Kak Sach sudah menceritakan kisah Luna disini. Aku sangat sangat menunggu karya lainnya (RT AKU PENASARAN). Terimakasih sudah menciptakan F5. 🌟
This entire review has been hidden because of spoilers.
Planet Luna, mengisahkan kehidupan Luna, seorang gadis yang mengalami trauma akibat perundungan di masa kecilnya. Trauma ini membuatnya menjadi pribadi tertutup dan kesulitan menjalin pertemanan.
Di sisi lain, Nawang, tetangga sekaligus teman satu sekolah Luna, adalah sosok yang baik hati, ceria, berprestasi, dan memiliki banyak teman. Suara tawa Nawang dan teman-temannya yang terdengar di rumah seberang sering membuat Luna makin sadar akan kesendiriannya, hingga ia merasa planetnya akan selalu kosong dan hampa.
.𖥔 ݁ 🪐˖
Siapa sangka cerita anak SMA ini bener-bener heartwarming dan ceritanya baguss banget!
Buku ini nggak cuma soal romance yaa, tapi lebih banyak ke healing journey-nya Luna. Jadi kalau kalian pengen baca yang nggak melulu cinta-cintaan, tapi juga dapet vibe persahabatan dan belajar berdamai sama diri sendiri, ini cocok banget.❤️🩹
.𖥔 ݁ 🪐˖
Narasinya ngalir dengan gaya bahasa yang pas buat pembaca remaja. Dialog-dialognya terasa natural dan nggak dibuat-buat.
Meskipun cuma cerita anak SMA, ceritanya tuh kompleks yaa. Nggak cuma soal percintaan aja, tapi juga ngebahas isu perundungan, rasa takut, dan pentingnya dukungan sosial. Dan semuanya dikemas dengan cara yang santai, nggak menggurui, tapi tetep kena. Setiap bab-nya bikin kita makin deket sama perjalanan Luna buat membuka diri.
Aku suka banget sama character development di sini! Perubahannya nggak drastis, tapi terasa banget.
1. Luna Luna yang awalnya selalu berpikiran negatif, menarik diri, dan susah percaya sama orang lain, perlahan-lahan belajar buat berubah. Luna pengen punya teman, mempertahankan teman-temannya, dan jadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sebagai seseorang yang pernah jadi korban pembullyan juga, aku merasa relate banget sama Luna di beberapa hal. Memang dukungan dari orang-orang sekitar dan lingkungan yang positif itu penting banget buat kesehatan mental.
Persahabatan Luna dan Sheila juga bikin aku salut banget. Mereka sama-sama berjuang buat sembuh dari trauma masing-masing, supaya bisa berteman tanpa harus saling menyakiti.🥹❤️🩹
2. Nawang OH MY! He's really a green flag one! Salut banget sama Nawang yang selalu sabar dan penuh empati buat Luna. Dia terus ada buat nemenin Luna sembuh, dan nungguin sampai Luna benar-benar siap. Padahal ya, Nawang ini nggak dibesarkan di keluarga yang 100% positif, tapi dia tetap bisa jadi support system yang solid buat Luna, meskipun sempat disakiti. Intinya, cowok kayak Nawang ini tuh rare banget, cuma ada 1:1000🤏
3. Dayan Bro, everyone agrees that this boy is really lovable and a total sweetheart!🫶 Dayan ini salah satu karakter yang ikut berperan besar dalam hubungan Luna dan Nawang, juga proses healing-nya Luna. Cara dia kasih nasihat tuh lembut banget, bikin hati meleleh. 🥹🫶 Pesona cowok beda agama🙂↔️
Dan nggak ketinggalan semua gengnya Nawang yang ikut ngeramein cerita ini. Mereka punya perannya masing-masing, jadi nggak cuma numpang lewat aja.
.𖥔 ݁ 🪐˖
Overall, aku suka banget sama novel ini! Aku bakal beli versi fisiknya juga deh.
Meskipun ini kesannya cuma cerita anak SMA, tapi percayalah ini bagus banget! Pesan dan insight yang ada di dalam novel ini tuh ngena banget.
Novel ini ngingetin kita betapa pentingnya self-love, dukungan sosial, dan keberanian buat bangkit dari luka masa lalu, serta memberikan wawasan tentang pentingnya empati. Jadi novel ini nggak cuma menghibur yaa, tapi juga ngajarin banyak hal. Highly recommended!🤩🫶
Penulis: Ray Antariksa Yasmine Halaman: 304 Genre: Fiksi, Young Adult & Romansa Diterbitkan oleh: Elex Media Komputindo Selesai dibaca pada: 12 Januari 2024 (RBK)
Nawang itu paduan sempurna atas apa yang tidak Luna miliki. Tidak hanya pintar dan baik hati, tetapi juga berprestasi dan punya banyak teman. Sementara Luna tak pernah berhasil meskipun setengah mati ingin bisa bergaul dan punya sahabat. Dia justru dirundung dan dijauhi orang-orang yang dia kira akan menjadi temannya. Mendengarkan Nawang tertawa-tawa bersama teman-temannya di sebelah rumah hanya mengingatkan Luna pada kesendirian. Luna merasa planetnya akan selalu kosong dan hampa. Dia akan selalu tersisih dari pergaulan dan kesepian sampai tua.
Sementara Luna ibarat enigma. Nawang hanya tahu kalau tetangganya itu tertutup dan pemalu. Gadis itu pernah mengalami perundungan cukup parah yang membuatnya pindah kota saat kecil. Nawang tidak sadar bahwa eksistensinya sebagai anak berprestasi dan punya banyak temanlah yang membuat Luna tak pernah mau didekati.
Kendati begitu, Nawang tidak menyerah. Baginya, sosok penyendiri seperti Luna harus ditemani dan dimengerti, bukan dijauhi, apalagi dikerjai. Namun kenyataannya, mendekati Luna tak segampang yang pernah Nawang bayangkan.
──
"Kalau kamu udah dewasa, Luna, kamu mungkin akan tahu kalau nggak semua mimpi itu bisa terwujud."-halaman 110
Sebetulnya ini wishlist yang mau kubeli buku fisiknya, tapiii kebetulan dapat di RBK jadi gas langsung baca (tapi tetep mau beli fisiknya soalnya cantik).
Isinya sederhana, tentang Luna yang kurang bisa bersosialisasi karena kenangan masa lalu yang buruk akibat bullying saat SD, itu yang bikin dia menutup diri dari lingkungan serta kurang bisa mengekspresikan apa yang dia mau ke orang-orang. Lalu Nawang, tetangga Luna, mau temenan sama Luna tapi berhubung Nawang itu pinter sekaligus ada problem dengan temen baru Luna, Sheila, jadilah Nawang muter otak gimana bisa temenan sama Luna.
Sejujurnya aku sedikit relate sama karakter Luna ini, lumayan kurang bisa bergaul kecuali orang lain yang deketin duluan, itupun nggak yakin bakal bisa temenan. Perasaan Luna yang penulisnya sampaikan lewat narasi-narasinya betul-betul bisa kerasa olehku, gimana ketakutannya kepada orang lain, gimana overthinking dia, itu sempurna.
Lalu range kemunculan setiap tokohnya seimbang, kayak semua tokohnya ini (even yang figuran) pasti momentumnya pas, nggak timpang. Kehidupan pertemanan masa SMA sama akademiknya juga kerasa, bikin flashback zaman-zaman yang masih seru-serunya gitu, ditambah romance antara Nawang sama Luna itu lucuuu gemes, nggak kerasa dipaksakan, mengalir aja gitu.
Tapi aku sedikit menyayangkan sifat bunda Luna, kenapa baru sadar anaknya punya penyakit mental pas ada masalah sama Sheila gitu:( kenapa nggak dulu-dulu:(
Aku yang suka hal-hal tentang astronomi langsung tertarik membuka buku ini saat pertama kali membaca judulnya. "Planet Luna", judulnya singkat, tetapi punya daya tarik yang kuat untukku.
Dengan genre teen romance dan membawa isu gangguan mental, buku ini menyajikan konflik yang cukup kompleks. Mulai dari masalah perundungan, pergolakan trauma, upaya mengatasi kecemasan, hingga perselisihan antarteman dan gejolak romansa anak remaja.
Meski begitu, menurutku penulis berhasil menarasikannya secara sederhana, khas cerita teenlit. Aku suka karena ceritanya tetap fokus pada proses pemulihan Luna dan cara dia bangkit kembali dari trauma.
Walau membuat dada sesak karena emosi intens yang diuraikan dalam cerita, ini tetaplah novel romansa, adegan-adegan manisnya berhasil membuatku ikut senyum-senyum juga.
Interaksi antara Nawang dan teman-teman F5-nya juga lawak. Selalu ada saja obrolan mereka yang membuatku tergelak, terutama Rendi dan Tirta. Kesetiakawanan mereka pun patut diacungi jempol. Pantas saja kekariban mereka sampai membuat Luna iri. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Dan ... DAYAN! Angkat aku jadi adikmu juga! 😂
Yang kurang berkenan di aku cuma penggunaan pronomina kata "kita" yang seharusnya "kami" saja, tetapi mungkin hal itu karena menggunakan ragam cakapan dan disesuaikan dengan bahasa pergaulan anak remaja di setting latar kota cerita ini. Walau aku kurang terbiasa, tetapi masih bisa diterima.
Aku yakin pembaca yang berada di posisi Luna pasti akan mudah terkoneksi dengan cerita ini. Ini buku yang cocok untuk menemani berproses dalam pemulihan. Begitu juga untuk yang ingin belajar memahami dan berempati pada orang-orang yang mengalami gangguan mental. Ini rekomendasi yang tepat! 👍🏻
"Temen itu nggak kayak anak bebek yang bakal ngikutin kita terus seakan-akan kita ini induknya. Mereka juga perlu diperjuangkan."
"Hati seseorang bisa patah tidak hanya karena perasaan cinta yang tak berbalas, tetapi juga persahabatan yang rusak."
"Hari itu, Nawang belajar bahwa berbaikan tidak berbanding lurus dengan berteman."
-------- 5 glowing stars!
Buku ini udah aku baca dari versi Wattpad 2014, saat judulnya masih "You've Got A Friend", lalu kubaca lagi versi revisiannya di Storial (kalau gak salah judulnya sudah Planet Luna), lalu kubaca lagi versi revisi yang berhasil dapat penghargaan Watty's Award 2019, dan sekarang kubaca lagi versi finalnya yang udah dicetak fisik.
Jadi ya, bisa dibilang aku ini udah baca kisahnya Luna dari aku masih seumuran sama dia, sampai aku udah lulus SMA, lulus kuliah, dan sekarang kerja!( ≧∀≦)ノ
Sekarang emang sih umurku dan mereka udah gak sebaya lagi, tapi aku tetep nganggep bocil-bocil ini temen aku huhuu. Dan walaupun udah baca berkali-kali, aku nggak pernah bosan ketemu Lunawang terus. Justru aku senang karena bisa menyaksikan langsung gimana kisah mereka berkembang jadi semakin berbobot. Gak ada perubahan-perubahan elemen cerita yang perlu aku keluhkan karena emang semuanya itu necessary. Intinya suka deh gimana penggambaran dan alur yang dibuat penulisnya. Bener-bener jelas dan gak meninggalkan tanda tanya di benakku.
Can't wait to rea the other F5 series! Semangat nulis selalu buat Kak Ray!!
Novel yang premisnya agak klasik dan kalau dibaca sekarang agak cringe, tapi tetep sebagus itu. Cara penulis menarasikan setiap plot, percakapan yang ngga kaku, dan CHARACTER DEVELOPMENT YANG KEREN BANGET!!! Seolah penulisnya tahu seperti apa character development yang aku pikirin, Luna—Sang Tokoh Utama—, punya itu. Bukan seperti tokoh yang jadi "baik" setelah menyelesaikan konflik, atau tiba-tiba berubah 180° jadi kayak orang yang beda. Dunia ngga se hitam atau putih itu. Karena pada dasarnya setiap manusia, sifat dan kepribadian mereka akan sangat susah untuk dirubah. Makanya, novel yang ngambil plot tentang tema kayak gini itu seringkali terkesan ngga realistis, terlalu maksa perubahan tokohnya. Tapi novel ini ngga, penulisnya bukan merubah, tapi membuka dan memberikan kesempatan. Itu poin terpenting menurutku.
Bagus! Ga ada tokoh yang sempurna di buku ini. Semua tokoh punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk buku kategori teenlit tergolong kekinian juga. Masukin tema mental health tanpa berlebihan dan lebay.
Memang rumit jadi Luna, yang real bisa kita temuin di kehidupan nyata :"))
Selama baca buku ini aku merasa ga asing sama apa yang dialamin Luna atau semua anak disini. Konflik semua tokoh disini bener-bener relate sama anak remaja. Aku suka gimana penyelesaian masalah Luna di akhir cerita.
Aku pikir, teman seperti Nawang itu langka banget. Planet Luna yang penuh dengan warna-warni setelah Nawang datang. Begitupun Planet Nawang, yang aku pikir juga lebih berwarna semenjak Luna datang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Poin plus untuk penggambaran psikologisnya Luna, tetapi sisanya berasa kurang masuk ke dalam logikaku. Apalagi hubungan romansa antara Luna dan Nawang di awal terasa buru-buru.
Bisa aja, ini bukan seleraku saja. Jadi kurang masuk di aku. Namun, penulisannya cukup oke, walaupun lebih kebanyakan ‘menjabarkan’ daripada menceritakan.
Kalimat pertama novel ini langsung sukses mengikat perhatianku:
Ketakutan terbesar Luna adalah keluar rumah dan bertemu banyak orang.
Demikian juga dengan kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf berikutnya:
Menghadapi lingkungan baru dan orang asing di luar sana dapat membuat otot-ototnya serasa terkunci, napasnya sesak, pikirannya berkabut dan berputar-putar, sampai-sampai dia tidak bisa melakukan apa pun.
Rasa takut itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan bertumbuh. Benihnya tertanam pada masa Sekolah Dasar dulu, ketika sosok Luna yang kecil dan ringkih dianggap sebagai mainan oleh anak-anak sebayanya. Seakan-akan, dia hanya benda mati yang tidak punya hati dan tidak bisa sakit.
Cengeng! Kurcaci! Anak mami! Gue injek lo! Hahahahaha!
Makin ke bawah, pedihnya makin terasa. Anak-anak kecil bisa jadi makhluk terkejam yang menimbulkan trauma yang akan terus membekas seumur hidup, jika mereka tidak dididik dengan baik. Tidakkah kenyataan ini terasa begitu pahit? Para orangtua menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan anaknya bisa mendapatkan pendidikan terbaik serta mampu bersosialiasi. Namun, seringkali justru sekolahlah yang melukai anak-anak. Teman tukang risak, guru killer, pegawai yang ketus, peraturan yang tidak jelas manfaatnya apa, dan lain sebagainya.
*
Ceritanya terasa sangat padat. Penulis berhasil menyajikan rumitnya konflik pertemanan anak remaja. Membaca Planet Luna mengingatkanku akan sensasi yang kurasakan waktu baca Resilience: Remi's Rebellion. Keduanya sama-sama bercerita tentang anak perempuan yang kesulitan berteman. Nyesek karena baik Luna dan Remi mengingatkan diriku pada sosok canggungku waktu anak-anak dan remaja dulu, meskipun perundungan dan isolasi yang kualami enggak sampai separah yang dialami Luna, sih.
Ada sedikit rasa pahit ketika baca bagaimana Nawang, Riana, Sheila, Thalia, Tia, Dayyan, dan orangtua Luna rela melakukan banyak hal untuk membantu Luna bangkit dari keterpurukannya. Nggak semua orang punya sederet sahabat dan keluarga yang menemani dalam menghadapi keterpurukan seperti Luna. Namun, di sisi lain aku pun sangat lega membaca berbagai bantuan yang didapatkan Luna, kalau enggak, novel ini akan jadi sangat bikin putus asa. Lunanya juga hebat karena ada banyak momen ketika dia memberanikan diri untuk memulai sesuatu demi menghadapi masalahnya. Misalnya ketika menuntut penjelasan dari Dayyan soal Thalia dan keputusannya untuk jujur pada Sheila soal perasaannya pada Nawang.
Tampaknya pesan novel ini tidak hanya bagi para korban bullying, melainkan juga bagi orang-orang di sekitarnya agar bertindak. Bantuan dari psikolog sangat disarankan untuk membantu sang korban bangkit dan melanjutkan hidupnya.