Kumpulan enam cerita unik yang menghibur, terinspirasi dari kehidupan dan cinta .
“Anak muda jaman sekarang mana ada yang surat-suratan. Lewat e-mail sudah bagus, setidaknya ada usaha menulis lebih dari 160 karakter. Kebanyakan orang sekarang pacaran lewat SMS, atau yang lagi nge-trend lewat blackberry messenger.” Cuplikan AMPLOP MERAH MUDA UNTUK PAK POS
“Kematian itu pula yang membuat Chandra tidak pernah merayakan ulang tahunnya karena hal itu seolah merayakan kematian ibunya.” Cuplikan SATU MALAM
“Siapa sih yang buat peraturan kalo suami istri itu harus tidur dalam satu kamar dan di atas satu tempat tidur yang sama?”Cuplikan BOLEHKAH, AKU TIDUR DI RANJANGMU?
“…Kita bersedih kalau ada kesusahan kan. Sementara kematian itu bukanlah suatu kesusahan,” Cuplikan MATI
“…hilang ingatan sama seperti menekan tombol reset kehidupan kita kan? Semua mulai dari nol lagi. “ Cuplikan ISTRIKU
“Waktu itu tanggal 12 Mei 1998, aku hancur ketika tahu Juno benar. Rekan-rekan mahasiswaku banyak yang jadi korban kebrutalan tentara, yang tewas banyak.”Cuplikan CINTAKU PADA JANUARI
Buku ini adalah kumpulan cerita cerita pertama Kanti W. Janis yang diterbitkan secara mandiri melalui penerbit OPTIMIST+
156 hlm, 13x20 cm, harga Rp 35.000,-
Untuk pesan kirim e-mail ke penulisoptimis[add]yahoo.com discount 30% dan gratis ongkir untuk wilayah jabodetabek
KANTI W. JANIS is an Indonesian born writer. In 2007, she obtained her bachelor of law in International Law from Atmajaya University, Jakarta. The following year she earned her LL.M degree in International Law and Law of International Organization from Groningen University, The Netherlands. Kanti attended a creative writing summer course at Oxford University in 2011. Although she has law degrees, writing has always been her first love. Therefore in 2006 she encouraged herself to publish her first novel, and since 2010 she established her own publishing house, Optimist +. In 2022 Kanti opened an independent public library and meeting space Baca Di Tebet. The previous year, she also established a literary agency, Indonesian Writers Inc.
Suka sekali, pada bagian Bolehkah, Aku Tidur Di Ranjangmu benar" menghibur, lucu. Untuk bagian Mati ada quote favoritku "mati itu enak, kalau nggak enak kenapa nggak ada orang mati yg kembali lagi?".
Sebenarnya saya lebih suka membaca fiksi yang lebih panjang. Tetapi, kemudian sepertinya saya kena karma. Kumpulan cerpen dalam Amplop Merah Muda untuk Pak Pos membuat napas saya naik turun.
'Hujan dan Bulan' membuat saya galau. 'Istriku' buat saya ... ohhh begitulah cinta rupanya. 'Amplop Merah Muda untuk Pak Pos' banyak memberikan pengetahuan tentang sejarah. Lalu ... cerpen idola saya, 'Bolehkah, Aku Tidur di Ranjangmu?' dan 'Cintaku Pada Januari' benar-benar menenggelamkan saya pada alurnya.
Sejujurnya saya tidak mengenal Kanti secara personal, namun pemilik toko buku tempat saya bekerja agaknya memiliki hubungan yang cukup akrab dengannya. Suatu ketika, Kanti menghadiahkan buku ini untuk dibaca di toko—entah ketika kami, para pegawai, sedang bertugas menjaga toko buku kami atau di kala senggang saja—dan dari sanalah saya kemudian berkenalan dengan Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos.
Secara singkat, kumpulan cerita memang menarik meski tidak spesial. Premis yang diangkat bukanlah premis yang unik, dan untuk itu saya harus mengakui kemampuan Kanti dalam mengemas premis yang biasa-biasa saja itu dalam cara bertutur yang manis. Saya suka bagaimana Kanti memilih diksinya atau bagaimana dia menyuguhkan alur dalam setiap ceritanya.
Namun jujur saja, saya tidak menemukan perasaan yang istimewa saat membaca kumpulan cerita ini. Iya, memang, membaca cerita-cerita dalam Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos bisa memberikan perasaan hangat yang manis, namun sudah..., perasaan itu tidak tertinggal lama.
Tidak sampai saya membaca cerita terakhir dalam kumpulan cerita ini.
Pada cerita pamungkasnya, Kanti menyuguhkan satu cerita yang panjang dan padat, penuh emosi yang tidak melulu manis seperti yang disuguhkannya pada cerita-cerita awal, tetapi juga getir dan perasaan-perasaan yang lain yang nyata-nyata ada di realita. Meskipun Kanti, menurut saya, kurang berhasil melepaskan dirinya dari cara menulis perempuan (andai saya tak pernah mengetahui sosok Kanti W. Janis sekalipun saya bisa menebak dia seorang perempuan hanya dengan membaca kumpulan cerita ini), namun kekurangan itu justru berhasil menggali emosi tokoh sentral pada cerita terakhir yang juga seorang perempuan. Membawa permasalahan yang dihadapi oleh tokoh tersebut dekat dengan kita.
Tapi menurut saya, trik paling juara dalam kumpulan ceritaini adalah dengan disisipkannya lirik lagi Joanna Wang, Let's Start From Here. Iya, ini bias, sejak dulu saya suka sekali dengan lagu tersebut, dan penilaian saya terhadap Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos saya naikkan karena Kanti memasukkan lagu tersebut ke dalam ceritanya.