Dari buku ini saya mengenal P.K. Ojong sebagai pribadi yang disiplin, tegas, dan sangat menghargai waktu. Tapi disisi lain dia ternyata seorang yang sederhana dan berjiwa sosialis sebagaimana guru spiritualnya yang baru saya kenal lewat buku ini yaitu Khoe Woen Sioe, direktur harian Keng Po. Dari jiwa sosialis Khoe Woen Sioe, Ojong meniru dan menerapkannya pada setiap usaha yang dipimpinnya. Salah satu contoh kongkritnya yaitu bagaimana dia sangat memperhatikan nasib karyawan. Baginya bukan karyawan diperas tenaganya untuk kemajuan perusahaan tapi kemajuan perusahaan harus untuk kesejahteraan karyawan karena karyawan telah menginvestasikan hidupnya untuk perusahaan.
Bagi yang berminat menjadi seorang wartawan atau pengusaha, buku ini highly recommended untuk anda!
Buku ini merupakan buku yang sangat memotivasi dan menginspirasi saya. Quote favorit: "hoge bomen vangen veel wind; pohon yang tinggi menderita banyak terpaan angin." --PK Ojong
P.K.Ojong menjadi salah satu contoh manusia yang mengerjakan dengan baik panggilan hidup yang diberikan olehNya. Berpegang pada ayat kitab suci dari Matius 6:33, ia mengisi hidupnya dengan aktivitas yang membuahkan karya atau hasil yang berguna bagi sesamanya, baik itu dalam peran sebagai wartawan, aktivitas asimilasi, maupun sebagai seorang direktur bagi ratusan karyawannya (ketika itu). Semua kekayaan dan peningkatan status yang diperolehnya, ia anggap sebagai rahmat pemberian Tuhan semata. Ia tetap memilih hidup yang sederhana dan jalan terus dengan impiannya. Karakter dan teladan hidup seperti ini masih merupakan barang langka yang susah ditemukan sampai pada saat ini, dimana orang-orang masih lebih suka membukukan skandal daripada karya yang bisa dikenang oleh masyarakat.
Merindukan banyak orang yang bisa membaca dan terinpirasi oleh karakter P.K.Ojong melalui buku biografi ini.
Saya bingung saat akan menilai dan meriview buku ini. Apakah yang harus saya riview adalah kisah P.K Ojong atau cara menulis Helen. Untuk Helen, saya suka sekali caranya menyusun bagian-bagian. Ada beberapa yang sengaja diselipkan, dan tidak membingungkan. Saya sebenarnya belum terlalu akrab dengan novel biografi. Saya terinspirasi oleh P.K Ojong yang sangat gemar membaca. Saya ingin seperti beliau, menjadi pembaca yang ulung. Yang membaca segala jenis buku, mulai dari buku pelajaran hingga buku cerita, dari karangan Hans Christian sampai Pramoedya. P.K. Ojong juga merupakan orang yang tahu kapan waktunya mengerem. Tak heran Kompas-Gramedia tumbuh hebat dari tangannya.
Biografi pendiri Kompas. Beliaulah yang menaruh landasan untuk Kompas berpijak hingga saat ini telah menjadi "raksasa" di dunia usaha Indonesia.
Buku ini bukan sekedar biografi biasa, tapi lebih daripada itu kita akan merasakan masuk menyelami kehidupan sang penulis dan pengusaha ini. Tidak ternilai hal positif yang dapat diteladani. Dibarengi dengan kemampuan narasi penulis, ibu Helen seakan bercerita dengan pembaca. Inilah yang membuat buku Hidup Sederhana, Berpikir Mulia seakan punya "roh" yang mampu menghidupkan sosok Auwyong di benak pembaca.
Melalui gaya bahasa Helen Iswara, buku ini menceritakan jejak rekam mendiang Auwjong Peng Koen atau yang dikenal dengan Petrus Kanisius Ojong a.k.a P.K. Ojong. Mulai dari dirintisnya cetakan pertama Majalah Intisari hingga mendirikan sebuah perusahaan media cetak terpercaya KOMPAS bersama rekannya, Jakob Oetama. Singkat cerita, awalnya perusahaan tersebut diberi nama Bentara Budaya. Kemudian, Ir. Soekarno menggantinya dengan nama KOMPAS. Tertarik untuk mempelajari seluk beluk dunia wartawan? Temukan kisah perjalanan dan perjuangan hidup P.K. Ojong melalui buku ini.
Buku ini aku beli di Gramedia Merdeka Bandung. Kala itu aku benar-benar ingin tahu, bagaimanakah KOMPAS. Salah satunya adalah dengan membaca riwayat hidup, salah seorang pendirinya.
Banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari buku ini. Kesederhanaan PK Ojong, juga ketekunannya dalam berbisnis. Nilai-nilai perusahaan KOMPAS juga dijabarkan ringkas dalam buku ini.
Banyak pelajaran hidup yang didapat dari biografi P.K Ojong. Baik dia sebagai jurnalis, pengusaha, dan sebagai seorang ayah, walaupun yang paling ditonjolkan kehidupannya di dunia jurnalistik. Di akhir buku, dituliskan juga falsafah Kompas Gramedia Group, kelompok perusahaan besar yang menurut saya banyak memberikan informasi dan mencerdaskan banyak orang melalui membaca.