Gue beli buku ini karena menurut gue, ringkasan cerita yang ada di bagian belakang buku ini cukup menarik. Tapi, setelah selesai membaca buku ini, gue jadi bingung sendiri. Setidaknya, selesai gue membaca buku ini, gue nggak se-excited ketika gue selesai membaca ringkasan ceritanya. But yah, setidaknya, gue udah membaca buku ini sih.
Projo dan Brojo bercerita mengenai dua orang dengan wajah yang mirip abis, tapi beda nasib. Projo, seorang mantan direktur bank, yang ditahan karena kasus kredit macet, sedangkan Brojo, adalah seorang pendatang di kota metropolitan, penganten baru, dari kampung, tapi harus berhenti bekerja, lantaran bengkel tempatnya bekerja terpaksa tutup. Kedua situasi ini kemudian dipertukarkan, demi membawa Projo keluar dari penjara.
Walaupun begitu, Projo tidak keluar dari penjara untuk menyamar menjadi Brojo. Ia keluar dari penjara, untuk mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang mondar-mandir di pikirannya selama di penjara. Sedangkan Brojo, hanya dengan modal mendekam di penjara, ia bisa memodali lapangan sepak bola yang cukup lengkap, hingga niatan untuk memodali istri, sangat mungkin untuk tercapai.
Namun, isi buku ini lebih didominasi oleh kegiatan Projo di luar penjara. Plus, cerita luar biasa mengenai kesederhanaan Wisuni, istri Brojo, dalam menghadapi Projo di luar penjara. Buku ini pun ditutup dengan kondisi Projo yang masih menikmati kehidupan di luar penjaranya.
Gue sih, belajar mengenai kesederhanaan Wisuni yang bisa membungkam Projo dan kembali mempertanyakan eksistensinya. Kesederhanaan Wisuni membuat segala sesuatu menjadi begitu mudah, yang tadinya terkesan ribet tak berujung. Tapi, gue nggak ngerti gimana dengan si Brojo-nya; dibahasnya nggak banyak-banyak amat. Ya udah sih, yah...
Well anyway, gue suka beberapa quote-quote yang dituliskan. Terutama mengenai kesederhanaan berpikir manusia. Cuman, jujur aja, gue kurang suka endingnya. Gue pikir, akan ada pembahasan mengenai ketidaksetujuannya Wisuni saat Projo ingin bertukar dengan Brojo. Ternyata, nggak ada, gitu aja. Simple.
Atau mungkin, itu yang dituju oleh sang penulis? Ndak usah dibahas. Sama saja. (mengikuti pola pikir Wisuni)
ime'...