“SATU shaf shalat dibelakangnya adalah mimpi buruk.” Kalimat itu cukupbagu Shafira untuk menjelaskan kondisinya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. Selama ini dia hidup dalam stigma bahwa profesi sekretaris hanyalah seorang yes-man. Menuruti semua kemauan atasannya tanpa memikirkan atau mempertimbangkan benar-salahnya.
Konotasinya selalu negatif. Mungkin karena pola pikir yang buruk itu, Allah seolah menghukumnya dengan cara membuat Shafira terjebak dalam profesi yang sangat dia hindari. Ya, menjadi sekretaris untuk seorang manajer perencanaan, membuatnya seolah masuk ke dalam labirin tanpa pintu yang tidak memberikannya pilihan kecuali menjalaninya.
Eksentrik, meskipun karakter dan kebiasaan Athaya sangat kontradiksi dengan prinsip-prinsip Islam yang Shafira pegang. Pria ini justru menyetujui segala hal yang tidak Shafira lakukan. Bagaimana jadinya kalau dua makhluk antitesis itu menjalankan takdir yang sama?
Ide cerita dan alurnya cukup fresh untuk genre religi. Cukup banyak nilai-nilai islam yang diselipkan dalam dialog maupun monolognya, terutama untuk perempuan. Karena buku ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama tokoh perempuan. Agak disayangkan, masih cukup banyak terjadi kesalahan penulisan dalam ceritanya seperti tidak disunting oleh editor :(