Iwan Simatupang (1928-1970) is widely recognized as one of the most original and important of all Indonesian authors. His book Ziarah (The Pilgrim) received the first ASEAN Literary award for the novel in 1977. It was the first truly modern novel in Indonesian and opened a new path in the literature of this vast nation. Kooong (which, in Indonesian, is the sound a pigeon makes-much like "coo" in English) was the last of Iwan Simatupang's four novels. originally written for a competition for young adult literature, it is a simple, almost childlike, work, which nevertheless has its own unique profundity. much of the book is taken up by Pak Sastro's comic search for inner freedom and personal authenticity, symbolized by his mute pet pigeon. the bird has no call. the background to Pak Sastro's search creates a vivid picture of rural Javanese society and the communal values it upholds at its best. Like all of Simatupang's works, Kooong contains his crazy sense of humor, his fascination with the ridiculousness of death, and his enormous respect for the so-called lunatic who lives outside the borders of conventional society. the novel stands on its own two pigeon feet. It is both funny and serious. But you cannot fully understand Iwan Simatupang's other novels, or his distinctive outlook on life and death, until you have read this book. It is a book for teenagers and adults alike.
Iwan Simatupang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970.
Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian. Ia dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme: Merahnya Merah (1968), Kooong (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975), Ziarah (1969), Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris.
Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).
Bermula dengan penuh tragis - banjir besar yang menelan sang isteri, Pak Sastro yang ketika itu keluar ke bandar menerima tragedi dengan pahit. Kemalangan diri bertimpa apabila anaknya Amat mati pula digilis kereta api. Apabila seluruh hidupnya terasa kaku, terpenjara, Pak Sastro yang memiliki harta yang banyak membeli seekor perkutut yang bisu, yang tiada keistimewaan malah tidak ada apa-apa.
Namun, kehilangan perkutut itu membuka sebuah perjalanan yang baharu - perjalanan mencari perkutut yang biasa-biasa itu menemukan Pak Sastro dengan definisi kejiwaan yang baharu.
Di kampung, ketiadaan Pak Sastro meninggalkan hartanya yang banyak kepada pembantu-pembantunya menatijahkan huru hara yang besar.
Kemerdekaan jiwa dibincangkan dengan halus dalam novel pendek ini.
Aku suka pake banget. Masih relevan aja sama kondisi sekaranf. Cerita ini bukan hanya soal perkara perkutut yang hilang, tapi lebih jauh dari itu. Manusia memang suka lupa dan kebeasan menjadi topik besar dalam cerita ini.
Cerita tentang gerbong kehidupan yang penuh prahara, tragedi, kehilangan kehilangan yang pada akhirnya berujung pada sikap nrimo dan perasaan-perasaan yang plong.
Mungkin begitulah rasanya ketika Pak Sastro menjalani hidup.
Kooong hanyalah pengantar pada fase fase pencarian hidup yang disampaikan dengan sederhana oleh Iwan Simatupang. Kekuatan Iwan Simatupang adalah menggabungkan beberapa realita-meski-fiksi, bahasa mudah dan cenderung pendek-pendek dan memang dekat dengan hidup sehari-hari orang kebanyakan.
Karya Iwan Simatupang yg pertama saya baca, cukup menyenangkan. Penuh kearifan lokal, mungkin karena saya emang orang desa jadi enggak terlalu menarik sih. Entah kenapa saya teringat O-nya Eka Kurniawan, dan membandingkannya, saya pikir Kooong lebih sederhana sekaligus lebih baik.
Ini adalah buku pertama Iwan Simatupang yang kubaca. Memang bukan novel fenomenal darinya seperti Ziarah ataupun Tegal Lurus dengan langit. Tetapi novel Kooong sungguhlah unik dan sentilan.
Hanya bermula dari hilangnya perkutut gule -perkutut yang tidak bisa berkooong milik Pak Sastro dari sangkarnya, semua kehidupan jadi gonjang-ganjing. Perkutut itu tidak istimewa sekali, bahkan cenderung biasa-biasa saja. Fisiknya biasa dan tidak bisa berkooong. Tetapi sejarah pembeliannya yang memorable membuat perkutut itu puya tempat di hati Pak Sastro. Apa perkutut itu sudah menjadi istri/anak baru bagi Pak Satro? Padahal Pak Sastro seharusnya tidak terlampau sedih, dengan hartanya yang melimpah ia bisa meminang gadis muda yang lebih cantik sebagai pengganti istri dan anaknya yg sudah meninggal.
Tetapi ternyata kehilangan perkutut tidak hanya bikin geger rumah Pak Sastro. Sedesa juag ribut mencarinya. Dan akhirnya Pak Sastro pamit pergi mencari perkutut itu dengan menitipkan semua hartanya kepada pak lurah. Dan sudah barang tentu, kekayaan yang dititipkan itu berkurang karena kerakusan orang desa.
Perjalanan Pak Sastro mencari perkutut pun dianggap sebagai perjalanan sinting. Mana ada orang dengan segebok uang susah payah mencari perkutut gule yang tidak bisa berkooong. Tetapi justru disinlah Pak Sastro menemukan sebuah arti dari keadilan dan pemenuhan ruang sepi setiap orang yang berbeda:
Kita tentu suka bistik. Tapi apakah aneh bila ada orang yang berkata: bistik memang enak, tapi berikanlah saya empal?
Pak Sastro ingin kembali ke kedalaman jiwanya. Ingin mencari sebenarnya apa yang sedang dicarinya. Apakah benar ia ingin mencair perkutut itu? Tidak. Pak Sastro ingin menjadi manusia merdeka, bebas dan tidak dikepung oleh permasalahan termasuk perihal harta yang melimpah. Maka ketika di akhir dia bertemu si perkutut, Pak Sastro membiarkannya. KArena kemerdekaan dan kebebasan adalah jiwa dan dasar manusia. Seperti jiwa dan dasar penduduk desa dalah gotong royong dan menggarap tanah sawah.
memiliki kalimat pembuka yang menggelitik; "Pada suatu pagi, perkutut Pak Sastro hilang. Pintu sangkarnya terbuka. Sangkarnya Kosong." sedikit banyak mengingatkan ke struktur kalimat pembuka di buku One Hundred Years of Solitude.
dengan kalimat pembuka tersebut, Kooong memberikan pembaca titik mulai yang berdaya guna selama proses menyelami buku, titik mulai yang sampai akhir menjadi tonggak bagaimana cerita dalam buku ini dikisahkan; 'bagaimana bisa sangkarnya terbuka, sampai perkututnya hilang?', 'kenapa Pak Sastro memelihara perkutut?', 'apa yang membuat perkutut itu penting?', 'seberapa penting kah perkutut tersebut?', 'dampak apa yang bakal muncul dari hilangnya perkutut itu?' 'apakah perkutut itu nanti akan ditemukan?'
luar biasanya, buku yang terbangun dengan pondasi tentang hilangnya perkutut ini. digarap oleh pengarang untuk menelaah beragam topik yang tidak kuperkirakan bakal muncul. dari rentetan kehilangan, kejatuhan, derita, dan kesengsaraan; renungan untuk menata ulang pandangan pada nilai kehidupan; tentang dunia perburungan yang didominasi oleh pria; dan yang paling hebat, membahas mengenai salah satu hal yang menjadi pondasi dalam membangun penghidupan kemasyarakatan Indonesia.
gagasan gagasan tersebut seluruhnya tersaji dengan rapi dalam roman ringkas ini, dengan bumbu fabel menyegarkan, terbentuk layaknya sekumpulan bahan mudah terbakar yang siap memantik pemikiran pembacanya.
jumlah tokoh dalam buku tidak banyak, hanya sekian yang memiliki karakterisasi cukup kompleks. tokoh lainnya sekadar hadir sebagai karakter pendukung, dengan karakterisasi sederhana untuk membangun alur cerita. tokoh-tokoh tersebut sama sekali tidak mengurangi kesan mengasyikan saat membacanya. malah denga tokoh-tokoh tersebut, buku yang berbentuk novela ringkas ini bisa tertata dengan sangat baik sampai halaman paling terakhir. —
cocok untuk pembaca; yang membutuhkan bacaan singkat dengan kualitas luar biasa bagus, yang ditulis oleh Penulis Indonesia. tidak cocok untuk pembaca; yang tidak suka dunia perburungan, dan tidak bisa berbahasa Indonesia.
Baru tau novel Iwan Simatupang yang ini. Astaga, selesai baca hanya dalam waktu 3 jam.
Dengan ciri khasnya, Iwan Simatupang membawa sebuah hal sederhana menjadi sebuah cerita yang menarik dan sederhana untuk dibaca di jaman ini.
Pak Sastro yang mencoba mengisi kekosongan dengan memelihara seekor perkutut yang tidak spesial, dan menerima ketidakspesialan si perkutut itu sendiri dengan ikhlas, dan merasa "kosong" lagi setelah perkututny hilang.
Pak Lurah dengan sifat jujurnya yang sangat luar biasa.
Amat Kalong dengan keangkuhan yang diciptakannya sendiri.
Si Jangkung yang tamak dan serakah.
Pemuda tegap dan kakek yang teguh dengan pendiriannya yang sederhana.
Dan ibu tua pemilik warung yang dengan sabarnya menjalani sisa hidup setelah ditinggal sang suami, dan menjadikan perkutut sebagai "pengganti kehadiran" suami.
Semua tokoh punya peran dan bisa memberi pesan dengan cara sendiri. Aku suka gimana Iwan Simatupang melalui tokohnya Pak Sastro meyakini bahwa bangsa ini baik, ramah, dan kaya.
Novel sederhana ini sedikit menyentil, tanpa sadar memaksa kita menyadari bahwa hidup sepenuhnya adalah tentang pencarian, dan masalah terbesar adalah kadang kita tidak tau apa yang sebenarnya kita cari. Mungkin, yang kita cari itu sudah ada dalam diri ini, tapi tidak berwujud seperti yang dimau. Sehingga kita tanpa sadar terus berputar untuk mencari hal yang sebenarnya sudah ada. Apa artinya kita tanpa orang lain. Bagaimana suatu kenangan, baik atau buruk, bisa berdampak besar di hidup kita bila tidak dikendalikan dengan baik.
Ketika satu burung perkutut yang tak dapat berbunyi 'Kooong!' membuat pandangan dan nasib Pak Sastro beserta seluruh penghuni desa berubah.
Baca buku ini, rasanya nggak terduga-duga mau dibawa ke mana dan sampai pada apa. Tapi terasa efek dominonya. Gaya bercerita Iwan Simatupang sendiri sangat khas, sukses menarasikan tiap karakternya sampai pembaca sendiri bisa menebak bagaimana perasaan mereka. Walau kurang puas sama ending-nya. Cerita ini berhasil menyajikan nilai-nilai moral kehidupan dalam cerita yang simpel dan unik, tanpa lebih dari 100 halaman. Worth to read!
Dari perkara perkutut yang hilang saja, bisa didapat banyak pelajaran. Tentang pencarian makna hidup, tentang keikhlasan, tentang bagaimana menjaga amanah, dan banyak lagi. Bagus banget.
"Seperti kakek belum tahu sikap bangsa kita dalam keadaan seperti ini. Paling-paling mereka jawab: bagaimana besok sajalah... Bangsa kita begitu percaya kepada apa yang lazim disebut sebagai: kemungkinan pada saat paling akhir! Kita biarkan dulu diri kita menderita berlarut-larut. Apabila penderitaan sudah memuncak betul dan kita sudah hampir tewas—barulah kita bertindak sungguh-sungguh. Bangsa kita bisa bertahan bukan dari berusaha secara tepat, tapi dari rentetan usaha pada kesempatan paling akhir itu. Heran kah kita bila hidup bangsa kita masih tetap begini morat-marit?"
Wah, keren. Berawal dari Pak Sastro yang ditinggal mati istrinya & perjalanannya menuju Jakarta untuk menguburkan anak tunggalnya yang mati tergilas kereta api, membawa Pak Sastro untuk membeli seekor burung perkutut yang tidak mau mengeluarkan bunyi "Kooong..." nya.
Burung perkutut itu tiba-tiba hilang pada suatu pagi setelah hidup bersama Pak Sastro bertahun-tahun! Satu desa gaduh dibuatnya.
Pencarian Pak Sastro terhadap burung perkututnya berujung pada perjalanan mencari makna hidup, kemerdekaan dan kebebasan.
Gaya bahasa yang digunakan Iwan Simatupang sungguh unik dan menawan. Ini kedua kalinya saya membaca karya Iwan Simatupang, karya beliau yang pertama kali saya baca adalah Merahnya Merah. Menurut saya, gaya bahasa yang digunakan pada Kooong ini lebih ringan daripada Merahnya Merah yang cenderung sedikit lebih berat.
Novel pendek yang ringan, dapat dibaca dengan sekali duduk, namun tetap memberi banyak pelajaran.
Malang nian nasib pak Sastro, sudah ditinggal mati oleh istri tercinta, harus kehilangan anak pula yang tewas ditabrak oleh kereta api langsir. Istrinya telah lama meninggal karena disergap banjir, ketika tanggul waduk dekat desanya bobol pada suatu pagi. Kala itu pak Sastro sedang bepergian ke kota kecamatan, bu Sastro terseret banjir yang datang tiba-tiba ketika ia sedang menjemur padi di halaman rumahnya. Sementara Amat, anak satu-satunya ikut dengan arus pemuda-pemuda lainnya yang selamat dari banjir. Ia mengungsi dan mengembara ke kota-kota besar dan meninggalkan pak Sastro sendirian di rumahnya di desa.
Pada awalnya hanya pak Sastro saja yang tinggal di desa yang baru saja dilanda banjir tersebut. Penduduk yang lain terseret banjir, sementara yang selamat ikut mengungsi ke kota-kota besar. Pak Sastro membangun desanya kembali. Ia membangun rumah baru yang lebih besar, lebih bagus. Ia juga membangun rumah-rumah lainnya. Sampai akhirnya tersiar kabar bahwa pak Sastro telah sukses membangun desa, dan membuat orang-orang kembali pulang dan menemani pak Sastro ke desa tersebut. Sayangnya Amat tak ikut pulang, tidak ada seorang pun yang tahu dimana keberadaannya. Sampai pada tengah hari, seorang carik desa datang menemui pak Sastro. Ia mengantarkan surat penting dari Bupati. Isinya mengatakan bahwa Amat sudah ditemukan. Dia berada di Jakarta dan baru saja tergilas kereta api.
Sekali lagi, buku tipis (kurang dari 100) halaman yang tidak bisa saya selesaikan dalam sekali duduk. Kebetulan saya temukan di iPusnas setelah membaca Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub. Sama-sama menceritakan tentang pandangan hewan, (yang satu beruang kutub dan satunya lagi burung perkutut) yang berada di tengah kehidupan dunia manusia.
Ini buku kedua Iwan Simatupang yang saya baca. Dibandingkan Ziarah, saya lebih menikmati membaca buku ini. Kisahnya lebih nyata, dekat dengan budaya (Jawa) yang saya tahu, sindiran terhadap kekonyolan masyarakat lebih lugas, dan narasi serta dialog yang ada, terasa lebih mudah menghadirkan tawa dan air mata.
Seperti novel-novel Iwan Simatupang sebelumnya, Kooong adalah novel yang penuh muatan unsur filosofis. Meskipun eksistensialisnya tidak sekental seperti apa yang ada dalam "Merahnya Merah", tetapi novel ini tetap layak untuk dijadikan bahan perenungan akan nilai-nilai hidup.
Bukan hal yang baru ketika membaca novel Iwan Simatupang, pembaca akan disuguhkan dengan paragraf pembuka yang sangat khas Iwan Simatupang. Seperti halnya dalam novel Kooong ini,
"..... Dulu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, burung itu dibelinya di pasar burung Pasar Senen, ketika ia di Jakarta untuk menguburkan si Amat, anaknya satu-satunya, yang tergilas kereta api." (hlm.9)
Berawal dari prahara demi prahara yg terus menimpa Pak Sastro, banjir yang meluluhlantakkan desanya dan merenggut nyawa istrinya, kehilangan anak semata wayangnya dan kemudian kehilangan pula perkututnya yang biasa saja dan tidak mempunyai kooong. Pak Sastro memulai perjalanannya untuk mencari perkututnya, meninggalkan desa dan hartanya. Perjalanan itupun menjadi jawaban dari semua prahara yg menimpa pak sastro. Menuntunnya menuju kodrat manusia yg selalu mencari kebebasan dan kemerdekaan. Meninggalkan hartanya dan kembali seperti bayi yang datang ke dunia tanpa membawa suatu apapun.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Meskipun agak jadul, roman ini masih relevan banget sih sama kehidupan sekarang. Apalagi masih dalam suasana hari kemerdekaan. Jadi bikin merenung apa sih arti kebebasan buat gw? Kemerdekaan punya banyak arti, tak sama bagi setiap orang. Gw sendiri merasa blm merdeka seratus persen. Atau itu sebenarnya cuma limitasi yang gw buat sendiri, macam pak Sastro itu? Yah, apa pun itu, kemerdekaan itu butuh diperjuangkan, bukan diberikan. Si perkutut aja berani keluar sangkar, kita?
Burung perkutut hilang, masalah di desa tani muncul. Pemilik perkutut, Pak Sastro, meninggalkan desa hanya mencari perkutut yang tak mampu ber-"kooong"—yang lari dari sangkarnya.
Kepergian Pak Sastro pun menjadi masalah. Penduduk merasa iba dan punya kepentingan kepada Pak Sastro. Beberapa orang, salah satunya Pak Lurah, mencari Pak Sastro yang sedang mencari burungnya.
Berjalan dan berjalan dan terus berjalan. Dari perjalanan terbitlah sebuah cerita. Begitulah gaya Iwan.
Lucu unik memang tulisan ini. Kebaikan yang tulus menyelesaikan semua permasalahan. Hidup damailah warga desa. Kembalilah bertani yang benar. Jangan gadaikan tanah air demi barang-barang mevvah yang ketika dijual kembali hanya cukup untuk membeli persediaan makanan selama sebulan. Hidup terlalu bernilai. Bukan tempatnya untuk kesenangan-kesenangan sesaat. Kemerdekaan kebahagian hak semua orang (dan burung perkutut, perkutut gule sekalipun) yang mau mendapatkannya.
Kurang 24 jam membaca ini. Tipis tapi padat berisi. Sebagaimana di dua sebelumnya yang saya baca, penulis mengajak kita melihat realitas sederhana lewat ceritanya yang unik. Untuk memikirkan ulang sebuah perjalanan dan pencarian manusia di dunia, merenungkan makna dari keberadaan kita, hubungan antara diri dan sekitar, dengan kepemilikan, dengan tanggung jawab dan hal lainnya. Sangat worth to read.
Kooong! bunyi apa itu? Seekor burung dan bunyinya yang menyeret bukan sahaja seorang manusia, malahan melibatkan kesan yang besar untuk sebuah perkampungan. Seakan berlaku kembara dalam mencipta misi mencari misteri kehilangan seekor burung yang merungsing beratus-ratus kepala bikin pusing.
Karya Iwan Simatupang yang tidak pernah menghampakan kita.
Gaya kepenulisan Iwan Simatupang yg khas dan gamblang adalah hal yg paling aku suka. Selain itu, beliau adalah jagonya menyambungkan hal2 yg tidak pernah kita pikirkan —siapa yg berpikir bahwa hilangnya perkutut bisa membuat satu desa awur-awuran— selagi menyentil banyak isu sosial hingga pencarian makna diri dalam buku kurang lebih 100 halaman.
Benarlah keputusan Ajip Rosidi menerbitkan naskah roman Kooong milik Iwan Simatupang. Dengan sembilan babak cerita, pembaca diajarkan apa arti kebebasan melalui kisah seekor perkutut dan Pak Sastro. Juga sebagai kritik (pengingat) terhadap sikap masyarakat yang menggadai nilai diri dengan materi. Cerita sederhana namun sarat makna.
Suka betul aku pada buku ini. Apalagi sebuah narasinya di bagian akhir, yang kurang lebih berbunyi: bagaimana apabila hal yang kamu cari, ternyata tidak kamu inginkan lagi?