Semua orang pernah diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi, pernahkah kamu diabaikan setelah disanjung-sanjung? Setelah dimanjakan dalam dekapan kain satin yang lembut?
Tanyakan pada Nindhita Irani Nadyasari bagaimana rasanya. Tanyakan siswi berprestasi itu bagaimana perihnya ditinggalkan dan dibenci orang-orang terdekatnya.
Dulu, Nadya selalu menjadi perhatian guru-gurunya, membuat bangga orangtuanya, dan dikagumi teman-temannya. Namun masa itu telah berlalu. Perlahan, murid SMA itu mulai dilupakan. Sinarnya kian pudar. Dalam kondisi seperti itu, Nadya tentu butuh prestasi yang istimewa untuk mendapatkan kembali perhatian orang-orang. Maka dia mencoba mengikuti lomba bergengsi se-Bandung Raya. Dia terus mengasah diri menjadi sastrawan Sunda. Dan yang lebih mulia: mengangkat derajat Sastra Sunda di mata dunia! Tekadnya begitu kuat. Hatinya begitu keras. Tapi nuraninya menjadi mati. Dengan lancar, Nadya melakukan tindakan-tindakan ekstrim. Dunia Sastra Sunda yang diperjuangkannya pun kini malah menangis.
Novel bergenre misteri ini begitu menguras rasa penasaran. Dengan bab-bab pendek yang padat, isi yang tidak bertele-tele, serta alur yang rapi, Satin Merah akan membuat pembaca merasa nikmat mengikuti cerita dari awal sampai akhir.
Satin Merah juga membuat kita sadar bahwa Indonesia memiliki aneka ragam kebudayaan. Mozaik yang indah. Tidak hanya berupa lagu atau tarian, melainkan juga sastra yang luhur. Semua dituturkan dengan lancar di novel ini. Di balik adegan-adegannya yang dinamis dan dramatis.
Novel bersetting Bandung ini ditulis oleh Brahmanto Anindito dan Rie Yanti, dua pengarang yang berdomisili di tempat yang lumayan saling berjauhan. Satunya di kota pantai yang panas, satunya di kota gunung yang dingin. Surabaya dan Bandung. Jawa dan Sunda. Dua gaya penulisan berbeda melebur saling melengkapi.
Ingin mendengar pendapat orang mengenai Satin Merah?
Brahmanto Anindito is a Communication Studies scholar from Airlangga University. His articles and works of fiction have been published in media outlets that include Intisari, Hai, Cinemags, Mossaik, Nurul Hayat, Clea, Jawa Pos, Republika, Surya, Bangka Pos, Padang Ekspres, Radar Bojonegoro, etc. Brahm has also published books, including Semanyun Senyuman Mahasiswa (Lulu), Pemuja Oksigen (Jaring Pena), Satin Merah (GagasMedia), Rahasia Sunyi (GagasMedia), Tiga Sandera Terakhir (Noura Books), as well as the game Revival of Queen Leyak (DEVGRU-P). In 2002, he won first place in the Scientific Writing Competition for university students held by Atma Jaya Catholic University, Jakarta. In 2003, the Korean Embassy and Indonesian National Education Service picked him as the third-place winner of the Essay Writing Competition about Korea. In 2009, Kompas chose him as the first-place winner of the #IndonesiaUnite Blogger Competition. In 2012, Deutsche Welle invited and fully funded him to go to the DW Global Media Forum in Bonn, Germany, as a blogger. In 2023, Wikimedia Indonesia recognized him as one of the Top 10 Children’s Short Story Writers in the Yuwana Project. Brahm was previously a journalist for a lifestyle magazine, an editor for a business magazine, and a copywriter for an integrated marketing communication company.
Sebagai seorang anak yang lahir di ibu kota, saya terkadang merasa iri dengan teman-teman yang berasal dari daerah. Kenapa? Karena mereka bisa berbicara dengan bahasa daerah, sebagai bahasa ibu mereka. Sedangkan saya? Bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia. Bukan bahasa Jawa, bahasa Sunda, Padang, Bugis, atau bahasa daerah lainnya. Sebagai pencinta bahasa, saya kadang berandai-andai. Seandainya saya bisa bahasa daerah juga, tentu akan lebih banyak bahasa yang saya kuasai sekarang.
Lalu, apa hubungannya bahasa daerah dengan novel ini? Novel ini jelas bukan ditulis dalam bahasa daerah, karena kalau ya, maka saya tentu tidak akan bisa membacanya. Tapi novel ini menggunakan bahasa daerah sebagai tema utamanya. Sebagai ruh dari ceritanya. Tepatnya lagi, bukan sekadar bahasa daerah saja tapi kesusasteraan berbahasa daerah, yaitu Sunda.
Lagi-lagi sebagai anak ibu kota, saya merasa sedih jika melihat anak daerah menggunakan bahasa Indonesia gaul yang disisipi bahasa-bahasa Inggris gaul. Hal ini paling banyak terlihat di acara-acara radio. Ketika mendengar acara radio, saya suka bingung dengan bahasa yang digunakan oleh para presenternya (eh, apa deh namanya?) karena mereka menggunakan bahasa Indonesia gaul yang disisipi bahasa Inggris ("hi, guys!", "check it out", dsb.) meskipun mereka ada di daerah. Mungkin mereka seperti Nadya, tokoh utama dalam cerita "Satin Merah" ini, yang merasa bahwa menggunakan bahasa daerah itu tidak keren, tidak global, dan kampungan. Nadya, yang baru berusia 17 tahun, bisa dikatakan adalah potret generasi muda Indonesia saat ini, yang merasa malu dan tidak bangga dengan kebudayaannya sendiri.
Sebagai pembelajar sastra dan kebudayaan asing, saya merasa pengetahuan saya yang banyak mengenai negara itu tidaklah terlalu berguna ketika saya ada di negara itu. Apa gunanya saya tahu sejarah berdirinya negara itu, baik dari mitos maupun sejarahnya, sedangkan orang di negara itu saja tidak tahu mengenai hal itu. Apa gunanya saya mengetahui tempat-tempat terkenal di negara itu, sedangkan orang lokalnya saja tidak tahu. Kenapa saya berpikir seperti itu? Karena ketika mereka menjelaskan mengenai negara mereka lalu mereka salah, saya merasa menjadi sok tahu jika harus mengoreksi terus. Sementara itu, ketika mereka bertanya tentang negeri saya, saya lebih banyak tidak bisa menjawabnya. Hal sederhana seperti suhu sepanjang tahun, kapan musim mangga, atau gunung tertinggi di Indonesia (beserta tingginya) tidak bisa saya jawab dengan mudah.
Itulah sebabnya saya menyukai novel "Satin Merah" ini, karena mengangkat kebudayaan Indonesia yang jarang sekali terpikir oleh kawula muda Indonesia. Sayangnya, novel-novel semacam ini biasanya memang kurang populer. Kalah dengan novel-novel yang menjual cinta dan merk-merk mahal, serta kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat eksotis dan hedonis di luar negeri.
Sebelum membaca novel ini, saya tidak tahu kalau novelnya bertemakan Sastra Sunda. Saya tahunya ini adalah novel thriller yang mencekam. Makanya, waktu saya dapat buku ini di jajaran buku diskon seharga cebanan, saya tidak memiliki ekspektasi banyak. Soalnya sejauh ini saya belum menemukan novel Indonesia bergenre misteri dan thriller yang oke.
Jadi, apa hubungannya antara Sastra Sunda dengan pembunuh berdarah dingin di novel ini?
Cerita ini dibuka dengan ditemukannya dua orang mayat di sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah sastrawan Sunda kenamaan bernama Yahya S. Sumantri. Diduga kuat kedua mayat itu adalah sastrawan Sunda yang sudah punya nama. Kedua orang ini memiliki hubungan dengan Lina, seorang dosen Sastra Sunda di Universitas Padjajaran. Selain itu, mereka ternyata juga berhubungan dengan Nadya, seorang siswi SMA yang sedang menggarap karya tulis untuk ajang siswa berprestasi dan mengambil Sastra Sunda sebagai temanya.
Siapakah orang yang membunuh kedua sastrawan besar itu? Apakah kematian dua orang itu juga ada hubungannya dengan kematian dua sastrawan Sunda lainnya di tempat yang terpisah? Apa hubungan mereka dengan Lina? Dan apa hubungan mereka dengan Nadya?
Jawabannya silakan baca sendiri di novelnya, supaya saya nggak dibilang spoiler. Hehehe.... Buat saya, elemen menarik novel ini tentu saja di bagian kesusasteraannya. Bagian misterinya cukup bikin deg-degan dan bikin saya takut untuk lanjut di beberapa bagian, tapi saya ternyata tidak begitu suka dengan akhirnya. Rasanya masih ada hal-hal mengganjal yang belum terjawab bagi saya. Makanya, saya merasa butuh mengendapkan sejenak cerita ini, untuk memikirkan berapa bintang yang akan saya beri. Kalau saya memberinya secara impulsif setelah baca, sepertinya akan turun satu bintang dari bintang yang saya beri saat ini. Namun, setelah memikirkan lagi, sepertinya tiga bintang akan saya berikan untuk novel ini karena temanya yang unik dan berkaitan dengan sastra di daerah Indonesia. Apalagi penulisnya ada dua dan katanya hanya berhubungan lewat dunia maya saja. Wah, salut saya.
Semoga kedua penulis novel ini menghasilkan karya-karya lainnya yang kental dengan kearifan lokalnya, supaya ada warna dan napas baru bagi dunia perbukuan di Indonesia ini. Amiin.
'Seseorang nggak akan bisa jadi penulis terbaik kalau motivasinya uang.' (halaman 149)
----
Pernah merasa diabaikan ? Ingin membuktikan diri, kita bukanlah ’sekedar’ seseorang? Mungkin, semua orang pernah mengalami hal-hal itu. Kalau saya, jelas pernah. Ketika merasa diabaikan, saya merasa tersakiti dan ingin membuktikan kalau saya tak pantas diabaikan. Saya harus berbuat sesuatu, yang membuat orang tidak memandang remeh, dan mengakui saya bukanlah ’sekedar’.
Novel Satin Merah berkisah tentang Nadya, seorang siswa SMU, yang merasa terabaikan di keluarganya. Sejak kehadiran adiknya, Alfi, perhatian orangtua Nadya berkurang, padahal selama ini Nadya selalu mendapat limpahan kasih sayang. Nadya semakin sering disalahkan orangtuanya setiap ada perselisihan dengan Alfi, terutama jika prestasi Alfi semakin bersinar, tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah. Sementara Nadya hanya bisa berprestasi sebagai juara kelas.
Untuk membuktikan dirinya pantas diperhatikan dan berharga, Nadya mengikuti lomba bergengsi se-Bandung Raya. Berbagai usaha dilakukan Nadya untuk mengikuti lomba yang mengharuskan pesertanya membuat makalah. Agar makalahnya berbobot, Nadya mengangkat sastra Sunda, sebagai tema tulisan dan menggali ilmu dari para penulis senior yang menggeluti sastra Sunda.
Seperti dituliskan dalam sinopsis, ambisi yang awalnya tak berbahaya, pelan-pelan melebur dalam diri Nadya, membuat dirinya menjadi seseorang yang berbeda, dan sebelum ia berhasil mengendalikan dirinya, satu orang keburu mati karenanya.
Novel duet ini terlalu sayang untuk dilewatkan para penikmat buku bergenre thriller. Bagi para penulis atau calon penulis disarankan membaca buku ini, karena sarat dengan tips-tips menulis atau pengalaman menulis, yang bisa jadi merupakan pengalaman penulis buku ini, Brahmanto Anindito & Rie Yanti.
Misalnya ini : ”...ada cara mudah menulis. Samakan saja dengan berbicara. Sewaktu Eneng sedang menulis, anggap saja Eneng sedang berbicara pada orangtua atau teman Eneng. Pasti lancar.” (halaman 42)
Atau di halaman 90 : ”Buatlah prioritas untuk mendeskripsikan tokoh. Tokoh utama diberi porsi detail. Tokoh figuran dideskripsikan seadanya. Kalau setiap tokoh didetailkan atau porsinya dibikin hampir setara, nanti tokoh utama kehilangan pamor. Simpati pembaca akan terbagi-bagi.” Meski ditulis oleh dua orang dengan isi kepala yang pastinya berbeda, namun novel ini terlihat menyatu. Kalimat-kalimat dalam tulisan berkesinambungan, layaknya orang yang bercakap-cakap. Agak susah membedakan yang mana tulisan Brahmanto dan di bab berapa yang menjadi bagian Rie Yanti. Pembaca hanya diberi tahu diawal novel, kalau Brahm bertugas menginjeksi unsur thriller, misteri dan logika penyelidikan, sedangkan Rie menangani setting tempat (Bandung) dan segala hal yang berhubungan dengan Sunda.
Plotnya bagus, unsur sastra Sunda yang diusung kedua penulis, sangat menarik karena jarang sekali dilakukan oleh penulis apalagi penulis muda. Selain itu, ending yang menggemaskan dan mengenaskan, juga menjadi daya tarik novel ini.
Sedikit kekurangan, mungkin karena ini adalah naluri seorang ibu, agak kurang suka saja pada bagian Nadya yang tidak mengetahui kalau ibunya dirawat inap di rumah sakit selama tujuh hari. Sebegitu tidak pedulinyakah orangtua Nadya, anak perempuannya tidak pulang ke rumah selama tujuh hari? Bukankah ada tagline : 2 x 24 jam, lapor polisi!
Tertarik dengan novel ini setelah membaca resensi dari Mbak Nike. Selanjutnya, saya sampai ke situs penulisnya, Rie Yanti, yang menceritakan bibit lahirnya novel ini.
Mungkin karena genre-nya thriller, saya memutuskan harus membeli buku ini. Sempat tertunda beberapa waktu untuk membaca buku ini setelah membelinya 3 Feb kemarin. Hasil akhir, 4 bintang buat buku ini.
2 bintang pertama, masing-masing untuk penulisnya. Salut sekali, buku ini lahir dari "pertemuan online". Dan masing-masing mengambil peran dalam lahirnya buku ini. Rie untuk literatur sunda, dan Brahmanto untuk suntikan thriller dan detektifnya.
Bintang ke 3, novel ini bukan sekedar novel. Seorang (yang mengaku) penulis wajib membaca buku ini. Setelah Heartblock -nya Okke Sepatumerah, baru buku ini yang saya temukan mau berbagi tentang bagaimana menjadi seorang penulis. Bahkan tips self-publishing diulas dalam novel ini.
Bintang 4, walaupun novel, banyak informasi tentang teknologi blog yang bisa didapat dari buku ini.
Untuk ceritanya sendiri, tidak membosankan bagi saya. Dengan beberapa kalimat berbahasa Sunda yang bisa dipahami, membuat saya sedikit mengalami rasa rindu pada Bogor :)
Wow. Wow. Speechless. Aku jelas tak sering membaca novel dengan tema unik seperti ini. Bagus. Menurutku agak menjurus psychological thriller gitu. Sebaiknya sih dibaca sekali habis, biar intensitasnya terjaga. Bagiku yang gampang ter-distract membaca dengan teknik taruh-ambil-taruh-ambil agak mengurangi ketegangannya. Ditambah lagi aku yang sudah mulai pelupa, sehingga suatu detail gampang sekali missing sehingga harus mengais-ngais lagi ketika meneruskan baca dan menemukan adegan yang terkoneksi dengan detail yang terlupa itu.
Jujur saja, membaca kata pengantar dari novel ini saja, aku langsung suka. Terasa benar perbedaan nuansa yang akan kudapat ketika membacanya. Dan, benar saja. meski pada awalnya sosok Nadya tak ubahnya seperti gadis SMA kebanyakan, namun nyatanya duo penulis novel ini membebaninya dengan tugas menjadi unpredictable person sepanjang cerita. Sangat terasa bagaimana unsur psikologi menjadi pengait bagi setiap adegannya. Sebagai pembaca, aku dibuat terombang-ombing dengan sikap Nadya yang labil. Terkadang manis, terkadang sinis, dan terkadang bengis. Wow.
Meskipun demikian, jangan berharap duo penulis ini menghadirkan seorang tokoh detektif yang mencoba mengurai fakta. Aku justru disuguhi emosi nyata dari pelaku. Penulis menghanyutkanku dalam dilema besar seorang Nadya yang ambisius. Aku pun dari mula sudah diperkenalkan siapa pelaku, siapa korban, dan bagaimana pelaku menghabisi korbannya. Jadi, sisi misterius itu memang tidak dibungkus sejak awal. Apa sebab? Aku nggak tahu.
Ada topik besar yang coba dihadirkan oleh duo penulis ini, sepertinya. Me? I don’t know. Hahaha. Typically, Nadya is a rich girl. Dia butuh diperhatikan. Dia menuntut keadilan. Perlakuan seimbang dari orangtuanya. Respek dari teman-teman sekolahnya. Kebanggaan dari para gurunya. Dia sudah mendapatkannya, namun dia membutuhkan lebih banyak lagi. Dia tak mau menjadi Nadya yang biasa saja. Sebagaimana tersirat dalam tagline novel ini, “aku cuma ingin jadi signifikan.”
Zaman SMA dulu, aku pernah membuat sebuah cerpen amatiran bertema pembunuhan/pemerkosaan yang dikoreksi oleh guru bahasa Indonesiaku, dan beliau mengingatkanku untuk selalu memberikan alasan rasional bagi setiap konsekuensi yang aku sematkan pada masing-masing tokoh. Dan, sedikit banyak aku dapat melihatnya di novel ini. Mengapa Nadya tumbuh menjadi remaja seperti itu. Apakah sikap Nadya itu termasuk yang impulsif ataukah memang terbentuk dari sejak ia kecil. Flashback di salah satu bagian novel ini menjawab semua pertanyaanku terkait hal itu.
Dari semuanya, yang membuatku tercengang [sayangnya, dalam arti negatif] adalah endingnya. Oh, GOD! Apakah mereka serius mengakhiri serangkaian misteri ini dengan adegan itu. Aseli, sepertinya mulutku langsung ternganga gitu dan... aku tak mau percaya bahwa penulis memilih ending yang.... ah, masak dibikin gitu sih?. Absolutely, ini unsur subjektifku. Mungkin aku harus membaca ulang lagi [nanti] untuk memecahkan misteri yang masih berputar di kepalaku, mengapa penulis memilih ending begitu? Huhuhu.
Overall, novel ini menarik. Terlepas dari mengapa pelaku begitu mudah menghabisi korban-korbannya [telah dibeberin modusnya sih], emosiku dibuat teraduk-aduk karena masih nggak percaya penulis dengan ‘tega’ mengubah tokoh utama yang awalnya lovable itu. Sebagai pembaca cerewet yang gampang nyerah disuruh menggunakan ‘logika’, aku butuh sekali banyak penjelasan atas beberapa adegan yang ada.
Oiya, aku teriak donk ya, mana unsur romantisnya? Kalau boleh berangan-angan, sepertinya akan lebih menarik jika ada sesosok kekasih di sisi tokoh utama. Bisa jadi partner in crime [jadi inget film Radit dan Jani]. Seru aja gitu [dalam bayanganku].
Typo-nya dikit, selamat ya.
Ngomong-ngomong, masih terjadi perdebatan dalam menafsir sampulnya [atau itu halusinasiku aja, ya?]. Beberapa temen bilang itu kain satin [secara judulnya satin, kan?], tapi aku menganggapnya tetes darah yang dituang dalam air. Lagipula, Satin yang dimaksud dalam judul tidak berarti harfiah, kan?
Satin Merah. Saya pikir buku ini akan bercerita tentang kain Satin, ya paling tidak ada kaitannya dengan kain mengkilap itu, seperti yang terlihat di covernya yang minimalis tapi cantik itu. Tapi ternyata saya salah, Satin disini adalah Sastra Tinta (Satin) Merah. Kenapa harus merah? Karena ada bau darah dan kematian dalam buku ini.
Saya langsung tertarik dengan buku ini setelah melihat sepertinya buku ini akan membuat kita jadi detektif dari kasus-kasus kematian. Setelah sebelumnya saya menyukai Cinta Mati dari Armaya Junior (juga terbitan Gagas Media), maka saya tidak akan melewatkan buku ini.
Adalah Nadya, tokoh utama dari buku ini. Seorang siswi kelas 12 SMA (kelas 3 SMA) yang mengikuti perlombaan siswa teladan sekota Bandung. Untuk mengikuti tahap selanjutnya, Nadya diharuskan membuat makalah bertema bebas. Nah, Nadya tidak ingin membuat makalah yang temanya biasa-biasa saja, sampai akhirnya Nadya memutuskan untuk membuat makalah bertema 'Sastra Sunda'.
Mulailah Nadya mencari tahu banyak hal tentang Sastra Sunda dari internet. Untuk keperluan makalah itu Nadya harus bertemu dan bertanya banyak hal pada beberapa sastrawan Sunda. Awalnya, Nadya bertemu dengan Yahya S. Nadya akhirnya belajar menulis dari beliau, tapi ternyata Yahya S adalah orang yang blak-blakan. Jadi, setelah melihat karangan Nadya yang kurang baik, Yahya pun mengkritik Nadya habis-habisan.
Nadya yang kurang suka dikritik terlalu pedas akhirnya terpikir untuk membunuh Yahya S. Selanjutnya, bergurulah Nadya ke sastrawan lain yaitu Didi Sumpena, Nining dan Hilmi terakhir pada Lina Inawati. Tapi, pelan-pelan banyak kejadian aneh. Satu per satu mentor Sastra Sunda Nadya itu hilang. Mulai dari Didi, Nining hingga Hilmi. Inilah yang membuat Lina Inawati mencari tahu banyak Nadya dan Lutos.
Nadya sebenarnya anak yang pintar. Namun, karena perasaan cemburu pada adik satu-satunya, Alfi yang langganan juara di berbagai kompetisi membuat Nadya ingin terlihat lebih baik dari sang adik. Itulah mengapa, tagline buku ini 'aku cuma ingin jadi signifikan'. Nadya ingin terlihat lebih baik dari adiknya untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari orang tua juga teman-temannya.
Ceritanya sebenernya seru, menarik banget menurut saya. Penulis yang ternyata 2 orang yaitu Brahmanto dan Rie, membuat kisah pembunuhan dengan memasukkan Sastra Sunda sebagai pembungkusnya. Unik, karena tidak biasa. Apalagi sastra Sunda seperti ini sangat jarang menarik minat pembaca, apalagi saya sendiri yang bukan orang Sunda.
Tapii... saya merasa ada yang kurang. Kurang sip gitu deh. Kita tau bagaimana Yahya S akhirnya mati, tapi Didi, Nining dan Hilmi, sebagai pembaca kita dibuat cuma tau matinya kenapa, tapi tidak dengan cara kematiannya. Sebagai penggemar Conan Edogawa di serial Detektif Conan, jelas saya merasa kurang greget kalo tau ada kematian, tapi tidak tau cara kematiannya dan bagaimana pembunuh melakukan aksinya. Itu yang tidak diceritakan dalam buku ini.
Dan.... satu lagi, endingnya itu loh..... ga banget deh kayaknya. Masa' sih harus dibuat seperti itu? Saya menyangka Brahmanto dan Rie Yanti bingung harus diapain si Nadya ini, tapi saya lebih ga nyangka lagi kalo akhirnya hal itu yang terjadi pada Nadya.
yang bisa menjadi mengerikan adalah obsesi yang tak tekendali
hal ini yang membuat saya merinding selama tiga jam membaca habis novel ini yup, tiga jam tiga jam dalam keremangan mati lampu di malam minggu main internet ga bisa nonton teve ga bisa akhirnya memaksakan membaca dengan lampu darurat karena kelimpungan mati gaya
mati gaya gara-gara mati lampu lalu membaca tentang orang-orang mati terbunuh karena ilmu yang terserap demi mimpi menggapai energi putih agar sanggup melambaikan harga diri yang terlajur dicabik obsesi demi menjadi significant
siapa mengira kecemasan akan punahnya sastra Sunda bisa menjadi begitu memerihkan hati bukan hanya karena banyaknya rasa cinta yang tertuang dari kelembutan bahasa nya tapi juga dari keinginan menguasai menjadi pahlawan budaya menjadi significant
saya seperti dihadapkan betapa beratnya kehidupan remaja masa kini dan semakin merinding memikirkannya
semoga tidak semua remaja serapuh Nadya semoga setiap orangtua mampu merengkuh hati setiap anaknya sehingga bulu kuduk yang berdiri hanya bisa didapati saat membaca novel saja di tengah mati nya lampu bukan di tengah-tengah ketakutan menghadapi kenyataan dunia yang semakin sakit semoga
*** Gaya dua penulis ini membangun ceritanya manteb banget Tema yang sangat diluar kebiasaan Penjabaran akan banyak hal yang mustinya didapat dari hasil research tidak membuat saya merasa dijejali fakta dan data Banyak juga petuah bagi mereka yang ingin terjun di dunia tulis menulis *mengacungkan tangan* yang sekali lagi, disampaikan dengan cerdas tapi tak menjadikan pembaca nya merasa digurui
Rasa merinding nya, pas Ketawa-ketiwi nya, pas Manis nya, pas Miris nya, pas Hikmah nya, luar biasa paaaaaaas Sinergi dari dua penulis yang mantab..
Pokoknya suka banget sama novel ini Suka, suka, suka..
Makasih buat ayu yang sudah menghibahkan buku ini *hugs*
ada beberapa quote yang betebaran di review teh Rini ini intip di situ aja yak.. hihihihi *dijitak Teh Rini*
Awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan novel ini. Ini merupakan salah satu novel yang saya jual karena ada di agen buku langganan saya. Kover yang tidak mengundang, judul yang terkesan "tua". Errr... mungkin hanya saya saja yang memiliki kesan seperti ini. Saya menganggap satin merah sebagai jenis bahan mengilap-berwarna merah yang biasa digunakan oleh para ibu-ibu untuk membuat rok pesta. Hwahahaha... Sungguh, saya mengira isi novel ini mengenai ibu-ibu berpesta. XD Yah... dengan kesan pertama yang saya dapat, saya tidak membaca sinopsisnya. #salahsendiri XP
Kemudian ada salah satu pelanggan saya yang memesan novel ini. HEI! Itu membuat saya penasaran. Saya bertanya-tanya tentang novel ini padanya, dan taraaanngg... ternyata ini novel thriller! #kaget
Rasa terkejut membuat rasa penasaran saya semakin menjadi. Setelah melihat rating goodreads dan review para pembaca yang mayoritas positif, saya pun memutuskan membeli novel ini untuk saya simpan sendiri. Untunglah stoknya ada 2 di agen. #penjualbukuyanglebihbanyakmembelibuku
Seperti biasa, membeli tidak berarti langsung membacanya. Beberapa bulan baru saya tahu, ternyata novel Satin Merah ini juga cukup banyak dipuji dan direkomen oleh teman-teman di Komunitas Penimbun Buku di Facebook. Ini membuat saya memutuskan membacanya sesegera mood saya. #loh Maka inilah review saya, setelah menghabiskan 4 paragraf panjang untuk sejarah pembelian buku. #hoahm...
Bab 1 di sini saya rasa lebih cocok menjadi Prolog, tapi itu hak penulis untuk menjadikannya sebagai bagian dari bab. Bab 1 langsung masuk bagian tengah cerita, tentang penemuan 2 mayat di sebuah rumah kenalan tokoh B, dra. Lina. Bab 2 mulai menceritakan tokoh A, sebagai tokoh utama, sebagai tokoh yang disebut di sinopsis, Nadya.
Diawali dari Nadya yang terpilih untuk mengikuti lomba pemilihan siswa terbaik se-Bandung. Tugas lomba untuk membuat sebuah makalah lambat laun membelokkan ambisi Nadya. Ambisi memenangkan lomba siswa terbaik se-Bandung berubah menjadi seorang sastrawan sunda paling terkemuka. Ini agak aneh, tapi bisa saja karena Nadya ini agaknya memiliki gangguan jiwa.
Sedikit-banyak sastra sunda dibahas dalam novel ini, menjadikannya sebuah nilai yang sangat positif, mengingat sudah jarang penulis lokal yang menyentuh sastra daerahnya masing-masing. Pembaca buku lokal belakangan juga kurang melirik keberadaan sastra daerah (termasuk saya). Semoga dengan ini para penulis dan pembaca ke depannya busa lebih memerhatikan sastra daerah. Semoga saya bisa seperti itu, tidak yakin karena saya tidak terlalu pandai bahasa daerah (Jawa). -_-
Ada beberapa kalimat yang kurang pas dalam novel ini. Sedikit sih... misalnya kata yang tidak perlu diulang tapi terulang dengan jarak sekitar 1-2 kata. Juga ada kata yang penempatannya kurang tepat (terbalik), supaya lebih enak dibaca. Tapi saya malas cari. Hahaha...
Oh ya, saya agak kebingungan menebak siapa sebenarnya tokoh utama dalam novel ini. Apakah benar Nadya seperti yang saya sebutkan di atas? Apakah benar karena nama Nadya muncul di sinopsis? Lalu kenapa nama dra. Lina-lah yang muncul terlebih dahulu di awal bab? Kenapa pada bab-bab setelah beberapa penemuan mayat ceritanya lebih terfokus pada kehidupan dra. Lina. Seolah-olah Nadya sebagai tokoh utama telah ditelan bumi.
Memang bisa saja ada dua tokoh utama dalam sebuah cerita, tapi apa tidak bisa porsi yang diberikan tidak terbelah? Dalam novel ini dari Bab dua sampai pertengahan novel ceritanya berfokus pada kehidupan Nadya, dan dari pertengahan sampai akhir novel berpindah fokus pada kehidupan dra. Lina. Porsi seimbang, tapi menjebak saya dalam keingintahuan tentang kehidupan tokoh Nadya dari pertengahan sampai akhir novel ini.
Sepanjang review ini, hal yang paling menarik bagi saya adalah diangkatnya tema sastra sunda di sini. Terdapat dua buah puisi berbahasa sunda di dalamnya, waktu saya tanyakan pada teman saya, dia bilang sebagian diksinya masih menggunakan bahasa sunda kasar yang digunakan sehari-hari. Tidak terlalu bisa menilai, tapi saya cukup menyukai puisinya yang telah diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia. Hohoho... Kalau tidak ada tema sastra sundanya, saya pasti akan mengurangi bintangnya. Maksimal 2 bintang.
Apakah kalian pernah merasa diabaikan oleh orang lain? Saya pernah, sering dan terkadang masih merasakannya. Mungkin orang lain tidak bermaksud mengabaikan, namun karena berbagai alasan lain, seringkali seseorang merasa "ditiadakan" oleh lingkungan sekitarnya. Ah, kasihan sekali Nadya. Dia terbawa oleh keinginannya menjadi anak yang diakui oleh orang lain. Hingga tanpa sadar, keinginannya membuat Nadya mampu melakukan hal-hal yang diluar kebiasaannya..
buku ini emank lain daripada yang lain. Dari segi cover uda beda. Kenapa kasih bintang 5? karena si pengarang total banget ngerjain PRnya. *eseh PR pula* judulnya Satin Merah, yang sebelum aku baca and dalamin bukunya, masih gak ngerti apa sih arti dibalik Satin Merah ini. Awal baca langsung dihadapi dengan kasus pembunuhan. Dua orang laki-laki yang dibunuh. Pembunuhnya masih tanda tanya. Dalam pikiranku, awalnya aja udah disodori dengan terungkapnya pembunuhan di rumah seorang sastrawan Sunda, gimana lagi dengan chapter2 berikutnya.
dan gak lama, kita berkenalan dengan gadis sma umur 17tahun yang kerap dipanggil Nadya oleh orang2 terdekatnya. Kita mengenal Nadya sebagai sosok remaja yang pintar dan berprestasi disekolahnya. Dia pun didaulat untuk mengikuti sebuah lomba yang diadakan sekolahnya. Nadya yang tergiur ingin menang dan membuktikan kalau dia memang layak dan jauh diatas orang lain mulai sibuk menyari topik dan bahan yang ingin dibahasnya.
Akhirnya dia pun memilih topik Sastra Sunda Pertama-tama Nadya bersikap santai, tapi lama kelamaan dia menjadi intens dan cenderung haus akan ilmu yang dipelajari ini. maka ia pun mulai mencari sastrawan2 yang bisa ia minta petunjuk. Mulai dari Pak Yahya, Pak Didi, Bu Nining, dan Hilmi, semua orang yang berhubungan dengannya dan menjadi mentornya harus merelakan kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidup mereka.
dari awal ampe akhir baca Satin Merah, yang jelas kutangkap dari Nadya adalah awalnya dia hanyalah anak yang biasa2 saja, waktu kecil dia kesepian, kedua orangtua nya bekerja dan tidak bisa bermain dengannya, dia hanya ditemani pembantunya dan mainan2 yang sengaja disiapkan orangtua sebagai alat untuk menggantikan mereka. dia juga dilarang bergaul dengan anak2 tetangga sebelah. Bayangin donk yah gimana minim nya sosialisasi Nadya. Hal yang dari kecil tanpa disengaja, sudah dipupuk ke Nadya. dia yang kesepian pun harus merengek minta adik ke ortunya. Setelah penantian beberapa tahun, keluarga mereka pun dikaruniai seorang anak lagi bernama Alfi. Karena pada dasarnya Nadya yang meminta mereka melahirkan seorang adik untuknya, maka Nadya pun amat sangat menyanyangi adiknya. tapi sewaktu mereka beranjak dewasa, Nadya malah cenderung membenci adiknya, karena adiknya lebih banyak mendapat perhatian dari orangtuanya. Alfi ini, Alfi itu, semuanya Alfi. Prestasi Alfi pun tidak kalah gemilangnya dari Nadya, malah cenderung meningkat tajam.
Nadya semakin membenci adiknya dan tidak mau kalah, berusaha keras ingin membuktikan keeksistensiannya didunia ini, ingin diakui oleh semua orang. Kalau kubilang, Nadya cuma korban. Dia bak pembunuh berdarah dingin. Sewaktu membaca scene dimana beberapa tahun yang lalu dia membawa mobil ditemani ayahnya lalu menabrak tukang parkir, dan tidak merasa bersalah dan malah cenderung menyalahkan si tukang parkir yang tidak berhati-hati, aku udah tahu bahwa ada yang aneh dengan remaja satu ini. Bahkan ketika mengetahui tukang parkirnya meninggal, Nadya malah biasa aja. aneh banget kan.
belum lagi pembunuhan2 yang terjadi, bukan ngerasa seram, aku malah kasihan nengo Nadya. rasa ingin diakui dan rasa tidak pernah puasnya membuat dia jatuh ke jurang yang dalam. Dia memang pintar, tapi pintar saja tak pernah cukup, harus diimbangi dengan hati yang tulus dan jujur juga. Nadya yang berniat cuma berbohong sekali, malah menjadi terjebak dan mau tak mau menciptakan kebohongan-kebohongan yang lain lagi, ironis kan?
ending nya sekali lagi membuktikan bukan hanya Nadya yang pintar,tapi juga si duo penulisnya :) Dua penulis Satin Merah ini cerdas, menggunakan alur mundur *soktau*, membuat kita flashback, dan mencerna apa maksud dari si penulis. dan jagonya lagi, para penulis ini menulis Satin Merah, nah didalam Satin Merah ini, mereka menggali lagi potensi mereka, dengan menulis lagi lewat Nadya. topik yang diangkat pun berbeda dari topik2 novel lainnya. satu kata : salut. sebenarnya banyak yang ingin diungkap dari novel satu ini, soalnya emang seru banget, tapi kalau diungkap semua ntar gak ada yang mau beli lagi karena keburu tau semua kejadiannya,hoho. Jadi dengan kata lain, ni buku wajib baca, wajib beli dan wajib dikoleksi! :) harus baca deh novel yang satu ini. Jamin gak bakal nyesal karena bakal hanyut kedalam alur cerita Satin Merah yang seru ini.
Yeah! Aku suka novel ini, terutama karena tema Sastra Sunda yang menjadi salah satu sorotan dalam cerita. Tak dipungkiri memang kalau budaya di Indonesia mulai mengalami abrasi mengingat kurangnya kesadaran pentingnya ‘jati diri’ bangsa ini di masa depan, ditambah para muda-mudinya selalu berkiblat dengan dunia Barat, baik pemikiran maupun gaya.
Saya masih ingat ketika SD dan SMP mendapat pelajaran bahasa daerah agak pontang-panting menggunakan Basa Kromo Inggil karena dalam keluarga komunikasi lebih sering memakai bahasa Indonesia atau Jowo Ngoko. Namun, untuk penulisan huruf honocoroko, saya selalu menyambutnya dengan gembira karena kala itu menganggapnya seperti huruf sandi. Sayangnya, sekarang saya sudah sukses lupa dengan penggunaan huruf-huruf tersebut.
Berangkat dari keprihatinan ini, Brahmanto Anindito & Rie Yanti meracik sesuatu yang konvensional [Sastra Sunda] dengan ramuan modern. Adalah Nadya, karakter utama dalam buku berjudul Satin Merah. Sosok yang sangat ambisius ‘hanyalah’ seorang gadis SMU yang ingin menunjukkan bahwa dirinya punya prestasi yang melebihi adiknya. Dari situ terlihat bahwa Nadya sangat kehilangan perhatian dari orangtuanya.
Demi mendapatkan apa yang diinginkannya, Nadya memutuskan mengikuti pemilihan siswa teladan, dengan salah satu syaratnya membuat karya ilmiah. Memang dasar ni anak cerdas, dia tidak ingin mengangkat tema yang sudah pasaran, maka Sastra Sunda pun menjadi obsesinya. Mulailah Nadya ‘mengembara’ mencari narasumber yang dapat menopang tema menariknya ini. Ketidakmampuan mengendalikan emosi inilah yang menjadi awal mula petaka hidup Nadya. Pembunuhan demi pembunuhan pun dilakukan, yang tanpa disangka malah semakin mengukuhkan ilmu Nadya di bidang Sastra Sunda yang di buku ini digambarkan sebagai Energi Putih.
Sejauh yang saya ingat, Satin Merah adalah kali ketiga saya membaca novel thriller karya penulis muda Indonesia, setelah Metropolis hasil olah kepala dari Windry Ramadhina dan buku Farida Susanty yang berjudul dan hujan pun berhenti. Hanya saja Metropolis lebih cenderung ke misteri-detektif. Sedangkan Satin Merah lebih banyak menebar aura psychological thriller yang lebih ‘dark’ dibandingkan dengan ‘Dan Hujanpun Berhenti. Namun, kesan yang saya dapatkan hampir sama, gembira karena ada penulis dalam negeri yang bersedia bersentuhan dengan genre yang satu ini, dimana kebanyakan penulis lebih suka mengambil tema cinta, motivasi, dan remaja.
Sedikit kekurangan yang saya tangkap dalam alur cerita adalah masih bingungnya saya dengan teknis kematian dari Nining, kapan pemberian sianida dilakukan? Selain itu, bagian dimana Nadya berkawan dengan geng motor, saya rasa tidak diperlukan mengingat tidak terlalu berpengaruh dalam cerita. Terlepas dari itu, saya menyukai novel bersampul menawan terbitan GagasMedia ini dan berharap semakin banyak penulis yang bersedia ‘menyentuh’ sisi budaya bangsa sebagai tema sentral dalam sebuah novel. Bravo!
Buku yang bikin panas dingin. Hari pertama saya baca buku ini menjelang tidur. Mimpi buruk didatangi Nadya yang membawa asbak helm. Selanjutnya, saya hanya berani baca siang hari.
Unsur Psikologis
Buku ini saya sebut buku pintar. Berisi tentang pembunuhan, sastra Sunda, pelajaran menulis dan psikologis, yang diramu menjadi satu kesatuan. Unsur psikologis banyak mendominasi dalam berbagai sisi buku ini. Saya salut pada penulis yang menampilkan sisi psikologis Nadya dengan detail.
Jujur saya ngeri membayangkan sosok Nadya. Seorang anak yang haus pengakuan dari orang tua dan orang-orang disekitarnya, bisa menjadi pembunuh berdarah dingin. Suatu hal yang wajar adanya. Mungkin juga terjadi di dunia nyata. Buku ini bisa menjadi 'cermin' untuk orang tua dan juga anak yang mempunyai pengalaman sama dengan Nadya. Semoga tidak ada Nadya-Nadya baru dikehidupan nyata.
Permainan Emosi
Pada bagian awal, saya sudah disuguhi penemuan dua mayat di sebuah rumah. Untunglah, setting berpindah di sebuah sekolah SMA, lengkap dnegan pernak pernik dunia remaja. Selesai sudah spot jantung di awal buku ini. Namun sayang, tidak lama saya malah digiring ke cerita yang lebih mencekam. Pembunuhan yang dilakukan seorang remaja belia. Yang membuat saya geleng-geleng, anak itu tidak hanya membunuh satu orang.
Perasaan ngeri, gemas, penasaran dan kasihan bergulat jadi satu. Perasaan penasaran menang dalam pergulatan kali ini. Saya pun meminta ketiga perasaan lain untuk minggir. Penasaran saya kemudian memunculkan kekaguman. Kedua penulis konsisten membangun alur cerita dengan kecepatan yang konstan dari awal hingga akhir.
Pada awalnya saya benci dengan tokoh Nadya. Namun, perasaan itu langsung sirna di akhir cerita. Email Nadya yang dibuat khusus untuk Alfi tak urung membuat saya menahan haru. Nadya ternyata menyayangi adiknya dan tetap ingin menjaganya meski sudah meninggal dunia.
Pertanyaan
Bangunan cerita tertata dengan rapi perlahan-lahan dengan pasti. Trik putus nyambung bisa saya ikuti dengan nyaman. Meski ada pertanyaan dibenak saya. Bagaimana tokoh Didi dan Nining meninggal? Penulis hanya menjelaskan secara tersamar. Menurut saya, justru pada dua peristiwa itu penulis bisa mengumbar trik pembunuhan yang menawan.
Meski begitu, buku ini adalah buku favorit saya setelah 'metropolis'. Semoga semakin banyak penulis-penulis Indonesia yang bergerak di genre ini.
Keren. Banget. Terakhirnya merinding abis gara-gara di akhir sepertinya ada kejutan tak terduga.
Well. Aku seneng sama buku ini. Isinya mendidik, dan banyak ilmu kepenulisan yang bsa aku dapet dari sini. Sayang sekali, ada beberapa kelemahan buku ini, yaitu penggambaran emosi yang kurang menunjang. Dari tokoh Nadya sendiri, hampir semua sudah terasa pas, hanya saja di adegan pertama dan detik-detik terakhir bersama Yayan, teriakan emosi Nadya kurang menjelaskan.
Emosi sang ayah juga g jelas, begitu pula dengan emosi adiknya. Mereka seakan cuma tempelan figur ayah dan adik, tidak terasa sama sekali hubungan kekeluargaan mereka.
Ada pula penceritaan flashback yang agak membingungkan, tapi tetap terjalin manis.
Terlepas dari isi buku ini sendiri, sebenarnya saya ingin mengkritik Kata Pengantar. Kata Pengantar yang baik menurut saya tidak membahas isi buku secara gamblang. Saya setuju dengan pengetahuan 21 Februari merupakan Hari Bahasa Ibu Internasional, tapi saya tidak setuju ketika tangan penulis kata pengantar mulai memberi clue :
Ada orang yang terbunuh (Sastra Sunda?), ...
Kalimat ini membuat saya berpikir lagi bahkan sebelum membaca buku ini. Saya merasa dicurangi, sebab meskipun kata Sastra Sunda di sini merupakan jebakan pemberi kata pengantar, saya mulai merasa didikte.
Entahlah. Yang jelas saya mendapat pelajaran. Baca kata pengantar setelah selesai membaca novel. Atau bisa saya usulkan juga, kalau kata pengantar terus-terusan tidak kreatif mengutip beberapa bagian buku atau memberi clue, meskipun itu clue palsu, lebih baik ubah saja jadi : Komentar Ahli. Atau hal semacam itu yang lebih diperhalus bahasanya.
Sebenernya sejak Festival Pembaca kemarin udah megang buku ini dari hasil swap. Tapi di pendiiing terus bacanya, soalnya sy termasuk yg membiasakan diri ngga nonton film/baca buku yg serem alias horror/thriller. Tapi penasaran krn rating nya yg bagus di Goodreads, akhirnya kemarin ngambil buku ini buat baca di jalan mau ke rumah Om. Trus di cut krn keburu nyampe; tapi udah baca pembunuhan #1 dan puisi Balaka.. dan, akhirnya sepagian tadi jadi kebayang2.. oh noooo..... this is exactly why I don't wanna read thriller... :D -> is meant to be a compliment, buku yg bisa bikin pembacanya merinding & teringat terus :))
Don't worry... sore ini kita habiskan (gulp.. tentunya pake berdoa dulu supaya ngga takut xixixi) Update: akhirnya selesai juga baca pas jam mkn siang, sampe mkn siangnya mepet krn penasaran mau ngabisin buku nya. A chilling story about a girl who kills to be significant, so that people will see her. Yg bikin serem justru pas mikir waduh ini pasti korban selanjutnya, trus imajinasiin sendiri kronologi pembunuhannya gimana. Recs untuk yg suka genre thriller dan misteri.
Kalo endingnya sebenernya sy kurang suka krn melarikan diri gitu, tapi akhirnya diobati dgn cerita cinta untuk sang adik yang selalu mengangapnya signifikan. Btw gila juga ya body count nya buku ini banyak banged; kayaknya buku Agatha Christie aja ngga sebanyak ini body count nya :D
Kisah yang unik, tentang seorang gadis tujuh belas tahun yang tertarik akan Sastra Sunda.
Tema yang diangkat sangat menarik. Menggabungkan kesusastraan dengan pembunuhan.
Yang paling saya sukai dari karya ini adalah banyak sekali insight yang bisa diambil oleh mereka yang ingin belajar mengenai kepenulisan.
Sebenarnya, saya memberi 3.5 bintang karena insight-insight tersebut. Juga karena menyatunya gaya dua orang penulis dalam novel ini -- saya tidak bisa menebak mana yang ditulis oleh Mas Brahmanto dan mana yang Mbak Rie, atau memang ada metode sendiri? Sayang sekali tidak ada opsi 3.5 bintang di GR.
Pertama kali membaca judul novel ini, saya membayangkan kain satin berwarna merah, yang mungkin nanti akan muncul di dalam alur cerita. Apalagi cover depannya juga berhiaskan gambar abstrak semacam gumpalan kain berwarna merah. Saya tercengang begitu sampai di sekitar ¾ bagian novel, pada bab 62 yang menjelaskan secara eksplisit apa itu “satin merah”. Beneran tak terduga, jauh sekali dari persepsi saya, seperti jika Anda mendengar frasa “white collar” dan mungkin langsung muncul bayangan kemeja berkerah putih, padahal arti sebenarnya adalah “pekerja kantoran”. Hehe. Beralih ke sub judulnya, yang sungguh menarik, “Aku cuma ingin jadi signifikan.” Signifikan yang bagaimana? Jadi orang penting yang seperti apa? Pertanyaan ini terjawab oleh paragraf pertama sinopsis pada cover belakang, “Satu-satunya cara untuk membuat Nadya merasa dirinya berharga dan ‘terlihat’ adalah dengan selalu berprestasi. Tapi seiring waktu berlalu, dia mendapati sinarnya kian memudar. Nadya tak ingin terlupakan. Dia merasa harus membuat gebrakan prestasi untuk membuat pujian dan tatapan kagum kembali tertuju padanya.” Novel ini diawali dengan ditemukannya dua mayat sastrawan Sunda di pekarangan dan bak mandi rumah salah seorang dari almarhum itu. Jelas sekali bahwa mereka korban pembunuhan. Tapi, siapa yang melakukan perbuatan keji itu? Dan apa motivasinya? Nindhita Irani Nadyasari atau biasa dipanggil Nadya adalah seorang murid kelas 12 SMA Priangan 2 Bandung. Ia termasuk ke dalam jenis murid yang study-oriented, selalu menyabet predikat ranking satu selama ia sekolah. Tapi adiknya, Alfi, makin bertumbuh menjadi seorang anak yang langganan mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba dan tak jarang meraih juara. Hal itu menenggelamkan kecemerlangan Nadya, lantaran prestasi yang ia raih membosankan, itu-itu saja, yaitu menjadi ranking satu di kelas. Ditambah lagi dengan omelan-omelan dari orangtuanya yang sering membandingkannya dengan adiknya, makin membesarkan api kemarahan Nadya. Datanglah satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia mampu berprestasi. Untuk kembali merebut perhatian orang-orang di sekitarnya. Lomba siswa teladan se-Bandung-Raya itulah yang ia manfaatkan baik-baik untuk menyedot pujian-pujian dari seantero Bandung jika ia berhasil menjadi juara. Sampailah ia pada seleksi tahap ketiga, yang mengharuskannya menulis karya ilmiah dalam jangka waktu tiga bulan. Berbagai topik karya ilmiah diluncurkan oleh teman-temannya, semacam global warming, tapi ia butuh tema yang menantang. “Sebuah tema yang tidak banyak diketahui orang, terutama oleh para kompetitornya di lomba ini. Namun, tema itu juga harus siginifikan...” (halaman 8) Lantas, tanpa sengaja, suatu topik unik muncul di benaknya: sastra Sunda. Topik ini menimbulkan komentar negatif nan skeptis dari teman-temannya, Diana dan Valen, yang menyebabkan hubungan mereka merenggang. Hanya Echa-lah yang tetap setia menjadi temannya hingga akhir. Bahkan papanya juga tak menyetujuinya. “Kamu ini ya, Sastra Sunda aja dipikirin! Ngapain sih, mau-maunya! Biar orang desa yang lebih berbakat kesenian yang ngurusin perkara remeh gitu. Di keluarga kita, nggak ada darah-darah sastrawan, tau nggak? Kamu mau jadi apa, Naaak, ngurusin sastra itu mau jadi apaaaa? Orang kere di Indonesia ini udah banyak!” (halaman 161) Tak masalah. Tak ada yang mampu menghentikan Nadya jika ia sudah kerasukan roh ambisius seperti ini. Langkah awal yang ia lakukan adalah mencari informasi lewat internet, tentang perkembangan sastra Sunda. Tapi pencarian itu tak membuahkan hasil yang memuaskan. Akhirnya ia mencari alamat dan mewawancarai para tokoh sastra Sunda, sekaligus meminta mereka menjadi mentornya yang akan mengajarinya menulis. Tokoh pertama yang ia datangi adalah Yahya Soemantri, seorang sastrawan yang hidup soliter, dingin, dan bermulut pedas. Cerpen yang Nadya buat dengan penuh usaha keras itu malah dicecarnya habis-habisan, memancing kemarahan Nadya. Kemudian ia beralih ke tokoh lainnya, penulis yang memiliki spesialisasi genre kriminal, Didi Sumpena Pamungkas. Awalnya, ia belajar dengan penuh semangat lantaran Didi tak seperti Yahya; beliau humoris dan menyenangkan. Namun Nadya jadi panas dingin ketika Didi menunjukkan gelagat ingin menguak kebenaran di balik menghilangnya Yahya, teman sesama sastrawan Sunda. Melalui jejaring sosial facebook, Nadya berkenalan dengan penulis lain, Nining, seorang wanita ramah, lembut, dan penuh cinta. Beliau selalu mendasari tulisannya dengan tema cinta. Orang ini juga mempopulerkan korelasi antara sastra dan terapi jiwa. Nadya juga ingin memiliki ilmu ini, di mana ia akan bisa memberi sentuhan cinta pada karya-karyanya. Tatkala ia telah berhasil memilikinya, seorang dosen Sastra Sunda Unpad, Lina Inawati, yang juga teman Nining, mengajaknya berkenalan lantaran tertarik akan karya-karya Nadya yang ia post di facebook. Di sisi lain, Lina heran akibat meninggalnya orang-orang dekatnya dengan misterius. Mulai dari Yahya (pamannya), Didi, hingga Nining, sahabatnya. Ia pun mencurigai seseorang di facebook bernama Lotus, yang menge-post karya-karyanya di grup Sastra Sunda Plus (SS+). Kecurigaan Lina itu beralasan, kecermatannya membuatnya melihat kemiripan karya-karya Lotus dengan almarhum Yahya, Didi, juga Nining. Pada akhirnya, beliau juga mencurigai Nadya, karena ia ada di rumah Nining malam sebelum wanita itu meninggal akibat diracun. Akankah Lina berhasil mengungkap siapa sebenarnya Lotus? Dan apakah benar ia pembunuh para sastrawan itu? Apakah fenomena “energi putih”—penampakan berupa energi serupa mega putih di mimpinya, yang menandai bahwa ia sudah mewarisi ilmu-ilmu seseorang setelah ia bertemu dan berguru secara langsung dengan orang itu—yang sering dialami Nadya dan sudah menyimpang jauh itu akan dapat ia kendalikan? “Tema yang nyaris tak tersentuh oleh penulis zaman sekarang. Dipadukan dengan kehidupan anak muda yang sangat akrab dengan teknologi internet. Menarik banget. Unik. Orisinal.” Begitulah testimoni dari Feby Indirani terhadap novel ini. Saya setuju dengan pendapat itu. Sebuah kisah misteri diwarnai secercah fantasi (tentang fenomena aneh “energi putih” itu), yang dibangkitkan oleh roh kesusasteraan Sunda, dan kejadian serta setting yang dekat dengan dunia nyata anak muda. Diolah secara apik oleh dua orang penulis ini, yang melakukan aktivitas penulisan hanya lewat jagat maya. Bagi saya, itu keren sekali. Tanpa pernah bertatap muka, mereka berdua berhasil menjalin kreativitas hingga mewujud jadi novel Satin Merah. Jujur, saya selalu menyukai novel dengan bab-bab yang pendek-pendek. Oleh karena itu, saya puas membaca buku ini, bagaimana tidak, hanya dengan tebal 314 halaman, novel ini terbagi menjadi 81 bab. Teknik penulisan semacam ini berhasil menarik saya mengikuti alurnya yang menegangkan tanpa menjadi bosan. Meski suasana yang dihadirkan oleh novel ini tegang dan kelam (hasil injeksi Brahm), tetap tak kehilangan keindahan unsur puitis sastra Sunda (ciptaan Rie Yanti). Alur yang dibangun pun turut membikin suasan tegang, dengan mengisahkan secara maju dan mundur. Misalnya ketika terakhir kali Nadya bertemu dengan Yahya pada bab 16, dan pada bab 26 baru diceritakan kembali kejadian bagaimana Yahya meninggal. Jarak yang lumayan jauh ini berhasil menghindarkan kebingungan pada pembaca tentang setting waktu. Kedua penulis ini juga berhasil menciptakan penokohan yang kuat, terutama untuk Nadya. Tergambar secara konsisten bagaimana sifat gadis itu: arogan, ambisius, penuh rasa ingin tahu, tak sabaran. Juga bagaimana lembutnya Nining. Dinginnya Yahya. Humorisnya Didi. Cerdas & penuh curiganya Lina. Namun yang disayangkan, meskipun novel ini bergenre misteri, tapi menurut saya kurang narasi aktual di bagian ketika Didi, Nining, dan Hilmi dibunuh. Ketiga kasus itu hanya diceritakan melalui tokoh figuran lain. Lalu ada satu peristiwa yang masih mengusik logika saya hingga saat ini (setelah dua kali saya baca Satin Merah), yaitu adegan meninggalnya Nadya. Tubuhnya gosong tersambar petir dan mati. Bukankah petir itu akan mencapai puncak benda yang paling tinggi lebih dulu? Maka dari itu, dipasang penangkap petir pada gedung-gedung tinggi, bukan, yang akan mengalirkan energi listrik petir itu ke tanah, jadi tak berbahaya? Nah, yang aneh adalah Nadya tersambar petir di kawasan yang dihuni bangunan tinggi (menurut deskripsi novel itu, kafe Terakota yang ada di jalan itu saja terdiri dari dua lantai, kan?). Jadi, bagaimana bisa tubuh Nadya yang diincar si petir? Kecuali jika memang kejadian ini dimaksudkan sebagai peristiwa gaib. Terlepas dari itu semua, saya hendak memberi tepuk tangan untuk novel ini. Sukses memperkaya tulisan fiksi anak bangsa di genre thriller, di mana Indonesia masih miskin saat ini. Sudah saatnya para penulis Indonesia melirik dan menggarap tema-tema yang unik. Apalagi berani mengolah unsur lokalitas berpadu dengan kemodernan zaman seperti Satin Merah ini. “Aku bersumpah jadi sastrawan yang siginifikan. Nggak bakal ada lagi orang yang meremehkan Sastra Sunda!” (halaman 279)
Ceritanya benar-benar bikin terperangah karena siapa yang akan menduga sosok ini akan menjadi biang keributan di jagad sastra Sunda. Beberapa tokoh ternama tewas mengenaskan akibat ulah sosok ini yang membabi buta demi mendapatkan 'energi putih' dalam penyelesaian tulisan makalahnya.
Saya suka dengan alur ceritanya yang dinamis. Sebagai benang merah cerita, sastra Sunda mampu menjadi media yang memberi alasan kuat kisah bergenre thriller ini bergerak mulus dengan rasa was-was dan deg-degan ketika sosok ini hendak masuk ke kamar mandi bu dosen dan berniat menghabisinya. Novel yang tak hanya bicara tentang penulis sastra dan tetek bengeknya namun juga mengupas sisi gelap seorang pelajar yang ambisius dan berubah sesat.
Sepertinya ini buku pertama dengan bergenre thriller yang aku baca. Sempat syok ketika mengetahui pelakunya, dan dibuat bertanya-tanya dan bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah. Dan dibuat kaget dengan cara meninggalnya kayak 'kok gitu banget?' Tapi, diakhirnya aku menemukan masih adanya sisi rasa cinta yang dimiliki oleh Nadya kepada adiknya dan keluarganya, setelah hal-hal yang terjadi padanya.
Memperlihatkan bahwa di dalam diri yang terlihat dipenuhi oleh keburukan, ternyata masih menyimpan kebaikan pula di dalamnya.
Yang paling menarik dari novel ini tentu saja sastra Sunda yang menjadi tema spesifik. Tambahan thriller psikologis semakin menyempurnakannya. Sentuhan logika penyelidikan, publikasi karya sastra, interaksi media digital dan dunia maya, pas mantap. Satu hal, meski ini tipe ending yang aku suka, tapi kenapa rasanya nanggung, ya. Klimaksnya kurang dapet gitu. Tapi tetap, secara keseluruhan, eksekusi novel ini keren!
Aku bukan penggemar buku thriller. biasanya baca buku thriller bawaannya males dan lama menyelesaikannya. tapi nggak pada buku ini. ceritanya bagus banget. kereennn. karakter tokoh yang digambarkan itu yang aku suka. ide ceritanya juga menarik, jarang banget diangkat dalam sebuah novel. pokoknya aku sukaa. walaupun aku agak telat bacanya, tapi sama sekali tidak menyesal membaca buku ini.
Menarik sekali konsep dari novel ini. Walaupun intrik yang terjadi tidak terlalu megah, namun alur cerita dan gaya penulisan sangat bagus sekali. Saya memang sudah menggemari Brahmanto Anindito sejak 3 Sandera Terkahir. Akhir cerita nya, sangat menyentuh.
Saya suka, terlebih karena tokoh utama di sini ingin jadi sastrawan Sunda, pilihan yang langka bagi anak muda. Selain memang ini termasuk genre thriller, tentang sastrawan sunda itu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya.
Nadya bukannya melestarikan sastra Sunda, malah mengakhiri sastrawan/i Sunda 😭 Menarik, apalagi bawa sastra daerah, tapi bagian akhir kayak kentang gitu. Ulasan menyusul jika sempat🌻
Memang nampak mengejutkan saat menemukan genre seperti ini di tengah buku-buku Gagasmedia lainnya yang rata-rata mengangkat genre mainstream romance. "Satin Merah" memang bukan kepunyaan gue, temen kampus ada yang minjemin, well... dia sempat membahas ide dan plotnya di kelas, dan gue menyimpulkan itu mirip dengan bukunya Anastasia Aemilia, "Katarsis". Keduanya memang sekilas nampak sama, lantaran sama-sama membahas tentang genre psikologi-thriller.
"Satin Merah" bercerita tentang siswi teladan Priyangan 2, Nadya, yang ingin jadi signifikan. Bukan sekadar signifikan di ranking-ranking sekolahnya. Tapi, tujuan utamanya adalah untuk memperlihatkan kepada kedua orangtuanya yang selalu menyepelekan dia dan memuja adiknya, Alfi. Nadya berencana ikut lomba makalah nasional, berpikir bakal membuat kedua orangtuanya akan menaruh hati padanya kalau dia memenangkan lomba itu. Diana, sohib baiknya, menyarankan biar dia bikin makalah yang bertemakan pemanasan global. Nadya sempat berpikir kalau itu ide brilian, tapi suatu kali, sepulang sekolah, dia termangu sendiri di atas angkot, mengamati satu per satu percakapan Bahasa Sunda yang lambat-laun dianggap kolot dan nyaris punah di tengah khalayak Bandung. Nadya memutuskan untuk mengangkat tema tersebut menjadi tema makalahnya, namun di pihak lain, Diana malah mencemoohnya, mengungkit-ungkit masalah lalu yang selalu membuatnya panas hati. Nadya tak pernah mau ambil pusing dengan masalah itu, rdia memutuskan untuk melakukan penelitian sendiri. Dari awalnya berlatarbelakang sebuah penelitian makalah, tanpa sadar, Nadya menaruh minat besar kepada dunia sastra Sunda, dari perjumpaannya dengan Kang Yahya, Pak Didi, hingga Teh Nining. Mentor-mentor hebatnya berhasil menempa dirinya menjadi seorang yang piawai dalam memainkan metafora. Keluar masuk dunia kesusastraan online, hingga akhirnya, dia menemukan sebuah Energi Putih. Energi yang membuatnya sedemikian lihai dalam merajut kata, tapi sayang, Energi Putih tidak dapat diraih semudah itu. Nadya perlu berbuat sesuatu untuk menjadi signifikan.
Di awal gue melirik "Satin Merah" di rak diskonan Gramedia beberapa pekan lalu, gue menaruh spekulasi kalau "Satin Merah" mungkin berisi tentang cinta dua orang dewasa. Kalimatnya lugas. Beranalogi dalam. Berikut dengan sampulnya yang berwarna merah pekat tapi menginterpreasikan judulnya dengan begitu kuat.
Eh, tanpa sadar, jauh di balik sampulnya yang mencolok itu, "Satin Merah" malah mengambil karakter seorang siswi SMA sebagai pemeran utamanya. Tokoh Nadya dijabarkan dengan sangat baik. Dari responsnya kepada para kerabat dan juga teman-teman sebayanya. Sayang, yang gue kurang suka di sini adalah alurnya yang bolak-balik dan terkesan tidak konsisten, seperti saat gue mencermati novel serupa karya Anastasia Aemilia "Katarsis". "Katarsis" agaknya lebih menekankan proses pembunuhan yang diterapkan oleh si tokoh utama, sedangkan "Satin Merah" sendiri adalah ajang penjabaran dari detektif jadi-jadian, Ibu Lina, yang merangkap sebagai salah satu penulis sastra Sunda.
"Satin Merah" bisa dibilang sangat tidak biasa. Sangat jarang menjumpai buku thriller Indonesia yang dibungkus dengan percakapan dan gaya penceritaan anak muda. Namun, di tengah-tengah dialog spontan tersebut, pembicaraan Nadya dengan Ibu Lina dan juga Teh Nining, serta beberapa begawan sastra lainnya, bisa dibilang sangat berbobot. Tidak hanya menjabarkan secara rinci bagaimana kiat-kiat menulis, sekalipun "Satin Merah" menerapkannya kepada sastra Sunda, tapi gue rasa, tips-tips keren tersebut juga bersifat universal kepada semua kepenulisan sastra dalam bahasa apapun.
Dari lembar "kata pengantar penulis" yang ada di "Satin Merah" gue dapat menangkap kalau kerjasama kepenulisan dua orang yang berbeda tempat ini sangatlah langgeng. Rie yang memang mungkin tidak spesialis dalam kepenulisan dunia thriller, bisa melengkapi kejeniusan Brahmanto Anindito dalam mebuat teori-teori dari kasus misteri. Hingga keduanya dapat menghibridakan sebuah tulisan detektif ala Stephen King dengan latar belakang yang sangat Indonesia.
Tentang judul "Satin Merah" yang dipilih keduanya sebagai judul buku tersebut. Gue rasa, ini bisa menjebak si pembacanya untuk berpikir kalau novel mereka adalah novel roman yang mainstream dan berbobot ringan (seperti gue yang terjebak ini), tapi, ups, jangan sangka. Satin Merah sendiri tidak berarti sesimpel itu. Ada bocoran sedikit dari gue. Satin Merah itu nama teori dan akronim dari "Sastra Tinta Merah", yaitu sebuah motif pembunuhan yang sekonyong-konyong menjadi isu di polsek Margacinta, Bandung. Tapi, seperti apakah lika-liku novel itu dapat diterapkan? Ayo, baca "Satin Merah" :D
Setelah lelah berbincang dg. Coetzee dan Tanizaki mengenai hidup mereka, saya memutuskan untuk pulang, kembali ke pelukan sastra negeri sendiri. Dalam perjalanan (menuju tempat tidur, yg tak selalu berupa kasur) saya menjumpai Brahmanto dan Rie Yanti dalam bungkusan Satin Merah. Terputuskanlah, bahwa malam itu saya mengurungkan niat tidur saya. Saya memutuskan untuk begadang demi menuliskan review, yang saya gunakan untuk kontes. Info lengkap silahkan klik http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2011/11/annual-contest-2011-end-of-year-book.html. Novel ini saya pilih selain karena terdapat warna merah (sesuai dengan syarat kontes), juga karena novel kolaborasi ini adalah karya anak Indonesia yang paling berkesan. Bahkan setelah saya membacanya, saya masih terngiang-ngiang kehidupan serta jalan cerita dalam novel tersebut.
Akhirnya saya kembali duduk bersama mereka, sembari 'mendengarkan' dari jalinan kata dan kalimat Brahm dan Rie Yanti berkisah ttg. kehidupan Nadyasari; seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA.
Awalnya saya menyangka akan kembali tersaruk di antara kebosanan; terlalu banyak kebingungan yang saya dapati dalam plot awal cerita. Namun Brahmanto dan Rie Yanti menipu saya. Mereka mendustai saya dengan menceritakan kehidupan remaja dan ambisinya. Membuat saya hampir kelelahan, sampai akhirnya perlahan2 berdua mereka menyodorkan satu fakta lengkap - bulat mengenai manusia dan permasalahannya yg tak pernah berakhir, karena mereka selalu membawanya dalam diri mereka.
Satin Merah, yg kemudian saya ketahui memiliki makna Sastra Tinta Merah, adalah sebuah kisah thriller tanpa membawa suasana mencekam sedari awal. Tak seperti kebanyakan kreasi negeri ini yg gemar menebarkan suspense sedari awal, Brahm dan Rie membangun kisah sederhana seorang Nadya. Seorang gadis SMA yg memiliki keinginan sama seperti kebanyakan manusia: menjadi penting dalam kehidupan orang2 terdekat. Sebuah keinginan yg kemudian menjalar dan berkobar, dan membakar semangat saya untuk membaca buku ini sampai akhir.
Rasanya saya beruntung, karena akhir-akhir ini saya menemukan buku-buku karya anak Indonesia yg setaraf dg. penulis luar. Sehingga banyak yg mengenal Indonesia bukan hanya lewat Bali, tapi juga sastra yg merupakan cerminan kebudayaan suatu bangsa. Semoga sastra Indonesia mampu mendunia, amin :)
Novel ini sungguh memikat. Dari judul dan desain cover juga sudah bisa memaksimalkan ketertarikan para pembaca. Apalagi setelah dibaca keseluruhan, ah tidak, dari awalnya saja sudah membangkitkan rasa penasaran. Gaya penulis yang cenderung misterius, membuat saya seperti tertarik ke dalam lubang cerita. Penokohan yang kuat, membuat saya termenung. Apakah saya sudah tertular virus Nadya?
Nadya, sang tokoh utama, adalah seorang gadis yang memiliki banyak kelebihan. Wajahnya yang cantik, latar belakangnya yang kaya raya, dan otaknya yang jenius. Sayang, tiga kelebihan yang seharusnya sudah cukup membuat dia menikmati hidup, tidak ada gunanya. Yang dia inginkan hanyalah satu.
Eksistensi.
Sebuah keadaan di mana dia merasa diperhatikan. Sebuah keadaan yang membuktikan bahwa ia dihargai, tidak dilupakan begitu saja, karena kenyataan bahwa alfi, adiknya, ternyata cukup mampu meraih keeksistensian. Ia tidak mau lagi menjadi 'yang diremehkan'. Ia ingin membuktikan kepada teman-temannya, keluarganya, guru-gurunya, dan umumnya kepada seluruh dunia, bahwa ia ada. Dan signifikan.
Obsesi yang mendarah daging dalam diri Nadya meningkatkan rasa penasaran pembaca. Kata-kata pendek dan singkat yang mengalir halus menjadi deskripsi yang tepat untuk novel seperti ini. Kisah sastra sunda pun tak kalah menariknya. Di tengah ancaman punahnya bahasa daerah, novel ini sungguh menjadi solusi tersendiri.
Saya tidak mengerti tentang sastra sunda. Yang saya tahu, bahwa ada penggemar sastra ini, dan ada orang-orang yang masih akan terus memperjuangkan keeksistensiannya. Seperti Nadya.
Mitos dikemas dengan bahasa ilmiah yang tidak bertele-tele. Menjadi poin tersendiri bagi saya. Kisah tiga sastrawan sunda, dengan masing-masing karakternya yang memikat, menjadikan novel ini makin berwarna. Ending yang tidak pernah saya duga menjadi poin tersendiri.
Dan yang terakhir.. Alfi. Sosok yang tidak banyak dijelaskan, tapi saya yakin, dialah sesungguhnya kunci utama seluruh rangkaian obsesi mendalam Nadya. Rasa cinta yang bercampur dengan iri dan kekaguman sekaligus, ditambah juga benci, menjadikan perasaan Nadya kepada Alfi seabstrak mungkin. Sampai akhir pun kita masih dibuat bingung, apa yang sejatinya Nadya rasakan terhadap adiknya, Alfi, itu.
Kebanyakan dari teman-teman saya menyukai Satin Merah dan memberikan rate bintang 5 pada novel ini. Namun, saya sendiri tidak tahu kenapa malah tidak terlalu menyukai novel ini. Bukan karena ceritanya, tapi lebih cenderung karena saya membenci tokoh utama, Nadya. Saya tidak menyukainya
Saya bisa memahami seperti apa hasrat Nadya untuk seorang sastrawan sunda, karena saya sendiri pun memiliki hasrat untuk menjadi seorang penulis. Dari cerita, diperlihatkan pula, kalau Nadya memang memiliki kecenderungan berbuat kekerasan, egois, manja, dan labil. Namun, di akhir, semua sikap itu diwejawantahkan dengan cerpen-cerpen yang dihadiahkannya untuk sang adik setiap tahun.
Saya membencinya, tidak menyukainya sekaligus merasa iba dan sedih melihat sikapnya. Tidak diakui lingkungan itu menyakitkan, namun lebih menyakitkan lagi ketika tidak diakui keluarga. Bagaimana pun, keluarga merupakan kelompok terkecil dari masyarakat. Kalau kelompok mengucilkan salah satu individunya sendiri, mau dikemanakan indiviu tersebut?
Aku ingin menjadi signifikan.
Nadya ingin diakui. Semua orang ingin diakui. Saya mengerti bagaimana kemarahan serta rasa dendam Nadya yang bertumpu dan memuncak karena didikan dan perhatian kedua orangtuanya yang tidak penuh pada dirinya. Kecenderungannya bertindak kejam didasarkan karena rasa marah dan kekecewaannya pada lingkungan sekitar.
Suasana serta atmosfer yang mencekam di dalam buku terasa kurang menendang. Misterinya pun tak tahu kenapa kurang menggigit. Ada beberapa flashback yang sedikit membingungkan, karena digabung begitu saja. Dan ada satu-dua kali ketika cerita melompat dari satu waktu ke waktu sebelumnya, sehingga membuat saya pribadi bingung. Dan endingnya, ketika si Nadya mati tersambar petir, saya malah makin bingung lagi. Terlepas dari itu, ceritanya enak diikuti, bagian mengenai tema yang diangkat, yaitu sastra sunda pun menarik.
Mungkin, karena saya kurang bisa merasakan debaran di novel ini, makanya saya merasa isinya kurang mencekam. Tapi, sekarang saya paham maksud Satin Merah, saya kira satin merah itu apa. Ternyata itu toh :D
Buku yang tergolong lama. Diterbitkan tahun 2010. Saya belum pernah mendengar judulnya sampai ketika saya mencari referensi tentang novel-novel thriller Indonesia di internet. Jelas sekali, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Genre ini tampaknya bukan favorit penulis-penulis muda Indonesia. Satin Merah dan nama Brahmantyo muncul diantara nama-nama penulis novel thriller Indonesia yang sudah saya kenal sebelumnya. Setelah membaca resensi novel ini, tanpa ragu saya merasa wajib untuk mencicipinya juga.
Satin Merah harus saya hadiahi bintang empat karena membuat saya merasa tidak ingin meletakkannya sampai selesai membaca. Riset mengenai Sastra Sunda begitu dalam, sampai-sampai penulis mau belajar membuat sajaknya sekalian. Mungkin untuk menunjukkan pembaca yang awam Sastra Sunda-seperti saya-tentang contoh Sastra Sunda. Penokohan Nadya pun begitu sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Saya bisa merasakan bahwa ia psikopat cilik sejak awal tanpa merasa bosan untuk melanjutkan membaca. Hal ini terjadi karena kesuksesan plot yang menegangkan tanpa harus ada ketegangan secara fisik.
Sayangnya, saya kurang diyakinkan tentang kemampuan dan minat Nadya terhadap IT. Seingat saya, Nadya hanya diceritakan ingin masuk jurusan IT dan suka berselancar di internet. Sehingga ketika masalah-masalah yang berkaitan dengan IT muncul di akhir cerita, saya berguman, "Ini benar kerjaannya Nadya? Atau ada tokoh lain yang menggunakan nama Nadya?" Padahal cerita sudah memasuki klimaks.
Tapi overall, saya sangat menyukai novel ini. Tidak banyak penulis muda Indonesia yang mau bersentuhan dengan tema semacam ini. Saya sebagai penggemar novel-novel thriller, angkat topi untuk kehadiran Brahmantyo. Dengar-dengar Brahmantyo akan segera merilis novel terbarunya yang bergenre sama dengan Satin Merah. Tidak sabar!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebenarnya aku selalu menghindari cerita-cerita bergenre horror, suspense, psikologi thriller seperti ini. Tapi, Satin Merah sudah lama menarik rasa penasaranku. Dan, saat kemarin menemukan ini di Gudang Buku Bekasi, meski awalnya agak ragu, tapi akhirnya aku mengambilnya.
Telat, ya, baru menyelesaikannya sekarang? Ya, mau bagaimana lagi karena aku baru mendapat novel ini juga akhir-akhir ini hehe. Ceritanya bagus. Untuk ukuran horror-thriller-suspense ini cukup ringan karena temanya masih seputar anak SMA. Tapi, toh, karena emang pada dasarnya aku ini penakut, tetap aja aku selalu ketakutan membaca buku ini hehe. Akhirnya pun aku menyiasati dengan membacanya berbarengan dengan novel romance supaya horror nggak terlalu terbawa sampai tidur ;p
Suka. Ada lebih dari 80 bab di sini. Jumlah halaman setiap bab yang singkat entah mengapa menjadi daya tarik tersendiri untukku. Karena aku jadi selalu ingin terus dan cepat-cepat menyelesaikan bab-bab itu.
Aku nggak mau membahas isinya. Karena, ya, cukup di sampai di sini saja aku berurusan dengan novel ini. Habis ini mau langsung ditaruh lemari di tumpukkan paling bawah supaya cukup tersembunyi. Melihat covernya aja aku udah takuuuut. Yeah, emang pada dasarnya aku penakut, kan, dibilang. Disodorin cerita seperti ini aja berhasil bikin aku parno.
Tapi lepas dari semua rasa takutku. Cerita ini cukup rapi. Mengalir. Dan membuat penasaran. Kurang sreg dengan adegan ending si tokoh utama yang kalo kata bang ijul kayak misteri ilahi ;p tapi, adegan-adegan lainnya sih cukup. Pembunuhannya yang dijelaskan juga terasa rapi *nahloh*. Pokoknya bagus lah.