Kuliah di kota besar memang banyak resiko, terlebih ketika memperoleh beasiswa dari lembaga-lembaga yang kurang jelas siapa pemilik dan para donatur beasiswanya. Dan itulah yang dialami oleh KEMI. KEMI dimanfaatkan oleh Farsan yang telah mengajak dan memberikannya peluang KEMI bisa kuliah di Universitas Damai Sentosa. Di kampus Kemi tidak hanya kuliah seperti mahasiswa normal di kampus-kampus lainnya, namun ternyata KEMI banyak terlibat dalam Jaringan Islam Liberal yang menyamakan semua agama, dengan paham Liberalisme, Pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan Gender, yang diperjuangkan di kampus kebebasan ini. Saat ini KEMI jauh dari ajaran agama yang diyakininya, bagi KEMI shalat itu tidak perlu dilaksanakan secara formal atau biasa kita lakukan, melainkan yang terpenting adalah shalat sosial, yang jelas-jelas salah.
Aktivitas KEMI dengan kawan-kawan sindikatnya banyak dihabiskan untuk mensukseskan proyek-proyek orang-orang liberal, KEMI dan Siti salah satu korban dari paham ini, semakin hari semakin aktif menjadi trainer-trainer pelatihan untuk menyebarkan paham-paham yang diyakininya.
Rahmat, yang juga teman KEMI, seorang santri teladan sekaligus kepercayaan Kiayi Rois, kiayi yang simpatik, karismatik, dalam ilmu dan rendah hati. Rahmat juga dipercaya menjadi pengajar di pesantrennya. Rahmat sosok pemuda yang tampan, gagah, jago bela diri, dan tentu memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Rahmat menemukan hal yang tidak beres dengan kepergian KEMI meninggalkan pesantren. Rahmat merasa masalah KEMI bukan masalah yang sederhana, melainkan masalah serius, yang mendorongnya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rasa kangen dengan sahabatnya dan pesan dari mimpi yang dialaminya, mendorong kuat Rahmat untuk menemui KEMI.
Pemandangan yang tidak disangka yang terjadi dalam perubahan diri sahabat karibnya. Rahmat melihat banyak keganjilan yang dialami oleh KEMI, Rahmatpun tahu apa yang sebenarnya telah merubah diri temannya itu. Dalam sebuah perbincangannya dengan KEMI Rahmat dieprtemukan dengan suasana debat yang cukup memanas, debat dari pandangan yang bertolak belakang.
Rahmat kian teguh dengan pendirianya. Begitupun KEMI merasa yakin dengan paham barunya. Paham yang menurutnya semua agama itu sama, mau Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi dll. KEMI meyakini Tuhan semua agama itu sama, hanya berbeda dari cara menusia meyakini dan menyembahnya saja. Perdebatan serupun terpaksa harus berakhir karena waktu yang telah larut malam.
Namun diakhir perdebatannya, KEMI memberikan sebuah tantangan yang cukup berat kepada Rahmat. KEMI berkeyakinan bahwa seseorang itu tergantung dari lingkungannya. Namun rahmat tidak sepakat dengan teori KEMI, akhirnya KEMI menangtang Rahmat untuk meniggalkan pesantren dan mengikuti jejak langkahnya kuliah di Universitas Damai Sentosa.
Setelah berbicara dengan Pak Kiayi Rois, dan mendapatkan bekal-bekal yang cukup banyak akhirnya Rahmat menerima tantangan KEMI. Jalan cerita yang seru, menggugah, dan ayik dinikmati. Dikisahkan bahwa dihari pertama kuliah Rahmat telah mampu membuat mati kutu Dosen dan sekaligus Rektor kampusnya Prof Abdul Malikan namanya.
Siti yang juga teman KEMI menjadi penambah seru suasana dalam novel itu. Siti anak kiayi Masyur di Banten, terpaksa jadi korban paham-paham liberal. Merasa menemukan orang yang tepat yaitu Rahmat. Siti tahu banyak tentang Rahmat. Akhirnya Siti membuka semua rahasianya kepada Rahmat, dan tentu hal ini sangat menguntungkan Rahmat. Ia mendapat banyak masukan informasi mengenai jaringan yang sedang didalaminya.
Usaha KEMI dikatakan tidak berhasil ketika Rahmat sediktipun tidak berubah dengan pemikirannya, terlebih ketika Rahmat telah mematikan pemikiran seorang Kiyai dari Jawa Barat yang telah dibuatnya bertobat setelah mengisi seminar dan akhirnya Kiayi itu meninggal seketika setelah diberikan saran untuk segera bertobat oleh Rahmat. Kejadian langka ini membuat Rahmat menjadi sering muncul di layar kaca, Rahmat jadi terkenal bahkan orang-orang kampungnya pun sampai tahu.
Perjuangan yang tak sia-sia ketika Rahmat bisa membuka sindikat jaringan Islam liberal ini yang ternyata jelas-jelas mereka hanya mementingkan nafsu dunianya, bukan utnuk menciptakan kerukunan sebagaimana yang digemakan dalam aksi-aksinya. Semua berujung ketika KEMI disiksa habis-habisan termasuk Siti yang telah lebih dulu di racun oleh Roman seorang dedengkot paham liberal yang telah memanfaatkan proyek berduit itu. Roman terpaksa harus berurusan dengan kepolisian, setelah menyiksa KEMI di Rumah Putih.
KEMI dan SITI masuk rumah sakit karena ulah Roman yang merasa kecewa karena Roman menganggap Kemi telah membawa orang yang salah. Rahmat perjuangannnya ternyata banyak sekali yang membantu. Termasuk Kiayi Rois, santri-santri dipesantrennya, Ahmad Petuah seorang redaktur sebuah surat kabar, dan juga peran Polisi bernama Tawakal yang juga merupakan murid Kiayi Rois. Semua menjadi lengkap ketika Siti bertobat dan kembali mau mengabdikan dirinya di pesantren. Kisah akhir yang memilukan ketika KEMI terpaksa harus kehilangan semua memorinya dan membuat ia hidup tidak normal. Sementara Siti harus berbahagia karena ia telah menjadi seorang ustadzah yang mengabdikan sisa hidupnya di pesantren.
Inti pesan dari novel ini adalah bagaimana kita sebagai orang Islam yang harus senantiasa berhati-hati dengan semua godaan dan tawaran-tawaran finansial ataupun pemikiran baru dari orang-orang yang jelas-jelas ingin merusak akidah kita sebagai muslim. Mereka berkata-kata dengan sangat halus dan indah, mereka sungguh menggoda, dunia bisa menyilaukan kita, hati-hati karena syaitan ada dimana-mana. Paham liberal kian meluas, mereka mulai menjajahi pola pikir dan kurikulum pendidikan kita, mari kita bendung dengan ilmu dan iman agar kita dan Islam bisa selamat.
”Selamat membaca karya yang jarang ada bahkan belum pernah ada sebelumnya. Untuk para pemuda mari kita berjuang semoga bisa seperti Rahmat yang berjuang untuk menegakan kebenaran yang hakiki”.
Lahir di Bojonegoro pada 17 Desember 1965. Pendidikan formalnya ditempuh di SD-SMA di Bojonegoro, Jawa Timur. Gelar Sarjana Kedokteran Hewan diperoleh di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, 1989. Magister dalam Hubungan Internasional dengan konsentrasi studi Politik Timur Tengah diperoleh di Program Pasca Sarjana Universitas Jayabaya, dengan tesis berjudul Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Sedangkan gelar doktor dalam bidang Peradaban Islam diraihnya di International Institute of Islamic Thought and Civilization -- Internasional Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), dengan disertasi berjudul “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate.
Novel wacana yang sangat baik kepada khalayak bukan saja pembaca Indonesia, bahkan Malaysia yang memiliki persamaan daripada sudut serangan pemikiran liberalisme dan pluralisme. Benar seperti yang disebut oleh pengarangnya sendiri dalam program yang pernah diadakan di Kuala Lumpur, bahawa karya kreatif itu ditulis kerana ada perkara yang hanya boleh disampaikan dalam bentuk sebegitu. Hal ini bukanlah asing kerana ramai ahli falsafah, pemikir dan pengarang yang meminjam elemen kreatif untuk mengungkapkan pemikiran mereka termasuklah antara kisah yang paling terkenal, iaitu Hayy bin Yaqdzon: Manusia dalam Asuhan Rusa dan Utopia serta yang antara yang mutakhir ialah Sophie's World.
Materi buku ini sebenarnya sangat menarik dan cukup "panas" buat sebagian kalangan, yaitu tentang Islam Liberal. Apalagi ditulis oleh seorang yang selama ini memang sangat concern dengan isu ini. Tujuan penulis memilih jenis novel menjadi wadah ide yang ia sampaikan, sepertinya untuk mencairkan materi. Pemikiran-pemikiran, bantahan terhadap logika IsLib, plus intrik-intrik IsLib dalam menyebarkan pahamnya, tersebar di dalam buku ini.
Sayangnya eksekusi penulis dalam menjadikan novel ini "benar-benar" novel, menurut saya kurang sukses. Kalimat-kalimat yang verbal, logika cerita yang lemah, penokohan yang kurang kuat (persentuhan Rahmat dengan pemikiran liberal, sehingga mau diajak oleh Farsan menjadi pengikut IsLib, tidak dieksplor), kadang memaksakan untuk memasukkan rangkaian bantahan (wawancara Bejo dengan Doktor Ita misalnya, haduuuh, sangat tak cerdas). Sayang sekali potensi buku yang bagus ini tidak dikawal oleh editor yang mumpuni.
Meski begitu buku ini tetap recommended sekali untuk siapapun yang ingin tahu tentang pemikiran Islam Liberal dalam bentuk karya yang lebih cair.
Novel wacana yang boleh dikatakan berada di dalam lingkungan Gagasan Persuratan Baru. Melalui novel ini, wacana liberalisme di Indonesia terutama berkait aqidah dan juga KKG (kesetaraan gender) diangkat menjadi sebuah kisah beberapa penuntut pesantren (pondok) yang terlibat di dalam pelatihan yang merekrut pelajarnya menjadi liberal. Kemi, Rahmat dan Siti adalah tiga orang watak utamanya; dua menjadi liberal dan seorang lagi berjuang menyelamatkan sahabatnya, hingga akhirnya terwujud pula cinta antara dua daripada mereka.
Saya sangat berasa segar oleh debat-debat dalam novel ini, yang begitu meyakinkan, dan jarang sekali terhasil dalam novel wacana Malaysia. Cuma yang kurang menjadi barangkali wawancara antara Bego dan Dr Ita, yang rasanya agak berlebihan dan ada unsur-unsur terjah Melodi pula - seolah-olah memperlihatkan kegeraman dan letusan gunung berapi yang sebenarnya terpendam dalam diri pengarang (?). Tetapi sayang kerana di situ isunya adalah mengenai persoalan wanita dan seputar rumahtangga serta hak perkahwinan. Hingga menjadi agak keras pula saran-sarannya, sedangkan pada saya untuk mendakwahi wanita para pembaca, ia tidak harus mengambil bentuk seperti itu (atau memang barangkali saya sendiri yang sudah sedikit larut dalam feminisme?)
Tapi bagi saya atas wacananya yang cemerlang dalam hal aqidah, buku ini wajar mendapat lima bintang walaupun ada kekurangan2 kecil dari segi teknik. Ya, bukan ramai ahli akademik sanggup mencairkan wacana akademik masing-masing untuk hidangan khalayak lebih luas. Bukankah kata Prof. Syed Naquib al-Attas dalam bukunya Risalah Untuk Kaum Muslimin, sastera itu adalah falsafah orang awam?
Sebuah novel yang cuba memurnikan pandangan kita terhadap pesantren yang selama ini dianggap sekadar belajar ilmu agama dan mengenepikan ilmu-ilmu bersifat 'dunia'. Menerusi watak Kiyai Rois yang begitu terbuka terhadap pendidikan pesantren bimbingannya, diikuti Kemi yang terdorong oleh cita-cita belajar di universiti sebelum menamatkan pengajian di pesantren dan Rahmat yang begitu berani dalam menegakkan Islam yang cuba diperkotak-katikkan oleh puak liberal, novel Kemi membawa kita menjelajah dunia pluralisme, liberalisme, multikulturulisme dan kesetaraan gender yang - dengan sengaja - mensasarkan pelajar pesantren untuk menjadi sebahagian dari dunia mereka.
Kelicikan puak liberal memasang perangkap rupanya bukan sekadar dengan berhujah dan berdiskusi, diikuti latihan-latihan yang kerap, aktiviti jurnalisme di media dan internet serta kebanjiran duit bagi menghilangkan kesusahan hidup, rupanya mereka terlibat lebih jauh sehingga sanggup membunuh dalam memastikan hasrat menyebar luaska fahaman liberalsme tercapai.
Melihat daripada apa yang diperdebatkan oleh Rahmat, ternyata puak liberal ini sekadar memusingkan perkara yang telah dijawab dengan jelas dalam Islam. Mereka mahu mengangkat isu-isu ini dari kacamata pemodenan dan kesetaraan gender sambil kononnya mahu mengeluarkan orang Islam dari pandangan yang jumud dan bersifat budaya.
Ternyata selain ilmu yang mantap, kesabaran memainkan peranan penting bagi memastikan hujah yang disampaikan itu tidak dipatahka kerana puak-puak ini akan sentiasa berpusing pada isu yang sama.
Alhamdulillah tulisan Dr Adian Husaini yang sungguh menggugah. Saya sendiri tidak menyangka, novel ini meski ringkas namun telah berjaya biiznillah membantah/ memperbetul dialog-dalam-kepala saya. Antara hal yang disentuh ialah tentang pluralisme dan Islam liberal.
Antara soalan yang dijawab: "Bagaimana kita mengatakan Allah itu adil kalau orang yang baik seperti Nelson Mandela dan Mother Theresa akan dimasukkan ke neraka jua?"
Antara dialog yang saya terkenang:
"Subjektif saya itu subjektif ilmiah kerana bersikap adil kepada semua agama." (Kemi) (Lalu dibalas oleh Rahmat)
"Itu bukan adil tetapi itu tidak berpendirian."
Juga, buku ini mengangkat, seperti review Sasterawan Taufiq Ismail, betapa novel ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai satu institusi/ lembaga pendidikan yang berkualiti, mencanggahi idea dalam filem Perempuan Berkalung Sorban.
Dan, pengakhiran yang membahagiakan (tetapi tidak klise).
Buku ini tidak cukup syarat sebagai sebuah novel sastera yang baik, tetapi adalah sebuah manual wacana balas terhadap faham liberalisme dan pluralisme agama dalam bentuk yang mudah. Ada teman mengatakan buku ini menepati "teori" Gagasan Persuratan Baru. Saya sangat menikmati wacana dalamnya, sehingga "terlupa" akan aspek-aspek sesebuah novel yang lain, maka secara peribadi, saya memberikannya 5 bintang.
Buku ini juga sedikit sebanyak mengingatkan saya kepada novel Tuhan Manusia (Faisal Tehrani).
Seperti karyanya yang lain,Dr Adian Husaini telah menelanjangkan fahaman liberal yang kini umpama barah dalam perkembangan umat Islam terutamanya dibahagian Nusantara.
Apabila melihat watak Kemi dan Siti,ia seperti menggambarkan bahawa fahaman ini sudah terlalu jauh menguasai pemikiran anak muda yang rata-rata tidak mempunyai dasar agama yang kukuh.Namun begitu,ia sangat berkait dengan keadaan persekitaran dan juga psikologi orang yang terlibat.
Sebuah novel tentang gerakan liberalisme dan pluralisme agama. Oleh kerana saya sudah membaca banyak karya Adian Husaini yang lain, saya merasakan isu yang dibawa dalam novel ini agak ringan. Buku ini sesuai untuk mereka yang ingin tahu tentang pluralisme agama dalam bentuk yang santai. Cerita yang menarik tetapi sebagai sebuah novel ianya boleh diperbaiki lagi.
Buku ini bagi saya seperti panduan menjawab argumen-argumen liberal seperti halnya Ayat-ayat Cinta adalah panduan mencari jodoh. Sebetulnya saya ingin banget memberi rating yang lebih tinggi karena sebetulnya isi dari buku ini sangat menarik dan informatif. Tapi sebagai novel buku ini memiliki banyak kelemahan sehingga sulit rasanya memberi rating lebih tinggi. Kalau saja tidak diposisikan sebagai novel mungkin bisa dapat 4 bintang. Kenapa??
1. Kurang karakterisasi dan pemaksimalan karakter. tokoh2nya terasa datar, tidak terasa bedanya yang satu dengan yang lain. Ada juga tokoh yang benar2 cuma numpang lewat bikin pecel untuk kemudian tidak terdengar lagi. Untuk apa? Buang2 karakter.
2. Ada kecenderungan misoginis. Ada satu bab yang merupakan tangkalan terhadap paham 'feminisme' yang dirangkai sebagai wawancara antara Bejo, seorang wartawan 'handal', dengan seorang tokoh feminis, doktor Ita. Namun saya justru bingung, wartawannya -yang katanya handal dan hebat- menurut saya sangat kasar dan tidak etis. Saya tidak tau publikasi macam apa yang akan menerbitkan hasil wawancara seperti itu. Entahlah apa saya yang kurang luas bacaan publikasinya karena saya pun rasanya ingin menggampar si Bejo itu. Bukan karena saya memihak doktor Ita namun karena menurut saya tingkah polahnya sangat tidak elok. Tentunya bisa menangkal dengan cara yang lebih elegan, seperti yang dilakukan Kemi terhadap prof Malikan misalnnya. Ataukah karena yang dihadapi perempuan sehingga gak masalah untuk bersikap kurang ajar? Sungguh sayang karena sikap yang diutarakan Bejo ini justru memperkuat anggapan bahwa laki2 itu senang merendahkan perempuan. Dokter Ita pun digambarkan dengan klise dan dengan pertanyaan2 klise pula seperti tidak punya anak, tidak mau membiarkan suaminya berpoligami, dll. Lah, ada anak gak punya anak bukan alasan pak. Istrinya dai kondang yang punya 7 anakpun gak kuat dan akhirnya minta cerai. Masih mau bersikukuh dengan alasan klise, klo sayang kenapa gak merelakan suami kawin lagi?
3. Logika cerita kurang diperhatikan. Siti yang katanya diberi racun potasium kelas tinggi kok malah bisa sembuh? Mukjizat tuhan? sementara di kehidupan nyata, menurut teman yang ahli kimia, racun itu sangat mematikan.
4. Ending yang terburu-buru/fatalistis. Penulisnya ini sepertinya punya pandangan orang jahat harus dihukum seburuk-buruknya di dunia. Kenapa harus demikian? Padahal di awal buku terus2an kita diingatkan kalau azab neraka nanti sangatlah pedih untuk mereka yang mengingkariNya. Ya sudah biarin aja nanti dirasakan. Kenapa harus membuat mereka sakit jiwa segala? Dan ok, saya memang tidak tau banyak tentang kegiatan liberal namun rasanya aneh sekali kalau memang mereka punya akses dan tujuan demikian akan menggunakan kekerasan. Kalau ketangkap kan jadi jelek dong namanya? apa memang harus demikian?
Kalau saja naskah ini mendapat editor yang lebih mumpuni, yang berani mengubah dan membuat perubahan pada karakter2nya ini bisa jadi novel yang keren banget. Dengan kondisi seperti ini, novel ini rasanya kurang maksimal dalam memberi pencerahan.
buku ini tdk menjanjikan jalinan cerita khas novel-novel islami populer (sudah diwantiwanti di sampul depan: ‘bukan novel biasa’).tapi lebih kepada pesan-pesan yang ingin disampaikan lewat dialog dan debat antara Rahmat dan Kemi, atau Rahmat dan dosen2 liberal. cerita mengalir begitu cepat, tidak ada pendalaman karakter, seperti hendak segera mempertemukan pembaca kepada paragraf-paragraf esensial sebagai counter attack terhadap pemikiran pluralisme, multikulturalisme, dsb.
misi Rahmat jelas, ‘menyadarkan’Kemi. pertemuan Rahmat dengan orang-orang baru (yg sbgian besebrangan dgn idiologinya) serta adaptasi dgn lingkunga baru nyaris tanpa hambatan. tantangan kemi dibayangkan rahmat akan menantang, sehingga dia perlu membekali diri dengan buku2 dan tulisan rekomendasi kiyai Rois serta latihan meresensi buku. namun belakangan Kemi seperti hilang semangat, atau memang dia setengah hati meliberalkan Rahmat (atau mngkn mmg pesimis krna tau kapabilitas Rahmat)
awalnya saya mengharapkan ada sdikit adega laga, mengingat Rahmat sudah ‘dipromosikan’ di halaman-halaman awal sebagai pemegang sabuk hitam perguruan silat singa menari. walhasil santri kampung sekadar dijamu jakarta, namun tdk mencicipi kerasnya ibukota, eh depok, ding
satu2nya adegan action adalah saat Kemi yang di detik2 kesadarannya bergulat dengan Roman untuk selanjutnya dikeroyok ramai2 oleh anak buahnya. Rahmat sang ustadz kampung pun digambarkan nyaris sempurna. Cuma sempat ‘deg2-ser’ lihat penampilan Siti.
hanya ada hal-hal kecil yang terasa dipaksakan demi mendukung pendapat penulis, misalnya wawancara (atau debat?) antara wartawan Bejo dan feminis Ita. Atau kemunculan Inspektur Tawakal; polisi yg nyantri.
penulis juga menyelipkan kritik halus ttg kondisi fisik dan kenyamanan pesantren2 tradisonal yang kalah dibandingkan kampus2 modern yg menyediakan fasilitas memudahkan bagi mahasiswanya. namun begitu di tengah keterbatasan, sebuah pesantren mampu mencetak kader seperti Rahmat.
overall, buku ini sebagai variasi bacaan yang dikemas santai soal gazwul fikri. oh iya sebagian percakapan di novel ini diselipii rujukan buku2 baik klasik maupun kontemporer sebagai benteng akidah. lastly, buku ini juga mengingatkan bahwa ‘tidak ada makan siang yang gratis’
Jangan membaca buku ini jika engkau berharap menemukan kata-kata indah berbunga-bunga. Di sini, engkau disuguhi logika-logika, pemikiran-pemikiran dan argumentasi-argumentasi. Semuanya mengarah pada sebuah kesimpulan, bahwa memahami islam tidak bisa "semau gue", bahwa semua sudah ada pedoman yang jelas.
Novel yang menggambarkan pertarungan para pemurni ajaran agama, dengan para liberal yang menafsirkan ajaran agama sekehendak hati. Patut dibaca oleh mereka yang gelisah menemui fenomena keberislaman yang "semau gue".
Recomended juga untuk membac Islam Liberal 101 setelahnya :)
‘Bukan Novel Biasa’. Label itulah yang tercantum di bagian depan sampul buku yang memiliki ilustrasi menarik ini, apalagi ketika membaca tema yang diusung bukan hal yang lazim diangkat dalam ranah novel. Tema pergolakan pemikiran liberal memang lebih sering terurai dalam karya non fiksi. Kemi, seorang santri yang tiba-tiba ingin keluar dan melanjutkan kuliah ke Jakarta menjadi awal cerita yang sarat dengan dialog dan pemikiran liberal vs islam.
Aktivitas yang dipenuhi dengan keramahan, fasilitas lengkap, akses mudah, dan suasana yang nyaman di Kampus Damai Sentosa, membuat Kemi keblinger ketika dirimu dicekoki sebuah paham yang dinilai keluar dari kebenaran. Kyai Rois yang merasa turut bertanggung-jawab dengan apa yang terjadi pada diri Kemi, akhirnya mengirim Rahmat untuk mengajaknya kembali ke pesantren. Apalagi, upaya Rahmat masuk ke Kampus Damai Sentosa juga dilatar-belakangi tantangan Kemi, yang menyatakan pemikirannya pasti akan berubah jika telah masuk ke kampus berbasis liberal.
Berbekal ilmu dari Kyai Rois dan Kyai Fahmi, Rahmat ‘berhadapan’ dengan Kemi maupun para pakar dan aktivis yang menamakan dirinya Islam Liberal. Walaupun sebagian besar cerita berisikan ‘perang’ pemikiran, ada selipan getar-getar cinta antara Rahmat dengan Siti, salah seorang ujung tombak gerakan feminisme, yang juga teman seorganisasi Kemi. Berada di lingkungan baru tidak membuat Rahmat kikuk, bahkan segala berjalan mulus, sampai saat Rahmat ‘membantai’ pemikiran rektor kampus dan Kyai Dulpikir.
Sebenarnya agak kurang sreg juga sih, saat membaca bagian dialog Rahmat dan pemikiran dua tokoh liberal, dimana para tokoh tersebut terlihat tidak cerdas dalam ‘melawan’ gempuran Rahmat dan hanya mengandalkan pernyataan yang berputar-putar. Apakah memang pemikiran liberal cenderung berputar-putar dan ngenyel? Untuk sosok Rahmat sendiri memang dideskripsikan sebagai orang yang hampir sempurna, cerdas, alim, plus ganteng, sedikit mengingatkan dengan tokoh-tokoh pria dalam buku Kang Abik. Novel ini tidak menyajikan alur dan plot cerita selayaknya novel islami yang cenderung lembut, tapi lebih mengutamakan pembahasan tentang dialog pemikiran islam vs liberal.
Adapun bab yang menurut saya agak aneh adalah hasil wawancara antara Bejo dan Dokter Ita. Walaupun maksudnya menguak sesuatu yang tabu, tapi dialog tersebut malah terdengar tidak etis, apalagi cara Bejo bertanya terbilang kasar. Rasanya bab tersebut seperti hanya selipan yang sebenarnya tidak terlalu penting, mengingat isinya tidak banyak berpengaruh pada kelanjutan kisah. Mungkin maksud penulis ingin memaparkan tentang cara berpikir kaum feminis, tapi malah terkesan dipaksakan. Saya cenderung berpendapat, alangkah baiknya jika sosok Siti yang lebih diperkuat sebagai ‘ikon’ feminis dalam buku ini.
Terlepas dari kekurangannya, saya benar-benar tertarik dengan tema yang diangkat dalam novel Kemi ini, dan berharap ada lagi penulis yang berkenan mengulik pemikiran islam vs liberal lebih dalam dan dipadukan dengan balutan fiksi.
Novel yang informatif sekali. Adian Husaini memang tidak terkenal dengan novelnya. Kalo saya nilai 'novel'nya, informasi yang ditampilkan terlalu kasar, artinya, dengan informasi sebanyak itu, harusnya alurnya bisa ditambah lagi, halaman bisa jadi tebal.
anehnya lagi, banyak kata-kata yang salah ketik, ini mesti kesalahan ada di penerbit Grasindo, yang kurang editannya.
menurut saya, novel ini bahasanya terlalu tinggi, orang yang awam tidak akan terlalu lancar membaca novel ini, ini novel para pemikir!!
tapi saya rasa, letak 'mahal' buku ini memang pada informasi, teladan, cita-cita, serta nasehatnya. Tidak banyak genre novel yang seperti ini, mana ada yang berani ngangkat liberal dalam novel??
Toh tetep saya berikan bintang empat untuk novel ini, hanya kurang kuat pada deskripsi latar dan tokohnya saja, membuat saya harus berpikir ulang, lho kok sudah begini, lho kok sudah begitu. mungkin imajinasi penulis terlalu cepat, tidak sempat dituang dalam tulisan.
BUKAN NOVEL BIASA. begitulah yang tertera di cover depan novel ini. novel yang berkisah tentang pergolakan pemikiran kontemporer yang banyak menjadi perbincangan dewasa ini. pertentangan antara pemikiran barat dengan pemikiran islam. kisah perjalanan seorang santri yang bernama rahmat untuk menyelamatkan kawan karibnya, kemi, dari belenggu pemikiran bebas/liberal ala barat. ditengah perjalanan rahmat bertemu dengan siti, yang konon adalah anak seorang kyai terkenal di banten. siti, sama seperti halnya kemi, menjadi korban pemikiran liberal dan akhirnya "dipaksa" atau "terpaksa" menjadi pion terdepan dalam menyebarkan paham liberalisme di indonesia. Novel ini sangat cocok bagi mereka yang sedang mencari tahu apa itu liberalisme dan apa saja pergerakan yang mereka lakukan dalam menyebarkan paham yang bahkan telah diharamkan MUI ini. novel ini juga secara gamblang menyajikan logika tandingan terhadap logika-logika "nyeleneh" yang selama ini digaungkan oleh kaum SEPILIS(sekularisme,pluralisme,liberalisme).akhir kata, selamat membaca :D
Ajaran Islam liberal sempat menjadi trend beberapa tahun yang lalu. Syukurlah ajaran ini sudah tidak laku lagi. Memang masih ada aktivis-aktivisnya yang menggunakan sosial media untuk menyebarkan pluralisme tapi jangan salah mereka ini pun tetap dicecar habis-habisan.
Pluralisme agama dengan berpikir di luar agama. Dialog-dialog yang terjadi memang merupakan hal-hal yang sering diungkapkan kelompok ini. Bagian yang paling mengena yaitu dialog dengan feminis Islam liberal. Ah...saya pun pernah berpikir seperti aktivis ini. Menganggap agama hal membatasi kesenangan. Alhamdulillah akhirnya saya sadar Islam agama yang sempurna dan moderat. Jadi, untuk apa meliberalkan hal yang sudah sempurna ini? Terkadang gemas juga membaca opini yang itu-itu saja dari golongan liberal. Entahlah mungkin pesanan ajaran dari si dalang memang sudah seperti itu ;)
Semoga golongan Islam liberal tidak akan tumbuh subur lagi di belahan dunia mana pun, amin.
My Principal recommended me this book and said to be looking everywhere for it before I had to go to switzerland. It was rather thrilling, and the debates throughout the story just had to help me conquer the questions I would probably face during my exchange year and open my eyes to what's really happening beyond the purpose of a American-Scholarship Organization.
I heard people banned this book and that it was only available to buy in the publishing store, because Liberalism is a true issue in Indonesia. But now, knowing that the majority of Indonesia are against it, the books from Adian Husaini were finally released. I even read the 2nd Kemi.
membaca novel ini seperti membaca tulisan penulisnya di situs insistnet.com, ya, karena memang penulisnya adalah sosok yang concern akan antitesis gagasan sekularisme, pluralisme, dan liberalisme di Indonesia.
dari segi pesan utuh yang ingin disampaikan, buku ini sama dengan esai-esai yang sering dimuat di insistnet.com
dari segi intrinsik novelnya, masih agak kurang dan beberapa bagian agak memaksakan
Novel ini adalah salah satu gebrakan baru, karena temanya yang jarang digunakan oleh penulis novel pada umumnya. Bagus untuk mengenalkan kepada anak-anak muda muslim tentang bahaya pemikiran liberal terhadap aqidah Islam, tetapi banyak dialog dan alur cerita yang langsung "to the point" sehingga terkesan terlalu memaksakan pesan yang hendak disampaikan. Jika dikemas dengan alur yang lebih panjang saya kira akan lebih bagus dan "ngena".
buku ini yang kita tunggu-tunggu novel yang bukan hanya cerita saja tapi banyak ilmu2 yang terter dalam buku ini yang belum saya ketahui dan juga banyak bantahan terhadap islam libral yang menafsirkan syariat-syariat islam dengan semaunya saja.asalkan srek di bilang benar....jaringan iblis laknatullah
jalan cerita nya cukup menarik namun alur cerita nya terlihat terlalu cepat sehingga tidak ada greget untuk pembaca dan kekurangan memainkan diksi yang cantik tidak terlalu di tonjolkan. namun saya akui memang novel ini adalah untuk mensosialisasikan tentang bahaya islam liberal dan saya setuju hanya saja tetap tidak alur ceritanya terlalu terburu-buru ;)
Sangat disayangkan, tema sebagus ini tidak dikemas dengan menarik. Kalau saja gaya bahasa novel ini bisa dibawa nge-pop tanpa mengurangi substansi "meluruskan pemahaman" tentu mampu merangkul lebih banyak anak muda. Penuturan yang "telling" seperti ini cenderung membosankan. Sampul bukunya "mengganggu" mata.
Buku-buku semacam ini sangat penting, baik dari segi hiburan yang membuat pembaca senang membacanya hingga nilai-nilai islam yang benar disampaikan dengan sangat menarik, selain itu novel ini menambah wawasan tentang pemikiran-pemikiran zaman ini, mengingatkan bahwa ghzul fikri di depan mata, Luar Biasa.
"Mari kita hadapkan hati kita kepada Allah. Kita ikhlaskan hati kita menerima takdir-Nya. Insya Allah, akan datang kepada kita kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan yang abadi, di mana hati kita merasa tenang saat mengingat Allah. Segala macam kenikmatan dunia hanyalah bersifat semu dan sering menipu."
berbobot sob. banyak ilmunya. kita jadi paham tentang perang pemikiran yg merongrong akidah umat di indonesia. banyak kutipan qur'an dan hadits yang menyentuh. juga dibumbui kisah romansa cinta sejati. recomended sob.
Sumpah. Nih, buku keren banget buat yang masih bingung dengan logika-logika liberal. Buku ini lebih condong ke materi, tapi tidak condong ke pendeskripsian, watak, dan unsur-unsur lain. Namun disitulah hebatnya. Tak heran, di sampul buku ini ada tulisan 'Bukan Novel Biasa'
Novel yang mencerahkan... menyadarkan akan pemikiran-pemikiran liberal yang terkadang memasuki alam bawah sadar tanpa disadari. Meskipun novel ini fiksi,, tapi novel ini informatif sesuai dengan bidang keahlian penulisnya.
Argumentasinya tidak terlalu berat. Mungkin karena memang konsep pemikiran dan Logika IsLib juga tak terlalu kuat...?? Buku ini menjdi bacaan ringan yang mencerahkan.. :)