Sakinah Bersamamu Belajar Lebih Bijak Berumahtangga melalui Cerita
Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna.
17 Cerita + 17 pembahasan seputar ujian dalam rumah tangga: @ Menjembatani perbedaan karakter @ Bunda bekerja atau di rumah? @ Bertindak tepat saat cemburu @ Mengatasi ‘Cinta Lama Bersemi Kembali’ @ Menjadi bunda yang lebih baik @ 3 alarm: selangkah menuju selingkuh @ Menyembuhkan hati yang luka @ Bakti seorang perempuan: antara orang tua, suami dan mertua
Sinopsis: Bagaimanakah warna cinta setelah 25 tahun berlalu? Bisakah dia tetap pelangi?
Tak ada yang sempurna di kolong langit. Tidak dia, Bang Zaqi, dan pernikahan mereka. Sebab kesempurnaan hanya boleh dilekatkan pada nama-Nya semata.
Riri bukan tidak menyadari hal ini. Tetapi salahkah jika perempuan itu menyimpan harapan bahwa mereka akan memiliki cinta yang sempurna? Ia ingin cinta, hari-hari sakinah, hanya itu yang terbayang saat mengenang perjalanan kasih mereka. Bayang-bayang kebersamaan yang selalu berkejaran begitu jelas di pelupuk mata, setiap kali memandangi Bang Zaqi terlelap.
Tapi tak ada cinta yang tak diuji. Lalu haruskah dia menyerah kalah ketika cinta yang selama ini nyaris sempurna, diguncangkan badai? Saat sosok yang tak pernah mengecewakan ternyata sanggup menggoreskan luka?
Ini memang bukan kisah cinta sempurna. Tetapi kisah dua anak manusia yang belajar menyempurnakan cinta. Belajar menerima, memberi dan memperbarui cinta. hingga mereka menutup mata
“Kenapa kita menikah, Bang? “Tanyaku suatu hari. Kau menjawab mantap, tanpa sebersit pun keraguan: “Sebab tanpamu tak ada pernikahan bagiku…”
---
Bersama Sakinah Bersamamu, ada 16 cerita pendek lain seputar rumah tangga. Dari cerpen-cerpen di dalamnya ada yang pernah diterbitkan bertahun-tahun lalu. Tetapi buku ini bukan hanya sebuah kumpulan cerpen. Pembaca juga akan menemukan obrolan seru dan akrab bersama pengarang di setiap akhir cerita, tentang berbagai ujian rumah tangga. Belajar Lebih Bijak Berumahtangga Melalui Cerita? Insya allah. Semoga sakinah, mawaddah dan rahmah Allah hadirkan di setiap jengkal rumah kita.
Asma Nadia Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991) Home FAX: +622177820859 email: asma.nadia@gmail.com
Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008)
Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009)
Writing Workshop: - Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011 - Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011 - Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia. - Giving a creative writing workshop for Indonesian’s students in Tokyo, Fukuoka, Nagoya, Kyoto (November 2009). - Giving writing workshop in Manchester; Indonesia Permanent Mission in Geneve; Indonesian Embassy in Rome, and for Indonesian students in Berlin (2009) - Held a writing workshop with Caroline Phillips, a Germany writer, in World Book Day 2008
Performance: - Performing two poems for educational dvd (Indonesian Language Center) 2011. - Public reading: (poem) in welcoming Palestine’s writers in Seoul, 2006; - Public reading short story in Geneve 2009, Performing monologue in Mizan Publishing Anniversary 2008, Ode Kampung Gathering in Rumah Dunia, etc.
Awards and honors: 1. Istana Kedua (The Second Palace), the best Islamic Indonesia novel, 2008 2. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005. 3. PREH (A Waiting), play writing published by The Jakarta Art Council, honored as the best script in Indonesian’s Women Playwrights 2005 4. Mizan Award for the best fiction writer in 20 Years Mizan (one of Indonesian’s biggest publishers) 5. Asma Nadia profile was put as one of the 100 distinguished women publishers, writers and researchers in Indonesia, compiled by well-known literary critic Korrie Layun Rampan, 2001. 7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mother’s Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001 9. Dialog Dua Layar (Two Screen’s Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002 10. 101 Dating, a novel, won the Adikarya IKAPI Award, 2005 11. The most influential writer 2010, awarded by Republika News Paper 14. BISA Award for helping Indonesia Migrants Workers who wants to be writers (held by Be Indonesia Smart and Active Hongkong) 15. Super Woman MAG Award 2010 16. One of ten most mompreneurship 2010, by Parents Guide Magazine
Summary of translations of work into other languages: 1. Abang Apa Salahku (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 2. Di dunia ada surga (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 3. Anggun (published by PTS Millennia SDN.BHD 2010) 4. Cinta di hujung sejadah (published by PTS Millennia SDN.BHD 2011) 5. Ammanige Haj Bayake (Emak Longs to Take The hajj), NAVAKARNATAKA PUBLICATIONS PVT. LTD, 2010 (in south indian language/Kannada)
Saya sangat tertarik ketika membaca salah satu cerpen tentang kesederhaan seorang istri yang akhirnya membuat sang suami bosan, ternyata pernikahan itu tidak semudah yang saya banyangkan tapi juga tidak sesulit yang saya takutkan. Mbak Asma Nadia memberi pesan yang bagus dalam cerpen ini, bahwa pernikahan bukan hanya menerima kekurangan ataupun kelebihan seseorang, no matter what, tapi ternyata banyak hal lain yang saya harus pelajari, meamanage cemburu, mendengarkan bukan hanya dengan telinga tapi dengan hati, berdandan di depan suami, mengatasi cinta lama bersemi kembali, seorang wanita memilih bekerja atau sebagai ibu rumah tangga full, mengatasi keinginan untuk berselingkuh atau menikah lagi, bahkan bukan hanya membahas hubungan anatara suami isti, dengan anak maupun dengan orangtua dan mertua. Komplit dah...
Setdaknya bagi yang belum menikah buku ini bisa dijadikan ancang-ancang, bahwa tidak instan mewujudkan rumah tangga yang sakinah. Jadi gak sabar pengen mempraktekkannya..
inilah Quote yang keren dalam buku ini,,karena saya sadar saya salah persepsi selama ini,, "pernikahan bukan hanya menerima kekurangan ataupun kelebihan seseorang"
Entah ini buku Asma Nadia yang keberapa yang saya baca, kayaknya semua buku Asma Nadia saya punya :D
Asma Nadia lagi-lagi memberikan buku tentang kehidupan pernikahan, tapi kali ini dibuat berbeda. Dibuat dulu cerita fiksi tentang satu masalah lalu baru dari sisi Asma Nadia memberikan penjelasan baik atas permasalahan rumah tangga tersebut.
Sakinah Bersamamu, seperti juga buku-buku Asma sejenis memang menarik sekali untuk dibaca. Cerita-cerita diawal buku ini saja membuat saya tersenyum lalu mengangguk setuju. Banyak hal yang saya sadari hampir sama dengan beberapa cerita dalam buku ini. Dan, yang paling penting adalah bagaimana pembahasan yang diberikan Mbak Asma dalam tiap cerita. Tentunya dalam penjelasan menarik dan terasa sekali tidak menggurui. Berkaca pada rumah tangga Mbak Asma, saya percaya dan juga semua orang pastinya percaya, Mbak Asma memberikan banyak poin penting yang harus kita ketahui dalam berumahtangga.
Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna tapi menerima pasangan kita dengan sempurna
Cocok buat kalian yang sudah menikah, akan menikah, berencana menikah, pengen menikah, ngebet menikah ... hehehe - dari judulnya aja udah ketauan kalee. Berisi kumpulan cerita pendek dan pembahasan ringkas mengenai pesan moral dari cerita-cerita tersebut di halaman berikutnya dari setiap cerpen. Ringan tapi menyentuh :)
Saya menambah satu bintang khusus untuk cerpen terakhir yang judulnya diambil untuk judul buku ini .... "Sakinah Bersamamu" Bikin saya nangis ... :"(
Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna tapi menerima pasangan kita dengan sempurna Kalimat yang menghiasi sampul depan buku berjudul Sakinah bersamamu ini sangat mewakili isi keseluruhan cerita pendek dan pembahasannya. Manusia tidak ada yang sempurna, semua pasti sudah hapal dengan pernyataan yang satu ini. Namun hapal bukan berarti paham dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian. Apalagi ketika penilaian tentang kesempurnaan datangnya individu yang semuanya memiliki isi kepala dan imajinasi masing-masing. Kesempurnaan sudah barang tentu menjadi sebuah kesubyektifan.
Mengharapkan kesempurnaan inilah yang kerap menciptakan problematika dalam kehidupan rumah tangga. Si istri ingin suaminya begini, si suami ingin istrinya begitu. Keinginan-keinginan yang kemudian berujung pada ketidakpuasan, pertengkaran, bahkan perselingkuhan. Berbeda itu Pelangi. Judul yang tertulis dalam salah satu pembahasan sebuah cerpen berjudul ‘Rahasia Mas Danu’ ini, terdengar indah untuk menggambarkan bahwa sebenarnya perbedaan adalah sebentuk anugerah dalam sebuah rumah tangga. Perbedaan yang malah berfungsi untuk melengkapi bahkan diharapkan dapat memperbaiki masing-masing karakter. Hal ini pun terpercik dalam cerpen Ngambek yang kemudian dibahas dalam artikel Dilema Istri Sensi, Suami Enggak Sensi.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja ketika mereka mendakwakan diri mereka (kami telah beriman), sedangkan mereka belum diuji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan siapa yang dusta." (QS. al-Ankabuut: 2-3)
Pernikahan adalah penggenap agama seorang muslim, sudah pasti ujian-ujian yang dihadapi tidak lah mudah. Yang masih separuh aja mati-matian istiqomah, apalagi yang udah genap sempurna. Ketika perbedaan dalam rumah tangga telah teratasi, ujian mungkin akan berlanjut ke masalah cemburu, kisah cinta masa lalu, keluarga besar, tetangga bahkan ketidakpuasan atas diri sendiri. Konflik-konflik inilah yang coba diuraikan Asma Nadia lewat cerpen-cerpen pernikahan yang kemudian beliau analisa lebih lanjut.
Ada sedikit kebingungan ketika harus ditanya apakah buku ini termasuk jenis fiksi atau non fiksi. Hal ini dikarenakan caranya menuturkan problematika rumah tangga dan solusinya dengan memadukan unsur fiksi [cerpen] dan non fiksi [ulasan]. Namun, di sisi lain, hal tersebutlah yang membuat buku ini unik dan berbeda dengan buku-buku pernikahan yang lain. Adanya cerpen membuat pembahasan tentang pernikahan menjadi lebih luwes. Pembaca tidak hanya disodori ulasan tentang pernikahan tetapi juga imajinasi. Apalagi cerpen-cerpen tersebut cukup klop dengan renungan ‘bijak berumah tangga melalui cerita’ yang disampaikan Asma Nadia, kecuali cerpen Kalung yang terkesan dipaksakan untuk masuk ke dalam pembahasan tentang rumah tangga.
Berdasarkan pengakuan dari Asma Nadia pada bagian ‘kata pengantar’, cerpen-cerpen yang dihadirkan dalam buku Sakinah Bersamamu sebenarnya adalah kumpulan dari karya-karya lamanya, kecuali cerpen Kalung dan Sakinah Bersamamu. Bagi yang sudah khatam dengan buku-buku Asma Nadia mungkin akan diajak sedikit bernostalgia. Sedangkan bagi yang baru mengenal tulisan Asma Nadia lewat buku ini, tidak perlu takut basi karena cerpennya masih relevan dengan kondisi saat ini.
Buku ini saya dapatkan (lagi-lagi) dalam bazaar buku GEDEBUK STAN. Memang sih, buku yang saya bawa pulang dari sana ada sekitar 7 buku (ini buku ke-3 yang akan saya review). Bersamaan tanggal dengan pembelian buku ini, terselenggara juga bedah buku sepintas tentang buku ini, tentu saja di acara yang sama.
Di awal acara beda buku itu, Mba Asma telah warning bahwa buku ini pun diperuntukkan bagi yang belum menikah, selain tentunya bagi mereka yang telah berkeluarga. So, saya ngga perlu risih kan untuk membeli buku ini? Husnudzon aja ya kawan, ini perkara ilmu yang perlu dipersiapkan.
Dalam buku ini terdapat tujuh belas cerita tentang pelajaran kehidupan setelah pernikahan. Beragam sekali. Dalam daftar isi, sebenarnya telah dikotak-kotakkan tema dari tiap cerita. Seperti, Berbeda itu Pelangi, Dilema Istri Sensi, Suami Ngga Sensi, Tentang Jujur, Ketika Dibakar Cemburu, hingga pada cerita bertema 3 Alarm- Selangkah Menuju Selingkuh.
Ketujuh belas cerita tersebut dikemas dalam satu tajuk besar Bijak Berumahtangga Melalui Cerita. Melengkapi cerita-cerita tersebut, terdapat paparan oleh Asma Nadia ditiap berakhirnya cerita-cerita. Ulasan yang memang terasa sekali merupakan pengalaman mereka yang telah berkeluarga.
Tiap-tiap cerita menyampaikan pesan tersendiri, penyampaiannya pun manusiawi sekali. Seorang temanku pernah sedikit berkomentar bahwa buku itu biasa saja, kemudia ditambahinya lagi bahwa mungkin terasa pas karena kondisi kami yang belum menikah. Tapi buat saya tidak begitu, karena buku ini ditutup dengan sebuah cerita manis yang membuat saya terharu dan menangis. Yang persis judulnya seperti judul buku, yakni: Sakinah Bersamamu. Diceritakan seorang Aku yang mulanya agak sulit memulai kisah cintanya karena pembawaannya yang galak, pemilih dan perkasa. Hingga akhirnya, disatu waktu dalam kehidupannya dia bertemu Zaqi. Seorang laki-laki yang dimasa kemudian membersamainya selama 20 tahun.
Tidak lantas pertumbuhan cinta antara mereka tidak membuahkan prahara. Lazimnya ada potensial untuk jatuh cinta lagi, itu juga yang sempat membuat Zaqi meminta restu untuk berpoligami. Prahara itu terjadi di tahun kesembilan pernikahan mereka. Tokoh Aku jatuh sakit, sakit yang ia tidak mengerti bagian tubuhnya yang mana yang sakit. hingga akhirnya, Zaqi tidak pernah lagi mengungkit keinginan tersebut. Lebih-lebih karena ia menyadari bahwa tokoh Aku adalah satu cinta selamanya baginya.
“Keinginan itu memang pernah menggoda, Ri, teramat kuat. Tapi mendadak mati rasa, ketika kesadaran mengusikku betapa itu akan melukaimu. Bagaimana aku bisa bahagia jika kau harus seumur hidup menanggung kesedihan?” kata Zaqi.
Benar adanya bagi mereka...satu cinta selamanya...
Hm..beneran deh, cerita penutup ini yang jadi cerita kesukaan saya dari buku Sakinah Bersamamu. Tentu saja, ada beberapa cerita lain yang menarik, meski menurut Mba Asma juga bahwa beberapa cerita yang diangkat dibuku ini pernah diangkat dibuku-buku Asma Nadia sebelumnya.
Terakhir, saya salin-tempel puisi yang terdapat dibuku itu aja deh.
"Jika kau tanya, Kenapa aku memilihmu Itu karena Allah memberiku cinta Yang ditujukan kepadamu"
Sakinah Bersamamu merupakan kumpulan cerpen pilihan yang berkaitan dengan kehidupan berumah tangga. Perpaduan fiksi non fiksi yang bisa dijadikan panduan berumah tangga. Dengan membaca buku ini kita dibantu mengevaluasi hubungan suami istri. Lalu dihimbau untuk memperbaiki. Kita diajak agar lebih bijak berumah tangga melalui cerita.
Ada 17 Cerita + 17 pembahasan seputar ujian dalam rumah tangga: @ Menjembatani perbedaan karakter @ Bunda bekerja atau di rumah? @ Bertindak tepat saat cemburu @ Mengatasi ‘Cinta Lama Bersemi Kembali’ @ Menjadi bunda yang lebih baik @ 3 alarm: selangkah menuju selingkuh @ Menyembuhkan hati yang luka @ Bakti seorang perempuan: antara orang tua, suami dan mertua
Quote dalam buku ini sangat kuat. Seperti "Jika kau tanya kenapa aku memilihmu, itu karena Allah memberiku cinta yang ditujukan kepadamu"
Beberapa cerita sempat membuatku senyum-senyum sendiri. Meski ada sedikit kesalahan (typo), buku ini berisi, bergizi tinggi. A must read for couple.
Teman saya menghadiahkan buku ini sebagai kado pernikahan saya. Saya sangat tersentuh. Memang cerita-cerita yang di dalamnya bisa dikatakan biasa saja. Tapi keistimewaan buku ini bukanlah dari segi cerita pendeknya yang seru atau bagaimana, tapi pembahasan dari novel-novel tersebutlah yang membuat novel ini istimewa.
tentunya dalam pernikahan ada kalanya pasangan beradu argumen, sedih, kesal, dan banyak lagi ujian lainnya. Banyaknya ujian dalam rumah tangga bukan berarti cinta kita harus kandas di tengah jalan, akan tetapi kita harus menyiasatinya dengan cara yang baik, sehingga cobaan seberat apapun pada akhirnya membawa cinta pasangan akan lebih kuat dari sebelumnya.
Buku Sakinah bersamamu ini baru launching 25 hari yang lalu ..dilihat dari judulnya saya langsung bisa memastikan ini buku tentang pelajaran berumah tangga baik untuk yang belum menikah,akan menikah dan sudah menikah . Motto pada sampulnya adalah ‘’Sebuah Kado Pernikahan ,belajar Bijak berumah tangga melalui cerita’’. Berbeda dengan buku-buku Kado pernikahan lainnya pernah say abaca , buku ini ditulis dengan sangat apik,cantik,dan menyentuh tanpa menggurui si pembaca ..inilah hebatnya asma nadia dan kenapa saya sudah nge fans sama asma sejak saya SMA ketika asma sering nulis di majalah Annida. .Ada 17 cerita di dalamnya dan 17 pembahasan seputar ujian dalam berumah tangga, ada 7 Topik yang paling top menurut saya yaitu : Menjembatani perbedaan karakter, Bertindak tepat saat cemburu, Mengatasi cinta lama bersemi kembali, Bunda bekerja atau di rumah ?, 3 Alarm : Selangkah menuju selingkuh.,Menyembuhkan hati yang luka , Bakti perempuan,antara orang tua,suami dan mertua.
Membaca buku ini serasa seperti becermin, cerita-cerita pada buku memang ada dan bahkan pernah saya alami . Sakinah Bersamamu, Hati saya meleleh di setiap kisahnya. Kadang seperti sedang melihat bayangan diri. Kisah2 di buku ini bisa jadi cerminan buat setiap orang & saya setuju tidak ada jalan instan menuju rumah tangga yang sakinah. Selalu perlu cinta, kesabaran, dan keikhlasan yang tiada batas tambahan. Yup ..buku ini mampu menyentuh hati saya sampai yang terdalam deh ..gak ada sih kata-kata cekokan seperti kamu harus ikhlas,kamu harus begini begitu disetiap ceritanya .Keren untuk Asma Nadia dan Sakinah bersamamu menasehati tanpa menggurui karena di tiap akhir cerita Asma selalu memberikan tips n trik dalam mengahadapi masalah pada cerita tersebut. Really I like this book so much ^^
Buku ini bisa menyembuhkan hati yang terluka ,bisa membuka memori yang indah dan bisa menjadi referensi untuk belajar berumah tangga .
Buku ini tidak saja menjadi bahan bacaan untuk kaum hawa tapi menurut saya para kaum adam perlu untuk membaca ..Kan menuju sakinah tak hanya cita-cita para kaum hawa tapi cita-cita para kaum adam juga kan ? Asma Nadia bukan lagi nama seorang penulis buku tapi sudah menjadi brand ..brand yang sangat melekat dalam ingatan dan hati emak-emak … Bagaimanakah warna cinta setelah 25 tahun ? Bisakah dia tetap pelangi ?
Masih sama dengan buku Mbak Asma Nadia sebelumnya, Sakinah Bersamamu juga buku yang bercerita tentang pernikahan. Tapi, kali ini Mbak Asma mengemas ceritanya dengan menarik, tidak cuma cerita saja tapi juga ditambah dengan pembahasan dari cerita tersebut.
Ada 17 cerita dalam rumah tangga yang kerap kali dirasakan banyak pasangan. Saya suka dengan cerita-cerita yang ada. Cerita dalam buku ini fiksi memang, ditulis sebagai contoh cerita yang akan dibahas selanjutnya. Pembahasan Mbak Asma pun menurut saya sangat keren, tidak cuma bijak tapi juga dibuat menarik sekali dengan gaya tulisan yang lucu dan tidak menggurui. Mengingat pernikahan Mbak Asma dan Pak Isa Alamsyah yang kayaknya sudah lebih dari 10 tahun lamanya, saya rasa Mbak Asma memang lumayan banyak punya pengalaman dalam pernikahan.
Bagi yang akan menikah, bolehlah membaca buku ini sebagai referensi ^_^ Bagi yang sudah menikah atau baru menikah atau sudah lama menikah, kayaknya wajib juga baca buku ini sebagai catatan meniti jembatan pernikahan yang [kadang] bisa goyah, untuk tetap bisa ‘kompak’ sama suami dalam menjalani bahtera rumah tangga #halah
Sempat agak kecewa ketika baru membuka buku ini. Karena saya berharap mendapatkan sesuatu yang baru, tapi buku ini berisi kumpulan cerpen lama Asma Nadia yang diulas di setiap ceritanya. Sebagai pembaca setia Asma Nadia dari zaman SMA, sebagian besar cerpen di buku ini sudah pernah saya baca. Tapi ternyata membacanya lagi setelah sekian lama, apalagi sudah berumah tangga, tetap saja masih membuat saya terharu biru. Mungkin karena beberapa kisah di dalamnya ada yang dekat dengan pengalaman pribadi (cieee...). Nggak jadi menyesal beli buku ini. Buku ini cocok untuk dibaca siapa saja, baik yang belum atau sudah berumah tangga. Saya berharap Mba Asma akan membuat sesuatu yang benar-benar baru, tidak republish buku lama dengan tambahan cerita. Soalnya saya udah punya sebagian besar karya Asma Nadia, kan males kalau harus beli buku yang sama.
buku bagussss... campuran fiksi dan nonfiksi. Beli buku ini waktu ngikut acara beduknya mbak Asma, pengin bacanya nanti2 aja, tapi tergoda buat ikutan lomba review jadinya ngebut baca nih buku, tapi malah belum bikin reviewnya sampai sekarang :)))
Buku yang bagus, dan sangat inspiratif. Semua cerita memang cerminan dari kehidupan sehari-hari pernikahan yang bisa membuat kita tersenyum, menangis dan ngangguk-ngangguk dan bilang "itu gw banget". Cocok banget buat kado pernikahan. Love it.
sakinah bersamamu memberi banyak pelajaran bagi pembaca ... melalui kisah yang menarik. kita bisa belajar banyak tentang sebuah pernikahan ... cocok dibaca bagi yang sudah menikah maupun yang sedang menuju pra pernikahan ... sukses selalu mbak asma nadia .. karyamu menginspirasi para pembaca
Buku ini menarik, sayangnya kebanyakan cerpen lama bagi saya pembaca buku-buku Asma. Tetapi Sakinah Bersamamu (cerpen baru) merupakan salah satu karya inspiratif.
Cerita-cerita sederhana mengenai kehidupan pernikahan, dengan pembahasan dan mutiara hikmah dari Asma Nadia. Sesuai tagline di covernya: Bijak Berumah Tangga Melalui Cerita.
Buku-buku Bunda tak pernah lekang oleh waktu. Selalu merasa takjub dan haru setiap membaca ulang, salah satunya Sakinah Bersamamu, menghanyutkan, menghangatkan dan menguatkan.
Ketika awal-wal buku ini keluar, saya terus dilanda keraguan antara ingin membeli dan tidak. Alasannya karena tentu saja ini adalah buku tentang pernikahan. Memang ini berupa kumpulan cerpen. tapi di tiap cerpennya ada pembahasan tentang bijak berumah tangga (semacam penyuluhan). Tapi toh, akhirnya saya beli juga. Karena memnag Asma Nadia selalu menawarkan hal baru di tiap karya-karyanya.
“Jika cinta enyah dari matamu,camkanlah! Itu tak menghapus bayanganmu sedikitpun dari mimpi yg kupunya”
Buku ini berisi 17 cerita pendek bertema seputar kehidupan rumah tangga. Mbak Asma mengangkat berbagai polemik yang terjadi antara pasangan suami istri. Seperti istri yang suka ngambek, suami yang tidak romantis, orang ketiga, clbk, sampai istri yang terlau sederhana. Memang semuanya tak selalu manis. Namun dalam goresan tangan Asma Nadia, semuanya tetap dinarasikan dengan indah. Sebagian besar cerpennya sudah pernah saya baca di buku-buku mbak Asma yang lain. Tadinya saya pikir akan ada cerpen “Cinta Laki-laki Biasa” juga, tapi ternyata tidak ada. Cerpen ini saya baca waktu SMA, sumpah touching banget. Tapi bukan berari cerpen-cerpen di buku ini gak keren ya, ke-17 cerpen ini bagus-bagus koq. diantaranya ada beberapa yang menjadi favorit saya.
“cinta yg kita punya tak ubahnya sepasang tangan menengadah yg satu selalu menatap rindu kpd yang lain”
Mata Yang Sederhana. Bercerita tentang seorang suami yang punya istri solehah dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Tapi sikap istrinya benar-benar baik kebangetan. Sampai-sampaiu si suami merasa hanya menjadi mesin pencetak uang, di rumah ia diperlakukan paling istimewa. Bayangkan saja, anak kami tiga orang. Dan aku benci sebab seringkali merasa sebagai si bungsu dari tiga anak-anakku. Bahkan anak-anak masih memiliki tugas ini itu di rumah. Hanya aku yang tidak. (hal.21). elain itu si sitri terlalu seserhana, sehingga mulai tidak menarik di mata suaminya. maka dimulailah petualngan konyol sang suami bersama teman-temannya menghilangkan kejenuhan itu.
Dua Puluh Tahun Cinta. Bercerita tentang seorang perempuan yang tiba-tiba saja dilanda kebingungan. Karena seorang laki-laki yang dihormatinya tiba-tiba mengatakan cinta. Padahal ia dan laki-laki itu sama-sama sudah menikah.
“Bertemu denganmu, mimpiku menjadi kenyataan.
Bertemu dengan orang lain setelah kamu, mimpiku yang jadi kenyataan berubah jadi mimpi-mimpi lagi.”
Cerita Tiga Hari. Cerita tentang seorang sopir yang sangat setia kepada keluarganya. Namun di luar sana ada banyak sekali godaan, bahkan untuk laik-laki paling soleh sekalipun.
Sakinah Bersamamu. Zaqi dan Riri hidup berbahagia. Sampai suatu hari Zaqi minta izin untuk menikah lagi. Riri tidak menolak tidak pula mengiyakan. Hanya saja sejak itu sampai bertahun-tahun ia mendiamkan Zaqi. Zaqi pun seolah-olah melupakan masalah itu, ia kembali mencurahkan perhatiannya pada Riri sampai bertahun-tahun. Tak ada yang tahu apakah pernikahan itu benar-benar terjadi atau tidak, hingga suatu hari…
“Jika kau tanya kenapa aku memilihmu
Itu karena Allah memberiku cinta yang ditujukan kepadamu.”
Tiga cerpen itu yang paling melekat di hati saya, walaupun cerpen lainnya tak kalah menyentuh. saya sengaja melewati bagian pembahasannya. Namun pada satu cerita sempat terbaca juga. dan walhasil muka saya bersemu-semu sendiri :D . Mbak Asma memang luar biasa deh pokoknya. Jadi tanpa basa-basi lagi langsung saya serahkan bintang empat untuk buku ini.
cinta mestinya bagai sepasang sayap yang membawa kita terbang tinggi.
cinta mestinya bagai udara yang membuat kita selalu memiliki harapan.
tapi cinta juga mestinya bagai lukisan yang tak kunjung selesai, dengan begitu kita tak pernah meninggalkannya.
Bagaimanakah warna cinta setelah 25 tahun berlalu? Bisakah dia tetap pelangi?
Tak ada yang sempurna di kolong langit. Tidak dia, Bang Zaqi, dan pernikahan mereka. Sebab kesempurnaan hanya boleh dilekatkan pada namaNya semata. Riri bukan tidak menyadari hal ini. Tetapi salahkah jika perempuan itu menyimpan harapan bahwa mereka akan memiliki cinta yang sempurna? Ia ingin cinta, hari-hari sakinah, hanya itu yang terbayang saat mengenang perjalanan kasih mereka. Bayang-bayang kebersamaan yang selalu berkejaran begitu jelas di pelupuk mata, setiap kali memandangi Bang Zaqi yang terlelap. Tapi tak ada cinta yang tak diuji. Lalu haruskah dia menyerah kalah ketika cinta yang selama ini nyaris sempurna, diguncangkan badai? Saat sosok yang tak pernah mengecewakan ternyata sanggup menggoreskan luka?
Ini memang bukan kisah cinta sempurna. Tetapi kisah dua anak manusia yang belajar menyempurnakan cinta. Belajar memberi, menerima, dan memperbarui cinta, hingga mereka menutup mata.
"Kenapa kita menikah, Bang?" Tanyaku suatu hari.
Kau menjawab mantap, tanpa sebersit pun keraguan, "Sebab tanpamu tak ada pernikahan bagiku..."
Review suka-suka tha:
Buku ini terdiri dari tujuh belas cerpen. Tiap cerpen selalu ditutup dengan obrolan seru dan akrab bersama penulis (Asma Nadia) di setiap akhir cerita, tentang berbagai ujian rumah tangga. Kolom ini diberi nama "Bijak berumah tangga melalui cerita".
Di buku ini, dibahas tentang bagaimana menjembatani perbedaan karakter, bertindak tepat saat cemburu, mengatasi "cinta lama bersemi kembali", bunda bekerja atau di rumah?, menyembuhkan hati yang luka dan bakti perempuan, antara orang tua, suami dan mertua.
Dari ketujuh belas cerpen, saya paling suka cerpen "Mata yang sederhana" dan "Sakinah bersamamu". Sedangkan dari kolom bijak berumahtangga melalui cerita, saya terinspirasi pada "3 alarm, selangkah menuju selingkuh" di dalam cerpen "Dua puluh tahun cinta". Dari kolom itu saya membuat tulisan tentang kekecewaan. Bisa dilihat di sini: bermetamorfosis.blogspot.com/2014/02/...
----
Bintang 5 dari 5
Kelebihan: banyak pembelajaran bagi mereka yang mau, belum menikah atau pun sudah menikah tanpa terkesan menggurui. Cerpennya ringan-ringan, tapi realita sehari-hari yang cukup "mengena" dan "menyadarkan" kita untuk lebih baik.
Kekurangan: sejauh ini saya belum menemukan kekurangan. Hanya soal selera saja, saya kurang suka sampul/covernya. Menurut saya alangkah baiknya, bila sampulnya sebuah gambar ilustrasi yang memiliki keterkaitan dengan judul buku, bukan potret penulisnya, hehee.
"Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna."
Dalam Komunitas Bisa! dikatakan bahwa kalimat di atas merupakan yang paling sering dikutip pembaca. Kutipan itu pun tertulis di cover depan buku Sakinah Bersamamu ini. Wajarlah. Karena memang kutipan itu seolah menjadi kata kunci atas setiap permasalahan rumah tangga yang nantinya akan dihadapi. Dengan menerima pasangan kita, berarti kita saling berbagi beban. Yang satu menguatkan yang lain. Jika suami mulai cuek, istrinya menunjukkan perhatian. Jika sang istri senang bergosip, suamilah yang meluruskan. Dan semua kegiatan yang diselaraskan akan menciptakan sebuah kesempurnaan.
National Best Seller. Saya pada akhirnya sepakat dengan capaian yang diperoleh buku ini. Asma Nadia seperti biasa menyajikan bacaan yang ringan namun penuh hikmah yang mudah dicerna pembacanya yang beragam. Bukan hanya para istri, tapi juga para suami. Yang belum menikah pun tak masalah jika membacanya. Dan saya senang sekali ketika menghadiahkan buku ini sebagai kado pernikahan.
Terdapat 17 cerita beserta pembahasan mengenai cerita tersebut yang dibuat dalam kolom 'Bijak berumah tangga melalui cerita'. Permasalahan apa yang umum terjadi dalam kehidupan berumah tangga dijelaskan dalam buku ini. Bukan hanya gambaran pernikahan dengan rasanya yang tak selalu manis. Yang saya dapatkan selain itu adalah gaya penulis dalam bercerita. Meski ada dua cerpen yang sudah pernah saya baca di kumcer 'Aku Ingin Menjadi Istrimu', tapi cerpen lainnya sangat menarik untuk dibaca.
Dan seperti yang lainnya, cerita 'Sakinah Bersamamu' yang disajikan di akhir buku ini menjadi favorit saya. Cerita itu seperti menyempurnakan buku ini. Berikut kutipannya yang menurut saya sih romantis, hehe.
"Kenapa kita menikah, Bang?" tanyaku suatu hari. Kau menjawab mantap, tanpa sebersit pun keraguan, "Sebab tanpamu tak ada pernikahan bagiku..."
P.S. Buku ini selesai dibaca dalam waktu 2 hari sahaja. Hoho, mantab dah. Ini saya yang terlalu semangat bacanya atau waktu luang yang terlampau banyak yaa? Sepertinya yang kedua. Jadwal mengajar sudah berkurang euy. ^o^
Ya, baca buku Asma Nadia lainnya. Buku ini berisi kumpulan cerpen, kebanyakan cerpen yg sebelumnya sudah publish juga, tapi dikumpulin lagi karena temanya yg cocok, menyangkut kehidupan di dalam berumah tangga. Setiap cerpen kemudian diikuti pembahasan oleh penulis, membahas permasalahan rumah tangga yg diceritakan di cerpen.
Bagus juga sih konsepnya, dari tiap cerpen kita bisa tahu masalah2 yg umum terjadi.
- Perbedaan sifat antara suami dan istrinya, dimana ada yg pendiam dan agak tertutup, menyebabkan yg lain jadi penasaran dan akhirnya malah curiga dan berprasangka macam2. - Bosan dengan istri di rumah dan tergoda untuk merasakan pengalaman baru. - Istri yang ngambek dan suami yg ga nyadar. Eneg juga sih kalo baca kelakuan salah satu pasangan yg lebay, kayak istrinya ini. - teringat bayangan dari masa lalu (mantan). - masalah reuni yg kadang bisa merepotkan dan mendatangkan rasa minder. Untuk ini mah, kalo gw mendingan ga usah dateng kalo diundang. Toh udah ga kenal dekat sama mereka, ga usah banding-bandingin dan ga usah peduli. - sulitnya mengurus anak, apalagi kalo kondisinya ga sesuai dengan harapan kita. Yah, ini juga salah satu faktor yg bikin nikah itu berat. - orangtua yang memberi contoh buruk untuk anak, berbohong. Cerita yg ini sumpah, rusak banget lah itu ibunya. - Cemburu yg lebay. Ini eneg banget, bentar2 istrinya bertanya2, yaampun, kayak ga ada kerjaan atau kegiatan lain di rumah. - Istri yang gemar bergosip, dan memamerkan kekayaan. Ah, ga tertolong lah kalo begini.
dan cerita-cerita lainnya, yang bisa memberi gambaran. Bagus konsepnya.
Berbeda karakter itu bukan berarti jadi bahan permusuhan, tapi menjadi bahan koreksi bersama, karena pada intinya tidak ada manusia yang sempurna kan?
Karena hanya iman yang dimiliki suami lah yang menjadikan si istri tenang. Seberapa berat godaan berbagai wanita cantik di luar sana, jika si istri yakin terhadap iman si suami, sudah pasti menjadi senjata ketenangan bagi sang istri.
Menjadi bunda bagi anak-anak adalah suatu tugas yang tidak mudah. Perlu diatur lagi manajemen yang sesuai antara tugas bunda di rumah dan tugas bunda di kantor. Bukan berarti pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, dan memasak menjadi hal yang tak tersentuh suami loh. Bukan berarti suami lantas cuci tangan begitu saja, tapi ikut membantu istri adalah suatu hal yang lebih baik, menyenangkan hati istri, dan menyelesaikan urusan bersama, karena pekerjaan rumah tangga seperti itu dapat diselesaikan bersama.
Jika membayangkan kerja keras suami dalam mencari pekerjaan, rasanya perlu banyak bersyukur dengan besar gaji yang diterimanya yang lalu dititipkan ke istri. Menjadi amanah lah wahai istri dalam menggunakan gaji suamimu. Coba bayangkan, seribu rupiah saja adalah HASIL dari keringat dan peluhnya saat bekerja mencari nafkah. (Semoga kelak bisa menjadi istri yang selalu bersyukur, aamiin :D)
Demikianlah bagian kecil dari kesimpulan yang saya dapatkan dari buku ini, dari rangkaian cerpen yang sangat dekat dengan kehidupan rumah tanggan sehari-hari dan dari pembahasan yang disajikan.
Buku Sakinah Bersamamu edisi yang saya baca, cetakan ke 24 mei 2015 dengan sampul para artis yang membintangi sinetron adapatasi dari buku ini.
Buku ini kumpulan cerpen. Nilai plus dan yang menjadikan buku ini sangat unik adalah karena memadukan Fiksi dan Non-fiksi...Tema cerpen-cerpennya dalah tentang keluarga dan berumah tangga...setiap selesai 1 cerpen akan ada tulisan atau catatan tambahan dari Mbak Asma(sang penulis) berisi nilai moral dan pelajaran dari cerpen itu. Terkadang ditambah juga dengan pengalaman-pengalaman dan tips-tips berkeluarga dalam upaya mendapatkan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, WaRohmah.
Mayoritas cerpennya saya beri antara bintang 2 dan 3 ... tapi ada 1 cerpen yang sangat berkesan bagi saya yaitu yang berjudul "Kalung" saya beri bintang 4,5 .
Kekuatan buku ini bagi saya justru terletak pada catatan tambahan Mbak Asma di setiap selesai 1 cerpen... yang berisi pengalaman dan tips-tips yang menurut saya sangat simpel, berguna, dan mudah untuk diterapkan dalam kehidupan berumah tangga... hal-hal kecil namun sangat penting dan berpengaruh yang terkadang luput dan terlalaikan dari perhatian kita. Saya beri bintang 5 untuk catatan tambahannya.
Seperti biasanya, hanya perlu 2 hari satu malam untuk menyelesaikan buku Asma nadia :D karena memang mengalir cara menceritakannya, dan banyak sekedar ilustrasi :) membaca buku-buku Asma nadia, terutama yang berkisar catatn hati, kehidupan rumah tangga, memang membuatku tertarik, entah kenapa, meskipun saya sebenarnya tidak begitu suka membaca cerita-cerita yang bagiku sedikit "lebay" mengenai "cinta", tapi sekali lagi, karena belum menikah dan belum pernah tahu seperti apa cemburu seorang "istri" maka saya tidak boleh terlalu banyak nge"judge" bahwa ini "alay" :DDD dan saya mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga tentang berumah tangga melalui buku ini, InsyaAllah membuat saya lebih siap dengan "badai-badai" yang mungkin terjadi dalam kehidupan rumah tangga, sehingga saya tidak "kaget". Buku ini menurut saya lebih tidak terlalu "menyebalkan" jika dibanding buku Asma Nadia yang "catatan hati yang cemburu".. errggghhh buku itu bikin emosi tingkat dewa! meskipun dibaca jugaaa he he yah pokoknya buat siapapun... yang lagi pengen banget tahu seperti apa gambaran hubungan rumah tangga, boleh lah baca buku-buku mba Asma Nadia :) rekomen kok ^^ hihi...