Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Komaruddin Hidayat.
Showing 1-5 of 5
“Pertanyaannya, mestikah beragama disertai sikap cemburu dan benci terhadap mereka yang berbeda keyakinan? Kalau seseorang telah yakin dan merasa benar serta nyaman dengan ajaran dan praktik keberagamannya, bukankah kenyamanan itu yang mestinya disebarluaskan? Bukannya malah menyebar kecemburuan dan kebencian, yang tidak akan membuat agama dan sikap keberagamaan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam.”
―
―
“Agama tidak bisa berkembang tanpa wadah budaya, dan budaya akan kehilangan arah dan ruh tanpa bimbingan agama. Inklusivitas peradaban Islam secara simbolik ditampilkan oleh bangunan masjid. Inti dari masjid adalah aktivitas shalatnya, sedangkan arsitektur dan berbagai peralatan lain yang mendukungnya sangat terbuka untuk inovasi dan menampung beragam unsur budaya dari luar.”
―
―
“Tanpa disadari, saking semangatnya meminta, kita terkesan mengajari atau mendikte Tuhan. Menurut sebuah hadis, Tuhan akan marah pada hamba-Nya yang sombong, tidak pernah berdoa. Namun, Tuhan juga marah jika melihat hamba-Nya banyak berdoa, tanpa bekerja. Ora et labora.”
― Agama Punya Seribu Nyawa
― Agama Punya Seribu Nyawa
“… terkadang banyak dari kita yang menjalani kehidupan beragama berdasarkan rasa (dzauq), ketimbang pertimbangan rasional.”
― Agama Punya Seribu Nyawa
― Agama Punya Seribu Nyawa
“Kita memasuki abad ideologi yang berakar pada keimanan, yang berseberangan dengan kebudayaan ilmiah yang dialogis dan rasional,” kata Kauffmann. Di tengah dua arus yang menguat ini, mereka yang berpaham moderat didorong untuk berpihak ke salah satu kubu. “Moderate faith is being squeezed by both secularism and fundamentalism,” tulisnya.”
― Agama Punya Seribu Nyawa
― Agama Punya Seribu Nyawa




