159 books
—
39 voters
Neo Noir Books
Showing 1-50 of 979
Certain Dark Things (Paperback)
by (shelved 12 times as neo-noir)
avg rating 3.72 — 19,829 ratings — published 2016
Kiss Me, Judas (Paperback)
by (shelved 11 times as neo-noir)
avg rating 3.81 — 4,646 ratings — published 1998
Altered Carbon (Takeshi Kovacs, #1)
by (shelved 9 times as neo-noir)
avg rating 4.04 — 114,711 ratings — published 2002
The Contortionist's Handbook (Paperback)
by (shelved 8 times as neo-noir)
avg rating 3.97 — 11,437 ratings — published 2002
Neuromancer (Sprawl, #1)
by (shelved 7 times as neo-noir)
avg rating 3.89 — 362,948 ratings — published 1984
The New Black (Paperback)
by (shelved 6 times as neo-noir)
avg rating 4.10 — 353 ratings — published 2014
Zero Saints (Paperback)
by (shelved 6 times as neo-noir)
avg rating 4.02 — 1,200 ratings — published 2015
A Drink Before the War (Kenzie & Gennaro, #1)
by (shelved 6 times as neo-noir)
avg rating 3.93 — 46,163 ratings — published 1994
Dermaphoria (Trade Paperback)
by (shelved 6 times as neo-noir)
avg rating 3.77 — 3,356 ratings — published 2005
Herniated Roots (Kindle Edition)
by (shelved 5 times as neo-noir)
avg rating 4.35 — 34 ratings — published 2012
Gravesend (Paperback)
by (shelved 5 times as neo-noir)
avg rating 3.87 — 865 ratings — published 2013
No Country for Old Men (Paperback)
by (shelved 5 times as neo-noir)
avg rating 4.17 — 245,454 ratings — published 2005
Sin City Volume 1: The Hard Goodbye (Paperback)
by (shelved 5 times as neo-noir)
avg rating 4.17 — 69,002 ratings — published 1991
Shutter Island (Mass Market Paperback)
by (shelved 5 times as neo-noir)
avg rating 4.14 — 224,331 ratings — published 2003
The Black Dahlia (L.A. Quartet, #1)
by (shelved 5 times as neo-noir)
avg rating 3.78 — 95,973 ratings — published 1987
Do Androids Dream of Electric Sheep? (ebook)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 4.09 — 510,548 ratings — published 1968
The Devil Takes You Home (Hardcover)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.66 — 13,212 ratings — published 2022
Drive (Drive, #1)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.47 — 10,115 ratings — published 2005
Disintegration (ebook)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 4.09 — 220 ratings — published 2015
Shovel Ready (Spademan, #1)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.46 — 5,521 ratings — published 2014
Fool Moon (The Dresden Files, #2)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.98 — 207,302 ratings — published 2001
The Deputy (Trade Paperback)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.72 — 1,110 ratings — published 2009
Darkness, Take My Hand (Kenzie & Gennaro, #2)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 4.18 — 32,895 ratings — published 1996
Sin City, Vol. 3: The Big Fat Kill (Sin City, #3)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 4.12 — 17,337 ratings — published 1994
Storm Front (The Dresden Files, #1)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.97 — 377,256 ratings — published 2000
Hell's Half Acre (Hardcover)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 4.18 — 1,233 ratings — published 2004
Penny Dreadful (Trade Paperback)
by (shelved 4 times as neo-noir)
avg rating 3.90 — 1,426 ratings — published 2000
Hap and Leonard Ride Again (Kindle Edition)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.76 — 228 ratings — published 2016
Titanium Noir (Titanium Noir, #1)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.01 — 9,694 ratings — published 2023
A Story of Yesterday (Kindle Edition)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.52 — 19,425 ratings — published 2014
My Darkest Prayer (Paperback)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.99 — 17,608 ratings — published 2019
Sandman Slim (Sandman Slim, #1)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.95 — 37,276 ratings — published 2009
Broken Angels (Takeshi Kovacs, #2)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.92 — 39,027 ratings — published 2003
Where All Light Tends to Go (Hardcover)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.78 — 10,343 ratings — published 2015
Night Film (Paperback)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.78 — 95,638 ratings — published 2013
Hell on Church Street (Paperback)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.90 — 440 ratings — published 2011
Fun & Games (Charlie Hardie #1)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.90 — 2,610 ratings — published 2011
Falling Angel (Hardcover)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.90 — 5,768 ratings — published 1978
Long Lost Dog of It (Paperback)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.25 — 60 ratings — published 2014
Revenge is a Redhead (Kindle Edition)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.47 — 38 ratings — published 2014
Staring Into the Abyss (Paperback)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.16 — 92 ratings — published 2013
Queenpin (Kindle Edition)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.76 — 4,988 ratings — published 2007
Galveston (Hardcover)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.75 — 16,821 ratings — published 2010
Sin City, Vol. 4: That Yellow Bastard (Sin City, #4)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.24 — 26,505 ratings — published 1996
Sin City, Vol. 2: A Dame to Kill For (Sin City, #2)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.18 — 28,965 ratings — published 1993
The Mystic Arts of Erasing All Signs of Death (Hardcover)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.81 — 4,852 ratings — published 2008
Gone Girl (Paperback)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 4.15 — 3,431,656 ratings — published 2012
The Last Policeman (The Last Policeman, #1)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.77 — 35,334 ratings — published 2012
Hardcase (Joe Kurtz, #1)
by (shelved 3 times as neo-noir)
avg rating 3.67 — 2,876 ratings — published 1993
“TONY, AKU MENEMUKANMU DI TEMPAT YANG TIDAK BOLEH ADA MANUSIA”
(Lynchian Reconstruction)
Tony muncul pertama kali bukan di layar,
melainkan di celah gelap antara dua adegan yang seharusnya tidak bersambung.
Sebuah potongan film yang menganga, sebagai luka seluloid.
Kita tidak melihatnya masuk.
Ia sudah ada di sana,
seperti wajah yang muncul dalam mimpi,
setengah ingatan, setengah sengatan listrik.
Ruang itu tidak punya nama.
Lampu-lampunya berkedip seperti mata yang malas percaya pada kenyataan,
dan karpet merahnya terasa basah seperti onggokan daging segar.
Tony tidak bergerak.
Atau mungkin ia bergerak,
tapi gerakannya terjadi di tepi pupil matamu,
di tempat di mana logika mengering
dan kehilangan taring.
Dia mengenakan setelan gelap
yang terlalu rapi,
terlalu bersih untuk dunia yang tidak stabil ini.
Kancing paling atasnya merefleksikan cahaya
yang tidak berasal dari cahaya lampu
“Ini bukan adegan,” katanya,
tanpa benar-benar menggerakkan bibir.
“Ini adalah seseorang yang sedang bermimpi menjadi adegan.”
Aku mencoba berbicara,
tapi suaraku keluar seperti rekaman rusak—
patah, melengking, kembali lagi dari arah lain.
Tony tersenyum kecil:
senyum yang tidak ingin kau tanya asalnya.
Senyum yang seperti berkata:
"Kau tidak seharusnya berada di sini."
Dari belakang tirai biru—
tirai yang tidak pernah berhenti bergoyang meski tidak ada angin—
muncul suara yang sangat lembut:
seperti seseorang sedang memotong kertas foto
dengan gunting yang terlalu tumpul.
Tony melirik ke arah tirai itu
dengan tatapan yang mengandung dua hal:
pengakuan dan ketakutan.
Sekiranya tirai itu mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri.
“Dulu, aku sudah pernah memainkan peran itu,” katanya pelan.
“Tapi dunia tidak mengembalikanku
ke tempat seharusnya.”
Ketika ia melangkah maju,
lorongnya ikut bergerak,
seolah-olah ruang itu sedang mencoba mengatur ulang dirinya
agar Tony tidak kehilangan pusat gravitasi.
Sebuah telepon berdering.
Tidak ada telepon.
Tidak ada meja.
Tidak ada sumber bunyi.
Hanya dering itu—
jernih, bersih, dingin.
Tony berhenti.
Kita semua berhenti.
Bahkan udara berhenti.
“Jangan angkat,” katanya.
Suaranya kali ini terdengar seperti gema dari bawah sumur.
Aku bertanya kenapa.
Ia menatapku dengan mata yang terlihat normal
hingga kau sadari korneanya tidak pernah berubah ukuran.
Seperti kamera yang terjebak pada satu exposure selamanya.
“Karena kalau kau angkat,” katanya,
“kau akan mendengar seseorang
menjelaskan kenapa kau
tidak pernah ada.”
Ia kembali ke dalam bayangan lorong
yang tiba-tiba memanjang, memutar,
dan membuka diri seperti rahang orca yang kelaparan.
Untuk sesaat aku melihatnya—
hanya sesaat—
menjadi dua orang sekaligus:
Tony sang aktor,
dan sesuatu yang mengenakan wajahnya
dengan terlalu sempurna.
Lalu lorongnya menutup.
Seakan itu semua hanyalah cara dunia
menghapus bukti
bahwa dulu ia pernah ada.
November 2025”
―
(Lynchian Reconstruction)
Tony muncul pertama kali bukan di layar,
melainkan di celah gelap antara dua adegan yang seharusnya tidak bersambung.
Sebuah potongan film yang menganga, sebagai luka seluloid.
Kita tidak melihatnya masuk.
Ia sudah ada di sana,
seperti wajah yang muncul dalam mimpi,
setengah ingatan, setengah sengatan listrik.
Ruang itu tidak punya nama.
Lampu-lampunya berkedip seperti mata yang malas percaya pada kenyataan,
dan karpet merahnya terasa basah seperti onggokan daging segar.
Tony tidak bergerak.
Atau mungkin ia bergerak,
tapi gerakannya terjadi di tepi pupil matamu,
di tempat di mana logika mengering
dan kehilangan taring.
Dia mengenakan setelan gelap
yang terlalu rapi,
terlalu bersih untuk dunia yang tidak stabil ini.
Kancing paling atasnya merefleksikan cahaya
yang tidak berasal dari cahaya lampu
“Ini bukan adegan,” katanya,
tanpa benar-benar menggerakkan bibir.
“Ini adalah seseorang yang sedang bermimpi menjadi adegan.”
Aku mencoba berbicara,
tapi suaraku keluar seperti rekaman rusak—
patah, melengking, kembali lagi dari arah lain.
Tony tersenyum kecil:
senyum yang tidak ingin kau tanya asalnya.
Senyum yang seperti berkata:
"Kau tidak seharusnya berada di sini."
Dari belakang tirai biru—
tirai yang tidak pernah berhenti bergoyang meski tidak ada angin—
muncul suara yang sangat lembut:
seperti seseorang sedang memotong kertas foto
dengan gunting yang terlalu tumpul.
Tony melirik ke arah tirai itu
dengan tatapan yang mengandung dua hal:
pengakuan dan ketakutan.
Sekiranya tirai itu mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri.
“Dulu, aku sudah pernah memainkan peran itu,” katanya pelan.
“Tapi dunia tidak mengembalikanku
ke tempat seharusnya.”
Ketika ia melangkah maju,
lorongnya ikut bergerak,
seolah-olah ruang itu sedang mencoba mengatur ulang dirinya
agar Tony tidak kehilangan pusat gravitasi.
Sebuah telepon berdering.
Tidak ada telepon.
Tidak ada meja.
Tidak ada sumber bunyi.
Hanya dering itu—
jernih, bersih, dingin.
Tony berhenti.
Kita semua berhenti.
Bahkan udara berhenti.
“Jangan angkat,” katanya.
Suaranya kali ini terdengar seperti gema dari bawah sumur.
Aku bertanya kenapa.
Ia menatapku dengan mata yang terlihat normal
hingga kau sadari korneanya tidak pernah berubah ukuran.
Seperti kamera yang terjebak pada satu exposure selamanya.
“Karena kalau kau angkat,” katanya,
“kau akan mendengar seseorang
menjelaskan kenapa kau
tidak pernah ada.”
Ia kembali ke dalam bayangan lorong
yang tiba-tiba memanjang, memutar,
dan membuka diri seperti rahang orca yang kelaparan.
Untuk sesaat aku melihatnya—
hanya sesaat—
menjadi dua orang sekaligus:
Tony sang aktor,
dan sesuatu yang mengenakan wajahnya
dengan terlalu sempurna.
Lalu lorongnya menutup.
Seakan itu semua hanyalah cara dunia
menghapus bukti
bahwa dulu ia pernah ada.
November 2025”
―
“Nobody knows Los Angeles until they’ve been entranced by it, corrupted by it, cast out from it, and returned to it on their knees begging it to save them, and Richie knew Los Angeles. He knew it better than anyone. This time he would tame the beast and make it his own—this time he would win.”
― Porno Valley
― Porno Valley













