107 books
—
10 voters
Discover new books on Goodreads
Meet your next favorite book
Post Human Books
Showing 1-50 of 315
The Quantum Thief (Jean le Flambeur, #1)
by (shelved 9 times as post-human)
avg rating 3.83 — 24,593 ratings — published 2010
The Causal Angel (Jean le Flambeur, #3)
by (shelved 5 times as post-human)
avg rating 4.20 — 5,932 ratings — published 2014
Sea of Rust (Sea of Rust, #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 16,172 ratings — published 2017
Nexus (Nexus, #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 21,374 ratings — published 2012
Neptune's Brood (Freyaverse, #2)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.85 — 5,893 ratings — published 2013
Saturn's Children (Freyaverse #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.60 — 8,319 ratings — published 2008
Accelerando (Mass Market Paperback)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.87 — 22,915 ratings — published 2005
Permutation City (Mass Market Paperback)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 14,096 ratings — published 1994
Islands of Abandonment: Life in the Post-Human Landscape (Hardcover)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.19 — 6,343 ratings — published 2021
All Systems Red (The Murderbot Diaries, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.10 — 415,002 ratings — published 2017
We Are Legion (We Are Bob) (Bobiverse, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.23 — 148,101 ratings — published 2016
Glasshouse (Hardcover)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.88 — 11,871 ratings — published 2006
Diaspora (Paperback)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.10 — 12,111 ratings — published 1997
The Fractal Prince (Jean le Flambeur, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.05 — 9,582 ratings — published 2012
Altered Carbon (Takeshi Kovacs, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.03 — 118,619 ratings — published 2002
Sub-Human (Post-Human, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.74 — 3,840 ratings — published 2012
Post-Human (Post-Human, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.62 — 2,666 ratings — published 2009
More Than Human (Paperback)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.93 — 19,908 ratings — published 1953
The Well of Ascension (Mistborn, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.37 — 735,565 ratings — published 2007
Cage of Souls (Hardcover)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.12 — 13,937 ratings — published 2019
Crux (Nexus, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.14 — 10,588 ratings — published 2013
Fall; or, Dodge in Hell (Hardcover)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.59 — 20,562 ratings — published 2019
Empress of Forever (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.77 — 4,125 ratings — published 2019
Exit Strategy (The Murderbot Diaries, #4)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.36 — 168,326 ratings — published 2018
MaddAddam (MaddAddam, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.03 — 85,020 ratings — published 2013
For We Are Many (Bobiverse, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.36 — 84,633 ratings — published 2017
The Girl with All the Gifts (The Girl With All the Gifts, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.95 — 251,350 ratings — published 2014
Childhood’s End (Mass Market Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.12 — 179,420 ratings — published 1953
Edge of Dark (The Glittering Edge, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.55 — 602 ratings — published 2015
Revelation Space (The Inhibitor Sequence, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.99 — 64,332 ratings — published 2000
Lock In (Lock In, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 73,888 ratings — published 2014
Blood Music (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.84 — 17,875 ratings — published 1985
Apex (Nexus, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.17 — 7,893 ratings — published 2015
Ancillary Mercy (Imperial Radch, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.22 — 52,078 ratings — published 2015
Post-Human Omnibus (ebook)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.75 — 4,639 ratings — published 2014
Human Plus (Post-Human, #4)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.85 — 1,302 ratings — published 2013
The Sky Is Falling (The God Slayers Quartet #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.81 — 58 ratings — published 2012
The Fall (The God Slayers Quartet, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.45 — 324 ratings — published 2012
Mistborn: The Final Empire (Mistborn, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.48 — 1,093,957 ratings — published 2006
Broken Angels (Takeshi Kovacs, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 40,028 ratings — published 2003
Woken Furies (Takeshi Kovacs, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.01 — 33,067 ratings — published 2005
The Naked God (Night's Dawn, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.22 — 21,125 ratings — published 1999
The Reality Dysfunction (Night's Dawn, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.13 — 38,745 ratings — published 1996
The Neutronium Alchemist (Night's Dawn, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.27 — 21,273 ratings — published 1997
Old Man's War (Old Man's War, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.23 — 235,513 ratings — published 2005
Trans-Human (Post-Human, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.69 — 2,025 ratings — published 2011
Warm Bodies (Warm Bodies, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.91 — 110,572 ratings — published 2010
Sacred Fate (Chronicles of Ylandre, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.99 — 2,264 ratings — published 2009
Quarantine (Mass Market Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 6,648 ratings — published 1992
The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.93 — 12,894 ratings — published 2005
“Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris
Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi—
membukanya seperti kapsul masa lalu
yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data?
Setiap mimpi adalah buah sunyi
dengan inti yang selalu berdetak.
Ketika kita memecah kulitnya,
kita tak hanya menemukan cahaya,
melainkan seluruh kerumunan metadata
yang mengawasi keberanian diri
untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya.
Dan mereka bertanya:
Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh,
atau pohon itu yang mengompilasi dirimu
dari luka, dari ingatan,
dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh?
Sebab luka pun punya bahasa.
Ia menulis dirinya
di bawah kulit gemetar kita
seperti skrip yang tak ingin dihapus
meski berulang kali menekan tombol revisi.
Narcissus—
hari ini tak lagi menatap sungai,
ia menatap pantulan dirinya
di layar simulakra yang membeku:
bahasa tubuhnya berubah
menjadi kode kesepian
yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia
dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya.
Dan ketika sungai bertanya kepada laut,
Siapa yang menciptakan siapa?
Laut tak menjawab.
Ia hanya membuka jutaan pintu air
dan membiarkan semua pertanyaan mengalir
ke ruang tak bernama—
tempat segala sesuatu berasal
dan kembali hening.
Burung-burung di langit tak sekadar terbang;
di bulu mereka tersimpan blueprint gerak
yang diwariskan dari angin
kepada anak angin.
Mereka membawa pertanyaan
tentang harapan yang tak pernah tuntas,
tentang janji yang menunggu lunas
di tengah turbulensi
antara hidup, daya hidup dan kehancuran.
Dan cinta—
bukan lagi entitas milik kita,
bukan lagi perasaan sederhana.
Ia adalah protokol,
frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat.
Melayang seperti sinyal radio
mencari jiwa yang sanggup menampungnya.
Pada akhirnya,
segala yang kita cari
akan menemukan kita kembali:
di antara jeda,
di antara napas,
di antara batas tipis
antara manusia dan yang bukan-manusia—
cuma simbol dan tanda-tanda.
Sebab mengelupas mimpi
adalah cara raga mengingat
bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak:
organisme yang sedang belajar terbang,
mesin yang sedang belajar merasa,
jiwa yang ingin kembali
ke tempat pertama kali ia dinamai.
Dan di sanalah,
kita bersiap tumbuh sekali lagi.
Bukan sebagai mesin pencari
bukan sebagai kecerdasan buatan
melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran.
November 2025”
―
Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi—
membukanya seperti kapsul masa lalu
yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data?
Setiap mimpi adalah buah sunyi
dengan inti yang selalu berdetak.
Ketika kita memecah kulitnya,
kita tak hanya menemukan cahaya,
melainkan seluruh kerumunan metadata
yang mengawasi keberanian diri
untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya.
Dan mereka bertanya:
Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh,
atau pohon itu yang mengompilasi dirimu
dari luka, dari ingatan,
dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh?
Sebab luka pun punya bahasa.
Ia menulis dirinya
di bawah kulit gemetar kita
seperti skrip yang tak ingin dihapus
meski berulang kali menekan tombol revisi.
Narcissus—
hari ini tak lagi menatap sungai,
ia menatap pantulan dirinya
di layar simulakra yang membeku:
bahasa tubuhnya berubah
menjadi kode kesepian
yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia
dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya.
Dan ketika sungai bertanya kepada laut,
Siapa yang menciptakan siapa?
Laut tak menjawab.
Ia hanya membuka jutaan pintu air
dan membiarkan semua pertanyaan mengalir
ke ruang tak bernama—
tempat segala sesuatu berasal
dan kembali hening.
Burung-burung di langit tak sekadar terbang;
di bulu mereka tersimpan blueprint gerak
yang diwariskan dari angin
kepada anak angin.
Mereka membawa pertanyaan
tentang harapan yang tak pernah tuntas,
tentang janji yang menunggu lunas
di tengah turbulensi
antara hidup, daya hidup dan kehancuran.
Dan cinta—
bukan lagi entitas milik kita,
bukan lagi perasaan sederhana.
Ia adalah protokol,
frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat.
Melayang seperti sinyal radio
mencari jiwa yang sanggup menampungnya.
Pada akhirnya,
segala yang kita cari
akan menemukan kita kembali:
di antara jeda,
di antara napas,
di antara batas tipis
antara manusia dan yang bukan-manusia—
cuma simbol dan tanda-tanda.
Sebab mengelupas mimpi
adalah cara raga mengingat
bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak:
organisme yang sedang belajar terbang,
mesin yang sedang belajar merasa,
jiwa yang ingin kembali
ke tempat pertama kali ia dinamai.
Dan di sanalah,
kita bersiap tumbuh sekali lagi.
Bukan sebagai mesin pencari
bukan sebagai kecerdasan buatan
melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran.
November 2025”
―
“PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025”
―
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025”
―












