161 books
—
196 voters
Post Human Books
Showing 1-50 of 317
The Quantum Thief (Jean le Flambeur, #1)
by (shelved 9 times as post-human)
avg rating 3.82 — 24,372 ratings — published 2010
The Causal Angel (Jean le Flambeur, #3)
by (shelved 5 times as post-human)
avg rating 4.21 — 5,879 ratings — published 2014
Sea of Rust (Sea of Rust, #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 15,812 ratings — published 2017
Nexus (Nexus, #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 21,237 ratings — published 2012
Neptune's Brood (Freyaverse, #2)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.85 — 5,872 ratings — published 2013
Saturn's Children (Freyaverse #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.60 — 8,263 ratings — published 2008
Accelerando (Mass Market Paperback)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.87 — 22,686 ratings — published 2005
Permutation City (Mass Market Paperback)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 13,720 ratings — published 1994
Islands of Abandonment: Life in the Post-Human Landscape (Hardcover)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.19 — 6,204 ratings — published 2021
All Systems Red (The Murderbot Diaries, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.11 — 399,761 ratings — published 2017
We Are Legion (We Are Bob) (Bobiverse, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.24 — 140,099 ratings — published 2016
Glasshouse (Hardcover)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.88 — 11,794 ratings — published 2006
Diaspora (Paperback)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.10 — 11,783 ratings — published 1997
The Fractal Prince (Jean le Flambeur, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.05 — 9,477 ratings — published 2012
Altered Carbon (Takeshi Kovacs, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.03 — 117,427 ratings — published 2002
Sub-Human (Post-Human, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.74 — 3,836 ratings — published 2012
Post-Human (Post-Human, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.62 — 2,665 ratings — published 2009
More Than Human (Paperback)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.93 — 19,777 ratings — published 1953
The Well of Ascension (Mistborn, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.37 — 708,401 ratings — published 2007
Cage of Souls (Hardcover)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.12 — 13,534 ratings — published 2019
Crux (Nexus, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.14 — 10,535 ratings — published 2013
Fall; or, Dodge in Hell (Hardcover)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.59 — 20,399 ratings — published 2019
Empress of Forever (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.77 — 4,110 ratings — published 2019
Exit Strategy (The Murderbot Diaries, #4)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.36 — 162,757 ratings — published 2018
MaddAddam (MaddAddam, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.03 — 84,204 ratings — published 2013
For We Are Many (Bobiverse, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.37 — 80,630 ratings — published 2017
The Girl with All the Gifts (The Girl With All the Gifts, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.95 — 249,260 ratings — published 2014
Childhood’s End (Mass Market Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.12 — 177,392 ratings — published 1953
Edge of Dark (The Glittering Edge, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.55 — 602 ratings — published 2015
Revelation Space (The Inhibitor Sequence, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.99 — 63,463 ratings — published 2000
Lock In (Lock In, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 73,197 ratings — published 2014
Blood Music (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.84 — 17,601 ratings — published 1985
Apex (Nexus, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.17 — 7,855 ratings — published 2015
Ancillary Mercy (Imperial Radch, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.22 — 51,315 ratings — published 2015
Post-Human Omnibus (ebook)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.75 — 4,636 ratings — published 2014
Human Plus (Post-Human, #4)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.85 — 1,302 ratings — published 2013
The Sky Is Falling (The God Slayers Quartet #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.81 — 58 ratings — published 2012
The Fall (The God Slayers Quartet, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.45 — 324 ratings — published 2012
Mistborn: The Final Empire (Mistborn, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.48 — 1,053,918 ratings — published 2006
Broken Angels (Takeshi Kovacs, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 39,714 ratings — published 2003
Woken Furies (Takeshi Kovacs, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.01 — 32,819 ratings — published 2005
The Naked God (Night's Dawn, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.22 — 21,005 ratings — published 1999
The Reality Dysfunction (Night's Dawn, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.12 — 38,540 ratings — published 1996
The Neutronium Alchemist (Night's Dawn, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.27 — 21,138 ratings — published 1997
Old Man's War (Old Man's War, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.23 — 231,853 ratings — published 2005
Trans-Human (Post-Human, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.69 — 2,025 ratings — published 2011
Warm Bodies (Warm Bodies, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.91 — 110,222 ratings — published 2010
Sacred Fate (Chronicles of Ylandre, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.99 — 2,260 ratings — published 2009
Quarantine (Mass Market Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 6,535 ratings — published 1992
The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.93 — 12,801 ratings — published 2005
“Emotions - Happiness, anger, jealousy... is the mind experiencing "presence" in our holographic existence.”
― Memories With Maya
― Memories With Maya
“DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025”
―
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025”
―











