aku terjaga di kota lelah matahari rendah, bulan di bawah di pertempuran waktu orang-orang menenteng muka
mereka yang lelah; menjampi-jampi jam-jam yang sangat malam. seberapa jantung? seharga bayang-bayang yang melekat di mulut jalan sebanyak asap yang melindap di udara malam
sebagai ganti dunia, kuambil selimut yang berdesing yang membekam matahari, lalu tidak lagi peduli pada aljabar, pada geografi pada sejarah meski telah kubaca semua dengan api yang tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mengatur malam lalu kuletakkan kembali pada rak-rak yang berdebu mereka meledak...
dan aku sendiri dengan satu lilin pada gelapnya ruangan ada bayangan-bayangan, memanjang-pendek di sudut-sudut hingga aku terperangkap dalam lubang seperti tinta yang dilekatkan di kertas folio
biarkan aku sendiri biarkan aku menjadi takut biarkan aku diam sebelum dian sebelum harimau yang ada dalam darah; aku tahu frasa ini terlalu klise namun biarlah aku bunuh ia dalam waktu
sungai-sungai yang melaju kubakar dengan sekorek api kegilaan dan hari ini, aku menatap kasuari menjadi hitam terbang rendah menunggu punah
berikan aku segenggam obor, yang tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mendengarkan tawa para perawan, para penyamun, para pemuda, yang lapar dengan kata-kata yang menari pada sajak-sajak yang mengalun di telinga mereka yang jujur dengan ketidakjujurannya yang indah dengan ketidakberdayaannya menangkap malam mencengkeram siang melukis resah di pasar-pasar di kafe-kafe di jalan-jalan di mesjid-mesjid di sarang-sarang penyamun
biarkan aku menjabarkan angin agar kutemukan bungaku yang terhempaskan semilirnya di bawah bulan yang mungkin sedang malu
aku terjaga di kota lelah
matahari rendah, bulan di bawah
di pertempuran waktu
orang-orang menenteng muka
mereka yang lelah; menjampi-jampi jam-jam
yang sangat malam. seberapa jantung?
seharga bayang-bayang yang melekat di mulut jalan
sebanyak asap yang melindap di udara malam
sebagai ganti dunia, kuambil selimut yang berdesing
yang membekam matahari, lalu
tidak lagi peduli pada aljabar, pada geografi
pada sejarah meski telah kubaca semua dengan api
yang tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mengatur malam
lalu kuletakkan kembali pada rak-rak yang berdebu
mereka meledak...
dan aku sendiri dengan satu lilin pada gelapnya ruangan
ada bayangan-bayangan, memanjang-pendek di sudut-sudut
hingga aku terperangkap dalam lubang
seperti tinta yang dilekatkan di kertas folio
biarkan aku sendiri
biarkan aku menjadi takut
biarkan aku diam sebelum dian
sebelum harimau yang ada dalam darah;
aku tahu frasa ini terlalu klise
namun biarlah aku bunuh ia dalam waktu
sungai-sungai yang melaju
kubakar dengan sekorek api kegilaan
dan hari ini, aku menatap kasuari menjadi hitam
terbang rendah menunggu punah
berikan aku segenggam obor,
yang tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mendengarkan
tawa para perawan, para penyamun,
para pemuda,
yang lapar dengan kata-kata
yang menari pada sajak-sajak yang mengalun di telinga mereka
yang jujur dengan ketidakjujurannya
yang indah dengan ketidakberdayaannya
menangkap malam
mencengkeram siang
melukis resah
di pasar-pasar
di kafe-kafe
di jalan-jalan
di mesjid-mesjid
di sarang-sarang penyamun
biarkan aku menjabarkan angin
agar kutemukan bungaku yang terhempaskan semilirnya
di bawah bulan yang mungkin sedang malu