Puisi discussion

4 views
puisi-puisi

Comments Showing 1-1 of 1 (1 new)    post a comment »
dateUp arrow    newest »

message 1: by Retno (new)

Retno Handoko (atlantis) | 1 comments Mod
Sekorek Api Kegilaan

aku terjaga di kota lelah
matahari rendah, bulan di bawah
di pertempuran waktu
orang-orang menenteng muka

mereka yang lelah; menjampi-jampi jam-jam
yang sangat malam. seberapa jantung?
seharga bayang-bayang yang melekat di mulut jalan
sebanyak asap yang melindap di udara malam

sebagai ganti dunia, kuambil selimut yang berdesing
yang membekam matahari, lalu
tidak lagi peduli pada aljabar, pada geografi
pada sejarah meski telah kubaca semua dengan api
yang tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mengatur malam
lalu kuletakkan kembali pada rak-rak yang berdebu
mereka meledak...

dan aku sendiri dengan satu lilin pada gelapnya ruangan
ada bayangan-bayangan, memanjang-pendek di sudut-sudut
hingga aku terperangkap dalam lubang
seperti tinta yang dilekatkan di kertas folio

biarkan aku sendiri
biarkan aku menjadi takut
biarkan aku diam sebelum dian
sebelum harimau yang ada dalam darah;
aku tahu frasa ini terlalu klise
namun biarlah aku bunuh ia dalam waktu

sungai-sungai yang melaju
kubakar dengan sekorek api kegilaan
dan hari ini, aku menatap kasuari menjadi hitam
terbang rendah menunggu punah

berikan aku segenggam obor,
yang tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mendengarkan
tawa para perawan, para penyamun,
para pemuda,
yang lapar dengan kata-kata
yang menari pada sajak-sajak yang mengalun di telinga mereka
yang jujur dengan ketidakjujurannya
yang indah dengan ketidakberdayaannya
menangkap malam
mencengkeram siang
melukis resah
di pasar-pasar
di kafe-kafe
di jalan-jalan
di mesjid-mesjid
di sarang-sarang penyamun

biarkan aku menjabarkan angin
agar kutemukan bungaku yang terhempaskan semilirnya
di bawah bulan yang mungkin sedang malu


back to top