Discover new books on Goodreads
Meet your next favorite book
Irman Rahman
http://10ir.wordpress.com/
“Beberapakali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali kucuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku; selalu teduh dan meneguhkan. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling diam.”
―
―
“Dahulu aku sering bertanya sendiri; kalau puisi itu berwujud
akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung?
Laut? Bertahun lalu aku temukan puisi memancar mancar dari matamu,
masuk ke dalam tubuhku. Seperti yang kau duga pada akhirnya
aku tahu puisi tak pernah punya rupa. Ia rasa yang menggenang,
meluap di jemari kenangan. Kenangan bernama engkau”
―
akan seperti apakah dia? Matahari? Bulan? Bintang? Gunung?
Laut? Bertahun lalu aku temukan puisi memancar mancar dari matamu,
masuk ke dalam tubuhku. Seperti yang kau duga pada akhirnya
aku tahu puisi tak pernah punya rupa. Ia rasa yang menggenang,
meluap di jemari kenangan. Kenangan bernama engkau”
―
“Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu...
Katakanlah wahai semua pencinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kehidupan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar-rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang Menciptakan dunia dengan kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati.
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatNya.
Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku. ”
― Hafalan Shalat Delisa
Katakanlah wahai semua pencinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kehidupan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar-rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang Menciptakan dunia dengan kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati.
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatNya.
Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku. ”
― Hafalan Shalat Delisa
“Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”
― Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
― Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Irman’s 2025 Year in Books
Take a look at Irman’s Year in Books, including some fun facts about their reading.
More friends…
Polls voted on by Irman
Lists liked by Irman









































