Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Chairil Anwar.
Showing 1-13 of 13
“Nasib adalah kesunyian masing-masing”
―
―
“Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”
―
―
“Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing”
―
―
“sekali berarti sesudah itu mati”
―
―
“Ah ternyata hatimu yang tak memberi. Mampus kau dimakan sepi”
―
―
“kami coba simpan nestapa...
kami coba kuburkan duka lara...
tapi perih,
tak bisa sembunyi.
Ia menyebar kemana-mana...”
―
kami coba kuburkan duka lara...
tapi perih,
tak bisa sembunyi.
Ia menyebar kemana-mana...”
―
“Hidup hanya menunda kekalahan.”
― Derai-derai Cemara
― Derai-derai Cemara
“Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.”
― Aku Ini Binatang Jalang
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.”
― Aku Ini Binatang Jalang
“Yang terampas dan yang putus...
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimbajadi semati tugu.
....”
― Aku Ini Binatang Jalang
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimbajadi semati tugu.
....”
― Aku Ini Binatang Jalang
“Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi.
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa.
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa.
Kami cuma tulang-tulang berserakan.
Tapi kami adalah kepunyaanmu.
Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata.
Kaulah sekarang yang berkata.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi.
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Kenang, kenanglah kami.
Teruskan, teruskan jiwa kami.
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir.
Kami sekarang mayat.
Berikan kami arti.
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian.
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu.
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.”
―
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi.
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa.
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa.
Kami cuma tulang-tulang berserakan.
Tapi kami adalah kepunyaanmu.
Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata.
Kaulah sekarang yang berkata.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi.
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Kenang, kenanglah kami.
Teruskan, teruskan jiwa kami.
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir.
Kami sekarang mayat.
Berikan kami arti.
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian.
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu.
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.”
―
“Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu.
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.”
―
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu.
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.”
―
“This time no one's lookng for love
down between the sheds, the old houses, among the twittering
masts and rigging. A boat, a prau that will never sail again
puffs and snorts, thinking there's something it can catch
The drizzle brings darkness. An eagle's wings flap,
brushing against the gloom; the day whispers, swimming silkily
away to meet harbor temptations yet to come. Nothing moves
and now the sand and the sea are asleep, the waves gone.
That's all. I'm alone. Walking,
combing the cape, still choking back the hope
of getting to the end and, just once, saying the hell with it
from this fourth beach, embracing the last, the final sob.”
― The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar
down between the sheds, the old houses, among the twittering
masts and rigging. A boat, a prau that will never sail again
puffs and snorts, thinking there's something it can catch
The drizzle brings darkness. An eagle's wings flap,
brushing against the gloom; the day whispers, swimming silkily
away to meet harbor temptations yet to come. Nothing moves
and now the sand and the sea are asleep, the waves gone.
That's all. I'm alone. Walking,
combing the cape, still choking back the hope
of getting to the end and, just once, saying the hell with it
from this fourth beach, embracing the last, the final sob.”
― The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar
“This time no one's looking for love
down between the sheds, the old houses, among the twittering
masts and rigging. A boat, a prau that will never sail again
puffs and snorts, thinking there's something it can catch
The drizzle brings darkness. An eagle's wings flap,
brushing against the gloom; the day whispers, swimming silkily
away to meet harbor temptations yet to come. Nothing moves
and now the sand and the sea are asleep, the waves gone.
That's all. I'm alone. Walking,
combing the cape, still choking back the hope
of getting to the end and, just once, saying the hell with it
from this fourth beach, embracing the last, the final sob.”
― The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar
down between the sheds, the old houses, among the twittering
masts and rigging. A boat, a prau that will never sail again
puffs and snorts, thinking there's something it can catch
The drizzle brings darkness. An eagle's wings flap,
brushing against the gloom; the day whispers, swimming silkily
away to meet harbor temptations yet to come. Nothing moves
and now the sand and the sea are asleep, the waves gone.
That's all. I'm alone. Walking,
combing the cape, still choking back the hope
of getting to the end and, just once, saying the hell with it
from this fourth beach, embracing the last, the final sob.”
― The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar



