Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Cindy Adams.
Showing 1-30 of 166
“Kalau aku memarahimu, itu berarti aku mencintaimu. Aku melampiaskan marahku kepada orang-orang terdekat dan paling kusayangi. Ibaratnya merekalah papan peredam suaraku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Demi tercapainya cita-cita kita, para pemimpin politik tidak boleh lupa bahwa mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Ir. Soekarno, ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi, ingatlah, bahwa satu-satunya hal abadi adalah karakter dari seseorang. Kenangan terhadap karakter itu akan tetap hidup, sekalipun dia mati.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pergunakan pengetahuanmu untuk diamalkan - Swarni Vivekananda”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit. Melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, banyak diantaranya yang mulai sembuh terasa perih.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“* Success has made failures of many men. ”
―
―
“Bukankah hubungan internasional itu adalah hubungan antar manusia dalam skala yang lebih besar?”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Aku boleh saja dianggap tukang bercinta, tetapi aku bukanlah pembunuh seorang gadis remaja.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Begini. Sebuah otobiografi tidak ada nilainya, kecuali jika si penulis merasa kehidupannya tidak berguna. Kalau dia memganggap dirinya orang besar, karyanya akan menjadi subjektif. Tidak objektif. Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan antara keduanya. Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek sehingga orang mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan yang baik-baik saja, orang akan menyebutku egois, karena memuji diri sendiri. Sebaliknya memasukkan yang jelek-jelek saja akan menimbulkan suasana mental yang buruk bagi rakyatku sendiri. Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? Hanya di saat itulah dia baru dapat diadili.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Terpikir olehku, bila Sang Penyelamat dari Indonesia berniat membebaskan rakyatnya, haruslah ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri lebih dulu.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Maaf, Bapak-Bapak. Aku adalah pemberontak dan akan selalu memberontak. Aku tidak mau didikte di hari pernikahanku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Rakyat kecil.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi terhadap diriku? Siapa yang dapat menceritakan bagaimana kehidupanku di masa depan? Itulah sebabnya aku selalu menolak hal ini, karena aku yakin bahwa buruk-baiknya kehidupan seseorang hanya dapat dinilai setelah dia mati.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Sering kali aku duduk di beranda Istana Merdeka, seorang diri. Beranda itu tidak begitu bagus. Separuh tertutup awning untuk mengurangi panas dan sinar matahari, satu-satunya perabotannya adalah kursi rotan tanpa kain pelapis yang tidak dicat dan meja bertaplak kain batik bikinan negeriku. Satu-satunya hak khusus yang diberikan padaku karena jabatanku yang tinggi adalah sebuah kursi dengan bantal di atasnya. Itulah yang disebut dengan "Kursi Presiden". Dan aku duduk di sana. Dan menatap. Dan memandang keluar ke taman indah dan menyegarkan, yang tanamannya kuatur dengan tanganku sendiri. Dan aku merasa sangat kesepian.
Aku ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yanh menjadi sifatku. Tetapi sekarang aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Sering aku merasa tercekik, napasku mau berhenti, apabila aku tidak bisa pergi keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Aku ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yanh menjadi sifatku. Tetapi sekarang aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Sering aku merasa tercekik, napasku mau berhenti, apabila aku tidak bisa pergi keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Engkau tahu apa artinya Indonesia? Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah itu. Indinesia adalah langit yangbiru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih yang bergerak pelan itu. Ia adalah udara yang hangat.
Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu-deru memukul-mukul ke pantai di waktu senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergolak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak-anak tertawa, aku mendengar Indinesia. Bila aku menghirup untaian bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu-deru memukul-mukul ke pantai di waktu senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergolak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak-anak tertawa, aku mendengar Indinesia. Bila aku menghirup untaian bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Anda tidak bisa menemui semua orang di seluruh dunia secara pribadi, tetapi Anda bisa menemui mereka lewat halaman-halaman buku. Anda adalah ahli pidato terbesar setelah William Jennings Bryan. Anda menawan hati jutaan pendengar di lapangan terbuka. Mengapa tidak berusaha mencapai jumlah pendengar yang lebih besar lagi?”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Tuan-Tuan, aku tidak ingin disebut seorang veteran. Sampai masuk ke liang kubur aku ingin menjadi pejuang ubtuk Republik Indonesia - Dr. Douwes Dekker”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Orang kiri adalah mereka yang menghendaki perubahan kekuasaan kapitalis yang ada, orde imperialistis. Keinginan untuk menyebarkan paham keadilan sosial adalah kiri. Dia tak perlu komunistis. Seseorang yang memiliki idealisme seperti itu adalah seorang kiri. Bahkan orang kiri tampak aneh bila bersama orang komunis.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Aku perintahkan kepadamu untuk menyebar tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lembah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya total 100 persen. Sekalipun kita harus kembali melakukan amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, jangan biarkan dunia berkata kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, dengan keringat dan tekad yang tak kunjung padam.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Aku pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Aku bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan aku akan mati dengan cita-cita ini di dalam dadaku.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Aku ingin melihat kehidupan. Aku milik rakyat. Aku harus melihat mereka, aku harus mendengarkan mereka, dan bersentuhan dengan mereka. Aku merasa bahagia kalau berada di tengah mereka. Bagiku mereka adalah roti kehidupan. Aku membutuhkan massa rakyat.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Bila kawan-kawan menhingatkan aku untuk beristirahat atau pensiun untuk memelihara diriku, aku menjawab "Pensiun? Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dalam keadaan damai dan bebas dari ketakutan akan pembunuhan. Tidak. Aku harus bekerja untuk bamgsaku sampai tarikan nafas terakhirku."
Selain itu, kemana aku pergi? Aku tidak memiliki rumah sendiei. Tidak ada tanah. Tidak ada tabungan. Lebih dari sekali aku tidak mempunyai sisa uang untuk pengeluaran rumah tanggaku. Di sebuah negara, Duta Besar kami terpaksa membeli piyama untukku. Satu-satunya piyama presiden sudah sobek. Negara menyediakan tempat tinggal dengan cuma-cuma, bebas pemakaian listrik, empat buah mobil resmi dan tiga di garasi untuk tamu negara, BUKAN 15 mobil pribadi seperti diberitakan oleh sebuah majalah luar negeri, dan mereka membelikan pakaian seragamku. Tetapi akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membangun sebuah gedung buatku, tapi di hati berikutnya aku melarangnya, ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Selain itu, kemana aku pergi? Aku tidak memiliki rumah sendiei. Tidak ada tanah. Tidak ada tabungan. Lebih dari sekali aku tidak mempunyai sisa uang untuk pengeluaran rumah tanggaku. Di sebuah negara, Duta Besar kami terpaksa membeli piyama untukku. Satu-satunya piyama presiden sudah sobek. Negara menyediakan tempat tinggal dengan cuma-cuma, bebas pemakaian listrik, empat buah mobil resmi dan tiga di garasi untuk tamu negara, BUKAN 15 mobil pribadi seperti diberitakan oleh sebuah majalah luar negeri, dan mereka membelikan pakaian seragamku. Tetapi akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membangun sebuah gedung buatku, tapi di hati berikutnya aku melarangnya, ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Makahan waktu itu nasibku adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Itulah sebabnya mengapa persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan cara Asia.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“INI. Ini leherku boleh potong... hayo, boleh penggal kepalaku... kalian bisa membunuhku .... tapi aku tidak pernah mau mengambil resiko untuk melakukan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena kalian hendak melakukan sesuatu menurut kemauan kalian.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Karno, di atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Banyak orang yang berkaki telanjang, tetapi mereka bukan orang yang revolusioner. Banyak orang berpangkat tinggi memakai sarung, tapi mereka bekerja sepenuh hati untuk penjajah. Jadi yang menandakan seseorang itu revolusioner adalah perjuangan yang dilakukannya. Kita adalah sepasukan tentara saudara-saudara.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Aku bagai seekor burung elang yang dipotong sayapnya. Setiap kali Inggit memandangiku, setiap kali pula darah menetes dari urat darahnya. Memang terasa lebih berat melihat orang yang kau cintai menghadapi penderitaan daripada bila kau mengalami sendiri penderitaan itu.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Tetap wartawan-wartawan terus saja menulis bahwa aku ini seorang 'budak Moskow'. Baiklah kujelaskan sekali lagi dan untuk terakhir kali. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi seorang komunis. Aku membungkukkan diri ke Moskow? Setiap orang yang pernah dekat dengan Sukarno mengetahui, dia memiliki ego yang terlalu besar untuk bisa menjadi budak dari seseorang, kecuali budak dari rakyatnya.
Aku memiliki ego. Itu kuakui. Tapi apakah seorang yang tanpa ego bisa mempersatukan 10.000 pulau menjadi satu bangsa. Dan aku memang tinggi hati. Siapa pula yang tidak demikian? Bukankah setiap orang ingin mendapat pujian?”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Aku memiliki ego. Itu kuakui. Tapi apakah seorang yang tanpa ego bisa mempersatukan 10.000 pulau menjadi satu bangsa. Dan aku memang tinggi hati. Siapa pula yang tidak demikian? Bukankah setiap orang ingin mendapat pujian?”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Demokrasi Indonesia, yang banyak disalahpahami di luar negeri kami, didasarkan pada prinsip mufakat, bukan pada jumlah suara. Kami tidak lagi memakai sistem demokrasi Barat ini yang didasarkan atas suara terbanyak, dimana 51 persen suara berhak untuk menang sementara yang 49 persen menggerutu. Sebagaimana yang telah kami alami dengan 40 partai politik, golongan yang tidak puas membalas dengan menghantam lawannya. Ini adalah jalan yang baik bagi suatu bangsa yang masih muda ubtuk menghadapi perkembangannya sendiri.
Untuk mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi Indonesi di atas mana Undang-Undang Dasar '45 disusun, aku menyarankan musyawarah untuk mufakat, suatu modus operandi yang asli dari suku-suku bangsa Indonesia. Selama beribu-ribu tahun para kepala desa dari Kepulauan Indonesia menjalankan pemerintahan dengan duduk bersama di sebuah dewan, dimana setiap suku itu mengajukan masalahnya melalui alasan-alasan yang menyakinkan. Setelah itu, salah seorang akan berkata, "Alasan saudara memang baik, tetapi aku tetap berfikir lebih baik begini." Yang lain berkata "Saya tidak sepenuhnya setuju, tapi memang ada beberapa hal yang baik dari pendapat Saudara itu." Musyawarah selanjutnya mengambil dari sini dan sana, itulah akhirnya yang disebut mufakat. Singkat kata, setiap orang menyumbangkan suatu pemikiran.
Dalam Demokrasi Terpimpin yang menjadi unsur kunci adalah kepemimpinan. Setelah mendengarkan pandangan umum dan pandangan yang menentang, pemimpun rapat menyimpulkan pokok-pokok yang dibahas menjadi satu keputusan yang disetujui setiap pihak. Tidak ada pihak yang menang secara mutlak dengan menyingkirkan pihak lain. Hanya kepemimpjnan yang kuat yang mampu memadukan keputusan terakhir, kalau tidak demikian sistem ini tidak akan berjalan.
Sang Pemimpin, apakah dia seorang kepala desa, apakah dia Bung Karno, ataukah dia seorang menteri yang berwibawa, menggabungkan sejumlah pendapat si anu, ditambah sedikit pendapat si polan, dengan selalu memperhatikan untuk menggabungkan berbagai pendapat yang berlawanan. Kemudian dia menyajikan hasil terakhirnya dan berkata, "Baiklah, Saudara-saudara, beginilah jadinya dan saya harap saudara semua setuju..." Ini tetap demokratis, karena setiap orang memberikan pendapatnya. Mengatakan hal ini sebagai sistem komunistis, jelas sangat menggelikan.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Untuk mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi Indonesi di atas mana Undang-Undang Dasar '45 disusun, aku menyarankan musyawarah untuk mufakat, suatu modus operandi yang asli dari suku-suku bangsa Indonesia. Selama beribu-ribu tahun para kepala desa dari Kepulauan Indonesia menjalankan pemerintahan dengan duduk bersama di sebuah dewan, dimana setiap suku itu mengajukan masalahnya melalui alasan-alasan yang menyakinkan. Setelah itu, salah seorang akan berkata, "Alasan saudara memang baik, tetapi aku tetap berfikir lebih baik begini." Yang lain berkata "Saya tidak sepenuhnya setuju, tapi memang ada beberapa hal yang baik dari pendapat Saudara itu." Musyawarah selanjutnya mengambil dari sini dan sana, itulah akhirnya yang disebut mufakat. Singkat kata, setiap orang menyumbangkan suatu pemikiran.
Dalam Demokrasi Terpimpin yang menjadi unsur kunci adalah kepemimpinan. Setelah mendengarkan pandangan umum dan pandangan yang menentang, pemimpun rapat menyimpulkan pokok-pokok yang dibahas menjadi satu keputusan yang disetujui setiap pihak. Tidak ada pihak yang menang secara mutlak dengan menyingkirkan pihak lain. Hanya kepemimpjnan yang kuat yang mampu memadukan keputusan terakhir, kalau tidak demikian sistem ini tidak akan berjalan.
Sang Pemimpin, apakah dia seorang kepala desa, apakah dia Bung Karno, ataukah dia seorang menteri yang berwibawa, menggabungkan sejumlah pendapat si anu, ditambah sedikit pendapat si polan, dengan selalu memperhatikan untuk menggabungkan berbagai pendapat yang berlawanan. Kemudian dia menyajikan hasil terakhirnya dan berkata, "Baiklah, Saudara-saudara, beginilah jadinya dan saya harap saudara semua setuju..." Ini tetap demokratis, karena setiap orang memberikan pendapatnya. Mengatakan hal ini sebagai sistem komunistis, jelas sangat menggelikan.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia




