Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Puthut EA.
Showing 1-23 of 23
“Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya.”
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
“Hidup ini selebar layar tv, jika kita membukanya, lelahku lelahmu tak cukup untuk mengarunginya. Dan jika kita menutupnya tak butuh satu tarikan nafas untuk selesai... untuk sudah.”
― Dua Tangisan pada Satu Malam
― Dua Tangisan pada Satu Malam
“Benar bahwa kamu punya hak untuk mencoba menemukan pengganti perempuan itu. Tapi bukan begitu caranya. Ibarat seorang atlet yang cedera, seharusnya disembuhkan dulu luka itu, baru berlatih lagi dan bertanding lagi. Sebab jika ia terluka dan tetap berlatih serta bertanding, kamu akan semakin terluka, bahkan jika kasus itu sepertimu, bisa melukai orang lain.”
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
“Mengapa kamu beri aku imbalan yang sangat besar untuk kerjaku yang sangat sederhana ini? Sementara aku tahu orang-orang di sekitarmu kamu peras keringat dan pikirannya, kamu lucuti mental hidupnya.”
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
“Kepastian, seburuk apa pun itu, tentu jauh lebih baik dibanding desas-desus.”
― Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh
― Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh
“Lalu datang masa gigil itu. Dingin yang membekap erat tulang punggungku. Memerasnya, memelintirnya sampai kepada rasa sakit yang tak tertanggungkan. Sampai kepada hening yang paling bening. Sampai kepada gunung hijau tinggi. Sampai kepada langit biru tinggi. Sampai kepada pucuk daun lembut tinggi. Sampai kepada aku yang kecil dan terbang. Aku benci kebebasanku. Aku benci kehebatanku. Aku benci orang yang mengagumiku. Aku benci orang yang menerimaku. Aku benci mengapa aku dibiarkan menempuh perjalanan sunyi ini seorang diri.”
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
“Aku benci kebebasanku. Aku benci kehebatanku. Aku benci orang yang mengagumiku. Aku benci orang yang menerimaku. Aku benci mengapa aku dibiarkan menempuh perjalanan sunyi ini seorang diri.”
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
“Ibarat pejalan, aku sudah berjalan terlalu jauh. Melewati hidup dengan semangat hijau dan liar. Tikungan-tikungan patah menjadi saksi. Hinggap dari satu pelukan kekasih ke pelukan kekasih yang lain. Nyaris tidak ada kesulitan untuk mengatakan rasa sayang, dan nyaris tidak ada pula kesulitan untuk mengatakan selamat tinggal. Yang kudatangi menangis dan membuka diri, yang kutinggalkan bisa menerima diri. Semua sayang. Semua sayang. Semua sayang. Bahkan ketika ditinggalkan.”
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
― Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
“Boleh bertujuan, tapi pasti boleh berubah haluan. Boleh berkeyakinan, tapi masih boleh berubah haluan. Setiap perjalanan tidak harus terasa menyenangkan, setiap perjalanan tidak harus berupa petualangan. Sehingga kita tidak perlu bersiap menjadi petualang tangguh, beriman kuat, menjadi pahlawan. Sebab diri ini dicincang banyak hal, maka pasti boleh menjadi plin-plan.”
― Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta
― Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta
“Engkau harus terus mencurigaiku, sebab sebaik-baiknya aku padamu, bisa saja aku sedang berupaya keras mendapatkanmu kembali. Dan jika itu yang terjadi, bisa saja ini adalah sebuah surat cinta untukmu.”
― Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta
― Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta
“Kereta datang. Melompat malas. Mencari kursi dalam gerbong yang nyaris kosong. Senja mulai tua, mendung menambah tua cuaca. Gerimis turun di luar. Dari jendela muram itu bayang-bayang berkelebat. Kota-kota mulai bersolek dengan lampu. Hujan menderas di luar. Kereta semakin cepat. Naik kereta api untuk bisa menangis sendirian. Tangisan sepi.”
―
―
“Laskar Pemimpi, bukan semata-mata mengkritik habis karya Andrea. Tetapi berusaha menyodorkan hasil analisa yang tajam, dari sesuatu yang telah lama tidak disentuh dalam dunia sastra. Menurut hemat saya, Nurhady hanya meminjam novel-novel Andrea untuk menjelaskan apa yang merisaukan hatinya. Nurhady berusaha membersihkan kacamata kita yang telah buram karena terlewat asyik menyimak pandangan-pandangan yang homogen.”
― Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia
― Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia
“Negara itu mirip kondangan makan. Semua makanan sudah disajikan. Orang-orang yang datang duluan menghabiskan semua makanan di sana. Itu pun rebutan. Orang-orang yang datang belakangan, tak kebagian.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Pada dasarnya mereka lebih pengecut dari aku. Cuma mereka lebih bisa membungkusnya dengan bahasa yang katanya puitis, dengan lagu-lagu, dengan lukisan-lukisan. Aku tak pernah tertarik mendengarkan lagu. Itu hanya sekadar orang memanjangkan dan memendekkan kata-kata, lalu diiringi dengan tetabuhan, dan kadang diberi kata-kata tak jelas macam: duuu, duuuu, duuuu, duuuuu ...”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Orang menyebutnya 'budayawan'. Sebagian anak muda bilang 'aktivis tua'. Tapi bagiku, dia adalah orang biasa yang terlalu banyak membaca buku dan berlatih bicara di depan banyak orang.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Selebihnya, aku berpikir bahwa masyarakat terlalu pengecut. Membiarkan semua kebobrokan ini terjadi dan mereka diam saja. Hanya mencatat di pikiran. Hanya membatin. Marah dalam diam. Akhirnya banyak yang kena penyakit strok, asam lambung, dan sakit gigi.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Hidup melakonkan kisahnya dalam guratan-guratan yang kadang tidak gampang untuk ditengarai, tidak selalu dalam batas hitam putih yang begitu jelas.”
― Isyarat Cinta yang Keras Kepala: Album Prosa
― Isyarat Cinta yang Keras Kepala: Album Prosa
“Sungguh, kuyakini bahwa hidup ini belum berlangsung sekaligus melandasiku perasaan bahwa jika toh akan berlangsung sudah tidak ada yang menarik lagi.”
― Sarapan Pagi Penuh Dusta: Kumpulan Cerpen
― Sarapan Pagi Penuh Dusta: Kumpulan Cerpen
“Aku tak membantah omongannya. Karena aku tak perlu tidak setuju dengan pendapatnya. Aku tak tahu apa guna setuju dan tidak setuju dengan pendapat orang. Bagiku, keduanya tak ada gunanya. Atau mungkin tak penting. Atau mungkin tak perlu dipikirkan.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Orang buruk tidak harus lahir dari keluarga buruk. Kamu harus tahu itu.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Para sastrawan lebih tak masuk akal lagi. Mereka mencari ide, menulis berlembar-lembar, mau bilang sesuatu harus berputar-putar. Mau bilang kalau kamu jelek, harus menggambarkan segala sifat, tingkah laku, dan segala tetek bengek. Mereka memanjangkan apa yang pendek.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Kita semua pengecut. Pengecut dan membungkus kepengecutan dengan segala kata yang memualkan seperti demokrasi, aspirasi, musyawarah, kebijaksanaan, dan lain-lain.”
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
― Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya
“Aku ingin bangun dari hidup yang kacau, tapi bukan untuk hidup yang tenteram.”
― Isyarat Cinta yang Keras Kepala: Album Prosa
― Isyarat Cinta yang Keras Kepala: Album Prosa




