Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Armijn Pane.
Showing 1-3 of 3
“Kalau hendak membuat api, dengan dua potong kayu, janganlah diperpukulkan, karena maksudmu tidak akan kesampaian. Jangan potong-potong, tapi pergosok-gosokkan dengan perlahan-lahan… Jangan dengan angkara murka, hendaklah dengan sabar juga. Sabar, bukan tanda kalah, melainkan tanda seimbang, tanda sama tengah yang sejati, pangkal mula kehidupan yang benar.”
― Belenggu
― Belenggu
“Engkau tiada tahu, siapa aku, Tono, siapa aku dahulu."
"Apa perlunya aku tahu siapa engkau dahulu?"
Dia terhenti. Benarkah katanya itu? Benarkah tiada suka mengetahui siapa dia dahulu?
"Tono, engkau bimbang. Zaman dahulu hendak kau ketahui juga. Tono, tidak semua zaman dahulu merusuhkan hati, tidak semua tiada baik diingat, tapi ada jua yang seolah-olah bintang pagi bersinar-sinar dalam hati.”
― Belenggu
"Apa perlunya aku tahu siapa engkau dahulu?"
Dia terhenti. Benarkah katanya itu? Benarkah tiada suka mengetahui siapa dia dahulu?
"Tono, engkau bimbang. Zaman dahulu hendak kau ketahui juga. Tono, tidak semua zaman dahulu merusuhkan hati, tidak semua tiada baik diingat, tapi ada jua yang seolah-olah bintang pagi bersinar-sinar dalam hati.”
― Belenggu
“Kamu anak-anak muda zaman sekarang tidak mengenal sabar. Hendak buru-buru saja. Hendak dynamisch, katamu. Manakah bedanya dynamisch dan statisch? Statisch ialah dynamisch yang sebenar-benarnya, yang sejati. Intellect katamu, itulah yang paling tinggi, kamu lupa, banyak perkara yang tiada dapat dipahamkan dengan intellect, dapatnya dengan intuitie semata-mata. Ilmu, wetenschap, logica, kamu sembah-sembah, kamu pandang tinggi dan semangat. Apakah ilmu yang kamu pelajari, ilmu kedokteran itu, tidak menghubungkan rahasia alam manusia, sebagai pangkal ilmu pengobatan. Kamu hendak memakai barang apa yang terlihat oleh mata, lainnya kamu pandang bohong belaka, yang hanya dapat dipandang oleh semangat, kamu hinakan.”
― Belenggu
― Belenggu




