Discover new books on Goodreads
See if your friends have read any of Armijn Pane's books
Armijn Pane
Born
in Muara Sipongi, Sumatera Utara, Indonesia
August 18, 1908
Died
February 16, 1970
Genre
|
Habis Gelap Terbitlah Terang
|
|
|
Belenggu
—
published
1940
—
7 editions
|
|
|
Kisah Antara Manusia
—
published
1953
|
|
|
Gamelan Djiwa
—
published
1960
|
|
|
Djalan Sedjarah Dunia
—
published
1951
|
|
|
Mentjari Sendi Baru Tata Bahasa Indonesia
|
|
|
In Fesseln: Roman
by |
|
|
The production of playfilms in Indonesia
|
|
“Kalau hendak membuat api, dengan dua potong kayu, janganlah diperpukulkan, karena maksudmu tidak akan kesampaian. Jangan potong-potong, tapi pergosok-gosokkan dengan perlahan-lahan… Jangan dengan angkara murka, hendaklah dengan sabar juga. Sabar, bukan tanda kalah, melainkan tanda seimbang, tanda sama tengah yang sejati, pangkal mula kehidupan yang benar.”
― Belenggu
― Belenggu
“Engkau tiada tahu, siapa aku, Tono, siapa aku dahulu."
"Apa perlunya aku tahu siapa engkau dahulu?"
Dia terhenti. Benarkah katanya itu? Benarkah tiada suka mengetahui siapa dia dahulu?
"Tono, engkau bimbang. Zaman dahulu hendak kau ketahui juga. Tono, tidak semua zaman dahulu merusuhkan hati, tidak semua tiada baik diingat, tapi ada jua yang seolah-olah bintang pagi bersinar-sinar dalam hati.”
― Belenggu
"Apa perlunya aku tahu siapa engkau dahulu?"
Dia terhenti. Benarkah katanya itu? Benarkah tiada suka mengetahui siapa dia dahulu?
"Tono, engkau bimbang. Zaman dahulu hendak kau ketahui juga. Tono, tidak semua zaman dahulu merusuhkan hati, tidak semua tiada baik diingat, tapi ada jua yang seolah-olah bintang pagi bersinar-sinar dalam hati.”
― Belenggu
“Kamu anak-anak muda zaman sekarang tidak mengenal sabar. Hendak buru-buru saja. Hendak dynamisch, katamu. Manakah bedanya dynamisch dan statisch? Statisch ialah dynamisch yang sebenar-benarnya, yang sejati. Intellect katamu, itulah yang paling tinggi, kamu lupa, banyak perkara yang tiada dapat dipahamkan dengan intellect, dapatnya dengan intuitie semata-mata. Ilmu, wetenschap, logica, kamu sembah-sembah, kamu pandang tinggi dan semangat. Apakah ilmu yang kamu pelajari, ilmu kedokteran itu, tidak menghubungkan rahasia alam manusia, sebagai pangkal ilmu pengobatan. Kamu hendak memakai barang apa yang terlihat oleh mata, lainnya kamu pandang bohong belaka, yang hanya dapat dipandang oleh semangat, kamu hinakan.”
― Belenggu
― Belenggu



















