Ida Fitri
Goodreads Author
Member Since
February 2015
|
Paya Nie
—
published
2024
—
2 editions
|
|
|
Berita Kehilangan
by
—
published
2021
|
|
|
Neraka yang Turun ke Kebun Kelapa
|
|
|
Cemong: Kumpulan Cerpen
—
published
2017
|
|
|
Subuh yang Paling Sunyi
by
—
published
2015
|
|
|
Melukis Ka'bah
by
—
published
2014
|
|
|
Jarak Cinta
by
—
published
2015
|
|
|
Lelaki Pelangi
—
published
2015
—
2 editions
|
|
|
Air Mata Shakespeare
|
|
|
Air Mata Shakespeare
|
|
Ida’s Recent Updates
|
"Kisah 4 perempuan yang terjebak diantara konflik gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan TNI dibawah perintah Ibu Presiden yg merupakan putri dari seorang Bapak Presiden negara induk, memberikan aku banyak gambaran di PAYA NIE, sebuah rawa. Ya! "
Read more of this review »
|
|
|
"Menurut carian saya di Internet, Paya Nie terletak di Bireuen, Aceh, Indonesia. Dalam novel ini, ia menjadi medan pertempuran antara orang GAM (Gerakan Aceh Merdeka; sebuah gerakan Aceh dari tahun 1976 hingga 2005 (selepas Aceh dilanda tsunami yang d"
Read more of this review »
|
|
|
""
...perempuan seperti tidak punya ruang untuk memiliki rasa takut. Itu harus dilakukan untuk melindungi keselamatan para suami, ayah anak-anak mereka.
"
Saya selalu menyukai fiksi sejarah, dan akan selalu membeli buku fiksi sejarah manapun yang hi" Read more of this review » |
|
|
"Ketika terjadi "pemberontakan" di sebuah daerah, sebenarnya siapa yang paling terdampak?
Pihak pemerintah? Pemberontak? atau... warga desa yang tidak ada kaitannya sama sekali? Ini menjadi amat menyesakan ketika ternyata hal ini benar-benar terjadi dan" Read more of this review » |
|
|
Ida Fitri
wants to read
|
|
|
Ida Fitri
wants to read
|
|
|
Ida Fitri
rated a book really liked it
|
|
|
Ida Fitri
rated a book really liked it
|
|
|
Ida Fitri
rated a book really liked it
|
|
“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi”
―
―
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
―
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
―
“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”
― Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
― Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara






























