Suhendi Pusap's Blog

January 24, 2017

Mijon, Mijon

Hidup di Indonesia adalah hidup dalam ketidakteraturan, termasuk dalam hal naik bus. Aku harus bangun pagi dan menunggu kapan bus akan berangkat atau tiba, kadang jam 7 kadang jam 9. Aku jadi mengurangi kepercayaan pada terminal. Mereka ramai menanyakan tujuanku seakan aku adalah anak hilang. Sukabumi, A? Rambutan, Rambutan? Cililitan? Priuk? Grogol? Tapi ketika kujawab dengan nama tujuan yang berbeda, mereka sudah tak tertarik lagi dengan siapa aku.

Ketika sudah naik, aku akan berdoa semoga tidak ada copet, semoga tidak macet, semoga tidak tabrakan, semoga tidak mogok atau AC-nya mati. Biasanya aku sedikit merasa tentram setelah mengirim pesan kepada ibuku bahwa aku baru berangkat dan akan tiba sore hari.

Di dalam bus berlalu lalang penumpang yang baru masuk, pengemis, dan pedagang. Di Pasar Rebo, di Terminal Subang, juga di Leuwi Panjang. Yang masuk mencari-cari kursi kosong, inginnya sendiri-sendiri – duduk lalu tidur sambil mendengarkan musik. Pengemis berbeda rupa: yang fisiknya kurang beruntung; yang menyanyikan lagu sedih; atau yang mengancam dengan kata-kata halus. Pedagang segala keperluan: obat masuk angin, power bank, air minum, atau tahu Sumedang.

Aku mengangguk mengatakan tidak. Aku mengeluarkan uang recehan. Aku melihat ke luar jendela mendengarkan musiknya yang terseok-seok. Aku akan mengingat suara-suara itu sayup-sayup:

“Assalamu ‘alaikum, shodaqohnya..”
“Ya. Hati-hati barang bawaannya. Ya. Dari pada mencuri.”
“Boleh untuk oleh-oleh. Lima ribu saja.”
“Ini lagu terakhir. Atau kalau ada request boleh.”
“Aqua. Mijon, Mijon.”

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on January 24, 2017 16:14

August 25, 2016

Kegagalan

“Gagallah dalam segala hal, kecuali kematian.”

Dari kemarin aku menghitung-hitung jumlah dan jenis kegagalan yang pernah menimpaku. Dari yang sepele seperti “Gagal menyembunyikan rasa malu saat sepatuku tak sebagus punya teman-temanku” sampai yang menurutku penting seperti “Gagal dapat beasiswa ke luar negeri” – meskipun bila kuingat sekarang jadi tak penting. Mungkin aku akan menuliskannya dalam daftar riwayat hidupku (atau batu nisanku – “Here lies a man who has failed on:”). Barangkali akan kuceritakan pada anak-cucuku kelak dan aku akan sedikit merasa bangga karena telah gagal dalam banyak hal, seperti:

1. Gagal Cerdas Cermat 1 - SD
2. Gagal Cerdas Cermat 2 - SMP
3. Gagal lomba lari - SD
4. Gagal Siswa Teladan 1 - SD
5. Gagal Siswa Teladan 2 - SMA
6. Gagal lomba catur 1 - SD
7. Gagal lomba catur 2 - SMA
8. Gagal Debat Bahasa Inggris 1 - SMA
9. Gagal Debat Bahasa Inggris 2 – SMA
10. Gagal Cerdas Cermat Kimia - SMA
11. Gagal Olimpiade Kimia - SMA
12. Gagal Olimpiade Matematika 1 - Kuliah
13. Gagal Olimpiade Matematika 2 - Kuliah
14. Gagal lomba cerpen - SMA
15. Gagal lomba cerpen - Kuliah
16. Gagal lomba essay - Kuliah
17. Gagal test USM-ITB – SMA
18. Gagal mata kuliah/mengulang - Kuliah
19. Gagal beasiswa ke luar negeri - Kuliah
20. Gagal menerbitkan buku - Kuliah
21. Gagal memuat tulisan di koran
22. Gagal buka kartu kredit
23. Gagal pinjaman Tanpa Agunan
24. Gagal kredit TV
25. Gagal melamar kerja (1,2,3, dst.)
26. Gagal buka usaha (1,2,3, dst.)
27. Gagal lomba presentasi (1,2,3, dst.)
28. Gagal dalam Cinta (1,2,3, dst.)
29. Dst. – yang tak usah kutulis di sini.

Setelah melihatnya diam-diam aku menginginkan kegagalan yang lebih besar lagi, yang lebih menantang. Barangkali aku harus membangun sesuatu dari nol, membesarkannya, lalu gagal berantakan. Bangun lagi, gagal lagi. Bangun lagi, gagal lagi. Sampai seribu kegagalan lagi, aku akan bangkit seribu kali lebih lagi.

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on August 25, 2016 07:54

June 23, 2016

Pohon

Dari sekian juta jenis pohon di dunia ini, hanya sedikit yang pernah kujumpai, kukenali, dan kuketahui namanya. Pohon mangga aku tahu, tapi kalau di jalan melewati pohon-pohon lain, aku kesulitan menebak namanya. Apakah itu pohon trembesi, pohon mahoni, damar, atau apa. Apalagi katanya beberapa pohon sudah punah seperti Cosmos Atrosanguineus.

Pengetahuanku pada nama-nama pohon itu mendekati pengetahuanku akan banyak hal: dangkal cuma di kulit. Tak ada wilayah keilmuan yang benar-benar kupahami. Aku bisa bicara banyak (teori relativitas waktu, ekonomi dunia, sejarah perang, film dan literatur, tokoh penemu, raja-raja zaman dulu, sepak bola sedikit, industri digital, mekanika kuantum, dll.), tapi dangkal saja. Hanya sedikit orang yang kukenal yang punya pemahaman mendalam akan satu topik. Kebanyakan dari mereka dangkal-dangkal juga. No real knowledge.

Hal tersebut tercermin dalam komentar banyak hal di social media. Kebanyakan (termasuk aku sendiri) ahli membagi-bagi berita, tanpa benar-benar paham duduk perkaranya. Atau tiba-tiba jadi ahli hanya ketika ada isu itu saja. Si A meninggal, langsunglah komentar ini itu. Kasus X muncul, keluarlah segenap analisisnya. Sedangkan hanya sedikit yang bisa buat opini di koran, artikel mendalam, atau membuat bukunya.

Hal ini penting karena kebayakan yang muncul dari mulut-mulut itu ibarat sampah: dikerubuni lalat sebentar lalu terkubur dalam tanah. Padahal, jika benar-benar tahu, kata-kata yang keluar akan bijak dan mencerahkan - dan diingat selama-lamanya. Pantas saja dikatakan: Speak only if it improves upon the silence (Mahatma Ghandi kalau tak salah). Berkatalah yang baik dengan kata-kata yang baik.

Karena kata-kata yang baik itu ibarat pohon lebat, berakar kuat, bercabang dan berdaun rindang, berbuah manis, dan manfaatnya bisa dirasakan sampai bergenerasi-generasi. Dulu di kampungku ada pohon manggis. Setiap musim anak-anak kampung selalu memanjatinya. Ada juga pohon belimbing, malaka, kupa, kesemek, huni, dan lain-lain. Entah siapa yang menanam, tapi aku merasakan manfaatnya.

***

Menurut riwayat, ketika Nabi Adam diajari nama-nama setiap benda di alam semesta, dari jenis batuan, jenis galaksi, nama tersebut termasuk semua nama pohon. Meskipun nomenclature sekarang menamai padi sebagai seperti Oryza Sativa, Beliau tahu namanya dalam Bahasa waktu itu. Bahkan Beliau sudah tahu nama-nama manusia yang akan lahir ke dunia sampai akhir dunia. Dia sudah tahu namaku dan namamu meskipun belum pernah bertemu.

Itulah kenapa ketika belakangan banyak yang bertanya apa aku sudah punya calon atau belum (jawabannya memang belum), aku tidak khawatir. Toh nama kita sudah tercatat di dalam kitab bernama Lauhul Mahfudz, jauh sebelum pohon-pohon dan alam semesta diciptakan.
 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on June 23, 2016 05:26

June 17, 2016

Indonesia Terombang-Ambing Dalam Arus Global

Tahun 1952 pemerintah mencetak uang 1 sen bertulisan Arab. Tahun 2016 ini penamaan acara dan tempat banyak yang pakai Bahasa Inggris: Islamic Centre, Farm House Lembang, Gathering, Join Us Now, dan seterusnya. Bahasa Indonesia sendiri sebagai lingua franca harus menyesuaikan diri dengan memasukkan kosa kata baru ke dalam kamus besarnya, seperti unggah, ketaksaan, atau marka kejut.

Hal tersebut merupakan indikasi posisi Indonesia: mengikuti setiap arus global kemanapun ia pergi. Jika suatu saat di tahun 2050, misalnya, trend global ditentukan oleh China, bisa jadi huruf-huruf China akan menggantikan penamaan tempat. Hal ini agak berbeda dengan Jepang yang tetap mempertahankan kepribadiannya. Dari pada menamai daerah dengan bahasa asing, mereka memilih menempatkan dua bahasa sekaligus dalam suatu marka.

Ketika pasar bebas menjadikan warga Indonesia semakin memiliki akses pada arus perdagangan sementara jati diri atau kualifikasi tenaga kerja secara umum masih di bawah negara tetangga, dapat dipastikan Indonesia akan semakin ikut-ikutan dan menjadi sasaran empuk pemilik modal. Indikasinya dapat dilihat dari penggunaan smartphone. Atau kalaupun nanti Indonesia maju sampai bisa membuat jalan tol dari mas dan berlian, besar kemungkinan masih ada yang buang sampah sembarangan. Ketika Malaysia mengakui beberapa aset budaya sebagai miliknya, Indonesia kebakaran jenggot.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena bangsa Indonesia tidak memiliki identitas yang kuat sebelum membuka diri ke dunia luar.

Identitas yang kuat (strong identity) hanya bisa dibentuk dalam sistem tertutup (closed system). Pesantren, misalnya, menerapkan sistem tertutup dengan ajaran agamanya. Orang keluaran pesantren akan memiliki ciri khas. Tentara dengan bela negara dan latihan fisiknya. Korea Utara dengan segala propagandanya. Atau Jepang semasa Tokugawa sebelum negara barat masuk.

Generasi 2000 belajar dari sistem terbuka dengan internet dan social media sebagai katalisator utama. Perubahan terjadi, misalnya, ketika adzan maghrib berkumandang, dulu anak-anak mengaji di surau, sekarang masih sibuk dengan handphone atau masih di jalanan. Gerhana matahari total di Indonesia di tahun 1983, rezim yang berkuasa menerapkan rasa takut massal. Bandingkan dengan tahun 2016 saat orang berbondong-bondong dengan teropong dan time-lapse-nya.

Dengan semakin terbukanya Indonesia ke dunia global (Facebook, Pesawat LCC, MEA), semakin sulit bagi Indonesia untuk mempertahankan identitas. Itupun dipertanyakan, identitas yang mana? Identitas apa yang harus kita pertahankan dalam arus global ini? Gotong royong, bertutur santun, saling menolong? Di daerah terpinggir nilai-nilai lama masih tersisa (meskipun sudah tergerus). Biasanya di daerah tertutup oleh bentang alam, seperti sungai, sawah, perbukitan, atau laut. Usaha di era digital dengan situs fundraising untuk gotong royong atau mengirim guru ke daerah terpencil.

Sistem tertutup terlama yang pernah Indonesia alami adalah masa Hindia Belanda dengan identitas yang terbawa: rendah diri, cari muka ke pejabat, fitnah sana-sini. Kemudian segalanya menjadi terbuka setelah reformasi tanpa sempat membentuk kepribadian atau identitas yang kuat tahan banting di segala arus.

Bisakah nanti kita menjadi bangsa yang kuat sejak dari kepribadian dan identitas?
 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on June 17, 2016 01:52

May 13, 2016

Kopi

Biji kopi sehabis dipilah itu indah rupanya. Bulat hijau agak hitam mengkilat dan harum serbuk tumbukan. Inilah biji yang dijual ke bandar kopi, dijual ke pabrik, dibungkus berbagai merek, dan disajikan di mejamu setiap pagi.

Dulu aku punya kebun kopi, meski tak banyak – kurang dari setengah hektar di lahan pajakan desa. Jaraknya 90 menit perjalanan kaki dari rumah ke hutan Subang selatan. Aku tak tahu jenis kopi apa yang ditanam, Arabica, Robusta, atau Liberika. Hanya saja pohonnya tinggi seperti tanaman hutan pada umumnya. Sampai tahun 2000 bapak dan ibukku masih sering merawatnya, terutama menjelang musim panen setiap Mei-Agustus. Sekarang dibiarkan telantar karena sudah tidak begitu produktif dan harganya kurang menguntungkan.

Di kampungku kopi sebatas hasil hutan untuk bertahan hidup. Tapi kulihat di kota-kota kopi ini begitu hebat sampai jadi seni. Espresso, black coffee, Starbucks, barista, dan sederet istilah lain yang tak kan pernah didengar petani kopi.

Paling puncak, kopi pernah jadi tumpuan utama para petani selain padi. Jika musim panen tiba, di setiap halaman warga bertebaran jemuran kopi dalam terpal/gelaran. Sebelum ada mesin giling kopi, warga secara manual menumbuk kopi basah pakai alu dan lisung/jubleg untuk memecah bijinya, lalu dijemur untuk mengeringkan kulitnya. Setelah kering, ditumbuk lagi untuk dipilah bijinya saja. Kulitnya biasanya dijadikan pupuk di sawah. Proses petik-tumbuk-jemur-tumbuk-pilah ini memakan waktu cukup lama dan menguras tenaga.

Umurku baru 8 tahun ketika ikut-ikutan mengurus kopi. Memanen satu komplek hutan bersama warga lainnya. Sampai di rumah biasanya aku memisahkan sekira 10 kg, kutumbuk sendiri dan kujual sendiri. Dulu harganya 3 ribu rupiah sekilo. Senangnya minta ampun. Sejak moneter tahun 1998 harganya tak pernah benar-benar pulih. Makanya dibiarkan bergulma dan dipanen saat berbuah cukup banyak saja.

Nenekku pernah sekali kulihat menumbuk kopi sampai bisa diseduh. Biji hasil pilahan disangrai sampai hitam, ditumbuk manual sampai halus, lalu diseduh air panas. Wangi kopi khas. Dicampur gula aren kalau mau manis. Tapi tak seeksotis di film-film atau di iklan TV. Rasanya pahit manis. Mirip kehidupan pada umumnya.

***

Dari harum kopi yang kau nikmati setiap pagi itu, ada cerita para petani baliknya: susah payah merawat, berangkat subuh-subuh memetik, keringat saat menumbuk dan menjemur, dan cinta saat memilah bijinya yang bulat mengkilat.

Mungkin itu terlalu rumit. Bagaimana kalau minum kopi untuk santai saja, sambil kita bercerita kesana-kemari. Dari hal-hal yang tak penting sampai rencana menaklukan dunia, tentang rumah tangga dan segala tek-tek bengeknya, buku-buku yang sulit dimengerti, pertualangan di pantai dan di hutan, atau tentang musim kemarau yang tak kunjung usai dan musim hujan yang tak kunjung datang.

Mau?

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on May 13, 2016 22:03

May 11, 2016

Penunjuk Jalan

Bukan sekali dua kali, sering sekali orang bertanya arah saat aku jalan kaki. Dikiranya wajahku ini Waze. Tetapi aku selalu senang membantu. Kukatakan, “Oh, kalau ke sana belok kiri, terus ada perempatan, lurus saja. Nanti pom bensin sudah dekat kok. Kalau nyasar, tanya lagi aja, hehe.” Itu pun kalau aku benar-benar tahu. Kalau ragu, pakai jurus pamungkas orang Jakarta, “Wah, saya baru di sini, Mas. Jadi kurang hafal.”

Di Bandung aku sering jalan kaki dari kosan ke kampus. Ada yang bertanya Jalan Cihampelas, ada yang bertanya Holiday Inn, Dago Pakar, dan lain sebagainya. Seringnya kujawab dengan benar. Di Jakarta pernah ada yang bertanya jalan ke Tangerang, kujawab mantap, “Lewat sini, Pak. Nanti masuk tol saja.” Aku pun melanjutkan jalan pulang ke kosan. Beberapa langkah aku baru ingat, yang itu jalan satu arah, jadi dia tidak bisa lewat sini, harusnya putar balik ke jalan sana, baru masuk tol. Ah, sudahlah, kupikir, paling dia tanya ke orang lain lagi nanti.

Jalan di pedesaan lain lagi, harus hati-hati. Bertanya ke bapak-bapak yang sedang berjalan di pinggir sawah, biasanya dijawab, “Oh di depan, Pak. Sudah dekat, lurus saja.” Sudah dekat berarti 5 km, lurus saja berarti naik-turun bukit bolak-belok jurang.

Tanya-tanya jalan ini ada seninya dan malu bertanya sesat di jalan ini memang benar adanya. Kalau aku yang tersesat, kadang malu bertanya. Maka sebelum berangkat ke manapun aku selalu rencanakan sebaik-baiknya. Ke barat kah, belok kah, seberapa jauh, seberapa menit. Meskipun kalau sudah mentok, ya tanya juga ke abang-abang penjaga jongko pinggir jalan, tukang dagang gerobak, atau satpam. Sering dijawab benar, sering juga dapat jurus pamungkas. Pakai teknologi aplikasi peta dan petunjuk arah cukup membantu di kota besar. Pintar lagi. “In one hundred meter, turn left. Turn left.” Meski perlu diperbaiki karena beberapa jalan ternyata buntu, sempit, atau belum di-update, jadinya tetap tersesat.

Bagiku pribadi, aku selalu merasa senang sekali ketika memberikan petunjuk arah yang benar. Bisa mengurangi kekhawatiran orang lain, menyelamatkan yang tersesat: Door Duisternis tot Licht.

***

Untuk setiap titik koordinat di alam semesta ini, pasti ada jalan menuju ke arahnya. Dan dari semua jalan yang pernah kulalui, semuanya mudah saja: lurus, tanjakan, turunan, belok kiri, belok kanan, forboden, satu arah, atau putar balik. Yang sulit adalah jalan ke hati - tak punya koordinat dan tak ada petanya.

Tunjukkanlah aku jalan ke hatimu.

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on May 11, 2016 16:44

May 7, 2016

Sol Sepatu

: as requested

Pagi hari kutemui seorang bapak tua di pojok pasar Simpang Dago. Ia adalah seorang tukang sol sepatu. Sepatuku menganga bagian depan karena kehujanan, lemnya tak bisa diandalkan. Sering kutemukan tukang sol sepatu keliling komplek, tak pernah sekalipun kuhiraukan. Hanya perasaan yang sering muncul ketika berpapasan dengan mereka: sedikit iba dan lucu. Iba karena kukira mereka miskin, berjalan kaki belasan kilometer, dan belum makan siang. Lucu karena suaranya yang khas: Sool Pattu! – untuk mengabarkan kepada penghuni komplek bahwa dirinya hadir. Baru kali ini malah aku sendiri yang mencari-carinya. Dan perasaan yang muncul: tolonglah aku, Pak!

Sepatuku dibuatnya bagus lagi seharga 15 ribu sepasang. Mahal nian. Kukira tukang sol ini cerdik. Pangsa pasar sudah terbukti, proven market: generasi yang menganggap benda rusak masih bisa diperbaiki dan layak digunakan. Atau generasi yang tak mampu beli barang bagus tapi ingin tahan bertahun-tahun. Aku sendiri diajari pupuh Asmarandana dalam bait yang memuat ”…mun soek geuwat kaputan” (kalau sobek, cepat jahit). Benda-benda yang kita miliki adalah pendukung hidup, rawat dan hormati, tapi jangan mencintainya berlebihan. Tapi ya mana bisa kularang-larang kalau yang mampu beli sepatu sehari satu, rezeki.

Yang dijual tukang sol sepatu umumnya adalah jasa jahit sepatu sobek atau renggang dengan benang sol. Ada yang keliling perumahan, ada juga yang buka lapak seperti bapak pasar Simpang Dago. Modalnya benang sol dan jarum khas penusuk/penjahit sol. Sol sepatunya sendiri bisa dijadikan pengganti kalau sepatu yang diperbaiki perlu ganti sol, mungkin jarang. Kalau kau lihat mereka (meskipun biasanya sendiri sesuai wilayah kekuasaan?), sol-sol sepatu itu ditanggung menumpuk di atas wadah kotak kayu kecil, pakai penanggung terbuat dari bambu agak tipis sehingga berayun-ayun seiring langkah.

Dan muncullah suara khas “Sool Pattu!” itu interval 5-10 langkah – tak keseringan tapi tak kelamaan, cukup untuk seluruh penduduk mendengar. Seperti halnya suara-suara tukang dagang lain. Di Subang ada mie “Tek Tek!” dari suara sendok memukul ketel – efektif semua orang langsung tahu. Di Mampang ada tukang sate pakai klakson panjang, “Toot”. Ada yang pake rekaman seperti “Sari Roti, roti Sari Roti” dan jingle eskrim Wall’s “Nee no neng, nee no neng!”

Sesudahnya aku tak pernah berurusan lagi dengan tukang sol sepatu. Hingga suatu ketika ada yang membaca tulisanku dan meminta menuliskan tentang sol sepatu. Kenapa tidak, pikirku, untuk mengisi waktu senggang sekalian menguji kemampuanku menulis – maka hadirlah tulisan ini. Namun tak disangka jadinya aku memahami satu hal:

Di dunia ini ada jenis orang yang bertahun-tahun tak dipedulikan, tapi tiba-tiba menjadi begitu penting bagi kita. Ada juga orang yang cuma kau temui sekali, tapi memberikan manfaat bertahun-tahun kemudian. Ada juga yang bertahun-tahun menunggu tapi tak pernah kau temukan.

“Sool Pattu!”

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on May 07, 2016 06:54

April 22, 2016

Cermin

Kalau di dunia tidak ada cermin, aku akan menganggap wajahku ini ganteng. Soalnya ketika mencoba melihat muka sendiri tanpa cermin, mata akan menangkap ujung hidung sedikit, pipi buram, paling lidah kalau dijulurkan. Tak ada yang salah. Senyum pun terasa manis karena murni dari dalam hati dan mengira orang lain juga merasakan auranya. Kalau melirik atau menatap orang lain juga merasa teduh atau jeli, seakan memancarkan rasa peduli, rasa ingin tahu, atau berbinar-binar penuh cinta. Pokoknya ganteng lah.

Tapi sayangnya ketika berkaca, agak berbeda. Bibirku agak lebar dan gigiku kurang rapi (orang tuaku mana tahu aturan 6 bulan sekali ke dokter gigi) – sehingga ternyata saat senyum terlihat kaku. Alisku  patah di ujung. Ada kerutan di pojok mata. Mata agak sayu. Hidung lumayan sih. Dan dari samping terlihat cameuh. Pokoknya beda lah.

Kemudian aku tersadar. Banyak hal yang kukira dengan kuat bersifat begini, padahal kenyataanya berlainan. Aku merasa sudah baik, ternyata masih perlu memperbaiki diri. Tapi apakah kenyataan bahwa aku tidak seganteng yang kukira itu akan membuatku berhenti tersenyum tulus dan memberikan tatapan berbinar simpati? Tidak. Aku akan terus memperbaiki diri dalam segala rupa. Dan bisa jadi, aku akan mengukur nilai seseorang dari sejauh mana ia menjadikanku orang yang lebih baik.

Bagi orang-orang ganteng dan cantik rupa, kukira cermin adalah sahabat terbaik. Kalau lagi sedih putus cinta, tinggal lihat kaca, langsung terobati karena wajah masih cakep bisa dapat pacar baru dengan mudah. (Bagi orang jelek makin sedih). Kecuali mungkin bagi cewek yang sedang diet, lihat cermin jadi pengen banting kiloan. Atau kalau kita bertingkah aneh, orang bilang, “Ngaca dong..!” Narcissus pun bisa berlama-lama memandangi dirinya dalam bayangan air kolam.

Pernah kubaca ada seorang mulia di mata penduduk langit yang dipandang sebelah mata oleh seorang manusia hanya karena wajahnya kurang bagus. Kemampuan menangkap citra yang tepat dari seseorang sunguh sungguh sulit. Respon orang sekitar adalah cermin dari kepribadian kita. Siapa yang mampu melihat ke dalam hati? Karena yang paling bahaya adalah yang berwajah manis tapi berhati busuk.

***

Hebatnya di dunia ini ada benda tembus pandang dan bisa memantulkan cahaya. Kita bisa membuat jendela kaca untuk melihat keluar, pemandangan di balik pesawat atau rintik-rintik hujan di beranda. Bisa buat kaca spion agar bisa melihat ke belakang. Dibuat cermin di lemari untuk berdandan. Dibuat teleskop untuk mengamati galaksi berjarak 2.2 juta tahun cahaya. Mikroskop untuk mengamati objek 0.2 micrometer. Cermin satu sisi dan kaca tembus pandang di sisi lain (seperti ruang interogasi). Kacamata rabun jauh. Kaca anti peluru. Dan air danau yang bening tenang terhampar memantulkan lembayung sore di langit musim gugur.

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on April 22, 2016 08:10

February 20, 2016

Adikku

4 tahun lalu adikku lahir prematur. Saat ini 40 dokter dan staf terlibat dalam pengobatannya. Prematur dalam arti: satu, ibuku mengandungnya di usia 40 tahun (tak direncanakan), terpaut 20 tahun lebih denganku (sudah kuberi tahu agar hati-hati, minum susu tapi tak banyak membantu, pernah jatuh di pematang sawah meski tak kenapa-napa); dua, lahir di usia kandungan 8 bulan; tiga, saat lahir susah keluar karena kaki duluan; tiga, setelah lahir ada benjolan di pundak (yang kemudian kutahu itu Tortikolis, urat kaget saat lahir); empat, seminggu setelah lahir terkena penyakit kuning (karena lahir di bidan tanpa disinari); lima, beberapa bulan kemudian terkena hernia – 3 kali diobati tradisional belum sembuh; enam, air susu kanan ibuku tak keluar, hanya sebelah kiri, sehingga adikku selalu tidur menyebelah ke kanan, sehingga kepalanya pipih sebelah kanan; tujuh, di usia 2 tahun baru diketahui adikku terkena Cerebral Palsy (CP), gangguan saraf motorik sehingga susah bergerak; delapan dan seterusnya komplikasi dari CP: matanya yang kurang reponsif, belum bisa jalan, susah menelan makan – berat badan di bawah normal, dan belum bisa memegang benda;

Dirawat di Rumah Sakit sudah 4 kali: pertama saat kena kuning, kedua saat diagnosis CP, ketiga saat komplikasi, dan keempat saat aku menulis ini adikku sedang dirawat karena diare yang berujung komplikasi juga sehingga dirawat seluruh badannya. Perawatan pertama dan kedua dilakukan di RSUD Subang. Kemudian dengan berbagai pertimbangan (seperti jarak rumah-RSUD 30 km, pulang pergi berobat biasanya membuat adikku tambah sakit karena di jalan kejauhan), akhirnya meminta rujukan untuk dirawat di RSHS Bandung (sewa kosan berjarak 300 meter dan aku bisa pulang seminggu sekali dari Jakarta) sehingga perawatan ketiga dan keempat terjadi di RSHS.

Kuceritakan di sini agar aku sendiri bisa memahami sebaik-baiknya.

Saat ibuku mengandung sampai lahiran, aku sedang bekerja di luar jawa. Awalnya senang sekali akan punya adik, tak sabar ingin segera pulang. Tapi di minggu-minggu pertama, adikku dirawat karena kuning. Hanya bapak dan ibuku (dan tetangga) yang mengurus semuanya. Aku meminta bantuan kawan yang ibunya dokter berpengaruh di RSUD Subang, beliau sangat banyak membantu. Bapakku kesana-kemari mengurus surat-surat agar biaya digratiskan. Tetangga gantian menemani. Sedang aku hanya bisa mendengarkan ibuku menangis di balik telefon dari 1,000 km jauhnya, mengadu ketakutan adikku tak selamat.

Saat aku pulang kondisinya saat kepala mulai pipih, tortikolis, dan hernia. Kemudian aku memutuskan untuk pindah kerja ke Jakarta agar lebih dekat. Saat di Jakarta pun adiku dirawat lagi. Diagnosis CP plus radang paru-paru. Diberi obat paru-paru dan rawat jalan untuk fisioterapi CP.

Aku sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, tak bisa berbuat banyak. Cari pengetahuan di Google dan kenalan. Tortikolis masih bisa diatasi dengan fisioterapi. Hernia perlu menunggu usia dan berat badan cukup untuk operasi, jadi masih bisa diatasi. Paru-paru sempat sembuh setelah setahun rutin berobat, tapi saat ini kambuh lagi. Di perawatan keempat sekarang, sedot dahak tiap 8 jam sekali dan mulai membaik, jadi paru optimis sembuh. Lalu matanya sudah dicek ke Cicendo, hasilnya normal, cuma gerakan terbatas.

Kuputuskan meminta rujukan ke Bandung karena alat yang lebih lengkap dan tenaga ahli yang lebih variasi. Pernah suatu ketika harus Rontgen di Subang, mesinnya rusak. Kalau kembali lagi besok belum tentu sudah diperbaiki, sementara penyakit tak bisa menunggu. Meskipun beberapa aspek RSHS perlu perbaikan, tetap masih jauh lebih baik dari RSUD. Setelah pindah ke RSHS, tes menyeluruh dari mata, THT, paru, darah, semuanya, sampai ketahuan perlu tindakan apa saja. Beberapa tindakan terhambat kerena menunggu satu bagian tubuh sembuh. Beberapa tindakan juga terhambat karena kesimpangsiuran tenaga medis. Inilah yang membuat 40 dokter dan staf di RSHS terlibat dalam pengobatan adikku. Seorang dokter senior mengumpulkan semua orang itu, dibawa ke ruangan adikku, lalu ditanya satu-satu kenapa sudah setahun berobat belum ada perkembangan. Dokter gizi, dokter saraf, dokter paru, dokter THT, dokter fisioterapi, dokter junior, dokter anak, semuanya. Bayangkan, tepat 40 dokter berkerumun di kamar rawat adikku dan ditanya satu-satu oleh profesornya.

Untuk biaya, tahun 2014 aku daftar BPJS. Sampai sekarang masih gratis. Yang bisa kulakukan adalah bekerja dengan semangat agar ilmuku bisa bermanfaat dan rezekiku masih cukup sehingga aku bisa meyakinkan ibuku tidak usah khawatir, yang penting adikku bisa berobat dan sembuh. Selain itu, keputusan pindah ke Bandung juga karena ikut Yayasan Rumah Cinta Anak Kanker, kenalan dari kawan kenalan salah satu donaturnya. Makanan pokok sehari-hari dibantu oleh Yayasan. Sedangkan aku membantu kebutuhan lain termasuk obat-obatan yang tak di-cover BPJS. Tujuan utamaku ikut Yayasan agar ibuku punya teman sepenanggungan – dan sejauh ini cukup membantu karena pengurusnya baik.

Untuk tempat tinggal, aku sewa kosan dekat RSHS, cukup layak. Tiap kontrol atau terapi, ibuku tak usah khawatir masalah jarak. Bisa jalan kaki cuma 5 menit.

Yang paling riskan hanya CP. Setelah kubaca-baca dan tanya-tanya, saat ini belum ada obat untuk penyakit ini karena yang rusak adalah jaringan saraf di dalam otak. Usaha terbaik adalah fisioterapi setiap hari Senin. Efek yang paling riskan adalah susah mengunyah dan kerongkongannya juga tidak normal sehingga susah menelan. Makanan yang masuk hanya Promina, biskuit, nasi kunyahan ibuku, Cerelac, dan yang lembut-lembut – giginya sudah tumbuh tapi rusak karena tak terpakai. Minum pun masih pakai sendok sedikit-sedikit – saat dirawat, makan atau minum cair dimasukkan ke selang lewat hidung. Akibatnya berat badannya susah naik. Sekarang usia 4 tahun baru 8 Kg turun naik. Efek komplikasi yang paling terlihat ada di lehernya. Lehernya masih lunglai, bisa menengok, tapi tak bisa tegak. Juga kadang-kadang kejang kecil, terlihat di tangannya yang tegang tak bisa digerakkan.

Secara keseluruhan, perkembangan dan pertumbuhannya jauh di bawah anak/bayi normal. Belum bisa bicara, belum bisa jalan, masih susah mengunyah dan menelan, bahkan masih susah memegang benda.

***

Lika-liku berobat itu memang menyedihkan. Ibuku pernah tidur di emperan rumah sakit. Bapakku mengantri dari jam 2 malam agar dapat nomor antrian di bawah 100. Administrasi di RS kadang bikin senewen (daftar beberapa kali, ditanya berkali-kali, arsip hilang, buat lagi, kamar penuh), melihat jarum dan infusan, selang oksigen berbelitan di kepala dengan selang makan di hidung, semuanya menguras tenaga dan batin.

Meskipun demikian, adikku masih bisa tertawa. Yang paling dia suka adalah jalan-jalan. Ajak dia naik mobil, senyum-senyum senang sambil berusaha nengok keluar jendela. Atau ajak naik eskalator, dijamin tertawa. Dia suka diajak bergerak. Dan lain-lain. Aku juga selalu merasa bahagia melihat foto-foto bayi kawan yang baru dilahirkan atau anak teman kerja yang sedang lucu-lucunya dengan berbagai macam gaya.

Do’aku untuk ibuku yang bersusah payah siang malam, menyuapi dan menimang, selama 4 tahun, semoga diberi kekuatan hati dan fisiknya, jiwa dan raganya, sebagaimana Allah menguatkan hati ibu Nabi Musa saat beliau harus menghanyutkannya ke Sungai Nil.

Do’aku untuk adikku semoga bisa tumbuh cerdas dan tangkas, sebagaimana Al-Bukhari disembuhkan dari buta oleh Allah berkat do’a ibunya siang malam sehingga matanya menjadi mata paling tajam sampai bisa menulis buku hanya berlampu cahaya bulan.

Do’aku untuk seluruh bayi yang akan lahir ke dunia ini, semoga lahir sehat, normal, berjari lima, tak kurang sesuatu apa.

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on February 20, 2016 08:50

February 14, 2016

Teh Tawar Hangat

Nenekku bangun pagi-pagi sekali. Kudengar beliau menjerang air panas, dimasukkan ke dalam cerek, berbunyi “Jjrrusss”. Lalu ditaburnya teh cap Poci setengah bungkus, hitam-hitam serbuk kasar mengambang di permukaan air panas, dan mengepullah asap wangi semerbak.

Itulah ingatan terjauhku tentang teh tawar hangat/panas.

Aku suka sekali dengan teh tawar hangat karena bisa membuat rileks. Perut jadi hangat, urat-urat mengendur, kepala pening hilang, dan gratis. Dan kuduga orang yang pertama kali menemukan teknik pengolahan teh adalah seorang jenius. Sama seperti penemu pengolahan kopi. Atau gadung. Saking pentingnya penemuan ini sampai mengubah sekira 100 ribu hektar hutan menjadi perkebunan teh. Diekspor ke Belanda, lalu muncul budaya afternoon tea.

Kemudian di kota aku sering menemukannya di warteg dan jongko pecel lele/ayam. Tapi teh tawar hangat di warteg Jakarta terasa kurang enak. Kuduga airnya air ledeng yang sudah tercampur berbagai mineral atau air sumur yang sudab berkuman, sedangkan kalau pakai air galon akan sangat mahal. Ini berbeda dengan di kampung yang masih bersumber dari mata air, tinggal rebus sampai mendidih kuman pada mati dan rasanya tawar segar.

Ada juga teh tawar hangat di restoran-restoran yang menyediakan makanan daerah (Padang, Sunda, dll.). Tapi selain tidak gratis, harganya juga agak mahal (sama dengan iuran air di kampung plus bisa beli teh sekotak). Berbeda dengan di Bandung, Tasik, Sukabumi, Cirebon, dan daerah lainnya, masih banyak yang menyediakan teh tawar hangat gratis untuk makan apa saja. Kecuali di jongko kebun teh seperti Ciater dan Puncak (minum teh sambil melihat perkebunan teh).

Di jongko luar negeri belum kuperhatikan. Lebih sering pesan Hot Lemon Tea. Malu kalau pesan Hot Tea Tawar. Kecuali di hotel, biasanya si Pelayan bilang “Would you like tea or coffee?”.

***

Kemarin hari kawanku mengenalkan seorang perempuan anak pengusaha teh. Sedang mencari suami. Andaikan jadi, akan kususun rencana mengembangkan usaha tehnya. Mungkin aku akan melakukan riset kecil-kecilan: baca literatur sejarah teh dan teknik pengolahan teh terbaik; berbaur dengan pemetik dan buruh teh dari hulu sampai hilir agar mengerti seluk beluk usahanya (sudah kubayangkan aku naik truk pagi-pagi ke kebun teh sambil berceloteh dengan sopir, belajar memetik dan makan siang di jalan tengah-tengah kebun); memetakan bisnis teh di Indonesia dan dunia; melakukan percobaan rasa teh sampai punya resep rahasia teh – dan akan kuajukan proposal kepada Tuhan yang Mahakuasa agar teh dari perkebunannya jadi salah satu air hidangan afternoon tea di surga (yang bisa melepas lelah selama-lamanya).

Sayangnya ibuku tak mengizinkan karena satu dan lain hal.

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on February 14, 2016 05:35