Maria Magdalena's Blog
January 14, 2024
August 23, 2022
Part 1 Caregiver Life: Indera Ke-6 Mamiku
Sekitar pertengahan Juli kami mendengar kabar yang kurang menyenangkan. Izinkan aku memulai cerita dari sehari sebelumnya, waktu itu mamiku bilang ke aku dengan wajah serius, "Nik, oma Ewet tuh kondisinya yak apa?" "Ya gitu deh, hasil lab masih belum keluar," jawabku. "Kenapa Oma?" aku tanya balik ke mami, karena merasa heran, tumben dia nanya kondisi besannya.
"Tadi malam mami mimpi lihat oma Ewet di-make up cantik sekali, rambutnya pakai kayak bunga-bunga gitu. Trus ada keluarganya kumpul-kumpul semua, mami bantu jaga anak-anak kecil keluarganya oma Ewet," kata mami serius.
"Wah, kita doakan aja semoga gak ada apa-apa," kataku mulai kawatir.
"Iya," sahut mami, lalu kami pun melanjutkan kesibukan kami masing-masing.
Mami tuh ibu kandungku, dia tinggal bersamaku. Dia termasuk orang dengan sixth sense. Sudah banyak firasat yang dia dapat itu terbukti benar. Dulu ketika aku hamil, dia tahu duluan sebelum aku kasi tahu, setelah dia mimpi menggendong ayam jago. Gitu juga dengan anak kakakku, dia bilang mimpi menggendong burung.
Lalu ketika aku akan kena Covid (waktu itu varian Delta, wabah bulan Juni - Agustus 2021) dia juga mendapat firasat aneh, tapi bukan mimpi. Dia melihat ada empat perempuan cantik masuk dari balkon kami sambil tertawa-tawa jalan menuju kamar aku dan suami, lalu ketika mereka sadar kalau mami melihat mereka sambil berdoa (mami sudah tahu mereka akan bawa nasib buruk pada kami), mereka berhenti dan berbalik keluar. Besoknya suamiku dinyatakan Covid, dan dua hari kemudian aku menyusul positif juga. Namun puji Tuhan dua minggu berjuang, kami berdua sembuh. Mungkin jika mami tidak melihat empat perempuan itu lalu berdoa, kami mungkin tidak selamat.
Kali ini juga begitu, besoknya sejak mami menanyakan tentang oma Ewet (mertuaku), kami mendapat kabar bahwa oma Ewet terkena kanker ganas. Diagnosa ini didapat setelah dilakukan pembedahan akibat tumor di gusinya. Aku dan suami langsung atur rencana untuk memboyong mertua ke rumah kami sesegera mungkin untuk mendapat perawatan di Jakarta karena bagaimana pun, Jakarta memiliki beberapa rumah sakit yang adalah cancer center se-Indonesia dengan alat-alat yang canggih.
Singkat kata, tanggal 13 Agustus kami menjemput mertua di Bandara Soekarno Hatta, puji Tuhan beliau masih bisa melakukan penerbangan ke Jakarta dengan bantuan kursi roda dan tercatat dengan disabilitas. Walau begitu dibutuhkan waktu dua hari buat dia untuk full beristirahat tidur saja di rumah kami, bangun hanya untuk makan dan mandi. Dia sangat lelah dan lemas setelah perjalanan itu.
Nah, inilah mulainya petualangan kami sebagai caregiver buat oma yang kena kanker. BPJS baru bisa digunakan tanggal 1 September, sehingga kami baru akan beraksi mengobati kankernya pada tanggal itu. Untuk saat ini, kami hanya akan melakukan perawatan paliatif untuk memperkuat fisik dan psikisnya.
(Bersambung)
September 13, 2021
Procrastination
PERHATIAN:
Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
==========================
Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.
Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.
Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah meminum arsenic dalam dosis yang sangat kecil. Dalam dosis ini arsenic tidak berbahaya. Pelan-pelan mereka menaikkan dosisnya. Dengan kondisi ini tubuh membentuk imunitas terhadap arsenic sehingga arsenic tidak mematikan mereka. Walaupun begitu, tetap saja ada kerusakan organ dalam yang nyata, entah dalam, skala mikroskopik atau skala yang lebih besar. Kerusakan ini akan sangat merugikan bagi kesehatan meskipun mereka tampil dengan senyum terkembang. Senyum kan hanya penampakan luar, bisa saja mereka sedang menahan rasa sakit di perutnya.
Anyway, tulisan tentang arsenic diatas saya gunakan untuk menggambarkan tentang kebiasaan menunda sesuatu, atau yang dikenal dengan istilah procratination. Manusia cenderung menunda untuk melakukan aktivitas yang tidak menyenangkan, baik itu hasil maupun prosesnya. Padahal manusia itu tahu juga kalau semakin itu ditunda-tunda, semakin gak beres-beres, semakin banyak hal yang tidak menyenangkan. Namun, begitulah dasarnya manusia, lebih suka melakukan hal yang menyenangkan saja.
Bagaimana cara supaya tidak lagi suka menunda-nunda aktivitas yang tidak menyenangkan?
Dengan cara mengingat dan mempertimbangkan (ya ampuuuun… gayanya sudah kayak bikin surat keputusan aja ya :D ) efek dari menunda itu, yaitu “tidak selesai”, untuk menyelesaikan ya dengan cara melakukannya dengan segera :D
Yuk ah semangat! Jangan menunda lagi supaya tidak terjadi kerusakan berupa pembentukan kebiasaan buruk. Seperti halnya arsenic, yang jika diminum dari dosis yang sangat kecil akan menimbulkan efek imunitas namun tetap merusak. Begitu pula kebiasaan buruk yang dimulai dari penumpukan sedikit demi sedikit namun memiliki efek yang buruk dan bisa bertambah besar.
==========================
Keterangan foto: Singapore diwaktu subuh, sekitar jam 6 pagi, waktu itu kami bertiga bakpacking ke sana.
June 19, 2021
Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku
Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.
Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"?
Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftarkan ya suamiku, aku iyain aja sambil pasrah dan pesimis. Dalam hati aku bilang: "Ya biar didaftarin dulu, entar gak usah datang kan udah, beres." Hari demi hari ku lalui dengan bingung, lalu suara hatiku mengatakan: "Ke klinik aja, minta rekomendasi." OK aku turuti suara hatiku itu. Setelah melihat kondisiku dokter di klinik mengatakan aku boleh ikut vaksinasi. Namun dia juga menyarankan aku untuk ke dokter penyakit dalam supaya rekomendasinya lebih pasti terutama tentang faktor pengentalan darah dan tensi.
Jumat 11 Juni aku ke rumah sakit rujukan klinik. Wuih aku sempat tercengang dalam kegalauan, karena rumah sakit ini penuh banget di tempat pendaftarannya. Ngantrinya sudah gak ada jarak lagi, susah diatur orang-orang ini, sekaligus gak patuh pada prokes. Bahkan suamiku menyuruh aku pulang saja daripada ambil resiko tertular Covid. Aku pikir, udahlah gak apa-apa lanjut aja, yang penting aku berhati-hati dan jaga jarak.
Sah! Dapat ijin dari dokter internist
Sepanjang antri mulai dari pendaftaran hingga antri di dokter, aku gak duduk sama sekali, berdiri! Padahal berjam-jam lho... dari jam 9-13 siang Kenapa begitu? Aku memutuskan berdiri supaya lebih aman, karena kalau berdiri aku akan mudah menghindari orang yang punya tanda-tanda Covid atau orang yang melanggar prokes. Selain itu, aku berdiri di area orang-orang tua yang berkursi roda, mereka jelas tidak sedang sakit Covid, karena kalau mereka ternyata kena Covid pasti mereka gak ada di situ, tapi di UGD. Kebanyakan dari mereka yang di kursi roda ini juga pakai perban di beberapa bagian tubuhnya, menandakan dia menderita luka yang tentu tidak menular seperti Covid.
Singkat kata, dokter internist di rumah sakit ini memberiku rekomendasi untuk vaksin... YAY! Walaupun begitu... aku masih tetap ragu lho antara vaksin atau nggak... hahaha... padahal semua jalan sudah terbuka kan. Entahlah, hati ini masih ragu. Bagaimana pun, aku juga takut membayangkan after effect-nya. Akan tetapi, di lain sisi pemikiranku, aku tahu badanku unik, sangat unik, sehingga ada suatu saat dimana badanku ini sangat kuat hingga gak bisa kena sakit apapun meskipun orang lain sakit itu, namun ada suatu saat dia sangat lemah. Mungkin ini efek keberadaan autoimmune juga, yang sangat ababil... hehehe.
Nasib berkata lain. Jumat kemarin (tulisan ini dibuat hari Sabtu setelah vaksinasi), di group apartement ternyata ada satu orang yang membatalkan ikut vaksinasi karena alasan kurang fit (ah entahlah, aku curiga beberapa orang pakai alasan ini karena kurang yakin dengan vaksin), ibu pengelola langsung menawarkan padaku untuk menggantikan orang yang batal itu. Lha kok aku langsung setuju! Yo wes akhirnya Sabtu ini aku vaksinasi.
Vaksinasi berjalan lancar, sangat lancar! Bahkan terlalu lancar, karena seharusnya kalau dihitung, belum waktunya aku dipanggil ke ruang vaksinasi. Waktu itu panggilan masih di nomor 14, aku nomor 24, nah seharusnya masih jauh kan... tapi aku sudah dipanggil. Ketika screening, aku ditanya:
Punya sakit diabetes? - Ya
Punya hipertensi? - Ya
Punya sakit jantung? - Tidak
Minum obat pengencer darah? - Tidak
Pernah kena Covid? - Tidak
Hasil tensi menunjukkan 175/85 (tensiku cenderung tinggi sehabis jalan agak jauh)
Tapi kata dokter vaksinatornya: boleh divaksin, langsung deh lengan kiriku dicubles oleh jarum suntik vaksinasi yang berisi Astra Zeneca, lalu aku disuruh masuk ke ruang observasi pasca vaksin.
YAY! Aku sudah vaksinasi Covid-19 dengan memakai Astra Zeneca
Hingga saat tulisan ini dibuat, tidak ada keluhan apapun, termasuk rasa sakit pada lokasi suntikan. Padahal beberapa orang yang bersama aku di ruang observasi mengeluhkan lengannya terasa sakit kemeng (ngilu) akibat vaksinasi itu. Kalau aku pikir sih mungkin karena aku sudah terbiasa disuntik, setiap hari aku dapat tiga kali suntikan insulin di lengan, paha dan perut, itu yang bikin aku lebih kebal terhadap rasa sakit. Sampai saat ini aku juga belum merasakan demam atau apalah, semua baik-baik saja. Semoga begini terus.
Dan beberapa saat setelah aku sampai rumah kembali dari vaksinasi, eh... ada roti Heni's isi bakso ayam! Aaaah... suamiku memang baek banget! Kata dia, ini stock untuk yang abis vaksinasi, supaya perutnya aman... hahaha... kiss kiss pak Iggy terchayank <3
Nyamnyamnyaaaam... ^_^
Tulisan ini dibuat untuk para pembaca yang punya keraguan sama denganku. Konsultasikan pada dokter, kalau perlu lebih dari satu dokter untuk mendapat jawaban yang memuaskan, entah itu "ya", atau "tidak".
May 5, 2021
Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang
Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan!
Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.
Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, tidak cukup untuk semua kainku. Lalu aku memutuskan untuk membeli lagi yang bergambar kucing (ini hewan kedua yang ku sukai. Berhubung tidak mungkin bagiku untuk memelihara jerapah, maka aku cukup puas dengan memelihara kucing saja).
Sementara menunggu lemari bergambar kucing tiba di rumahku, aku membereskan kamar sebisanya. Inilah foto penampakan awal kamarku, mengerikan ya:
Sekarang kau mengerti mengapa aku kehilangan mood menjahit.Sore sekitar pukul 5 lemari bergambar kucing pun tiba. Aku sudah sangat gatal ingin membereskan semua pekerjaan ini. Dengan bantuan suami dan sisa tenaga, aku merakit lemari kedua ini dan segera memasukkan semua kain ke dalamnya. Well… akhirnya masalah kain pun selesai, namun kamarku masih belum nyaman untuk dijadikan tempat kerja jahit! Meja mesin jahit masih ada di posisi yang kurang nyaman, tapi aku sudah sangat kelelahan. Lalu aku putuskan untuk mendekorasi ulang kamarku minggu depan.
Esoknya, berbekal sisa semangat setelah seharian bekerja, aku putuskan untuk membereskan pekerjaan beberes kamar hari itu juga demi mendapat pemandangan yang lebih baik secepatnya padahal waktu itu cuaca sangat panas, aku hitung sehari ini aku mandi sebanyak empat kali!
Dengan bantuan suamiku, kami menggeser meja dan rak buku yang berat, lalu kulanjutkan sendiri dengan membersihkan semua mesin jahit dan mesin obras, juga membersihkan debu-debu yang ada di permukaan barang-barang dan di lantai.
Lelahku sungguh terbayar ketika semua ini selesai. Kamarku jadi rapi, semua kain terdisplay dan mudah diambil di lemari, project-project UFO ku pun bisa ku susun di satu rak lemari. Dengan semangat aku bertekad menyelesaikan semua UFO itu dan pekerjaan-pekerjaan jahit lainnya.
Sekarang aku akan berkata: Let’s sew together!
Lihat apa yang kutemukan: segebok kain yang dikirim langsung oleh Emily Taylor di tahun 2014, masih utuh, sangat sayang mau dipotong-potong.
April 28, 2021
Antri Memasuki Peradaban Baru
Pada sebuah diskusi tentang Covid-19 yang mengalami peningkatan, seorang teman mengatakan pada saya: "Allah sedang siapkan kita masuk ke peradaban baru." Ya benar, saya meyakini itu juga. Akan tetapi dalam hati saya merasa sedih, karena proses dalam antri masuk dalam peradaban baru ini selalu ada yang namanya seleksi alam, barangsiapa dianggap tidak siap dengan peradaban baru maka mereka akan punah, disini saya merasa sedih.
Peradaban baru apa yang sedang Allah persiapkan untuk kita?
Sebuah peradaban yang berorientasi digital, online, peradaban dengan perbedaan cara berinteraksi antar manusia, sebuah peradaban yang membuat manusia mengakui bahwa ada makhluk yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang namun sangat mempengaruhi hidupnya, sebuah peradaban dengan manusia-manusia yang lebih berhati-hati dan waspada terhadap penyakit. Bisa atau tidak bisa, mau atau tidak mau, manusia harus beradaptasi jika ingin survive.
Kita tak bisa lagi mengatakan:
"Aku gak bisa cara begini"
"Aku harus bertemu teman-teman"
"Aku tidak bisa mendampingi anakku belajar online lagi"
"Aku harus memeluknya langsung walau dia sedang sakit"
"Foto bersama teman itu harus kelihatan wajahnya"
"Lebaran harus bertemu keluarga secara langsung dan makan-makan bersama satu meja ramai-ramai"
Dengan sangat terpaksa, semua itu harus dihilangkan dan tak dirindukan lagi. Kecuali... ya kecuali, semua pihak bisa memastikan bahwa tak ada virus Covid-19 menempel pada dirinya dengan cara medis, bukan cuma dengan perkiraan subyektif.
Kita bisa memilih dengan siapa kita akan melewati gerbang menuju peradaban baru ini, dan mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih adaptif untuk mempersiapkan diri dalam peradaban baru.
April 11, 2021
Menatap Nanar di Depan Bakul Sayur Itu Lebih Baik Daripada...
Semua profesi itu pasti punya sisi yang membosankan. Ya namanya juga profesi.... kalau gak membosankan itu namanya petualangan. Termasuk profesi ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga tuh kalau pagi, yang dipikir pertama kali bukan "aku mau meet up dengan siapa hari ini?" tapi "masak apa hari ini?" dan seringnya pertanyaan ini berujung bukan pada jawaban, tapi pada kebingungan yang berakibat kepasrahan!
Kalau kata orang Surabaya: "Sangking bingunge sampek pasrah wes..." hahahaha... Lho iya bener! Lalu ketika tukang sayur tiba... ibu rumah tangga hanya bisa menatap nanar pada stock tukang sayur, sehingga bikin tukang sayur kadang gak sabaran. Well... inilah yang sering ku alami dulu waktu masih tinggal di rumah Sidoarjo.
Lalu aku tinggal di mess yang sudah menyediakan makanan tiap hari, dimana aku gak perlu memikirkan lagi menu apa yang harus ku sediakan untuk keluarga, tinggal menunggu kedatangan menu hari itu dan kalau ternyata gak cocok dengan selera anakku, aku hanya perlu bersepeda keluar lingkungan mess untuk membeli nasi pecel atau nasi kuning sesuai selera anakku. Ini bukan kehidupan yang enak lho... awal-awal kami tinggal di sana, sebelum aku punya sepeda untuk keluar lingkungan mess dan pengetahuan tentang pedagang makanan di luar sana, aku merasa seperti kerbau yang tiap hari tinggal menunggu makanan datang, lalu makan entah suka atau tidak suka, lalu menggemuk!
Waktu itu kebanyakan menu yang disajikan tidak sesuai dengan seleraku, sehingga seringkali aku merasa tidak suka. Rasa tidak suka ini ku pendam, lalu menumpuk! Ketika datang waktu jenuhku yang sudah sampai ke ubun-ubun, aku banting itu makanan sepiring di depan suamiku.... aku protes! I'm not that kind of woman! Aku smart, aku penuh daya, aku tak suka kehidupan seperti itu dimana aku tak pegang kendali.
Suamiku memahamiku, dia mulai membelikan aku kompor dan printilan masak yang inti-inti saja. Dia juga mulai mengajakku keluar menjelajah penjual makanan sekitar mess, dan dia membelikanku sepeda untuk aku bisa keluar sendiri untuk cari makanan yang ku sukai. Aku mulai bahagia karena bisa masak sesuai selera.
Sekarang, kami tinggal di apartemen, di sini pun aku tidak bertemu tukang sayur secara langsung. Aku belanja sayur secara online. Ini membuat aku merasa lebih nyaman karena aku bisa membeli apapun yang kubutuhkan tanpa harus pasrah dengan stock tukang sayur yang kadang tak sesuai harapan.
Beginilah petualanganku sebagai ibu rumah tangga vs menu keseharian, semoga jadi cerminan bagi ibu-ibu yang membaca tulisanku ini, karena seringkali ibu-ibu merasa bahwa jika makanan itu datang begitu saja tanpa kita berusaha, itu akan terasa menyenangkan. Ya mungkin untuk sebagian orang menyenangkan, tapi bagiku tidak. Menatap nanar di depan tukang sayur itu masih lebih baik daripada diberi makanan begitu saja tiap hari tanpa daya tolak.
Ibu-ibu.... semangat terus ya belanja untuk makanan sehat buat keluarga ^_^
February 7, 2021
Bangun Pagi Dengan Semangat Menyala? Bisa!
Selamat pagi... Pagi ini aku terbangun lebih pagi daripada biasanya, pukul 03:30. Ketika keluar kamar ternyata anakku juga keluar kamar dengan membawa baju mandi! Padahal anakku tidak sekolah formal, sehingga dia tidak diharuskan bangun pagi dengan diguncang-guncang. Sebetulnya dia sudah terbiasa bangun pagi ini sejak masih kecil. Bangun tidur, langsung mandi dilanjutkan dengan membuat teh hangat sendiri. Iya, dia memang mandiri sejak masih kecil sekitar usia 7 tahun.
Kebiasaan bangun pagi bagi keluarga kami adalah hal yang sangat baik, karena sistem detoks tubuh terjadi pada pukul 05:00, sehingga pada jam ini sebaiknya sampah tubuh dikeluarkan.
Bagaimana kami bisa membuat anak memiliki dorongan bangun pagi ini? Games! Dan bagaimana saya memiliki dorongan bangun pagi juga? Pekerjaan! Games dan pekerjaan bagi banyak orang dipandang sebagai sesuatu yang berbeda. Orang memandang bahwa games hanyalah kesenangan yang memabukkan dan pekerjaan adalah suatu kewajiban yang memang harus dilakukan serta mulia. Kami tidak memandangnya demikian. Sudut pandang saya tentang games adalah bahwa ada banyak orang di luar sana yang menjadikan games sebagai profesi yang mendatangkan uang, sebagai pekerjaan!
Di lain sisi, games bagi anak saya adalah seperti sebuah olah otak. Dalam games yang dia mainkan dia berlatih memikirkan bagaimana dia bisa struggle, menganalisa masalah yang ada, dan dia juga berpikir bagaimana cara mengembangkan logistiknya. Dari sini saya melihat bahwa games bukanlah sesuatu yang harus dilarang sampai marah-marah, kecuali dia menjadi gameaholic yang tak bisa berhenti sendiri. Pada kenyataannya anak saya bisa berhenti sendiri karena pembiasaan disiplin sejak kecil. Gameaholic, workaholic, semua itu tidak baik seperti layaknya perokok yang tidak bisa berhenti meracuni paru-parunya dan paru-paru orang di sekitarnya.
Sebagai catatan, games yang dimainkan anak saya bukan pada HP tetap pada komputer, yang kontennya jauh lebih kompleks. Ini juga bahan pertimbangan lain sehingga saya izinkan dia untuk tetap bermain games.
Satu hal lain yang ingin saya beri penekanan di sini adalah tentang passion! Inilah yang menggerakkan kami berdua hingga bisa bangun di pagi hari dan bersemangat melanjutkan aktivitas. Passion anak saya pada games, dan saya pada pekerjaan. Passion yang menggerakkan kami berdua adalah sama. Tidak beda. Passion ini bagus untuk dipelihara sehingga setiap hari kami bangun pagi dengan penuh semangat, tidak bermalas-malasan, apalagi dengan ketakutan menghadapi permasalahan.
Ketika malam hari dalam doa malam kami serahkan segala permasalahan pada tangan Tuhan yang perkasa, sehingga pada bangun pagi, rasa takut tak ada lagi, melainkan semangat untuk menjadi lebih baik di hari yang baru. Kita perlu bangun pagi bukan karena rutinitas, tapi karena semangat!
July 7, 2020
Mengedit Tulisan Orang Lain? Ah Gampang...
Easy peasy lemon squeezy! Gitu kata mereka dalam bahasa Inggris. Kalau kata orang Indonesia: Gajah di pelupuk mata tak kelihatan, tapi kuman di seberang lautan tampak! Yah begitulah, kesalahan orang lain mudah banget ku temukan, kesalahan sendiri? Mungkin susah! Tapi masih "mungkin" ya... belum pasti.
So, itulah tugas dari kelas Nulis & Ngeblog Itu Asyik! Yaitu mengedit tulisan teman. Saya ditunjuk mengedit blog Simple & Fun Lifestyle. Lumayan tulisannya singkat, gak banyak kayak tulisanku sendiri. Enteng... Eh tetiba aku kasihan sama yang edit tulisanku, semoga dia bisa selesaikan tugasnya sebelum deadline kelas berlalu.
Sebagai orang yang pernah kerja sebagai editor GPU (Gramedia Pustaka Utama), aku pakai tools di LibreOffice Writer yang namanya "Record Track Changes", dengan tools ini naskah asli masih tampak tapi aku bisa menyisipkan perbaikan dan Comment (=komentar) tentang perbaikanku itu, dari situ penulis bisa belajar tentang kesalahan-kesalahan penulisannya. Jadi dalam hal ini editor gak hanya memperbaiki tapi juga mengedukasi. Pun penulis bisa memprotes kalau misalnya ada kesalahan yang dilakukan oleh editor selama proses editing.
Berikut ini adalah penampakan efek dari "Record Track Changes"
Kalau di screenshot ini Anda melihat ada tulisan warna kuning, coretan warna kuning, garis putus-putus warna kuning, dan panah warna kuning, kotak blok warna kuning dengan tulisan di dalamnya (kotak komentar) jangan kawatir, itu semua akan hilang ketika option "accept" atau "accept all" dipencet. Jadinya rapi seperti ini:
Bandingkan dengan tulisan awal yang formatnya seperti ini:
Lebih baik kan? Nah dengan begini tulisan langsung siap di-layout menjadi buku.
Anda mau mencobanya? Nih posisi tombol-tombol dan option yang dipakai:Edit -> Track Changes -> RecordEdit -> Track Changes -> Accept All
__________________________Pertanyaanku: awalnya postingan ini ditujukan untuk tema editing tulisan teman, lalu kenapa berubah jadi tutorial mengedit ya?
July 5, 2020
Mengenali Teman Melalui Blognya
Blogger satu ini bikin aku dendam! Ya, dendam! Gimana gak dendam... waktu pertama kali kenalan, dia cuma ngasi aku akun FB dan IG-nya, trus... setelah aku oprek-oprek ternyata tak ku temukan satu pun foto dia! Jengkel gak sih... ya jengkel lah!
Yang ada cuma foto anak-anaknya. Anaknya cantik dan ganteng, blasteran gitu, karena bapaknya bule. Waktu aku tanya tentang mengapa gak ada fotonya sama sekali? Eh dia nantangin aku ketemuan di Baywalk Mall!
OK, aku layani tantangannya dengan iming-iming dia ku ajarin bikin pola baju. Dia senang dan langsung merancang tanggal. Tapi ya gitu... gak ada wujudnya sampai sekarang gara-gara Covid-19.
Trus suatu kali aku ngadain kelas Nulis & Ngeblog Itu Asyik. Di kelas ini aku ngajar blogging dan temenku kak Irai ngajar nulis. Eh... suprise banget! Si dia cantumkan fotonya di blog! Cihuuuy... aku bisa lihat juga wajahnya yang bikin aku penasaran selama ini. Cantik, wajah Indonesia. Sekarang ku tahu darimana itu wajah ganteng dan cantik anak-anaknya berasal.
Eniwei buswei, tentang blognya... well... Tampilannya mencerminkan selera dan pribadi dia. Background yang abu-abu muda polos, dengan memanfaatkan foto-foto bagus sebagai penghias blog. Aku suka type blog yang seperti ini, enak dipandang, santai, sejuk, tidak bikin mata cepat lelah. Enjoyable!
Cuma cara dia menyampaikan ide melalui tulisan ini kurang mengalir santai surantai seperti di pantai. Tampak masih agak ragu-ragu dalam mengalirkan kalimat-kalimatnya. Tapi gak papa, lama-lama kalau sudah terbiasa dengan aktivitas menulis, semua akan mengalir seperti air sungai Bengawan Solo... Bahkan bisa seperti air sungai Indragiri Hilir yang mengalir deras tanpa bisa dihentikan.
Disclaimer:"Dendam" digunakan dalam makna positif dan hiperbolik untuk meng-casual-kan gaya penulisan.


