Discover new books on Goodreads
See if your friends have read any of Ahmad Arif's books
Ahmad Arif

Ahmad Arif’s Followers (21)

member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo

Ahmad Arif


Born
in Indonesia
September 04, 1977

Genre


Ahmad Arif is a Kompas Daily Journalist. He won several award, including Mochtar Loebis award two years in a row in 2009 and 2010 for Best Feature

Average rating: 4.28 · 694 ratings · 161 reviews · 16 distinct works • Similar authors
Masyarakat Adat & Kedaulata...

4.57 avg rating — 127 ratings — published 2021
Rate this book
Clear rating
Sagu Papua untuk Dunia

4.52 avg rating — 124 ratings
Rate this book
Clear rating
Sorgum: Benih Leluhur untuk...

4.34 avg rating — 118 ratings — published 2020
Rate this book
Clear rating
Jurnalisme Bencana, Bencana...

by
4.17 avg rating — 63 ratings — published 2010
Rate this book
Clear rating
Ekspedisi Kompas: Hidup Mat...

4.31 avg rating — 48 ratings — published 2012
Rate this book
Clear rating
Jelajah Sepeda Kompas: Meli...

3.74 avg rating — 31 ratings — published 2010
Rate this book
Clear rating
Tambora Mengguncang Dunia

by
4.12 avg rating — 26 ratings — published 2015
Rate this book
Clear rating
Hidup Hirau Hijau: Langkah ...

by
3.53 avg rating — 30 ratings — published 2009
Rate this book
Clear rating
Toba Mengubah Dunia

by
4.32 avg rating — 22 ratings — published 2014
Rate this book
Clear rating
Buah Leluhur dari Pohon Keh...

4.25 avg rating — 16 ratings
Rate this book
Clear rating
More books by Ahmad Arif…
Sagu Papua untuk Dunia Sorgum: Benih Leluhur untuk... Masyarakat Adat & Kedaulata... Buah Leluhur dari Pohon Keh...
(4 books)
by
4.47 avg rating — 385 ratings

Quotes by Ahmad Arif  (?)
Quotes are added by the Goodreads community and are not verified by Goodreads. (Learn more)

“Sejarah, tradisi, dan pengetahuan masyarakat adat tidak diakui negara, bahkan diberangus dengan dalih persatuan, keseragaman, dan kesesuaian.”
― Ahmad Arif , Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan

“.... pangan yang melimpah tidak otomatis mengalir dari daerah berkelebihan ke daerah berkekurangan. Yang berlaku adalah norma "tidak ada makan siang gratis". Karena itu, meskipun pangan melimpah, kelaparan selalu terjadi berulang dan menjadi skandal dunia. (Mengutip dari Khudori, 2009, dalam Arif 2021: 225).”
― Ahmad Arif, Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan

“Keseragaman pangan hanya berisiko menimbulkan bencana, khususnya jika terjadi kegagalan panen pada pangan utama. (hlm. 191)”
― Ahmad Arif, Sagu Papua untuk Dunia



Is this you? Let us know. If not, help out and invite Ahmad to Goodreads.