Isman H. Suryaman's Blog

March 15, 2016

Tahu Mbulet

Di daerah perumahan kota-kota besar di Jawa Barat dan Jabodetabek kini lagi bermunculan penjual tahu bulat. Biasanya dua orang dalam satu mobil bak terbuka. Karena dua mobil dengan satu orang bakal terlalu akrobatik. Satu orang tentunya pegang setir. Seorang lagi duduk di bak mobil, siap sedia di depan wajan penggorengan. Sampai saat ini sih, saya belum pernah memergoki ada penjual yang multi-talenta sampai bisa nyetir sambil goreng tahu. Kalau ada yang lihat, tolong fotoin. Seperti penjaja makanan komplek tradisional, mereka jualan sambil teriak. Ada yang cukup menyetel rekaman. Namun, ada juga yang teriak secara manual menggunakan pengeras suara seadanya.Nah, saya heran dengar teriakan para penjual tahu bulat ini. Bukan karena intonasi dan jedanya yang ajaib. Melainkan karena informasi yang mereka teriakin itu gak runut.Saya bahas yang sering keliling di komplek perumahan saya deh. Kalimat pertama: "Tahu. ...Bulat." Oke, wujud produk. Jelas.Kedua: "Digoreng. ...Dadakan." Ini cara sekaligus nilai jual, sepertinya. Padahal nggak beda kok dengan penjual gorengan lain. Ada tahu yang sedang digoreng, ada yang sudah beres; nongkrong di kotak samping wajan. Kadang kita dikasih dari yang nongkrong kok. Dan nggak akan ada juga yang aneh-aneh. Misalnya, tahu yang cuma diajak jalan-jalan sama penjualnya, lalu kaget karena mendadak mereka digoreng."Tadi bilangnya gak gitu!" protes para tahu."Nggak dibilangin pun, kalian tetap tahu kok," balas sang mamang penjual dengan dingin.Dan para tahu pun tewas karena mendengar joke Om-om. Mengenaskan.Oke, lanjut kalimat ketiga, "Di atas mobil." Ini udah semi penipuan nih. Digorengnya di dalam bak mobil kok. Kalo di atas, harusnya di atap mobil, lah.Padahal saya buru-buru keluar karena pengin lihat mamang-mamang nongkrong di atap sambil bawa wajan. Huh.Terus lanjutannya, "...Lima ratus."Makin membingungkan. Kenapa tiba-tiba ada angka di situ? Apanya yang lima ratus? Harga per biji (tapi apakah tahu memiliki biji?)? Atau jumlah tahu yang dijual?Saya takutnya pas tergoda keluar, mamangnya ganti teriak, "Lima ratus satu." Ternyata ngehitung yang ketipu istilah "di atas mobil". Hih!Saya sempat ragu beli karena bertanya-tanya: apa kita kalo beli harus manggil dengan nada serupa, ya?Jadi manggilnya, "Tahu. ...Bulat. ...Mau beli. ...Sekarang. ...Di pinggir jalan. ...Sepuluh ribuan."Mobilnya sudah keburu jauuuuh.Bisa jadi nanti penjual tahu tradisional juga nggak mau kalah sama tahu bulat. Di pasar mereka teriak, "Tahu. ...Kotak. ...Digoreng. ...Belakangan. Di lapak. ...Lima ratus."Pas saya mendekat, dia ganti teriak, "Lima ratus satu!" 

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on March 15, 2016 21:15

May 31, 2014

Resep Ampuh Cerita Menarik

Satu: temukan seorang komedian yang selalu menemukan pengalaman unik tiap kali menyambangi tempat asing.

Dua: kirim ke salah satu pusat kebudayaan Eropa yang memiliki sejarah ratusan tahun penuh ironi.

Tiga: biarkan ceritanya mengembang.

Saya seorang penulis humor dan stand-up comedian (salah seorang co-founder komunitas @standupindo).(1) Dan kebiasaan saya, sebagai komedian, adalah melihat sesuatu yang dilihat banyak orang, dengan cara yang berbeda.

Setelah mengunjungi Taman Nasional Tanjungputing, saya menulis esai tentang para orangutan yang lebih beradab dalam politik perebutan kekuasaan ketimbang manusia. Esai tersebut mendapatkan penghargaan juara kedua dalam lomba menulis Tulis Nusantara 2012.(2) Pasca bertandang ke Hong Kong, saya berbagi tentang kontradiksi aturan dalam ketidakteraturan. Esai yang memuatnya diterbitkan dalam salah satu buku humor saya, "Saya (Cinta) Indonesia".(3) Dan sepulang dari Tokyo, saya membawakan materi stand-up comedy tentang... penghangat dudukan toilet.

Oke, mungkin tidak semuanya keren. Yang jelas, berbeda.

Sekarang, mari kita bicara mengenai London. Kurang ironis gimana?

Lebih dari setengah jejaring transportasi London Underground justru tidak berada di bawah tanah.(4)
Mungkin prinsipnya sama dengan band Indonesia yang masih berlabel underground walau sudah kontrak dengan major label. Mungkin, loh.

Lagu anak-anak "Pop Goes The Weasel" kemungkinan besar mengacu kebiasaan orang yang menggadaikan jasnya karena kehabisan uang di salah satu bar London.(5)
Konon, pendidikan anak memang perlu mulai sejak dini.

St. Thomas' Hospital memiliki larangan untuk tidak bising (termasuk membunyikan klakson, terompet, dll). Sayangnya, rumah sakit ini terletak di seberang Big Ben, hanya terpisah oleh Sungai Thames. Sehingga sebagian pasien tetap terganggu oleh suara bel--terutama saat malam hari.(6)
Yang menarik, satu-satunya ruangan di St. Thomas' Hospital dengan jendela tepat mengarah Big Ben adalah kamar bersalin. Padahal berdasarkan pengalaman pribadi saat menemani istri melahirkan, proses persalinan sama sekali bukan situasi yang tepat untuk menikmati pemandangan indah. ("Ayo dorong, Bu! Dorong! Ngomong-ngomong, pantulan cahaya bulan di Big Ben dan sungai Thames sangat indah seka--Bu, bisa tolong jangan cekik saya?")

Berdasarkan hukum setempat, saat kita sedang berada di Houses of Parliament, kita tidak boleh meninggal.(7)
Ini adalah salah satu aturan yang saya akan ikuti dengan senang hati. Tapi kalaupun melanggar, sepertinya saya sudah tidak akan peduli akan dihukum atau tidak.
Dan ini baru sepenggal informasi yang saya gali berdasarkan browsing semata. Apalagi kalau nanti saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Inggris, terutama London, langsung. (Melirik pada Mister Potato yang sedang mengadakan kontes mengunjungi Inggris gratis selama 7 hari.(8)) Saya yakin bakal bisa menggali macam-macam cerita unik dan menarik di sana.

Tatapan penuh #kode

Asalkan jangan sampai melanggar hukum di Houses of Parliament. Amit-amit.


____________________________

1: Sebenarnya ini sama sekali tidak mengindikasikan bahwa saya lucu. Cuma terdengar keren saja.

2: Ini adalah usaha agar tulisan saya terlihat lebih kredibel. (Sayang, efeknya hilang bagi yang membaca catatan kaki ini.)

3: Idem. Plus curi-curi promosi diri. (Terus kenapa saya harus terlalu jujur seperti ini, ya?)

4: Sumber: Telegraph

5: Sumber: Phrases.org

6: Sumber: Big Ben Facts 

7: Sumber: Mirror

8: #kode #kodebanget #KurangJelasApalagiNih #HashtagGakNgaruhKalauDiBlogYa?

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on May 31, 2014 06:25

July 7, 2013

Bima Satria Garuda (Dalam Lima Menit)





PERINGATAN PENTING!
(Tulisan di bawah ini akan memuat plot dan alur cerita utama, sehingga bisa merusak pengalaman kamu menonton seri Satria Garuda ini untuk selama-lamanya...
.
.
.
...Kecuali kalau kamu nontonnya cuma demi Stella. *senggol-senggol* *kedip-kedip*)











PESAN MORAL PEMBUKA



Tampak BIMA, sang Satria Garuda, berbicara pada kamera.


BIMA:

Adik-adik, jangan nonton TV terlalu dekat, ya?



PENONTON:

Lho, Ma, ini untuk anak-anak juga?


BIMA:

Iya dong. Kenapa emangnya?



PENONTON:

Pengin tahu aja, sasarannya anak-anak kayak apa, ya? Soalnya data profil karakter utamanya pake pose model telanjang dada kayak
di bawah ini.

 


BIMA:

Euhm, euh, tentunya anak-anak yang berpikiran terbuka.



PENONTON:

Oh, ya. Terbuka banget. Itu sebenarnya lu pake celana gak sih?



BIMA:

KITA SAKSIKAN TAYANGAN UTAMANYA!



GRAFIS: ANIMASI PLANET VUDO



Terlihat animasi yang menunjukkan kondisi entah suatu planet yang terancam akibat industrialisasi ekstrem, atau Bekasi. Terdengar suara voice over.


RASPUTIN:

Saya mau ngomong bahwa planet kami, Vudo, sekarat karena industrialisasi. Jadinya kami mau jajah Bumi. Tapi itu bakalan cuman 5 detik. Jadi saya ngalor ngidul dulu sampai 30 detik.



PENONTON:

Wah, isu lingkungan! Keren! Bakalan jadi esensi cerita gak nih?



RASPUTIN:

Nggak sih. Sponsornya aja perusahaan motor.


PENONTON:

Iya juga. Tapi minimal elemen sains fiksinya ada, ya? Pake dunia paralel segala, kan?




RASPUTIN:

Tadi lihat animasinya gak? Kami ke Bumi melintasi ruang angkasa, tempat yang jelas-jelas tidak ada angin, menggunakan pesawat antariksa berbentuk kapal laut... yang menggunakan layar.



PENONTON:

...Ya udahlah, toh yang penting kalian gak akan pake stereotipe nyebelin kayak tokoh jahat ketawa berlebihan di awal cerita.



RASPUTIN:

Dan semua makhluk akan tunduk di hadapanku--Rasputin! Raja Vudo! HOHAHAHAAHAHAHAAH! HOOOHAHAHAHAHAHAH! HOOOOOOOOOOHAHAHAHAHAHAHAH!


PENONTON:

Kayaknya mending kami diem dan nonton aja.



DEPAN RUMAH



IRON MASK muncul di depan gerbang dan melihat ke kamera.


PRAJURIT #1:

Pagernya gak dikunci kok, Bos. 

IRON MASK memotong hancur gerbang. 


IRON MASK:

Hancurkan semua!



PRAJURIT #1:

Ya terserah sih. Cuman komentar aja. Siapa tahu sebenarnya planet kita itu kehabisan sumber daya karena emang pengelolaannya aja gak efektif. Pager tinggal didorong doang pake dihancurin.



PRAJURIT #2:

Iya, padahal besi sekarang lagi mahal, ya?



Saat PARA PRAJURIT VUDO berlarian masuk, tampak PROFESOR yang panik mencari-cari sesuatu; membuka laci, melihat-lihat rak buku, merogoh-rogoh celana dalam.



PARA PRAJURIT VUDO berkumpul. Lalu berpencar lagi ke segala arah, termasuk ke arah mereka datang.  PROFESOR masih panik mencari-cari sesuatu.


PRAJURIT #1:

Ya elah, tahu gitu ngapain ngumpul dulu sih? Kita kan tadi dari situ!

IRON MASK makin mendekat. Profesor mencari-cari.



IRON MASK melangkah dengan suara besi yang keras. Profesor akhirnya menemukan yang ia cari: mini DV untuk kamera video digital.


PROFESOR:

Karena aturan untuk bertahan hidup nomor satu di dunia adalah: saat nyawa kita terancam dan perlu segera kabur, kita harus nonton DAN bikin video dulu. 

Video menunjukkan bahwa akibat MESIN PORTAL ciptaan PROFESOR lah, orang-orang VUDO jadi tahu keberadaan BUMI.



ISTRI dan ANAK-ANAK PROFESOR turun dari tangga.


ISTRI:

Papa? Kenapa pake baju lab di dalam rumah sih?


PROFESOR:

Supaya penonton tahu saya profesor, Ma. Atau minimal aktor iklan pasta gigi.

RAY KECIL, salah seorang ANAK PROFESOR protes.


RAY KECIL:

Maenan robot dari Nenek mana? Aku harus ambil!

RAY KECIL lari menaiki tangga ke tingkat dua.


ISTRI:

Jangan, anakku! Anak kecil yang kelakuannya nyebelin itu biasanya bikin orang lain tewas!


PROFESOR:

Gak apa-apa. Kita masih ada waktu. Iron Mask janjian ngebunuhnya masih 7 menit lagi kok. 

Pintu terdobrak terbuka. 


IRON MASK:

Tapi itu termasuk iklan! Hahahaha! Kau tertipu!

PROFESOR dan ISTRI menatap kaget! Karena mereka baru sadar bahwa dari pintu masuk itu langsung lab.


ISTRI:

Lain kali taruh lab penting jangan di depan pintu masuk ya, Pah?

Mendadak terdengar ledakan dan api keluar dari semua jendela rumah! Bahkan dari lantai dua! Tapi tentunya, RAY KECIL yang ada di lantai dua tidak kena api sama sekali karena anak kecil tidak boleh kelihatan terluka di TV.


RAY KECIL:

Mamaaah! Papaaaah!

RAY diselamatkan ASISTEN AYAHNYA.



21 TAHUN KEMUDIAN...



Kita melihat kepadatan kota dan lalu lintas JAKARTA.


PRAJURIT #1:

Ini apa bedanya ama Vudo, ya? Kalau kita mau cari sumber daya, kenapa gak ke luar Pulau Jawa, Bos? Papua kayaknya bagus. Kita bisa eksploitasi gila-gilaan di situ. 



IRON MASK:

Kita Vudo. Bukan Freeport.



PRAJURIT #2:

Terus, selama 21 tahun kita ngapain aja?

 



IRON MASK:

Kita perlu waktu untuk bergerak dari Vudo ke sini.



PRAJURIT #1:

Kenapa kita gak pake dan kembangin portal antar dimensi si Profesor aja? Bakal lebih cepet tuh. Oh, iyaaa... soalnya kita hancurin, ya?



IRON MASK:

 ...KITA SAKSIKAN TAYANGAN UTAMANYA!



DI SEBUAH BENGKEL SPONSOR



KAKAK RAY datang dan menyapa RAY yang sedang jongkok di sebelah motor.




KAKAK RAY:

Rajin amat pagi-pagi dah kerja.



RAY hanya tersenyum karena dia sebenarnya hanya membentur-benturkan kunci Inggris ke mesin motor dari tadi. KAKAK RAY menyalakan mesin sebuah motor dan tampak kaget.


KAKAK RAY:

Loh, kok ini bisa nyala?



RAY:

Pertanyaan menarik, mengingat kita adalah montir di sebuah bengkel. Ini kayak orang yang kerja di studio komik dan nanya, "Loh, ini kok bisa ada gambarnya?"



KAKAK RAY:

Hah?



RAY:

Oh, sori. Aku lupa ini waktunya untuk ngomong teknis pesanan sponsor sekalian menunjukkan pada penonton bahwa aku pantas jadi montir.



KAKAK RAY:

Hebat! Kamu pantas jadi montir!



RAY hanya tersenyum, lalu kembali jongkok dan membentur-benturkan kunci Inggris ke mesin motor. KAKAK RAY pergi karena kehabisan DIALOG untuk diucapkan.



STELLA-yang-sebenarnya-berperan-sebagai-RENA-tapi-orang-orang-bakal-lebih-mengingat-dia-sebagai-STELLA datang.




STELLA:

Kakak! Aku datang sebagai pengantar ke adegan berikut. Pergi, yuk!


RAY:

Hayuk! Eh, sampai sini ada yang kesulitan bedain nggak antara Ray, Ran(dy), dan Ren(a)? Panggilannya terlalu mirip. 


STELLA:

Makanya, panggil Kak dan Dek aja!


RAY:

Krisis terpecahkan!



MONAS, JAKARTA



RAY dan STELLA tiba di kawasan Monas, yang entah bagaimana, mendadak jadi tempat yang terlihat ramai dan menyenangkan.


STELLA:

Namanya juga fiksi.



Seorang badut melakukan akrobat lempar.


STELLA:

Supaya lebih jelas bahwa ini bukan dunia nyata, aku akan berhenti di depan badut ini, menunjuk mukanya, dan bilang, "Kak, lihat deh! Lucu banget!"

Seberkas cahaya tampak lewat di langit lalu menabrak atap gedung yang tampak jauh.


RAY:

Tunggu di sini, ya? Kakak punya prinsip; kalau lihat sinar dari langit yang nimpa atap gedung, pasti ada orang butuh pertolongan. Dan gak baik ngomong ke siapa-siapa. Jadi, tunggu aja!



STELLA:

Oh, oke.



ATAP GEDUNG, JAKARTA



MIKHAIL, seorang pria bertudung hitam, sedang berkelahi melawan PRAJURIT VUDO.


MIKHAIL:

Kostum kalian terlalu mencolok deh. Ganggu banget. Prajurit mestinya simpel aja, kan?



PRAJURIT #1:

Kami tadinya mau menyerang Bumi secara baik-baik. Tapi lu malah ngejek selera fesyen kami.



PRAJURIT #2:

Sakit, Bro!



PRAJURIT #1:

Oh, iya. Kita gak boleh ngomong, jadi mari kita komunikasikan dialog ini melalui koreografi tawuran.



PARA PRAJURIT VUDO menangkap MIKHAIL, dan akan mengeksekusinya.



Tanpa memedulikan hukum perspektif, bahwa gedung pencakar langit yang keliatan kecil itu berarti jaraknya lebih dari 1 kilometer, berarti sulit ditempuh dengan jalan kaki di Jakarta yang panas, RAY tiba-tiba datang dalam waktu singkat dan tanpa keringatan.



Ia langsung membantu MIKHAIL, karena...


RAY:

Pria bertudung itu pasti orang baik. Lihat aja game Assassin's Creed!



PRAJURIT #1:

Kalau berani, satu lawan banyak dong! Jangan duaan gitu! 



PRAJURIT #1 berhasil melemparkan MIKHAIL ke sisi gedung. RAY lompat dan menangkap tangan MIKHAIL agar tidak jatuh.



PARA PRAJURIT VUDO memukuli RAY yang tak berdaya dengan properti. 


PRAJURIT #1:

Tapi tentunya, kami memukuli kamu di pinggir-pinggir gedung juga. Biar kalau kamu mau nepis, kami jatuh semua.



PRAJURIT #2:

Kombo paket hemat, Bro!

Dan PARA PRAJURIT VUDO pun jatuh. MIKHAIL memandang RAY dan memberikan batu merah yang sama sekali nggak terlihat seperti buatan dari akrilik. Sama sekali nggak.



Ya, dikit doang, lah.


MIKHAIL:

Kamu adalah orang yang terpilih, untuk sebuah tugas yang besar.



RAY:

Wow! Terpilih! Emang kandidatnya siapa aja?



MIKHAIL:

Eum...

MIKHAIL tengok kanan dan kiri. Cuma ada atap gedung yang kosong.


MIKHAIL: 

Ya cuman kamu sih.



RAY:

Oke... Jadi "terpilih" itu maksudnya bukan "yang dipilih", melainkan "tak sengaja dipilih", ya? 



MIKHAIL menempelkan telunjuk di bibir RAY.


MIKHAIL:

Sssh. Jagoan itu harus disukai. Gak boleh jadi Grammar Nazi. Sini, aku ajarin cara jadi Bima.

Mereka berdua pindah ke ALAM LAIN.





ALAM LAIN



Setelah melalui Kursus Singkat 12 Langkah Menjadi Bima dan mendapatkan sertifikat, RAY menyadari sesuatu.


RAY:

Adikku kutinggal di Monas! Gimana caranya keluar dari sini?



MIKHAIL:

Pejamkan matamu dan bayangkan tempatmu tadi. Lalu ketuk sepatu tiga kali sambil bilang, "There's no place like home."



RAY:

Kayaknya sekarang udah gak ada lagi yang ngerti referensi ke cerita itu deh.



MIKHAIL:

Ya udah, ke pintu situ aja yang ada tanda EXIT-nya.





MONAS, JAKARTA



Sementara itu, PARA
PRAJURIT VUDO menyerang orang-orang di Monas. Tampak semua orang panik,
sampai ada badut yang naik sepeda roda satu pun jalannya jadi tidak
lurus.



PRAJURIT VUDO membunuh semua cowok dan cewek
lain, tapi menangkap STELLA. Bisa jadi karena mereka diam-diam
sebenarnya WOTA yang mau ngajak salaman.



KAKAK RAY pun mereka tangkap, tapi itu sih karena potensi plot.


PRAJURIT #3:

Kalian gak bisa tebak kan, plot adik-kakak yang sebenarnya tidak berhubungan darah tapi akan saling bertarung?



PENONTON:

Terserah, lah.





RAY pun muncul, berubah jadi BIMA, dan menyelamatkan STELLA yang sudah dibawa ke dalam bagian taman Monas.



Giliran IRON MASK datang. Tiap kali melangkah, sendi-sendi besinya berbunyi. Plus, tampak ada uap es keluar dari kakinya.


IRON MASK:

Inilah bukti kejeniusan Vudo. Pake baju besi di Jakarta jadi masuk akal kalau pake AC internal.



BIMA pun bertarung dengan IRON MASK, sambil berteriak ke STELLA.




BIMA:

Cepat lari!



Sebagaimana tokoh pendukung cewek, STELLA malah menunggu. Dan saat BIMA jatuh, ia kembali untuk bertanya.




STELLA:

Kamu gak apa-apa?



IRON MASK:

Kembalikan batu merah itu, sekarang!



IRON MASK lalu berpose JURUS EFEK KOMPUTER, hingga cakar besinya menyala.




IRON MASK:

Terimalah! JURUS CLIFFHANGER!



BIMA dan STELLA tampak kaget.



BERSAMBUNG. 





__________





Catatan akhir: sebagai tokusatsu, Bima Satria Garuda sangat berpotensi. Jadi, terlepas dari bercandaan di atas, sebenarnya saya mendukung acara ini supaya tetap bertahan.





Parodi (usaha) Live Action series lain (dalam lima menit):


Sinetron Supergirl Manohara (Dalam Lima Menit) 


Parodi Tokusatsu (Dalam Lima Menit)


Super Rangers (Dalam Lima Menit)


 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on July 07, 2013 00:48

July 29, 2012

Berlindung Di Balik Insya Allah

Banyak orang Indonesia yang terdidik untuk susah nolak. Gak enak hati, takut nyinggung. Tapi jadinya ngasih jawaban menggantung: nolak nggak, mengiyakan juga nggak. Ini bukan cuman soal jadian, ya? Berlaku umum, terutama kalau diajak datang ke acara orang.



Saking susah nolaknya, ada aja yang kalau diajak, ”Nanti dateng, kan?” Jawabnya,  ”Insya Allah.” Padahal sebenarnya gak mau. Itu kan ngaco.



Insya Allah itu maknanya ”atas seizin Allah.” Berarti kita harus berusaha sekuat tenaga untuk datang. Kalau tetap nggak bisa--misalnya karena kerjaan belum beres, mobil mogok, atau mendadak amnesia--itu baru nggak apa-apa. Kita udah berusaha sayangnya belum diizinkan. Tapi bukan karena kitanya nggak mau. Itu sih kitanya nggak berani menolak malah berlindung dengan menggunakan nama Allah.



Itu kayak kita minta izin ke orangtua, ”Malam ini boleh ke GBK nonton konser, gak?”



”Boleh.”



Terus kita malah tidur semalaman. Besoknya saat ditanya, ”Kok lu gak dateng, men?”



”Iya nih. Padahal gue udah minta izin. Berarti ortu gak ngebolehin.” Emang nggak niat datang itu sih. Saya curiga kalau orang-orang seperti ini merancang Facebook, di tiap Invitation pasti jawabannya berubah. Untuk pertanyaan: "Will you attend?" pilihannya jadi "Yes", "No", dan "Insya Allah".



Yang bikin saya heran, kenapa kalau status nggak jelas disebutnya "ngegantung", ya? Orang kalau dihukum gantung, misalnya, itu statusnya udah jelas banget deh. Gak ada hakim yang bingung, ”Aduh, ini orang bersalah apa nggak, ya? Ya udah, kita gantung aja dulu, gimana? Kalau masih hidup, berarti bukan dia pembunuhnya.”



Intinya, lain kali ada temen yang ngajak, ”Malem ini nongkrong di Sevel, yuk?” dan kita males, ya jawab yang tegas, ”Gue gak ada rencana lain sama sekali, tapi daripada cuman duduk bareng ngedengerin lu curhat mengenai gagal ngegebet cewek yang itu-itu juga, padahal lu sama sekali gak ngegebet, cuman ngecengin dari jauh, nyapa hai aja boro-boro, mendingan gue nyante di kamar, dengerin musik atau baca buku.”



Dia paling bakal menatap kita kayak Puss in Boots, ”Jadi lu mau dateng nggak?”



Dan kita pun menjawab, ”Insya Allah.”

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on July 29, 2012 23:32

Horor 2.0

Sendirian dalam rumah, seorang gadis membaca linimasa Twitternya. Twit otomatis dari Foursquare ada di sana, menyampaikan bahwa dia baru saja check-in "...with 1 other".







_______



Alih bahasa dari twit saya yang aslinya dalam bahasa Inggris di sini.

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on July 29, 2012 16:30

July 12, 2012

#1thStandUpIndo: Dalam Satu Tahun...

Dalam satu tahun, yang tadinya "Gak bisa!" bisa jadi "Oh, bukannya itu biasa?" 




Lihatlah para komika (stand-up comedian) sekarang. Kalau sebelum tanggal 13 Juli 2011 mereka ditanya, "Bisa gak, bikin pertunjukan stand-up comedy berbayar di Indonesia, semuanya diisi stand-up comedian Indonesia, dan dihadiri lebih dari 200 orang?"




Saya yakin semua bakal menjawab, "Gak bisa!"





Pada tanggal 24 Agustus 2011, @StandUpIndo mengadakan acara stand-up comedy berbayar pertama.  Bahkan saat itu, Raditya Dika masih mempertanyakan, apakah kita tidak bergerak terlalu cepat? Dia masih ragu ada yang mau bayar untuk menonton stand-up comedy





Tapi sekarang lihat saja, komunitas komedi tunggal di berbagai pelosok Indonesia mengadakan Stand-up Nite. Hampir semua berbayar. Rata-rata penontonnya ratusan. Rekor penonton Stand-up Nite berbayar terbanyak di Jakarta adalah 890 penonton. Di Bandung mencapai 730 orang. Di Pekanbaru bahkan melebihi 1.000!







Dalam satu tahun, hidup bisa berubah drastis. 




Sebelum 13 Juli 2011, kalau ada yang mengaku mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menjalani profesi sebagai stand-up comedian, mayoritas pasti mempertanyakan kelogisan pilihan karier ini. Namun, itulah yang direncanakan (lantas dilakukan) Ernest Prakasa




Sekarang, tidak ada yang berani menertawakan pilihan hidupnya.




Saya juga kini telah mengundurkan diri dari manajemen kantor saya sebelumnya, dan fokus pada bidang komedi dan penulisan. Bertemu dan berinteraksi dengan begitu banyak rekan maupun sahabat di komunitas yang berbagi kesenangan maupun mimpi. Ini bukanlah kehidupan yang saya rencanakan sebelum 13 Juli 2011. Tapi ini adalah pilihan yang saya jalani dengan bahagia.








Dalam satu tahun, impian bisa terwujud... dan terwujud kembali 





Sebagian besar praktisi komedi tunggal adalah orang-orang yang memiliki mimpi bahwa suatu saat stand-up comedy akan tumbuh kuat di Indonesia. Perbedaannya adalah: ada yang mewujudkan mimpi itu. Dan ada yang menontonnya terjadi. 




Tidak masalah kita menjadi apa. Asalkan itu memang pilihan. Karena terwujudnya mimpi bukanlah suatu akhir. Selalu ada kelanjutan. Baik memelihara mimpi menjadi sesuatu yang membumi. Atau mengembangkannya lebih tinggi. 




Saya dan rekan-rekan di @StandUpIndo sendiri entah sudah berapa kali terkejut dengan terwujudnya berbagai impian dalam bentuk nyata: acara stand-up berbayar, gig rutin bagi para komika, acara TV khusus stand-up comedy, stand-up special, munculnya komika sebagai host acara bergengsi, komika sebagai bintang film, hingga tur antarkota. 




Daftar ini akan terus berlanjut. Kalau Anda praktisi juga, semoga mimpi Anda pun [akan] masuk di dalamnya. 




Kalau Anda mitra maupun penonton, terima kasih atas dukungannya selama ini! Pertumbuhan ini nyata karena wujud dukungan dan apresiasi Anda pun nyata.




Viva la Komtung!

1 like ·   •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on July 12, 2012 10:26

February 11, 2012

Terbiasa Melamar Pekerjaan Sepertinya

Komunitas stand-up comedy Bandung (@standUpIndo_BDG) mengadakan open mike (panggung terbuka untuk para comic yang mau mencoba tampil) seminggu sekali, tiap hari Minggu jam 18.30 di Bober Cafe, Jalan Riau 123.
Dalam salah satu sesi, seorang guru bahasa Inggris menjajal panggung. Namun, sebelum selesai, ia tampak kehilangan kata dan turun sebelum waktunya.
Di sesi open mike berikutnya, ia muncul kembali dan tiba-tiba memberikan secarik kertas pada host saat itu, Dani Wardhana.
Tercetak pada kertas itu, "Maaf, saya turun karena gugup saat tampil terakhir. Mohon saya diberikan kesempatan sekali lagi." Resmi dengan nama dan tanda tangan. Padahal dalam open mike, siapa pun boleh mencoba lagi. Tanpa perlu penjelasan. Asalkan masih ada slot kosong.
Dani spontan bercanda, "Maaf, Pak. Ini kertasnya perlu ditandatangani Pak RT dulu. Lalu distempel oleh Kelurahan."

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on February 11, 2012 07:11

November 12, 2011

October 20, 2011

Komtung 101: Mengapa Bicara SARA?

T: "Kenapa stand-up comedian suka banget sih ngomong SARA (Suku, Agama, Ras, Adat)?"

J: Jawaban singkatnya: karena perlu.

Versi panjangnya, kita lihat kembali sejarah komedi atau lawak di Indonesia. Komedi di Indonesia ditekan oleh ancaman, "Jangan bicara SARA!" Tawa menjadi mekanisme kendali. Bagaimana bisa?

Coba aja lihat kondisi dulu (mungkin sekarang juga masih). Kalau ada pelawak melucu di depan pejabat, para bawahannya tidak berani ketawa sampai atasan mereka tertawa. Jadi tawa digunakan sebagai alat kendali: tertawalah hanya pada yang saya (sang atasan) izinkan.

Ini menjadi mekanisme kendali karena dengan begitu, yang ditertawakan adalah yang tidak memiliki kuasa. Atau dalam lingkup sosial, selalu pihak mayoritas menertawakan minoritas. Pihak minoritas bahkan tidak bisa bersuara walau merasakan ketidakadilan.

Dengan sendirinya, ini bisa jadi indikasi: apakah organisasi atau keluarga kita demokratis? Lihat saja dari saat pertunjukan komedi. Kalau semua tertawa lepas tanpa harus saling lirik, berarti demokratis. Kalau masih saling lirik, ada pengendalian pendapat secara internal.

Sebagai format, komedi tunggal (standup comedy) memanfaatkan kebebasan tawa ini. Esensi komedi tunggal adalah penjualan pendapat, via premis yang berbentuk setup. Dan menarik persetujuan penonton melalui punchline. Kalau penonton tertawa, mereka menerima pendapat sang komedian. Kalau tidak, gak akan tertawa. Sesederhana itu.

Lalu, apa hubungannya dengan SARA? Karena komedi tunggal juga berfungsi mengungkapkan kegelisahan seorang comic terhadap hal-hal yang ia hadapi sehari-hari. Memangnya kehidupan kita sehari-hari bisa lepas dari suku, agama, ras, atau adat? Tidak.

SARA adalah bagian keseharian kita yang juga bisa membuat gelisah. Dan kalau ini dipendam, malah berbahaya. Humor justru merupakan cara kita untuk menerima hal-hal yang meresahkan diri, dengan menertawakannya. Istilah yang digunakan Pandji adalah, "Berdamai dengan diri sendiri."

Dan format komedi tunggal terbuka bagi siapa saja. Kalau kita merupakan bagian dari pihak minoritas, justru dengan format komtunglah kita bisa menyuarakan apa saja keresahan kita. Ini yang dilakukan Ernest Prakasa dengan membawa etnis Cinanya sebagai materi. Atau saat kita ingin mempertanyakan suatu hal yang dipraktikkan oleh pihak yang berkuasa/mayoritas. Ini yang diusung Pandji dengan mempertanyakan ormas yang mengaku Islam tapi malah memburukkan nama Islam.

Dalam komedi tunggal, kedudukan (atau tepatnya keberdirian) seorang comic di atas panggung itu sama.

Jadi kenapa bicara SARA? Karena itu bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan jika menjadi salah satu sumber keresahan kita sebagai comic, perlu segera disalurkan dalam bentuk humor.


T: "Sejauh mana kita bisa menertawakan SARA?"

J: Tidak ada ukuran yang konstan di sini. Intinya kembali ke esensi komedi tunggal yang saya sebut di atas; kita menjual pendapat atau sikap kita terhadap sesuatu. Penonton yang konvensional tentunya akan lebih sensitif terhadap pembicaraan SARA dibandingkan yang lebih modern atau terbuka. Sikap kita akan lebih sulit diterima jika terlalu drastis di atas batas toleransi mereka.

Suatu materi komedi yang sama bisa menyinggung satu kelompok tapi disukai kelompok lain, walaupun materi tersebut menertawakan kedua-keduanya. Kalau ini yang terjadi, kendalanya mungkin bukan di materi, melainkan penonton. Namun kalau semua orang gak suka, bisa jadi kendalanya di materi.

Kuncinya bisa dari saran Chris Rock dalam acara Talking Funny-nya Ricky Gervais, "Bicaralah mengenai tindakan atau kelakuan mereka, bukan tentang identitas mereka."

UPDATE: Baca juga tulisan Pandji yang menjawab: Kenapa harus SARA?

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on October 20, 2011 23:38