Putu Wijaya
Born
in Puri Anom, Tabanan, Bali, Indonesia
April 11, 1944
Genre
Influences
poetry, surrealism, theatre
|
Telegram
—
published
1973
—
3 editions
|
|
|
Stasiun
—
published
1977
—
4 editions
|
|
|
Klop
—
published
2010
|
|
|
Perang
—
published
1990
|
|
|
Bila Malam Bertambah Malam
—
published
1971
—
2 editions
|
|
|
Pabrik
—
published
1976
—
2 editions
|
|
|
Putri: Buku Pertama
—
published
2004
|
|
|
Yel
—
published
1995
|
|
|
Protes
—
published
1994
|
|
|
Nora (Tetralogi Dangdut, Buku 1)
—
published
2007
—
2 editions
|
|
“Orang gila tak perlu berpikir, sebab dia tahu tak ada gunanya.”
― Mengenal Lebih Dekat "Putu Wijaya, Sang Teroris Mental" dan Pertanggungjawaban Proses Kreatifnya
― Mengenal Lebih Dekat "Putu Wijaya, Sang Teroris Mental" dan Pertanggungjawaban Proses Kreatifnya
“Segala aturan dan beban itu memang disengaja. Itu sudah merupakan paket, agar tingkah laku jadi selalu laras dan terkendali. Tekanan adalah juga kendali.”
― Klop
― Klop
“Di zaman edan ini, siapa yang tidak frustrasi? Kalau kamu ikutkan perasaanmu, kamu akan gila. Tetapi, semua orang memang sudah gila. Kamu tidak akan menjadi istimewa karena menjadi gila.”
― Klop
― Klop
Is this you? Let us know. If not, help out and invite Putu to Goodreads.




































