“
Ketika memangkunya di atas angkutan umum, mata kami bersitatap sejenak. Saat itulah aku tahu bahwa masalah kami sudah selesai. Tidak ada lagi sinar benci di matanya. Yang tersisa hanya tatapan redup, seperti hendak bilang ia sesungguhnya tidak pernah membenciku. Ia hanya benci hidupnya selalu dibandingkan denganku. Dam anak berambut keriting dari keluarga sederhana, apa adanya.
”
―
―
















